0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
188 tayangan11 halaman

Laporan Pendahuluan Rhinofaringitis Akut

Rhinofaringitis akut disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri yang menyebabkan peradangan pada hidung dan tenggorokan. Gejalanya bervariasi mulai dari pilek, batuk, demam hingga bengkaknya kelenjar getah bening leher. Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik dan laboratorium, sementara penatalaksanaannya meliputi istirahat, konsumsi cairan, dan antibiotik untuk kasus bakteri.

Diunggah oleh

yanti mesa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
188 tayangan11 halaman

Laporan Pendahuluan Rhinofaringitis Akut

Rhinofaringitis akut disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri yang menyebabkan peradangan pada hidung dan tenggorokan. Gejalanya bervariasi mulai dari pilek, batuk, demam hingga bengkaknya kelenjar getah bening leher. Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik dan laboratorium, sementara penatalaksanaannya meliputi istirahat, konsumsi cairan, dan antibiotik untuk kasus bakteri.

Diunggah oleh

yanti mesa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN RHINOFARINGITIS AKUT

1. DEFINISI
Rhinitis adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin, keluarnya cairan
dari hidung, rasa gatal dan tersumbat.
Faringitis adalah suatu penyakit peradangan yang menyerang tenggorok atau faring yang
disebabkan oleh bakteri atau virus tertentu. Kadang juga disebut sebagai radang tenggorok.
Faringitis Akut yaitu radang tenggorok yang disebabkan oleh organisme virus hampir 70%
dan streptokakus group A adalah organisme bakteri yang umum berkenaan dengan
faringitis akut yang kemudian disebut sebagai “streepthroat” (Brunner & Suddarth, 2011).
Hidung dan faring sama-sama merupakan bagian dari saluran napas, sehingga infeksi
kuman di hidung dapat menjalar ke faring, begitupun sebaliknya. Suatu keadaan di mana
terdapat baik gejala rhinitis maupun faringitis disebut rhinofaringitis. Rhinofaringitis
adalah keadaan inflamasi pada struktur mukosa, submukosa tenggorokan maupun hidung.
Jaringan yang mungkin terlibat antara lain orofaring, nasofaring, hipofaring, tonsil dan
adenoid.
Rhinofaringitiskronik umumnya terjadi pada individu dewasa yang bekerja/tinggal dengan
lingkungan berdebu, menggunakan suara berlebihan, menderita akibat batuk kronik,
penggunaan habitual alkohol dan tembakau. Ada 3 jenis rhinofaringitis:
a. Hipertrofik (penebalan umum dan kongesti membrane mukosa faring).
b. Atrofik (tahap lanjut dari jenis pertama : membran tipis, keputihan, licin dan
waktunya berkerut).
c. Granular kronik (pembengkakan folikel limfe pada dinding faring)

2. ETIOLOGI
Beberapa penyebab dari rhinofaringitis yaitu:
a. Virus
Virus merupakan etiologi terbanyak dari faringitis. Beberapa jenis virus ini yaitu:
- Rhinovirus
- Coronavirus
- Virus influenza
- Virus parainfluenza
- Adenovirus
- Herpes Simplex Virus tipe 1 dan 2
- Coxsackievirus A
- Cytomegalovirus
- Virus Epstein-Barr
- HIV
b. Bakteri
Beberapa jenis bakteri penyebab rhinofaringitisyaitu:
- Streptoccocus pyogenes, merupakan penyebab terbanyak pada rhinofaringitis akut
- Streptokokus grup A, merupakan penyebab terbanyak pada anak usia 5 – 15
tahun, namun jarang menyebabkan rhinofaringitispada anak usia <3 tahun.
- Streptokokus grup C dan G
- Neisseria gonorrheae
- Corynebacterium diphtheriae
- Corynebacterium ulcerans
- Yersinia enterocolitica
- Treponema pallidum
- Vincent angina, merupakan mikroorganisme anaerobik dan dapat menyebabkan
komplikasi yang berat, seperti abses retrofaringeal dan peritonsilar.

3. PATOFISIOLOGI
Pada rhinofaringitisyang disebabkan infeksi, bakteri ataupun virus dapat secara
langsung menginvasi mukosa faring menyebabkan respon inflamasi lokal. Kuman
menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid
superfisial bereaksi, terjadi pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Pada stadium awal terdapat hiperemi, kemudian edema dan sekresi
yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tapi menjadi menebal dan kemudian
cendrung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring. Dengan hiperemi,
pembuluh darah dinding faring menjadi lebar. Bentuk sumbatan yang berwarna kuning,
putih atau abu-abu terdapat dalam folikel atau jaringan limfoid. Tampak bahwa folikel
limfoid dan bercak-bercak pada dinding faring posterior, atau terletak lebih ke lateral,
menjadi meradang dan membengkak. Virus-virus seperti Rhinovirus dan Coronavirus
dapat menyebabkan iritasi sekunder pada mukosa faring akibat sekresi nasal.
Infeksi streptococcal memiliki karakteristik khusus yaitu invasi lokal dan
pelepasan extracellular toxins dan protease yang dapat menyebabkan kerusakan
jaringan yang hebat karena fragmen M protein dari Group A streptococcus memiliki
struktur yang sama dengan sarkolema pada myocard dan dihubungkan dengan demam
rheumatic dan kerusakan katub jantung. Selain itu juga dapat menyebabkan akut
glomerulonefritis karena fungsi glomerulus terganggu akibat terbentuknya kompleks
antigen-antibodi.

4. GEJALA KLINIS
Tanda dan gejala rhinofaringitis dibedakan berdasarkan etiologinya, yaitu:
a. Virus
- Jarang ditemukan tanda dan gejala yang spesifik. Rhinofaringitis yang disebabkan
oleh virus menyebabkan rhinorrhea, batuk, dan konjungtivitis.
- Gejala lain dari rhinofaringitis penyebab virus yaitu demam yang tidak terlalu
tinggi dan sakit kepala ringan.
- Pada penyebab rhinovirus atau coronavirus, jarang terjadi demam, dan tidak
terlihat adanya adenopati servikal dan eksudat faring.
- Pada penyebab virus influenza, gejala klinis bisa tampak lebih parah dan biasanya
timbul demam, myalgia, sakit kepala, dan batuk.
- Pada penyebab adenovirus, terdapat demam faringokonjungtival dan eksudat
faring. Selain itu, terdapat juga konjungtivitis.
- Pada penyebab HSV, terdapat inflamasi dan eksudat pada faring, dan dapat
ditemukan vesikel dan ulkus dangkal pada palatum molle.
- Pada penyebab coxsackievirus, terdapat vesikel-vesikel kecil pada palatum molle
dan uvula. Vesikel ini mudah ruptur dan membentuk ulkus dangkal putih.
- Pada penyebab CMV, terdapat eksudat faring, demam, kelelahan, limfadenopati
generalisata, dan splenomegali.
- Pada penyebab HIV, terdapat demam, myalgia, arthralgia, malaise, bercak
kemerahan makulopapular yang tidak menyebabkan pruritus, limfadenopati, dan
ulkus mukosa tanpa eksudat.
b. Bakteri
Rhinofaringitis dengan penyebab bakteri umumnya menunjukkan tanda dan
gejala berupa lelah, nyeri/pegal tubuh, menggigil, dan demam yang lebih dari 380C.
Rhinofaringitisyang menunjukkan adanya mononukleosis memiliki pembesaran
nodus limfa di leher dan ketiak, tonsil yang membesar, sakit kepala, hilangnya nafsu
makan, pembesaran limpa, dan inflamasi hati. Pada penyebab streptokokus grup A,
C, dan G, terdapat nyeri faringeal, demam, menggigil, dan nyeri abdomen. Dapat
ditemukan hipertrofi tonsil, membran faring yang hiperemik, eksudat faring, dan
adenopati servikal. Batuk tidak ditemukan karena merupakan tanda dari penyebab
virus.
Pada penyebab S. Pyogenes, terdapat demam scarlet yang ditandai dengan
bercak kemerahan dan lidah berwarna stoberi. Pada penyebab bakteri lainnya,
ditemukan adanya eksudat faring dengan atau tanpa tanda klinis lainnya.
Manifestasi klinis akut:
- Nyeri Tenggorokan
- Sulit Menelan, serak, batuk
- Pilek/ hidung tersumbat
- Sulit bernafas (bernafas melalui mulut)
- Demam
- Mual, malaise
- Kelenjar Limfa Leher Membengkak
- Tonsil kemerahan
- Membran faring tampak merah
- Folikel tonsil dan limfoid membengkak dan di selimuti oleh eksudat
- Nyeri tekan nodus limfe servikal
- Lesu dan lemah, nyeri pada sendi-sendi otot, dan nyeri pada telinga.
- Peningkatan jumlah sel darah putih (Leukosità Al)
- Nodus limfe servikal membesar dan mengeras
- Penurunan nafsu makan
- Mungkin terdapat demam, malaise dan sakit tenggorokan
- Serak, batuk, rhinitis bukan hal yang tidak lazim.
Manifestasi klinis kronis:
- Rasa iritasi dan sesak yang konstan pada tenggorokan.
- Lendir yang terkumpul dalam tenggorokan serta hidung dan dikeluarkan dengan batuk
dan bersin.
- Kesulitan menelan.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan Biopsi
Contoh jaringan untuk pemeriksaan dapat diperoleh dari saluran pernapasan (sekitar
faring) dengan menggunakan teknik endoskopi. Jaringan tersebut akan diperiksa dengan
mikroskop untuk mengetahui adanya peradangan akibat bakteri atau virus.
b. Pemeriksaan Sputum
Pemeriksaan sputum makroskopik, mikroskopik atau bakteriologik penting dalam
diagnosis etiologi penyakit. Warna bau dan adanya darah merupakan petunjuk yang
berharga.
c. Pemeriksaan Laboratorium
1) Sel darah putih (SDP)
Peningkatan komponen sel darah putih dapat menunjukkan adanya infeksi atau
inflamasi.
2) Analisa Gas Darah
Untuk menilai fungsi pernapasan secara adekuat, perlu juga mempelajari hal-hal
diluar paru seperti distribusi gas yang diangkut oleh sistem sirkulasi.

6. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan terhadap rhinofaringitis dapat mengurangi risiko demam reumatik,
menurunkan durasi gejala, dan mengurangi risiko penularan penyakit.
Pada rhinofaringitisdengan penyebab bakteri, dapat diberikan antibiotik, yaitu:
a. Penicillin benzathine; diberikan secara IM dalam dosis tunggal
b. Penicillin; diberikan secara oral
c. Eritromisin
d. Penicillin profilaksis, yaitu penicillin benzathine G; diindikasikan pada pasien
dengan risiko demam reumatik berulang.
Sedangkan, pada penyebab virus, penatalaksanaan ditujukan untuk mengobati gejala,
kecuali pada penyebab virus influenza dan HSV. Beberapa obat yang dapat digunakan
yaitu:
a. Amantadine
b. Rimantadine
c. Oseltamivir
d. Zanamivir; dapat digunakan untuk penyebab virus influenza A dan B
e. Asiklovir; digunakan untuk penyebab HSV
f. Curcuma; digunakan untuk menambah nafsu makan
Rhinofaringitis yang disebabkan oleh virus biasanya ditangani dengan istirahat
yang cukup, karena penyakit tersebut dapat sembuh dengan sendirinya. Selain itu,
dibutuhkan juga mengkonsumsi air yang cukup dan hindari konsumsi alkohol.
Gejala biasanya membaik pada keadaan udara yang lembab. Untuk
menghilangkan nyeri pada tenggorokan, dapat digunakan obat kumur yang
mengandung asetaminofen (Tylenol) atau ibuprofen (Advil, Motrin). Anak berusia di
bawah 18 tahun sebaiknya tidak diberikan aspirin sebagai analgesik karena berisiko
terkena sindrom Reye. Pemberian suplemen dapat dilakukan untuk menyembuhkan
rhinofaringitisatau mencegahnya, yaitu:
a. Sup hangat atau minuman hangat, dapat meringankan gejala dan mencairkan
mukus, sehingga dapat mencegah hidung tersumbat.
b. Probiotik (Lactobacillus), dapat digunakan untuk menghindari dan mengurangi
demam.
c. Madu, dapat digunakan untuk mengurangi batuk.
d. Vitamin C, dapat digunakan untuk menghindari demam, namun penggunaan
dalam dosis tinggi perlu pengawasan dokter.
e. Seng, digunakan dalam fungsi optimal sistem imun tubuh, karena itu seng dapat
digunakan untuk menghindari demam, dan penggunaan dalam spray dapat
digunakan untuk mengurangi hidung tersumbat. Namun, penggunaannya perlu
dalam pengawasan karena konsumsi dalam dosis besar dan jangka waktu yang
lama dapat berbahaya.
7. KOMPLIKASI
a. Otitis media akut
b. Abses peri tonsil
c. Abses para faring
d. Toksenia
e. Septikinia
f. Bronkitis
g. Nefritis akut
h. Miokarditis
i. Artritis
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Data fokus:
a. Data Subjektif
1) Anak mengeluh badannya terasa panas
2) Anak mengatakan tenggorokannya sakit
3) Anak mengeluh batuk
4) Anak mengatakan tidak bisa menelan
b. Data Objektif
1) Suhu badan tinggi ( > 37,8 derajat celcius)
2) Terdapat pembengkakan pada folikel limfoid
3) Nyeri tekan pada nodus limfe servikal
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi pada faring.
b. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi pada faring.
c. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan sekret
(sputum).
d. Resiko tinggi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kesulitan menelan.
e. Infeksi berhubungan dengan proses perjalanan penyakit.

3. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Rencana Keperawatan
No Diagnosa NOC / Tujuan NIC / Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Hipertermi Setelah dilakukan a. Kaji suhu badan a. Mengetahui suhu
berhubungan tindakanperawatan, setiap 2 jam. badan anak
dengan diharapakan suhu b. Anjurkan intake b. Intake cairan dan
inflamasi badan pasien normal cairan dan nutrisi nutrisi dapat
pada faring Termoregulasi yang adekuat. membantu
(0800) c. Beri kompres mempercepat
Kriteria hasil: hangat dalam proses
- Suhu kulit normal misalnya pada pengeluaran panas
- Suhu badan ketiak. tubuh.
35,9°C-37,7°C d. Berikan obat c. Kompres hangat
antipiretik. dapat membuka
pori-pori kulit
sehingga
mempercepat
proses evaporasi.
d. Obat antipiretik
dapat membantu
menurunkan
panas.
2. Nyeri akut Setelah dilakukan a. Lakukan a. Mengetahui
berhubungan tindakan pengkajian nyeri tingkat nyeri
dengan keperawatan, secara termasuk lokasi,
inflamasi diharapkan nyeri komprehensif karakteristik,
pada faring berkurang dengan termasuk lokasi, durasi,
kriteria hasil: karakteristik, frekuensi,kualitas
- Anak melaporkan durasi, frekuensi, dan faktor
bahwa nyeri kualitas dan faktor presipitasi
berkurang presipitasi. b. Napas dalam
- Anak melaporkan b. Ajarkan tentang merupakan salah
kebutuhan tidur Tekniknon satu relaksasi
dan istirahat farmakologi mengurangi
tercukupi (seperti napas ketegangan dan
- Anak mampu dalam) membuat
menggunakan c. Berikan analgetik perasaan lebih
metode non untuk mengurangi nyaman
farmakologi nyeri c. Analgetik
untuk mengurangi d. Tingkatkan berguna untuk
nyeri. istirahat anak mengurangi nyeri
sehingga pasien
menjadi lebih
nyaman
d. Istirahat dapat
merileksasikan
sehingga dapat
mengurangi nyeri
3. Ketidakefekti Setelah dilakukan a. Kaji status a. Dengan mengkaji
fan bersihan perawatan, pernafasan status pernafasan
jalan nafas diharapakan (kecepatan, maka akan
berhubungan bersihan jalan nafas kedalaman, serta diketahui tingkat
dengan efektif dengan pergerakan dada). pernafasan dan
penumpukan kriteria hasil: b. Auskultasi adanya adanya kelainan
sekret - Anak tidak batuk suara nafas pada sistem
(sputum) - Anak dapat tambahan (mis : pernafasan.
bernpas dengan mengi, krekels) b. Bunyi nafas
lega c. Ajarkan pada klien bertambah sering
- RR (u = 3 tahun) = untuk berlatih terdengar pada
20-30 x/menit nafas tambahan waktu inspirasi
dalam dan batuk dan ekspirasi pada
efektif. respon terhadap
d. Berikan klien pengumpulan
minuman hangat cairan, sekret
sedikitnya 2500 kental dan spasme
cc/hari. jalan nafas
e. Kolaborasi dengan obstruksi.
tim dokter dalam c. Pernafasan dalam
pemberian, terapi membatu expansi
pemberian paru maximal dan
expectorant dan batuk efektif
broncodilatos. merupakan
mekanisme
pembersihan silla.
d. Cairan terutama
yang hangat
membantu di
dalam
mengencerkan
sekret
(bronkadilator)
e. Expectorant
membantu
mengurangi
spasme pada
bronchus sehingga
pengeluaran sekret
menjadi lancar.

4. Resiko Setelah dilakukan a. Mengkaji pola a. Untuk


ketidak tindakan ke- makan pasien mengetahui
seimbangan perawatan selama b. Memberikan masalah yang
nutrisi kurang 2 x 24jam makanan lunak terjadi dan
dari kebutuhan nutrisi c. Menganjurkan memudahkan
kebutuhan pasienterpenuhi den menjaga menyusun
berhubungan gankriteria hasil : kebersihan rencana kegiatan.
dengan a. Anak dapat oral/mulut b. Mencukupi
kesulitan menghabiskan 1 d. Memberikan kebutuhan
menelan porsi makanan dalam nutrisidan
makanannya. porsi kecil tapi mempermudah
b. Berat bedan sering anak untuk
anak normal menelan
- c. Menghilangkan
rasa tidak enak
pada
mulut/lidah,dan
dapat
meningkatkan
nafsu makan
d. Untuk mencukupi
kebutuhan nutrisi
dan
mencegah mual
dan muntah
Pathways Rhinofaringitis Akut

Bakteri masuk

Melalui Droplet Bahan


makanan/minuman/alat
makan yang kotor

Menginfiltrasi lapisan Proses Inflamasi MK : Infeksi


epitel

Sakit Tenggorokan
Lapisan epitel terkikis
Nyeri telan

Jaringan limfoid
superficial bereaksi
MK : Nyeri Nafsu makan-minum
akut menurun
Pembendungan radang dengan
infiltrasi leukosit polimorfonuklear
MK : Resti nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh

Terdapat hiperemi
MK : Ketidakefektifan
pembersihan jalan nafas
Edema dan sekresi Produksi sekret meningkat Terjadi inflamsi pada
meningkat mukosa oral

Membutuhkan perawatan
intensif Eksudat serosa menjadi
menebal Pengeluaran MK : Kerusakan
Sputum membrane mukosa oral
Pasien takut dengan
kehadiran perawat Cenderung menjadi kering
Mekanisme Batuk

Pasien tidak kooperatif Melekat pada dinding


faring
Bakteri keluar

MK : Ansietas
Pembuluh darah dinding
faring menjadi lebar
Kontak melalui
udara
Tampak bahwa folikel
limfoid dan bercak –
bercak pada dinding faring MK : Resti
posterior penularan infeksi

Suhu tubuh meningkat

Rewel Terjadi demam Diaforesis

MK : Risiko gangguan MK : Hipertermi


pola tidur
DAFTAR PUSTAKA
Bulecheck, Gloria M, dkk (Ed). 2013. Nursing Intervention Classification (NIC) 6th
Edition. Missouri: Elsevier.
Brunner dan Suddarth. 2011. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Vol. 1.
Jakarta : EGC.
Carpenito, Lynda Jual. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 11. Jakarta:
EGC
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC
Efiaty Arsyad S,Dr,[Link], 2000, Buku Ajar Ulmu Kesehatan Telinga, Hidung,
Tenggorokan
Engel, Joyce. 2008. Pengkajian Pediatrik Edisi 4. Jakarta: EGC
Herdman, T. Heather (Ed). 2012. NANDA International: Nursing Diagnosis 2012-
2014. Oxford: Wiley
Kusuma, Hardhi, dkk. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis. Yogyakarta : Media Action Publlishing
Mansjoer, Arif et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid I FKUI : Media
Aescukpius.
Moorhead, Sue, dkk (Ed). 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) 5th Edition.
Missouri: Elsevier.

Anda mungkin juga menyukai