Diagnosa Acute Decompensated Heart Failure
Diagnosa Acute Decompensated Heart Failure
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gagal jantung adalah sindroma klinis yang ditandai dengan gejala gagal jantung
(sesak nafas saat istirahat atau saat melakukan aktifitas disertai atau tidak kelelahan);
tanda retensi cairan (kongesti paru atau edema pergelangan kaki); adanya bukti objektif
kelainan struktur atau fungsi jantung saat istirahat yang menyebabkan gangguan
pengisian ventrikel atau pemompaan jantung (Price, 2012). Gagal jantung merupakan
bentuk akhir dan manifestasi terberat dari hampir semua bentuk penyakit jantung seperti
atherosclerosis coroner, infark miokard, kelainan katup, hipertensi, penyakit jantung
bawaan dan kardiomiopati (Leonard, 2011). Gagal jantung dapat juga timbul tanpa
penyakit jantung contohnya anemia (Price, 2012)
Gangguan fungsi jantung pada gagal jantung dapat berupa gangguan fungsi diastolik
atau sistolik, gangguan irama jantung, kelebihan preload, kelebihan afterload, dan
gangguan kontraktilitas. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian pada pasien. Gagal
jantung dapat dibagi menjadi gagal jantung kiri dan gagal jantung kanan. Gagal jantung
juga dapat dibagi menjadi gagal jantung akut dan gagal jantung kronik (Santoso, 2007).
Gagal jantung akut (acute heart failure) adalah kejadian atau perubahan yang cepat dari
tanda dan gejala gagal jantung. Kondisi ini mengancam kehidupan dan harus ditangani
dengan segera, dan biasanya berujung pada hospitalisasi. Gagal jantung akut dapat berupa
gagal jantung akut yang baru terjadi pertama kali (de novo) dan gagal jantung
dekompensasi akut (acute decompensated heart failure) (Price, 2012).
Studi Farmingham menyebutkan bahwa kejadian gagal jantung per tahun pada orang
berusia > 45 tahun adalah 7,2 kasus setiap 1000 orang laki-laki dan 4,7 kasus setiap 1000
orang perempuan. Di Amerika hampir 5 juta orang menderita gagal jantung (Sani, 2007).
Kejadian gagal jantung diperkirakan akan semakin meningkat di masa depan karena
semakin bertambahnya usia harapan hidup. Secara keseluruhan, 50% dari total pasien
meninggal dalam kurun waktu empat tahun. Sebanyak 15,8% pasien yang datang ke
rumah sakit dengan diagnosis gagal jantung meninggal dan 32% mendapatkan rawat inap
kembali dalam waktu satu tahun pertama (Lapage, 2008). Sekitar 45% pasien gagal
jantung akut akan dirawat ulang paling tidak satu kali, 15% paling tidak dua kali dalam
dua belas bulan pertama. Estimasi risiko kematian dan perawatan ulang antara 60 hari
berkisar 30-60%, tergantung dari studi populasi (Price, 2012).
1
Karena perjalanan klinis gagal jantung yang sangat sering terjadi serta memiliki
angka mortalitas yang tinggi, penulis tertarik untuk membuat dan membahas asuhan
keperawatan pada kasus gagal jantung akut (ADHF).
B. Tujuan
Laporan ini disusun dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman mengenai gagal jantung, terutama Acute Decompensated Heart Failure
(ADHF).
C. Manfaat
Memberikan pengetahuan dan meningkatkan pemahaman mengenai gagal jantung,
terutama Acute Decompensated Heart Failure (ADHF).
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi ADHF
Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) merupakan gagal jantung akut yang
didefinisikan sebagai serangan jantung yang cepat (rapid onset) dari gejala-gejala atau
tanda-tanda akibat fungsi jantung yang abnormal. Disfungsi ini dapat berupa disfungsi
sistolik maupun diastolic, abnormalitas irama jantung atau ketidakseimbangan preload
dan afterload. ADHF dapat merupakan serangan baru tanpa kelainan katup jantung
sebelumnya atau dapat merupakan dekompensasi dari gagal jantung kronik (chronic heart
failure) yang telah dialami sebelumnya. ADHF muncul bila cardiac output tidak
memenuhi kebutuhan metabolism tubuhe (Hanafiah, 2006).
Gagal jantung merupakan gejala-gejala dimana pasien memenuhi ciri-ciri gejala–
gejala gagal jantung, nafas pendek yang khas selama istirahat atau saat melakukan
aktivitas dan/atau kelelahan, serta tanda-tanda retensi cairan seperti kongestif pulmonal
atau pembengkakan tungkai (Crouch MA, DiDomenico RJ, Rodgers Jo E, 2006).
B. Etiologi ADHF
Menurut Hanafiah (2006), faktor risiko tinggi tekena penyakit ADHF yaitu:
1. Orang yang menderita/riwayat hipertensi
2. Obesitas
3. Pernah mengalami riwayat gagal jantung
4. Perokok berat
5. Aktivitas yang sangat berlebihan dan mengkonsumsi alkohol
C. Klasifikasi ADHF
Gagal jantung diklasifikasikan menurut American College of Cardiology (ACC) dan
American Heart Association (AHA) terbagi atas atas 4 stadium berdasarkan kondisi
predisposisi pasien dan derajat keluhannya yaitu :
1. Stage A : Risiko tinggi gagal jantung, tetapi tanpa penyakit jantung struktural atau
tanda dan gejala gagal jantung. Pasien dalam stadium ini termasuk mereka yang
mengidap hipertensi, DM, sindroma metabolik, penyakit aterosklerosis atau obesitas.
2. Stage B : penyakit jantung struktural dengan disfungsi ventrikel kiri yang
asimptomatis. Pasien dalam stadium ini dapat mengalami LV remodeling, fraksi
3
ejeksi LV rendah, riwayat IMA sebelumnya, atau penyakit katup jantung
asimptomatik.
3. Stage C : Gagal jantung simptomatis dengan tanda dan gejala gagal jantung saat ini
atau sebelumnya. Ditandai dengan penyakit jantung struktural, dyspnea, fatigue, dan
penurunan toleransi aktivitas.
4. Stage D : Gagal jantung simptomatis berat atau refrakter. Gejala dapat muncul saat
istirahat meski dengan terapi maksimal dan pasien memerlukan rawat inap.
Sedangkan menurut New York Heart Association (NYHA), dibagi menjadi 4 kelas
berdasarkan tanda dan gejala pasien, respon terapi dan status fungsional :
1. Functional Class I (FC I) : asimptomatik tanpa hambatan aktivitas fisik
2. Functional Class II (FC II) : hambatan aktivitas fisik ringan, pasien merasa nyaman
saat istirahat tetapi mengalami gejala dyspnea, fatigue, palpitasi atau angina dengan
aktivitas biasa.
3. Functional Class III (FC III) : hambatan aktivitas fisik nyata, pasien merasa nyaman
saat istirahat tetapi mengalami gejala dyspnea, fatigue, palpitasi atau angina dengan
aktivitas biasa ringan.
4
jantung
hipertensif)
Gagal jantung Sesak napas, kelelahan Bukti disfungsi ventrikel kanan,
kanan peningkatan JVP, edema perifer,
hepatomegaly dan kongesti usus
Sumber : Dickstein K, Cohen SA, Filippatos G, McMurray JJV, Ponikowsi P, Atar D et
al. ESC Guidelines for the diagnosis and threatment of acute and chronic heart failure
2008. European Journal of Heart Failure.
5
E. Pemeriksaan Penunjang ADHF
1. Laboratorium
a. Hematologi : Hb, Ht, Leukosit
b. Elektrolit : K, Na, Cl, Mg
c. Enzim Jantung (CK-MB, Troponin, LDH)
d. Gangguan fungsi ginjal dan hati : BUN, Creatinin, Urine Lengkap, SGOT, SGPT.
e. Gula darah
f. Kolesterol, trigliserida
g. Analisa Gas Darah
2. Elektrokardiografi, untuk melihat adanya :
a. Penyakit jantung koroner : iskemik, infark
b. Pembesaran jantung (LVH : Left Ventricular Hypertrophy )
c. Aritmia
d. Perikarditis
3. Foto rontgen thoraks, untuk melihat adanya :
a. Edema alveolar
b. Edema interstitiels
c. Efusi pleura
d. Pelebaran vena pulmonalis
e. Pembesaran jantung
4. Echocardiogram
Menggambarkan ruang-ruang dan katup jantung
5. Radionuklir
a. Mengevaluasi fungsi ventrikel kiri
b. Mengidentifikasi kelainan fungsi miokard
6. Pemantauan hemodinamika (kateterisasi arteri pulmonal multilumen), bertujuan untuk
a. Mengetahui tekanan dalam sirkulasi jantung dan paru
b. Mengetahui saturasi O2 di ruang-ruang jantung
c. Biopsi endomiokarditis pada kelainan otot jantung
d. Meneliti elektrofisiologis pada aritmia ventrikel berat recurrent
e. Mengetahui beratnya lesi katup jantung
f. Mengidentifikasi penyempitan arteri koroner
g. Angiografi ventrikel kiri (identifikasi hipokinetik, aneurisma ventrikel, fungsi
ventrikel kiri)
6
h. Arteriografi koroner (identifikasi lokasi stenosis arteri koroner)
Diagnosis gagal jantung ditegakkan berdasarkan pada kriteria utama dan atau
tambahan :
1. Kriteria utama :
a. Ortopneu
b. Paroxysmal nocturnal dyspneu
c. Kardiomegali
d. Gallop
e. Peningkatan JVP
f. Refleks hepatojuguler
2. Kriteria tambahan :
a. Edema pergelangan kaki
b. Batuk malam hari
c. Dyspneu on effort
d. Hepatomegali
e. Efusi pleura
f. Takhikardi
Diagnosis ditegakkan atas dasar adanya 2 kriteria utama,atau 1 kriteria utama
disertai 2 kriteria tambahan.
F. Penatalaksanaan ADHF
Tujuan dasar penatalaksanaan pasien dengan gagal jantung adalah :
1. Mendukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.
2. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraksi jantung dengan bahan-bahan
farmakologis
3. Menghilangkan penimbunan cairan tubuh berlebihan dengan terapi diuretik, diet dan
istirahat.
4. Menghilangkan faktor pencetus (anemia, aritmia, atau masalah medis lainnya)
5. Menghilangkan penyakit yang mendasarinya baik secara medis maupun bedah.
7
Penatalaksanaan sesuai klasifikasi gagal jantung adalah sebagai berikut :
1. FC I : Non farmakologi
2. FC II & III : Diuretik, digitalis, ACE inhibitor, vasodilator, kombinasi diuretik,
digitalis.
3. FC IV : Kombinasi diuretik, digitalis, ACE inhibitor seumur hidup.
8
G. Komplikasi ADHF
1. Trombosis vena dalam, karena pembentukan bekuan vena karena stasis darah.
2. Syok kardiogenik akibat disfungsi nyata
3. Toksisitas digitalis akibat pemakaian obat-obatan digitalis.
9
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Identitas Pasien
Nama : Tn. WS
Umur : 57 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pedagang
Agama : Hindu
Tanggal Masuk RS : 15 Januari 2020 pukul 09.30 wita
Alasan Masuk : Sesak napas, batuk berdahak, dan kaki bengkak
Diagnosa Medis : ADHF Profil B + Cor Pulmonale + PPOK Eksaserbasi Akut +
Syok Kardiogenik
Initial survey:
A (alertness) : ✔
V (verbal) :
P (pain) :
U (unserpons) :
Warna triase : P1 P2 ✔
xx P3 P4 P5
xd
10
SURVEY PRIMER DAN RESUSITASI
2. Diagnosa Keperawatan
Bersihan jalan napas tidak efektif b.d sekresi yang tertahan
3. Intervensi / Implementasi
- Beri posisi semi fowler
- Monitor saturasi oksigen
- Lakukan delegasi pemberian O2 nasal kanul 3 lpm
- Lakukan delegasi pemberian terapi nebulizer combivent 1 amp & pulmicort 1 amp
- Monitor suara napas tambahan
- Monitor hasil pemeriksaan foto thorax
- Monitor tanda – tanda vital
4. Evaluasi
S : Pasien mengatakan masih merasa sulit bernapas akibat dahak yang berlebih
O : SaO2 : 96%, suara napas ronchi +/+, suara napas wheezing +/+, kesan foto thorax :
cardiomegaly (RVH) dengan tanda pulmonary congestive, edema paru interstitial. TD
: 80/50 mmHg, N : 116 x/menit, RR : 24 x/menit, S : 37.1oC
A : Masalah belum teratasi
P : Monitor status oksigenasi, lakukan delegasi pemberian terapi nebulizer
11
BREATHING
1. Fungsi pernafasan
Jenis Pernafasan : Tachipnea
Frekwensi Pernafasan : 32 x/menit, irama teratur, gerakan dada simetris
Retraksi Otot bantu nafas : Tidak ada
Kelainan dinding thoraks : Tidak ada
Bunyi nafas : Wheezing +/+, ronchi +/+
Hembusan nafas : Ada
2. Diagnosa Keperawatan
–
3. Intervensi / Implementasi
–
4. Evaluasi
–
12
CIRCULATION
1. Keadaan sirkulasi
Tingkat kesadaran : Compos mentis
Perdarahan (internal/eksternal) : Tidak ada
Kapilari Refill : < 2 detik
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi radial/carotis : 120 x/menit
Akral perifer : Hangat
JVP : 6 cmH2O
2. Diagnosa Keperawatan
Penurunan curah jantung b.d perubahan afterload
3. Intervensi / Implementasi
- Beri posisi semi fowler
- Monitor saturasi oksigen
- Lakukan delegasi pemberian O2 nasal kanul 3 lpm
- Monitor hasil pemeriksaan lab
- Lakukan delegasi pemberian furosemide 40 mg per IV
- Lakukan delegasi pemasangan dower kateter
- Monitor hasil pemeriksaan foto thorax dan EKG
- Monitor tanda – tanda vital
4. Evaluasi
S : Pasien mengatakan sesak sudah berkurang
O : SaO2 : 96%, hasil lab : WBC : 9,4 x 109 / L (N), HGB : 14,3 g/dL (N), RBC : 4,89 x
1012 / L (N), HCT : 46,0% (N), PLT : 256 x 109 / L (N), GDS : 68 mg/dL (L), BUN :
72 mg/dL (H), SC : 1,32 mg/dL (H), K : 4,90 mmol/L (N), Na : 130,2 mmol/L (L), Cl
: 95,7 mmol/L (L), produksi urine 2 jam : 150 cc, kesan foto thorax : cardiomegaly
(RVH) dengan tanda pulmonary congestive, edema paru interstitial, hasil EKG : sinus
tachycardia, TD : 80/50 mmHg, N : 116 x/menit, RR : 24 x/menit, S : 37.1oC
A : Masalah belum teratasi
P : Lakukan delegasi pemberian drip dobutamin dengan dosis awal 3 mcg/kgBB/menit
13
DISABILITY
1. Pemeriksaan Neurologis:
GCS : E4V5M6 Total : 15
Reflex fisiologis : Refleks pupil +/+
Reflex patologis : –
Kekuatan otot : 5555 5555
5555 5555
2. Diagnosa Keperawatan
–
3. Intervensi / Implementasi
–
4. Evaluasi
–
14
PENGKAJIAN SEKUNDER / SURVEY SEKUNDER
(Dibuat bila pasien lebih dari 2 jam diobservasi di IGD)
1. RIWAYAT KESEHATAN
a. RKD
Pasien mengatakan ia menderita penyakit jantung dan hipertensi sejak 4 tahun yang
lalu dan tidak rutin untuk kontrol ke fasilitas kesehatan
b. RKS
Pasien datang sadarkan diri dengan keluhan sesak napas sejak 3 hari yang lalu, batuk
berdahak sejak 5 hari yang lalu, dan kaki bengkak sejak seminggu yang lalu.
c. RKK
Pasien mengatakan di keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular
maupuk keturunan
15
c. Dada/ thoraks
Paru-paru
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada jejas / benjolan
Perkusi : Suara sonor
Auskultasi : Vesikuler +/+, ronchi +/+, wheezing +/+
Jantung
Inspeksi : Ictus cardis tidak nampak
Palpasi : Ictus cardis teraba
Perkusi : Bunyi pekak
Auskultasi : Bunyi jantung terdengar jelas di S1 dan S2
d. Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada acites
Palpasi : Tidak teraba massa abnormal
Perkusi : Terdengan suara thympani
Auskultasi : Bising usus 10 x/menit
e. Pelvis
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada benjolan
h. Ekstremitas
Status sirkulasi : CRT < 2 detik, edema pada ekstremitas atas dan bawah, akral
hangat
Keadaan injury : Tidak ada injuri
i. Neurologis
Fungsi sensorik : Tidak ada penurunan fungsi sensorik
Fungsi motorik : Tidak ada penurunan fungsi motorik
16
4. HASIL LABORATORIUM
a. Pemeriksaan Hematologi tanggal 15 Januari 2020 pukul 10.17 wita
WBC : 9,4 x 109 / L (N) 3,5 – 10,0
RBC : 4,89 x 1012 / L (N) 3,50 – 5,50
HGB : 14,3 g/dL (N) 11,5 – 16,5
HCT : 46,0 % (N) 35,0 – 55,0
PLT : 256 x 109 / L (N) 150 – 400
b. Pemeriksaan Kimia Darah tanggal 15 Januari 2020 pukul 10.17 wita
GDS : 68 mg/dL (L) 75 – 115
SC : 1,32 mg/dL (H) 0,5 – 1,1
BUN : 72 mg/dL (H) 10 – 50
Kalium : 4,90 mmol/L (N) 3,5 – 5,5
Natrium : 130,2 mmol/L (L) 136 – 145
Chlorida : 95,7 mmol//L (L) 96 – 108
6. TERAPI DOKTER
- IVFD NaCL 0,9% 8 tpm
- O2 nasal kanul 3 lpm
- Furosemide 1 x 40 mg per IV
- Cefoperazone sulbactam 2 x 1 gram per IV
- Azithromycin 1 x 500 mg P.O
- Esomeprazole 2 x 40 mg per IV
- Fartison 2 x 200 mg per IV
- Asetilsistein 3 x 200 mg P.O
- Nebul Combivent 1 amp + pulmicort 1 amp @ 6 jam
- Drip dobutamin sesuai protap, dosis awal 3 mcg/kgBB/menit
17
B. ANALISIS DATA
Data focus Analisis Masalah
DS : Hipertensi Penurunan curah jantung
Pasien mengeluh sesak ↓
nafas dan semakin parah Kelainan otot jantung
ketika tidur telentang ↓
DO : Menurunnya kontraktilitas
- TD : 80/50 mmHg ↓
- N : 116 x/menit, Menurunnya kekuatan otot
kekuatan lemah jantung
- Edema pada ↓
ektremitas Menurunnya volume
- Batuk sekuncup
- Kosan rontgen : ↓
cardiomegaly (RVH) Penurunan curah jantung
dengan tanda
pulmonary
congestive
18
↓
Secret tertahan
↓
Bersihan jalan napas tidak
efektif
19
D. RENCANA KEPERAWATAN
Tujuan dan Kriteria Hasil
No Diagnosa Keperawatan Intervensi (SIKI)
(SLKI)
1 Penurunan curah jantung b.d Setelah diberikan asuhan Perawatan Jantung
perubahan afterload keperawatan selama 1 x 2 jam, 1. Identifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung
diharapkan tidak terjadi penurunan (meliputi dyspnea, ortopnea, PND, peningkatan CVP)
curah jantung dengan kriteria hasil : 2. Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah
Curah jantung: jantung (meliputi peningkatan berat badan,
1. Kekuatan nadi perifer normal hepatomegaly, distensi vena jugularis, palpitasi, ronkhi
2. Tidak ada takikardia basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
3. Edema berkurang 3. Monitor saturasi oksigen
4. Tidak ada dyspnea 4. Monitor keluhan nyeri dada (mis. Intensitas, lokasi,
5. Tidak terjadi ortopnea radiasi, durasi, presivitasi yang mengurangi nyeri)
6. Frekuensi nadi dalam batas 5. Monitor EKG 12 sadapan
normal (60 – 100 x/menit) 6. Monitor nilai laboratorium jantung (mis. Elektrolit,
7. Tekanan darah dalam batas enzim jantung, BNP, NTpro-BNP)
normal (90-130 / 60-80 mmHg) 7. Monitor tanda – tanda vital
8. Monitor aritmia (kelaian irama dan frekuensi)
9. Posisikan semifowler atau fowler dengan kaki ke bawah
atau posisi nyaman
10. Berikan oksigen
20
Manajemen Syok Kardigenik
1. Monitor status kardiopulmonal (frekueensi dan kekuatan
nadi, frekuensi napas, TD, MAP)
2. Monitor status oksigenasi (oksimetri nadi, AGD)
3. Monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor
kulit, CRT)
4. Monitor EKG 12 lead
5. Monitor rontgen dada
6. Pasang jalur IV
7. Pasang kateter urine untuk menilai produksi urine
8. Kolaborasi pemberian inotropic (mis. Dobutamine), jika
TDS 70 – 100 mmHg tanpa disertai tanda/gejala syok
2 Bersihan jalan napas tidak Setelah diberikan asuhan Manajemen jalan nafas
efektif b.d hipersekresi jalan keperawatan selama 1 x 2 jam, 1. Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
napas diharapkan bersihan jalan nafas 2. Monitor bunyi napas tambahan (gurgling, mengi,
efektif dengan kriteria hasil : wheezing, ronkhi kering)
Bersihan jalan nafas 3. Posisikan semi fowler atau fowler
1. Sputum berkurang 4. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
2. Tidak ada suara nafas ronchi 5. Lakukan suction, jika perlu
3. Tidak ada suara nafas wheezing 6. Berikan oksigen, jika perlu
4. Tidak ada dispnea 7. Ajarkan teknik batuk efektif
21
5. Frekuensi nafas normal (16 – 8. Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
20 x/menit) mukolitik, jika perlu
6. Pola nafas normal (kedalaman,
kwalitas) Pemantauan respirasi
1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya nafas
2. Monitor pola nafas (seperti bradypnea, takipnea,
hiperventilasi, kussmaul, Cheyne-stokes, biot, ataksis)
3. Monitor adanya produksi sputum
4. Monitor saturasi oksigen
5. Monitor nilai AGD
6. Monitor hasil x-ray toraks
22
E. PELAKSANAAN
Tgl /
No Implementasi Respon Paraf
jam
1,2 15/01/20 Memonitor tanda – tanda S :
11.30 vital Pasien mengatakan masih
wita merasa sesak napas (Pras)
O:
- TD : 80/50 mmHg
- N : 116 x/menit
- RR : 24 x/menit
- S : 37.1oC
1,2 15/01/20 Memonitor keluhan nyeri S :
11.35 dada dan saturasi oksigen Pasien mengatakan tidak
wita merasa nyeri dada (Pras)
O : SaO2 : 97%
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
11.37 pemberian drip dobutamin O :
wita 3 mcg/kgBB/menit (BB = Terpasang drip dobutamin 0,9 (Pras)
50 kg) cc/jam
1,2 15/01/20 Memonitor tanda – tanda S :
11.55 vital dan keluhan nyeri Pasien mengeluh sesak napas
wita dada dan tidak merasa nyeri dada (Pras)
O:
- TD : 84/57 mmHg
- N : 104 x/menit
- RR : 24 x/menit
- S : 37.3oC
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
12.00 peningkatan dosis O :
wita dobutamin menjadi 5 Terpasang drip dobutamin 1,5 (Pras)
mcg/kgBB/menit cc/jam
1,2 15/01/20 Memonitor tanda – tanda S :
12.30 vital Pasien mengatakan sesak
23
wita masih terasa (Pras)
O:
- TD : 83/57 mmHg
- N : 112 x/menit
- RR : 26 x/menit
- S : 37.2oC
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
12.33 peningkatan dosis O :
wita dobutamin menjadi 7,5 Terpasang drip dobutamin 2,1 (Pras)
mcg/kgBB/menit cc/jam
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S : –
13.00 dan nadi O:
wita - TD : 97/58 mmHg (Pras)
- N : 106 x/menit
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
13.03 peningkatan dosis O :
wita dobutamin menjadi 10 Terpasang drip dobutamin 3,0 (Pras)
mcg/kgBB/menit cc/jam
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S : –
13.30 dan nadi O:
wita - TD : 100/57 mmHg (Pras)
- N : 103 x/menit
2 15/01/20 Memonitor pola napas, S : –
14.00 suara napas tambahan, dan Pasien mengatakan masih
wita produksi sputum merasa sesak napas (Pras)
O:
- RR : 25 x/menit
- Napas cepat dan dangkal
- Suara napas tambahan
wheezing dan ronchi (+)
- Produksi sputum (+)
2 15/01/20 Menganjurkan melakukan S :
14.05 teknik batuk efektif Pasien mengatakan dahak dapat
24
wita keluar (Pras)
O : Pasien kooperatif
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
17.15 O : TD : 80/50 mmHg
wita (Pras)
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
17.18 peningkatan dosis O :
wita dobutamin menjadi 12,5 Terpasang drip dobutamin 3,7 (Pras)
mcg/kgBB/menit cc/jam
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
18.58 O : TD : 82/49 mmHg
wita (Pras)
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
19.00 peningkatan dosis O :
wita dobutamin menjadi 15 Terpasang drip dobutamin 4,5 (Pras)
mcg/kgBB/menit cc/jam
1,2 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
19.05 pemberian : O : Obat berhasil masuk
wita - Fortison 200 mg per IV (Pras)
- Cefoperazone
sulbactam 1 gr per IV
- Azithromycin 500 mg
P.O
2 15/01/20 Melakukan delegasi S :
19.15 pemberian terapi nebul Pasien mengatakan dahak
wita pulmicort 1 amp + meptin menjadi berkurang (Pras)
1 amp O : Pasien tampak lebih tenang
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
20.00 O : TD : 90/70 mmHg
wita (Pras)
1 15/01/20 Melakukan delegasi S : –
20.20 pemberian drip furosemide O :
25
wita 100 mg dalam NaCl 0,9% Terpasang drip furosemide 0,5 (Pras)
(dosis 2,5 mg/jam) cc/jam
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
20.40 O : TD : 70 mmHg per palpasi
wita (Pras)
1 15/01/20 Melakukan delegasi : S: –
20.42 - Drip furosemide stop O:
wita - Dosis drip dobutamin - Drip furosemide stop (Pras)
naik menjadi 17,5 - Drip dobutamin 5,2 cc/jam
mcg/kgBB/menit
1 15/01/20 Menghitung cairan masuk S : –
21.30 dan keluar Pasien mengatakan minum air
wita ± 400 cc air (Pras)
O:
- CM : ± 800 cc
- CK : ± 1300 cc
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
21.35 O : TD : 90/60 mmHg
wita (Pras)
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
22.00 O : TD : 100/60 mmHg
wita (Pras)
1 15/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
23.30 O : TD : 100/60 mmHg
wita (Pras)
1 16/01/20 Mengganti drip dobutamin S : –
00.30 (17,5 mcg/kgBB/menit), O :
wita mengukur tekanan darah - Terpasang drip dobutamin (Pras)
5,2 cc/jam
- TD : 95/60 mmHg
2 16/01/20 Melakukan delegasi S :
01.00 pemberian terapi nebul Pasien mengatakan dahak
26
wita pulmicort 1 amp + meptin sudah berkurang (Pras)
1 amp O : Pasien tampak lebih tenang
1 16/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
02.30 O : TD : 80/50 mmHg
wita (Pras)
1 16/01/20 Melakukan delegasi S : –
02.32 peningkatan dosis O :
wita dobutamin menjadi 20 Terpasang drip dobutamin 6 (Pras)
mcg/kgBB/menit cc/jam
1 16/01/20 Memonitor tekanan darah S:–
03.00 O : TD : 100/60 mmHg
wita (Pras)
1,2 16/01/20 Memonitor tanda – tanda S :
06.00 vital dan saturasi oksigen Pasien mengatakan sesak
wita napas sudah berkurang (Pras)
O:
- TD : 90/65 mmHg
- N : 93 x/menit
- RR : 24 x/menit
- S : 37.1oC
- SaO2 : 98%
2 16/01/20 Memonitor produksi S :
06.05 sputum dan suara napas Pasien mengatakan dahak
wita tambahan sudah berkurang (Pras)
O:
Suara napas ronchi (+),
wheezing (+)
1 16/01/20 Menghitung cairan masuk S : –
06.30 dan keluar Pasien mengatakan minum air
wita ± 200 cc air (Pras)
O:
- CM : ± 475 cc
- CK : ± 600 cc
27
F. EVALUASI
No Tgl / jam Catatan Perkembangan (SOAP) Paraf
1 16/01/20 S:
06.30 wita Pasien mengatakan sesak napas napas sudah berkurang,
namun sesak masih bertambah berat ketika tidur (Pras)
telentang.
O:
- N : 93 x/menit
- Nadi lemah
- TD : 90/65 mmHg
- Edema ekstremitas atas dan bawah (+)
2 16/01/20 S:
06.30 wita Pasien mengatakan dahak sudah berkurang, dan sesak
napas ketika berbaring (Pras)
O:
- Produksi sputum (+)
- Suara ronchi (+)
- Suara wheezing (+)
- RR : 24 x/menit
- Napas cepat dan dangkal
P : Lanjutkan intervensi
28
BAB IV
PEMBAHASAN
Penulis akan membahas tentang bagaimana kesesuaian teori dan proses pelaksanaan
asuhan keperawatan yang dilakukan pada tanggal 15 Januari 2020 di IGD RSUD Bangli,
yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan yang muncul, intervensi, implementasi dan
evaluasi.
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahapan awal dan landasan dasar dalam proses asuhan
keperawatan, dimana dalam pengkajian dilakukan pengumpulan data untuk menentukan
masalah keperawatan yang muncul. Diperlukan ketepatan dan ketelitian dalam mengenali
masalah – masalah yang muncul pada klien sehingga dapat menentukan tindakan
keperawatan yang tepat.
Menurut Hanafiah (2006), Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) merupakan
gagal jantung akut yang didefinisikan sebagai serangan jantung yang cepat (rapid onset)
dari gejala-gejala atau tanda-tanda akibat fungsi jantung yang abnormal.
Gagal jantung merupakan gejala-gejala dimana pasien memenuhi gejala gagal
jantung, nafas pendek yang khas selama istirahat atau saat melakukan aktivitas dan/atau
kelelahan, serta tanda-tanda retensi cairan seperti kongestif pulmonal atau pembengkakan
tungkai (Crouch MA, DiDomenico RJ, Rodgers Jo E, 2006)
1. Data Subjektif
a. Identitas Klien
1) Umur
Menurut Sani (2007), kejadian gagal jantung sangat berisiko tinggi terjadi
pada usia > 45 tahun, sebagian besar kasus gagal jantung terjadi pada rentan
usia 60-65 tahun. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, semakin tinggi
pula risiko mengalami gagal jantung dikarenakan semakin menurunnya fungsi
jantung. Pada kasus yang terjadi pada Tn. WS berumur 57 tahun. Sehingga
pada kasus Tn. NS telah sesuai teori dan kasus di lapangan.
2) Pendidikan
Menurut Eny dan Diah (2010), penting untuk mengetahui tingkat intelektual
seseorang, sehingga perawat dapat memberikan penkes dengan bahasa sesuai
dengan tingkat pendidikan pasien. Pada kasus Tn. WS pendidikan terakhir
adalah SD, sehingga dalam memberikan edukasi perawat harus menggunakan
29
bahasa yang lebih awam sehingga mudah di pahami Tn. WS, dalam hal ini
perawat telah melakukan komunikasi dengan cara dan bahasa yang mudah
dipahami, serta melibatkan keluarga dalam berkomunikasi. Hal ini telah sesuai
dengan teori yang ada.
b. Riwayat pasien
1) Keluhan utama
Menurut the konsensus guideline in the management of acute decompensated
heart failure tahun 2006, keluhan yang sering muncul pada pasien dengan
ADHF yaitu sesak. Tn. WS datang ke RSUD Bangli dengan keluhan utama
sesak nafas. Menurut Udjianti (2010) pada kasus ADHF sesak nafas dapat
terjadi diakibatkan disfungsi katup mitral dan aorta atau ventrikel kiri pada
gagal jantung yang menyebabkan darah tidak dipompa secara penuh sehingga
tekanan dalam atrium kiri meningkat yang mengakibatkan terjadinya aliran
balik ke vena pulmonalis, yang menyebabkan meningkatnya tekanan pada
vena pulmonalis meningkat. Peningkatan tekanan ini kemudian menyebabkan
terdorongnya cairan melalui dinding pembuluh darah ke dalam alveoli
sehingga terjadi penumpukan cairan dan terjadilah edema. Edema
menyebabkan O2 sulit untuk masuk ke alveoli, edema juga mengakibatkan
penyempitan pada bronkiolus dan timbulah sesak nafas. Sehingga antara
kasus [Link] dan teori tidak terdapat kesenjangan.
2) Riwayat penyakit
Tn. WS mengeluh sesak nafas sejak 3 hari yang lalu, batuk berdahak sejak 5
hari yang lalu, bengkak pada kedua kaki sejak seminggu yang lalu. Pasien
mengatakan memiliki riwayat penyakit jantung dan hipertensi sejak 4 tahun
yang lalu dan tidak rutin melakukan control ke fasilitas kesehatan. Menurut the
konsensus guideline in the management of acute decompensated heart failure
tahun 2006 gejala lain yang muncul pada kasus ADHF selain sesak yaitu
edema perifer. Sehingga antara kasus [Link] dan teori tidak terdapat
kesenjangan.
2. Data Objektif
a. Pengkajian Fisik
1) Tanda-tanda vital
Menurut the konsensus guideline in the management of acute decompensated
heart failure tahun 2006, pada kasus ADHF akan terjadi perubahan tanda-
30
tanda vital seperti hipotensi, peningkatan respirasi, serta peningkatan atau
penurunan frekuensi nadi. Pada kasus Tn. NS tekanan darah 80/50 mmHg,
nadi 116 x/menit, respirasi 24 x/menit dan suhu 37,10C. Terdapat peningkatan
respirasi pada Tn. WS jadi tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Leher
Menurut Weinstock (2010), pengukuran JVP (Jugularis Vein Pressure)
merupakan salah satu metode non invasive yang dapat dilakukan pada
penderita ADHF, pemeriksaan ini penting dilakukan karena JVP
menggambarkan volume pengisian dan tekanan pada atrium kanan.
Peningkatan JVP mengindikasikan adanya gagal jantung kanan. Pada kasus
Tn. WS, pemeriksaan JVP telah dilakukan dan mendapat nilai 6 cmH2O
berarti terjadi distensi vena jugularis pada kasus Tn. WS. Ini menunjukkan
bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
2) Thorax
Menurut Hanafiah (2006) pada kasus ADHF terjadi disfungsi jantung yang
abnormal. Disfungsi yang dimaksud seperti disfungsi sistolik maupun
diastolic, abnormalitas irama jantung atau ketidakseimbangan preload dan
afterload. Pada kasus Tn. WS irama jantungnya tidak teratur dan kekuatannya
lemah. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
3) Ekstremitas
Pada kasus ADHF terjadi penurunan kontraktilitas yang berpengaruh terhadap
menurunnya isi sekuncup dan menurunnya kekuatan kontraksi otot jantung,
hal tersebut menyebabkan ventrikel kanan tidak mampu memompa darah
cukup sehingga akan meningkatkan tekanan pada atrium kanan dan
menyebabkan tekanan balik ke vena cava superior maupun inferior, sehingga
darah terdorong kembali ke ektremitas dan terjadilah edema pada ekstremitas
(Weinstock, 2010). Pada kasus Tn. WS, ekstremitas atas dan bawah Tn. WS
mengalami edema, jadi tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus.
31
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia
(status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana
perawat secara akuntabilitas dapat mengindentifikasi dan memberi intervensi secara pasti
untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah, dan merubah
(NANDA, 2015). Setelah data – data terkumpul, kemudian dianalisa untuk menentukan
masalah pasien dan merumuskan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan yang
muncul pada Tn. NS antara lain :
1. Penurunan curah jantung b.d perubahan afterload
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sekresi yang tertahan
Semua diagnosa yang muncul pada Tn. WS sesuai dengan teori yang ada. Hal ini
didukung dengan data seperti pasien mengeluh sesak napas dan semakin sesak jika
terlentang, RR : 24 x/menit, kwalitas napas dangkal, edema perifer, JVP 6 cmH2O,
takikardi, hasil EKG : sinus tachycardia, incomplete RBBB, kesan rontgen : cardiomegaly
(RVH) dengan tanda pulmonary congestive, edema paru interstitial, terdapat suara nafas
tambahan ronchi dan wheezing.
C. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan merupakan kategori perilaku perawat yang bertujuan
menentukan rencana keperawatan yang berpusat kepada pasien sesuai dengan yang
ditegakkan sehingga tujuan tersebut terpenuhi. Dalam penyusunan laporan ini, mahasiswa
menyusun intervensi berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI).
Intervensi keperawatan yang disusun untuk mengatasi diagnosa penurunan curah
jantung b.d perubahan afterload yaitu setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 2
jam, diharapkan tidak terjadi penurunan curah jantung dengan kriteria hasil : kekuatan
nadi perifer normal, tidak ada takikardi, edema berkurang, tidak ada dipsnea, tidak terjadi
ortopnea, frekuensi nadi dalam batas normal (60-100x/mnt), tekanan darah dalam batas
normal (90-130/60-80 mmHg). Intervensi keperawatan yang disusun sesuai dengan teori
dimana dalam SIKI : perawatan jantung. Intervensi yang tersusun tersebut telah
diterapkan dan sesuai dengan teori yang ada
Pada diagnosa kedua yaitu bersihan jalan nafas b.d sekresi yang tertahan disusun
intervensi berdasarkan SLKI yaitu setelah dilakukan keperawatan selama 1 x 2 jam,
diharapkan bersihan jalan nafas pasien efektif dengan kriteria hasil : sputum berkurang,
32
tidak ada suara nafas ronchi, tidak ada suara nafas wheezing, tidak ada dipsnea, frekuensi
nafas normal (16-20x/menit), pola nafas normal (kedalaman, kualitas). Intervensi
keperawatan yang disusun sesuai dengan teori dimana dalam SIKI : manajemen jalan
nafas dan pemantauan respirasi. Intervensi yang tersusun tersebut telah diterapkan dan
sesuai dengan teori yang ada
D. Implementasi Keperawatan
Melakukan asuhan menyeluruh atau tindakan yang tertera pada intervensi yaitu :
1. Diagnosa pertama: penurunan curah jantung b.d perubahan kontraktilitas
Fokus :
Perawatan jantung
- Mengidentifikasi tanda/gejala primer penurunan curah jantung (meliputi
dyspnea, ortopnea, PND, peningkatan CVP)
- Mengidentifikasi tanda/gejala sekunder penurunan curah jantung (meliputi
peningkatan berat badan, hepatomegaly, distensi vena jugularis, palpitasi,
ronkhi basah, oliguria, batuk, kulit pucat)
- Memonitor tekanan darah (termasuk tekanan darah ortostatik, jika perlu)
- Memonitor saturasi oksigen
- Memposisikan semifowler atau fowler dengan kaki ke bawah atau posisi
nyaman
- Memberikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >94%
- Memonitor intake dan output cairan
2. Diagnose kedua: bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sekresi yang tertahan
Fokus :
Manajemen jalan nafas
- Memonitor pola nafas
- Memonitor bunya nafas tambahan
- Memberi posisi semi fowler
- Kolaborasi dalam memberikan O2
Pemantauan Respirasi
- Memonitor frekuensi, irama dan kedalaman nafas
- Memonitor produksi sputum
- Memonitor saturasi O2
- Memonitor hasil X-ray Thorax
33
- Memonitor elastisitas atau turgor kulit
- Memonitor intake dan output cairan
- Mengidentifikasi tanda-tanda hypervolemia
34
E. Evaluasi Keperawatan
Hasil dari evaluasi keperawatan pada Tn. WS belum sesuai dengan kriteria hasil
yang ditetapkan. Masalah keperawatan pada diagnosa pertama dan kedua belum telah
teratasi, pasien masih mengatakan sesak nafas walaupun sudah berkurang, sputum (+),
suara ronchi dan wheezing masih, pernafasan pasien masih dangkal.
35
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Gagal jantung merupakan bentuk akhir dan manifestasi terberat dari hampir semua
bentuk penyakit jantung seperti atherosclerosis coroner, infark miokard, kelainan katup,
hipertensi, penyakit jantung bawaan dan kardiomiopati. Studi Farmingham menyebutkan
bahwa kejadian gagal jantung per tahun pada orang berusia > 45 tahun adalah 7,2 kasus
setiap 1000 orang laki-laki dan 4,7 kasus setiap 1000 orang perempuan.
Kejadian gagal jantung diperkirakan akan semakin meningkat di masa depan karena
semakin bertambahnya usia harapan hidup. Secara keseluruhan 50% dari total pasien
meninggal dalam kurun waktu empat tahun. Sebanyak 15,8% pasien yang datang ke
rumah sakit dengan diagnosis gagal jantung meninggal dan 32% mendapatkan rawat inap
kembali dalam waktu satu tahun pertama
Dalam pelaksanaan proses asuhan keperawatan pada Tn. WS, tidak ada kesenjangan
antara teori dan praktik. Sehingga apa yang terjadi dengan pasien, serta implementasi
yang diberikan kepada pasien sudah sesuai dengan teori yang ada.
B. Saran
Kejadian gagal jantung diperkirakan akan semakin meningkat dibarengi dengan
semakin bertambahnya usia. Secara keseluruhan 50% dari total pasien meninggal dalam
kurun waktu empat tahun dikarenakan mengalami gagal jantung, diharapkan dengan
adanya laporan kasus tentang ADHF ini, pemberian asuhan keperawatan pada pasien
dengan ADHF dapat dilakukan semaksimal dan seoptimal mungkin segingga dapat
mengurangi resiko atau komplikasi lainnya
36
DAFTAR PUSTAKA
Dickstein K, Cohen SA, Filippatos G, McMurray JJV, Poikowski P, Atar D et al. ESC
Guidelines for the diagnosis and treatment of acute and chronic heart failure 2008.
European journal of heart failure [serial on the internet].[Link] (diakses 26 Januari
2020). Available from[Link]
Leonard LS. Patophysiology of heart disease. 5th edition. Philadelphia : Wolters Kluwer
Lippincott Williams and Wilkins, 2011 ; 224
Lepage S. Acute decompensated heart failure. Can J Cardiol 2008, 24 (Suppl B) : 6B – 8B.
PPNI. 2017. Standar diagnosis keperawatan Indonesia : definisi dan indicator diagnostik.
Jakarta : DPP PPNI
PPNI. 2018. Standar luaran keperawatan Indonesia : definisi dan kriteria hasil keperawatan.
Jakarta : DPP PPNI
PPNI. 2018. Standar intervensi keperawatan Indonesia : definisi dan tindakan keperawatan.
Jakarta : DPP PPNI
Prince A. Wilson L.M. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6 Volume 1.
2012. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth’s. 2000. Textbook of Medical – Surgical
Nursing. 8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC.
Suyono, S, et al. 2001. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
37
Udjianti, Wajan Juni. 2010. Keperawatan Kardiovaskuler. Jakarta : Salemba Medika.
38