NAMA : PERMANA AGUNG
KELAS : XI MIPA 5
NIS : 1713564
SAHABAT MAKAN SAHABAT
Oleh : PERMANA AGUNG
Putri menoleh ke kiri dan ke kanan. Dipandangnya lagi uang biru Rp.50.000,00 yang
diselipkan dalam buku Kimia. Aman, pikirnya senang. Berarti nanti pulang sekolah dia bisa
membelikan Mira baju seragam yang baru. Memikirkannya saja sudah membuat Putri senang
bukan main.
Putri dan Mira sudah setahun duduk sebangku. Sejak duduk di kelas 10 ini mereka
sudah sangat akrab dari SMP karena mereka juga sekelas diwaktu SMP. Padahal begitu
banyak perbedaan antara mereka berdua. Orang tua Putri kaya raya sementara Mira orang
yang berkecukupan. Mira pintar, Putri kurang pintar. Putri cantik tetapi Mira lumayan cantik.
Begitulah perbandingan yang selalu dibuat ole teman-teman tentang mereka berdua.
Apa pun komentar teman-teman tentang persahabatan mereka, Putri dan Mira tidak
pernah menghiraukan dengan serius. Mereka tetap belajar bersama, bermain bersama,tetap
bersahabat. Sekarang setelah satu semeter berlalu, teman-temn juga sudah mulai menerima
persahabatan mereka dengan lebih wajar.
Putri menghela napas panjang. Diliriknya Mira dengan tatapan sayang. Sebenarnya
Mira cantik, batin Putri dalam hati. Sayang keadaan ekonomi keluarga membuatnya tidak
bisa tampil menarik. Seragamnya sudah usang, sepatunya sangat kusam apalagi tas kembang-
kembang yang dipakainya tiap hari, sungguh pemandangan yang menyedihkan. Putri
bertekad membantu sedikit demi sediki, diawali dengan seragam baru. Putri tidak sabar
menunggu memberinya kejutan yang pasti membuat bahagia itu. Aduh alangkah lamanya bel
berbunyi.
Kring.... Kring.... Kring.... Bel berbunyi tiga kali. Putri hampir melompat dari
kursinya.
“ Ada apa Put? Dari tadi kamu gelisah, ada masalah, ya?” Suara prihatin Mira
mengagetkan Putri. Dengan menangguk pelan ditahannya senyum yang hampir
mengembang. “ Kalau ada masalah,cerita saja padaku ya!” lanjut Mira lagi. Dielusnya bahu
Putri.
“ Selamat siang, Bu! Terima kasih, Bu!” salam pulang yang diucapkan dengan penuh
semangat oleh warga sekelas tidak mampu menghilangkan kegembiraan Putri. Diambilnya
buku Kimia. Tak sabar dicarinya uang yang tadi diselipkan. Deg.... deg..... deg.... uangnya
tidak ada. Dengan tak sabar dibolak-baliknya kembali buku tersebut, tetap tidak ada.
Uangnya menghilang, lenyap.
Sekarang Putri benar-benar punya masalah serius. Wajahnya menjadi pucat pasi. Lana
terhenyak di kursinya sementara Mira memandangnya semakin kuatir.
“ Put, ada apa? Kamu, kok, makin aneh? Sakit, ya?”
“ Uangku hilang. Lima puluh ribu, lenyap begitu saja!” Air mata mengalir deras di
pipi Putri. Bukan kehilangan uang yang membuatnya sedih, tetapi kesempatan membelikan
seragam buat Mira, sahabatnya.
Teman-teman sekelas mulai berkumpul di dekat meja mereka. Ada yang berbisik-
bisik. Ada yang turut prihatin. Sementara Bu Fitrah wali kelas 10 IPA 5 berjalan cepat
menuju ke arah mereka.
Hari itu berakhir dengan buruk sekali bagi Putri. Setelah dipanggil ke ruang guru,
keterangannya dicatat lalu disuruh pulang karena tidak ada yang bida dilakukan dalam
keadaan sebagian siswa sudah pulang sekolah. Besok akan dicari penyelesaian untuk
masalahnya. Yang pasti uangnya tetap hilang, lenyap. Sungguh tega yang mengambil uang
tersebut, pikir Putri dendam. Awas kalau sampai ketahuan, tidak akan kumaafkan, Putri
bertekad dalam hati.
Keesokan hari, kelas 10 IPA 5 heboh dengan penampilan baru Mira. Seragam
barunya terlihat sangat menarik. Mira terlihat rapi dibanding sebelumnya. Putri yang masih
lesu juga terkaget-kaget dengan perubahan Mira. Senymnya mengembang sedikit untuk Mira
selebihnya hanya kebingungan yang melanda.
“ Put, masa kamu tidak curiga? Kemarin kamu kehilangan uang lima puluh ribu,
sekarang Mira membeli seragam baru. Apa kamu tidak mencium ada sesuatu yang tidak
beres?” Ica berusaha berbisik pelan, namun terdengar juga oleh Mira. “ Sahabat makan
sahabat!” Lanjut Ica diikuti pandangan sinis dari teman sekelas. Mira menjadi serba salah.
Dengan kikuk dia memandang Putri. Dengan air mata berlinang dicarinya pembelaan dari
wajah Putri. Tidak ada. Dinda lari keluar dengan hati yang sangat sedih.
Putri hanya terdiam bingung. Hatinya sakit sekali. Ingin rasanya membenci Mira, tapi
seluruh perasaannya melarang. Ingin rasanya memaki Mira, tapi pikirannya berontak.
Ditinggalnya kelas dengan langkah gontai menuju WC murd wanita. Putri ingin menangis di
sana.
Putri masuk dalam sebuah ruang toilet. Menangis sepuasnya. Sahabatnya Mira,
apakah setega itu padanya? Padahal uang itu juga buat membelikan seragam barunya, kan?
Aduh, sakit sekali rasanya dikhianati sahabat sendiri.
Hari itu Putri tidak menegur Mira. Dia diam saja walau duduk sebangku. Ketika
istirahat Putri bermain bersama Ica dan teman lain, berusaha menghindari Mira. Rasanya
sungguh tidak enak. Putri memandang wajah Mira yang sedih, tetapi Putri sudah terlanjur
benci dan sakit hati.
Telah seminggu persahabatan Putri dan Mira renggang. Mereka lebih banyak diam.
Teman-teman selalu mengejek “ Sahabat makan sahabat!”. Mira semakin lama semakin
sedih. Sampai suatu hari Mira sakit dan tidak masuk sekolah
“Hari ini Mira sakit dan perlu istirahat. Putri kamu mau ikut menjenguk nanti bersama
Ibu?” Bu Fitrah memberi pengumuman di depan kelas. “Kasihan Mira, menurut ibunya akhir-
akhir ini Mira agak tertekan. Putri kamu harus ikut!” Suara tegas Bu Fitrah tidak suka.
Putri benci harus berpura-pura kasihan pada Mira. Putri merasa makin benci pada
Mira karena harus menjenguk dan terpaksa bertemu dengannya, Putri tidak suka.
“ Mira, kamu harus cepat sembuh, ya!” Putri dan teman-teman lain sudah tak sabar
menunggu Mira lagi di sekolah!” Bu Fitrah berbisik lembut pada Mira yang terbaring lemah
di tempat tidur yang sama kusamnya dengan rumah ini. Mira hanya mengangguk lemah dan
terus memandang Putri, sedih.
“ Bu Fitra, terima kasih atas kunjungannya. Saya belum sempat mengucapkan terima
kasih atas seragam dan uang yang Ibu berikan pada keluarga kami.” Suara Bapak Dinda
membuat Putri tertegun. Bagai disambar petir, Putri menyimak kata-kata Bapak yang selama
ini diseganinya “ Putri terima kasih juga kunjungannya dan bantuannya selama ini. Tapi,
kenapa sekarang jarang main ke rumah? Bapak dan Ibu kangen juga!” Suara itu kembali
menyadarkan Putri.
Hatinya terasa sakit sekali. Matanya terasa panas. Tiba-tiba Putri merasa sangat
bodoh, tidak mempercayai sahabatnya sendiri. Seragam baru itu, ternyata pemberian Bu
Fitrah.
Putri menangis terisak-isak. Dipeluknya Mira erat-erat. Mira pun menangis keras dan
mereka saling berpelukan. Tidak ada kata-kata yang terucap, mereka mengerti apa yang
dirasakan oleh sahabatnya masing-masing. Bapak,Ibu, dan Bu Fitrah hanya terdiam bingung
menyaksikan mereka berdua.
Putri bertekad untuk lebih percaya pada sahabatnya. Sebuah persahabatan yang
nilainya jaug lebih berharga pada sejumlah uang. Tidak ada kata ‘Sahabat Makan Sahabat’.