Pelaksanaan HACCP pada Roti Manis
Pelaksanaan HACCP pada Roti Manis
DisusunOleh :
Disusun oleh:
Dosen Pengampu :
JURUSAN GIZI
JAKARTA 2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis mampu
menyelesaikan Laporan Praktikum Pelaksanaan HACCP pada produksi roti manis di Aira Donat,
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan tepat pada waktunya. Penulis Mengucapkan terima kasih
kepada pihak Aira Donat yang telah mengizinkan kami untuk dilakukannya praktikum ini, dosen
pengampu serta semua pihak yang telah memberikan saran dan arahan kepada penulis dalam
penyusunan laporan praktikum ini.
Laporan ini sangat jauh dari kesempurnaan, mengingat sumber-sumber yang didapat
tidak terlalu banyak. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca
yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan pengawasan mutu pangan diwaktu
yang akan datang.
Penulis
KATA PENGANTAR..................................................................................................................................1
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................................3
A. Latar Belakang....................................................................................................................................3
B. Rumusan Masalah...............................................................................................................................3
C. Tujuan.................................................................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................................................4
A. Pengertian HACCP.............................................................................................................................4
1. Prinsip-Prinsip HACCP...................................................................................................................4
2. Penerapan Prinsip-Prinsip HACCP..................................................................................................5
BAB III PEMBAHASAN.........................................................................................................................21
A. Gambaran umum pabrik...................................................................................................................21
1. Alamat dan Nomor Telepon.....................................................................................................21
1
2. Karyawan...................................................................................................................................21
3. Waktu dan Jumlah Produksi.....................................................................................................21
4. Alat dan Bahan-bahan...............................................................................................................21
5. Proses mengolah Pangan..........................................................................................................21
B. Hygiene dan Sanitasi.........................................................................................................................22
1. Pekerja.......................................................................................................................................22
2. Kondisi pabrik.........................................................................................................................22
3. Lingkungan pabrik..................................................................................................................22
4. Bahan baku..................................................................................................................................22
5. Kemasan.......................................................................................................................................22
6. Distribusi......................................................................................................................................22
C. HACCP dalam Proses Pembuatan Roti Manis.............................................................................22
10. Tahapan Tindakan Koreksi untuk Pennyimpangan yang Mungkin Terjadi (Prinsip 5).................38
11. Menetapkan Prosedur Verifikasi (Prinsip 6).................................................................................38
12. Pencatatan dan Dokumentasi (Prinsip 7).....................................................................................38
BAB III PENUTUP.....................................................................................................................................0
3.1 Kesimpulan........................................................................................................................................0
3.3 Dokumentasi......................................................................................................................................1
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keamanan pangan merupakan persyaratan utama dari seluruh parameter mutu pangan.
Berapapun nilai gizi suatu bahan pangan, penampilannya baik, rasanya lezat bila tidak aman
maka makanan tersebut tidak ada nilainya lagi. Kemanan pangan adalah upaya untuk
mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan berbagai benda yang dapat
mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan. Di zaman sekarang ini masalah
keamanan pangan menjadi masalah yang penting dalam bidang pangan Indonesia dan perlu
mendapat perhatian khusus dalam program pengawasan pangan. Penyakit yang ditimbulkan
melalui makanan sampai saat ini masih tinggi. Pengawasan pangan yang mengandalkan uji
produk akhir tidak dapat mengimbangi kemajuan yang pesat dalam industry pangan dan
tidak dapat menjamin keamanan pangan makanan yang beredar di pasaran.
2
Oleh karena itu dikembangkan system jaminan keamanan pangan yang disebut Hazard
Analysis Critical Control Point (HACCP) yang merupakan suatu tindakan preventif yang
efektif untuk menjamin keamanan pangan. Sistem ini mencoba untuk mengidentifikasi
berbagai bahaya yang berhubungan dengan suatu keadaan pada saat proses persiapan,
pengolahan atau pembungkusan, menilai risiko-risiko yang terkait dan menentukan kegiatan
dimana prosedur pengendalian akan berdaya guna.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana perencanaan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) pabrik Aira
Donat?
C. Tujuan
1. Umum
Dari kunjungan industri yang dilakukan mahasiswa mendapatkan sebanyak informasi
dan dapat membuat Hazard Analysis & Critical Control Point dari produk yang di
produksi dan memberikan saran dan masukan yang baik bagi pemilik pabrik industri.
2. Khusus
A. Pengertian HACCP
HACCP merupakan suatu sistem manajemen pengawasan dan pengendalian
keamanan pangan secara preventif yang bersifat ilmiah, rasional dan sistematis dengan
tujuan untuk mengidentifikasi, memonitor dan mengendalikan bahaya (hazard) mulai dari
bahan baku, selama proses produksi/pengolahan, manufakturing, penanganan dan
penggunaan bahan pangan untuk menjamin bahwa bahan pangan tersebut aman bila
dikonsumsi (MOTARKEMI et al, 1996 ; STEVENSON, 1990).
3
Dengan demikian dalam sistem HACCP, bahan/materi yang dapat membahayakan
keselamatan manusia atau yang merugikan ataupun yang dapat menyebabkan produk
makanan menjadi tidak disukai; diidentifikasi dan diteliti dimana kemungkinan besar
terjadi kontaminasi/pencemaran atau kerusakan produk makanan mulai dari penyediaan
bahan baku, selama tahapan proses pengolahan bahan sampai distribusi dan
penggunaannya. Kunci utama HACCP adalah antisipasi bahaya dan identifikasi titik
kendali kritis.
Konsep HACCP ini disebut rasional karena pendekatannya didasarkan pada data
historis tentang penyebab suatu penyakit yang timbul (illness) dan kerusakan pangannya
(spoilage). HACCP bersifat sistematis karena konsep HACCP merupakan rencana yang
teliti dan cermat serta meliputi kegiatan operasi tahap demi tahap, tata cara (prosedur) dan
ukuran kriteria pengendaliannya. Konsep HACCP juga bersifat kontinyu karena apabila
ditemukan terjadi suatu masalah maka dapat segera dilaksanakan tindakan untuk
memperbaikinya. Disamping itu, sistem HACCP dikatakan bersifat komprehensif karena
sistem HACCP sendiri berhubungan erat dengan ramuan (ingredient), pengolah/proses dan
tujuan penggunaan/pemakaian produk pangan selanjutnya.
1. Prinsip-Prinsip HACCP
Secara teoritis ada tujuh prinsip dasar penting dalam penerapan sistem HACCP
pada industri pangan seperti yang direkomendasikan baik oleh NACMCP (National
Advisory Committee on Microbilogical Criteria for Foods, 1992) dan CAC (Codex
Alintarius Commission, 1993). Ketujuh prinsip dasar penting HACCP yang
merupakan dasar filosofi HACCP tersebut adalah:
a. Analisis bahaya (Hazard Analysis) dan penetapan resiko beserta cara
pencegahannya.
b. Identifikasi dan penentuan titik kendali kritis (CCP) di dalam proses produksi.
c. Penetapan batas kritis (Critical Limits) terhadap setiap CCP yang telah
teridentifikasi.
d. Penyusunan prosedur pemantauan dan persyaratan untuk memonitor CCP.
e. Menetapkan/menentukan tindakan koreksi yang harus dilakukan bila terjadi
penyimpangan (diviasi) pada batas kritisnya.
f. Melaksanakan prosedur yang efektif untuk pencatatan dan penyimpanan datanya
(Record keeping).
g. Menetapkan prosedur untuk menguji kebenaran.
4
2. Penerapan Prinsip-Prinsip HACCP
5
b) Mendefinisikan lingkup rencana HACCP
Lingkup rencana HACCP (atau bidang yang akan dipelajari) harus
didefinisikan sebelumnya sebelum memulai studi HACCP.
Bagian dari studi HACCP termasuk:
1) Membatasi studi pada produk atau proses tertentu
2) Mendefinisikan jenis potensi bahaya yang akan dimasukkan
3) Mendefinisikan bagian rantai makanan yang akan dipelajari
2) Deskripsikan Produk
Menurut Codex Alimentarius, uraian lengkap dari produk ini berhubungan
dengan prioritas produk akhir. Uraian produk akan menjelaskan:
6
potensi bahaya yang akan dipertimbangkan (misalnya suhu, pengawetan
atau aktivitas air yang berhubungan dengan bakteria) akan dikumpulkan
pertama kali.
Tahapan ini sangat penting dan tidak boleh diremehkan. Tujuannya adalah
untuk mengumpulkan informasi yang dapat diandalkan tentang suatu
produk, komposisi, perilaku, umur simpan, tujuan akhir, dan sebagainya.
Keraguan akan ketidakpastian (pH, Aw dan sebagainya) harus dihilangkan
pada tahapan studi ini, jika perlu dengan cara percobaan dan pengujian.
Data yang dikumpulkan akan digunakan pada tahap berikutnya dalam
studi HACCP, terutama untuk melengkapi Tahap 6 (analisis potensi
bahaya) dan tahap 8 (batas kritis).
7
mengidentifikasi tahapan-tahapan proses yang penting (dari
penerimaan hingga perjalanan akhir produk yang sedang dipelajari.
Rincian yang tersedia harus cukup rinci dan berguna untuk tahapan
analisis potensi bahaya, namun harus ada kesetimbangan antara
keinginan untuk mencantumkan terlalu banyak tahapan dan keinginan
untuk menyederhanakan secara berlebihan sehingga rencana yang
dihasilkan menjadi kurang akurat dan kurang dapat diandalkan.
8
Sebuah skema pabrik harus dibuat untuk menggambarkan aliran produk
dan lalu lintas pekerja untuk memproduksi produk yang sedang dipelajari.
Diagram tersebut harus berisi aliran seluruh bahan baku dan bahan
pengemas mulai dari saat bahan-bahan tersebut diterima, disimpan,
disiapkan, diolah, dikemas/digunakan untuk mengemas, disimpan kembali
hingga didistribusikan.
Proses verifikasi tahap ini harus diprioritaskan pada tinjauan tentang proses
yang dilakukan di pabrik pada waktu-waktu yang berbeda pada saat
9
operasi, termasuk pada shift yang berbeda (bila ada). Pada shift yang
berbeda bisa terjadi perbedaan-perbedaan.
Jika tahap ini tidak dilakukan dengan teliti maka analisis yang dilakukan
selanjutnya bisa keliru. Potensi bahaya yang sesungguhnya bisa tidak
teridentifikasi dan titik-titik yang bukan titik pengendalian kritis (CCP)
teridentifikasi sebagai CCP. Dengan demikian maka perusahaan telah
membuang-buang sumber daya dan tingkat keamanan produk menjadi
berkurang.
Analisis bahaya terdiri dari tiga tahap yaitu, identifikasi bahaya, penetapan
tindakan pencegahan(preventive measure), dan penentuan kategori resiko
atau signifikansi suatu bahaya. Dengan demikian, perlu dipersiapkan
daftar bahan mentah dan ingredient yang digunakan dalam proses,
diagram alir proses yang telah diverifikasi, serta deskripsi dan penggunaan
10
produk yang mencakup kelompok konsumen beserta cara konsumsinya,
cara penyimpanan, dan lain sebagainya.
11
Tindakan pencegahan ( preventive measure ) adalah kegiatan yang dapat
menghilangkan bahaya atau menurunkan bahaya sampai ke batas aman.
Beberapa bahaya yang ada dapat dicegah atau diminimalkan melalui
penerapan prasyarat dasar pendukung sistem HACCP seperti GMP ( Good
Manufacturing Practices) , SSOP ( Sanitation Standard Operational
Procedure) , SOP ( Standard Operational Procedure ), dan sistem
pendukung lainnya. Untuk menentukan resiko atau peluang tentang
terjadinya suatu bahaya, maka dapat dilakukan penetapan kategori resiko.
Dari beberapa banyak bahaya yang dimiliki oleh suatu bahan baku, maka
dapat diterapkan kategori resiko I sampai VI ( Tabel 3 ). Selain itu, bahaya
yang ada dapat juga dikelompokkan berdasarkan signifikansinya ( Tabel
4 ). Signifikansi bahaya dapat diputuskan oleh tim dengan
mempertimbangkan peluang terjadinya ( reasonably likely to occur ) dan
keparahan ( severity ) suatu bahaya.
12
Analisa bahaya adalah salah satu hal yang sangat penting dalam
penyusunan suatu rencana HACCP. Untuk menetapkan rencana dalam
rangka mencegah bahaya keamanan pangan, maka bahaya yang signifikan
atau beresiko tinggi dan tindakan pencegahan harus diidentifikasi. Hanya
bahaya yang signifikan atau yang memiliki resiko tinggi yang perlu
dipertimbangkan dalam penetapan critical control point .
13
sampai ke batas yang dapat diterima. Pada setiap bahaya yang telah
diidentifikasi dalam proses sebelumnya, maka dapat ditentukan satu
atau beberapa CCP dimana suatu bahaya dapat dikendalikan.
Dengan demikian,:
b) Penentuan CCP
Penentuan CCP dilandaskan pada penilaian tingkat keseriusan dan
kecenderungan kemunculan potensi bahaya serta hal-hal yang dapat
dilakukan untuk menghilangkan, mencegah atau mengurangi potensi
bahaya pada suatu tahap pengolahan.
14
Gambar 9. Diagram Pohon keputusan untuk penentuan titik kendali mutu
(Sumber : European Committee for Standardisation, 2004)
15
penerimaan mungkin merupakan titik pengendalian kritis,
tergantung pada asal dan penggunaan produk tersebut. Jika ada
satu atau lebih tahapan selama pengolahan (misalnya pemasakan)
yang dapat mengilangkan atau mengurangi sebagian besar potensi
biaya biologis, maka pemasakan akan menjadi CCP (titik
pengendalian kritis).
b) Pengendalian formulasi bisa menjadi CCP. Beberapa bahan baku
mempengaruhi pH atau kadar Aw makanan sehingga dapat
mencegah pertumbuhan bakteri. Serupa dengan hal tersebut, garam
curing menciptakan lingkungan yang selektif untuk pertumbuhan
mikrobia. Nitrit pada jumlah yang cukup akan mencegah
pertumbuhan spora yang terluka karena panas. Dengan demikian,
pada produk-produk tertentu, konsentrasi garam yang cukup tinggi
serta nitrit dapat dimasukkan sebagai CCP dan diawasi untuk
menjamin keamanannya.
c) Pendinginan bisa menjadi CCP pada beberapa produk. Penurunan
suhu yang cepat pada makanan yang dipasteurisasi adalah proses
yang sangat penting karena pasteurisasi tidak mensterilkan produk
namun hanya mengurangi beban bakteri hingga ke tingkat tertentu.
Spora yang dapat bertahan pada proses ini akan tumbuh jika ada
pendinginan yang tidak tepat atau pendinginan yang tidak cukup
selama penyimpanan produk yang tidak stabil selama
penyimpanan.
d) Pada area yang sangat sensitif terhadap mikrobia (misalnya
pengemasan makanan siap santap), praktek-praktek higiene
tertentu mungkin harus dianggap sebagai CCP.
8) Menyusun Batas Kritis
Critical limit (CL) atau batas kritis adalah suatu kriteria yang harus
dipenuhi untuk setiap tindakan pencegahan yang ditujukan untuk
menghilangkan atau mengurangi bahaya sampai batas aman. Batas ini
akan memisahkan antara "yang diterima" dan "yang ditolak", berupa
kisaran toleransi pada setiap CCP. Batas kritis ditetapkan untuk menjamin
bahwa CCP dapat dikendalikan dengan baik. Penetapan batas kritis
haruslah dapat dijustifikasi, artinya memiliki alasan kuat mengapa batas
tersebut digunakan dan harus dapat divalidasi artinya sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan serta dapat diukur. Penentuan batas kritis ini
biasanya dilakukan berdasarkan studi literatur, regulasi pemerintah, para
ahli di bidang mikrobiologi maupun kimia, CODEX dan lain sebagainya.
16
Untuk menetapkan CL maka pertanyaan yang harus dijawab adalah :
apakah komponen kritis yang berhubungan dengan CCP? Suatu CCP
mungkin memiliki berbagai komponen yang harus dikendalikan untuk
menjamin keamanan produk. Secara umum batas kritis dapat
digolongkan ke dalam batas fisik (suhu, waktu), batas kimia (pH, kadar
garam). Penggunaan batas mikrobiologi (jumlah mikroba dan
sebagainya) sebaiknya dihindari karena memerlukan waktu untuk
mengukurnya, kecuali jika terdapat uji cepat untuk pengukuran tersebut.
Tabel 5 menunjukkan contoh batas kritis suatu proses dalam industri
pangan.
17
Pengawasan idealnya harus dapat memberikan informasi ini tepat pada
waktunya agar dapat dilakukan penyesuaian yang perlu serta tindakan
perbaikan bila mana perlu.
Jika mungkin, penyesuaian proses harus dapat dibuat ketika proses
pengawasan menunjukkan suatu trend yang mengarah pada hilangnya
pengenadalian pada titik-titik kritis, Penyesuaian harus diambil sebelum
terjadi penyimpangan.
Data yang dihasilkan dari pengawasan harus di etrjemahkan dalam
dokumentasi tetrtulis dan dievaluasi oleh orang yang berwenang dan
memiliki pengetahuan serta kekuasan untuk melakukan tindakan
perbaikan bilamana perlu.
Jika pengawasan tidak dilakukan terus menerus, maka jumlah atau
frekuensi pengawasan harus cukup untuk menjamin bahwa CCP masih
dibawah kendali.
Semua catatan dan dokumen yang berhubungan dengan pengawasan
CCP harus ditandatangani oleh orang yang melakukan pengawasan dan
oleh petugas peninjau yang bertanggung jawab dalam perusahaan
tersebut.
Pada prakteknya, sistem pengawasan harus distandarisasi dengan
menyusun prosedur operasi yang sesuai dan dapat menjelaskan:
Sifat dan prinsip pengujian, metode atau teknik yang digunakan Frekuensi
pengamatan, letak atau lokasi dilakukannya pengamatan
Alat yang digunakan, proses atau rencana pengambilan sampel
Tanggung jawab pengawasan an interpretasi hasil
Peredaran informasi.
18
melibatkan penyingkiran produk. Penyimpangan dan prosedur
pembuangan produk harus didokumentasikan dalam sistem pencatatan
HACCP.
a) Sifat penyimpangan
b) Penyebab penyimpangan
c) Tindakan perbaikan yang dilakukan
d) Orang yang bertanggung jawab terhadap tindakan perbaikan
e) Tindakan lain yang dicapai
Semua penyimpangan yang mungkin terjadi tidak dapat diantisipasi
sehingga tindakan perbaikan tidak boleh dilakukan sebelumnya. Dengan
demikian disarankan untuk menduga kasus penyimpangan yang paling
sering terjadi dan atau mendefinisikan mekanismenya, pengaturannya, pihak
yang berwenang, serta tanggung jawab secara umum untuk diterapkan
setelah terjadi penyimpangan apapun juga.
19
c) Pemeriksaan catatan CCP
d) Pemeriksaan catatan penyimpangan dan disposisi inspeksi
visual terhadap kegiatan untuk mengamati jika CCP tidak
terkendalikan
e) Pengambilan contoh secara acak
f) Catatan tertulis mengenai inspeksi verifikasi yang menentukan
kesesuaian dengan rencana HACCP, atau penyimpangan dari
rencana dan tindakan koreksi yang dilakukan.
g) Verifikasi harus dilakukan secara rutin dan tidak terduga untuk
menjamin bahwa CCP yang ditetapkan masih dapat
dikendalikan. Verifikasi juga dilakukan jika ada informasi baru
mengenai keamanan pangan atau jika terjadi keracunan
makanan oleh produk tersebut.
12) Penyimpanan Catatan dan Dokumentasi
Prosedur HACCP harus didokumentasikan dan harus sesuai dengan
sifat dan ukuran operasi. Sistem pendokumentasian yang praktis dan
tepat sangatlah penting untuk aplikasi yang efeisien dan penerapan
sistem HACCP yang efektif.
20
BAB III PEMBAHASAN
A. Gambaran umum pabrik
Tempat pengolahan kue donat dan roti manis secara umum
BAK ISI MINYAK
RAK PENYIMPANAN ALAT MIXER
ALAT-ALAT
TOILET
OVEN
RAK-RAK TUMPUKAN BOX
RAK PENYIMPANAN LOYANG
BAHAN-BAHAN
2. Karyawan
Jumlah : 20 orang
Perilaku : baik
Jenis Kelamin : laki-laki
Pemeriksaan Kesehatan : tidak ada khusus. Hanya pada saat sakit
Struktur Organisasi : ada ( distribusi : 12 orang, produsen : 8 orang)
b. Bahan :
1) Tepung terigu
2) Margarine
3) Minyak goreng
4) Telur
5) Isian (keju,cokelat dan kacang hijau)
21
d) Setelah dicetak tunggu hingga adonan mengembang
e) Setelah adonan mengembang lalu dipanggang di oven
f) Angkat roti manis yang sudah matang dan dikemas dikotak
1. Pekerja
Dalam proses pengolahan roti manis ini pekerja mencuci tangga tapi tidak menggunakan
APD dan pakaian tidak rapih, hanya menggunakan celana pendek dan baju kaos oblong
saja.
2. Kondisi pabrik
Kondisi pabrik terdapat atap dan dinding yang terbuat dari stainless steel yang aman dari
korosif. Selain itu alat-alat pengolahan terbuat dari stainless steel. Di dalam pabrik
terdapat APAR (Alat Pemadam Api Ringan) untuk K3. Tempat produksi berada di lantai
bawah dan lantai atas rumah pemilik pabrik tersebut. Dalam pabrik terdapat toilet. Untuk
penyimpanan bahan-bahan seperti kantung tepung dibiarkan terbuka. Sirkulasi udara baik
karna terdapat ventilasi udara. Lantai ruang produksi selama proses produksi tampak
kotor dan berceceran bahan.
3. Lingkungan pabrik
Lingkungan pabrik berada di pinggir lintasan kereta rel listrik dan wilayah sekitar cukup
bersih
4. Bahan baku
Bahan baku didapatkan dari pemasok. Kondisi tepung terigu di penyimpanan terdapat di
karung dan terdapat beberapa karung yang terbuka. Untuk bahan-bahan lain terbungkus
rapi dan ada yang terbuka kemasannya.
5. Kemasan
Roti manis yang sudah selesai tahap produksi di letakkan di box yang sudah tersedia.
Masing-masing box berisi 8 roti.
6. Distribusi
Untuk proses distribusi menggunakan kendaraan motor dan nantinya box-box tersebut di
tumpuk dan akan dikirimkan ke warung yang sudah bekerja sama.
22
merekam pembicaraan narasumber dan
melihat proses produksi untuk memastikan
adanya CCP
Ashri Nur Fajri Mencatat informasi yang disampaikan oleh
narasumber dan mengamat setiap proses
produksi untuk memastikan adanya CCP
Ruth Chetlyn M. Mewawancarai dan mengamati setiap proses
produksi untuk memastikan adanya CCP
Tyas Noer Aisyah Dokumentasi, mewawancarai narasumber
dan mengamati setiap proses produksi untuk
memastikan adanya CCP
2. DESKRIPSI PRODUK
Deskripsi Keterangan
Nama Produk Roti Manis
Bahan baku yang digunakan Tepung Terigu, margarin, coklat, minyak
goreng, telur, keju dan kacang hijau
Karakteristik produk akhir Bentuk bulat, tekstur lembut dan berbau khas
roti serta berwarna kuning keemasan.
Metode pengolahan Goreng
Kondisi penyimpanan Di suhu ruang
Pengemasan -
Pengemasan untuk distribusi Box
Metode transportasi/distribusi Motor
Umur Simpan 4-5 hari
3. IDENTIFIKASI PENGGUNA
Deskripsi Keterangan
Nama Produk Aira Donat
Deskripsi Cara Konsumsi Dikonsumsi langsung
Pengguna Produk Konsumen dari semua kalangan masyarakat
23
4. DIAGRAM ALIR
Memanggang adonan
Distribusi
24
Menyiapkan semua bahan
Distribusi
6. ANALISIS PELAKSANAAN HACCP
Signifikasi Bahaya
No. Tahap Proses Bahaya Sumber Tingkat Tingkat
S/TS*
Bahaya Resiko
1 Penerimaan bahan
baku :
a. tepung terigu M Kontaminasi Udara Sedang Sedang TS
Hard flour mikroorganisme,
kapang
F Kotoran Proses produksi Rendah Rendah TS
K Mikotoksin Kapang Sedang Sedang TS
25
F Lumpur Sumber air Rendah Rendah TS
c. Instant active dry M Kontaminasi mikroba Udara Sedang Sedang TS
yeast pathogen
d. Gula pasir
K Bleaching agent Senyawa kimia Rendah Sedang TS
e. Garam
F Kotoran Proses produksi, Sedang Rendah TS
kemasan.
Udara,
f. Telur
M Salmonella, lingkungan, Tinggi Tinggi S
Campylobacter, C. wadah, kandang
perfringens, S. ayam
aureus, E. coli Induk ayam.
Clostridium
Botulinin botulinum. Tinggi Tinggi S
Lingkungan,
F Feses induk, kotoran kandang ayam. Sedang Rendah TS
Penyuntikan,
K Antibiotik, hormon. peternakan. Tinggi Sedang S
Sinar matahari,
g. Lemak
F Teroksidasi. oksigen. Sedang Rendah TS
(vegetable oil
Udara, wadah.
solid)
M Mikroba lipolitik. Sedang Rendah TS
Proses produksi,
h. Susu bubuk skim
M Salmonella sp., wadah, udara. Tinggi Tinggi S
Listeria
monocytogenes,
Escherichia coli,
Staphylococcus Proses produksi.
aureu. Produksi,
K Bahan kimia pengemasan. Sedang Rendah TS
pembersih.
F Logam (kawat), Rendah Tinggi TS
gelas, benda-benda Udara, wadah.
asing lain.
TS
i. Bread improver
26
M Kontaminasi Rendah Sedang
mikroorganisme,
kapang.
2. Persiapan bahan
baku
a. Penyimpanan M Kontaminasi Udara, Tinggi Rendah TS
tepung terigu mikroorganisme. lingkungan
penyimpanan.
F Kotoran. Ruang Sedang Tinggi S
penyimpanan.
M Kontaminasi kutu Ruang
b. Sumber air untuk
tepung. penyimpanan.
produksi
27
S. aureus.
28
c. Proses M terpapar terlalu Tinggi Rendah TS
pembentukan Kontaminasi benda lama tanpa
adonan kembali F asing (rambut, kerikil, kondisi yang Sedang Tinggi S
dan sebagainya) tepat)
Pekerja,
lingkungan.
Over fermented
Suhu dan waktu
d. Proses fermentasi F fermentasi yang Sedang Sedang TS
lanjutan tidak sesuai.
29
Bahaya A Bahaya B Bahaya C Bahaya D Bahaya E Bahaya F Kategori Resiko
Produk
Roti Manis 0 + 0 + + + IV
Bahan Baku
Tepung Terigu 0 + 0 + + 0 III
Gula Pasir 0 0 0 + + 0 II
Margarin 0 + + + + 0 IV
Telur 0 + 0 + + 0 III
30
Tahapan Penyebab Signifikasi Bahaya CCP
No Jenis Bahaya
Proses Bahaya Q1 Q2 Q3 Q4
1 Penerima B : mikroba Penyimpanan & T - - - Bukan
an bahan perusak ( Fungi CCP
kering Aspergillus /Kapang/bakteri
(tepung flavus) yang menempel
terigu) pada tepung
terigu
F : pasir, batu, Kemungkinan Y Y Y T CCP
31
tanah, kontaminasi saat
pecahan kaca, penerimaan
serpihan bahan makanan.
kayu, dll
B : mikroba Tempat T - - - Bukan
perusak ( penyimpanan CCP
Aspergillus
Persiapa
flavus)
n bahan
K:- - -
2 makanan
F : pasir, batu, Lingkungan Y Y Y T CCP
(tepung
tanah, pabrik
terigu)
pecahan kaca,
serpihan
kayu, dll
B : mikroba Tempat dan T - - - Bukan
perusak suhu CCP
Aspergillus penyimpanan
Penimba flavus,
ngan Salmonella
Bahan
F : kotoran Kemungkinan T - - - Bukan
3 Baku
ayam, pasir, kontaminasi saat CCP
(Tepung
terigu batu, tanah, penerimaan
dan telur) pecahan kaca, bahan makanan.
serpihan
kayu, dll
K:- - - - - - -
Pencamp B : mikroba Tempat dan Y Y T T CCP
uran perusak suhu
4 bahan Aspergillus penyimpanan
baku flavus,
Salmonella
F : kotoran Kemungkinan Y Y Y T CCP
ayam, pasir, kontaminasi saat
batu, tanah, penerimaan
pecahan kaca, bahan makanan.
serpihan
kayu, dll
5 Pembagia B : mikroba Tempat dan Y Y Y Y Bukan
n adonan perusak suhu CCP
Aspergillus penyimpanan,
flavus, penjamah
Salmonella adonan
F : rambut, Kemungkinan Y Y Y Y Bukan
32
keringat, kontaminasi saat CCP
pasir, batu, penerimaan
tanah, bahan makanan,
pecahan kaca, dan penjamah
serpihan makanan.
kayu, dll
Pemangg
6 Tidak ada kontaminasi
angan
B : bakteri Tidak T - - - Bukan
dari menggunakan CCP
penjamah APD (masker dan
penutup kepala)
saat mengangkat
loyang
Pendingi
7 F : seranga, Karyawan T - - - Bukan
nan
benda asing melakukan CCP
pekerjaan sambil
merokok dan
tidak
menggunakan
APD
B : bakteri Tidak Y Y Y T CCP
dari menggunakan
penjamah APD (masker dan
penutup kepala)
saat mengangkat
loyang
Pengema
8 F : seranga, Karyawan Y Y Y T CCP
san
benda asing melakukan
pekerjaan sambil
merokok dan
tidak
menggunakan
APD
B : bakteri Bakteri dari Y Y Y T CCP
dari penjamah dan
penjamah dan box makanan
box makanan yang kurang
9 Distribusi bersih
F : seranga, Wadah Y Y Y T CCP
benda asing, pendistribusian
debu tidak terjamin
kebersihannya
33
8. PENETAPAN BATAS KRITIS UNTUK SETIAP CCP
34
Batas Kritis (Critical Limits)
No Tahapan Proses Jenis Bahaya
B : mikroba perusak Kualitas bahan baku baik, tidak
( Aspergillus flavus) terkontaminasi oleh mikroorganisme
Penerimaan
F : pasir, batu,
1 bahan kering
tanah, pecahan
(tepung terigu)
kaca, serpihan
kayu, dll
B : mikroba perusak Kualitas bahan baku baik, tidak
( Aspergillus flavus) terkontaminasi oleh mikroorganisme
Persiapan bahan
K:-
2 makanan
F : pasir, batu,
(tepung terigu)
tanah, pecahan
kaca, serpihan
kayu, dll
B : mikroba perusak Menggunakan alat timbangan yang
Aspergillus flavus, sesuai dengan standar, dan
Penimbangan Salmonella menggunakan alat berbahan stainless
Bahan Baku F : kotoran ayam, steel agar mudah dibersihkan
3
(Tepung terigu pasir, batu, tanah,
dan telur) pecahan kaca,
serpihan kayu, dll
K:-
B : mikroba perusak Menggunakan wadah sesuai dengan
Aspergillus flavus, standar, dan menggunakan alat
Salmonella berbahan stainless steel agar mudah
Pencampuran
4. F : kotoran ayam, dibersihkan
Bahan Baku
pasir, batu, tanah,
pecahan kaca,
serpihan kayu, dll
B : mikroba perusak Menggunakan APD seperti sarung
Aspergillus flavus, tangan, masker, dan penutup kepala,
Salmonella serta pegawai harus menggunakan
Pembagian F : rambut, pakaian yang rapi dan bersih
5
Adonan keringat, pasir,
batu, tanah,
pecahan kaca,
serpihan kayu, dll
Tidak ada
6 Pemanggangan
kontaminasi
B : bakteri dari Diletakkan di ruangan yang tertutup
penjamah supaya bebas dari kontaminasi udara
7. Pendinginan
F : seranga, benda bebas
asing
B : bakteri dari Menggunakan APD seperti sarung
penjamah tangan, masker, dan penutup kepala,
F : seranga, benda serta pegawai harus menggunakan
8. Pengemasan
asing pakaian yang rapi dan bersih. Wadah
dibersihkan hingga tidak ada lagi minyak 35
atau kotoran lain yang menempel
B : bakteri dari Box kemasan ditutup rapat untuk
penjamah dan box menghindari kontaminasi selama proses
9. Penetapan Sistem Pemantauan untuk Setiap CCP
36
dengan
pengama
tan
subjektif
Menggunakan alat Penggu Mengont Sebelum Tempat Petugas
timbangan yang sesuai naan rol dan proses penimban penimban
dengan standar, dan alat mengam pengolah agan gan bahan
menggunakan alat terstan ati proses an bahan baku
berbahan stainless dar dan penimba berlangs baku
steel agar mudah aman ngan ung
dibersihkan bahan
Penimbangan
baku
Bahan Baku
menggun
(Tepung terigu
akan alat
dan telur)
timbanga
n sesuai
standar
dan alat
bahan
stainless
steel.
Menggunakan wadah Penggu Menggun Sebelum Tempat Petugas
sesuai dengan standar, naan akan proses proses pencampu
dan menggunakan alat alat wadah pengolah pencampu ran bahan
berbahan stainless terstan sesuai an ran bahan baku
Pencampuran
steel agar mudah dar dan standar berlangs baku
Bahan Baku
dibersihkan aman dan alat ung.
berbahan
stainless
steel.
Menggunakan APD Mengo Menetap Sebelum Tempat Petugas
seperti sarung tangan, ntrol kan proses proses pembagia
masker, dan penutup hygiene peratura pengolah pengolaha n adonan
kepala, serta pegawai dan n yang an n roti
Pembagian harus menggunakan sanitasi menghar berlangs
Adonan pakaian yang rapi dan pekerja uskan ung.
bersih /karya karyawan
wan. menggun
akan
APD.
Pemanggangan - - - - - -
Pendinginan Diletakkan di ruangan Kontrol Mengont Selama Tempat Petugas
yang tertutup supaya proses rol dan proses Pengolaha pendingin
37
bebas dari kontaminasi pendin mengam pendingi n roti an
udara bebas ginan. ati proses nan
pendingi berlangs
nan. ung.
Menggunakan APD Mengo Menetap Sesudah Tempat Petugas
seperti sarung tangan, ntrol kan proses penyimpa pengemas
masker, dan penutup hygiene peratura pengolah nan roti. an
kepala, serta pegawai dan n yang an
harus menggunakan sanitasi menghar selesai.
pakaian yang rapi dan pekerja uskan
bersih. Wadah /karya karyawan
dibersihkan hingga wan. menggun
tidak ada lagi minyak akan APD
atau kotoran lain yang dan
Pengemasan
menempel menggan
ti wadah
penyimp
anan
dengan
container
yang
terbuat
dari
plastik.
Box kemasan ditutup Penggu Menggan Sebelum Tempat Petugas
rapat untuk naan ti wadah proses penyimpa distribusi
menghindari alat selama distribusi nan dan
kontaminasi selama yang proses dilakuka selama
proses pendistribusian. terstan distribusi n. distribusi
dar dan dengan dilakukan.
aman. menggun
akan
Distribusi
container
terbuat
dari
plastik
yang
dilengkap
i dengan
penutup.
10. Tahapan Tindakan Koreksi untuk Pennyimpangan yang Mungkin Terjadi (Prinsip 5)
38
Tindakan Koreksi adalah semua tindakan yang diambil jika hasil pemantauan
pada CCP menunjukkan penyimpanan batas kritis (kehilangan kendali) karena jika
kendali hilang, maka produk menjadi tidak memenuhi syarat. Dalam pelaksanaannya
terdapat 2 level tindakan koreksi, yaitu :
a. Tidakan Segera (Immediete Action), yaitu penyesuaian proses agar menjad terkontrol
kembali dan menangani produk-produk yang dicurigai terkena dampak penyimpangan.
39
- Rencana HACCP dan semua materi pendukungnya
- Dokumen Pemantauan
- Dokumen Tindakan Koreksi
- Dokumen Verifikasi.
Dengan telah disusunnya sistem dokumentasi, maka selesailah penyusunan rencana HACCP. Rencana HACCP dapat
berubah jika terjadi perubahan pada bahan baku, tata letal pabrik, penggantian peralatan, perubahan program
pembersihan/sanitasi, penerapan prosedur-prosedur baru, perubahan kelompok konsumen produk dan adanya informasi baru
tentang suatu bahaya.
Penetapan CCP, penentuan batas kritis, penetapan prosedur monitoring, penetapan tindakan koreksi, penentuan prosedur
verifikasi dan dokumentasi yang baik selanjutnya di tuangkan dalam tabel HACCP Plan.
Batas Kritis Pemantauan
Tahapan Tindakan
(Critical What How When Where Who Verifikasi Dokumentasi
Proses Koreksi
Limits)
Penerimaan Kualitas bahan Memper Menjamin Sebelum Tempat Petugas
bahan kering baku baik, tidak oleh bahan proses peneri penerim
Review
(tepung terkontaminasi bahan kering yang pengola maan aan
Mengganti kondisi
terigu) oleh kering digunakan han bahan bahan Rekaman
bahan kering bahan
mikroorganisme yang bebas dari berlangs kering kering proses
yang terjamin kering
baik. cemaran ung penerimaan
kebersihannya. secara
dengan
subjektif
pengamata
n subjektif.
Persiapan Kualitas bahan Memper Menjamin Sebelum Tempat Petugas Mengganti Review Rekaman
bahan baku baik, tidak oleh bahan proses persiap persiapa bahan kondisi proses
makanan terkontaminasi bahan makanan pengola an n bahan makanan yang bahan persiapan
(tepung oleh makanan yang han bahan makana terjamin makanan
terigu) mikroorganisme yang digunakan berlangs makana n kebersihannya. secara
baik. bebas dari ung n. subjektif
cemaran
dengan
pengamata
n subjektif
Penimbangan Menggunakan Penggun Mengontro Sebelum Tempat Petugas
Bahan Baku alat timbangan aan alat l dan proses penimb penimba
yang sesuai terstanda mengamati pengola anagan ngan
dengan standar, r dan proses han bahan bahan
dan aman penimbang berlangs baku baku
menggunakan an bahan ung
Penimbangan
alat berbahan baku Review
kembali jika Rekaman
stainless steel mengguna proses
bahan baku proses
agar mudah kan alat penimban
tidak sesuai penimbangan
dibersihkan timbangan gan
jumlah.
sesuai
standar
dan alat
bahan
stainless
steel.
Pencampura Menggunakan Penggun Mengguna Sebelum Tempat Petugas Review
n Bahan Baku wadah sesuai aan alat kan wadah proses proses pencam kondisi
Mengganti
dengan standar, terstanda sesuai pengola penca puran wadah
wadah yang Rekaman form
dan r dan standar han mpuran bahan dan alat
sesuai dengan kondisi wadah
menggunakan aman dan alat berlangs bahan baku setiap
standar dan dan alat secara
alat berbahan berbahan ung. baku bulan,
alat berbahan rutin
stainless steel stainless pemelihar
stainless steel
agar mudah steel. aan
dibersihkan bulanan.
Pembagian Menggunakan Mengont Menetapka Sebelum Tempat Petugas Teguran, Review Rekaman
Adonan APD seperti rol n proses proses pembagi pelatihan hygiene sanitasi
sarung tangan, hygiene peraturan pengola pengol an hygiene dan dan pekerja.
masker, dan dan yang han ahan adonan sanitasi sanitasi
1
penutup kepala, sanitasi mengharus berlangs roti
serta pegawai pekerja/k kan ung. pekerja,
harus aryawan. karyawan menyediakan
pekerja.
menggunakan mengguna APD untuk
pakaian yang kan APD. pekerja.
rapi dan bersih
Pemanggang - - - - - - - - -
an
Pendinginan Diletakkan di Kontrol Mengontro Selama Tempat Petugas Menjaga
ruangan yang proses l dan proses Pengola pendingi kebersihan
Kalibrasi
tertutup supaya pendingi mengamati pendingi han roti nan ruangan Rekaman
ruangan
bebas dari nan. proses nan pendinginan udara dan
untuk
kontaminasi pendingina berlangs agar bebas suhu
pendingin
udara bebas n. ung. dari diruangan.
an roti
kontaminasi
udara bebas
Pengemasan Menggunakan Mengont Menetapka Sesudah Tempat Petugas Teguran, Review Rekaman
APD seperti rol n proses penyim pengem pelatihan hygiene sanitasi
sarung tangan, hygiene peraturan pengola panan asan hygiene dan dan pekerja dan
masker, dan dan yang han roti. sanitasi sanitasi form kondisi
penutup kepala, sanitasi mengharus selesai. pekerja, pekerja, wadah secara
serta pegawai pekerja/k kan menyediakan kondisi rutin.
harus aryawan. karyawan APD untuk wadah
menggunakan mengguna pekerja dan setiap
pakaian yang kan APD membersihkan bulan,
rapi dan bersih. dan wadah hingga pemelihar
Wadah membersih tidak ada aan
dibersihkan kan wadah minyak atau bulanan.
hingga tidak hingga kotoran yang
ada lagi minyak tidak ada menempel
atau kotoran minyak
2
lain yang atau
menempel kotoran
yang
menempel
Distribusi Box kemasan Penggun Mengganti Sebelum Tempat Petugas
ditutup rapat aan alat wadah proses penyim distribus
untuk yang selama distribus panan i
menghindari terstanda proses i dan
kontaminasi r dan distribusi dilakuka selama Review
selama proses aman. dengan n. distribu Mengganti box kondisi
pendistribusian. mengguna si dengan box setiap Rekaman form
kan dilakuk container bulan, kondisi box
container an. berbahan pemelihar secara rutin.
terbuat dasar plastik. aan
dari plastik bulanan.
yang
dilengkapi
dengan
penutup.
3
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam pelaksanaan HACCP kelompok kami berkunjung ke produksi roti manis di
pabrik aira donat Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pabrik aira donat memiliki 20 orang
karyawan yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Dalam hygiene dan sanitasi dalam
proses pengolahan roti manis para pekerja mencuci tangan tetapi tidak menggunakan
APD dan pakaian tidak rapih, hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong.
Kondisi pabrik beratap dan dinding yang terbuat dari stainless steel yang aman dari
korosif, alat-alat pengolahan juga terbuat dari stainless steel, di dalam pabrik terdapat
APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan K3. Kondisi bahan baku berupa tepung terigu di
simpan di karung dan terdapat karung yang terbuka, untuk bahan yang lain terbungkus
rapih dan ada yang terbuka kemasannya. dalam pengemasan roti manis setelah selesai
tahap produksi kemudian di letakan di box dan langsung di distribusikan menggunakan
motor ke warung yang sudah bekerja sama.
3.3 Dokumentasi
1
DAFTAR PUSTAKA
Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dan Implementasinya dalam Industri Pangan (Ir. Sere
Saghranie Daulay, [Link])
[Link]
Critical limit settings in HACCP are specific thresholds that indicate whether a CCP is under control. They are determined based on scientific data, regulatory standards, and expert advice concerning particular hazards. For each identified hazard at a CCP, critical limits are set to ensure that safety is maintained, such as specific temperature ranges for pathogen control or pH limits for microbial growth inhibition. These limits must be measurable, monitored with precision, and documented. Properly established critical limits are pivotal in ensuring that hazards are effectively managed throughout the production process .
Preventive measures in food processing include implementing Good Manufacturing Practices (GMP), Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP), and other Standard Operating Procedures (SOPs). These measures aim to eliminate hazards or reduce them to safe levels. For instance, using personal protective equipment (e.g., gloves, masks) ensures hygiene, while appropriate storage conditions prevent microbial growth. Regular staff training and equipment calibration further minimize physical and biological contamination risks. These measures form essential prerequisites for a successful HACCP system, ensuring product safety .
To effectively define and document a food safety policy within the HACCP framework, it is crucial to articulate the policy, its objectives, and commitment towards product safety explicitly. This involves documenting the policy even if this is not explicitly required by Codex, as recommended by HACCP experts. The focus should be on the safety and hygiene of food materials, aligning with consumer expectations and requirements. This step ensures that management commitment is demonstrated, which is critical for the successful implementation and development of the HACCP system .
Failing to adjust supplementary documents like process flow diagrams in the HACCP process can lead to serious inaccuracies in hazard analysis. It might result in unidentifiable hazards and misallocation of control resources, leading to potential food safety breaches. If discrepancies between documented processes and actual operations are not resolved, it undermines the credibility and effectiveness of the entire HACCP system. Such failures can waste resources on non-critical controls, potentially increasing the risk of foodborne illnesses .
Verifying process flow diagrams contributes significantly to the accuracy of an HACCP study by ensuring that the actual manufacturing process aligns with documented workflows. This involves checking each stage and shift of production to identify discrepancies that might lead to incorrect hazard analysis. Misalignments can result in undetected hazards or misallocated Critical Control Points (CCPs), reducing the effectiveness of the HACCP implementation. Cross-verification ensures that all identified hazards and CCPs are valid and supports the optimization of resources by preventing unnecessary control measures .
Monitoring critical limits at CCPs is essential because it ensures that each hazard is controlled effectively, preventing food safety breaches. Proper monitoring involves the systematic checking of parameters that indicate control at each CCP. This process requires clear documentation, which should include the monitored parameters, methods, frequency, locations, and personnel responsible. Documentation supports traceability and accountability, enabling the HACCP team to make informed decisions quickly and implement corrective actions when deviations occur. Moreover, maintaining accurate records is crucial for audits and verification processes .
The distribution phase poses threats to food safety through potential contamination from unclean packaging or handling. To mitigate these risks, it is essential to ensure that distribution boxes are thoroughly cleaned and sealed to prevent exposure to environmental contaminants. Using APDs, such as gloves and masks, during handling also reduces contamination risk. Constant temperature monitoring can maintain product integrity, while stringent cleaning protocols for distribution equipment and vehicles help prevent cross-contamination .
A HACCP team can utilize product description under the Codex Alimentarius by detailing the product's general characteristics, physicochemical properties, and packaging methods. By gathering comprehensive information on storage conditions, labeling, and consumer usage instructions, the team can better understand potential hazards associated with the product. This detailed understanding is critical for risk assessment and helps in defining control measures. Highlighting factors such as pH, water activity, and possible bacterial activities aids in accurately analyzing potential dangers and setting appropriate Critical Limits .
Team composition is paramount for successful HACCP study implementation, requiring diverse expertise to cover all aspects of food safety. Essential roles include production leaders, quality control personnel, technical experts, and maintenance staff. The team's success hinges on their knowledge of the product, process, potential hazards, and training in HACCP principles. Effective planning, resource organization, and continuous training are also critical. A well-composed team ensures comprehensive hazard identification, control, and resource-efficient processes .
The identification of potential hazards lays the foundation for the subsequent analysis and classification within the HACCP system. Clearly identifying hazards—whether physical, chemical, or biological—allows the HACCP team to evaluate their likelihood and severity accurately. This information is vital for categorizing hazards based on risk levels and determining which are significant enough to require CCPs. The correct classification ensures effective prioritization and resource allocation for control measures, thus enhancing the overall food safety management. Inaccuracies at this stage can lead to inadequate safety measures and resource wastage .