RKL RPL Proyek Inlet Outlet Ciliwung
RKL RPL Proyek Inlet Outlet Ciliwung
Disusun Oleh :
Donny Widiyatmoko
NIM. 1114020032
Yonda Eko Prasetyo
NIM. 1114020013
Pembimbing :
Suripto S.T., [Link].
NIP. 19651204 199003 1 003
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang selalu
memberi rahmat dan hidayahnya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Tugas
Besar Mata Kuliah Pengantar AMDAL berupa tugas besar dengan judul RKL RPL
pada Proyek Pembangunan Inlet dan Outlet Sudetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir
Timur. Laporan ini merupakan pertanggung jawaban dari pembelajaran yang telah
kami laksanakan, sekaligus sebagai salah satu bukti tertulis dalam tugas yang telah
kami lakukan.
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi rahmat dan hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini.
2. Bapak Suripto, ST., MSi. selaku dosen pengajar mata kuliah Pengantar
AMDAL di Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta.
3. Orang tua yang kami cintai.
4. Rekan kelompok yang telah bekerja sama dengan dengan baik.
Demikian Tugas Besar Mata Kuliah Pengantar AMDAL ini kami buat, semoga
tugas ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebagaimana mestinya. Kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca guna
memperbaiki kekurangan pada tugas ini agar dapat memperbaiki tugas selanjutnya.
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
iii
2.2.2 Lingkup Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) .................... 22
iv
BAB V RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) .................. 48
LAMPIRAN ................................................................................................................ ix
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.2 Lokasi Proyek Pembangunan Inlet dan Outlet Sudetan Kali Ciliwung . 35
Gambar 3.6 Penurunan kualitas air permukaan akibat pelebaran dan peluasan Kali
Cipinang ..................................................................................................................... 39
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.3 Baku Mutu Tingkat Getaran Berdasarkan Tingkat Kerusakan .................. 29
Tabel 2.5 Baku Mutu Air Sungai Golongan C (Perikanan dan Peternakan) ............. 30
Tabel 2.6 Baku Mutu Air Sungai Golongan D (Pertanian dan Usaha Perkotaan) ..... 31
Tabel 5.5 Laporan Hasil Uji Air Hulu Sungai Cipinang ............................................ 54
Tabel 5.6 Laporan Hasil Uji Air Hulu Sungai Cipinang ............................................ 55
vii
1. BAB I
PENDAHULUAN
Kali Ciliwung dengan sumber mata air dari Gunung Pangrango memiliki
panjang 109 km dan luas DAS 247 km2. Melewati Bogor, Depok dan bermuara di
pantai utara DKI Jakarta setiap tahun di musim hujan beberapa ruas Kali Ciliwung,
terutama antara ruas Cawang – Pintu Air Manggarai di Propinsi DKI Jakarta,
mengalami luapan genangan banjir. Genangan yang terjadi didaerah itu disebabkan
karena perubahan tata guna lahan di daerah hulu yang akan berpengaruh pada
perubahan karakteristik banjir baik dari segi besarnya banjir dan lama waktu kejadian
banjir.
Proyek Pembangunan Inlet dan Outlet dari Sudetan Kali Ciliwung ke Kanal
Banjir Timur merupakan salah satu bagian pekerjaan Proyek Sutedan Kali Ciliwung
ke Kanal Banjir Timur. Oleh karena itu proyek Pembangunan Inlet dan Outlet tersebut
mengacu pada dokumen AMDAL Proyek Sudetan yang didalamnya memuat Rencana
Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup
(RPL).
Oleh karena itu, guna menghindari dan mengantisipasi masalah tersebut terjadi
lagi pada proyek selanjutnya maka dapat dilakukan analisis terhadap pengelolaan
lingkungan dan pemantauan lingkungan hidup tersebut. Analisis RKL dan RPL dapat
mengetahui kesesuaian rencana kelola lingkungan serta pemantauannya terhadap
kejadian yang ada di lapangan.
2
1.2.2 Perumusan Masalah
Batasan masalah pada laporan tugas besar mengenai pelaksanaan RKL dan
RPL ini terletak pada tahap konstruksi melingkupi aspek lingkungan yang terdiri dari
beberapa dampak besar dan penting yaitu :
3
1.5 Manfaat Penulisan
Adanya laporan tugas besar ini menjadikan para pembaca agar dapat
mengetahui sumber-sumber yang menimbulkan dampak besar dan penting serta cara
melakukan pemantauannya sehingga dapat mengantisipasi dampak yang ada pada
tahap konstruksi di Proyek Pembangunan Inlet dan Outlet Sudetan Kali Ciliwung ke
Kanal Banjir Timur. Untuk dunia industri, laporan tugas besar ini dapat bermanfaat
guna merencanakan amdal pada proyek selanjutnya dan untuk masyarakat kampus hal
ini dapat menambah pengetahuan guna pengupayaan dampak penting yang terjadi
akibat kegiatan konstruksi dan dapat mewaspadai pula dampak yang akan timbul
nantinya untuk lingkungan sekitar proyek.
4
2. BAB II
LANDASAN TEORI
Lingkungan atau sering juga disebut lingkungan hidup adalah jumlah semua
benda hidup dan benda mati serta seluruh kondisi yang ada di dalam ruang yang kita
tempati. Dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa lingkungan hidup
adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup,
termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Secara garis besar ada 2 (dua) macam lingkungan yaitu lingkungan fisik dan
lingkungan biotik. Lingkungan fisik adalah segala benda mati dan keadaan fisik yang
ada di sekitar individu misalnya batu-batuan, mineral, air, udara, unsur-unsur iklim,
kelembaban, angin dan lain-lain. Lingkungan fisik ini berhubungan erat dengan
makhluk hidup yang menghuninya, sebagai contoh mineral yang dikandung suatu
tanah menentukan kesuburan yang erat hubungannya dengan tanaman yang tumbuh
di atasnya. Lingkungan biotik adalah segala makhluk hidup yang ada di sekitar
individu baik manusia, hewan, dan tumbuhan. Tiap unsur biotik, berinteraksi antar
unsur biotik itu sendiri dan juga dengan lingkungan fisik atau lingkungan abiotik.
Bagi manusia, daya dukung lingkungan sangat penting bagi kehidupan. Daya
dukung yang dimaksud adalah seberapa banyak jumlah unsur, baik biotik maupun
abiotik yang dapat dimanfaatkan dan menjamin kehidupan sejumlah penduduk yang
mendiami suatu lingkungan. Menurut UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan hidup pasal 1 ayat 7, daya dukung lingkungan hidup
adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia,
makhluk hidup lain, dan keseimbangan antarkeduanya. Pada suatu saat, lingkungan
tidak dapat lagi memenuhi syarat kehidupan penghuninya karena daya dukungnya
mulai berkurang atau menurunnya kualitas lingkungan akibat ulah manusia atau
adanya pencemaran lingkungan.
5
2.1.2 Pencemaran Lingkungan Hidup
1. Pencemaran udara
6
mempunyai limbah berupa partikulat (aeroso, debu, abu terbang, kabut,
asap, jelaga), selain kegiatn pabrik yang berhubungan dengan
perampelasan, pemulasan, dan pengolesan (grinding), penumbukan dan
penghancuran benda keras (crushing), pengolahan biji logam dan proses
pengeringan. Kadar pencemaran udara yang semakin tinggi mempunya
dampak yang lebih merugikan.
2. Pencemaran suara
3. Pencemaran air
7
Pencemaran udara dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang
berbeda tingkatan dan jenisnya, tergantung dari macam, ukuran, dan
komposisi kimianya. Gangguan tersebut terutama terjadi pada fungsi faal
dari organ tubuh seperti paru-paru dan pembuluh darah, iritasi pada mata
dan kulit. Pencemaran udara karena partikel debu biasanya menyebabkan
penyakit pernapasan seperti bronkhitis, asma, dan kanker paru-paru. Gas
pencemar yang terlarut dalam udara dapat langsung masuk ke dalam paru-
paru dan selanjutnya diserap oleh sistem peredaran darah.
8
Dampak emisi udara bergantung pada jenis pencemar, ciri
pelepasannya serta sifat lingkungan si penerima. Partikulat dan berbagai
emisi gas harus dikendalikan mengingat keduanya dapat membahayakan
kesehatan pribadi atau kesehatan flora dan fauna lingkungan,
menimbulkan kekhawatiran di antara masyarakat setempat,
membahayakan operasi yang aman atau untuk debu, meningkatkan tingkat
keausan mesin yang bergerak. Debu serta bau dapat mengganggu dan
menimbulkan keluhan.
9
Beberapa contoh gangguan estetika udara ambien adalah bau tidak
enak, debu-debu yang berterbangan, dan udara berkabut. Bau tidak enak
dapat ditimbulkan oleh emisi gas-gas sulfida, amoniak, dan lain-lain.
Udara berasap kabut atau smoke and fog akan mengurangi jarak pandang
(visibility). Hal ini sangat membahayakan keselamatan pengendara mobil
dan motor, selain juga keselamatan penerbangan. Smoke and fog
umumnya disebabkan oleh adanya reaksi fotokimia dari senyawa organik
volatil (VOC atau volatile oragnic compounds) dengan NOx.
10
gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh
telinga manusia mulai dari 20 Hz sampai dengan 20 kHz pada amplitudo
umum dengan berbagai variasi dalam kurva responnya.
a. Mesin
Penggunaan peralatan dan mesin yang tinggi di tempat kerja
dalam hal sarana dan prasarana yang menghasilkan suara atau bunyi
yang tidak diinginkan (bising) sehingga akan menimbulkan gangguan
kesehatan khususnya pada pekerja dan ketidaknyamanan bagi warga
di sekitarnya. Bising yang sangat keras dapat menyebabkan gangguan
pendengaran seseoran dan bila berlangsung lama dapat penyebabkan
kehilangan pendengaran sementara, yang lambat laun dapat
menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.
b. Vibrasi
Kebisingan yang ditimbulkan oleh akibat gesekan, benturan atau
ketidakseimbangan peralatan suatu pekerjaan dalam skala besar.
11
c. Pergerakan udara, gas, dan cairan
Kebisingan ini ditimbulkan akibat pergerakan udara, gas, dan
cairan dalam kegiatan proses kerja industri misalnya pipa penyalur
cairan gas, outlet pipa, gas buang, dan lain-lain.
a. Gangguan Fisiologis
Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu,
apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya secara tiba-tiba.
Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, peningkatan nadi,
konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki,
serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Bising dengan
intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing atau sakit kepala. Hal ini
disebabkan karena bising dapat merangsang situasi reseptor vestibular
dalam telinga dalam yang akan menimbulkan efek pusing. Perasaan
mual, susah tidur, dan sesak napas disebabkan oleh rangsangan bising
terhadap sistem saraf, keseimbangan organ, kelenjar endokrin,
tekanan darah, sistem pencernaan, dan keseimbangan elektrolit.
b. Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang
konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan diterima
dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa
gastritis, jantung, stress, kelelahan, dan lain-lain.
c. Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan oleh masking effect
(bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan
kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan
cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan,
sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak
mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini
secara tidak langsung membahayakan keselamatan seseorang.
12
d. Gangguan Keseimbangan
Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan
seperti di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan
gangguan fisiologis seperti kepala pusing atau mual.
e. Gangguan Pendengaran
Pengaruh utama dari bising pada manusia adalah kerusakan pada
indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini
telah diketahui dan diterima secara umum. Mula-mula efek bising
pada pendengaran adalah sementara dan pemulihan terjadi secara
cepat sesudah kegiatan di area bising dihentikan. Akan tetapi, apabila
berada terus menerus di area bising maka akan menjadi tuli menetap
dan tidak dapat normal kembali.
Air yang tersebar di alam semesta ini tidak pernah terdapat dalam
bentuk murni, namun bukan berarti bahwa semua air sudah tercemar.
Misalnya, walaupun daerah pegunungan atau hutan yang terpencil dengan
udara yang bersih dan bebas dari pencemaran, air hujan yang turun di
atasnya selalu mengandung bahan-bahan terlarut, seperti karbon dioksida,
oksigen, dan nitrogen, serta bahan-bahan tersuspensi seperti debu dan
partikel-partikel lainnya yang terbawa air hujan dari atmosfer.
13
2. Sumber Pencemaran Air
a. Limbah Organik
b. Limbah Anorganik
c. Limbah Cair
4) Air hujan (storm water), yaitu limbah cair yang berasal dari aliran
air hujan di atas permukaan tanah.
15
d. Limbah Padat
3) Sampah abu (ashes), yaitu limbah padat yang berupa abu, biasanya
merupakan hasil pembakaran.
e. Limbah Gas
16
2) Limbah industri, merupakan buangan hasil proses industri.
17
dan kolera yang ditularkan pada pekerja, pembersih jalan, ataupun
masyarakat di sekitar lokasi pembuangan limbah.
Pencemaran air tanah oleh tinja yang biasa diukur denga faecal
coliform telah terjadi dalam skala yang luas. Hal ini telah dibuktikan
18
oleh suatu survey sumur dangkal di wilayah Jakarta. Banyak
penelitian yang mengindikasikan terjadinya pencemaran tersebut.
19
terkadang mengganggu lingkungan sekitar, selain polusi dan kebisingan. Untuk itu
perlu diperhatikan pemilihan alat pancang yang sesuai dengan lingkungan di sekitar
lokasi proyek.
1. Efek getaran pada tubuh manusia.
Getaran seluruh tubuh biasanya dalam rentang 0,5 – 4,0 Hz dan
tangan-lengan 8-1000 Hz. Sedangkan efek getaran terhadap tubuh
tergantung besar kecilnya frekuensi yang mengenai tubuh.
a. 3 — 9 Hz, akan timbul resonansi pada dada dan perut.
b. 6 — 10 Hz, dengan intensitas 0,6 gram, tekanan darah, denyut
jantung, pemakaian O2 dan volume perdenyut sedikit berubah. Pada
intensitas 1,2 gram terlihat banyak perubahan sistem peredaran darah.
c. 10 Hz, leher, kepala, pinggul, kesatuan otot dan tulang akan
beresonansi.
d. 13 — 15 Hz, tenggorokan akan mengalami resonansi
e. 20-30 Hz berpengaruh pada bagian kepala
f. 100-150 Hz untuk berpengaruh pada rahang
g. >20 Hz, tonus otot akan meningkat, akibat kontraksi statis ini otot
menjadi lemah, rasa tidak enak dan kurang ada perhatian.
2. Efek Getaran pada Bangunan
a. Defnisi :
1) Struktur bangunan adalah bagian dari banguanan yang
direncanakan, diperhitungkan dan dimaksudkan untuk :
i. mendukung segala macam beban (beban mati, beban hidup
dan beban sementara)
ii. menjamin stabilitas bangunan secara keseluruhan dengan
memperhatikan persyaratan kuat, kaku, dan andal. Misal :
struktur kerangka kaku (frame), struktur dinding pemikul
(Bearing wall)
2) Komponen srtuktur adalah bagian dari suatu struktur bangunan,
yang menjamin fungsi struktur. Misal : balok, kolom dan slab dari
frame.
3) Dinding pemikul adalah struktur bangunan berupa bidang tegak
yang berfungsi mendukung beban diatasnya seperti slab lantai
tingkat atau atap.
20
4) Non struktur adalah bagian dari bangunan yang tidak direncanakan
atau difungsikan untuk mendukung beban. Misal : dinding partisi,
kerangka jendela/pintu.
b. Pengaruh kerusakan struktur dan non-struktur :
1) Kerusakan pada struktur, dapat mambahayakan stabilitas
bangunan, atau roboh. (misalnya patok kolom bisa merobohkan
bangunan).
2) Kerusakan pada non struktur, tidak membahayakan stabilitas
bangunan, tetapi bisa membahayakan penghuni (misal: robohnya
dinding partisi, tidak merobohkan bangunan, tetapi bisa
mencederai penghuni).
c. Derajat kerusakan srtuktur :
1) Rusak ringan adalah rusak yang tidak membahayakan stabilitas
bangunan dan dapat diperbaiki tanpa mengurangi kekuatannya.
2) Rusak sedang adalah rusak yang dapat mengurangi kekuatan
struktur untuk mengembalikan kepada kondisi semula, harus
disertai dengan tambahan perkuatan.
3) Rusak berat adalah rusak yang membahayakan bangunan dan
dapat merobohkan bangunan.
21
disimpulkan sebagai bukan dampak penting, namun tetap memerlukan dan
direncanakan untuk dikelola dan dipantau (dampak lingkungan hidup lainnya), maka
tetap perlu disertakan rencana pengelolaan dan pemantauannya dalam RKL-RPL.
Untuk menangani dampak penting yang sudah diprediksi dari studi Andal dan
dampak lingkungan hidup lainnya, pengelolaan lingkungan hidup yang dirumuskan
dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang
selama ini dikenal seperti: teknologi, sosial ekonomi, maupun institusi.
22
(compliance), kecenderungan (trendline), dan tingkat kritis (critical level) dari suatu
pengelolaan lingkungan hidup.
b. Lokasi pemantauan;
23
hidup yang dimaksud di sini adalah institusi yang bertanggungjawab
sebagai pelaksana pemantauan, pengguna hasil pemantauan, dan
pengawas kegiatan pemantauan.
1. Pendahuluan
24
b. Sumber dampak (dampak penting dan dampak lingkungan hidup
lainnya).
25
Pernyataa pemrakarsa memuat penyataan dari pemrakarsa untuk
melaksanakan RKL-RPL yang ditandatangani di atas kertas bermaterai.
6. Daftar Pustaka
7. Lampiran
Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup,
zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang
ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur
lingkungan hidup. Penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup diukur melalui
baku mutu lingkungan hidup.
Berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 551 Tahun 2001 tentang
Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan di Provinsi DKI
26
Jakarta, udara merupakan sumber daya alam yang mempengaruhi kehidupan manusia
serta makhluk hidup lainnya yang harus dijaga dan dipelihara kelestarian fungsinya
untuk pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan manusia serta perlindunhan bagi
makhluk hidup lainnya. Baku mutu udara ambien ditetapkan sebagai batas maksimum
mutu udara ambien untuk mencegah terjadinya pencemaran udara. Baku mutu udara
ambien dapat dilihat pada Tabel 2.1.
WAKTU
NO PARAMETER BAKU MUTU
PENGUKURAN
1 jam 900 ug/Nm3 (0.34 ppm)
1 Sulfur dioksida (SO2) 24 jam 260 ug/Nm3 (0.1 ppm)
1 tahun 60 ug/Nm3 (0.02 ppm)
1 jam 26000 ug/Nm3 (23 ppm)
2 Karbon monoksida (CO)
24 jam 9000 ug/Nm3 (8 ppm)
1 jam 400 ug/Nm3 (0.2 ppm)
3 Nitrogen dioksida (NO2) 24 jam 92.5 ug/Nm3 (0.05 ppm)
1 tahun 60 ug/Nm3 (0.03 ppm)
1 jam 200 ug/Nm3 (0,05 ppm)
4 Oksidan (O3)
1 tahun 30 ug/Nm3 (0.24 ppm)
5 Hidrokarbon (HC) 3 jam 160 ug/Nm3
6 Partikel <10um (PMio) 24 jam 150 ug/Nm3
24 jam 65 ug/Nm3
7 Partikel <2.5um (PM2.5)
1 tahun 15 ug/Nm3
24 jam 230 ug/Nm3
8 Debu (TSP)
1 tahun 90 ug/Nm3
24 jam 2 ug/Nm3
9 Timah hitam (Pb)
1 tahun 1 ug/Nm3
Sumber: Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 551 Tahun 2001.
27
manusia dan kenyamanan lingkungan. Baku tingkat kebisingan dap at dilihat pada
Tabel 2.2 di bawah ini.
Keterangan:
*) disesuaikan dengan ketentuan Menteri Perhubungan.
28
Tabel 2.3 Baku Mutu Tingkat Getaran Berdasarkan Tingkat Kerusakan.
Keterangan :
29
Tabel 2.4 Baku Mutu Tingkat Getaran Kejut.
Berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 582 Tahun 1995 tentang
Penetapan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air serta Baku Mutu Limbah
Cair di Wilayah DKI Jakarta, air adalah semua air yang terdapat di dalam dan/atau
berasal dari sumber air, dan terdapat di atas permukaan tanah, tidak termsuk air yang
terdapat di bawah permukaan tanah dan air laut. Baku mutu air sungai/badan air adalah
batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain yang ada atau harus
ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam air pada sumber air
tertentu sesuai dengan peruntukannya. Baku mutu limbah cair adalah batas kadar dan
jumlah unsur pencemar yang ditanggung adanya dalam limbah cair untuk dibuang dari
satu jenis kegiatan tertentu. Baku mutu air sungai dapat dilihat pada Tabel 2.5 dan
Tabel 2.6.
Tabel 2.5 Baku Mutu Air Sungai Golongan C (Perikanan dan Peternakan).
KADAR
PARAMETER SATUAN KETERANGAN
MAKSIMUM
FISIKA
1. Daya Hantar Listrik Umhos/cm 750 Tidak Berbau
2. Zat Padat Terlarut (TDS) Mg/L 500
3. Kekeruhan Skala NTU 100
O Suhu air normal
4. Suhu C
±3oC
KIMIA
A. KIMIA ANORGANIK
1. Air Raksa Mg/L 0.002
2. Amoniak Bebas Mg/L 2.0
3. Arsen Mg/L 0.50
4. Fluorida Mg/L 1.50
5. Kadmium Mg/L 0.010
6. Klorida Mg/L 20.0
30
7. Klorin Bebas Mg/L 0.003
8. Kromium, valensi 6 Mg/L 0.050
9. Nikel Mg/L 0.10
10. Nitrit Mg/L 1.0
Batas minimum
11. pH Mg/L 6.0-8.5
dan maksimum
12. Phospat Mg/L 0.50
13. Selenium Mg/L 0.050
14. Seng Mg/L 0.005
15. Sianida Mg/L 0.010
16. Sulfat Mg/L 50.0
17. Sulfida, sebagai H2S Mg/L 0.002
18. Tembaga Mg/L 0.020
19. Timbal Mg/L 0.030
B. KIMIA ORGANIK
1. BHC Mg/L 0.210
2. DDT Mg/L 0.002
3. Endrine Mg/L 0.004
4. Fenol Mg/L 0.00
5. Minyak dan Lemak Mg/L 1.0
6. Organofosfat dan Carbamate Mg/L 0.10
7. Senyawa Aktif Biru Metilen
Mg/L 0.50
(surfaktan)
8. Zat Organik (KMnO4) Mg/L 25.0
KHUSUS
1. BOD (5 hari 20oC) Mg/L 20.0
2. COD (Bichromat) Mg/L 30.0
3. Oksigen Terlarut (DO) Mg/L 3.0
4. Zat Tersuspensi Mg/L 100
MIKROBIOLOGIK
Jumlah per
1. Koliform Tinja 4000
100 ml
Jumlah per
2. Total Koliform 20000
100 ml
RADIOAKTIVITAS Bq/L 0.1
Sumber: Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995.
Tabel 2.6 Baku Mutu Air Sungai Golongan D (Pertanian dan Usaha Perkotaan).
KADAR
PARAMETER SATUAN KETERANGAN
MAKSIMUM
FISIKA
1. Daya Hantar Listrik Umhos/cm 1000
2. Zat Padat Terlarut (TDS) Mg/L 200
O
3. Suhu C Suhu air normal
KIMIA
A. KIMIA ANORGANIK
1. Air Raksa Mg/L 0.005
2. Arsen Mg/L 0.050
3. Boron Mg/L 1.0
4. Kadmium Mg/L 0.010
5. Kobalt Mg/L 0.20
31
6. Kromium, valensi 6 Mg/L 0.050
7. Mangan Mg/L 1.0
8. Na (garam alkali) % 50.0
9. Nikel Mg/L 0.10
Batas minimum
10. pH 6.0-8.5 dan batas
maksimum
11. Phospat Mg/L 0.50
Batas minimum
12. Residual Sodium Carbonate
Mg/L 1.25-2.50 dan batas
(RSC)
maksimum
13. Selenium Mg/L 0.050
14. Seng Mg/L 1.0
15. Sodium Apsortion Ratio (SAR) Mg/L 10.0-18.0
16. Sulfat Mg/L 100
17. Tembaga Mg/L 0.10
18. Timbal Mg/L 0.10
B. KIMIA ORGANIK
1. Minyak dan Lemak Mg/L Nihil
2. Senyawa Aktif Biru Metilen
Mg/L 0.50
(surfaktan)
3. Zat Organik (KMnO4) Mg/L 25.0
KHUSUS
1. BOD (5 hari 20oC) Mg/L 20.0
2. COD (Bichromat) Mg/L 30.0
3. Oksigen Terlarut (DO) Mg/L 3.0
4. Zat Tersuspensi Mg/L 200
MIKROBIOLOGIK
Jumlah per
1. Koliform Tinja 4000
100 ml
Jumlah per
2. Total Koliform 20000
100 ml
RADIOAKTIVITAS Bq/L 0.10
1. Aktivitas alpha (gross alpha
Bq/L 1.0
activity)
Sumber: Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995.
32
3. BAB III
DATA PROYEK
Kali Ciliwung dengan sumber mata air dari Gunung Pangrango memiliki
panjang 109 km dan luas DAS 247 km2. Melewati Bogor, Depok dan bermuara di
pantai utara DKI Jakarta setiap tahun di musim hujan beberapa ruas Kali Ciliwung,
terutama antara ruas Cawang – Pintu Air Manggarai di Propinsi DKI Jakarta,
mengalami luapan genangan banjir seperti pada Gambar 3.1. Genangan yang terjadi
didaerah itu disebabkan karena perubahan tata guna lahan di daerah hulu yang akan
berpengaruh pada perubahan karakteristik banjir baik dari segi besarnya banjir dan
lama waktu kejadian banjir.
Penanganan banjir Kali Ciliwung pada ruas Cawang – Pintu Air Manggarai
mengacu pada pola induk pengendalian banjir subwilayah banjir sistem Kanal Banjir
Barat, satuan kerja pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Ciliwung Cisadane,
Direktorat Jendral Sumber Daya Air. Program normalisasi Kali Ciliwung adalah
33
dengan pelebaran kali, perkuatan tebing kali dan pembuatan tanggul di sepanjang Kali
Ciliwung, yang sampai saat ini program tersebut berjalan agak tersendat, mengingat
daerah sepanjang Kali Ciliwung melintasi daerah pemukiman dan pusat perekonomian
yang padat. Dengan adanya kendala yang terjadi pada rencana penanganan bajir Kali
Ciliwung tersebut, maka pada tahun 2005 PT Pratiwi Adhiguna Konsultan melakukan
studi dan diperoleh hasil bahwa elevasi muka air banjir Kali Ciliwung lebih tinggi dari
elevasi muka air banjir Kali Cipinang, Kali Cipinang merupakan hulu dari Kanal
Banjir Timur. Dari hasil studi tersebut, PT Pratiwi Adhiguna Konsultan
merekomendasikan kemungkinan dibuat sudetan (diversion channel) dari kali Kali
Ciliwung ke Kali Cipinang, untuk mengalihkan sebagian debit banjir Kali Ciliwung
ke Kanal Banjir Timur, sebagai upaya memaksimalkan daya tampung saluran –
saluran / drainase mayor melalui sistem interkoneksi.
34
PPK : Sungai dan Pantai 2
Sumber Dana : APBNP DIPA TA. 2015 – 2017
Nilai Kontrak : Rp. [Link],00
Waktu Pelaksanaan : 547 hari kalender (11 Des 2015 – 10 Jun 2017)
Waktu Pemeliharaan : 365 hari terhitung sejak tanggal Serah Terima
Pekerjaan Pertama
Lokasi Proyek Pembangunan Inlet dan Outlet Sudetan Kali Ciliwung ke Kanal
Banjir Timur berada di wilayah Kebun Nanas, Jakarta Timur yaitu dimulai dari Jl.
Sensus, Jl. Otista 3 dan Kali Cipinang hingga Kanal Banjir Timur (KBT) seperti pada
Gambar 3.2.
Gambar 3.2 Lokasi Proyek Pembangunan Inlet dan Outlet Sudetan Kali
Ciliwung.
35
Tabel 3.1 Diagram Pelingkup
36
3.3 Permasalahan Yang Timbul
Udara ambien adalah udara sekitar kita yang apa adanya yang sehari-hari kita
hirup. Sedangkan udara emisi adalah udara yang langsung dikeluarkan oleh sumber
emisi seperti knalpot kendaraan bermotor dan pemindahan alat-alat berat pada proyek
pembangunan. Udara emisi bisa mencemari udara ambien atau tidak mencemari
tergantung dari pengelolaan lingkungannya. Pada proyek ini penurunan kualitas udara
bersumber dari mobilisasi alat berat, pekerjaan tanah seperti pada Gambar 3.3,
pengangkutan material konstruksi. Parameter-parameter kualitas udara yang dipantau
umumnya yaitu seperti gas NO2, SO2, CO, debu, O3, Pb, dan HC dan partikulat
lainnya. Penurunan kualitas udara merupakan penurunan kualitas terhadap parameter-
parameter udara yang dipantau.
Kebisingan adalah bunyi atau suara yang timbul yang tidak dikehendaki yang
sifatnya mengganggu dan menurunkan daya dengar seseorang. Langkah efektif untuk
pencegahan gangguan pendengaran adalah dengan melakukan pengendalian pada
sumber bahaya dengan melakukan eliminasi, subtitusi, engineering, administrasi.
Peningkatan kebisingan berasal dari mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk
37
pembersihan lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Outlet seperti pada Gambar , truk
pengangkut material konstruksi yang keluar masuk lokasi proyek. Parameter
kebisingan ditinjau dari taraf intensitas bunyi maksimal 70 dba.
Getaran ini bisa menimbulkan retak atau robohnya dinding bangunan serta
menimbulkan ketidaknyamanan masyarakat disekitarnya. Dampak bisa merembet ke
komponen sosial ekonomi dan kessehatan masyarakat. Berasal dari pengeboran/galian
tanah yang dilakukan dengan mesin – mesin alat berat untuk membuat terowongan
gorong – gorong pada saat tahap konstruksi seperti pada Gambar 3.5.
38
Gambar 3.5 Getaran berasal dari pengeboran Sudetan.
Sumber : Dokumentasi di lapangan.
3.3.4 Penurunan Kualitas Air Permukaan
Gambar 3.6 Penurunan kualitas air permukaan akibat pelebaran dan peluasan Kali
Cipinang.
Sumber : Dokumentasi di lapangan.
39
3.3.5 Gangguan Lalu Lintas dan Kerusakan Jalan Umum
Dampak kemacetan lalu lintas terjadi pada tahap konstruksi berupa kemacetan
dan atau tidak lancarnya arus lalulintas yang melalui jalan disekitar area proyek seperti
Gambar 3.7. Dampak kerusakan jalan ditimbulkan oleh pengangkutan material dan
tahap konstruksi kegiatan pembangunan seperti Gambar 3.8. Jumlah kendaraan
angkutan material rata-rata meningkat per hari untuk setiap ruas selama masa
konstruksi. Wilayah yang akan terkena dampak kerusakan jalan mencakup tapak
kegiatan pembangunan dan prasarana jalan yang menjadi rute angkutan material.
40
4. BAB IV
RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL)
1. Jenis Dampak
Pencemaran kualitas udara berupa peningkatan emisi gas buang yang
terdiri dari parameter gas NO2, SO2, CO, debu, O3, Pb, dan HC.
2. Sumber Dampak
Berasal dari mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk pembersihan
lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Outlet, truk pengangkut material
konstruksi yang keluar masuk lokasi proyek, dan lokasi proyek yang
berada di tengah kota dan di pinnggir jalan raya utama Jl. D.I. Panjaitan.
3. Bentuk Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Pengaturan kecepatan kendaraan diatur kurang dari 30 km/jam untuk
jalan yang dekat pemukiman.
b. Perawatan mesin secara rutin terhadap kendaraan pengangkutan
peralatan dan material konstruksi.
c. Penyiraman lahan yang dibersihkan dan berpotensi menimbulkan
debu.
d. Perawatan rutin mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk
pembersihan lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Otlet.
e. Penutupan bak truk pengangkut material konstruksi dan dump truck
pengangkut tanah galian dengan terpal.
f. Pembersihan roda truk sebelum keluar lokasi proyek.
g. Pemagaran lokasi proyek.
4. Tolak Ukur Dampak
41
Sebagai tolak ukur untuk kulitas udara yaitu SK Gubernur Daerah Khusus
Ibukota Jakarta No. 551 Tahun 2001 (Lampiran I) tentang Kriteria
Ambient Kualitas Udara.
5. Lokasi Penegelolaan Lingkungan hidup
a. Area permukiman.
b. Tapak Proyek.
c. Lokasi Inlet.
d. Lokasi Outlet.
6. Institut Pengolahan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
1. Jenis Dampak
Berupa peningkatan tingkat kebisingan yang mengganggu lingkungan
sekitar proyek.
2. Sumber Dampak
Berasal dari mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk pembersihan
lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Outlet, truk pengangkut material
42
konstruksi yang keluar masuk lokasi proyek, dan lokasi proyek yang
berada di tengah kota dan di pinnggir jalan raya utama Jl. D.I. Panjaitan.
3. Bentuk Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Pengaturan kecepatan kendaraan diatur kurang dari 30 km/jam untuk
jalan yang dekat pemukiman.
b. Perawatan mesin kendaraan pengangkut peralatan dan material
kostruksi secara rutin.
c. Perawatan rutin mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk
pembersihan lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Otlet.
d. Perawatan mesin kendaraan pengangkut tanah galian secara rutin.
4. Tolak Ukur Dampak
Sebagai tolak ukur dampak adalah SK Gubernur DKI Jakarta No. 551
Tahun 2001 (Lampiran III).
5. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Area Permukiman.
b. Tampak Proyek.
c. Lokasi Inlet.
d. Lokasi Outlet.
6. Institut Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
43
4.3 Timbulnya Getaran
1. Jenis Dampak
Berupa peningkatan tingkat getaran yang menggangu lingkungan sekitar
proyek.
2. Sumber Dampak
Berasal dari pengeboran/galian tanh yang dilakukan dengan mesin – mesin
alat berat untuk membuat terowongan gorong – gorong.
3. Bentuk Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Segera dilakukan pemasangan gorong – gorong setelah lubang hasil
bor terowongan terbuat.
b. Struktur pondasi, proyek menggunakan secant pile, dengan terlebih
dahulu membuat lubang galian yang dirancang vertikal dan dikuatkan
dengan waler dan strutting.
c. Sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya atau tidak
berbahayanya getaran.
4. Tolak Ukur Dampak
Sebagai tolak ukur dampak adalah Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
No. Kep-49/MENLH/II/1996 (Lampiran IV) Baku Tingkat Getaran Kejut.
5. Lokasi Pengelolaan Lingkungan hidup
a. Jalan Sensus.
b. Jalan Otista.
6. Institut Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
44
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
1. Jenis Dampak
Menurunnya kualitas air permukaan di sekitar proyek.
2. Sumber Dampak
a. Pembuatan dan pengoperasian direksi keet.
b. Pelebaran dan peluasan kali cipinang.
3. Bentuk Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Penggunaan tangki septik portable yang ramah lingkungan.
b. Air limbah cuciaan, mandi dan air wudhu karyawan dibuang ke badan
air.
c. Oli bekas dari perawatan mesin alat berat dan genset dikumpulkan
dalam drum khusus, disimpan sementara dalam gudang limbah B3
diserahkan kepada perusahaan pengelola oli bekas.
d. Pekerjaan dilaksanakan pada musim kemarau saat aliran Kali
Cipinang kecil.
e. Penggalian tidak dilakukan pada bagian yang tergenag air.
f. Air genangan lubang galian sebelum dibuang ke badan air terlebih
dulu diendapkan dalam kolamm pengendapan.
4. Tolak Ukur Dampak
Baku Mutu Air Sungai di DKI Jakarta, Keputusan Gubernur KDKI Jakarta
No. 582 Tahun 1995 Lampiran II (Gol B).
5. Lokasi Pengelolaan Lingkungan hidup
a. Lokasi Inle.t
b. Lokasi Outlet.
6. Institut Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
45
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
1. Jenis Dampak
Terjadinya kemacetan dan terganggunya masyarakat sekitar dari
penggunaan jalan akibat rusaknya jalan di sepanjang jalan yang sedang
dibuat sudetan.
2. Sumber Dampak
Berasal dari kegiatan truk pengangkut material konstruksi, dump truck
yang membawa tanah galian, dan kendaraan milik karyawan yang keluar
masuk lokasi proyek.
3. Bentuk Pengelolaan Hidup
a. Mengatur jadwal dan rute mobilisasi peralatan konstruksi.
b. Koordinasi dengan Dinas Perhubungan dalam hal penggunaan jalan
umum untuk mobilisasi peralatan dan material konstruksi.
c. Koordinasi dengan Polisi Lalu Lintas dalam hal ketertiban
penggunaan jalan umum.
d. Pengalihan rute lalu lintas ke jaringan jalan di sekitar Jl. Otista 3.
e. Pemasangan rambu pengalihan lalu lintas pada jaringan jalan di
sekitar Jl. Otista 3.
f. Melakukan kebijakan buka tutup jalan Otista 3 sehingga hanya bisa
dilewati satu arah.
46
g. Menutup bak dump truck dengan terpal.
h. Membersihkan tanah galian yang tercecer di jalan.
i. Memperbaiki ruas jalan yang rusak karna pengangkutan tanah galian.
4. Tolak Ukur Dampak
Tolak ukur yang digunakan adalah pengecekan di sepanjang Jalan Otista
Raya, Sensus, Otista 3, DI Panjaitan dan Kebon Nanas.
5. Lokasi Pengelolaan Lingkungan hidup
a. Jalan Otista Raya.
b. Jalan Otista 3.
c. Jalan DI Panjaitan.
d. Jalan Kebon Nanas.
6. Institusi Pengolahaan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) SuDin Perhubungan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
47
5. BAB V
RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL)
1. Sumber Dampak
Berasal dari mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk pembersihan
lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Outlet, truk pengangkut material
konstruksi yang keluar masuk lokasi proyek, dan lokasi proyek yang
berada di tengah kota dan di pinnggir jalan raya utama Jl. D.I. Panjaitan.
2. Indikator atau Parameter
Kualitas udara ambien,
Debu : 230 μg/Nm3
CO : 26000 μg/Nm3
NO2 : 400 μg/Nm3
SO2 : 900 μg/Nm3
O3 : 200 μg/Nm3
Pb : 2 μg/Nm3
HC : 160 μg/Nm3
3. Metode Pemantauan
a. Sampling dan analisis laboratorium untuk kualitas udara.
b. Hasil analisis di analisis secara tabulasi dan dibandingkan dengan
baku mutu.
4. Tolak Ukur
Sebagai tolak ukur untuk kulitas udara yaitu SK Gubernur Daerah Khusus
Ibukota Jakarta No. 551 Tahun 2001 (Lampiran I) tentang Kriteria
Ambient Kualitas Udara.
5. Lokasi Pemantauan
Sebanyak 3 titik yaitu :
a. Lokasi Inlet 1 titik.
48
b. Lokasi Otista3 1 titik.
c. Lokasi Outlet 1 titik.
6. Waktu dan Frekwensi
Selama pekerjaan konstruksi berlangsung yaitu 15 bulan, dengan
frekwensi 3 bulan sekali.
7. Institut Pengolahan Lingkungan Hidup
d. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
e. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
f. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
49
Tabel 5.2 Laporan Hasil Uji Udara Ambient (2).
1. Sumber Dampak
Berasal dari mesin – mesin alat berat yang digunakan untuk pembersihan
lahan, pekerjaan konstruksi Inlet dan Outlet, truk pengangkut material
konstruksi yang keluar masuk lokasi proyek, dan lokasi proyek yang
berada di tengah kota dan di pinnggir jalan raya utama Jl. D.I. Panjaitan.
2. Indikator atau Parameter
Tingkat kebisingan tidak melebihi baku mutu.
3. Metode Pemantauan
a. Pengukuran langsung dengan sound level meter di lapangan.
b. Hasil analisis dianalisis secara tabulasi dan dibandingkan dengan
baku mutu.
4. Tolak Ukur
Sebagai tolak ukur dampak adalah SK Gubernur DKI Jakarta No. 551
Tahun 2001 (Lampiran III).
5. Lokasi Pemantauan
Sebanyak 1 titik yaitu Jalan Otista 3.
6. Waktu dan Frekwensi
50
Selama pekerjaan pembuatan terowongan berlangsung yaitu 10 bulan,
dengan frekwensi 3 bulan sekali.
7. Institut Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane .
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
1. Sumber Dampak
51
Berasal dari pengeboran/galian tanah yang dilakukan dengan mesin –
mesin alat berat untuk membuat terowongan gorong – gorong.
2. Indikator atau Parameter
Tingkat getaran tidak melebihi baku mutu.
3. Metode Pemantauan
a. Pengukuran langsung dengan sound level meter di lapangan.
b. Wawancara dengan masyarakat tentang rasa khawatir.
c. Hasil analisis dianalisis secara tabulasi dan dibandingkan dengan
baku mutu.
4. Tolak Ukur
Sebagai tolak ukur dampak adalah Keputusan Menteri Lingkungan Hidup
No. Kep-49/MENLH/II/1996 (Lampiran IV) Baku Tingkat Getaran Kejut.
5. Lokasi Pemantauan
Sebanyak 1 titik yaitu Jalan Otista 3.
6. Waktu dan Frekwensi
Selama pekerjaan pembuatan terowongan berlangsung yaitu 10 bulan,
dengan frekwensi 3 bulan sekali.
7. Institut Pengelolaan Lingkungan Hidup
d. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane .
2) Kontraktor Pelaksana.
e. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
f. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
52
Tabel 5.4 Laporan Hasil Uji Tingkat Getaran Kejut.
1. Sumber Dampak
a. Pembuatan dan pengoperasian direksi keet.
b. Pelebaran dan peluasan Kali Cipinang.
2. Indikator atau Parameter
Penurunan kualitas air tidak melebihi baku mutu.
3. Metode Pemantauan
a. Sampling dan analisis laboratorium untuk kualitas air permukaan.
b. Hasil analisis dianalisis secara tabulasi dan dibandingkan dengan
baku mutu.
4. Tolak Ukur
Baku Mutu Air Sungai di DKI Jakarta, Keputusan Gubernur KDKI Jakarta
No. 582 Tahun 1995 Lampiran II (Gol B).
5. Lokasi Pemantauan
Sebanyak 4 titik yaitu :
a. Kali Ciliwung up stream kegiatan 1 titik.
b. Kali Ciliwung down stream kegiatan 1 titik.
c. Kali Cipinang up stream kegiatan 1 titik.
d. Kali Cipinang hillir kegiatan 1 titik.
6. Waktu dan Frekwensi
Selama pekerjaan konstruksi berlangsung yaitu 15 bulan, dengan
frekwensi 3 bulan sekali.
7. Institut Pengelolaan Lingkungan Hidup
53
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
c. Penerima Laporan
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
54
Sumber : Laporan Implementasi RKL dan RPL (Tahap II).
1. Sumber Dampak
55
Berasal dari kegiatan truk pengangkut material konstruksi, dump truck
yang membawa tanah galian, dan kendaraan milik karyawan yang keluar
masuk lokasi proyek.
2. Indikator atau Parameter
Tingkat gangguan dan panjang ruas jalan yang rusak di sekitar lokasi
kegiatan.
3. Metode Pemantauan
a. Wawancara dengan masyarakat setempat.
b. Memanfaatkan data yang ada di Dinas Perhubungan/ Suku Dinas
Perhubungan.
c. Mengevaluasi keluhan masyarakat.
d. Analisis secara tabulasi.
4. Tolak ukur yang digunakan
Tolak ukur yang digunakan adalah pengecekan di sepanjang Jalan Otista
Raya, Sensus, Otista 3, DI Panjaitan dan Kebon Nanas.
5. Lokasi Pemantauan
a. Jalan Otista Raya.
b. Jalan Sensus.
c. Jalan Otista 3.
d. Jalan DI Panjaitan.
e. Jalan Kebon Nanas.
6. Waktu dan Frekwensi
Selama pekerjaan konstruksi berlangsung yaitu 15 bulan, dengan
frekwensi 6 bulan sekali.
7. Institusi Pengolahaan Lingkungan Hidup
a. Pelaksana
1) Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung – Cisadane.
2) Kontraktor Pelaksana.
b. Pengawas
1) BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2) Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3) KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4) Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur.
5) Camat Jatinegara.
56
c. Penerima Laporan
1. BPLHD Prov. DKI Jakarta.
2. Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta.
3. KLH Kota Administrasi Jakarta Timur.
4. Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur.
5. Camat Jatinegara.
57
6. BAB VI
KESIMPULAN
b. Peningkatan Kebisingan.
c. Timbulnya Getaran.
58
DAFTAR PUSTAKA
Gubernur DKI Jakarta, Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 551 Tahun 2001,
Gubernur DKI Jakarta, 2001
Gubernur DKI Jakarta, Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 582 Tahun 1995,
Gubernur DKI Jakarta, 1995
Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Sumber Daya Air Balai Besar
Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Rencana Pengelolaan Lingkungan
(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Proyek Normalisasi
Kali Ciliwung, Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Jendral Sumber Daya
Air Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, 2015
viii
LAMPIRAN
ix