0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan20 halaman

Memahami Terapi REBT untuk Kesehatan Mental

REBT adalah psikoterapi yang mengajari individu bagaimana sistem keyakinan menentukan perasaan dan perilaku. Terapi ini bertujuan menghilangkan pola pikir irasional dan menggantikannya dengan pola pikir rasional untuk mengurangi gangguan emosi. Tekniknya meliputi analisis rasional, memperdebatkan keyakinan irasional, dan membantu klien melihat masalah dari perspektif yang berbeda.

Diunggah oleh

gidodido
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan20 halaman

Memahami Terapi REBT untuk Kesehatan Mental

REBT adalah psikoterapi yang mengajari individu bagaimana sistem keyakinan menentukan perasaan dan perilaku. Terapi ini bertujuan menghilangkan pola pikir irasional dan menggantikannya dengan pola pikir rasional untuk mengurangi gangguan emosi. Tekniknya meliputi analisis rasional, memperdebatkan keyakinan irasional, dan membantu klien melihat masalah dari perspektif yang berbeda.

Diunggah oleh

gidodido
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT)

1. Pengertian REBT

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) dipekenalkan

pertama kali oleh Albert Ellis pada tahun 1950-an dan awalnya teknik

ini disebut sebagai “Terapi Rasional”. REBT sendiri adalah sebuah

sistem psikoterapi yang mengajari individu bagaimana sistem

keyakinan menentukan yang dirasakan dan dilakukan pada berbagai

peristiwa dalam kehidupan (Neenan dalam Palmer, 2011). Sedangkan

menurut Corey (2005) REBT adalah aliran psikoterapi yang

berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik

untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan

jahat.

Albert Ellis (dalam Gunarsa, 2003) memiliki pandangan

terhadap konsep manusia seperti berikut :

a. Manusia mengkondisikan diri sendiri terhadap munculnya perasaan

yang menganggu pribadinya.

b. Kecenderungan biologisnya sama halnya dengan kecenderungan

cultural untuk berpikir salah dan tidak ada gunanya, berakibat

mengecewakan diri sendiri.


c. Kemanusiannya yang unik untuk menemukan dan mencipta

keyakinan yang salah, yang menganggu, sama halnya dengan

kecenderungan mengecewakan dirinya sendiri karena gangguan-

gangguannya.

d. Kemampuannya luar biasa untuk mengubah proses-proses kognitif,

emosi dan perilaku, memungkinkan dapat :

1. Memilih reaksi yang berbeda dengan biasanya dilakukan

2. Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hampir semua hal

yang mungkin terjadi.

3. Melatih diri sendiri agar secara setengah otomatis

mempertahankan gangguan sesedikit mungkin sepanjang

hidupnya

Terkait pendapat diatas Corey (2005) mengatakan manusia

umumnya memiliki kecenderungan untuk memelihara diri,

berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan

orang lain serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi

manusia juga memiliki kecenderungan kearah menghancurkan diri,

menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan yang

tidak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, mencela


diri serta menghindari. Manusia cenderung terpaku pada pola-pola

tingkah laku lama yang disfungsional. Padahal menurut pandangan

REBT, manusia memiliki sumber yang tidak terhingga bagi

aktualisasi potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan pribadi dan

masyarakat.

Pendapat diatas didukung oleh pendapat Gunarsa (2003)

mengatakan pendekatan REBT menganggap bahwa manusia pada

hakikatnya adalah korban dari pola pikirnya sendiri yang tidak

rasional dan tidak benar oleh karena itu terapis berusaha untuk

memperbaiki melalui pola berpikirnya dan menghilangkan pola pikir

yang tidak rasional. REBT menitikberatkan pada proses berpikir,

menilai, memutuskan, menganalisis, dan bertindak. Teknik ini sangat

didaktik dan sangat direktif serta lebih banyak berurusan dengan

dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi

perasaan. REBT dapat dipergunakan untuk menghadapi masalah-

masalah klinis seperti, depresi, kecemasan, gangguan karakterologis,

sikap melawan, masalah seks, percintaan, perkawinan, pengasuhan,

masalah perilaku anak dan remaja. Semula terapi ini dipakai sebagai
teknik terapi individual, ternyata dalam perkembangannya terapi ini

dapat dilakukan dengan berkelompok seperti family therapy.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpukan bahwa REBT

merupakan salah satu teknik psikoterapi yang memiliki pendekatan

langsung dalam menangani pasien yang mengalami gangguan pola-

pola pikir yang irasional yang menyebabkan timbulnya kecemasan.

Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan cara berpikir yang tidak

logis, yang tidak rasional dan menggantinya dengan sesuatu yang

logis dan rasional.

Untuk lebih memahami pengertian dari REBT perlu memahami

konsep teori REBT yang dijelaskan secara rinci oleh Albert Ellis dan

terdiri dari activating event (A), belief and thoughts (B), dan

consequences (C) yang dikenal dengan konsep teori A,B,C models,

namun adanya penambahan model Dispute (D), Effective New Beliefs

and Thoughts (E), New Feeling (F) berikut uraian lebih lanjut tentang

teori tersebut. (Froggatt, 2005).

a. Activating event (A)


Adalah seluruh peristiwa luar yang dialami atau terpapar pada

individu. Peristiwa terdahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah

laku atau sikap orang lain.

b. Belief and Thoughts (B)

Adalah keyakinan dan pikiran, pandangan nilai atau verbalisasi diri

individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan dan pikiran

seseorang terdiri dari dua macam: pertama, keyakinan dan pikiran

yang rasional atau rational belief (rB) kedua, keyakinan dan

pikiran yang tidak rasional atau irrational belief (iB). Keyakinan

rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat,

masuk akal, bijaksana dan menjadikan seseorang produktif.

Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem

berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional dan

membuat orang tidak produktif. REBT menegaskan bahwa

keyakinan yang kaku dan absolute dalam bentuk “mesti”,

“seharusnya”, “harus” dan sejenisnya, biasanya ditemukan pada

keyakinan yang tidak rasional.

c. Concequences (C)
Merupakan konsekuensi emosional dan perilaku sebagai akibat

atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan

emosi dalam hubungannya dengan activating event (A).

Konsekuensi emosi dan perilaku ini bukan akibat langsung dari A

tetapi disebabkan oleh beberapa variabel antara keyakinan rasional

(rB) atau keyakinan yang tidak rasional (iB).

Beberapa macam respon emosional dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1

Jenis-jenis Emosi Negatif

Emosi Negatif Tidak


Emosi Negatif Sehat
Sehat
Cemas Prihatin
Depresi Sedih
Rasa bersalah Menyesal
Malu Jengkel
Terluka Kecewa
Amarah dengan makian Amarah tanpa makian
Cemburu Khawatir tentang
Iri (dengki) hubungan
Keinginan tanpa dengki

Sumber: Neenan dalam Palmer (2011)


Albert Ellis juga menambahkan D, E dan F untuk rumus teori ABC

model

d. Dispute (D)

Memperbaiki cara berpikir dan keyakinan dengan cara menyangkal

suatu keyakinan yang tidak rasional menjadi cara berpikir yang

rasional untuk dapat merespon dengan cara yang tepat dan sehat.

e. Effective New Beliefs and Thoughts (E)

Menimbulkan efek dari pikiran dan keyakinan rasional, yang

seharusnya dapat berpikir dan bersikap dengan positif terhadap

peristiwa tersebut.

f. New Feeling (F)

Apa yang seharusnya dilakukan untuk menghindari pengulangan

pikiran yang tidak rasional.

2. Teknik yang digunakan dalam REBT

Untuk lebih memahami teknik REBT, Albert Ellis (dalam

Forggat, 2005) merekomendasikan suatu pendekatan yang

berwawasan luas namun dapat dipastikan bahwa teknik tersebut

sesuai dengan konsep teori REBT, diantaranya :


a. Teknik Kognitif

1) Rational Analysis, analisis peristiwa yang spesifik untuk

mengajarkan subyek bagaimana cara membuka dan

memperdebatkan keyakinan yang tidak rasional yang biasa

digunakan pada sesi pertama dan setelah klien mendapatkan

idenya maka subyek akan membawanya sebagai pekerjaan

rumah.

2) Double-standart dispute, bila subyek merasa rendah diri

terhadap perilakunya, tanyakan apakah mereka akan segera

menilai orang lain (seperti teman baik atau terapis) dalam

melakukan hal yang sama atau merekomendasikan orang lain

untuk berpengangan pada keyakinan utamanya.

3) Catastrophe Scale, teknik yang berguna untuk mendapatkan

perspektif yang hebat. Pada papan tulis atau pada selembar

kertas menggambarkan sebuah garis yang menurun dan

menuliskan 100% pada bagian atas dan 0% pada bagian bawah

dan 10% interval diantaranya. Tanyakan pada subyek pada

tingkat berapa masalah yang dirasakan kemudian masukan item

tersebut ke tempat yang tepat kemudian isi tingkatan yang lain


dengan item yang sesuai dengan pikiran subyek. Pada akhirnya

apakah subyek progresif mengubah posisi item yang

ditakutkannya dalam skala, sampai ketakutan dalam

perspektifnya dengan item lainnya benar.

4) Devil’s Advocate, atau lebih dikenal dengan teknik bermain

peran yang efektif dan berguna, di desain agar subyek dapat

berdebat melawan keyakinan irasionalnya. Terapis bermain

peran dengan mengadopsi keyakinan subyek yang tidak berguna

dan penuh semangat membantahnya, ketika subyek mencoba

untuk meyakinkan terapis bahwa keyakinan itu tidak berguna.

Teknik ini terutama digunakan pada subyek yang mengetahui

keyakinan yang irasional namun membutuhkan pertolongan

untuk menggabungkan apa yang dipahami

5) Reframing, suatu strategi untuk memandang kejadian buruk

sebagai hal yang mengecewakan menjadi perhatian dan

ketidaknyamanan sebagai hal yang sangat buruk atau tidak

tertahankan. Variasi dari reframing adalah membantu subyek

untuk melihat bahwa kejadian buruk sekalipun selalu


mempunyai sisi positif dan membuat daftar hal-hal positif yang

dapat dipikirkan oleh subyek.

b. Teknik Imajeri

1) Time Projection, teknik ini di desain untuk menunjukkan bahwa

kehidupan seseorang dan dunia secara umum akan terus

berlanjut setelah rasa takut dan kejadian yang tidak diinginkan

akan datang dan pergi, meminta subyek untuk melihat kejadian

yang tidak diinginkan itu terjadi dan bayangkan kejadian

tersebut berjalan terus dalam seminggu, sebulan, enam bulan,

setahun, dan seterusnya. Pertimbangkan bagaimana perasaan

subyek untuk setiap waktu yang dilewati. Subyek akan mampu

melihat bahwa hidup akan terus berjalan meskipun mereka

membutuhkan penyesuaian diri untuk itu.

2) The “Blow Up” Technique, adalah variasi dari pembayangan

kasus yang terburuk yang digabungkan dengan penggunaan

humor untuk menghasilkan pengalaman hidup yang

mengesankan bagi subyek. Ini semua melibatkan subyek dengan

meminta subyek untuk membayangkan kejadian yang


menakutkan terjadi, kemudian dilepaskan keluar seluruhnya

sehingga subyek merasakan terhibur karena itu. Menertawakan

ketakutan akan membantu subyek dalam mengontrolnya. Teknik

ini memerlukan sensitivitas waktu yang tepat dalam

penggunaannya.

c. Teknik Perilaku

1) Exposure, strategi perilaku yang sering digunakan dalam REBT

adalah dengan melihat subyek untuk memasuki situasi yang

membuatnya takut dan biasanya akan menghindar. Seperti

“Exposure” yang disengaja, direncanakan, dan dibawa

menggunakan kognitif dan ketrampilan coping lainnya.

Tujuannya adalah: (1) menguji validitas ketakutan seseorang

(penolakan tidak akan bertahan), (2) deawfulise them (dengan

melihat bahwa bencana tidak terjadi), (3) mengembangkan

kepercayaan diri agar dapat melakukan coping (dengan sukses

mengatur tindakan seseorang), dan (4) meningkatkan toleransi

terhadap rasa ketidaknyamanan.


2) Shame Attacking, ini adalah tipe dari exposure yang melibatkan

konfrontasi terhadap rasa takut akan malu dengan bebas

melakukan tindakan dengan cara mengantisipasi subyek

menolak penyerangan (pada saat waktu yang sama,

menggunakan teknik kognitif dan emosi untuk hanya merasakan

perhatian dan kekecewaan).

3) Risk Taking, tujuannya adalah untuk menantang keyakinan

yang menimbulkan perilaku yang beresiko membahayakan,

ketika alasan yang dikatakan dari hasil tidak ada garansinya

maka mereka memiliki kesempatan yang berharga. Sebagai

contoh seseorang yang takut akan ditolak malah mencoba untuk

mengajak seseorang berkencan.

4) Paradoxical Behavior, ketika subyek berharap untuk merubah

kecenderungan disfungsi, hal ini mendorong subyek secara

bebas untuk bertindak dengan suatu cara kontrakdiksi terhadap

kecenderungan tersebut. Latihan untuk perilaku yang baru

walaupun tidak secara spontan maka berangsur-angsur

terinternalisasi menjadi kebiasaan baru.


5) Steping Out Character, merupakan salah satu tipe dari

paradoxical behavior, sebagai contoh seseorang perfeksionis

dapat melakukan segala sesuatu dengan bebas untuk yang

kurang dari standar mereka biasanya.

6) Postponing Gratification, biasanya digunakan untuk melawan

rendahnya toleransi terhadap frustasi dengan bebas mengurangi

rokok, memakan makanan yang manis, menggunakan alkohol,

aktivitas seksual, dan sebagainya.

d. Pekerjaan rumah (PR)

Strategi yang paling penting dalam REBT adalah pekerjaan

rumah, kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah aktivitas

membaca, latihan menolong diri sendiri, menulis, dan pengalaman

aktivitas. Sesi-sesi dalam terapi adalah sesi-sesi latihan, dimana

subyek mencoba dan menggunakan apa yang sudah dipelajari.

Dalam penelitian kali ini CP menggunakan teknik Reframing,

Double-standart dispute, Time Projection, Catastrophe Scale,

pekerjaan rumah dan Risk Taking.


3. Langkah-langkah Intervensi Dengan REBT

Untuk melaksanakan intervensi dengan REBT ditentukan

langkah-langkah agar mempermudah pelaksanaan proses intervensi

dan hasil penerapan sesuai dengan sasaran perilaku yang diharapkan.

Menurut Froggat W, (2005) langkah-langkah yang bisa dilakukan saat

melakukan terapi REBT adalah :

a. Melibatkan Subyek

Melibatkan subyek merupakan langkah awal untuk membangun

hubungan dengan subyek. Hal tersebut dapat dicapai dengan kondisi

empati, hangat dan saling menghormati. Kemudian

mendemonstrasikan tahap awal di mana perubahan memungkinkan

dan membantu mencapai tujuan subyek.

b. Menilai Masalah, Individu dan Situasi

Pengkajian akan bervariasi dari individu ke individu tapi

mengikuti aturan-aturan pada area yang telah ditetapkan dan akan

dinilai sebagai bagian dari intervensi REBT. Dimulai dari pandangan

subyek tentang masalah apa yang ditemukan. Memeriksa bagaimana


perasaan subyek tentang masalah yang dihadapi. Lakukan kajian

secara umum dan tentukan hubungannya dengan gangguan klinikal

serta temukan riwayat personal dan sosial subyek.

c. Mempersiapkan Subyek Untuk Terapi

1) Klarifikasi tujuan terapi dan pastikan hal ini konkrit, spesifik

disetujui oleh subyek dan terapi untuk pelaksanaan REBT serta

kaji motivasi subyek untuk berubah, serta membuat kesepakatan

Informed consent.

2) Diskusikan tentang gejala-gejala kecemasan.

3) Diskusikan tentang pendekatan teknik REBT yang digunakan

dan implikasi terapi.

d. Implementasi Program Terapi

Sebagian besar dari sesi-sesi terjadi pada fase implementasi

yang menggunakan aktivitas seperti :

1) Menganalisa peristiwa khusus pada awal masalah terjadi. Pastikan

keyakinan dilibatkan, merubahnya dan mengembangkan tugas

rumah (analisis rasional).


2) Mengembangkan pengkajian perilaku dan pola berpikir untuk

mengatasi kecemasan dan memberikan contoh-contoh kasus untuk

bertindak.

3) Menggunakan teknik REBT untuk setiap sasaran perilaku dengan

tujuan menghasilkan perilaku yang diharapkan.

e. Evaluasi perkembangan Terapi

Pada akhir intervensi akan diketahui terjadinya peningkatan

perubahan pada cara berpikir subyek secara signifikan atau penurunan

kecemasan pada subyek.

f. Mempersiapkan Subyek untuk Terminasi

Apabila CP bisa mempersiapkan subyek untuk menghadapi

terjadinya kemunduran merupakan hal yang bijaksana. Banyak orang

setelah merasa sehat berpikir telah diobati untuk selamanya sehingga

ketika individu bertemu lagi dengan masalah yang sama seperti

dahulu akan menjadi putus asa dan menyerah. Penting untuk

mengingatkan kemungkinan terjadinya masalah emosi dan perilaku

berulang, memastikan subyek mengetahui cara yang dapat dilakukan


ketika gejala-gejala itu datang kembali dan mendiskusikan pandangan

subyek untuk meminta pertolongan bila masalahnya timbul kembali

dengan memperhatikan keyakinan yang tidak rasional dari subyek

bahwa meminta bantuan kembali artinya gagal dalam terapi.

Kerangka Berpikir (contoh REBT untuk mengatssi kecemasan)

Kerangka berpikir yang dibangun dalam penelitian ini adalah

bahwa kecemasan merupakan hasil yang berlebihan terhadap tekanan

emosi yang berkembang selama jangka waktu panjang dan sebagian

besar tergantung pada seluruh pengalaman seseorang. Peristiwa atau

situasi khusus dapat mempercepat munculnya kecemasan dengan

gejala gelisah, perasaan tegang, gangguan tidur, sulit berkonsentrasi

dan berpikir irrasional. Keadaan kecemasan menjadi ancaman

terhadap integritas seseorang karena menurunkan kapasitas untuk

melakukan aktivitas sehari-hari dan mempengaruhi fungsi sosial

berupa gangguan hubungan interpersonal baik dirumah maupun di

lingkungan kerja.

Dalam mempertahankan eksistensinya sebagai manusia yang

memiliki kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia,


bergabung dengan orang lain, tumbuh dan mengaktualisasikan

dirinya, pada orang tua yang memiliki anak penderita thalassemia

diharapkan dapat memiliki kesempatan-kesempatan untuk

menemukan makna hidup dan tujuan hidup, sehingga terhindar dari

timbulnya perasaan bersalah dan rasa cemas. Disinilah diperlukan

intervensi yang bertujuan secara spesifik untuk mengurangi,

memperkaya, dan mencegah, yang pada akhirnya dapat mengatasi

kecemasan tercakup di dalamnya adalah untuk mengurangi pikiran,

perasaan, dan perilaku negatif yang muncul.

Dalam penelitian ini akan lebih berfokus pada intervensi dengan

menggunakan teknik REBT dan konsep teori REBT yang di berikan

langsung kepada subyek, teknik REBT yang digunakan berupa

Reframing, Double-standart dispute, Time Projection, Catastrophe

Scale, pekerjaan rumah dan Risk Taking. Teknik ini disesuaikan

dengan konsep REBT dalam teori ABCDF yang terdiri dari A

(Activating event), B (Belief and Thoughts), C (Consequences), dan

ditambahan dengan D (Dispute), E (Effective New Beliefs and

Thoughts), dan F ( New Feeling) berdasarkan teori Froggat W, (2005).


Konsep teori ini dilakukan merubah keyakinan subyek yang

tidak rasional akan suatu situasi kejadian, dengan memahami

konsekuensi emosi dan perilaku dari keyakinan irasionalnya, dengan

cara membantah keyakinan yang tidak rasional menjadi rasional

(dengan cara melihat kejadian dari sisi yang lebih positif), sehingga

menghasilkan suatu efek yang lebih positif bagi subyek. Selain itu

dapat dilakukan dengan cara bermain peran, bersama memecahkan

masalah, dan mengerjakan latihan-latihan tertentu dirumah seperti

membaca dan menulis dengan target membangun perilaku adaptif

untuk membangun pemikiran yang positif. Pemikiran yang rasional

dan positif diharapkan orang tua dapat menemukan pemahaman

terhadap permasalahan yang ada pada dirinya sehingga orang tua

dengan anak thalassemia dapat mengatasi kecemasan dalam

hidupnya.

Berdasarkan kerangka berpikir diatas dapat diperagakan dalam

skema paradigma sebagai berikut :


Gambar 1
Skema Paradigma Sebagai Kerangka Berpikir

PERILAKU YANG DIHARAPKAN


SASARAN PERILAKU TEKNIK REBT *

1. Gelisah 1. Reframing 1. Tenang


2. Perasaan tegang 2. Double-standard 2. Lebih rileks
3. Sulit tidur dispute 3. Tidak mengalami
4. Emosi labil 3. Time Projection kesulitan tidur
5. Sulit konsentrasi 4. Catastrophe Scale 4. Emosi stabil
6. Berpikir irrasional 5. Pekerjaan rumah 5. Dapat
6. Risk Taking berkonsentrasi
6. Berpikir rasional

Keterangan : * Berdasarkan teknik REBT dari Albert Ellis

Anda mungkin juga menyukai