0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan3 halaman

Karakteristik Project Based Learning

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Project Based Learning adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam menyelesaikan proyek untuk menyelesaikan masalah nyata 2) Metode ini memberikan manfaat seperti meningkatkan motivasi, pemecahan masalah, dan kolaborasi 3) Ada beberapa langkah dan prinsip dalam menerapkan Project Based Learning

Diunggah oleh

asdfghjkl 1357
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan3 halaman

Karakteristik Project Based Learning

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Project Based Learning adalah pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa dalam menyelesaikan proyek untuk menyelesaikan masalah nyata 2) Metode ini memberikan manfaat seperti meningkatkan motivasi, pemecahan masalah, dan kolaborasi 3) Ada beberapa langkah dan prinsip dalam menerapkan Project Based Learning

Diunggah oleh

asdfghjkl 1357
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Project Based Learning

PENGERTIAN

Menurut Hanafiah dan Cucu Suhana (2009: 30) model pembelajaran Project Based Learning adalah
pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik untuk bekerja mandiri dalam
mengkonstruksi pembelajarannya dan mengkulminasikannya dalam produk nyata. Sedangkan menurut
Badar (2014: 42) Project Based Learning adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang
inovatif, yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Kemudian
menurut Sani (2014: 172) Project Based Learning merupakan model pembelajaran yang melibatkan
siswa untuk mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk menyelesaikan permasalahan
masyarakat atau lingkungan

Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Project Based Learning
merupakan model pembelajaran inovatif yang melibatkan kerja proyek dimana peserta didik bekerja
secara mandiri dalam mengkonstruksi pembelajarannya dan mengkulminasikannya dalam produk nyata.
Dalam kerja proyek memuat tugas-tugas kompleks berdasarkan kepada pertanyaan dan permasalahan
yang sangat menantang dan menuntun peserta didik untuk merancang, memecahkan masalah,
membuat keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan peserta didik
untuk bekerja secara mandiri.

KARAKTERISTIK

Kemendikbud dalam Abidin (2013:169) menjelaskan bahwa MPBP memiliki karakteristik sebagai berikut.

a. Peserta didik membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja. b.


b. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada peserta didik. c.
c. Peserta didik mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan
yang diajukan. d.
d. Peserta didik secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengakses dan mengelola informasi
untuk memecahkan permasalahan. e.
e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinu. f.
f. Peserta didik secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah dijalankan. g.
g. Produk akhir aktivitas belajar akan dievaluasi secara kualitatif. h.
h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan

PRINSIP

Menurut Wena (2013) Pembelajaran berbasis project based learning mempunyai beberapa prinsip yaitu:

a. Prinsip Sentralisitis
Menegaskan bahwa kerja project based learning merupakan esensi dari kurikulum. Model ini
merupakan pusat strategi pembelajaran, dimana peserta didik mengalami dan belajar konsep-
konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. b.
b. Prinsip pendorong
Kerja proyek berfokus pada “pertanyaan atau permasalahan” yang dapat mendorong peserta
didik untuk berjuang memperoleh konsep atau prinsip utama suatu bidang [Link] kerja
proyek ini dapat sebagai ekternal motivation yang mampu mengunggah peserta didik untuk
menumbuhkan kemandiriannya dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran. c.
c. Prinsip invetigasi konstruktif
Merupakan yang mengarah kepada pencapaian tujuan, yang mengandung kegiatan inkuiri,
pembangunan konsep, dan resolusi. Dalam invetigasi memuat proses perancangan, pembuatan
keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, discovery dan pembentukan model. d.
d. Prinsip Otonomi
Prinsip otonomi dapat diartikan sebagai kemandirian peserta didik dalam melaksanakan proses
pembelajaran, yaitu bebas menentukan pilihan sendiri, bekerja dengan minimal supervise dan
bertanggung jawab. Oleh karena itu lembar kerja peserta didik, petunjuk kerja pratikum dan
sejenisnya bukan merupakan aplikasi dari prinsip pembelajaran berbasis [Link] hal ini
guru hanya sebagai fasilitator untuk mendorong tumbuhnya kemandirian peserta didik. e.
e. Prinsip realistis
Proyek merupakan sesuatu yang nyata, bukan seperti [Link] berbasis proyek
harus dapat memberikan perasaan realistis kepada peserta didik, termasuk dalam memilih
topik, tugas, peran konteks kerja, kolaborasi kerja, produk, pelanggan, maupun standar
produknya.

LANGKAH-LANGKAH
Dalam menerapkan project-based learning, guru harus memperhatikan langkah-langkah implementasinya. Menurut
I Wayan Santyasa (dalam Yusri, 2019), implementasi project-based learning mengikuti lima langkah utama, yaitu
sebagai berikut:
1) Menetapkan tema proyek
Tema proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) memuat gagasan umum dan orisinil, (b) penting
dan menarik, (c) mendeskripsikan masalah kompleks, (d) mencerminkan hubungan berbagai gagasan, (e)
mengutamakan pemecahan masalah ill defined.
2) Menetapkan konteks belajar
Konteks belajar hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) pertanyaan-pertanyaan proyek
mempersoalkan masalah dunia nyata, (b) mengutamakan otonomi peserta didik, (c) melakukan inquiry dalam
konteks masyarakat, (d) peserta didik mampu mengelola waktu secara efektif dan efisien, (e) peserta didik belajar
penuh dengan kontrol diri, (f) mensimulasikan kerja secara profesional.
3) Merencanakan aktivitas-aktivitas Pengalaman belajar terkait dengan merencanakan proyek adalah sebagai
berikut: (a) membaca, (b) meneliti, (c) observasi, (d) interview, (e) merekam, (f) mengunjungi obyek yang berkaitan
dengan proyek, (g) akses internet.
4) Memproses aktivitas-aktivitas Indikator-indikator memeroses aktivitas meliputi antara lain: (a) membuat sketsa,
(b) melukiskan analisa, (c) menghitung, (d) men-generate, (e) mengembangkan prototipe.
5) Melakukan aktivitas-aktivitas menyelesaikan proyek Langkah-langkah yang dilakukan, adalah: (a) mencoba
mengerjakan proyek berdasarkan sketsa, (b) menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan hasil yang
diperoleh, (c) mengevaluasi hasil yang telah diperoleh, (d) merevisi hasil yang telah diperoleh, (d) melakukan daur
ulang proyek yang lain, dan (e) mengklasifikasi hasil terbaik.

Penerapan model ini dalam konseling format klasikal (KFK)

Materi layanan di antaranya adalah tentang:


1) Merokok (melaksanakan penelitian tentang bahaya rokok : zat-zat yang terkandung di dalam rokok) dan cara
mengehentikan kebiasaan merolok
2) Dampak seks bebas (HIV/AIDS)
3) Karir (mewawancarai berbagai profesi dan pekerjaan)
4) Kegagalan dalam belajar (remedial teaching)
KELEBIHAN & KEKURANGAN

Kelebihan Model Pembelajaran Project Based Learning (dalam kemdikbud, 2014) yaitu:

a) Meningkatkan motivasi

b) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah

c) Meningkatkan kolaborasi

d) Meningkatkan keterampilan mengelola sumber

e) Memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengorganisasi proyek, mengalokasikan waktu,


dan mengelola sumber daya seperti alat dan bahan menyelesaikan tugas.

Selain keunggulan/keuntungan PjBL yang telah dijelaskan sebelumnya,


pelaksanaan PjBL juga memiliki beberapa keterbatasan yaitu (Kemdikbud, 2014,
hlm. 35):
1. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
2. Membutuhkan biaya yang cukup banyak
3. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan kelas tradisional, di mana
instruktur memegang peran utama di kelas.
4. Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
5. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan
informasi akan mengalami kesulitan.
6. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
7. Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing kelompok berbeda,
dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan
Abidin, Yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: PT. Refika
Aditama

Badar, Trianto Ibnu Al-Tabani. (2014) Mendesain model pembelajaran inovatif, progresif, dan
kontekstual. Jakarta: Prenadamedia Group.

Hanafiah, Nanang & Cucu Suhana. (2009). Konsep strategi pembelajaran. Bandung: PT. Refika Aditama

Kemdikbud. (2014). Materi pelatihan guru implementasi kurikulum 2013 tahun


ajaran 2014/2015: Mata pelajaran IPA SMP/MTs. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
Sani, Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik Untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: PT.
Bumi Aksara

Wena, Made. Strategi pembelajaran inovatif kontenporer: suatu tinjauan kosep tual operasional,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2013), h. 145-146

Yusro. 2019. “Model dsb dsb liat ajalah yang kmrn”

Anda mungkin juga menyukai