0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan10 halaman

Penggunaan SCR dalam Pengendalian Daya

SCR adalah dioda yang berfungsi sebagai pengendali arus listrik. SCR terdiri dari empat lapis semikonduktor (PNPN) dan dapat menghantar arus hanya pada satu arah. SCR digunakan sebagai saklar elektronik untuk mengatur dan melindungi aliran arus pada beban seperti lampu dan motor.

Diunggah oleh

Muhammad Thariq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan10 halaman

Penggunaan SCR dalam Pengendalian Daya

SCR adalah dioda yang berfungsi sebagai pengendali arus listrik. SCR terdiri dari empat lapis semikonduktor (PNPN) dan dapat menghantar arus hanya pada satu arah. SCR digunakan sebagai saklar elektronik untuk mengatur dan melindungi aliran arus pada beban seperti lampu dan motor.

Diunggah oleh

Muhammad Thariq
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Aulia Paramitha

2017-71-053

SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier. Adalah Dioda yang mempunyai fungsi
sebagai pengendali. SCR atau Tyristor masih termasuk keluarga semikonduktor dengan
karateristik yang serupa dengan tabung thiratron. Sebagai pengendalinya adalah gate (G). SCR
sering disebut Therystor. SCR sebetulnya dari bahan campuran P dan N. Isi SCR terdiri dari PNPN
(Positif Negatif Positif Negatif) dan biasanya disebut PNPN Trioda.

SCR akan bekerja atau menghantar arus listrik dari anoda ke katoda jika pada kaki gate
diberi arus ke arah katoda, karenanya kaki gate harus diberi tegangan positif terhadap katoda.
Pemberian tegangan ini akan menyulut SCR dan ketika tersulut akan tetap menghantar. SCR akan
terputus jika arus yang melalui anoda ke katoda menjadi kecil atau gate pada SCR terhubung
dengan ground.
Guna SCR:

 Sebagai rangkaian Saklar (switch control)


 Sebagai rangkaian pengendali (remote control)

Berikut langkah mengukur SCR


1. Atur posisi multimeter pada X1 (ohm)
2. Hubungkan anoda SCR dengan kabel (+) dari multimeter katoda dengan terminal (-), masih
dalam posisi ini short-kan anoda ke gate hasilnya jarum tidak bergerak
3. Hubungkan anoda SCR dengan kabel (-) dari multimeter katoda dengan terminal (+), masih
dalam posisi ini short-kan anoda ke gate hasilnya jarum bergerak kemudian lepaskan gate dari
anoda jarum harus masih menunjuk ! jika
4. Jika langkah 1, 2, 3 terjadi maka SCR dalam keadaan baik

Gambar pengujian SCR dengan beban resistor

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

Gambar pengujian SCR dengan beban motor DC

SCR sebagai saklar pengaman elektronik


SCR sebagai saklar dapat dipergunakan sebagai proteksi arus yang mengalir ke beban baik
berupa lampu maupun motor listrik. Pengaturan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan
rangkaian umpan balik (feed back) yang menghubungkan keluaran SCR ke gate SCR. Beban
maksimum yang dapat ditanggung SCR tergantung pada karakteristik dari SCR tersebut serta
penyulutan yang dilakukan pada gate SCR.
Umpan balik tersebut tidak dapat langsung dihubungkan dengan gate SCR karena tegangan
keluaran yang dihasilkan keluaran SCR terlampau besar untuk menyulut gate SCR, sehingga perlu
tambahan rangkaian agar SCR tidak rusak. Gambar rangkaian di bawah ini merupakan pemakaian
atau penggunaan komponen SCR sebagai proteksi khususnya proteksi terhadap arus lebih.

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

Gambar Rangkaian SCR Sebagai Saklar Pengaman Elektronik

Sumber tegangan pada rangkaian terebut di atas langsung berasal dari jala-jala PLN 220
Volt, yang langsung disambung seri dengan beban lampu dan SCR. Selanjutnya untuk rangkaian
pengendali diperlukan penyearah tegangan sistem jembatan (bridge diode) yaitu D1 - D4.
Rangkaian pengendali SCR terdiri dari dua buah transistor yaitu Q1 dan Q2. Apabila beban yang
ditanggung SCR terlampau besar, rangkaian pengendali bekerja dan SCR berada pada kondisi
“OFF”. Besar arus maksimum yang dapat ditanggung SCR dapat ubah-ubah dengan mengatur
potensiometer atau tahanan variabel (VR).

APLIKASI THYRISTOR DAN SCR`

Silicon Controlled Rectifier (SCR) merupakan alat semikonduktor empat lapis (PNPN) yang
menggunakan tiga kaki yaitu anoda (anode), katoda (cathode), dan gerbang (gate) – dalam
operasinya. SCR adalah salah satu thyristor yang paling sering digunakan dan dapat melakukan
penyaklaran untuk arus yang besar.

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

SCR dapat dikategorikan menurut jumlah arus yang dapat beroperasi, yaitu SCR arus
rendah dan SCR arus tinggi. SCR arus rendah dapat bekerja dengan arus anoda kurang dari 1 A
sedangkan SCR arus tinggi dapat menangani arus beban sampai ribuan ampere.

Simbol skematis untuk SCR mirip dengan simbol penyearah dioda dan diperlihatkan pada
Gambar 2. Pada kenyataannya, SCR mirip dengan dioda karena SCR menghantarkan hanya pada
satu arah. SCR harus diberi bias maju dari anoda ke katoda untuk konduksi arus. Tidak seperti
pada dioda, ujung gerbang yang digunakan berfungsi untuk menghidupkan alat.
Operasi SCR
Operasi SCR sama dengan operasi dioda standar kecuali bahwa SCR memerlukan tegangan

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

positif pada gerbang untuk menghidupkan saklar. Gerbang SCR dihubungkan dengan basis
transistor internal, dan untuk itu diperlukan setidaknya 0,7 V untuk memicu SCR. Tegangan ini
disebut sebagai tegangan pemicu gerbang (gate trigger voltage). Biasanya pabrik pembuat SCR
memberikan data arus masukan minimum yang dibutuhkan untuk menghidupkan SCR. Lembar
data menyebutkan arus ini sebagai arus pemicu gerbang (gate trigger current). Sebagai contoh
lembar data 2N4441 memberikan tegangan dan arus pemicu :
VGT = 0,75 V
IGT = 10 mA
Hal ini berarti sumber yang menggerakkan gerbang 2N4441 harus mencatu 10 mA pada
tegangan 0,75 V untuk mengunci SCR.

Skema rangkaian penghubungan SCR yang dioperasikan dari sumber DC diperlihatkan


pada Gambar 3. Anoda terhubung sehingga positif terhadap katoda (bias maju). Penutupan
sebentar tombol tekan (push button) PB1 memberikan pengaruh positif tegangan terbatas pada
gerbang SCR, yang men-switch ON rangkaian anoda-katoda, atau pada konduksi, kemudian
menghidupkan [Link] anoda-katoda akan terhubung ON hanya satu arah. Hal ini terjadi
hanya apabila anoda positif terhadap katoda dan tegangan positif diberikan kepada gerbang Ketika
SCR ON, SCR akan tetap ON, bahkan sesudah tegangan gerbang dilepas. Satu-satunya cara
mematikan SCR adalah penekanan tombol tekan PB2 sebentar, yang akan mengurangi arus anoda-
katoda sampai nol atau dengan melepaskan tegangan sumber dari rangkaian anoda-katoda.
SCR dapat digunakan untuk penghubungan arus pada beban yang dihubungkan pada
sumber AC. Karena SCR adalah penyearah, maka hanya dapat menghantarkan setengah dari
gelombang input AC. Oleh karena itu, output maksimum yang diberikan adalah 50%; bentuknya
adalah bentuk gelombang DC yang berdenyut setengah gelombang.

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

Skema penghubungan rangkaian SCR yang dioperasikan dari sumber AC diperlihatkan


oleh Gambar . Rangkaian anoda-katoda hanya dapat di switch ON selama setengah siklus dan jika
anoda adalah positif (diberi bias maju). Dengan tombol tekan PB1 terbuka, arus gerbang tidak
mengalir sehingga rangkaian anoda-katoda bertahan OFF. Dengan menekan tombol tekan PB1
dan terus-menerus tertutup, menyebabkan rangkaian gerbang-katoda dan anoda-katoda diberi bias
maju pada waktu yang sama. Prosedur arus searah berdenyut setengah gelombang melewati depan
lampu. Ketika tombol tekan PB1 dilepaskan, arus anoda-katoda secara otomatis menutup OFF
ketika tegangan AC turun ke nol pada gelombang sinus.

Ketika SCR dihubungkan pada sumber tegangan AC, SCR dapat juga digunakan untuk
merubah atau mengatur jumlah daya yang diberikan pada beban. Pada dasarnya SCR melakukan

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

fungsi yang sama seperti rheostat, tetapi SCR jauh lebih efisien. Gambar 5 menggambarkan
penggunaan SCR untuk mengatur dan menyearahkan suplai daya pada motor DC dari sumber AC.

Rangkaian SCR dari Gambar 6 dapat digunakan untuk “start lunak” dari motor induksi
3 fase. Dua SCR dihubungkan secara terbalik paralel untuk memperoleh kontrol gelombang
penuh. Dalam tema hubungan ini, SCR pertama mengontrol tegangan apabila tegangan positif
dengan bentuk gelombang sinus dan SCR yang lain mengontrol tegangan apabila tegangan negatif.
Kontrol arus dan percepatan dicapai dengan pemberian trigger dan penyelaan SCR pada waktu
yang berbeda selama setengah siklus. Jika pulsa gerbang diberikan awal pada setengah siklus,
maka outputnya tinggi. Jika pulsa gerbang diberikan terlambat pada setengah siklus, hanya
sebagian kecil dari bentuk gelombang dilewatkan dan mengakibatkan outputnya rendah.

Aplikasi SCR
Pada aplikasinya, SCR tepat digunakan sebagai saklar solid-state, namun tidak dapat
memperkuat sinyal seperti halnya transistor. SCR juga banyak digunakan untuk mengatur dan
menyearahkan suplai daya pada motor DC dari sumber AC, pemanas, AC, melindungi beban
yang mahal (diproteksi) terhadap kelebihan tegangan yang berasal dari catu daya, digunakan
untuk “start lunak” dari motor induksi 3 fase dan pemanas induksi. Sebagian besar SCR
mempunyai perlengkapan untuk penyerapan berbagai jenis panas untuk mendisipasi panas
internal dalam pengoperasiannya.

 Aplikasi SCR pada saklar solid state

Solid state relay berfungsi sama seperti halnya relay mekanik, dengan solid state relay kita dapat
mengendalikan beban AC maupun DC daya besar dengan sinyal logika TTL. Rangkaian solid state

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

relay terdiri dari 2 jenis, yaitu solid state relay DC dan solid state relay AC. Pada gambar rangkaian
dibawah merupakan skema dari rangkaian solid state relay yang digunakan untuk jaringan AC
220V dengan daya maksimum 500 watt. Rangkaian solid state relay ini dibangun menggunakan
TRIAC BT136 sebagai saklar beban dan optocopler MOC3021 sebagai isolator. Solid state relay
pada gambar rangkaian dibawah dapat digunakan untuk mengendalikan beban AC dengan
konsumsi daya maksimal 500 watt.

Daya maksimum rangkaian solid state relay ini ditentukan oleh kapasitas menglirkan arus
oleh TRIAC Q1 BT136. Untuk membuat rangkaian solid state relay dapat dilihat gambar
rangkaian dan komponen yang digunakan sebagai berikut.

Rangkaian solid state relay pada gambar diatas dapat digunakan untuk mengendalikan
beban dengan tegangan kerja AC dari 24 volt hingga 220 volt. Rangkaian solid state relay ini
dikendalikan dengan sinyal logika tinggi TTL 2 – 5 volt DC yang diberikan ke jalur input solid
state relay. Untuk meningkatkan daya atau kemampuan arus solid state relay ini dapat dilkukan
dengan mengganti TRIAC Q1 BT136 dengan TRIAC yang memiliki kapasitas arus yang lebih
besar. TRIAC Q1 BT136 pada rangkaian solid state relay diatas harus dilengkapi dengan
pendingin (heatsink) untuk meredam panas yang dihasilkan TRIAC pada saat mengalirkan arus ke
beban.

APLIKASI THYRISTOR UNTUK PENGATUR TEGANGAN AC/DC


Berkembangnya teknologi elektronika daya, khususnya dengan adanya penemuan
Thyristor, maka pemanfaatan konverter dan inverter merupakan sebuah solusi pemutakhiran
pengendali kelistrikan, misalnya dalam pengaturan tegangan ac / dc yang mudah, luwes, praktis,
dan ekonomis.
Thyristor khususnya SCR (silicon controlled rectifier) memiliki 3 buah elektroda: anoda
(A), katoda (K), dan gate (G) merupakan piranti elektronik yang banyak diterapkan pada rangkaian
elektronika daya. Di dalam konverter arus bolak-balik thyristor merupakan komponen utama,
melalui pengendalian sinyal picu (trigger), maka besarnya sudut konduk (conduction angle) dan
sudut picu (firing delay angle) dapat diatur.

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

Rangkaian dasar: SCR, beban (RL), dan sumber tegangan (Us) diperlihatkan pada gambar 1.a),
sedangkan gambar 1.b) memperlihatkan bahwa pada sudut konduk SCR = 1200 maka sudut picu
= 600 (interval 1800 adalah sudut konduk+ sudut picu)

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN
Aulia Paramitha
2017-71-053

Laboratorium Elektronika Daya


STT PLN

Anda mungkin juga menyukai