0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan19 halaman

Vektor dalam Ruang R2 dan R3

Dokumen tersebut membahas tentang vektor dan ruang vektor R2 dan R3. Ia menjelaskan bahwa R2 dan R3 merupakan ruang vektor dimana operasi penjumlahan vektor dan perkalian vektor dengan skalar dapat ditentukan. Dokumen tersebut juga mendefinisikan konsep vektor, sistem koordinat kartesius, penjumlahan vektor, dan perkalian vektor dengan skalar.

Diunggah oleh

Indriani Windz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan19 halaman

Vektor dalam Ruang R2 dan R3

Dokumen tersebut membahas tentang vektor dan ruang vektor R2 dan R3. Ia menjelaskan bahwa R2 dan R3 merupakan ruang vektor dimana operasi penjumlahan vektor dan perkalian vektor dengan skalar dapat ditentukan. Dokumen tersebut juga mendefinisikan konsep vektor, sistem koordinat kartesius, penjumlahan vektor, dan perkalian vektor dengan skalar.

Diunggah oleh

Indriani Windz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

VEKTOR R2 DAN R3

Inisiasi ini akan memperkenalkan pengertian vektor dan ruang


vektor dengan menelaah R2 dan R3. Banyak besaran dalam
fisika seperti gaya, kuat medan (listrik atau magnet), kecepatan
dan sebagainya dapat dinyatakan sebagai vektor, yakni suatu
ruas garis berarah.
R2 dan R3 sebagai produk Kartesius himpunan bilangan real,
unsur unsurnya berupa pasang 2 bilangan real dan pasang 3
bilangan real. Pasang bilangan itu dapat dikalikan dengan
bilangan real (yang berarti tiap unsur pasang dikalikan dengan
bilangan yang sama), dan dua pasang dapat dijumlahkan (yakni
unsur yang sesuai dijumlahkan). Dua operasi ini ternyata
mempunyai sifat-sifat khas yang menjadi ciri dari suatu ruang
vektor atau ruang linear.

VEKTOR YANG BERPANGKAL PADA TITIK


ASAL KOORDINAT
Berbagai besaran fisika seperti panjang, luas dan massa, dapat
dinyatakan dengan satu bilangan real saja untuk menyatakan
tingkat besarnya. Ada besaran fisika lain yang tak cukup
ditentukan hanya dengan tingkat besarnya saja. Di samping
tingkat besarnya diperlukan pula arahnya. Besaran begini

1
disebut vektor. Contohnya gaya, kecepatan, percepatan, per-
geseran, momen dan sebagainya.
Vektor dapat dipandang sebagai ruas garis berarah, digambar-
kan sebagai “anak panah” di R 2 dan R3 . Ujung anak panah itu
(bagian yang runcing) di sebut titik ujung, pangkal anak panah
itu disebut titik pangkal vektor itu (Lihat Gambar 1). Cara
menyatakan vektor seperti itu disebut cara ilmu ukur.

B = titik ujung
uuu
r
AB

A = titik awal

Gambar 1
uuur
Vektor AB dengan titik ujung B, titik pangkal A

Ada banyak macam lambang untuk vektor, akan tetapi kita


akan sering menggunakan huruf kecil (lower case) tebal,
seperti a, b, c, u, v, w, x dan sebagainya. Untuk tulisan tangan
atau huruf miring (italic) diberi bergaris (atau tanda panah) di
r r r
atas seperti a , b , c , u , v , w, dsb. Notasi untuk vektor yang
uuur
berpangkal di A dan berujung di B adalah AB .
Vektor vektor yang panjang dan arahnya sama disebut
ekivalen.
Untuk selanjutnya vektor-vektor yang ekivalen kita anggap
sama, bila vektor a ekivalen dengan vektor b , kita tulis a = b .

2
Jadi dua vektor sama, bila panjang dan arahnya sama (lihat
Gambar 2).

Gambar 5.1.2,
Vektor-vektor yang Ekivalen

Dengan demikian, memindahkan vektor dengan tidak meng-


ubah panjangnya dan arahnya, dianggap tidak mengubah
vektor itu sendiri. Jadi titik pangkal vektor dapat ditempatkan
di mana saja.
Pada pembahasan selanjutnya, setiap vektor kita anggap
berpangkal pada titik asal koordinat. Vektor yang begitu
disebut vektor posisi atau vektor tempat dari titik ujung vektor
itu (Gambar 3).

Gambar 3a Gambar 3b

Vektor Posisi di . Vektor Posisi di .

3
SISTEM KOORDINAT KARTESIUS DI R3
uuu
r
Di R 2 vektor posisi titik A ( a1 , a2 ) adalah vektor a = OA , yang
juga biasa dinyatakan dalam bentuk:

a 
1. a =  1 (matriks kolom);
a2 
2. a =  a1 a 2  T (matriks baris transpos)
3. a = ( a1 , a2 ) (aljabar)

Seperti yang sudah Anda ketahui, R 3 adalah produk Kartesius


R �R �R , yakni himpunan semua pasangan terurut tiga
bilangan real ( x, y, z ) , yaitu { ( x, y, z ) }
x �R, y �R, z �R . Pada
sistem koordinat Kartesius di R diambil suatu titik O dalam
3

ruang sebagai titik asal koordinat (disebut juga titik pangkal


koordinat). Kemudian diambil tiga garis bilangan yang saling
tegaklurus melalui O , yang disebut sumbu-x, sumbu-y, dan
sumbu-z. Setiap pasangan dua sumbu koordinat membentuk
bidang yang disebut bidang koordinat. Bidang-bidang itu
adalah bidang-xy, bidang-xz, dan bidang-yz. Di samping
penamaan x, y, z , biasa pula digunakan x1 , x2 , x3 .
Kalau bidang kertas kita ambil sebagai bidang-yz, sebagai
sumbu-y biasanya diambil garis mendatar, sumbu-z garis
vertikal. Arah positif sumbu-y, ke kanan. Arah positif sumbu-z,
ke atas. Sumbu-x tegaklurus pada bidang kertas, arah
positifnya ke depan. Sistem koordinat dengan pengaturan
sumbu-sumbu koordinat seperti ini disebut sistem koordinat
kanan. Pada kuliah ini kita akan selalu menggunakan sistem
koordinat kanan.
Kalau bidang R 2 dibagi menjadi 4 bagian oleh sumbu
koordinat, yang masing-masingnya disebut kuadran dan
4
dinamai kuadran pertama, kedua, ketiga, dan keempat, ruang
R 3 dibagi menjadi 8 bagian oleh bidang-bidang koordinat xy,
xz, dan yz, yang masing-masingnya di sebut oktan. Oktan
pertama adalah himpunan { ( x, y, z ) x > 0, y > 0, z > 0} , oktan
kedua adalah himpunan { ( x, y, z ) x < 0, y > 0, z > 0} , dan
seterusnya. Titik A ( a1 , a2 , a3 ) mempunyai vektor posisi
uuu
r
a = OA , yang biasa pula dinyatakan dalam bentuk:

 a1 
 
1. a = a2  (matriks kolom);
 a3 
2. a =  a1 a2 a3  T (matriks baris transpos)
3. a = ( a1 , a2 , a3 ) (aljabar)

Bilangan ak , k = 1, 2,3 disebut komponen ke-k dari vektor a .

PENJUMLAHAN VEKTOR DAN PERKALIAN


DENGAN SKALAR, CIRI RUANG VEKTOR
Sifat-sifat yang mencirikan ruang vektor menyangkut pen-
jumlahan vektor dan perkalian vektor dengan skalar. Sebelum
membahas hal itu kita rumuskan dulu definisi kesamaan dua
vektor berdasarkan pembahasan sebelum ini.

5
DEFINISI 1
�a1 � �b1 �
Di R 2 dua vektor a = � �dan b = � �dikatakan sama,
�a2 � �b2 �
ditulis a = b , jika a1 = b1 dan a2 = b2 .
�a1 � �b1 �
� � �b2 �
Di R dua vektor a = �
3 a2 �, dan b = � �dikatakan sama,

� �
a2 � �
�b2 �

ditulis a = b , jika a1 = b1 , a2 = b2 , dan a3 = b3 .

Karena kita menganggap semua vektor berpangkal pada titik


asal koordinat, maka secara ilmu ukur dua vektor yang sama
adalah dua vektor yang berimpit atau identik.
Sekarang akan kita rumuskan definisi penjumlahan dua vektor.

DEFINISI 2
�a1 + b1 �
Di R 2 jumlah dua vektor a dan b adalah a + b = � .
�a2 + b2 �

�a1 + b1 �

Di R jumlah dua vektor a dan b adalah a + b = �
3 a2 + b2 �


�a3 + b3 �

Selanjutnya rumusan definisi untuk perkalian vektor dengan


skalar (bilangan real) adalah sebagai berikut.
Selanjutnya rumusan definisi untuk perkalian vektor dengan
skalar (bilangan real) adalah sebagai berikut.

6
DEFINISI 3
Perkalian vektor a dengan skalar s ialah
� sa1 �
�sa1 � �
Di R : sa = � �, di R : sa = �
2 3 sa2 ��.
�sa2 �

�sa3 ��

Untuk melihat arti ilmu ukur penjumlahan vektor di R 2 per-


hatikan Gambar 4.

Gambar 4.
Arti Ilmu Ukur di
Arti ilmu ukur perkalian dengan skalar dapat dilihat pada
Gambar 5.

Gambar 5.
Arti Ilmu Ukur Perkalian dengan
Skalar

7
Dari definisi untuk penjumlahan vektor dan perkalian dengan
skalar, dan dengan sifat-sifat bilangan real, dapat diturunkan
sifat-sifat berikut.

Kesepuluh sifat itu mencirikan ruang vektor (real), karena


sesungguhnya yang disebut ruang vektor real adalah himpunan
yang padanya dapat didefinisikan penjumlahan unsur, dan
perkalian unsur dengan bilangan real yang memenuhi 10 sifat
itu. Dengan demikian R3 adalah suatu ruang vektor, begitu
pula R 2 .

8
CONTOH 1
Dengan sepuluh sifat itu kita dapat melakukan aritmatika
vektor seperti pada contoh berikut.
SOAL:
Jika a = ( 1, -1, 2 ) , b = ( 5, -3,1) , dan c = ( 2, 0, -1) hitunglah
2a + 3( b - 2c ) .

PENYELESAIAN :
2a + 3( b - 2c ) = 2a + 3b - 6c
= 2(1,-1,2 ) + 3( 5,-3,1) - 6( 2,0,-1)
= ( 2,-2,4) + (15,-9,3) - (12,0,-6)
= ( ( 2 + 15 - 12 ) , ( - 2 - 9 - 0) , ( 4 + 3 + 6) )
= ( 5,-11,13) .

KOMBINASI LINEAR DAN BENTANG


LINEAR
Pengertian kombinasi linear sangat penting pada pembahasan
ruang vektor, oleh karena itu akan kita cantumkan definisinya
di sini.

DEFINISI 4
Vektor a kombinasi linear himpunan 2 vektor { u, v} bila
terdapat bilangan real s dan t sehingga a = su + tv

9
CONTOH 2
1
�� ����
1 1��
�� ���� � �
a = �� 0 , -1�
1 adalah kombinasi linear himpunan vektor ���� �,
��
0 ����
0 0 �

�� ���� �
1
�� 1
�� �1 �
��
1 =2 ��
0 + (-1) �-1�
karena �� �� � �.
��
0
�� ��
0
�� �
� �
0 �
Kombinasi linear m buah vektor, m bilangan asli sebarang
didefinisikan sebagai berikut.

DEFINISI 5
Vektor a adalah kombinasi linear himpunan m buah vektor
{ u1 , u 2 ,L , u m } , bila terdapat bilangan real s1 , s2 ,L , sm
m
sehingga a = �s u
j =1
j j .

CONTOH 3
a. Vektor p = ( 2,0,-6 ) adalah kombinasi linear dari
himpunan vektor { (1,0,-3) } , karena p = 2. ( 1, 0, -3) .
b. Vektor 0 adalah kombinasi linear dari setiap himpunan m
m
buah vektor { u1 , u 2 ,L , u m } , m asli, karena 0 = �0u
j=1
j .

10
0
��
��
c. 0
�� bukan kombinasi linear dari himpunan vektor
��
1
��
���
1 �
�1 �
��� � �

0 ,
��� �-1�
�, karena bila ya, terdapat bilangan real s dan
���
0 �
�0 �

��� �
t yang memenuhi
0
�� 1
�� �1 �
�� ��
0 +t�
0 = s �� -1�
�� � �,
��
1
�� ��
0
�� �
�0 �

yang menghasilkan sistem persamaan linear dengan
matriks lengkap
1 1 0�


0 -1 0 �
� �,

0
� 0 1 �

dengan baris terakhir menyatakan sistem persamaan yang
tak konsisten (kontradiksi).
Sekarang perhatikan syarat supaya suatu vektor bukan
kombinasi linear dari suatu vektor yang diberikan.
Jika U adalah matriks yang kolom-kolomnya vektor u j ,
j = 1, 2,L , m , jadi U =  u1 u 2  u m  dan dapat kita
tuliskan

 u1 j  u11 u12 u13 L


� u1m �
  �
u j = u 2 j  dan U = �
u21 u22 u23 L u2 m �
�.
u 3 j  �
u31 u32 u33 L
� u3 m �

 

11
Sekarang kita tuliskan lebih dulu syarat perlu dan cukup untuk
a kombinasi linear dari himpunan vektor { u1 , u 2 ,L , u m } .

DALIL 1
Vektor a = a1  a2 a3  T adalah kombinasi linear
himpunan vektor { u1 , u 2 ,L , u m } jika dan hanya jika SPL
Ux = a punya jawab, dengan U =  u1 u 2  u m  ,

u j = u1 j u2 j u3 j T , j = 1,2,  , m , dan

x =  x1 x2  xm  T .
Dalil ini ekivalen dengan pernyataan berikut.

Vektor a = a1  a 2  a n  T bukan kombinasi linear


himpunan vektor { u1 , u 2 ,L , u m } jika dan hanya jika SPL
Ux = a tak punya jawab, dengan U =  u1 u 2  u m  ,

u j = u1 j u2 j u3 j T , j = 1,2,  , m dan

x =  x1 x2  xm  T .
Sekarang dalil ini akan kita manfaatkan untuk memeriksa
apakah suatu vektor merupakan kombinasi linear dari
himpunan vektor yang diberikan.

CONTOH 4
a) Tunjukkan bahwa vektor 0 = ( 0,0,0 ) merupakan
kombinasi linear dari himpunan m buah vektor sebarang
{ u1 , u 2 ,L , u m } .

12
1
��
��
b) Periksa apakah vektor a = ��
1 , kombinasi linear himpunan
��
2
��
vektor
0 -1��1 �
���� � 0 -1��
���� �
1�
���� �� � � ���� ��� �
(i) K = ����
1 , 0 ��
, 1� �, dan (ii) L = ����
1 , 0 ��
, 1�

����
0 ��
2 �� �

-2 � ����
0 ��
1 �� �

1�
���� ����

PENYELESAIAN:
a) SPL homogen Ux = 0 selalu punya jawab yaitu jawab
trivial
m m
x = 0 = ( 0,0,0 ) , jadi 0 = � xk u k = �0u k .
k =1 k =1

b) (i) Kita proses matriks lengkap untuk SPL Kx = a ,


0 -1 1 1 �
� 0 -1 1 1 �


1 0 1 1� �
� �� 1 0 1 1�
� �
,

0 2 -2 2 �
� �B3 + 2 B1 �
0 0 0 4�
� �

baris terakhir menyatakan ketakkonsistenan, jadi sistem


persamaan tak punya jawab, a bukan kombinasi linear dari
himpunan vektor K.
(ii) Pemrosesan matriks lengkap untuk Lx = a ,
0 1 -1 1 �B1 � B2
� 1 0 1 1�
� 1 0 1 1�


1 0 1 1� � �
0 1 -1 1 � � � �
0 1 -1 1�.
� � � � �

0 1 1 2� �
0 1 1 2� B -B
� � � �3 2 �0 0 2 1�
� �

Tidak terjadi ketakkonsistenan pada matriks lengkap hasil


operasi baris elementer. Jadi SPL punya jawab, vektor a

13
merupakan kombinasi linear dari himpunan vektor L
terbukti.

RUANG BAGIAN LINEAR


Sudah kita bahas bahwa penjumlahan unsur-unsur R 3 dan
perkaliannya dengan skalar memenuhi sifat-sifat 1 s/d 10 dari
ruang vektor. Pertanyaan yang menarik adalah: Adakah
himpunan bagian dari R3 yang juga memenuhi sifat-sifat itu?
Pertanyaan itu akan cepat terjawab dari pembahasan berikut
ini, yakni paling sedikit ada dua himpunan semacam itu yaitu
himpunan {0} dan R3 sendiri.
Himpunan bagian yang begitu, yang jelas juga merupakan
ruang vektor, disebut ruang bagian (linear) dari ruang vektor
R3 . Untuk tepatnya kita tuliskan definisinya berikut ini.

DEFINISI 6
Himpunan bagian P dari R 3 disebut ruang bagian atau
subruang (linear) dari R 3 bila P merupakan ruang vektor
(yakni memenuhi sifat- 1 sampai dengan 10 yang mencirikan
ruang vektor).

Pandang P �R 3 , P ��. Sifat-sifat 2 sampai dengan 5 dan 7


sampai dengan 10 diwariskan oleh R3 kepada P. Yang perlu
dibuktikan lagi hanyalah sifat 1 dan sifat 6, yaitu sifat tertutup
terhadap penjumlahan dan perkalian dengan skalar. Dengan
demikian dalil berikut dapat kita tuliskan.

14
DALIL 2
Himpunan bagian P dari R 3 adalah ruang bagian linear dari R 3
jika dan hanya jika P tertutup terhadap penjumlahan dan
terhadap perkalian dengan skalar, yang berarti: "u , v �P dan
a �R berlaku:
(i) a u �P ,
(ii) u + v �P .

Dua syarat (i) dan (ii) bersama-sama (kita sebut Syarat I) adalah
ekivalen dengan berikut (kita sebut Syarat II), yaitu:

"u, v �P serta a , b �R berlaku: a u + b v �P .

Dengan demikian kita punya dua cara untuk menunjukkan


bahwa suatu himpunan bagian ruang vektor merupakan ruang
bagian, yakni dengan menggunakan Syarat I atau Syarat II.
Pada contoh-contoh berikut dalil ini kita gunakan untuk
memeriksa apakah suatu ruang bagian dari ruang vektor R 3
merupakan ruang bagian.

CONTOH 5
Tunjukkan bahwa himpunan bagian berikut dari R 3 merupakan
ruang bagian dari R3 .
a) L = { x x = s (1,-1,2 ) , s  R} ,

b) V = { x x = s (1,0,-1) + t ( 0,1,2 ) , s  R, t  R}

15
PENYELESAIAN:
a) Menggunakan syarat I:
(i) x  L, maka x = s (1,-1,2 ) , dengan s  R .

Untuk a  R, maka ax = as(1,-1,2 )  L , karena


as  R
(ii) y  L , maka y = r (1,-1,2 ) , dengan rR .
x + y = s (1,-1,2 ) + r ( (1,-1,2 ) ) = ( s + r )(1,-1,2 )  L ,
karena ( s + r )  R .
Jadi dari (i) dan (ii), L merupakan ruang bagian dari R 3 .
Menggunakan syarat II:
Misal x, y  L dan tulis x = s (1,-1,2 ) dan
y = r (1,-1,2 ) . Untuk a , b  R ,maka
ax + by = as(1,-1,2 ) + br (1,-1,2 ) = ( as + br )(1,-1,2 )  L
, karena ( as + br )  R
Jadi himpunan L adalah himpunan bagian dari R 3 .
b) Menggunakan syarat I:
(i) x  V , maka x = p (1,0,-1) + q ( 0,1,2 ) , dengan
p, q  R .

Untuk a  R , maka
ax = a{ p(1,0,-1) + q( 0,1,2 )} = ap(1,0,-1) + aq( 0,1,2 )  V
, karena ap, aq  R .
(ii) y  V , maka y = r (1,0,-1) + s ( 0,1,2 ) , dengan
r , s  R . Sehingga

16
x + y = { p ( 1, 0, -1) + q ( 0,1, 2 ) } + { r ( 1, 0, -1) + s ( 0,1, 2 ) }

= ( p + r ) ( 1, 0, -1) + ( q + s ) ( 0,1, 2 ) �V ,

Karena ( p + r ) , ( q + s ) �R ,
Jadi dari (i) dan (ii), V merupakan ruang bagian dari
R3 .
Menggunakan syarat II:
Misal x, y  L dan tulis x = p(1,0,-1) + q( 0,1,2) dan
y = r (1,0,-1) + s ( 0,1,2 ) , dengan p, q, r , s  R .

Untuk a, b  R , maka
ax + by = a{ p(1,0,-1) + q( 0,1,2 )} + b{ r (1,0,-1) + s ( 0,1,2 )}
= { ap(1,0,-1) + aq( 0,1,2 )} + { br (1,0,-1) + bs( 0,1,2 )}
= ( ap + br )(1,0,-1) + ( aq + bs )( 0,1,2)  V ,

karena ( ap + br ) , ( aq + bs )  R
Jadi himpunan V adalah himpunan bagian dari R 3 .
Sesungguhnya himpunan L pada bagian a) adalah garis melalui
titik pangkal koordinat, sedangkan pada bagian b) himpunan V
adalah bidang melalui titik pangkal koordinat. Pada umumnya
garis dan bidang melalui titik pangkal koordinat adalah masing-
masing ruang bagian linear dari R3 . Hal itu dapat ditunjukkan
seperti berikut.
G = {x | x = sa, a �0, s �R} adalah himpunan garis-garis melalui
titik pangkal koordinat di R3 . Ambil a �R , p, q �G , maka
p = s1a dan q = s2a , dengan s1 , s2 �R Selanjutnya
a p = a s1a �G , karena as1  R .

17
Begitu juga p + q = s1a + s2 a = ( s1 + s2 ) a �G , karena
( s1 + s 2 )  R .
B = {x | x = sa + tb; s, t �R}
adalah himpunan bidang-bidang
melalui titik pangkal di R Di sini juga a �0 dan b �0 . Ambil
3.

a �R , p, q �V , maka a p = a ( sa + tb ) = a sa + a tb �V ,

p + q = ( s1a + t1b ) + ( s2a + t2b ) = ( s1 + s2 ) a + ( t1 + t2 ) b �B , karena


( s1 + s2 ) , ( t1 + t 2 )  R .
Untuk menunjukkan suatu himpunan bagian di R3 bukan
ruang bagian dari R3 dengan menggunakan Syarat I, kita
cukup menunjukkan bahwa salah satu dari (i) dan (ii) tak
berlaku.
Selanjutnya himpunan semua kombinasi linear dari suatu
himpunan vektor K = { u1 , u 2 ,, u m } di R3 merupakan ruang
bagian V dari R 3 , disebut bentang linear dari K. Himpunan K
dikatakan membentang atau membangun V, disebut
himpunan pembangun atau pembentang ruang V.
Perhatikan contoh berikut.

CONTOH 5.1.6
Tentukan bentang linear dari himpunan vektor
K = { (1,-1,0 ) , ( 0,1,2) , (1,0,2 )}

PENYELESAIAN:
Bentang itu adalah
{y y = r (1,-1,0) + s( 0,1,2) + t (1,0,2) ; r , s, t  R}

Bentuk bentang ini dapat pula disederhanakan seperti berikut:

18
Untuk r , s, t  R ,
y = r (1,-1,0 ) + s ( 0,1,2 ) + t (1,0,2 ) = ( r + t ,- r + s,2 s + 2t ) .

Misal p = r+t dan q = -r + s , maka diperoleh


2 s + 2t = 2 p + 2 q .

Karena 2 s + 2t = 2 p + 2q, p = r + t , q = -r + s , maka bentang itu


sama dengan

{ y y = ( p, q,2 p + 2q ) ; p, q �R} = { y y = p ( 1,0, 2) + q ( 0,1, 2) ; p, q �R}


Bentang linear ini akan disinggung lagi kelak pada pembahasan
basis dan dimensi.

19

Anda mungkin juga menyukai