Rencana Induk Penyediaan Air Minum Magelang
Rencana Induk Penyediaan Air Minum Magelang
TAHUN 2019
BAPPEDA
KOTA MAGELANG
TAHUN 2019
1. Latar Belakang
Air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Oleh
karenanya air minum wajib tersedia dalam kualitas dan kuantitas yang memadai.
Penyediaan air minum berhubungan erat dengan jumlah air baku yang tersedia, yang
untuk selanjutnya diolah menjadi air minum dan didistribusikan kepada masyarakat.
Kondisi geografis, topografis dan geologis serta sumber daya manusia yang berbeda di
setiap wilayah di Indonesia berpengaruh terhadap penyediaan air baku. Tingkat
pelayanan air minum yang berbeda juga berdampak pada penyelenggaraan Sistem
Penyediaan Air Minum (SPAM) yang berbeda pula untuk masing-masing wilayah.
Kebutuhan air minum bagi masyarakat terus meningkat seiring dengan pertambahan
populasi penduduk, mendorong untuk dilakukan kajian tentang pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum (SPAM). Kewajiban untuk mengembangkan Sistem Penyediaan
Air Minum (SPAM) pada dasarnya adalah merupakan tanggung jawab Pemerintah
Daerah. Namun mengingat masih sangat terbatasnya sumber daya manusia yang ada di
daerah (kabupaten/kota), maka baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Provinsi
harus dapat memberikan dukungan dan bantunan teknis pembinaan yang tepat dan
sesuai dengan kebutuhan daerah. Pada dasarnya Pemerintah Pusat maupun
Pemerintah Provinsi harus mendorong Pemerintah Daerah dalam upaya melaksanakan
penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara optimal, menyeluruh,
berkelanjutan dan dilakukan secara terpadu dengan sarana dan prasarana sanitasi pada
setiap tahapan penyelenggaraannya.
Kota Magelang merupakan salah satu Kota terkecil di wilayah Propinsi Jawa Tengah
dengan luas wilayah Kota Magelang 1.812 Ha (18,12 km2) dan secara administratif
terbagi atas 3 kecamatan (Kecamatan Magelang Utara, Kecamatan Magelang Tengah
dan Kecamatan Magelang Selatan) dan 17 kelurahan dengan rata-rata luas wilayah per
kelurahan tidak lebih dari 2 km². Berdasarkan Permendagri Nomor 64 Tahun 2017
tentang Batas Wilayah Kabupaten Magelang dengan Kota Magelang Provinsi Jawa
Tengah, wilayah Kota Magelang mendapatan luasan wilayah terkait dengan perluasan
batas wilayah Kota Magelang seluas 0.03 km2. Total luasan wilayah Kota Magelang saat
ini seluas 1.854 Ha (18,54 km2). Kedudukan Kota Magelang di Provinsi Jawa Tengah di
gambarkan pada peta berikut :
Gambar 1
Peta Kedudukan Kota Magelang terhadap Provinsi Jawa Tengah
Posisi Kota Magelang yang strategis di jalur persilangan lalu lintas ekonomi dan
transportasi antara Semarang-Magelang-Yogyakarta dan Purworejo-Temanggung dan
pada persimpangan jalur wisata lokal dan regional antara Yogyakarta–Borobudur–
Kopeng-Ketep Pass- dataran tinggi Dieng menjadikannya sebagai kota kecil dengan nilai
strategis dalam katagori sebagai Pusat Pelayanan Kegiatan Wilayah (PKW) yaitu sebagai
Pusat Kegiatan Wilayah Kawasan Purwomanggung (Kabupaten Purworejo, Kabupaten
Wonosobo, Kabupaten Temanggung, Kota Magelang, dan Kabupaten Magelang dalam
Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Provinsi.
Sumber air di Kota Magelang dapat digolongkan dari air pemukaan dan air tanah. Air
permukaan merupakan air limbah dan air hujan. Potensi air hujan perlu dilestarikan
dengan membuat sumur resapan. Sedangkan potensi air tanahnya juga tergantung
pada pelestarian pemanfaatan air permukaan yaitu air hujan.
Air tanah di Kota Magelang kurang menguntungkan jika dikembangkan mengingat air
tanah yang ada mayoritas cukup dalam dengan aquifer yang dangkal, sehingga sulit
untuk dikembangkan (dipompa).
Untuk kebutuhan air bersih Kota Magelang sampai saat ini bergantung pada sumber-
sumber air yang ada di luar wilayah Kota Magelang yaitu dari mata air yang berada di
wilayah Kabupaten Magelang dan satu-satunya mata air yang berada di Kawasan Kota
Magelang adalah Mata Air Tuk Pecah. Di kawasan Kota Magelang juga terdapat 2 (dua)
saluran air yaitu: (i) Kali Bening (Kali Kota), dan (ii) Kali Progo Manggis. Berdasarkan
data pemakaian air minum pada tahun 2016 sebesar 7.606.319 m3 . Apabila di
bandingkan dengan data tahun 2015 sebesar 7.434.942 m3 maka terjadi kenaikan
kebutuhan dari penggunaan air PDAM di Kota Magelang. Sementara data tahun 2017
penggunaan air PDAM sebanyak 7.633.558 m3/ tahun. Jumlah pemakaian air minum
terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Apabila perkiraan kebutuhan air bersih perorangan adalah sebesar 60 liter/hari maka
jika dikalikan dengan jumlah penduduk Kota Magelang pada tahun 2017 kapasitas
mata air yang tersedia masih mampu untuk mencukupi kebutuhan air bersih
masyarakat Kota Magelang walaupun masih mengandalkan sumber air yang berasal
dari kabupaten Magelang. Namun hal ini perlu menjadi perhatian untuk ke depan
mengingat semakin hari kebutuhan akan air bersih akan terus meningkat seiring
dengan bertambahnya jumlah penduduk padahal untuk memenuhi kebutuhan akan air
Kota Magelang masih bergantung pada mata air yang berada di daerah lain.
Rata-rata cakupan pelayanan air minum di Kota Magelang pada akhir Tahun 2017 baru
mencapaia sebesar 82,33 % melalui jaringan perpipaan dan 8,12% melalui Bukan
Jaringan Perpipaan (BJP). Salah satu kendala pemenuhan dalam pelayanan sistem
penyediaan air minum perpipaan ini adalah sistem jaringan yang sebagian besar sudah
berusia cukup lama dan bahkan ada yang peninggalan zaman Belanda. Kondisi pipa
transmisi saat ini dibeberapa titik sudah banyak kebocoran terutama untuk pipa
Aluminium Composite Panel (ACP), sedangkan untuk pipa ductile cast iron (DCIP)
kebocoran yang timbul kebanyakan pada sambungan karet (Rubbering). Disamping
kebocoran pada pipa transmisi, kebocoran juga terjadi pada jaringan distribusi yang
kurang layak dan kondisi perpipaan yang buruk sehingga menyebabkan tingginya tingkat
kebocoran air.
Gambar 3
Sumber Air dan Kapasitas Produksi
Elevasi: 474 M
PRODUKSI : 81 lt/det
Elevasi : 470 M
PRODUKSI : 87 lt/det
SPAM Mata Air Wulung & Karang (1920) SPAM Mata Air Tuk Pecah (2006)
Elevasi : 661 M
Elevasi : 315 M
Terpasang saat ini : 71 lt/det
Produksi: 71 lt/det
Terpasang saat ini : 102 lt/det
Elevasi : 302 M
PRODUKSI : 74 lt/det
Elevasi : 302 M
PRODUKSI : 69 lt/det
Salah satu solusi untuk mengatasi masalah kebocoran adalah dengan mengendalikan
jumlah kehilangan air di jaringan distribusi. Kehilangan air bisa disebabkan oleh beberapa
penyebab, termasuk kebocoran, kesalahan meteran, penggunaan publik misalnya untuk
keperluan pemadam kebakaran dan pembilasan, serta pencurian.
Angka kebocoran distribusi PDAM Kota Magelang pada tahun 2014 mencapai 41,57%.
Pada tahun 2017 angka kebocoran turun menjadi 37,12%. Tingginya angka kebocoran
ini karena masih lemahnya PDAM Kota Magelang menangani masalah kebocoran secara
teknis terutama karena pipa di jaringan distribusi yang telah tua sehingga rentan terhadap
kerusakan.
Pipa distribusi yang rusak menjadi faktor utama tingginya angka kebocoran air secara
teknis. Kerusakan pada pipa distribusi tidak hanya menyebabkan kehilangan air tetapi
juga menimbulkan resiko bagi kesehatan masyarakat, kerugian ekonomis akibat
tingginya biaya dan energi yang terbuang pada pemompaan dan resiko terhadap
infrastruktur seperti pondasi bangunan dan jalan. Dengan demikian, penurunan
kebocoran air dari jaringan distribusi adalah strategi penting dalam peningkatan
pemanfaatan air yang berkelanjutan.
Dalam target Suistainable Developments Goals (SDGs), pada tahun 2030 dicanangkan
bahwa setengah penduduk perkotaan yang belum terlayani sistem penyediaan air minum
harus sudah mendapatkan akses terhadap hal tersebut diatas. Melihat potensi yang ada
di Kota Magelang tentang sumber air yang dimanfaatkan sebagai sumber air baku pada
sistem penyediaan air minum PDAM Kota Magelang saat ini, masih terdapat idle capacity
yang cukup besar. Total kapasitas sumber yang digunakan dari 7 (tujuh) mata air adalah
967,46 lt/det, sedangkan kapasitas produksi saat ini mecapai 509,60 lt/det dan kapasitas
distribusi total 463,22 lt/det, sehingga apabila dilihat dari kapasitas sumber yang ada
dengan kapasitas produksi, masih terdapat sisa pada sumber sebesar 457,85 lt/det.
Berdasarkan paparan diatas dibutuhkan suatu konsep dasar yang kuat guna menjamin
ketersediaan air minum bagi masyarakat sesuai dengan tipologi dan kondisi daerah.
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) merupakan jawaban bagi dasar
pengembangan air minum suatu wilayah. Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
(RISPAM) dapat menjadi dasar tersusunnya program pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum (SPAM) wilayah yang berkelanjutan dan terarah.
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) adalah suatu rencana jangka
panjang (15-20) tahun yang merupakan bagian atau tahap awal dari perencanaan air
minum jaringan perpipaan dan non perpipaan berdasarkan proyeksi kebutuhan air minum
suatu priode yang dibagi dalam beberapa tahapan dan memuat komponen utama sistem
beserta dimensinya. Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM)
memperhatikan aspek keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi, sejak dari
sumber air hingga unit pelayanan, yang diwujudkan dalam bentuk gambar rencana induk
yang memuat antara lain lokasi sarana dan prasarana Sistem Penyediaan Air Minum,
sarana prasarana sanitasi dan rencana perlindungan dan pelestarian air.
Kewajiban menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) sesuai
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum, merupakan tanggung jawab Pemerintah Daerah. Untuk memenuhi
itu, Pemerintah Kota Magelang melaksanakan kegiatan penyusunan Rencana Induk Sistem
Penyediaan Air Minum (RISPAM) pada Tahun Anggaran 2019.
2.a Maksud
Maksud kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
Kota Magelang Tahun 2019 yaitu :
- Mengidentifikasi kebutuhan air minum pada daerah studi perencanaan,
khususnya di Kota Magelang.
- Mengetahui program yang dibutuhkan untuk pencapaian target pelayanan
Sistem Penyediaan Air Minum di Kota Magelang yang terukur pada setiap
tahapan rencana (per 5 tahun)
- Memberikan masukan bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan
Pemerintah Kota Magelang dalam upaya mengembangkan prasarana dan
sarana air minum di Kota Magelang melalui program yang berkelanjutan
serta terpadu dengan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan
2.b Tujuan
Tujuan Penyusunan Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum Kota
Magelang Tahun 2019 adalah tersusunnya dokumen Rencana Induk Sistem
Pengembangan Air Minum (SPAM), yang akan dapat menjadi pedoman
penyelenggaraan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kota
Magelang dan nantinya dilegalkan dan ditetapkan oleh Surat Keputusan Walikota
Magelang
2.c Sasaran
Sasaran Penyusunan Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum Kota
Magelang Tahun 2019 adalah :
- Identifikasi permasalahan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum di Kota
Magelang.
- Identifikasi kebutuhan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (unit air baku,
produksi, transmisi dan distribusi, cakupan pelayanan).
- Tersusunnya strategi dan program pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (pola
investasi dan pembiayaan, dan tahapan rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air
Minum).
- Memberikan arah bagi perencanaan pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
untuk periode 20 tahun kedepan. Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
merupakan dokumen yang dijadikan sebagai pedoman awal untuk perencanaan
pengembangan selanjutnya, sehingga melihat pentingnya penyusunan dokumen
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) ini maka dalam menyusun
dokumen harus mengikuti kaidah-kaidah yang dipersyaratkan agar dapat memberikan
arah yang benar bagi pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum di Kota
Magelang.
Pemerintah Kota Magelang yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Kota Magelang yang beralamat di Jalan Sarwo Edhie Wibowo
No. 2 Telp (0293) 363650 - 313126 Kota Magelang.
4. Sumber Pendanaan
5. Lokasi
Lokasi kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
Kota Magelang Tahun 2019 adalah Wilayah Administrasi Kota Magelang.
6. Data Dasar
Data penunjang Penyusunan Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
Kota Magelang Tahun 2019 meliputi data primer dan data sekunder. Data primer meliputi
data-data hasil survey, observasi lapangan, foto, video dan alat rekam lainnya.
Sedangkan data sekunder meliputi konsep yang ada dalam dokumen perencanaan
daerah dan peraturan perundang-undangan.
7. Standar Teknis
Standar teknis calon penyedia jasa konsultansi perencanaan memiliki kapasitas teknis
konsultansi perencanaan di bidang jasa studi, penelitian dan bantuan teknis yang
dibuktikan dengan sertifikat.
8. Referensi Hukum
Landasan hukum yang digunakan dalam kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Induk
Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kota Magelang Tahun 2019 adalah :
a. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.
c. Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang
d. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
e. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
f. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman.
g. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan.
h. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
9. Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Induk Sistem Penyediaan Air
Minum Kota Magelang Tahun 2019 meliputi :
Melakukan kegiatan pengumpulan data pada instansi-instansi terkait
pengelola air minum eksisting, khususnya data yang berkaitan erat dengan
sistem penyediaan air minum eksisting, kondisi air baku, cakupan
pelayanan, dan permasalahan yang berkaitan dengan air minum termasuk
kondisi kesehatan masyarakatnya.
Mengkaji kondisi daerah studi perencanaan, meliputi :
a. Kondisi dan karakteristik daerah/aspek fisik daerah.
b. Perkembangan Penduduk.
c. Gambaran mengenai perkembangan daerah.
d. Sumber air dan ketersediaannya.
e. Gambaran kondisi sistem air minum eksisting.
Melakukan diskusi/koordinasi dengan instansi terkait sebagai persamaan
persepsi program.
Melakukan kajian terhadap hasil studi terdahulu tentang sistem penyediaan
air minum di daerah studi, serta mengenai sistem penyediaan air minum
regional yang relevan.
Melakukan survey lapangan yang meliputi sumber air baku dan daerah
pelayanan.
Melakukan survey sosial dan ekonomi secara sampling melalui penyebaran
kuesioner kepada masyarakat di daerah studi yang dilakukan secara
random untuk mendapatkan informasi mengenai ketersediaan dan
kebutuhan air minum, termasuk didalam survey ini adalah mendapatkan
informasi yang akurat mengenai kemampuan dan keinginan membayar
masyarakat terhadap penyediaan air minum (Affordability & Willingness to
Pay).
Melakukan pemeriksaan sampel air terhadap sumber air baku yang mungkin
digunakan.
Menyajikan kondisi sistem pelayanan, cakupan pelayanan air minum
eksisting dalam bentuk tabulasi.
Melakukan perhitungan secara akurat mengenai kebutuhan air minum
masyarakat di wilayah studi sampai tahun 2040.
e. Intake
Perhitungan dan desain intake meliputi :
- Dimensi bangunan-bangunan intake.
- Alat ukur yang digunakan.
- Instalasi listrik.
- Alat pencatat tinggi muka air.
f. Instalasi Pengolahan Air
Perhitungan dan desain perencanaan instalasi meliputi :
- Dimensi masing-masing hidrolis (kehilangan-kehilangan energi
sepanjang aliran masuk hidrofor sampai reservoir (bawah)).
- Ground Reservoir, perhitungan volume dan dimensinya juga
dilampirkan perhitungan konstruksi dengan nota desain.
g. Perpipaan
Perhitungan dan desain perpipaan meliputi :
- Pipa Transmisi.
Perhitungan : panjang pipa, diameter dan kehilangan tekanan
sepanjang aliran.
- Penentuan jaringan pipa utama yang melayani distribusi.
- Penentuan letak-letak tapping (penyadapan).
- Menghitung debit aliran pada pipa dan diameter pipa utama.
· Menghitung kebutuhan masing-masing jalur pipa yang akan
ditapping.
h. Bangunan Penunjang
Bangunan penunjang meliputi Rumah Jaga dll sesuai dengan
kebutuhan.
i. Penggambaran
Penggambaran untuk masing-masing unit yaitu Ground Reservoir,
perpipaan dan drainase .
c. Operator Komputer
Operator Komputer disyaratkan minimal lulusan STM/SMK/SMA sederajat,
minimal 1 (satu) orang, memiliki pengalaman kerja sedikitnya 2 (dua) tahun
dalam bidang yang berkaitan dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan.
c. Tenaga Administrasi
Tenaga Administrasi disyaratkan minimal lulusan STM/SMA/SMK sederajat,
minimal 1 (satu) orang, memiliki pengalaman kerja serta pernah terlibat dalam
pekerjaan studi perencanan atau pekerjaan lainnya minimal 2 (dua) tahun.
b. Tahap Pelaksanaan
1. Penyajian perencanaan dan perancangan
2. Diskusi dengan Tim Penyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
(RISPAM) Kota Magelang Tahun 2019 untuk mengumpulkan masukan dan
penajaman konsep.
3. Membuat perencanaan dan perancangan Rencana Induk Sistem
Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kota Magelang.
15. Laporan
a. Laporan Pendahuluan
Laporan pendahuluan merupakan laporan awal pelaksanaan yang telah
didiskusikan dengan pihak pemberi tugas. Laporan pendahuluan memuat
tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja dan rencana/program kerja
pelaksanaan secara keseluruhan dari kegiatan yang disampaikan oleh pemberi
tugas, berkaitan dengan rencana survey, jenis survey yang akan dilaksanakan.
Serta dilengkapi rancangan awal yang berisi rencana kerja konsultan perencana
dan masukan penyajian desain obyek/kawasan strategis dan prioritas daerah.
Laporan pendahuluan dalam bentuk draft buku, harus diserahkan selambat-
lambatnya 30 (tiga puluh) hari, sebanyak 30 (tiga puluh) buku laporan, setelah
SPMK diterbitkan.
b. Laporan Antara
Laporan antara memuat hasil pengumpulan data dan hasil analisa/konsep serta
gambar sementara perencanaan dan perancangan Rencana Induk Sistem
Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kota Magelang.
Laporan antara dalam bentuk draft buku harus diserahkan selambat-lambatnya
akhir bulan ke-2 (dua), sebanyak 30 (tiga puluh) buku laporan antara, setelah
SPMK diterbitkan.
c. Laporan Akhir
Laporan akhir memuat perencanaan dan rancangan akhir yang telah didiskusikan
dengan pihak terkait, berisikan rencana dan rancangan meliputi kompilasi data
survey, hasil sintesa analisis, konsep pengembangan, dan rekomendasi dari
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) Kota Magelang.
Laporan akhir dalam bentuk buku harus diserahkan selambatnya pada akhir
bulan ke-3 (tiga), sebanyak 30 (tiga puluh) buku setelah SPMK diterbitkan.
BAB I. PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan secara ringkas mengenai latar belakang, maksud dan tujuan,
keluaran dari kegiatan ini, landasan hukum dan ruang lingkup kegiatan dalam
Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengembangan Air Minum (RISPAM) Kota
Magelang
d. Executive Summary
Executive Summary merupakan ringkasan laporan akhir dari hasil pelaksanaan
pekerjaan. Executive Summary dalam bentuk buku yang harus diserahkan
selambatnya akhir bulan ke-3 (tiga), sebanyak 30 (tiga puluh) buku setelah
SPMK diterbitkan.
16. Lain-Lain
Demikian, Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau Term of Reference (ToR) ini dibuat dalam
rangka memberi kejelasan (paling tidak secara garis besarnya) kepada semua pihak
yang berkepentingan terhadap kegiatan ini, baik maksud, tujuan maupun sasaran yang
akan dituju, dengan catatan bahwa segala bentuk materi dan makna yang telah disusun
ini masih belum dapat dikatakan sempurna. Oleh karenanya segala masukan dan
tanggapan dari berbagai pihak terkait sangat diharapkan sekali guna kesempurnaannya.
WIDOYOKO, [Link], MT
NIP. 19691113 199603 1 005