0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan41 halaman

U

U

Diunggah oleh

Dina Rista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan41 halaman

U

U

Diunggah oleh

Dina Rista
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

OPEN FRAKTUR RADIUS ULNA


DI RUANG ANGGREK 2 RS ORTOPEDI Prof. DR. R. SOEHARSO
SURAKARTA

Disusun Oleh :

1. Diah Ayu Kusuma W (16.0.P.064)


2. Dina Rista Pratiwi (16.0.P.067)
3. Malinda Rahmawati R (16.0.P.090)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MITRA HUSADA


PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
KARANGANYAR
2020
LATAR BELAKANG

Fraktur adalah terputusnya diskontinuitas susunan tulang, biasanya


disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Rendy & Margareth, 2012). Trauma
yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan
pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat
berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang
menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah. Akibat trauma pada tulang
bergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang
langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan
luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di
dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang yang disebut
fraktur dislokasi (Sjamsuhidayat, 2011). Badan kesehatan dunia mencatat di tahun
2011 terdapat lebih dari 5,6 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan
dan sekitar 1,3 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden
kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yaitu insiden fraktur
ekstrimitas bawah sekitar 40% dari insiden kecelakaan yang terjadi.
Fraktur di Indonesia menjadi penyebab kematian terbesar ketiga dibawah
penyakit jantung koroner dan tuberculosis. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) tahun 2013 didapatkan bahwa angka kejadian cidera
mengalami peningkatan dibandingkan dari hasil pada tahun 2007. Kasus fraktur
yang disebabkan oleh cedera antara lain karena terjatuh, kecelakaan lalu lintas dan
trauma benda tajam atau tumpul. Kecenderungan prevalensi cedera menunjukkan
kenaikan dari 7,5 % pada tahun 2007 menjadi 8,2% pada tahun 2013 (Kemenkes
RI, 2013). Peristiwa terjatuh terjadi sebanyak 45.987 dan yang mengalami fraktur
sebanyak 1.775 orang (58 %) turun menjadi 40,9%, dari 20.829, kasus kecelakaan
lalu lintas yang mengalami fraktur sebanyak 1.770 orang (25,9%) meningkat
menjadi 47,7%, dari 14.125 trauma benda tajam atau tumpul yang mengalami
fraktur sebanyak 236 orang (20,6%) turun menjadi 7,3%. Fraktur yang sering
terjadi yaitu fraktur femur. Fraktur femur adalah hilangnya kontinuitas tulang
paha tanpa atau disertai adanya kerusakan jaringan lunak (Helmi, 2012).

TUJUAN
a. Mengidentifikasi data hasil pengkajian pada pasien post operasi fraktur
b. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang dirumuskan pada pasien post
operasi fraktur
c. Mengidentifikasi intervensi yang direncanakan pada asuhan keperawatan
pasien post operasi fraktur
d. Mengidentifikasi implementasi yang dilakukan pada asuhan keperawatan
pasien post operasi fraktur
e. Mengidentifikasi hasil evaluasi pada asuhan keperawatan pasien post
operasi fraktur.

MANFAAT
a. Bagi perawat diharapakan dapat digunakan sebagai pedoman untuk
memberikan asuhan keperawatan pada pasien post operasi fraktur
b. Bagi management diharapkan dapat dijadikan bagan bagi kepala ruangan
dalam melakukan monitoring atau suvervisi tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien post operasi fraktur.
A. LAPORAN PENDAHULUAN
1. Pengertian
Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan
tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya Fraktur antebrachii
merupakan suatu perpatahan pada lengan bawah yaitu pada tulang radius
dan ulna dimana kedua tulang tersebut mengalami perpatahan. Dibagi
atas tiga bagian perpatahan yaitu bagian proksimal, medial , serta distal
dari kedua corpus tulang tersebut, yang dimaksud dengan antebrachii
adalah batang (shaft) tulang radius dan ulna (Bruner & Sudarh, 2010).
Fraktur terbuka merupakan salah satu klasifikasi jenis fraktur.
fraktur terbuka (compound) dalah fraktur yang menyebabkan robeknya
kulit). Secara klinis patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat atau
grade yaitu:
Derajat I : Terdapat luka tembus kecil seujung jarum, luka ini di
dapat dari tusukkan fragmen-fragmen tulang dari dalam.
Derajat II : Luka lebih besar disertai dengan kerusakan kulit subkutis.
Kadang-kadang ditemukan adanya benda-benda asing disekitar luka.
Derajat III : Luka lebih besar dibandingkan dengan luka pada derajat
II. Kerusakan lebih hebat karena sampai mengenai tendon dan otot-otot
saraf tepi.
(Corwin, Elizabeth J. 2009)

2. Anatomi Fisiologi
Lengan atas tersusun dari tulang lengan atas, tulang lengan bawah,
dan tulang tangan (Sloane 2012). Fungsi tulang adalah sebagai kerangka
tubuh, yang menyokong dan memberi bentuk tubuh,untuk memberikan
suatu sistem pengungkit, yang digerakkan oleh kerja otot-otot yang
melekat pada tulang tersebut, sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium
dan elemenelemen lain, untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan
putih dan trombosit dalam sumsum merah tulang tertentu. (Watson, 2012)
Tulang - tulang lengan bawah

a. Ulna
Ulna atau tulang hasta adalah tulang panjang berbentuk
prisma yang terletak sebelah medial lengan bawah, sejajar dengan
jari kelingking arah ke siku mempunyai taju yang disebut prosesus
olekrani, gunanya ialah tempat melekatnya otot dan menjaga agar
siku tidak membengkok kebelakang. Terdapat dua ekstremitas.
Ekstremitas proksima ulnaris, mempunyai insisura
semilunaris, persendian dengan trokhlea humeri, dibelakang ujung
terdapat benjolan yang disebut [Link] tepi distal dari
insisura semilunaris ulna terdapat prosesus koroideus ulna, bagian
distal terdapat tuberositas ulna tempat melekatnya M. brakialis,
bagian lateral terdapat insisura radialis ulna yang berhubungan
dengan karpi ulnaris.
Ekstremitas distalis ulna, yaitu kapitulum ulna yang
mempunyai prosessus stiloideus [Link] permukaan dorsalis
tempat melekatnya tendo M. Ekstensor karpi ulnaris yaitu sulkus
M. ekstensor karpi ulnaris.
b. Radius
Radius atau tulang pengumpil, letaknya bagian lateral, sejajar
dengan ibu jari. Di bagian yang berhubungan humerus dataran
sendinya berbentuk bundar yang memungkinkan lengan bawah
dapat berputar atau [Link] dua ujung (ekstremitas).
Ekstremitas proksilis, yang lebih kecil, terdapat pada kaput
radii yang terletak melintang sebelah atas dan mempunyai
persendian dengan humeri. Sirkumferensia artikularis yang
merupakan lingkaran yang menjadi tepi kapitulum radii
dipisahkan dengan insisura radialis ulna. Kapitulum radii
dipisahkan oleh kolumna radii dari korpus radii, bagian medial
kolumna radii terdapat tuberositas radii tempat melekatnya M.
biseps [Link] radii berbentuk prisma mempunyai tiga
permukaan (fasies).
Ekstremitas distalis radii, yang lebih besar dan agak rata
daripada bagian dorsalis, terdapat alur (sulkus) M. ekstensor karpi
[Link] sebelah lateral sulkus M. ekstensor kommunis dan
diatara kedua sulkus ini terdapat sulkus M. Ekstensor polisis
[Link] lateralis ekstremitas lateralis radii terdapat
tonjolan yang disebut prosesus stiloideus radii, bagian medial
ditemukan insisura ulnaris radii untuk persendian dengan
kapitulum.

3. Etiologi
a. Trauma langsung atau direct trauma, yaitu apabila fraktur terjadi di
tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya
benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang).
b. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma, misalnya penderita jatuh
dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada
pegelangan tangan
c. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang
itu sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan
hal ini disebut dengan fraktur patologis.
d. Kekerasan akibat tarikan otot, patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan,
penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
(Corwin, Elizabeth J. 2009)

4. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala fraktur radius ulna adalah nyeri, hilangnya
fungsi, deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan
lokal, dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci menurut Corwin,
Elizabeth J. 2009, sebagai berikut:
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran
fragmen pada fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas
(terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot tergantung
pada integritasnya tulang tempat melekatnya otot.
c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 sampai
5 cm (1 sampai 2 inci).
d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan
jaringan lunak yang lebih berat.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini
biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.

5. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.
Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam
korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma
di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian
tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi
terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi
plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang
merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
a. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan
fraktur.
b. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya
tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan,
elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
(Corwin, Elizabeth J. 2009)
6. Pathway
Tekanan/kekerasan
langsung/stress berulang

Reaksi inflamasi
Kerusakan fragmen tulang,
Pergeseran tulang cedera jaringan lunak
Pengeluaran
bradikinin dan
Deformitas berikatan dengan
Pembuluh darah terputus
nociceptor

Ekstermitas tidak dapat Perdarahan Pengeluaran mediator


berfungsi dengan baik
kimia (histamine)

Pengumpalan
Resiko darah (hematoma)
Jatuh Nyeri Pembengkakan
(tumor) dan
rubor
Devitaslisasi
Nyeri
(Hb Ht )
akut
Kerusakan
integritas
Dilatasi pembuluh kapiler kulit

Tekanan kapiler otot naik


Darah banyak
keluar

Histamine
menstimulasi otot Hb

Perfusi jaringan
Spasme otot

Vasokontriksi Gangguan
pembuluh darah perfusi
jaringan

Metabolisme
Penumpukan
anaerob
asam laktat

Nyeri
7. Komplikasi
a. Komplikasi Awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak
adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma
yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh
tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit,
tindakan reduksi, dan pembedahan.
2) Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan
dalam ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan
akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah
yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot.
Gejala – gejalanya mencakup rasa sakit karena
ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan
dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit
dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat, dan
paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur
tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna).
3) Fat Embolism Syndrom
Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat
menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung –
gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi
jaringan yang rusak. Gelombang lemak ini akan melewati
sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh –
pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas.
Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea,
perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung,
stupor), tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.
4) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada
jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit
(superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada
kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan
lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke
tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis
tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang
kurang baik. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular
femur (yaitu kepala dan leher), saat kepala femur berputar atau
keluar dari sendi dan menghalangi suplai darah. Karena nekrosis
avaskular mencakup proses yang terjadi dalam periode waktu
yang lama, pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya
sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi
pada pasien merupakan hal yang penting. Perawat harus
menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat
intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan
meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan
menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
7) Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum
dan korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari
luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam
tubuh). Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka
tembus, atau selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang
panjang, fraktur terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi
karena trauma dan fraktur – fraktur dengan sindrom
kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis
yang lebih besar
b. Komplikasi Dalam Waktu Lama
1) Delayed Union (Penyatuan tertunda)
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur
berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang
untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai
darah ke tulang.
2) Non union (tak menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan
fibrosa. Kadang-kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat
ini. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan non union adalah
tidak adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan
lebar dari fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat
patologis.
3) Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk
menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.

8. Pemeriksaan penunjang
a. [Link] dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang
yang cedera.
b. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scane
c. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
d. CCT kalau banyak kerusakan otot.
e. Pemeriksaan Darah Lengkap
1) Lekosit turun atau meningkat
2) Eritrosit dan Albumin turun
3) Hb
4) hematokrit sering rendah akibat perdarahan
5) LED meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas
6) Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah
7) Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.

9. Penatalaksanaan (medis dan keperawatan)


Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah :
a. Untuk menghilangkan rasa nyeri.
Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya
sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah
tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat
penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak
menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat
dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips.
1) Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah
sekeliling tulang.

2) Pemasangan gips
Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang
yang patah. Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh
sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan
gips adalah :
a) Immobilisasi dan penyangga fraktur
b) Istirahatkan dan stabilisasi
c) Koreksi deformitas
d) Mengurangi aktifitas
e) Membuat cetakan tubuh orthotic
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan
gips adalah :

a) Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan


b) Gips patah tidak bisa digunakan
c) Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat
membahayakan klien
d) Jangan merusak / menekan gips
e) Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips /
menggaruk
f) Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu
lama

b. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari


fraktur.
Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam
waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih
mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau
fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri.
1) Penarikan (traksi) :
Secara umum traksi dilakukan dengan menempatkan beban
dengan tali pada ekstermitas pasien. Tempat tarikan
disesuaikan sedemikian rupa sehingga arah tarikan segaris
dengan sumbu panjang tulang yang patah. Metode pemasangan
traksi antara lain :
a) Traksi manual
Tujuannya adalah perbaikan dislokasi, mengurangi
fraktur, dan pada keadaan emergency
b) Traksi mekanik, ada 2 macam :
(1) Traksi kulit (skin traction) : Dipasang pada dasar
sistem skeletal untuk sturktur yang lain misal otot.
Digunakan dalam waktu 4 minggu dan beban < 5 kg.
(2) Traksi skeletal: Merupakan traksi definitif pada orang
dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan
untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat
metal / penjepit melalui tulang / jaringan metal.

Kegunaan pemasangan traksi, antara lain :


a) Mengurangi nyeri akibat spasme otot
b) Memperbaiki & mencegah deformitas
c) Immobilisasi
d) Difraksi penyakit (dengan penekanan untuk nyeri tulang
sendi)
e) Mengencangkan pada perlekatannya
Prinsip pemasangan traksi :
a) Tali utama dipasang di pin rangka sehingga menimbulkan
gaya tarik
b) Berat ekstremitas dengan alat penyokong harus seimbang
dengan pemberat agar reduksi dapat dipertahankan
c) Pada tulang-tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan
khusus
d) Traksi dapat bergerak bebas dengan katrol
e) Pemberat harus cukup tinggi di atas permukaan lantai
2) Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau
batang logam pada pecahan-pecahan tulang.
Pada saat ini metode penatalaksanaan yang paling banyak
keunggulannya mungkin adalah pembedahan. Metode
perawatan ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Pada
umumnya insisi dilakukan pada tempat yang mengalami
cedera dan diteruskan sepanjang bidang anatomik menuju
tempat yang mengalami fraktur. Hematoma fraktur dan
fragmen-fragmen tulang yang telah mati diirigasi dari luka.
Fraktur kemudian direposisi dengan tangan agar menghasilkan
posisi yang normal kembali. Sesudah direduksi, fragmen-
fragmen tulang ini dipertahankan dengan alat-alat ortopedik
berupa pen, sekrup, pelat, dan paku.
Keuntungan perawatan fraktur dengan pembedahan yaitu :
a) Ketelitian reposisi fragmen tulang yang patah
b) Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf
yang berada didekatnya
c) Dapat mencapai stabilitas fiksasi yang cukup memadai
d) Tidak perlu memasang gips dan alat-alat stabilisasi yang
lain
e) Perawatan di RS dapat ditekan seminimal mungkin,
terutama pada kasus-kasus yang tanpa komplikasi dan
dengan kemampuan mempertahankan fungsi sendi dan
fungsi otot hampir normal selama penatalaksanaan
dijalankan
c. Agar terjadi penyatuan tulang kembali
Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam
waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu
6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan
tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang
d. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula
Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya
otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi
secepat mungkin.

10. Rencana Keperawatan


a. Anamnesa
1) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa
yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa
medis.
2) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa
nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan
lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap
tentang rasa nyeri klien digunakan:
a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi
yang menjadi faktor presipitasi nyeri.
b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.
c) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda,
apakah rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa
sakit terjadi.
d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi
kemampuan fungsinya.
e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah
bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari
fraktur, yang nantinya membantu dalam membuat rencana
tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya
penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan kekuatan
yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain itu,
dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa
diketahui luka kecelakaan yang lain
4) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur
dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut akan
menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker tulang
dan penyakit paget’s yang menyebabkan fraktur patologis yang
sering sulit untuk menyambung. Selain itu, penyakit diabetes
dengan luka di kaki sanagt beresiko terjadinya osteomyelitis
akut maupun kronik dan juga diabetes menghambat proses
penyembuhan tulang
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur,
seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa
keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan secara
genetik
6) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta
respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
7) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1) Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus fraktur akan timbul ketidakutan akan terjadinya
kecacatan pada dirinya dan harus menjalani
penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan
tulangnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan
hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian
alkohol yang bisa mengganggu keseimbangannya dan
apakah klien melakukan olahraga atau tidak
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein,
vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat
terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari
yang kurang merupakan faktor predisposisi masalah
muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu juga
obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien
3) Pola Eliminasi
Untuk kasus fraktur humerus tidak ada gangguan pada pola
eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi
alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,
kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini
juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak,
sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan
tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada
lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan
kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
5) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua
bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan
klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang
perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan
klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk
terjadinya fraktur dibanding pekerjaan yang lain
6) Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap
7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image)
8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada
bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak
timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak
mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri
akibat fraktur
9) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa
melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat
inap dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami
klien. Selain itu juga, perlu dikaji status perkawinannya
termasuk jumlah anak, lama perkawinannya
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan
dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan
fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien
bisa tidak efektif.
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan
beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.
Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak
klien

1. Pemeriksaan Fisik
Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
a. Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,
oedema, nyeri tekan.
b. Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
c. Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
d. Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi
maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema
e. Mata
Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi
perdarahan)
f. Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi
atau nyeri tekan
g. Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
h. Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa
mulut tidak pucat.
i. Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
j. Paru
1) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
4) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.
k. Jantung
1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
l. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
3) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
4) Auskultasi
Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.
m. Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
n. Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama
mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler à 5 P
yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada
sistem muskuloskeletal adalah:
1) Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operasi).
b) Cape au lait spot (birth mark).
c) Fistulae.
d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau
hyperpigmentasi.
e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal
yang tidak biasa (abnormal).
f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2) Feel (palpasi)
3) Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita
diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada
dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban
kulit. Capillary refill time à Normal > 3 detik
b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau
oedema terutama disekitar persendian.
c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3
proksimal, tengah, atau distal).
d) Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan
yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang.
Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada
benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan
permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar
atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya
e) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan
dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah
terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup
gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum
dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran
derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi
netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau
tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan
pasif.
b. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan kriteria Intervensi TTD
hasil
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri (1400)
berhubunga tindakan 1. Kaji nyeri komprehensif
n dengan keperawatan yang meliputi lokasi,
agens cedera selama 3x24 jam karakteristik, frekuensi,
fisik diharapkan nyeri beratnya nyeri dan faktor
prosedur berkurang dengan pencetus.
bedah kriteria hasil : 2. Dukung istirahat yang
- Skala nyeri ≤ 1 adekuat untuk membantu
- TTV dalam penurunan nyeri
batas normal 3. Ajarkan penggunaan
- Pasien tidak teknik non farmakologi
mengeluh nyeri (relakasi)
4. Kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian
analesik
a.
2 Gangguan Setelah dilakukan 1. monitor kulit adanya
integritas tindakan kemerahan
kulit keperawatan 2. monitor aktivitas dan
berhubunga selama 3x24 jam mobilisasi pasien
n dengan diharapkan : 3. lakukan perawatan luka
Factor - integritas kulit 4. Edukasi pasien untuk
mekanik : baik bisa di mengunakan pakaian
pembedahan pertahankan longgar
- luka operasi 5. Kolaborasi dengan
tampak bersih dan dokter dalam pemberian
kering antibiotik

3 Resiko jatuh Setelah dilakukan 1.


berhubunga tindakan 1. identifikasi kebutuhan
n dengan keperawatan keamanan pasien
kelemahan selama 3x24 jam 2. gunakan peralatan
otot diharapkan pasien protektif untuk membatasi
tidak mengalami mobilitas terhadap situasi
jatuh dengan yang membahayakan
kriteria hasil: berdasarkan kondisi fisik
-berikan bantuan dan fungsi kognitif
saat bergerak 3. edukasi pasien dan
-pengaman bed keluarga mengenai resiko
terpasang untuk jatuh pada pasien
mencegah pasien 4. kolaborasi dengan
terjatuh keluarga dalam pemberian
-kunci roda tempat posisi aman
tidur selalu
terkunci
ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian
A. Identitas pasien
Nama : Ny W
Umur/tgl lahir : 83 tahun/01-06-1936
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Semarang
Tanggal masuk : 05-01-2020
Diagnosa medis : Open fraktur radius ulna
B. Penanggung jawab
Nama : Ny. T
Umur : 49 th
Alamat : Semarang
Pekerjaan : IRT
Hubungan dg pasien : Anak

II. Riwayat kesehatan


A. Keluhan Utama Saat Masuk RS
Keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami nyeri pada tangan
sebelah kiri.
B. Keluhan Utama Saat Pengkajian
Keluarga pasien mengatakan pasien mengeluh nyeri pada tangan kiri
setelah dilakukan operasi, nyeri terasa saat digerakkan dengan skala 6
secara hilang timbul di sekiar luka operasi.
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluarga pasien mengatakan kakinya terkadang gemetar saat berjalan,
kemudian pasien mengalami jatuh terpeleset di rumah dan dilarikan ke
IGD tanggal 5 Januari 2020 dengan keluhan tangan sakit, tidak bisa
digerakkan, terasa kaku dan sedikit bengkak. Pada tanggal 6 Januari 2020
pasien dipindah ke bangsal Anggrek 2 dan direncanakan untuk menjalani
proses operasi, saat dilakukan pengkajian terdapat balutan luka operasi di
tangan kiri, tampak pembekakan pada kulit disekitar luka, panjang luka 3
cm, terpasang gelang kuning (resiko jatuh) pada tangan kanan.
D. Riwayat Kesehatan Dahulu
Keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat hipertensi.
sebelumnya pasien tidak pernah operasi, pasien hanya sakit ringan seperti
flu, demam, dan masuk angin saja. Pasien mengonsumsi obat di toko
ketika mengalami sakit.
E. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga pasien mengatakan dari kesehatan keluarga menurunkan riwayat
hipertensi

Keterangan :

: Perempuan
: Laki- laki

: Garis pernikahan

: Garis keturunan

X : Meninggal

: Paisen

: Tinggal serumah

F. Riwayat Kesehatan Lingkungan


Keluarga pasien mengatakan lingkungan pada tempat tinggal pasien sehat,
dan ventilasi udara cukup. Tidak ada polusi udara dan limbah air rumah
tangga tidak tercemar. Sampah terkelola dengan baik.
G. Riwayat Psikososial Dan Kultur
Keluarga pasien mengatakan, pasien berbudaya jawa dan tidak mengalami
masalah dalam bermasyarakat. Keluarga pasien mengatakan pasien rutin
mengikuti kegiatan posyandu lansia.

III. Pemeriksaan fisik


A. Keadaan Umum
Tingkat kesadaran : Composmentis
Suhu tubuh : 37,2ºC
Nadi : 88 x/menit
Pernafasan : 22 x/menit
Tekanan darah : 150/90 mmHg
BB/TB : 65 kg/150 cm
B. Pemeriksaan Chepalo Caudal
a) Kepala : mesocephal
Bentuk kepala : bulat
Rambut : putih/beruban
Kulit kepala : terdapat sedikit kotoran (ketombe)
b) Mata
Konjungtiva : ananemis
Sclera : ikterik
Pupil : isokor
c) Hidung
Cuping hidung : simetris
Terdapat kotoran dan rambut hidung
d) Telinga
Telinga terdapat sedikit serumen
e) Mulut : mukosa bibir lembab, gigi sudah tidak
ada/ompong.
f) Leher : tidak terdapat peningkatan JPV, tidak terdapat lesi
g) Thorak :
Paru (IPPA) : RR 20 x/m, simetris tidak ada bekas luka,
pengembangan otot dada kanan dan kiri simetris , tidak terdapat alat
bantu
Jantung (IPPA): nadi 88 x/m tidak ada bekas luka, suara pekak dan
tidak ada suara jantung tambahan
Payudara : tidak terdapat benjolan
Punggung : tidak ada bekas luka, bentuk simetris
h) Abdomen
I : simetris, tidak terdapat asites
A : peristaltik usus 11x/m
P : timpani
P : tidak ada nyeri tekan
i) Inguinal : tidak ada pembesaran kelenjar limfa
j) Genital : terpasang kateter
k) Ekstermitas :
Ekstremitas atas :
Tangan kanan : terpasang infus RL 20 tpm, turgor kulit baik, capillary
revile < 2 detik, kekuatan otot 4, terpasang gelang kuning (resiko
jatuh)
Tangan kiri : terdapat fraktur radius ulna sinistra. Gerakan terbatas,
kekuatan otot 2, ada pembekakan disekitar luka, terdapat balutan di
area luka
Ekstremitas bawah :
Kaki kanan : kekuatan otot 4, turgor kulit baik. Capillary revie < 2
detik. Tidak ada pembekakan.
Kaki kiri : kekuatan otot 4, turgor kulit baik. Capillary revie < 2
detik. Tidak ada pembekakan.

IV. Pengkajian pola fungsional (11 pola fungsional Gordon)


A. Pola Persepsi Dan Managemen Terhadap Kesehatan
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan pasien menjaga pola
makan dan mengikuti kegiatan posyandu lansia
Selama sakit : keluarga pasien mngatakan pasien lebih banyak
beristirahat di tempat tidur.
B. Pola Nutrisi Dan Metabolik
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan pasien makan 3x
sehari dan 1 porsi habis
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan pasien makan 3x sehari
menu makanan dari RS, dan habis setengah porsi.
C. Pola Eliminasi
2. BAB (buang air besar)
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan pasien saat
sebelum sakit pasien BAB dua hari sekali, berwarna kuning
kecoklatan, sedikit lembek.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan pasien selama
sakit pasien belum pernah BAB.
3. BAK (buang air kecil)
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan pasien buang air kecil
sehari 5 kali, berwarna kuning dengan jumlah ±2.000cc, tidak ada
keluhan saat melakukan buang air kecil.
Selama sakit : pasien terpasang kateter dengan jumlah
400cc.
D. Pola Aktifitas Dan Latihan
Sebelum sakit :
Kemampuan perawatan 0 1 2 3 4
diri
Makan/minum V
Mandi V
Toileting V
Berpakaian V
Mobilitas di tempat tidur V
Berpindah V
Ambulasi/ROM V

Selama sakit :

Kemampuan perawatan 0 1 2 3 4
diri
Makan/minum V
Mandi V
Toileting V
Berpakaian V
Mobilitas di tempat tidur V
Berpindah V
Ambulasi/ROM V
0 : mandiri, 1 : alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3 : dibantu orang lain dan
alat, 4 : tergantung total
E. Pola Istirahat Dan Tidur
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien tidur cukup
dan tidak mengalami gangguan tidur.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasca oprasi ini pasien lebih
banyak tidur.
F. Pola Persepsi Dan Kognitif
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami
hambatan dalam berkomunikasi karena mengalami penurunan
pendengaran, penurunan daya ingat dan cara berbicara.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami nyeri
akibat fraktur yang di derita
G. Pola Persepsi Dan Konsep Diri
Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan, pasien baik baik
saja, mengikuti posyandu lansia yang ada di desanya
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien lebih banyak
beristirahat karena fraktur yang diderita
H. Pola Peran Dan Hubungan
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien
mengalami hubungan baik di masyarakat dan keluarga
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami hambatan
dalam berinteraksi di keluarga dan masyarakat karena menjalani
perawatan di rumah sakit
I. Pola Seksual Dan Reproduksi
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien telah
mengalami menopose
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien telah mengalami
menopose.
J. Pola Koping Dan Toleransi Terhadap Stress
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien bisa
mengatasi masalah ataupun stress yang dihadapnya
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien takut mengalami
kecacatan pada dirinya
K. Pola Nilai Dan Kepercayaan
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien menjalankan
ibadah sholat 5 waktu.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien kadang-kadang
melakukan ibadah sholat 5 waktu.
V. Data penunjang
2. Program terapi
Hr/Tgl Nama Obat Cara pemberian Dosis
Selasa,7 Jan RL IV 500 ml/8 jam
2020 s/d Cefazolin IV 1 gram/8 jam
kamis,9 Jan Ketorolac IV 1 gram/8 jam
2020
Candesartan Oral 16 mg/24 jam
3. Hasil pemeriksaan laborat
Nama Test Hasil Unit Nilai Rujukan
Hematologi
Darah rutin
Hemoglobin 11,9 g/dL 11.5-15
Hematokrit 34 % 37-47
Leukosit 15200 /uL 4.000-10.000
Eritrosit 3,79 Juta/ul 3.50-5.50
Trombosit 254000 /uL 150.000-500.000
4. Hasil rontgen
Terdapat fraktur 1/3 diradius ulna sinistra

VI. Analisa Data


Data Problem Etiologi TTD
Ds. Nyeri akut agens cedera fisik
Keluarga pasien prosedur bedah
mengatakan, pasien
mengeluh nyeri tangan kiri
setelah dilakukan operasi.
Nyeri bertambah jika
digerakan dengan skala 6.

P : nyeri bertambah saat


digerakan
Q : nyeri berdenyut-denyut
R : nyeri pada tangan kiri
S : skala nyeri 6
T : nyeri hilang timbul

Do.
Pasien tampak meringis
menahan sakit
Tanda-tanda vital :
TD : 150/90 mmHg
N : 88 x/m
R : 22 x/m
S : 37,2 C

Ds: - Kerusakan Factor mekanik :


integritas kulit pembedahan
Do.
-tampak balutan luka
operasi pada lengan kiri
-tampak pembekakan pada
kulit disekitar luka
- panjang luka 3 cm.
Ds : Resiko jatuh Kelemahan otot
- keluarga pasien
mengatakan pasien
mengalami terkadang kaki
gemetar saat berjalan

Do
- Terpasang gelang warna
kuning (resiko jatuh) di
tangan kanan pasien
-pasien tampak tidur di
pinggir tempat tidur
-pada gelang pasien tertulis
01-06-1936 (83 tahun)

VII. Diagnosa Keperawatan (NANDA)


a. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera fisik prosedur bedah
b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan Factor mekanik :
pembedahan
c. Resiko jatuh berhubungan dengan kelemahan otot
VIII. Perencanaan/Rencana Tindakan (NOC dan NIC)
No Hr/tgl Dx Tujuan kriteria hasil Intervensi TTD
1 7/1/2020 1 Setelah dilakukan Manajemen nyeri (1400)
tindakan 1. Kaji nyeri komprehensif
keperawatan selama yang meliputi lokasi,
3x24 jam karakteristik, frekuensi,
diharapkan nyeri beratnya nyeri dan faktor
berkurang dengan pencetus.
kriteria hasil : 2. Dukung istirahat yang
- Skala nyeri ≤ 1 adekuat untuk membantu
- TTV dalam penurunan nyeri
batas normal 3. Ajarkan penggunaan
- Pasien tidak teknik non farmakologi
mengeluh nyeri (relakasi)
4. Kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian
analesik
d.
2 7/1/2020 2 Setelah dilakukan 1. monitor kulit adanya
tindakan kemerahan
keperawatan selama 2. monitor aktivitas dan
3x24 jam mobilisasi pasien
diharapkan : 3. lakukan perawatan luka
- integritas kulit 4. Edukasi pasien untuk
baik bisa di mengunakan pakaian
pertahankan longgar
- luka operasi 5. Kolaborasi dengan
tampak bersih dan dokter dalam pemberian
kering antibiotik

3 7/1/2020 3 Setelah dilakukan 4.


tindakan 1. identifikasi kebutuhan
keperawatan selama keamanan pasien
3x24 jam 2. gunakan peralatan
diharapkan pasien protektif untuk membatasi
tidak mengalami mobilitas terhadap situasi
jatuh dengan yang membahayakan
kriteria hasil: berdasarkan kondisi fisik
-berikan bantuan dan fungsi kognitif
saat bergerak 3. edukasi pasien dan
-pengaman bed keluarga mengenai resiko
terpasang untuk jatuh pada pasien
mencegah pasien 4. kolaborasi dengan
terjatuh keluarga dalam pemberian
-kunci roda tempat posisi aman
tidur selalu terkunci
IX. Implementasi
Nama : Ny. W No. Reg : 3397XX
Dx Medis : Open fraktur radius ulna Ruang : Anggrek II
Tgl/jam No. Implementasi Respon Klien TTD
Dx
7 Jan 2020 1,2,3 Mengobservasi S: Pasien mengatakan
08.00 tanda-tanda vital sedikit pusing

O:
TD: 150/90 mmHg
N : 88x/m
RR : 22 x/m
Suhu: 37,2 C
1 Mengkaji nyeri S: Pasien mengatakan masih
09.00 WIB terasa nyeri pada luka post
operasi
P: nyeri bertambah saat
digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan
kiri
S: Skala nyeri 6
T: Nyeri hilang timbul

O: pasien tampak meringis,


memegangi area yang sakit

09.30 WIB 2 memonitor kulit S: -


adanya kemerahan
O: luka pasien tampak tidak
ada kemerahan
10.00 WIB 3 mengidentifikasi S: -
kebutuhan keamanan
pasien O: pasien tampak memakai
gelang kuning ditangan
sebelah kanan (resiko jatuh),
pengaman bed terpasang
dengan aman, kunci roda
tempat tidur terkunci.
12.30 WIB 3 mengedukasi pasien S: keluarga mengatakan
dan keluarga telah mengetahui resiko
mengenai resiko jatuh pada pasien setelah
jatuh pada pasien diberi edukasi
O: Pasien dan keluarga
tampak kooperatif dengan
apa yang diajarkan
08/01/2020 1,2,3 Mengobservasi S: Pasien mengatakan
08.00 WIB tanda-tanda vital sedikit pusing

O:
TD: 140/90 mmHg
N : 84x/m
RR : 20 x/m
Suhu: 36,9 C
10.00 WIB 1 Mengkaji nyeri S: Pasien mengatakan masih
terasa nyeri pada luka post
oprasi
O:
P: nyeri bertambah saat
digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan
kiri
S: Skala nyeri 3
T: Nyeri hilang timbul
13.00 WIB 1 Pemberian injeksi S: pasien mengatakan masih
- Cefazolin 1 gr terasa sedikit nyeri
- Ketorolac 30
mg O: injeksi sudah diberikan
lewat intravena
15.00 WIB 1 Mengajarkan S: pasien mengatakan sudah
penggunaan teknik bisa melakukan teknik
non farmakologi relaksasi setelah diajarkan
(relakasi) relaksasi
O: pasien tampak
melakukan relaksasi nafas
dalam, pasien tampak lebih
rileks setelah melakukan
relaksasi
16.00 WIB 2 Edukasi pasien untuk S: -
mengunakan pakaian
longgar O: Pasien tampak
menggunakan baju longgar
17.00 WIB 3 mengunakan S: -
peralatan protektif
untuk membatasi O: pasien tampak
mobilitas terhadap menggunakan pengaman
situasi yang pada tempat tidurnya
membahayakan
21.00 WIB 1 Pemberian injeksi S: pasen mengatakan nyeri
- Cefazolin 1 gr sudah berkurang
- Ketorolac 30 mg
O: injeksi sudah diberikan
lewat IV
09/01/2020 1,2, Mengobservasi S: Pasien mengatakan sudah
08.00 WIB 3 tanda-tanda vital tidak pusing

O:
TD: 130/80 mmHg
N : 82x/m
RR : 20 x/m
Suhu: 36,5 C
09.00 WIB 1 Mengkaji nyeri S: Pasien mengatakan nyeri
sudah berkurang

O:
P: nyeri bertambah saat
digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan
kiri
S: Skala nyeri 1
T: Nyeri hilang timbul
10.00 WIB 2 melakukan perawatan S: pasien mengatakan lebih
luka nyaman setelah dilakukan
perawatan

O: Luka pasien tampak


bersih dan kering, bengkak
berkurang
13.00 WIB 1 Pemberian injeksi S: pasien mengatakan sudah
- Cefazolin 1 gr tidak nyeri setelah diberi
- Ketorolac 30 mg obat

O: injeksi sudah diberikan


lewat IV
15.00 WIB 3 mengedukasi pasien S: keluarga mengatakan
dan keluarga telah mengetahui resiko
mengenai resiko jatuh pada pasien setelah
jatuh pada pasien diberi edukasi

O: Pasien dan keluarga


tampak kooperatif dengan
apa yang diajarkan
21.00 WIB 1 Pemberian injeksi S: pasien mengatakan sudah
- Cefazolin 1 gr tidak nyeri setelah diberi
- Ketorolac 30 mg obat

O: injeksi sudah diberikan


melalui intravena

X. Evaluasi
Hari/tgl/jam No Dx Evaluasi Ttd
Selasa 1 S: Pasien mengatakan masih terasa nyeri pada
07-01-2020 luka post operasi di tangan kiri
14.00 WIB P: nyeri bertambah saat digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan kiri
S: Skala nyeri 6
T: Nyeri hilang timbul
O:
Tanda-tanda vital :
TD : 150/90 mmHg
N : 88 x/m
R : 22 x/m
S : 37,2 C
Klien tampak meringis menahan sakit
A: masalah nyeri belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan
- Manajemen nyeri
- Ajarkan relaksasi
- Berikan obat analgesik sesuai program
terapi
2 S: -
O: terdapat balutan luka post operasi pada
tangan kiri, luka pasien tampak tidak ada
kemerahan tetapi sedikit bengkak
Panjang luka 3cm
Terpasang infus RL pada tangan sebelah kanan
A: masalah integritas kulit belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan
- Mengobservasi tanda-tanda vital
- Edukasi pasien untuk mengunakan
pakaian longgar
- Berikan injeksi antibiotic sesuai
program

3 S: keluarga mengatakan telah mengetahui


resiko jatuh pada pasien setelah diberi edukasi
tentang resiko jatuh
O: Pasien dan keluarga tampak kooperatif
dengan apa yang diajarkan,
pasien tampak memakai gelang kuning
ditangan sebelah kanan (resiko jatuh)
A: resiko jatuh belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan
- mengobservasi tanda-tanda vital
- pantau pegaman bed pasien dan kunci
roda tempat tidur pasien

Rabu 1 S: pasien mengatakan sudah bisa melakukan


08-01-2020 teknik relaksasi setelah diajarkan relaksasi,
21.00 WIB nyeri terasa berkurang
P = nyeri bertambah saat digerakkan
Q = nyeri saa digerakkan
R = nyeri pada bagian lengan kiri
S = skala nyeri 3
T = nyeri hilang timbul
O: pasien tampak melakukan relaksasi nafas
dalam, klien tampak lebih rileks
TD: 140/90 mmHg
N : 84x/m
RR : 20 x/m
Suhu: 36,9 C
A: masalah nyeri teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
- kaji nyeri
- kolaborasi dengan dokter untuk
pemberian analgesik sesuai terapi

2 S: -
O: terdapat balutan luka post operasi pada
tangan kiri, luka pasien tampak tidak ada
kemerahan tetapi sedikit bengkak, pasien
tampak menggunakan baju longgar
Panjang luka 3cm
Terpasang infus RL pada tangan sebelah kanan
A: masalah integritas kulit teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
- Mengobservasi tanda-tanda vital
- melakukan perawatan luka

3 S: -
O: pasien tampak menggunakan pengaman bed
pada tempat tidurnya, roda pada tempat tidur
tampak terkunci
A: masalah resiko cedera teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
- Mengobservasi tanda-tanda vital
- mengedukasi pasien dan keluarga
mengenai resiko jatuh pada pasien

Kamis 1 S: pasien mengatakan sudah bisa melakukan


09-01-2020 teknik relaksasi setelah diajarkan relaksasi,
21.00 WIB nyeri terasa berkurang
O: pasien tampak melakukan relaksasi nafas
dalam, pasien tampak lebih nyaman
P: nyeri bertambah saat digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan kiri
S: Skala nyeri 1
T: Nyeri hilang timbul
A: masalah nyeri teratasi
P: intervensi dihentikan

2 S: pasien mengatakan lebih terasa nyaman


pada tangan kiri setelah diganti balutan luka
operasi
O: terdapat balutan luka post operasi pada
tangan kiri, luka pasien tampak bersih dan
kering, bengkak berkurang, panjang luka 3cm,
sudah tidak terpasang infus pada tangan kanan
A: masalah integritas kulit teratasi
P: intervensi dihentikan

3 S: keluarga mengatakan telah mengetahui


resiko jatuh pada pasien setelah diberi edukasi
mengenai resiko jatuh
Keluarga pasien mengatakan pasien terlihat
lebih aman dan nyaman
O: Pasien dan keluarga tampak kooperatif
dengan apa yang diajarkan, pasien tampak
menggunakan pengaman bed pada tempat
tidurnya, roda pada tempat tidur tampak
terkunci
A: masalah resiko jatuh teratasi
P: intervensi dihentikan

Anda mungkin juga menyukai