U
U
Disusun Oleh :
TUJUAN
a. Mengidentifikasi data hasil pengkajian pada pasien post operasi fraktur
b. Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang dirumuskan pada pasien post
operasi fraktur
c. Mengidentifikasi intervensi yang direncanakan pada asuhan keperawatan
pasien post operasi fraktur
d. Mengidentifikasi implementasi yang dilakukan pada asuhan keperawatan
pasien post operasi fraktur
e. Mengidentifikasi hasil evaluasi pada asuhan keperawatan pasien post
operasi fraktur.
MANFAAT
a. Bagi perawat diharapakan dapat digunakan sebagai pedoman untuk
memberikan asuhan keperawatan pada pasien post operasi fraktur
b. Bagi management diharapkan dapat dijadikan bagan bagi kepala ruangan
dalam melakukan monitoring atau suvervisi tentang pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien post operasi fraktur.
A. LAPORAN PENDAHULUAN
1. Pengertian
Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan
tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya Fraktur antebrachii
merupakan suatu perpatahan pada lengan bawah yaitu pada tulang radius
dan ulna dimana kedua tulang tersebut mengalami perpatahan. Dibagi
atas tiga bagian perpatahan yaitu bagian proksimal, medial , serta distal
dari kedua corpus tulang tersebut, yang dimaksud dengan antebrachii
adalah batang (shaft) tulang radius dan ulna (Bruner & Sudarh, 2010).
Fraktur terbuka merupakan salah satu klasifikasi jenis fraktur.
fraktur terbuka (compound) dalah fraktur yang menyebabkan robeknya
kulit). Secara klinis patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat atau
grade yaitu:
Derajat I : Terdapat luka tembus kecil seujung jarum, luka ini di
dapat dari tusukkan fragmen-fragmen tulang dari dalam.
Derajat II : Luka lebih besar disertai dengan kerusakan kulit subkutis.
Kadang-kadang ditemukan adanya benda-benda asing disekitar luka.
Derajat III : Luka lebih besar dibandingkan dengan luka pada derajat
II. Kerusakan lebih hebat karena sampai mengenai tendon dan otot-otot
saraf tepi.
(Corwin, Elizabeth J. 2009)
2. Anatomi Fisiologi
Lengan atas tersusun dari tulang lengan atas, tulang lengan bawah,
dan tulang tangan (Sloane 2012). Fungsi tulang adalah sebagai kerangka
tubuh, yang menyokong dan memberi bentuk tubuh,untuk memberikan
suatu sistem pengungkit, yang digerakkan oleh kerja otot-otot yang
melekat pada tulang tersebut, sebagai reservoir kalsium, fosfor, natrium
dan elemenelemen lain, untuk menghasilkan sel-sel darah merah dan
putih dan trombosit dalam sumsum merah tulang tertentu. (Watson, 2012)
Tulang - tulang lengan bawah
a. Ulna
Ulna atau tulang hasta adalah tulang panjang berbentuk
prisma yang terletak sebelah medial lengan bawah, sejajar dengan
jari kelingking arah ke siku mempunyai taju yang disebut prosesus
olekrani, gunanya ialah tempat melekatnya otot dan menjaga agar
siku tidak membengkok kebelakang. Terdapat dua ekstremitas.
Ekstremitas proksima ulnaris, mempunyai insisura
semilunaris, persendian dengan trokhlea humeri, dibelakang ujung
terdapat benjolan yang disebut [Link] tepi distal dari
insisura semilunaris ulna terdapat prosesus koroideus ulna, bagian
distal terdapat tuberositas ulna tempat melekatnya M. brakialis,
bagian lateral terdapat insisura radialis ulna yang berhubungan
dengan karpi ulnaris.
Ekstremitas distalis ulna, yaitu kapitulum ulna yang
mempunyai prosessus stiloideus [Link] permukaan dorsalis
tempat melekatnya tendo M. Ekstensor karpi ulnaris yaitu sulkus
M. ekstensor karpi ulnaris.
b. Radius
Radius atau tulang pengumpil, letaknya bagian lateral, sejajar
dengan ibu jari. Di bagian yang berhubungan humerus dataran
sendinya berbentuk bundar yang memungkinkan lengan bawah
dapat berputar atau [Link] dua ujung (ekstremitas).
Ekstremitas proksilis, yang lebih kecil, terdapat pada kaput
radii yang terletak melintang sebelah atas dan mempunyai
persendian dengan humeri. Sirkumferensia artikularis yang
merupakan lingkaran yang menjadi tepi kapitulum radii
dipisahkan dengan insisura radialis ulna. Kapitulum radii
dipisahkan oleh kolumna radii dari korpus radii, bagian medial
kolumna radii terdapat tuberositas radii tempat melekatnya M.
biseps [Link] radii berbentuk prisma mempunyai tiga
permukaan (fasies).
Ekstremitas distalis radii, yang lebih besar dan agak rata
daripada bagian dorsalis, terdapat alur (sulkus) M. ekstensor karpi
[Link] sebelah lateral sulkus M. ekstensor kommunis dan
diatara kedua sulkus ini terdapat sulkus M. Ekstensor polisis
[Link] lateralis ekstremitas lateralis radii terdapat
tonjolan yang disebut prosesus stiloideus radii, bagian medial
ditemukan insisura ulnaris radii untuk persendian dengan
kapitulum.
3. Etiologi
a. Trauma langsung atau direct trauma, yaitu apabila fraktur terjadi di
tempat dimana bagian tersebut mendapat ruda paksa (misalnya
benturan, pukulan yang mengakibatkan patah tulang).
b. Trauma yang tak langsung/ indirect trauma, misalnya penderita jatuh
dengan lengan dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada
pegelangan tangan
c. Trauma ringan pun dapat menyebabkan terjadinya fraktur bila tulang
itu sendiri rapuh/ ada resiko terjadinya penyakit yang mendasari dan
hal ini disebut dengan fraktur patologis.
d. Kekerasan akibat tarikan otot, patah tulang akibat tarikan otot sangat
jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan,
penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan.
(Corwin, Elizabeth J. 2009)
4. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala fraktur radius ulna adalah nyeri, hilangnya
fungsi, deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan
lokal, dan perubahan warna yang dijelaskan secara rinci menurut Corwin,
Elizabeth J. 2009, sebagai berikut:
a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang
diimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk
bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar
fragmen tulang.
b. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran
fragmen pada fraktur lengan dan tungkai menyebabkan deformitas
(terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan
membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak
dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot tergantung
pada integritasnya tulang tempat melekatnya otot.
c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya
karena kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur.
Fragmen sering saling melengkapi satu sama lain sampai 2,5 sampai
5 cm (1 sampai 2 inci).
d. Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang
dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara fragmen satu
dengan lainnya. Uji krepitus dapat mengakibatkan kerusakan
jaringan lunak yang lebih berat.
e. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai
akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini
biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari setelah cedera.
5. Patofisiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang
yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang.
Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam
korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak.
Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma
di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian
tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi
terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi
plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang
merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur
a. Faktor Ekstrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan
fraktur.
b. Faktor Intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya
tahan untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan,
elastisitas, kelelahan, dan kepadatan atau kekerasan tulang.
(Corwin, Elizabeth J. 2009)
6. Pathway
Tekanan/kekerasan
langsung/stress berulang
Reaksi inflamasi
Kerusakan fragmen tulang,
Pergeseran tulang cedera jaringan lunak
Pengeluaran
bradikinin dan
Deformitas berikatan dengan
Pembuluh darah terputus
nociceptor
Pengumpalan
Resiko darah (hematoma)
Jatuh Nyeri Pembengkakan
(tumor) dan
rubor
Devitaslisasi
Nyeri
(Hb Ht )
akut
Kerusakan
integritas
Dilatasi pembuluh kapiler kulit
Histamine
menstimulasi otot Hb
Perfusi jaringan
Spasme otot
Vasokontriksi Gangguan
pembuluh darah perfusi
jaringan
Metabolisme
Penumpukan
anaerob
asam laktat
Nyeri
7. Komplikasi
a. Komplikasi Awal
1) Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak
adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma
yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh
tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit,
tindakan reduksi, dan pembedahan.
2) Kompartement Syndrom
Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan
dalam ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan
akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah
yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot.
Gejala – gejalanya mencakup rasa sakit karena
ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan
dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit
dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat, dan
paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur
tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna).
3) Fat Embolism Syndrom
Merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat
menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung –
gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi
jaringan yang rusak. Gelombang lemak ini akan melewati
sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh –
pembuluh darah pulmonary yang menyebabkan sukar bernafas.
Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea,
perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung,
stupor), tachycardia, demam, ruam kulit ptechie.
4) Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada
jaringan. Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit
(superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada
kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan
lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.
5) Avaskuler Nekrosis
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke
tulang rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis
tulang dan diawali dengan adanya Volkman’s Ischemia.
Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang
kurang baik. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular
femur (yaitu kepala dan leher), saat kepala femur berputar atau
keluar dari sendi dan menghalangi suplai darah. Karena nekrosis
avaskular mencakup proses yang terjadi dalam periode waktu
yang lama, pasien mungkin tidak akan merasakan gejalanya
sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi
pada pasien merupakan hal yang penting. Perawat harus
menyuruh pasien supaya melaporkan nyeri yang bersifat
intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban
6) Shock
Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan
meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan
menurunnya oksigenasi. Ini biasanya terjadi pada fraktur.
7) Osteomyelitis
Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum
dan korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari
luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam
tubuh). Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka
tembus, atau selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang
panjang, fraktur terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi
karena trauma dan fraktur – fraktur dengan sindrom
kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis
yang lebih besar
b. Komplikasi Dalam Waktu Lama
1) Delayed Union (Penyatuan tertunda)
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur
berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang
untuk menyambung. Ini disebabkan karena penurunan supai
darah ke tulang.
2) Non union (tak menyatu)
Penyatuan tulang tidak terjadi, cacat diisi oleh jaringan
fibrosa. Kadang-kadang dapat terbentuk sendi palsu pada tempat
ini. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan non union adalah
tidak adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan
lebar dari fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat
patologis.
3) Malunion
Kelainan penyatuan tulang karena penyerasian yang buruk
menimbulkan deformitas, angulasi atau pergeseran.
8. Pemeriksaan penunjang
a. [Link] dilakukan untuk melihat bentuk patahan atau keadaan tulang
yang cedera.
b. Bone scans, Tomogram, atau MRI Scane
c. Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.
d. CCT kalau banyak kerusakan otot.
e. Pemeriksaan Darah Lengkap
1) Lekosit turun atau meningkat
2) Eritrosit dan Albumin turun
3) Hb
4) hematokrit sering rendah akibat perdarahan
5) LED meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas
6) Pada masa penyembuhan Ca meningkat di dalam darah
7) Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal.
2) Pemasangan gips
Merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang
yang patah. Gips yang ideal adalah yang membungkus tubuh
sesuai dengan bentuk tubuh. Indikasi dilakukan pemasangan
gips adalah :
a) Immobilisasi dan penyangga fraktur
b) Istirahatkan dan stabilisasi
c) Koreksi deformitas
d) Mengurangi aktifitas
e) Membuat cetakan tubuh orthotic
Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan
gips adalah :
1. Pemeriksaan Fisik
Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
a. Sistem Integumen
Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma meningkat, bengkak,
oedema, nyeri tekan.
b. Kepala
Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada
penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
c. Leher
Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek
menelan ada.
d. Muka
Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi
maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema
e. Mata
Terdapat gangguan seperti konjungtiva anemis (jika terjadi
perdarahan)
f. Telinga
Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi
atau nyeri tekan
g. Hidung
Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
h. Mulut dan Faring
Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa
mulut tidak pucat.
i. Thoraks
Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
j. Paru
1) Inspeksi
Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada
riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
2) Palpasi
Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
3) Perkusi
Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.
4) Auskultasi
Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan
lainnya seperti stridor dan ronchi.
k. Jantung
1) Inspeksi
Tidak tampak iktus jantung.
2) Palpasi
Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
3) Auskultasi
Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
l. Abdomen
1) Inspeksi
Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
2) Palpasi
Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.
3) Perkusi
Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
4) Auskultasi
Peristaltik usus normal ± 20 kali/menit.
m. Inguinal-Genetalia-Anus
Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada kesulitan BAB.
n. Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama
mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler à 5 P
yaitu Pain, Palor, Parestesia, Pulse, Pergerakan). Pemeriksaan pada
sistem muskuloskeletal adalah:
1) Look (inspeksi)
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain:
a) Cicatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operasi).
b) Cape au lait spot (birth mark).
c) Fistulae.
d) Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau
hyperpigmentasi.
e) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal
yang tidak biasa (abnormal).
f) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
g) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2) Feel (palpasi)
3) Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita
diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada
dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien.
Yang perlu dicatat adalah:
a) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban
kulit. Capillary refill time à Normal > 3 detik
b) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau
oedema terutama disekitar persendian.
c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3
proksimal, tengah, atau distal).
d) Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan
yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang.
Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada
benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan
permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar
atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya
e) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan
dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah
terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup
gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum
dan sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran
derajat, dari tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi
netral) atau dalam ukuran metrik. Pemeriksaan ini
menentukan apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau
tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan
pasif.
b. DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan kriteria Intervensi TTD
hasil
1 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen nyeri (1400)
berhubunga tindakan 1. Kaji nyeri komprehensif
n dengan keperawatan yang meliputi lokasi,
agens cedera selama 3x24 jam karakteristik, frekuensi,
fisik diharapkan nyeri beratnya nyeri dan faktor
prosedur berkurang dengan pencetus.
bedah kriteria hasil : 2. Dukung istirahat yang
- Skala nyeri ≤ 1 adekuat untuk membantu
- TTV dalam penurunan nyeri
batas normal 3. Ajarkan penggunaan
- Pasien tidak teknik non farmakologi
mengeluh nyeri (relakasi)
4. Kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian
analesik
a.
2 Gangguan Setelah dilakukan 1. monitor kulit adanya
integritas tindakan kemerahan
kulit keperawatan 2. monitor aktivitas dan
berhubunga selama 3x24 jam mobilisasi pasien
n dengan diharapkan : 3. lakukan perawatan luka
Factor - integritas kulit 4. Edukasi pasien untuk
mekanik : baik bisa di mengunakan pakaian
pembedahan pertahankan longgar
- luka operasi 5. Kolaborasi dengan
tampak bersih dan dokter dalam pemberian
kering antibiotik
I. Pengkajian
A. Identitas pasien
Nama : Ny W
Umur/tgl lahir : 83 tahun/01-06-1936
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Semarang
Tanggal masuk : 05-01-2020
Diagnosa medis : Open fraktur radius ulna
B. Penanggung jawab
Nama : Ny. T
Umur : 49 th
Alamat : Semarang
Pekerjaan : IRT
Hubungan dg pasien : Anak
Keterangan :
: Perempuan
: Laki- laki
: Garis pernikahan
: Garis keturunan
X : Meninggal
: Paisen
: Tinggal serumah
Selama sakit :
Kemampuan perawatan 0 1 2 3 4
diri
Makan/minum V
Mandi V
Toileting V
Berpakaian V
Mobilitas di tempat tidur V
Berpindah V
Ambulasi/ROM V
0 : mandiri, 1 : alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3 : dibantu orang lain dan
alat, 4 : tergantung total
E. Pola Istirahat Dan Tidur
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien tidur cukup
dan tidak mengalami gangguan tidur.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasca oprasi ini pasien lebih
banyak tidur.
F. Pola Persepsi Dan Kognitif
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami
hambatan dalam berkomunikasi karena mengalami penurunan
pendengaran, penurunan daya ingat dan cara berbicara.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami nyeri
akibat fraktur yang di derita
G. Pola Persepsi Dan Konsep Diri
Sebelum sakit : Keluarga pasien mengatakan, pasien baik baik
saja, mengikuti posyandu lansia yang ada di desanya
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien lebih banyak
beristirahat karena fraktur yang diderita
H. Pola Peran Dan Hubungan
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien
mengalami hubungan baik di masyarakat dan keluarga
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien mengalami hambatan
dalam berinteraksi di keluarga dan masyarakat karena menjalani
perawatan di rumah sakit
I. Pola Seksual Dan Reproduksi
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien telah
mengalami menopose
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien telah mengalami
menopose.
J. Pola Koping Dan Toleransi Terhadap Stress
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien bisa
mengatasi masalah ataupun stress yang dihadapnya
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien takut mengalami
kecacatan pada dirinya
K. Pola Nilai Dan Kepercayaan
Sebelum sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien menjalankan
ibadah sholat 5 waktu.
Selama sakit : keluarga pasien mengatakan, pasien kadang-kadang
melakukan ibadah sholat 5 waktu.
V. Data penunjang
2. Program terapi
Hr/Tgl Nama Obat Cara pemberian Dosis
Selasa,7 Jan RL IV 500 ml/8 jam
2020 s/d Cefazolin IV 1 gram/8 jam
kamis,9 Jan Ketorolac IV 1 gram/8 jam
2020
Candesartan Oral 16 mg/24 jam
3. Hasil pemeriksaan laborat
Nama Test Hasil Unit Nilai Rujukan
Hematologi
Darah rutin
Hemoglobin 11,9 g/dL 11.5-15
Hematokrit 34 % 37-47
Leukosit 15200 /uL 4.000-10.000
Eritrosit 3,79 Juta/ul 3.50-5.50
Trombosit 254000 /uL 150.000-500.000
4. Hasil rontgen
Terdapat fraktur 1/3 diradius ulna sinistra
Do.
Pasien tampak meringis
menahan sakit
Tanda-tanda vital :
TD : 150/90 mmHg
N : 88 x/m
R : 22 x/m
S : 37,2 C
Do
- Terpasang gelang warna
kuning (resiko jatuh) di
tangan kanan pasien
-pasien tampak tidur di
pinggir tempat tidur
-pada gelang pasien tertulis
01-06-1936 (83 tahun)
O:
TD: 150/90 mmHg
N : 88x/m
RR : 22 x/m
Suhu: 37,2 C
1 Mengkaji nyeri S: Pasien mengatakan masih
09.00 WIB terasa nyeri pada luka post
operasi
P: nyeri bertambah saat
digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan
kiri
S: Skala nyeri 6
T: Nyeri hilang timbul
O:
TD: 140/90 mmHg
N : 84x/m
RR : 20 x/m
Suhu: 36,9 C
10.00 WIB 1 Mengkaji nyeri S: Pasien mengatakan masih
terasa nyeri pada luka post
oprasi
O:
P: nyeri bertambah saat
digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan
kiri
S: Skala nyeri 3
T: Nyeri hilang timbul
13.00 WIB 1 Pemberian injeksi S: pasien mengatakan masih
- Cefazolin 1 gr terasa sedikit nyeri
- Ketorolac 30
mg O: injeksi sudah diberikan
lewat intravena
15.00 WIB 1 Mengajarkan S: pasien mengatakan sudah
penggunaan teknik bisa melakukan teknik
non farmakologi relaksasi setelah diajarkan
(relakasi) relaksasi
O: pasien tampak
melakukan relaksasi nafas
dalam, pasien tampak lebih
rileks setelah melakukan
relaksasi
16.00 WIB 2 Edukasi pasien untuk S: -
mengunakan pakaian
longgar O: Pasien tampak
menggunakan baju longgar
17.00 WIB 3 mengunakan S: -
peralatan protektif
untuk membatasi O: pasien tampak
mobilitas terhadap menggunakan pengaman
situasi yang pada tempat tidurnya
membahayakan
21.00 WIB 1 Pemberian injeksi S: pasen mengatakan nyeri
- Cefazolin 1 gr sudah berkurang
- Ketorolac 30 mg
O: injeksi sudah diberikan
lewat IV
09/01/2020 1,2, Mengobservasi S: Pasien mengatakan sudah
08.00 WIB 3 tanda-tanda vital tidak pusing
O:
TD: 130/80 mmHg
N : 82x/m
RR : 20 x/m
Suhu: 36,5 C
09.00 WIB 1 Mengkaji nyeri S: Pasien mengatakan nyeri
sudah berkurang
O:
P: nyeri bertambah saat
digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan
kiri
S: Skala nyeri 1
T: Nyeri hilang timbul
10.00 WIB 2 melakukan perawatan S: pasien mengatakan lebih
luka nyaman setelah dilakukan
perawatan
X. Evaluasi
Hari/tgl/jam No Dx Evaluasi Ttd
Selasa 1 S: Pasien mengatakan masih terasa nyeri pada
07-01-2020 luka post operasi di tangan kiri
14.00 WIB P: nyeri bertambah saat digerakan
Q: nyeri saat digerakan
R: nyeri pada bagian tangan kiri
S: Skala nyeri 6
T: Nyeri hilang timbul
O:
Tanda-tanda vital :
TD : 150/90 mmHg
N : 88 x/m
R : 22 x/m
S : 37,2 C
Klien tampak meringis menahan sakit
A: masalah nyeri belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan
- Manajemen nyeri
- Ajarkan relaksasi
- Berikan obat analgesik sesuai program
terapi
2 S: -
O: terdapat balutan luka post operasi pada
tangan kiri, luka pasien tampak tidak ada
kemerahan tetapi sedikit bengkak
Panjang luka 3cm
Terpasang infus RL pada tangan sebelah kanan
A: masalah integritas kulit belum teratasi
P: intervensi dilanjutkan
- Mengobservasi tanda-tanda vital
- Edukasi pasien untuk mengunakan
pakaian longgar
- Berikan injeksi antibiotic sesuai
program
2 S: -
O: terdapat balutan luka post operasi pada
tangan kiri, luka pasien tampak tidak ada
kemerahan tetapi sedikit bengkak, pasien
tampak menggunakan baju longgar
Panjang luka 3cm
Terpasang infus RL pada tangan sebelah kanan
A: masalah integritas kulit teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
- Mengobservasi tanda-tanda vital
- melakukan perawatan luka
3 S: -
O: pasien tampak menggunakan pengaman bed
pada tempat tidurnya, roda pada tempat tidur
tampak terkunci
A: masalah resiko cedera teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
- Mengobservasi tanda-tanda vital
- mengedukasi pasien dan keluarga
mengenai resiko jatuh pada pasien