0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan18 halaman

Sejarah dan Lokasi PT Musi Prima Coal

PT. Musi Prima Coal didirikan pada tahun 1975 dan bergerak di bidang pertambangan batubara. Perusahaan ini memiliki luas wilayah pertambangan seluas 4.442 Ha dan cadangan batubara sebesar 120,742,286 MT. Lokasi pertambangan terletak di Desa Gunung Raja, Muara Enim, Sumatera Selatan sekitar 130 km dari Palembang.

Diunggah oleh

Edow Ardo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan18 halaman

Sejarah dan Lokasi PT Musi Prima Coal

PT. Musi Prima Coal didirikan pada tahun 1975 dan bergerak di bidang pertambangan batubara. Perusahaan ini memiliki luas wilayah pertambangan seluas 4.442 Ha dan cadangan batubara sebesar 120,742,286 MT. Lokasi pertambangan terletak di Desa Gunung Raja, Muara Enim, Sumatera Selatan sekitar 130 km dari Palembang.

Diunggah oleh

Edow Ardo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah Perusahaan

PT. Musi Prima Coal didirikan pada tahun 1975 sebagai perusahaan yang

bergerak di bidang pertambangan batubara (Powerplant Mainmouth). dan

menandatangani perjanjian dan perusahaan ini bekerjasama dengan dengan PT.

GHEMM Indonesia yang berlokasi di Dusun II, Desa Gunung Raja, Kecamatan

Rambung Dangku, Muara Enim, Sumatera Selatan, merupakan perusahaan swasta

yang sangat berperan penting dalam penambangan batubara untuk mendorong

perekonomian daerah khususnya propinsi Sumatera selatan. PT. Musi Prima Coal

telah menyelenggarakan usaha pertambangan batubara dan melakakukan kegiatan

eksplorasi pada tahun 2011 dan penjualan batubara sepenuhnya dilakukan

didalam negeri kepada PT. GHEMM Indonesia sebagai perusahaan pembangkit

tenaga listrik, hal ini ditujukan untuk mendukung program pemerintah

menyediakan 10.000 mega watt (MW) listrik pada tahap tertama.

PT. Musi Prima Coal mempunyai luas ijin usaha pertambangan sebesar
4.442 Ha, dan mempunyai kualitas batubara yang rendah dengan kandungan air
TM 42-62%, PT. Musi Prima Coal mempunyai cadangan dilokasi IUP Gunung
Raja dan air limau sebanyak 120.742.286 MT (terukur),133.062.272 MT
(terunjuk).
2.2 Lokasi Dan Kesampaian Daerah

Lokasi tambang batubara di PT. Musi Prima Coal terletak sekitar ± 130 km

di sebelah laut kota Palembang. Secara administratif lokasi tambang PT. Musi

6
Prima Coal berada dalam wilayah Desa Gunung Raja, Kecamatan Rambang

Dangku, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan lokasi pertambangan

ini terletak berbatasan langsung dengan wilayah kota Prabumulih adalah sekitar

± 50 km kearah barat jalur darat, sedangkan apabila ditempuh dengan roda dua

memerlukan waktu 45 menit sampai satu jam perjalanan dari kota prabumulih ke

lokasi pertambangan. Posisi geografis tambang PT. Musi Prima Coal terletak

diantara 3° 22’ 42’’ - 3° 23’ 55’’ Lintang Selatan dan 104° 6’ 42’’ - 104° 6’ 42’’

Bujur Timur. Daerah penambangan ini merupakan derah dataran rendah yang

awalnya adalah rawa-rawa dan dataran dengan puncak yang tertinggi hanya 30

meter dan yang terendah adalah 10 meter diatas permukaan laut.

Tabel 2.1 Kordinat wilayah kerja PT. Musi Prima Coal.


Koordinat Geografis
Titik Lintang Selatan (LS) Bujur Timur
1 3° 22’ 42’’ 104° 6’ 42’’
2 3° 22’ 42’’ 104° 7’ 49’’
3 3° 22’ 04’’ 104° 7’ 49’’
4 3° 22’ 04’’ 104° 8’ 13’’
5 3° 23’ 23’’ 104° 8’ 13’’
6 3° 23’23’’ 104° 8’ 38’’
7 3° 23’ 39’’ 104° 8’ 38’’
8 3° 23’ 39’’ 104° 8’ 33’’
Sumber:PT. Musi Prima Coal ( 2019 )

Lokasi Wilayah Kuasa Pertambangan Eksploitasi PT. MUSI PRIMA COAL dapat

ditempuh dengan tahap sebagai berikut:

1. Dari kota Palembang ke kota Prabumulih dapat dilalui melalui jalur darat

dengan kendaraan mobil ± dua jam.

7
2. Dari kota Prabumulih menuju desa III Gunung Raja dapat ditempuh dengan

kendaraan motor ± satu jam.

PT. Musi Prima Coal mempunyai peta lokasi kesampaian daerah sebagai

berikut:

Sumber:PT. Musi Prima Coal.(2019)


Gambar: 2.1 Peta PT. Musi Prima Coal ( 2019 )

2.3 Struktur Organisasi

Stuktur organisasi merupakan sistem kerjasama yang terkordinasi dan

terealisasi dan terpadu dari semua anggota untuk mencapai sasaran atau tujuan

tertentu. Organisasi dibangun untuk memperkuat komitmen perusahaan untuk

mencapai sistematika kerja yang baik, terencana, dan terlaksana dengan baik dan

benar. Dalam melakukan operasionalya. PT. MUSI PRIMA COAL membangun

8
stuktur organisasi yang saling berkaitan dan melengkapi untuk mencapai sasaran

pekerjaan yang diinginkan.

DIREKTUR

GENERAL MANAGER

SITE MANAGER
(KEP. TEKNIK
TAMBANG)
KEUANGAN LEGAL &
ADMINISTRA
SI
MANAGER TEKNIK
(WKL KEP. TEKNIK
TAMBANG) STAF STAF

PENGAWAS PENGAWAS
OPERASIONA TEKNIK
L

STAF STAF

Sumber:PT. Musi Prima Coal (2019)


Gambar:2.2 Alir Organisasi Perusahaan Tambang

2.4 Keadaan Geologi

Secara regional, daerah Gunung Raja dipengaruhi oleh sistem penunjaman

antara Lempeng Eurasia yang relatif diam dan Lempeng India-Australia yang

relatif bergerak ke Utara-Timur Laut. Efek penujaman lempeng tersebut

mempengaruhi keadaan batuan, morfologi, tektonik, dan struktur geologi daerah

9
penyelidikan dan sekitarnya yang berada di Cekungan Sumatera Selatan (Gambar

2.3).

Sumber: PT. Musi Prima Coal ( 2019 )


Gambar: 2.3 Penunjang Lempeng Mempengaruhi Keadaan Geologi

Menurut DeCoster (1974), Cekungan Sumatera Selatan telah mengalami tiga

kali orogenesa, yakni pada jaman Mesozoikum Tengah, Kapur Akhir – Tersier

Awal, dan Plio-Plistosen. Setelah orogenesa terakhir (Plio-Plistosen) dihasilkan

kondisi struktur geologi regional seperti terlihat pada saat ini, yaitu :

1. Zona Sesar Semangko, merupakan hasil tumbukan antara Lempeng Samudera

Hindia dan Pulau Sumatera. Akibat dari tumbukan ini menimbulkan gerak

rotasi (right lateral) di antara keduanya.

2. Perlipatan dengan arah utama barat laut – tenggara yang terbentuk dari hasil

efek gaya kopel (pilinan) sesar semangko.

Sesar-sesar yang berasosiasi dengan perlipatan dan sesar-sesar Pra-Tersier yang

mengalami peremajaan.

2.5 Statigrafi

10
Stratigrafi regional Cekungan Sumatera Selatan menurut peneliti terdahulu

dibagi atas beberapa formasi dan satuan batuan dari tua sampai muda

 Batuan Pra-Tersier; terdiri dari andesit, filit, kuarsit, batugamping, granit,

dan granodiorit.

 Formasi Lahat; diendapkan secara tidak selaras di atas batuan Pra-Tersier

pada kala Paleosen Oligosen Awal di lingkungan darat. Formasi ini tersusun

dari tufa, aglomerat, breksi tufaan, andesit, serpih, batulanau, batupasir, dan

batubara.

 Formasi Talang Akar; terdiri dari batupasir berbutir kasar – sangat halus,

batu lanau dan batubara. Formasi ini diendapkan secara tidak selaras di atas

Formasi Lahat pada kala Oligosen Akhir – Miosen Awal di lingkungan

fluviatil sampai laut dangkal.

 Formasi Baturaja; terdiri dari batu gamping terumbu, serpih gamping dan

napal. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Talang Akar

pada kala Miosen Awal di lingkungan litoral sampai dengan neritik.

 Formasi Gumai; terdiri dari serpih gampingan dan serpih lempungan. Formasi

ini diendapkan secara selaras di atas Formasi Batu raja pada kala Miosen

Awal – Miosen Tengah di lingkungan laut dalam.

 Formasi Air Benakat; terdiri dari batupasir, diendapkan secara selaras di atas

Formasi Gumai pada kala Miosen Tengah – Miosen Akhir, di lingkungan

neritik sampai laut dangkal.

 Formasi Muara Enim; terdiri dari batupasir, batulanau, batulempung, dan

batubara. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas Formasi

11
Air Benakat pada kala Miosen di lingkungan paludal, delta dan bukan laut.

 Formasi Kasai; terdiri dari batupasir tufaan dan tufa, terletak selaras diatas
Formasi Muara Enim, diendapkan di lingkungan darat pada kala Pliosen Akhir

– Plistosen Awal.

2.6 Struktur Geologi

Endapan Kuarter; terdiri dari hasil rombakan batuan yang lebih tua,

berukuran kerakal, kerikil, pasir, lanau dan lempung, diendapkan secara tidak

selaras di atas Formasi Kasai.

Urutan stratigrafi regional dan hubungan antar lapisan batubara di Cekungan

Sumatera Selatan dalam bentuk penampang geologi.

AIR MESUJI SOUTH EAST ENIM PENDOPO NORTHERN


AREA PROSPECT AREA PROSPECT PROSPECT
KA KASAI
KA
SA
I
KA KA KA UNIT NAMES
OF MAP
Niru
Enim Niru KA
Jelawatan U. Jelawatan
L. Jelawatan
Kebon Kebon Babat,
Benakat Babat
MUARA ENIM COAL FORMATION ME

Kebon N4
Kebon

Benuang

U. Mangus Burung N3

L. Mangus U. Mangus
U. Suban
L. Mangus Mangus Mangus
L. Suban
U. Suban Suban Suban
L. Suban Petai N2
U. Petai Petai
L. Petai
N1
Merapi

Keladi Merapi Kladi AB


AB
Keladi
Keladi AB
AB AIR BENA AB
KA T
AB

Sumber:[Link] Prima Coal


Gambar:2.4. Penampang Stratigrafi Regional dan Hubungan Antar
LapisanBatubara di Cekungan Sumater

2.7 Iklim Dan Curah Hujan


2.7.1 Iklim

12
Lokasi PT. Musi Prima Coal pada umumnya hampir sama dengan daerah-

daerah lain di Indonesia yaitu beriklim tropis dengan musim hujan dan musim

kemarau saling bergantian sepanjang tahun. Suhu maksimum 32°c. Temperatur

udara rata rata ini berbanding lurus dengan penyinaran matahari, dan kelembapan,

udara merupakan iklim yang berpengaruh terhadap curah hujan.

2.7.2 Curah Hujan

Kegiatan penambangan yang dilakukan dengan sistem tambang terbuka


(open pit) maka curah hujan sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan
penambangan itu sendiri. Semakin rendah curah hujan maka akan semakin besar
juga produksi yang dicapai oleh perusahaan, pada saat turun hujan dapat
menyebabkan jalan tambang licin dan lengket itu akan megurangi kinerja alat gali
muat dan juga alat angkut dan apabila pada musim kemarau jalan tambang akan
berdebu.
Tabel:2.2 Data Curah Hujan 2018

SHIFT JENIS JAM HUJAN


TANGGAL TOTAL HUJAN
FOREMAN HUJAN MULAI BERHENTI
Deras 16:00 16:15 0:15
Gerimis 16:15 16:30 0:15
6/26/2018 II / Yon Gerimis 18:30 18:50 0:20
Sedang 18:50 20:00 1:10
Gerimis 20:00 21:50 1:50
Deras 18:40 19:50 1:10
Sedang 19:50 20:10 0:20
Gerimis 20:10 20:35 0:25
6/27/2018 II / Yon
Deras 20:35 20:45 0:10
Sedang 20:45 20:55 0:10
Gerimis 20:55 21:45 0:50
Sedang 15:10 15:15 0:05
6/28/2018 II / Yon Deras 15:15 15:25 0:10
Gerimis 15:25 15:40 0:15
Gerimis 17:40 17:55 0:15
Deras 17:55 18:35 0:40
Gerimis 18:35 18:45 0:10
6/29/2018 II / Yon
Gerimis 19:55 20:15 0:20
Deras 20:15 20:30 0:15
Gerimis 20:30 21:05 0:35

13
2.8 Kualitas Batubara

Berdasarkan pengamatan visual di lapangan batubara di daerah Gunung Raja

memperlihatkan kilap yang kusam, berwarna hitam kecoklatan, masih nampak

adanya jejak jejak akar pohon, warna gores coklat, tidak keras, berdasarkan hasil

sementara uji laboratorium Tekmira, batubara Gunung Raja menunjukkan nilai

kalori sekitar 3427 hingga 5143 kkal (rata-rata 4347 kkal), kandungan air total

sekitar 13,98 sampai 63,03 (rata-rata 54,62), Air lembab dari 13,98 sampai 41,58

(rata-rata 20,07), kadar abu sekitar 2,94 sampai 16,26 (rata-rata 5,96), zat terbang

dari 28,64 sampai 42,91 (rata- ata 36,21), karbon.

Tabel 2.3 Kisaran Nilai-nilai Parameter Batubara PT. Musi Prima Coal
No Parameter Nilai terendah Nilai tetinggi Rata-rata
1 Air Total 13,98 63,03 54,62
2 Air Lembab 13,98 41,58 20,07
3 KandunganAbu 2,94 16,26 5,96
4 Zat Terbang 28,64 42,91 36,21
5 Karbon Padat 67,08 100,00 67,84
6 HGI 61 113 89,38
7 Berat Jenis 1,21 1,38 1,30
8 Nilai Kalori 3423 5143 4347
Sumber:PT. Musi Prima Coal

Kualitas batubara dengan nilai kalori 4.500 s.d 4.650 kcal/kg. Kondisi

batubara yang ada sesuai dengan hasil analisa laboratorium adalah 4.100 s.d 5.300

kcal/kg, Produksi batubara yang direncanakan oleh PT. Musi Prima Coal adalah

rata-rata 400.00 ton/bulan, Tetapi dengan pertimbangan teknis di lapangan dan

kondisi front kerja memerlukan persiapan, maka rencana produksi batubara pada

tahun pertama diharapkan sebesar 1.800.000 ton selanjutnya pada tahun kedua

dan seterusnya akan bertambah sejalan dengan terbukanya front penambangan,

hal tersebut dilakukan karena tahun pertama baru fokusnya pada pekerjaan

14
pembukaan lahan, penyiapan jalan masuk tambang, pembangunan fasilitas

lapangan lainnya dan menunggu selesainya PLTU Mulut Tambang 2 x 113,5

WM.

2.9 Kegiatan Penambangan

2.9.1 Pembebasan lahan

Kegiatan yang mengawali tahapan kegiatan penambangan adalah

pembebasan lahan yang dilakukan sebelum kegiatan konstruksi fisik dimulai.

Pembebasan lahan dilakukan sejak tahap eksplorasi yang dilakukan secara

bertahap dan dilakukan dengan cara musyawarah dengan mediator Kepala Desa

setempat, Rencana luasan pembebasan lahan tanah PT. Musi Prima Coal adalah

sesuai dean luasan yang diberikan dalam ijin KP Ekploitasi. Pada tahun 2010 di

rencanakan pembebasan sekitar 10-20 % dari luasan tanah yang dibutuhkan.

a. Land claring

Land clearing merupakan kegiatan yang pertama sekali dilakukan untuk

mempersiapkan lokasi penambangan. Kegiatan ini dimulai dengan membuat stake

out untuk membuat batas sesuai dengan desain plan dari mine plain. Selanjutnya

dilakukan pembersihan clearing lahan dengan menggunakan bulldozer untuk

merintis jalan masuk kedalam lokasi yang akan dibersihkan lahan dari material-

material semak belukar dan pepohonan kecil. Untuk pohon yang berdiameter

besar dilakukan penumbangan kayu dengan menggunakan bulldozer. Setelah itu

semak semak belukar dan kayu kecil diangkut dan ditumpuk menggunakan dump

truck menuju tempat penumpukan sampah di lokasi penumpukan yang telah

ditentukan.

15
b. Penanganan Tanah Pucuk

Sebelum pengupasan tanah pucuk (humus) terlebih dilakukan pembersihan

lahan dari pohon dan tetumbuhan dengan menggunakan alat berat jenis buldozer

dan gergaji mesin (chain saw). Tanah pucuk diangkut ke tempat penimbunan

khusus yang tidak terpengaruh oleh aliran air dan ditanami jenis tanaman

merambat (LCC) agar tanah pucuk tidak tererosi. Penanganan tanah pucuk ini

tidak saja pada areal tambang tetapi juga tanah pucuk yang diambil dari lahan

untuk penimbunan tanah penutup. Tanah pucuk ini akan digunakan kembali pada

kegiatan reklamasi atau [Link] kegiatan pengupasan tanah penutup

menggunakan alat gali muat Excavator dan alat angkut DT Volvo menuju tempat

penimbunan top soil.

c. Penanganan Tanah Penutup

Pengupasan tanah penutup (overburden) dilakukan dengan menggunakan

buldozer dan excavator sebagai alat gali, excavator sebagai alat muat dan dump

truck sebagai alat angkutnya. Pengupasan dilakukan bertahap dan dikumpulkan

pada ujung lahan kemudian dimuat keatas dump truck untuk diangkut ke tempat

penimbunan tanah penutup (waste disposal). Pada awal operasi penambangan

dikumpulkan diluar areal tambang dengan jarak maksimal 2 km dan luas areal

yang disediakan ± 20 hektar. Ketinggian tanah timbunan 6 meter, dengan kontur

disesuaikan dengan bentuk kontur menjadi 30 m disekitar daerah timbunan,

penimbunan tanah penutup dilakukan lapis demi lapis, setiap ketebalan 30 cm

yaitu setelah diratakan dengan buldozer tumpahan tanah penutup dari dump truck

kemudian dipadatkan dengan menggunakan buldozer. Setelah itu baru dilakukan

16
penimbunan setiap 30 cm dengan cara seperti tersebut diatas berulang-ulang

sampai ketinggian masing-masing teras mencapai 6 meter, Untuk pencegahan

erosi, lantai jenjang/teras dibuat miring kearah dinding teras dan dikaki teras

dibuat saluran gengan kemiringan 1% dan dibeberapa tempat dibuat semacam cek

dam untuk mengendapkan larutan. Pada dasar dan dinding saluran utama

penirisan dipasang pecahan batu untuk menahan laju arus air dan sekaligus

menahan erosi, apabila tinggi timbunan telah final, akan ditaburkan tanah pucuk

setebal ± 20 cm dan ditanami jenis tumbuhan merambat terlebih dahulu untuk

mencegah erosi akibat aliran air hujan. Untuk mencegah laju aliran air

dipermukaan tanah dan erosi juga dibuat gulu dan terutama pada lereng-lereng

teras timbunan tanah penutup, Setelah tersedia cukup ruang didaerah bekas

penambangan pada tahun ketiga, maka tanah penutup akan dikembalikan pada

daerah bekas tambang tahun pertama dan kedua, dengan penanganan sama seperti

pada timbunan diluar tambang, saluran diseputar tanah timbunan dibuat dengan

dimensi seperti tersebut pada sub bab Rancangan Penirisan Tambang dan

dialirkan ke Kolam Pengendapan Lumpur (KPL) yang terletak dekat daerah

timbunan.

d. Penambangan

Penambangan direncanakan mulai dari daerah tenggara derah prospek yang

terletak dibagian utara wilayah KP Eksplorasi PT. Musi Prima [Link]

dimulai setelah lapisan batubara seam 1 terekspose, dimulai dari bagian atas

lapisan searah dengan jurus lapisan batubara. Penambangan menggunakan alat

gali buldozer, alat muat excavator dan shovel loader serta alat angkut dump truck.

17
Kegiatan pengangkutan batubara dilakukan dengan menggunakan DT scania P

380 dengan kapasitas 12,8 Bcm dari front penambangan diangkut menuju

beltkonveyor jarak front penambangan ke beltkonveyor sebesar 5 km atau 2500

[Link] tahap-tahap penembangan dapat dilihat dibawah ini :

Tempat Penimbunan
Pengupasan Tanah
Pembersihan Lahan Lapisan Penutup
Penutup

Penambangan Batubara
dan Pengangkutan

Reklamasi dan
Revegetasi

PLTU (Mine Mouth


Power Plant)

Sumber: PT. MPC (2019)


Gambar: 2.5 Tahap Tahap Penambangan

e. Reklamasi

Reklamasi merupakan upaya untuk memperbaiki dan mengembalikan fungsi

lingkungan sesuai dengan peruntukanya. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga

kelestarian lingkungan lahan bekas tambang dan meminimalkan dampak negatif

18
aktivitas penambangan itu sendiri. Sedangkan pengertian lain reklamasi dalam

bidang pertambangan adalah pekerjaan yang bertujuan untuk mengembalikan

mamfaat tanah yang terganggu akibat usaha pertambangan. Untuk memperbaiki

dan memanfaatkan lingkungan yang telah ditambang semaksimal mungkin dapat

dilakukan dengan cara mengemburkan kambali tanah dengan lapisan penutup

dengan alat bersangkutan dan setelah itu kita menanami kembali areal yang telah

ditambang menjadi kawasan hijau menjadi lahan yang lebih bermamfaat. Program

reklamasi dalam kegiatan penambangan adalah hal mutlak harus dilakukan. Pada

pelaksanaan kegiatan pertambangan selalu dihadapkan pada dua kenyataan yang

bertentangan yaitu disatu pihak membutuhkan sumber daya mineral yang tidak

dapat diperbaruhui dan di lain pihak kegiatan pertambangan mengorbankan

sumber alam dan lingkungan sekitarnya bila tidak dikelola dengan baik. Untuk

mengendalikan dampak negatif kegiatan penambangan, sekaligus mengupayakan

pembangunan sektor pertambangan berwawasan lingkungan, maka kegiatan

penambangan yang berdampak besar dan penting diwajibkan mengikuti peraturan

perundangan yang mengatur pengendalian dampak negatif penambangan.

Berdasarkan pasal 30 UU No. 11 Tahun 1967 (Undang-undang Tentang

Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan ), yang menyatakan bahwa: Apabila

telah selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan,

pemegang puasa pertambangan yang bersangkutan diwajibkan mengembalikan

tanah sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya lainnya bagi

masyarakat sekitar.

f. Penataan Lahan ( Recontouring )

19
Merupakan tahap untuk meratakan dan memperbaiki permukaan tanah

yang akan direklamasi. Tahapan kegiatan ini dikerjakan dengan menggunakan

bulldozer untuk memperbaiki rona permukaan tanah dengan cara penimbunan

lahan bekas tambang tertentu dibantu dengan membuat kemiringan lereng sebesar

30° agar lahan stabil dan tidak mudah terkena erosi ketika musim hujan.

g. Penyebaran Tanah penutup ( Top Soil Speading )

Setelah perbaikan permukaan lahan kegiatan selanjutnya adalah kegiatan tanah

pucuk. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer penyebaran tanah

penutup ini sangat penting dalam pertambangan karana untuk membuat kesuburan

tanah secara merata untuk mempercepat tumbuhnya tanaman yang telah

dibibitkan

h. Penanaman Kembali ( Revegetasi )

Kesuburan tanah adalah potensi tanah yang menyediakan unsur hara dalam

jumlah yang cukup besar, dalam bentuk tersedia serta seimbang untuk menjamin

pertumbuhan yang optimum, namun demikian bahwa tanah yang subur juga

produktif karena status kesuburan tanah tidak memberikan indikasi tentang

kecukupan faktor pertumbuhan lainnya. (Anna dkk, 1985), Menurut Subagyo dan

Samad (1970) menyatakan bahwa kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisik,

kimia dan biologi tanah, yaitu :

a. Keadaan fisik tanah salah satunya kedalaman efektif tanah yaitu dalamnya

lapisan tanah dimana perakaran tanah dapat berkembang dengan bebas

pada berbagai kondisi tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah.

20
b. Keadaan kimia tanah yaitu, reaksi tanah banyaknya cadangan unsur hara

serta ketersediaan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman yang

menyebabkan hilangnya kesuburan tanah.

c. Erosi lapisan permukaan adalah kesuburan paling penting dalam bagian

tanah, kandungan nutrisinya lebih tinggi dari lapisan di bawahnya. Jika

tidak ditutup oleh tanaman penutup, maka secara perlahan-lahan akan

mengurangi lapisan permukaan. Hilangnya lapisan permukaan

menyebabakan hilangnya bahan organik dan mineral tanah. Adapun cara

untuk mengatasi ini adalah dengan cover cropping, crop cropping, strip

cropping dan pembuatan teras. Keadaan biologi tanah yaitu bahan organik,

humifikasi, mineralisasi dan pengikatan unsur N udara.

Ada beberapa factor pengikat unsur hara sebagai berikut:

1. Berubah dalam bentuk tidak tersedia berubahnya unsur-unsur nutrisi yang

tersedia ke dalam bentuk yang tidak tersedia misalnya terjadi pengikatan

salah satu unsur oleh unsur lainnya.

2. Leaching, yaitu tercuci terbawa oleh air sehingga tidak dapat diserap oleh

tanaman. Hilangnya nutrisi tergantung pada bermacam-macam nutrisi,

macam tana dan iklim.

Sifat-sifat fisik tanah disini antara lain meliputi:

Untuk menentukan kelas tekstur suatu tanah secara teliti harus dilakukan

analisis tekstur di laboratorium. Sedangkan klasifikasi tekstur menurut USDA

dikelompokkan ke dalam 12 kelas tanah. Dari kelas tekstur ini bisa diketahui

banyak mengenai sifat fisik tanah lainnya seperti, porositas, daya tahan tanah

21
terhadap air, ketersediaan air, mudah tidaknya diolah, kecepatan infiltrasi,

kosistensi dan kandungan unsur hara yang tersedia, serta jumlah kebutuhan air,

Menurut Hardjowigeno (1987), bahwa bulk density merupakan petunjuk

kepadatan tanah, makin padat suatu tanah makin tinggi bulk densitynya yang

berarti makin sulit meneruskan air atau menembus akar tanah. Bulk density

menunjukkan perbandingan antara berat tanah kering dengan volume tanah

termasuk volume pori-pori tanah.

Tanaman untuk kepentingan revegetasi terbagi tiga tahapan penanaman yaitu:

1. Tanaman (cover crop) yaitu tanaman menjalar yang berfungsi untuk

melindungi tanah agar tidak erosi ketika musim hujan dan

mempertahankan kelembapan tanah ketika musim kemarau

2. Tanaman fast growing merupakan tanaman yang proses pertumbuhanya

cepat jenis tanaman berpungsi sebagai tanaman perintis dan tanaman

pelindung [Link] ini tergolong fast growing yaitu tanaman sengon

laut dan sengon buto.

3. Tanaman local atau tanaman utama merupakan jenis tanaman yang asli di

daerah tersebut adalah pohon karet.

i. Perawatan Tanama

Tanaman yang sudah ditanam perlu dipelihara, karena untuk mendapatkan

hasil yang baik perlu pemeliharaan yang teratur sehingga terjamin kepastian dan

kesinambungan hasil seperti yang diharapkan. Dalam hal ini pemeliharaan yang

baik antara lain :

22
a. Penyiangan dari tumbuhan rumput yang berada disekitar atau disamping

tanaman.

b. Penyiraman kalau musim kemarau

c. Pemupukan kembali

d. Penyulaman kembali, kalau ada tanaman yang mati.

Pemantauan terhadap tanaman yang sudah ditanam sangat perlu

dilakukan, karena biasanya penanaman tanaman pada musim kemarau akan

mengakibatkan tanaman yang sudah ditanam akan mati. Pemantauan tanaman

sebaiknya dilakukan sekali dalam seminggu, sehingga kalau ada tanaman yang

mati akan dapat segera diketahui dan diganti dengan tanaman yang baru.

Penanaman tanaman yang baru sebagai pengganti tanaman yang mati tersebut,

sebaikknya dilakukan pada pagi hari, agar tanaman dapat menyesuaikan dengan

kondisi lahan dan sinar matahari.

23

Anda mungkin juga menyukai