Ensiklopedi Fisioterapi
Kementerian Pendidikan dan Profesi
Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI) Pusat
Trigger Finger
Definisi:
Trigger finger (stenosing tenosynovitis) adalah kelainan yang umum
terjadi pada jari tangan, yang disebabkan oleh inflamasi sehingga terjadi
penebalan selubung tendon fleksor dan penyempitan pada celah selubung
retinakulum. Hal ini menyebabkan nyeri, bunyi klik (clicking sound) saat jari
fleksi dan ekstensi, serta kehilangan gerak atau terkunci (locking) pada jari yang
terkena.
Klasifikasi:
Klasifikasi yang umum dipakai adalah Green’s Classification. Klasifikasi
trigger finger menurut Green, yaitu:
1. Pretriggering: nyeri, riwayat catching tanpa bukti pada pemeriksaan fisik,
nyeri pada pulley A-1.
2. Akut: terdapat catching, tetapi pasien dapat mengekstensikan jari secara
aktif.
3. Pasif: terdapat locking, memerlukan pasif ekstensi atau tidak dapat fleksi
aktif.
4. Terdapat kontraktur fleksi pada sendi proximal interphalangeal (PIP).
Etiologi/Penyebab:
Trigger finger primer biasanya idiopatik dan lebih sering didapat pada
wanita usia 50 sampai 60 tahun serta pada anak-anak. Sedangkan pada trigger
finger sekunder terjadi akibat trauma lokal (stress) dan proses degeneratif.
Pergerakan jari terus menerus dan adanya trauma lokal pada jari diduga menjadi
penyebab utama trigger finger.
Gejala:
Gejala klasik trigger finger berupa jari menekuk dan terkunci. Awalnya
pasien akan mengeluh jari-jari berbunyi tanpa rasa sakit saat digerakkan dan
secara progresif akan menimbulkan nyeri yang terlokalisir mulai dari telapak
tangan hingga sendi-sendi metacarpophalangeal (MCP) atau proximal
interphalangeal (PIP). Pasien akan mengeluh kekakuan pada sendi MCP dan PIP
sampai tidak dapat melakukan fleksi dan ekstensi. Gejala ini dapat timbul di pagi
hari dan berangsur-angsur berkurang di siang hari.
Patofisiologi:
Trigger finger terdapat pada pasien yang memiliki gejala triggering pada
jari-jari atau ibu jari. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan antara volume
selubung retinakulum dengan isinya. Pada saat tendon fleksor bergerak ke arah
selaput yang stenosis, maka tendon akan terperangkap, menyebabkan jari-jari
tidak mampu untuk fleksi atau ekstensi. Pada kasus yang lebih berat, jari dapat
terkunci pada posisi fleksi sehingga memerlukan manipulasi pasif pada jari untuk
menjadi ekstensi.
Pulley A-1 pada metakarpal merupakan pulley yang paling sering terkena.
Hal ini disebabkan karena lokasinya, pulley A-1 menerima tekanan dan gesekan
terbesar saat mengenggam maupun saat gerakan normal. Gesekan berulang akibat
gerakan tendon fleksor pada pulley A-1 akan menyebabkan proses inflamasi dan
hipertrofi (penebalan) baik pada tendon fleksor maupun selubung retinakulum.
Bahkan gesekan yang terus menerus dapat menyababkan timbulnya nodul pada
permukaan tendon. Hal ini akan mengakibatkan penyempitan pada celah selubung
retinakulum dan secara progresif akan membatasi gerakan tendon fleksor. Bila
kondisi ini berlanjut maka jari yang terkena akan kehilangan gerak atau terkunci
(locking).
Penatalaksanaan:
Penatalaksanaan penyakit ini dapat secara konservatif maupun operatif.
Penatalaksanaan konservatif antara lain:
• Penyesuaian aktivitas dan obat anti inflamasi
• Splinting
• Injeksi obat anestesi lokal
• Injeksi kortikosteroid
Sekitar 85% kasus trigger finger dapat disembuhkan dengan injeksi kortikosteroid
dan pemberian obat anti inflamasi non steroid, bila belum terdapat nodul dan tidak
terdapat kondisi komorbid yang lain seperti diabetes melitus dan rheumatoid
arthritis, sedangkan penatalaksanaan secara bedah yaitu dengan insisi pulley A-1,
dapat dilakukan dengan teknik terbuka atau perkutan. Penatalaksanaan operatif
dilakukan bila terapi konservatif gagal. Beberapa pasien memerlukan prosedur
yang ekstensif untuk mengurangi ukuran dari selubung tendon fleksor. Pasien
dengan rheumatoid arthritis lebih memerlukan tenosynovectomy daripada A-1
pulley release. Pada anak-anak trigger finger ibu jari dapat diatasi hanya dengan
A-1 pulley release, tetapi jari-jari lain memerlukan pembedahan yang lebih
ekstensif.
Program Fisioterapi:
Fisioterapi dengan menggunakan laser, ultrasound, terapi dingin, kompres
hangat (pagi hari dan malam sebelum tidur untuk membantu mengurangi
kekakuan), stimulasi listrik, massage dan terapi latihan jari-jari yang bertujuan
untuk menghilangkan peradangan, pembengkakan, nyeri serta memperbaiki
kelenturan tendon dan jaringan sekitarnya.
Komplikasi:
Komplikasi penanganan trigger finger jarang terjadi tetapi dapat timbul.
Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain ruptur tendon, bowstringing, infeksi,
deformitas fleksi, cedera nervus dan rekurensi.
Referensi:
Fauzi, A. (2015, Maret). Trigger Finger. 5.
Clinic, F. F. (2015). Trigger Finger. Retrieved from Flex-free.
Helmi, Z. N. (2012). Buku Ajar Gangguan Musculoskeletal: Trigger Finger.