0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
210 tayangan13 halaman

Terapi Bermain untuk Anak Usia 6-8 Tahun

Terapi bermain menyusun huruf menjadi kata dirancang untuk mengurangi kecemasan pasien anak di rumah sakit dengan memberikan stimulasi dan hiburan selama 30 menit melalui aktivitas menyusun huruf menjadi kata menggunakan potongan kardus.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
210 tayangan13 halaman

Terapi Bermain untuk Anak Usia 6-8 Tahun

Terapi bermain menyusun huruf menjadi kata dirancang untuk mengurangi kecemasan pasien anak di rumah sakit dengan memberikan stimulasi dan hiburan selama 30 menit melalui aktivitas menyusun huruf menjadi kata menggunakan potongan kardus.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS

KEPERAWATAN ANAK I

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

TERAPI BERMAIN “MENYUSUN HURUF MENJADI SEBUAH KATA”

DOSEN PENGAMPU:

Ns. SYALVIA ORESTI [Link]

DISUSUN OLEH:

ELSA SHINTIA PARAMITA

(1710105048)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH PADANG

2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

TERAPI BERMAIN MENYUSUN HURUF MENJADI SEBUAH KATA

Topik : Terapi Bermain Menyusun Huruf Menjadi Sebuah Kata

Hari/Tanggal : Jumat/ 05 Juli 2019

Tempat : Ruang Melati, RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Waktu Pelaksanaan : 10.00-10.30 WIB (30 menit)

Pembicara : Mahasiswa STIKes Alifah Padang

Peserta/Sasaran : Pasien Anak Usia 6-8 tahun di Ruang Melati

A. LATAR BELAKANG
Masuk rumah sakit merupakan peristiwa yang sering menimbulkan
pengalaman traumatik, khususnya pada pasien anak yaitu ketakutan dan ketegangan
atau stress hospitalisasi. Stress ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya
perpisahan dengan orang tua, kehilangan control, dan akibat dari tindakan invasif
yang menimbulkan rasa nyeri. Akibatnya akan menimbulkan berbagai aksi seperti
menolak makan, menangis, teriak, memukul, menyepak, tidak kooperatif atau
menolak tindakan keperawatan yang diberikan.
Berdasarkan hasil survei pendahuluan yang dilakukan di RS Dr. Moewardi
Surakarta pada bulan Oktober 2015, bahwa RSUD Dr. Moewardi Surakarta
merupakan rumah sakit kelas A dan menjadi salah satu pusat rujukan di Jawa Tengah
dengan kapasitas untuk perawatan anak kelas 3 di bangsal Melati II sebanyak 41
tempat tidur. Berdasarkan data rekam medik di RS Dr. Moewardi Surakarta pada
Oktober 2014-Oktober 2015 sebanyak 3.908 anak menjalani rawat inap di bangsal
Melati II. Menurut Puspita (2013), pada tahun 2011 sebanyak 63 dari 325 pasien anak
yang menjalani perawatan menangis, marah, dan kurang kooperatif, memberontak
saat proses perawatan, tidak mau berpisah dengan keluarga, bahkan tidak mau makan.
Berdasarkan observasi peneliti di bangsal Melati II pada tanggal 26 Oktober 2015
terdapat sebanyak 25 anak yang menjalani perawatan menangis, sulit tidur, tidak
tahan lama berada didalam bangsal, tidak ingin berpisah dari keluarga, hal ini
menunjukkan bahwa ada kecemasan yang dialami anak karena hospitalisasi.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan pengaruh
hospitalisasi pada anak yaitu dengan melakukan kegiatan bermain. Bermain
merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh
kesenangan dan kepuasan. Bermain merupakan aktivitas yang dapat menstimulasi
pertumbuhan dan perkembangan anak dan merupakan cerminan kemampuan fisik,
intelektual, emosional dan sosial sehingga bermain merupakan media yang baik untuk
belajar karena dengan bermain anak-anak akan belajar berkomunikasi, menyesuaikan
diri dengan lingkungan yang baru, melakukan apa yang dapat dilakukannya, dan
dapat mengenal waktu, jarak serta suara. Untuk itu dengan melakukan permainan
maka ketegangan dan stress yang dialami akan terlepas karena dengan melakukan
permainan rasa sakit akan dapat dialihkan (distraksi) pada permainannya dan terjadi
proses relaksasi melalui kesenangannya melakukan permainan
Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan
merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain
tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya
makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai
variasi permainan untuk kesehatan fisik, mental dan perkembangan emosinya.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan
juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan
pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan
kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak
yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan
yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang
lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang
masa kecilnya kurang mendapat kesempatan bermain.
Maka dari itu kami Mahasiswa STIKes Alifah Padang akan melakukan
penyuluhan terapi bermain yaitu menyusun huruf menjadi sebuah kata kepada anak
untuk mengurangi kecemasan anak akibat hospitalisasi.

B. TUJUAN
1. Tujuan Intruksional Umum
Setelah dilakukan terapi bermain selama 30 menit, anak diharapkan bisa
mengekspresikan perasaaannya dan menurunkan kecemasannya, merasa tenang
selama perawatan dirumah sakit dan tidak takut lagi terhadap perawat sehingga
anak bisa merasa nyaman selama dirawat dirumah sakit, serta dapat melanjutkan
tumbuh kembang anak yang normal atau sehat.
2. Tujuan Intruksional Khusus
Setelah mendapatkan terapi bermain satu (1) kali diharapkan anak mampu:
a. Untuk meningkatkan kemampuan anak dalam merangkai huruf menjadi kata
melalui media.
b. Bisa merasa tenang selama dirawat.
c. Anak bisa merasa senang dan tidak takut lagi dengan dokter dan perawat
d. Mau melaksanakan anjuran dokter dan perawat
e. Gerakan motorik halus pada anak lebih terarah
f. Dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan teman sebaya yang dirawat
diruang yang sama
g. Ketakutan dan kejenuhan selama dirawat di rumah sakit menjadi berkurang.
h. Mengembangkan bahasa, anak mengenal kata-kata baru.
i. Melatih sosial emosi anak.

C. MATERI
(Terlampir)

D. METODE
Metode yang digunakan adalah:
1. Demonstrasi
2. Praktik
E. MEDIA

1. Potongan kardus
2. Lem / doubletip
3. Gunting
4. Pita
5. Kertas gradasi
F. PENGORGANISASIAN
1. Struktur Organisasi
a. Leader : Elsa Shintia Paramita
b. Co-leader : Ratih Indah Permata Sari
c. Fasilitator : Rahma Tiana Putri
d. Observer : Afriyanti
2. Uraian tugas
a. Leader :
 Menjelaskan tujuan bermain
 Mengarahkan proses kegiatan pada anggota kelompok
 Menjelaskan aturan bermain pada anak
 Mengevaluasi perasaan setelah pelaksanaan
b. Co-leader:
 Membantu tugas leader
c. Fasilitator :
 Menyiapkan alat-alat permainan
 Memberi motivasi kepada anak untuk mendengarkan apa yang sedang
dijelaskan
 Mempertahankan kehadiran anak
 Mencegah gangguan/hambatan terhadap anak baik luar maupun
dalam
d. Observer :
 Mencatat dan mengamati respon klien secara verbal dan non verbal
 Mencatat seluruh proses yang dikaji dan semua perubahan prilaku
 Mencatat dan mengamati peserta aktif dari program bermain

G. SETTING TEMPAT

DENAH LOKASI

KETERANGAN:
: Pintu masuk : Fasilitataor

: Leader : Co-leader

: Pasien : Keluarga
H. Kegiatan

No Tahap Waktu Kegiatan Kegiatan Penanggung


Klien
Jawab
1. Pembuka 5 menit 1. Menjawab salam Leader
1. Mengucapkan salam 2. Anak berkenalan
an
2. Memperkenalkan
satu sama lain
diri 3. Anak dan
3. Anak saling
keluarga
berkenalan satu
mendengarkan
sama lain
penyuluh
4. Menjelaskan topik
4. Menjawab
dan tujuan
pertanyaan
pendidikan 5.
kesehatan
5. Menanyakan
kesiapan anak
2. Pelaksan 20 menit Menjelaskan tentang : 1. Memperhatikan Leader dan
aan 1. Menjelaskan kepada penjelasan Co-leader
anak dan keluarga penyuluh
2. Anak mengikuti
tujuan, manfaat, dan
kegiatan bermain
cara bermain
3. Anak dan
2. Mengajak anak
keluarga
untuk mengikuti
memberikan
kegiatan bermain
respon yang baik
3 Penutupa 5 menit 1. Memberikan reward 1. Anak dan Leader
n atas kemampuan keluarga
mengikuti kegiatan tampak senang
2. Menjawab
bermain
2. Memberikan salam salam
penutup

I. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
 Kondisi lingkungan tenang, dilakukan ditempat tertutup dan
memungkinkan klien untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan
 Posisi tempat di lantai
 Adik-adik sepakat untuk mengikuti kegiatan
 Alat yang digunakan dalam kondisi baik
 Leader, Fasilitator, observer berperan sebagaimana mestinya
b. Evaluasi Proses
 Leader dapat mengkoordinasi seluruh kegiatan dari awal hingga akhir
 Leader mampu memimpin acara
 Co-leader membantu mengkoordinasi seluruh kegiatan
 Fasilitator mampu memotivasi adik-adik dalam kegiatan
 Fasilitator membantu leader melaksanakan kegiatan dan bertanggung
jawab dalam antisipasi masalah
 Observer sebagai pengamat melaporkan hasil pengamatan kepada
kelompok yang berfungsi sebagai evaluator kelompok
 Peserta mengikuti kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akhir
c. Evaluasi Hasil
 Diharapkan anak dan mampu mempraktikkan apa yang sudah
diajarkan
 Menyampaikan perasaan setelah melakukan kegiatan
 Anak menyatakan rasa senangnya

LAMPIRAN
MATERI PENYULUHAN
A. PENGERTIAN
Bermain adalah dunia anak-anak sebagai bahasa yang paling universal, meskipun
tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu dari ribuan bahasa yang ada di dunia. Melalui
bermain, anak-anak dapat mengekspresikan apapun yang mereka inginkan. Menurut
Groos (Schaefer et al, 2009) bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk berlatih
peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan hidup (Nuryanti, 2007). Bermain
juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak bermasalah selain berguna untuk
mengembangkan potensi anak. Menurut Nasution (Cit Martin, 2008).

Bermain adalah pekerjaan atau aktivitas anak yang sangat penting. Melalui
bermain akan semakin mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik anak,
kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia nyata, menjadi eksis di
lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi manfaat lainnya (Martin,
2008). Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial dan
bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak akan
berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa yang dapat
dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2009). Bermain adalah
kegiatan yang dilakukan sesaui dgn keinginanya sendiri dan memperoleh kesenangan.
(Foster, 2007).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah: “Kegiatan yang
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan kerja
pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, belajar berkomunikasi dengan
lingkungan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar mengenal dunia dan
meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.”

B. FUNGSI BERMAIN
1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi bermain pada anak ini adalah dilakukan dengan melakukan rangsangan
pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat
mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan
rangsangan taktil, audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik
dan motorik akan meningkat. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang
telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari
kemampuan visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu
yang baru dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila sejak bayi dikenalkan
atau dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran di kemudian hari anak
lebih cepat berkembang di bandingkan tidak ada stimulasi sejak dini.
2. Membantu Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat
terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan komunikasi
dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti dunia tempat
tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna,
memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam
permainan,sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan
perkembangan kognitif selanjutnya.
3. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh dimana
pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan
merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak sudah mencoba
bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang
lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura menjadi seorang
guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak, menjadi seorang ibu dan lain-lain,
kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan keberadaan teman
sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan
orang.
4. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak
mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu
memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan
lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-
mobilan.
5. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk ekplorasi
tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari
individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku,
membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga
adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat
menghibur diri anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal ini
dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di rumah,
di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa
permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh
dilanggar.

C. MANFAAT BERMAIN
Manfaat yang didapat dari bermain, antara lain:
1. Membuang ekstra energi
2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan
organ-organ
3. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4. Anak belajar mengontrol diri.
5. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya
6. Meningkatnya daya kreativitas
7. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak
8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaa
9. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya
10. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan
11. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya

D. MACAM - MACAM BERMAIN


1. Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh
dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play) Perhatian pertama
anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut,
memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba,
menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar
b. Bermain konstruksi (Construction Play) Pada anak umur 3 tahun dapat
menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan
c. Bermain drama (Dramatic Play) Misalnya adalah bermain sandiwara
boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya
d. Bermain fisik Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain
2. Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan
mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan
membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contoh:
Melihat gambar di buku/majalah, mendengar cerita atau musik, menonton
televisi dsb.

E. ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)


Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat
mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat
perkembangannya, serta berguna untuk :
1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang
atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.
Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik
dandidorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang
[Link] alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio,
tape, TV, dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran,
bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita,
puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi
ibu dan anak, keluarga dan [Link] alat permainan : alat
permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dan lain-
lain.

F. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN


1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

G. TUJUAN TERAPI BERMAIN KETIKA ANAK HOSPITALISASI Tujuan kegiatan


1. Memberi informasi
2. Memicu normalisasi
3. Menggunakan sistem pendukung yang dikenal.
4. Mengidentifikasi teknik koping.
Contoh kegiatan :
 Mendesain tanda selamat datang
 Memicu orang tua mengisi angket mengenai ritual anak
 Memicu orang tua membawa foto dan mainan
 Memberi daftar kegiatan rumah sakit
 Proaktif melakukan permainan

H. PRINSIP BERMAIN DI RUMAH SAKIT


Menurut Thompson ED. (2009) prinsip bermain di rumah sakit adalah :
1. Kelompok umur yang sama
Permainan akan lebih efektif apabila dilaksanakan dalam kelompok umur
yang sama agar jenis permainan yang diberikan dapat disesuaikan dengan usia
dan tingkat perkembangan anak
2. Pertimbangan keamanan dan infeksi silang
3. Permainan yang digunakan hendaknya yang mudah dicuci agar infeksi silang
dapat dihindari
4. Tidak banyak energi serta permainan singkat
5. Anak yang sakit biasanya tidak memiliki energi yang cukup untuk bermain
sehingga permainan yang diberikan harus merupakan permainan yang tidak
menguras tenaga energi yang besar
6. Waktu bermain perlu melibatkan orang tua
7. Bila kegiatan bermain dilakukan bersama orang tua, maka hubungan orang tua
dengan anak akan lebih akrab dan kelainan atau perkembangan penyakit dapat
segera diketahui secara dini.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, K., et al. 2010. Contoh Proposal Terapi Bermain Pada Anak Prasekolah.
Diakses Pada Tanggal 11 Desember 2012. [Link]

Soetjiningsih. 2009. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC Wong, Donna L. 2009.
Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai