Contoh Kasus Program PLS:
Program Pemberantasan Buta Aksara, Melalui Keaksaraan Fungsional
Program pemberantasan buta aksara melalui keaksaraan Fungsional, di masyarakat
lebih dikenal dengan program “Keaksaraan Fungsional (KF)” saja. Program KF adalah
program pemberantasan buta aksara yang substansi belajarnya disesuaikan dengan
kebutuhan dan minat warga belajar berdasarkan potensi lingkungan yang ada di sekitar
kehidupan warga belajar. Dengan demikian hasil yang diharapkan dari program ini
adalah warga belajar dapat memanfaatkan hasil belajarnya dalam kehidupannya
sehari-hari (bersifat fungsional), guna peningkatan kualitas kesejahteraan hidupnya.
Selama pelaksanaan program KF, banyak kejadian yang menghambat kinerja
program, antara lain:
1. Kesalahan Rekruiting Warga Belajar
Dari hasil pengamatan selama ini diperkirakan bahwa sebagian besar warga belajar
program Keaksaraan Fungsional bukan berasal dari buta huruf murni, kejadian ini
mengakibatkan disamping sulit mengetahui peningkatan hasil belajar akibat dari proses
belajar, juga jumlah buta huruf yang ada penurunannya cukup merisaukan. Patut
diduga kecilnya penurunan ini sebagai akibat program tidak melayani “siapa yang
harus dilayani”. Petugas Dikmas di lapangan sering melakukan kesalahan, yakni
merekrut siapa saja yang mau menjadi warga belajar KF, bukan merekrut siapa yang
harus direkrut menjadi warga belajar KF.
Tidak adanya “data base“ menyulitkan pelaksanaan proses rekruiting. Data
merupakan amunisi tempur bagi seorang perencana dan pelaksana suatu program,
karena itu keberadaan data yang terus menerus diremajakan agar sesuai dengan
perkembangan dan kemajuan akan sangat diperlukan setiap saat. Peremajaan (updating
data) hanya akan berarti apabila telah dimiliki data dasar yang dikumpulkan dengan
cara dan alat yang tepat. Pendidikan luar sekolah belum memiliki data yang akurat
tentang penduduk buta huruf di setiap wilayah kecamatan yang merupakan wilayah
kerja seorang petugas pendidikan luar sekolah.
Akibat dari kurang akuratnya bahkan tidak adanya data base, selain mengakibatkan
terjadinya kesalahan dalam perekrutan warga belajar juga mengakibatkan beberapa
kejadian lain seperti proposal program kurang realistik, pengalokasian program yang
kurang tepat artinya bukan pada lokasi di mana terdapat warga masyarakat buta huruf
banyak.
2. Proses/Program pembelajaran Belum Menggunakan Pola Interaktif
Program belajar atau proses pembelajaran dalam program keaksaraan fungsional
belum merupakan proses interaktif antara warga belajar dengan tutor. Komunikasi dua
arah warga belajar dengan tutor mutlak harus terjadi karena walaupun sebenarnya
warga belajar buta huruf, namun harus diakui bahwa dalam kehidupan warga belajar
sehari-hari banyak pengalaman yang dihayati, dan ini merupakan pengetahuan yang
sangat berharga yang dimiliki warga belajar.
Di dalam program keaksaraan fungsional proses belajar terjadi secara interaktif
baik antar warga maupun dengan tutor sehingga mereka terlibat secara aktif di dalam
proses pembelajaran, bukan dengan pola satu arah. Dengan proses yang interaktif akan
tercipta keberanian, hubungan yang harmonis, penghargaan atas pengalaman dan
pengetahuan orang lain dan yang paling penting timbul rasa harga diri bagi warga
belajar.
Kenyataan di lapangan tidak jarang terjadi tutor, narasumber teknis atau sumber
belajar “mengajar” dalam arti menggurui warga belajar tanpa mempertimbangkan
bahwa warga belajar dewasa sarat dengan pengalaman dan ilmu kehidupan yang tentu
tidak dimiliki tutor yang lebih muda. Kejadian-kejadian lain yang juga sering ditemui
dalam proses pembelajaran program keaksaraan fungsional adalah warga belajar
banyak yang putus belajar di tengah jalan serta hasil belajar yang dicapai kurang
mampu memenuhi kebutuhan belajar warga belajar dan pada akhirnya tidak mampu
juga memenuhi kebutuhan pasar.
Pertanyaan kita sekarang, mengapa hal ini terjadi? Dan apa akar permasalahan
yang menyebabkan kejadian tersebut? Selama ini akar permasalahannya adalah: (1)
warga belajar kurang dilibatkan dalam penyusunan program belajar, sehingga dengan
demikian apa yang menjadi kebutuhan belajar warga belajar tidak dapat digali,
akhirnya substansi belajar atau jenis keterampilan yang dijadikan alat untuk belajar
keaksaraan menjadi kurang tepat dan kurang menarik minat belajar warga belajar; (2)
tutor/sumber belajar kurang memahami metode pembelajaran pendidikan luar sekolah
yakni metode pembelajaran orang dewasa (andragogi); akibatnya komunikasi dua arah
tidak terjadi dalam proses pembelajaran; (3) keterbatasan serta kurang sesuainya
substansi/materi sarana belajar. Ketidaksesuaian materi sarana belajar memang sangat
mungkin terjadi karena selama ini masih banyak sarana belajar yang dipakai
dikembangkan di luar kelompok belajar.
Secara konseptual program keaksaraan fungsional, sarana belajarnya harus
dikembangkan oleh warga belajar dan difasilitasi oleh tutor, sehingga dalam diri warga
belajar timbul kebanggaan karena mempelajari bahan belajar sesuai kebutuhannya,
serta di samping itu pula ketidaksesuaian materi dengan kebutuhan belajar warga
belajar kemungkinan akan terjadi sangat kecil. Namun demikian, masih banyak juga
ditemui bahwa tutor kurang mampu memfasilitasi warga belajar dalam
mengembangkan sarana belajar, baik akibat kurangnya kemampuan tutor dalam
mengembangkan sarana belajar KF maupun rendahnya motivasi mereka dalam
memberikan pelayanan terbaik bagi sesamanya. Akibatnya, sarana belajar yang
dikembangkan memiliki mutu yang perlu dipertanyakan baik dari segi isi, cara
penyampaian dan penampilan.
3. Pentahapan program yang tidak jelas
Dalam program belajar keaksaraan fungsional, dikenal tiga tahap penyelenggaraan
program, yakni: tahap pemberantasan, tahap pembinaan, dan tahap pelestarian. Dalam
pelaksanaannya di lapangan sangat sulit membedakan apakah kelompok belajar
tersebut termasuk tahap pemberantasan, pembinaan atau pelestarian. Akar
permasalahan yang menyebabkan hal ini terjadi adalah sampai saat ini konsep tahapan
ini tidak tertulis secara jelas, sehingga tidak dapat diketahui secara pasti, apa yang
menjadi kriteria jika suatu kelompok belajar dapat dikatakan masuk dalam salah satu
dari ketiga tahapan belajar tersebut.
Di masa mendatang sangat perlu diterbitkan atau paling tidak ada konsep tertulis
apa yang membedakan antara ketiga tahapan tersebut, selain faktor waktu. Karena
mungkin saja satu kelompok belajar telah belajar lebih dari 6 bulan, tetapi belum dapat
dikatakan naik ke tahap berikutnya akibat kemampuan standard yang dimiliki pada
tahap tertentu belum tercapai.
4. Kelompok belajar
Setiap kelompok belajar dalam program keaksaraan fungsional rata-rata terdiri dari
10 orang warga belajar. Cukup kecil memang, tetapi kenyataan yang di lapangan
ternyata kelompok yang sedemikian kecilnya ternyata sangat sulit untuk dipertahankan
sampai proses belajar selesai. Walaupun jumlah kelompok utuh sepuluh orang, tetapi
biasanya kalau ditelusuri secara seksama sering terjadi tambal-sulam. Tambal-sulam
ini terjadi karena ada dari sebagian petugas bermental “asal atasan senang” atau
bermental “yang penting kelompok belajar utuh 10 orang” tidak melaporkan apa yang
terjadi sebenarnya di lapangan.
Dengan kejadian seperti ini kemajuan belajar tidak dapat diketahui secara pasti
karena dalam kelompok tersebut ada warga belajar yang mulai dari awal, ada yang
pertengahan, bahkan ada pula yang baru bergabung ketika kelompok belajar tersebut
akan dipantau. Ada beberapa hal yang menyebabkan kejadian ini berlangsung, antara
lair: (1) mobilitas warga belajar sangat tinggi; hal ini terjadi karena hampir seluruh
warga belajar program keaksaraan fungsional adalah orang miskin, baik itu miskin
ilmu, miskin kemampuan, dan yang paling berat adalah miskin ekonomi/harta. Oleh
karena itu, pemenuhan ekonomi menjadi prioritas utama bagi sebagian besar dari
mereka. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi tidak jarang memaksa mereka harus
berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, bahkan pindah ke propinsi lain.
Kejadian seperti di atas sangat sulit untuk dihindari, karena bagaimana pun
baiknya program belajar, jika tidak langsung memberikan sesuatu yang bermakna bagi
kehidupan warga belajar, terutama dalam hal pemecahan masalah ekonomi, maka
mobilitas warga belajar sangat sulit untuk dihindari. (2) Ketidak-utuhan kelompok
belajar juga dipengaruhi oleh kekurangsesuaian antara materi belajar dengan
kebutuhan dan minat belajar warga belajar. Hal ini terjadi karena sering sekali petugas
(tutor atau fasilitator) tidak mau pusing-pusing untuk berusaha memenuhi kebutuhan
belajar warga belajar, sehingga bukan upaya untuk memenuhi kebutuhan belajar warga
belajar yang terjadi, tetapi apa yang mampu dilaksanakan oleh petugas itulah yang
harus dipelajari oleh warga belajar.
Dengan demikian warga belajar menjadi tidak betah belajar, karena apa yang
mereka harapkan dari proses belajar tidak diperolehnya, dan akhirnya mereka
mengundurkan din atau putus belajar. (3) Kesalahan dalam penempatan kelompok
belajar (lokasi) juga merupakan salah satu faktor penyebab sulitnya mempertahankan
keutuhan kelompok belajar. Hampir semua petugas memahami bahwa lokasi kelompok
belajar seharusnya dekat atau berada di sekitar pemukiman warga belajar, tetapi
biasanya tempat belajar beserta sarananya tidak ada di sekitar pemukiman kelompok
belajar. Biasanya kenyataan seperti ini memaksa petugas untuk mencari tempat belajar
di luar pemukiman warga belajar.
Sangat sulit memang mencari pemecahan masalah seperti tersebut di atas, oleh
karenanya sejak bulan Agustus 1998, telah dirintis pelembagaan Pusat Kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM) yang berada di tengah-tengah masyarakat, sehingga
kendala-kendala tersebut sedapat mungkin dapat dihindari. Sedangkan bagi kelompok
belajar yang tidak mungkin belajar di PKBM, tidak harus dilaksanakan di PKBM,
tetapi masih berada di bawah pengawasan/kendali oleh PKBM.
5. Hasil Belajar
Hasil belajar dalam program keaksaraan fungsional adalah di samping warga
belajar memiliki kemampuan baca, tulis, hitung, dan berbahasa Indonesia, juga
memiliki keterampilan bermata pencaharian yang dapat dijadikan sumber penghasilan
(fungsional), artinya hasil belajar tersebut bermakna, paling tidak terhadap dirinya
sendiri dalam rangka meningkatkan kualitas hidupnya. Oleh karena itu, program
pembelajaran, seharusnya diarahkan pada suatu tujuan hasil belajar tersebut di atas, dan
sudah barang tentu antara satu warga belajar dengan warga belajar lain memiliki
kebutuhan belajar yang berbeda, atau paling tidak antara satu kelompok belajar dengan
kelompok belajar lain kebutuhan belajarnya berbeda.
Kejadian atau kenyataan di lapangan yang sering ditemui, ternyata hasil belajar
yang diperoleh oleh warga belajar KF baru terbatas pada kemampuan baca, tulis, hitung
semata (itu pun sangat terbatas), tetapi belum sepenuhnya dapat memberikan makna
terhadap kehidupannya (kurang fungsional). Kenapa hal ini terjadi? Pertama, sampai
saat ini setiap kelompok belajar belum memiliki patokan yang jelas, hasil belajar apa
yang ingin dicapai.
Contoh : jika kelompok belajar KF belajar baca, tulis, hitung, dan bahasa Indonesia
melalui keterampilan menjahit, maka seharusnya ada standard sampai di mana? atau
sampai tingkat kemampuan apa?...baca, tulis, hitung dan berbahasa Indonesia warga
belajar, serta dalam hal keterampilan warga belajar selesai sampai terampil membuat
apa...? Sehingga dengan demikian ada batasan yang jelas kapan warga belajar berhenti
belajar untuk tahapan tertentu.
Karena jika warga belajar, belajar terus tanpa ada batasan sampai kapan? dan
tingkat kemampuan apa?, lama-kelamaan akan dapat menurunkan motivasi belajar,
yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya putus belajar.
Contoh kecil yang mungkin dapat dijadikan acuan adalah “belajar setir mobil”
seseorang akan berhenti belajar setir mobil, jika warga belajar tersebut telah dinyatakan
lulus oleh kepolisian dengan bukti diberikan Surat Izin Mengemudi (SIM). Sementara
di lain pihak pedoman atau petunjuk bagaimana mengevaluasi hasil belajar KF (baik
untuk pengetahuan maupun keterampilan) sampai saat ini belum ada, padahal
sesulit/semudah apapun pelajaran dalam program pembelajaran harus ada sistem
evaluasinya untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajarnya.
Di bidang sertifikasi juga dalam keaksaraan fungsional belum ada. Padahal
sertifikasi ini sangat perlu untuk mengetahui sudah berapa banyak masyarakat yang
terbebas dari buta aksara serta dapat memberikan kebanggaan bagi warga belajar;
karena telah memegang tanda bukti bahwa mereka sudah memiliki pengetahuan dan
kemampuan baca, tulis, hitung, dan berbahasa Indonesia.
Dengan adanya sertifikasi, dapat dihindari kesalahan dalam pendataan oleh BPS,
karena pengalaman menunjukkan bahwa bagi setiap penduduk yang tidak sekolah
(jalur sekolah) dan putus sekolah dasar kelas I, II dan III oleh petugas statistik
dimasukkan ke dalam kategori buta huruf. Namun jika warga masyarakat yang masuk
ke dalam kategori tersebut tetapi telah memiliki sertifikat dari program keaksaraan
fungsional hal tersebut dapat dihindari. Dulu memang ketika masih program
pemberantasan buta aksara bernama Program Kejar Paket A, setiap warga belajar yang
telah mengikuti satu tahapan belajar dan dinyatakan lulus diberikan STSB, yaitu Surat
Tanda Serta Belajar.
Kegiatan Program-program PLS perlu dilakukan evaluasi karena dapat:
1. Memberi Masukan Bagi Perencana Program : Perencanaan program adalah
kegiatan pengelolaan bersama orang lain atau melalui orang lain, baik perorangan
maupun kelompok, untuk menyusun program pendidikan luar sekolah Program
pendidikan luar sekolah yang sistematik adalah dengan memperhatikan sepuluh
patokan atau komponen PLS yaitu :
a. Warga Belajar
b. Sumber Belajar
c. Kelompok Belajar
d. Pamong Belajar
e. Proses Belajar
f. Program Belajar
g. Panti Belajar
h. Dana Belajar
i. Sarana Belajar
j. Hasil Belajar
2. Memberi Masukan Bagi Kelanjutan, Perluasan Dan Penghentian Program
Dalam evaluasi ini yang dinilai adalah program pendidikan luar sekolah yang telah
direncanakan dan dilaksanakan yang mencakup komponen, proses dan tujuan
program. tujuan ini dicapai melalui evaluasi sumatif (program berakhir) dan formatif
(program sedang berlangsung). hasil evaluasi dapat dijadikan masukan untuk
pengambilan keputusan tentang perlunya penghentian atau pengembangan program.
3. Memberi Masukan Untuk Modifikasi Program
Informasi yang berkaitan dengan penerimaan program dan komponen-komponennya
akan sangat penting artinya bagi pengambilan keputusan tentang perlunya modifikasi
atau perbaikan program dan untuk mempertahankan program yang sedang
dilaksankan, serta untuk melihat keunggulan yang sedang dilaksankan.
4. Memperoleh Informasi Tentang Factor Pendukung dan Penghambat Program
Evaluasi ini dilakukan untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan program serta
peluang dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program. hasil evaluasi
5. Memberi Motivasi Dan Pembinaan Pengelola dan Pelaksana Program
Pengeola dan pelaksana program perlu dimotivasi dan dibina sehingga mereka dapat
melaksanakan tugas mereka sebaik mungkin sesuai denagn kriteria yang telah
direncanakan.
6. Memberi Masukan untuk Memahami Landasan Keilmuan Bagi Evaluasi.
Program. Dalam evaluasi program banyak yang dapat dijadikan sebagai landasan,
namun perlu digunakan sekurang-kurangnya satu disiplin keilmuan.