0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan27 halaman

Perbedaan ASD dan ADHD pada Anak

Dokumen tersebut membahas perbedaan antara Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). ASD adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi, sedangkan ADHD ditandai dengan kurangnya perhatian dan hiperaktif. Kedua gangguan ini memiliki gejala yang serupa namun berbeda dalam penyebab dan ciri khasnya.

Diunggah oleh

nurlatifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
247 tayangan27 halaman

Perbedaan ASD dan ADHD pada Anak

Dokumen tersebut membahas perbedaan antara Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). ASD adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi, sedangkan ADHD ditandai dengan kurangnya perhatian dan hiperaktif. Kedua gangguan ini memiliki gejala yang serupa namun berbeda dalam penyebab dan ciri khasnya.

Diunggah oleh

nurlatifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

PERBEDAAN ANTARA AUTISM SPECTRUM DISORDER


(ASD) DAN ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY
DISORDER (ADHD)

Disusun Oleh:
Nur Latifah Kurnia Fachrudin
112017236

Pembimbing:
Dr. Elly Ingkiriwang, [Link]

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 27 JANUARI – 8 FEBRUARI 2020

BAB I
PENDAHULUAN

Terdapat berbagai macam gangguan tumbuh kembang anak, diantaranya retardasi


mental, gangguan perkembangan psikologis, serta gangguan perilaku dan emosional. Contoh
gangguan perkembangan psikologis adalah gangguan perkembangan khas berbicara dan
berbahasa, gangguan perkembangan belajar khas, gangguan perkembangan motorik khas, dan
gangguan perkembangan pervasif. Autisme/Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah salah
satu contoh dari gangguan perkembangan pervasif. Sedangkan contoh dari gangguan perilaku
dan emosional adalah gangguan hiperkinetik/ Attention Deficit Hyperactivity Disorder
(ADHD) dan gangguan tingkah laku.1,2 ASD dan ADHD sulit dibedakan karena anak autisme
cenderung fokus pada dunianya sendiri sehingga tidak ada perhatian/in-atensif ketika diajak
komunikasi, sedangkan Anak ADHD cenderung tidak mau diam sehingga tidak ada
perhatian/in-atensif ketika diajak komunikasi.1,2
Autism spectrum disorder (ASD) atau dikenal dengan istilah gangguan
perkembangan pervasif, merupakan sekelompok keadaan keterlambatan dan penyimpangan
dalam perkembangan keterampilan sosial, bahasa dan komunikasi, serta perilaku. Terdapat
lima golongan dalam ADS yaitu: gangguan autistik, gangguan asperger, gangguan
disintegratif masa kanak, gangguan Rett, dan gangguan perkembangan pervasif yang tidak
diklasifikasikan di tempat lain. Anak-anak ini menunjukkan perilaku menarik diri, tidak
berbicara, aktivitas yang repetitif dan stereotip, serta senantiasa memalingkan pandangan dari
orang lain atau tidak mampu melakukan kontak mata. 3 WHO epidemiologi data global
memperkirakan prevalensi autisme mencapai 1:160 atau 7.6 juta pertahun. Autisme
menduduki 0,3% dari beban penyakit global. Setiap tahunnya terdapat peningkatan jumlah
anak autis pada rentang usia 5-19 tahun.4
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) didefinisikan sebagai kurang/ tidak
adanya perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas, paling banyak terjadi pada anak-anak,
dapat berlanjut sampai remaja bahkan sampai dewasa.1 Prevalensi ADHD di dunia
berdasarkan The National Resource on ADHD dikatakan 7.2% (129juta) anak di dunia
dengan ADHD, 3.4% orang dewasa di dunia dengan ADHD, dan angka kejadian ADHD
meningkat dari 7% tahun 1997-1997 menjadi 10.2% pada tahun 2012-2014.5
ASD adalah serangkaian gangguan perkembangan terkait yang dapat mempengaruhi
keterampilan berbahasa, perilaku, interaksi sosial, dan kemampuan belajar, sedangkan ADHD
berdampak pada cara otak tumbuh dan berkembang.6 Walau bagaimanapun, seseorang itu
mampu untuk memiliki kedua – dua kondisi ini dalam satu waktu yang sama. Diagnosis yang
tepat sejak dini dapat membantu mereka dengan kedua kondisi ini mendapatkan perawatan
yang tepat sehingga mereka tidak kehilangan perkembangan dan pembelajaran yang
sepatutnya. Dengan perawatan dini yang tepat, mereka mampu untuk memiliki kehidupan
yang sukses dan bahagia. Oleh itu, bagi memberikan perawatan dini yang tepat, maka perlu
difahami terlebih dahulu perbedaan antara Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention
Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) ini.
BAB II
PEMBAHASAN

Definisi Autism Spectrum Disorder (ASD)


Autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf berbasis
biologis yang ditandai dengan defisit persisten dalam komunikasi sosial dan interaksi sosial
dan pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas dan berulang. Istilah autism pertama kali
diperkenalkan oleh psikiater asal Harvard Leo Kanner pada tahun 1943. Sebelum tahun 1980,
anak dengan gejala spektrum autisme didiagnosa sebagai skizofrenia masa kanak.7
Terminologi dan kriteria diagnostik untuk ASD bervariasi secara geografis.
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) digunakan terutama di
Amerika Serikat dan diperbarui pada 2013 (DSM – 5). The World Health Organization
International Classification of Diseases, 10th revision (ICD-10) digunakan di negara –
negara lain di seluruh dunia. Dan versi revisi ke – 11 (ICD-11) yang dirilis pada 2018 untuk
memulai persiapan implementasi dan akan digunakan oleh negara – negara anggota yang
mengantisipasi pada tahun 2022.
Menurut American Psychiatry Association (APA), Autism spectrum disorder (ASD)
adalah kondisi perkembangan yang kompleks yang melibatkan tantangan persisten dalam
interaksi sosial, bicara dan komunikasi nonverbal, dan perilaku terbatas / berulang. 8
Sedangkan menurut ICD – 10, ASD adalah suatu jenis kelainan perkembangan pervasif yang
didefinisikan oleh: (a) adanya perkembangan abnormal atau terganggu yang terwujud
sebelum usia tiga tahun, dan (b) tipe karakteristik fungsi abnormal di ketiga area
psikopatologi: resiprokal interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang, stereotip,
berulang. Selain fitur – fitur diagnostik spesifik ini, sejumlah masalah nonspesifik lainnya
sering terjadi, seperti fobia, gangguan tidur dan makan, amarah, dan agresi (diarahkan
sendiri).9
Menurut ICD – 11, ASD adalah gangguan yang ditandai oleh defisit persisten dalam
kemampuan untuk memulai dan mempertahankan interaksi sosial timbal balik dan
komunikasi sosial, dan oleh serangkaian pola perilaku dan minat yang terbatas, berulang, dan
tidak fleksibel. Timbulnya gangguan terjadi selama periode perkembangan, biasanya pada
anak usia dini, tetapi gejala mungkin tidak menjadi nyata sampai nanti, ketika tuntutan sosial
melebihi kapasitas terbatas. Defisit cukup parah untuk menyebabkan penurunan fungsi
pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan atau bidang penting lainnya dan biasanya
merupakan fitur meresap dari fungsi individu yang dapat diamati di semua pengaturan,
meskipun mereka dapat bervariasi sesuai dengan sosial, pendidikan, atau konteks lainnya.10
Epidemiologi Autism Spectrum Disorder (ASD)
Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan 1 dari 160 anak di seluruh
dunia memiliki ASD. Prevalensi ASD di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah
sejauh ini tidak diketahui.11
Laporan daripada Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun
2014 mengestimasi bahwa 1 dari 68 anak di Amerika Serikat menderita ASD ( atau 14,7 per
1000 anak berusia 8 tahun) dimana telah terjadi peningkatan sekitar 30% dari estimasi
sebelumnya yang dilaporkan pada tahun 2012 yaitu 1 dari 88 anak (11,4 per 1000 anak
berusia 8 tahun). Sampai saat ini belum ada studi mengenai prevalensi ASD di Indonesia.
Bedasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2010, Direktur Bina Kesehatan Jiwa
Kementerian Kesehatan memperikirakan terdapat 112.000 anak di Indonesia menyandang
autisme, pada rentang usia 5-19 tahun, bahwa ASD dilaporkan terjadi pada semua kelompok
ras, etnis dan sosial ekonomi. ASD sekitar 4 kali lebih umum di kalangan anak laki-laki
daripada di kalangan anak perempuan. 12
Data epidemiologis yang tersedia meyakinkan bahwa tidak ada bukti hubungan sebab
akibat antara vaksin campak, gondong dan rubella (MMR) dengan ASD. Studi sebelumnya
yang menunjukkan adanya hubungan sebab akibat antara vaksin MMR dan ASD telah ditarik
setelah ditemukan adanya kecurangan dalam melakukan penelitian.13 Juga tidak ada bukti
yang menunjukkan bahwa vaksin pada masa kanak – kanak yang lain dapat meningkatkan
risiko ASD.11
Etiologi ASD
ASD sangat berkait rapat dengan genetik. ‘Concordance rate’ pada kembar monozigot
(∼60-90%) kira – kira sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada pada kembar dizigotik dan
saudara kandung. Sedangkan keturunan tingkat pertama (first degree relative) menunjukkan
peningkatan risiko ASD sebesar lima kali lipat dibandingkan dengan prevalensi pada populasi
umum. Untuk alasan yang tidak diketahui, ASD mempengaruhi empat kali lebih banyak anak
laki – laki daripada perempuan.

a. Faktor genetik

ASD juga heterogen secara genetis dimana lebih dari 20 mutasi yang diketahui,
termasuk variasi jumlah salinan, menyumbang sekitar 10 – 20% dari semua kasus,
meskipun tidak satu pun dari masing – masing penyebab ini yang menyumbang lebih
dari 1 – 2%. Banyak gen yang terkait dengan ASD juga dapat menyebabkan penyakit
lain. Misalnya, mutasi pada MeCP2, FMR1, dan TSC1 & 2 dapat menyebabkan
keterbelakangan mental tanpa ASD, dan alel gen tertentu, misalnya, neurexin 1,
dikaitkan dengan ASD dan skizofrenia. Sangat mungkin bahwa banyak kasus ASD
dihasilkan dari mekanisme genetik yang lebih kompleks, termasuk pewarisan varian
genetik multipel atau modifikasi epigenetik.14
Gambar 1: Contoh gen yang terlibat dalam autisme14
b. Antenatal : meliputi penyakit yang diderita ibu virus rubella, virus citomegalo,
anemia berat dapat memengaruhi perkembangan susunan saraf pusat janin
maupun obat-obat yang dikonsumsi seperti antihistamin, obat migraine, penenang,
antiemetic, antibiotik
c. Gangguan Susunan saraf pusat : berkurangnya sel purkinje di dalam otak dan
kelainan struktur pusat emosi dalam otak. Selain itu, ditemukan bahwa bagian
corpus callosum pada anak autis biasanya berukuran lebih kecil sehingga
berkurangnya koordinasi stimulus antara otak kanan dan otak kiri. 15 Selain corpus
callosum, terdapat kelainan pada lobus parietalis dan serebelum serta sistem
limbiknya yang ditemukan pada 43% penyandang autisme yang menimbulkan
gejala acuh terhadap lingkungan pada anak. Pada serebelum, manifestasi yang
ditimbulkan berupa gangguan proses sensorik, daya ingat, berfikir, belajar
berbahasa dan proses atensi. Pada pemeriksaan MRI didapatkan hypoplasia
serebelar lobul VI dan VII serta abnormalitas korteks pada beberapa pasien
autisme. Selain itu, dapat terjadi kelainan pada hipokampus dan amigdala yang
menyebabkan manifestasi kelainan fungsi kontrol agresi dan emosi.
d. Keracunan logam berat
Kandungan logam seperti arsenik, timbal, air raksa memiliki pengaruh terhadap
sistem saluran cerna, sistem imun tubuh, sistem saraf, dan sistem endokrin.
Logam berat menyebabkan berkembangnya radikal bebas oksidan sehingga
terjadi defisiensi antioksidan dan merusak jaringan tubuh termasuk otak.15
e. Gangguan metabolisme
Asam amino phenolic yang berfungsi dalam pembentukan neurotransmitter
seringkali menyebabkan terjadinya gangguan tingkah laku pada pasien autis
karena metabolisme buruk. Kurangnya metabolisme asam amino phenolic
menyebabkan terakumulasinya katekolamin yang bersifat toksik bagi saraf. Asam
amino phenolic ditemukan dalam gandum, jagung, gula, coklat, pisang, dan apel.

Kriteria Diagnostik ASD


Menurut DSM V, kriteria diagnosis untuk ASD:2
A. Hendaya persisten pada komunikasi dan interaksi sosial dalam semua konteks yang
bermanifestasi dalam 3 hal berikut:
1. Hendaya pada hubungan sosial-emosional secara timbal balik (seperti
pendekatan sosial yang abnormal, berkurangnya berbagi minat, emosi, atau
afek, kegagalan untuk memulai atau menanggapi interaksi sosial)
2. Hendaya pada perilaku komunikasi non-verbal yang digunakan untuk interaksi
sosial (seperti komunikasi verbal dan non-verbal dengan integrasi buruk,
kelainan dalam kontak mata dan bahasa tubuh atau dalam memahami dan
menggunakan gerakan, dan kurangnya ekspresi wajah dan komunikasi non-
verbal)
3. Hendaya dalam mengembangkan, memelihara, dan memahami hubungan
(seperti kesulitan menyesuaikan perilaku dalam berbagai kontek sosial,
kesulitan berteman, tidak adanya minat pada teman sebaya)
B. Pola perilaku, minat, dan aktivitas stereotipik berulang dan terbatas yang
bermanifestasi setidaknya 2 dari hal berikut:
1. Stereotip atau pengulangan dalam gerakan motorik, penggunaan suatu objek,
atau ucapan (misalnya membariskan mainan atau membalikan benda, echolalia,
frasa istimewa)
2. Kepatuhan yang tidak fleksibel terhadap rutinitas, pola ritual, kebiasaan verbal
ataupun non-verbal atau sangat kesulitan terhadap perubahan (misalnya tekanan
ekstrim pada perubahan kecil, pola pikir kaku, selalu mengambil rute yang sama
ataupun makan makanan yang sama setiap hari)
3. Sangat kaku, memiliki ketertarikan tetap terhadap sesuatu sehingga terlihat
abnormal dalam segi intensitas ataupun tingkat konsentrasi (misalnya
keterikatan yang kuat, atau kesenangan terhadap benda-benda yang tidak biasa)
4. Reaksi yang kurang atau berlebihan terhadap rangsang sensorik ataupun
ketertarikan tidak biasa dari rangsangan sensorik lingkungan (misalnya
ketidakpedulian terhadap rasa sakit/suhu, respon negatif terhadap suara atau
tekstur tertentu, menghidu atau menyentuh barang yang berlebih, daya tarik
visual terhadap cahaya atau gerakan).
C. Gejala harus munucl pada usia dini (semuanya tidak akan muncul sampai saat
tuntutan sosial melebihi kapasitas terbatas)
D. Keseluruhan gejala membatasi dan mengganggu secara fungsional setiap hari
E. Gangguan ini tidak lebih baik dijelaskan oleh kecacatan intelektual (gangguan
perkembangan intelektual) atau keterlambatan perkembangan global. Disabilitas
intelektual dan gangguan spektrum autism sering terjadi tumpeng tindih.

Sedangkan dalam PPDGJ III, kriteria diagnosis yang digunakan adalah:2


- Gangguan perkembangan pervasif yang ditandai oleh adanya kelainan dan/atau
hendaya perkembangan yang muncul sebelum usia 3 tahun, dan dengan ciri kelainan
fungsi dalam tiga bidang: interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku yang terbatas
dan berulang.
- Biasanya tidak jelas ada periode perkembangan yang normal sebelumnya, tetapi bila
ada, kelainan perkembangan sudah menjadi jelas sebelum usia 3 tahun, sehingga
diagnosis sudah dapat ditegakkan. Tetapi gejala-gejalanya (sindrom) dapat di
diagnosis pada semua kelompok umur.
- Selalu ada hendaya kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik (reciprocal
social interaction). Ini berbentuk apresiasi yang tidak adekuat terhadap isyarat sosio-
emosional, yang tampak sebagai kurangnya respons terhadap emosi orang lain
dan/atau kurangnya modulasi terhadap perilaku dalam konteks sosial; buruk dalam
menggunakan isyarat sosial dan integrasi yang lemah dalam perilaku sosial,
emosional dan komunikatif; dan khususnya, kurangnya respons timbal balik sosio-
emosional.
- Demikian juga terdapat hendaya kualitatif dalam komunikasi. Ini berbentuk
kurangnya penggunaan keterampilan bahasa yang dimiliki di dalam hubungan
sosial; hendaya dalam permainan imaginatif dan imitasi sosial; keserasian yang
buruk dan kurangnya interaksi timbal balik dalam percakapan; buruknya keluwesan
dalam bahasa ekspresif dan kreativitas dan fantasi dalam proses pikir yang relatif
kurang; kurangnya respons emosional terhadap ungkapan verbal dan non-verbal
orang lain; hendaya dalam menggunakan variasi irama atau penekanan sebagai
modulasi komunikatif; dan kurangnya isyarat tubuh untuk menekankan atau
memberi arti tambahan dalam komunikasi lisan.
- Kondisi ini juga ditandai oleh pola perilaku, minat dan kegiatan yang terbatas,
berulang dan stereotipik. Ini berbentuk kecenderungan untuk bersikap kaku dan rutin
dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari; ini biasanya berlaku untuk kegiatan
baru dan juga kebiasaan sehari-hari serta pola bermain. Terutama sekali dalam masa
kanak yang dini, dapat terjadi kelekatan yang khas terhadap benda-benda yang aneh,
khususnya benda yang tidak lunak. Anak dapat memaksakan suatu kegiatan rutin
dalam ritual yang sebetulnya tidak periu; dapat terjadi preokupasi yang stereotipik
terhadap suatu minat seperti tanggal, rute atau jadwal; sering terdapat stereotipi
motorik; sering menuniukkan minat khusus terhadap segi-segi non-fungsional dari
benda-benda (misalnya bau atau rasanya); dan terdapat penolakan terhadap
perubahan dari rutinitas atau dalam detil dari lingkungan hidup pribadi (seperti
perpindahan mebel atau hiasan dalam rumah).
- Semua tingkatan IQ dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autisme, tetapi
pada tiga perempat kasus secara sigrrifikan terdapat retardasi mental.

Perawatan dan Terapi ASD


Sehingga saat ini, tidak ada obat untuk mengobati gangguan spektrum autisme. Tetapi
beberapa obat dapat membantu mengatasi gejala terkait seperti depresi, kejang, susah tidur,
dan masalah fokus. Penelitian telah menunjukkan bahwa pengobatan paling efektif ketika
dikombinasikan dengan terapi perilaku.16
Jenis perawatan yang diterima untuk gangguan spektrum autisme tergantung pada
kebutuhan individualnya karena ASD adalah gangguan spektrum (yang berarti beberapa anak
memiliki gejala ringan dan yang lain memiliki gejala parah) dan setiap satunya dapat berbeda
– beda. Tujuan dari perawatan ini adalah untuk mengurangi gejala dan meningkatkan
pembelajaran dan perkembangannya. Berbagai jenis terapi dapat diberikan untuk
meningkatkan kemampuan bicara dan perilaku, dan kadang – kadang obat – obatan untuk
membantu mengelola segala kondisi medis yang berkaitan dengan autisme.16
Risperidone (Risperdal) adalah satu-satunya obat yang disetujui oleh FDA untuk anak
– anak dengan gangguan spektrum autisme. Ini dapat diresepkan untuk anak – anak berusia
antara 5 dan 16 tahun untuk membantu sifat lekas marah. Pada beberapa penelitian,
risperidone telah terbukti efektif pada dosis 0,5 – 1,5 mg. Beberapa dokter akan meresepkan
obat lain dalam kasus – kasus tertentu, termasuk selective serotonin reuptake inhibitor
(SSRI), obat anti ansietas, atau stimulan, tetapi obat – obat ini tidak disetujui oleh FDA untuk
ASD.16

Terapi Perilaku dan Komunikasi

a. Applied Behavior Analysis (ABA)


ABA sering digunakan di sekolah dan klinik untuk membantu mereka dengan
ASD mempelajari perilaku positif dan mengurangi perilaku negatif. Pendekatan ini
dapat digunakan untuk meningkatkan berbagai keterampilan, dan ada berbagai jenis
untuk berbagai situasi, termasuk:16
- Discrete trial training (DTT) menggunakan pelajaran sederhana dan penguatan
positif.
- Pivotal response training (PRT) membantu mengembangkan motivasi untuk
belajar dan berkomunikasi.
- Early intensive behavioral intervention (EIBI) adalah yang terbaik untuk anak di
bawah usia 5 tahun.
- Verbal behavior intervention (VBI) berfokus pada keterampilan bahasa.
b. Developmental, Individual Differences, Relationship – Based Approach (DIR)
Jenis perawatan ini lebih dikenal sebagai Floortime. Itu karena terapi ini
melibatkan orang tua dengan anak untuk bermain dan melakukan kegiatan yang
disukainya secara bersamaan. Ini dimaksudkan untuk mendukung pertumbuhan
emosional dan intelektual dengan membantunya mempelajari keterampilan
komunikasi dan emosi.16
c. Treatment and Education of Autistic and Related Communication – handicapped
Children (TEACCH)
Perawatan ini menggunakan isyarat visual seperti kartu bergambar untuk
membantu anak dengan gangguan ASD ini mempelajari keterampilan sehari – hari
seperti berpakaian. Informasi ini dipecah menjadi langkah – langkah yang kecil
sehingga ia dapat mempelajarinya dengan lebih mudah.16
d. The Picture Exchange Communication System (PECS)
Ini adalah perawatan lain yang juga berbasis visual, tetapi menggunakan
simbol bukan kartu bergambar. Anak bertanya dan berkomunikasi melalui simbol –
simbol khusus.16
e. Occupational Therapy
Jenis perawatan ini membantu mereka belajar keterampilan hidup seperti
memberi makan dan berpakaian sendiri, mandi, dan memahami bagaimana
berhubungan dengan orang lain. Keterampilan yang dipelajari dimaksudkan untuk
membantunya hidup secara mandiri.16
f. Sensory Integration Therapy
Jika anak mudah kesal dengan hal – hal seperti cahaya terang, suara – suara
tertentu, atau perasaan apabila disentuh, terapi ini dapat membantunya belajar
menangani informasi sensorik semacam itu.16

Prognosis
Prognosis anak dengan spektrum autisme dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain berat ringannya gejala atau kelainan pada otak, usia diagnosis dan keberhasilan terapi,
kecerdasan anak, kemampuan berbicara dan bahasa, serta terapi intensif yang terpadu. Jika
faktor-faktor tersebut dapat dilakukan dengan baik, maka prognosis baik juga didapatkan
pada anak dengan gangguan spektrum autisme. Prognosis untuk penderita autisme tidak
selalu buruk. Pada gangguan autisme, anak yang mempunyai IQ diatas 70 dan mampu
menggunakan komunikasi bahasa mempunyai prognosis yang baik. Berdasarkan gangguan
pada otak, autisme tidak dapat sembuh total tetapi gejalanya dapat dikurangi, perilaku dapat
diubah ke arah positif dengan berbagai terapi.7

Definisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)


Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah satu kondisi perkembangan
saraf yang mempersulit anak – anak untuk berkonsentrasi, memperhatikan, duduk diam dan
mengendalikan impulsif. Menurut National Institute of Mental Health, ADHD adalah
gangguan otak yang ditandai oleh pola kurangnya perhatian dan atau impulsif – hiperaktif
yang mengganggu fungsi atau perkembangan.17

- Kurang perhatian berarti seseorang lari daripada menjalankan tugas, tidak memiliki
kegigihan, sulit mempertahankan fokus, dan tidak teratur; dan masalah – masalah ini
bukan karena pembangkangan atau kurangnya pemahaman.17
- Hiperaktif berarti seseorang tampaknya bergerak terus – menerus, termasuk dalam
situasi yang tidak sesuai; atau kegelisahan, pergerakan, atau pembicaraan yang
berlebihan. Pada orang dewasa, ini bisa berupa kegelisahan ekstrem atau membuat
orang lain kelelahan dengan aktivitas konstan.17
- Impulsif berarti seseorang membuat tindakan tergesa – gesa yang terjadi pada saat itu
tanpa terlebih dahulu memikirkannya dan yang mungkin memiliki potensi bahaya
yang tinggi; atau keinginan untuk imbalan langsung atau ketidakmampuan untuk
menunda kepuasan. Seseorang yang impulsif mungkin secara sosial mengganggu dan
secara berlebihan mengganggu orang lain atau membuat keputusan penting tanpa
mempertimbangkan konsekuensi jangka panjangnya.17

Di dalam ICD – 10, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dikenali


sebagai Hyperkinetic Disorder (HKD), yaitu sebuah istilah yang banyak digunakan di Eropa
dan termasuk dalam pedoman klinis Eropa yang dikembangkan oleh European Network for
Hyperkinetic Disorders (EUNETHYDIS).18,19 Sistem klasifikasi ini mendefinisikan HKD
sebagai gangguan perkembangan psikologis yang persisten dan parah, yang ditandai dengan
“onset dini; kombinasi perilaku yang terlalu aktif, modulasi yang buruk dengan kurangnya
perhatian dan kurangnya keterlibatan diri yang terus – menerus; dan meluasnya situasi dan
kegigihan dari waktu ke waktu karakteristik perilaku ini “.18,20

Manakala di dalam ICD – 11, ADHD diklasifikasikan secara sendiri dibawah cabang
‘Neurodevelopmental disorders’ yang ditandai dengan pola persisten (setidaknya 6 bulan) dan
atau hiperaktif – impulsif, dengan onset selama periode perkembangan, biasanya awal hingga
pertengahan masa kanak-kanak. Tingkat kekurangan perhatian dan hiperaktif – impulsif
berada di luar batas variasi normal yang diharapkan untuk usia dan tingkat fungsi intelektual
dan secara signifikan mengganggu fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial. Kurang perhatian
mengacu pada kesulitan yang signifikan dalam mempertahankan perhatian pada tugas – tugas
yang tidak memberikan stimulasi tingkat tinggi atau sering penghargaan, distraktibilitas dan
masalah dengan organisasi. Hiperaktif mengacu pada aktivitas motorik yang berlebihan dan
kesulitan untuk tetap diam, paling jelas dalam situasi terstruktur yang memerlukan kontrol
diri perilaku. Impulsif adalah kecenderungan untuk bertindak sebagai respons terhadap
rangsangan langsung, tanpa pertimbangan risiko dan konsekuensi. Keseimbangan relatif dan
manifestasi spesifik dari lalai dan karakteristik hiperaktif – impulsif bervariasi antar individu,
dan dapat berubah selama pengembangan. 21

Epidemiologi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD dapat mempengaruhi semua usia, dan tingkat prevalensi ADHD diketahui
bervariasi antara anak – anak, remaja dan orang dewasa. Sebuah studi meta – analisis dari 175
studi penelitian di seluruh dunia tentang prevalensi ADHD pada anak – anak berusia 18 tahun
ke bawah menemukan estimasi keseluruhan yang terkumpul sekitar 7,2%. Berdasarkan
skrining DSM – IV untuk ADHD pada orang dewasa dengan usia diatas 18 tahun di 10
negara di Amerika, Eropa dan Timur Tengah, perkiraan prevalensi ADHD dewasa di seluruh
dunia rata – rata adalah 3,4%.22
Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi ADHD yang lebih tinggi sering dilaporkan
adalah pada laki – laki dibandingkan dengan wanita. Pada anak – anak, ADHD biasanya 3 – 5
kali lebih umum pada anak laki – laki daripada perempuan. Beberapa studi melaporkan rasio
kejadian dapat sampai setinggi 5 : 1. Namun, pada orang dewasa, rasio jenis kelamin lebih
mendekati kepada seimbang antara laki – laki dan perempuan.22
Etiologi ADHD
Penyebab pasti dari ADHD sampai saat ini belum diketahui, diduga kelainan ini
berhubungan dengan beberapa faktor seperti genetik, lingkungan dan gangguan
neuroanatomi. Pada penderita ADHD didapatkan volume otak yang lebih kecil dibandingkan
dengan anak yang seusia dengannya. Penelitian terhadap penderita ADHD dibandingkan
dengan saudaranya yang tidak menderita ADHD didapatkan penurunan volume otak sebesar
4%. Sedangkan volume otak saudara penderita ADHD dibandingkan dengan individu yang
tidak memiliki riwayat keluarga ADHD, didapatkan volume otak mereka yang memiliki
riwayat keluarga ADHD 3,4% lebih kecil.23
Pemeriksaan volume otak tersebut menemukan penurunan volume pada korteks
frontalis, ganglia basalis dan serebelum pada penderita ADHD. Bagian – bagian otak tersebut
berperan didalam pengaturan aktivitas, perhatian dan emosi secara baik. Karena itu,
gangguan yang terjadi pada penderita ADHD diduga sebagai akibat dari terjadinya perubahan
pada bagian –bagian otak tersebut.23
Kriteria Diagnostik ADHD berdasarkan DSM – V
Kurang memberi perhatian dan hiperaktif atau impulsif adalah perilaku kunci bagi
diagnose ADHD. Beberapa orang dengan ADHD hanya memiliki masalah dengan salah satu
perilaku, sementara yang lain memiliki baik kurangnya perhatian dan hiperaktif – impulsif.
Namun, sebagian besar anak – anak memiliki tipe gabungan ADHD. Di prasekolah, gejala
ADHD yang paling umum adalah hiperaktif.17
Adalah normal untuk tidak memperhatikan, aktivitas motorik yang tidak fokus dan
impulsif, tetapi untuk orang dengan ADHD, perilaku ini adalah lebih parah, lebih sering
terjadi sehingga mengganggu atau mengurangi kualitas fungsi mereka secara sosial baik di
sekolah atau di dalam pekerjaan.17
Orang dewasa dengan ADHD yang tidak terdiagnosis, biasanya mereka memiliki
riwayat akademik yang buruk, masalah di tempat kerja, atau sulit atau gagal dalam menjalani
hubungan. Pada masa remaja, gejala hiperaktif tampaknya berkurang dan mungkin lebih
sering muncul sebagai perasaan gelisah, tetapi kurangnya perhatian dan impulsif mungkin
tetap masih ada. Remaja dengan ADHD juga mempunyai masalah dengan hubungan sosial
dan berperilaku antisosial.17
ADHD diklasifikasikan menjadi gangguan dalam pemusatan perhatian (inatensi),
hiperaktifitas dan impulsifitas (kontrol perilaku yang kurang), serta kombinasi dari keduanya.
Diagnosis terkini ditegakkan dengan kriteria DSM – V :2

A. Pasien dengan ADHD menunjukkan gejala yang presisten dari inatensi dan/atau
hiperaktifitas dan impulsifitas yang dapat mempengaruhi fungsional dan
perkembangan perilaku.2,17
1. Inatensi adalah bila didapatkan enam (6) atau lebih gejala inatensi untuk anak – anak
sampai usia 16 tahun, atau lima (5) atau lebih untuk dewasa usia 17 tahun atau lebih.
Gejala inatensi ini ditemukan sekurang–kurangnya enam (6) bulan dan mereka
memiliki perkembangan mental yang kurang. Gejala inatensi antara lain adalah:2,17
a. Sering gagal untuk memberikan perhatian pada detail atau membuat kesalahan
dengan ceroboh dalam pekerjaan sekolah, pekerjaan atau aktivitas lain.
b. Sering memiliki kesulitan untuk memusatkan perhatian pada pekerjaan atau
aktivitas bermain.
c. Sering terlihat tidak mendengar pada saat pembicaraan berlangsung.
d. Sering tidak mengikuti instruksi dan salah dalam menyelesaikan pekerjaan
sekolah, tugas atau kewajiban di tempat bekerja (kehilangan fokus,
mengesampingkan pekerjaan).
e. Sering mengalami kesulitan dalam mengorganisir pekerjaan dan aktivitas.
f. Sering menghindar, tidak menyukai atau malas untuk mengerjakan pekerjaan yang
membutuhkan kerja pada waktu yang lama (seperti pekerjaan sekolah atau
pekerjaan rumah).
g. Sering kehilangan barang yang digunakan untuk suatu pekerjaan dan aktivitas
(misalnya alat tulis, buku, pensil, dompet, kunci, kacamata, kertas, telepon
genggam).
h. Sering merasa kebingungan.
i. Sering melupakan aktivitas sehari-hari.
2. Hiperaktivitas dan impulsivitas adalah apabila didapatkan enam (6) atau lebih gejala
hiperaktivitas – impulsivitas untuk anak – anak sampai usia 16 tahun, atau lima (5)
atau lebih untuk dewasa usia 17 tahun atau lebih. Gejala hiperaktivitas – impulsivitas
ini ditemukan sekurang – kurangnya enam (6) bulan dan mereka memiliki
perkembangan mental yang kurang. Gejala hiperaktivitas dan impulsivitas antara lain
adalah:2,17
a. Sering merasa gelisah dengan mengetuk kaki atau tangan atau menggeliat di kursi.
b. Sering meninggalkan kursi pada situasi yang mengharuskan duduk.
c. Sering berlari kesana kemari di situasi yang tidak tepat (pada dewasa atau remaja
dapat dikatakan tidak mudah merasa lelah).
d. Sering tidak dapat bermain atau mengambil posisi tenang atau diam pada waktu
luang.
e. Seringkali beraktivitas seperti sedang mengendarai motor.
f. Sering berbicara berlebihan.
g. Sering melontarkan jawaban sebelum pertanyaan selesai diajukan.
h. Sering memiliki kesulitan dalam menunggu gilirannya.
i. Sering memotong atau memaksakan pada orang lain (misalnya pada percakapan
atau pada permainan).

Sebagai tambahan, beberapa kondisi dibawah ini yang harus ada:2,17

B. Beberapa gejala inatensi dan hiperaktif – impulsif timbul pada usia sebelum 12 tahun.
C. Beberapa gejala timbul pada dua (2) atau lebih kondisi (misalnya di rumah, sekolah
atau pekerjaan; dengan teman atau rekan kerja; di lain aktivitas).
D. Terdapat penemuan gejala yang mempengaruhi kualitas dari fungsi sosial, akademik
atau pekerjaan.
E. Gejala tidak timbul dikarenakan terdapat skizofrenia atau kelainan psikotik lain.
Gejala tidak dapat dijelaskan dengan gangguan mental lain (seperti gangguan mood,
gangguan kecemasan, gangguan disasosiasi, atau gangguan personalitas).

Berdasarkan tipe dari gejala, terdapat tiga jenis ADHD yang dapat timbul:2,17

a. Tipe Kombinasi: Jika memenuhi gejala dari kedua kriteria inatensi dan hiperaktif –
impulsif terlihat pada 6 bulan terakhir.
b. Tipe predominan Inatensi: Jika memenuhi gejala dari kriteria inatensi, namun tidak
pada hiperaktif – impulsif pada 6 bulan terakhir.
c. Tipe predominan hiperaktif – impulsif: Jika memenuhi gejala dari kriteria hiperaktif –
impulsif namun tidak pada inatensi pada 6 bulan terakhir.

Kriteria ICD-10 untuk gangguan hiperkinetik


1. Kekurangan perhatian - Setidaknya enam gejala perhatian telah
berlangsung selama minimal 6 bulan, untuk tingkat yang maladaptif
dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak:
a. Sering gagal untuk memberikan perhatian dekat dengan
rincian, atau membuat kesalahan ceroboh dalam pekerjaan
sekolah
b. pekerjaan atau kegiatan lain
c. Sering gagal mempertahankan perhatian dalam tugas-tugas
atau kegiatan bermain
d. Sering tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan
kepadanya
e. Sering gagal menindaklanjuti instruksi atau untuk
menyelesaikan tugas sekolah, tugas atau tugas di tempat kerja
(bukan karena perilaku oposisi atau kegagalan untuk
memahami instruksi)
f. Apakah sering terganggu dalam mengatur tugas dan kegiatan
g. Sering menghindari atau sangat tidak menyukai tugas-tugas,
seperti pekerjaan rumah, yang memerlukan berkelanjutan
mental usaha
h. Sering kehilangan hal yang diperlukan untuk tugas-tugas
tertentu dan kegiatan, seperti sekolah, tugas, pensil, buku,
mainan atau alat
i. Apakah sering mudah terganggu oleh rangsangan eksternal
j. Apakah sering pelupa dalam rangka kegiatan sehari-hari
2. Hiperaktif - Setidaknya tiga gejala hiperaktif telah berlangsung selama
minimal 6 bulan, untuk tingkat yang maladaptif dan tidak konsisten
dengan tingkat perkembangan anak:
a. Sering gelisah dengan tangan atau kaki atau menggeliat di
tempat duduk
b. Sering meninggalkan tempat duduk di kelas atau dalam situasi
lain di mana sisa duduk adalah diharapkan
c. Sering berjalan sekitar atau memanjat berlebihan dalam situasi
di mana tidak patut (dalam remaja atau orang dewasa, hanya
perasaan gelisah dapat hadir
d. Apakah sering terlalu berisik dalam bermain atau memiliki
kesulitan dalam melakukan tenang di waktu luang kegiatan
e. Sering menunjukkan pola gigih dari aktivitas motorik yang
berlebihan yang tidak substansial diubah oleh konteks sosial
atau tuntutan
3. Impulsif - Setidaknya salah satu gejala berikut impulsif telah
berlangsung selama minimal 6 bulan, untuk tingkat yang maladaptif
dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan anak:
a. Sering blurts keluar jawaban sebelum pertanyaan yang telah
diselesaikan
b. Sering gagal menunggu di garis atau menunggu putaran dalam
permainan atau situasi kelompok
c. Sering menyela atau intrudes pada orang lain (misalnya,
puntung ke percakapan orang lain atau permainan)
d. Sering berbicara berlebihan tanpa respon yang tepat untuk
kendala social
4. Timbulnya gangguan tersebut tidak lebih dari usia 7 tahun.
5. Pervasiveness - Kriteria harus dipenuhi lebih dari situasi tunggal,
misalnya, kombinasi dari kurangnya perhatian dan hiperaktif harus
hadir baik di rumah maupun di sekolah, atau di sekolah baik dan
pengaturan lain mana anak-anak yang diamati, seperti klinik. (Bukti
untuk crosssituationality biasanya akan membutuhkan informasi dari
lebih dari satu sumber, laporan orang tua tentang perilaku kelas,
misalnya, tidak akan cukup.)
6. Gejala dalam 1 dan 3 menyebabkan distress klinis signifikan atau
penurunan fungsi sosial, akademis atau pekerjaan.

Perawatan dan Terapi ADHD


Meskipun tidak ada obat untuk ADHD, perawatan yang tersedia saat ini dapat
membantu mengurangi gejala dan meningkatkan fungsi. Perawatan ini termasuk pengobatan,
psikoterapi, pendidikan atau pelatihan, atau kombinasi perawatan. Bagi banyak orang, obat –
obatan ADHD dapat mengurangi hiperaktif dan impulsif serta meningkatkan kemampuan
mereka untuk fokus, bekerja, dan belajar. Obat ini juga dapat meningkatkan koordinasi fisik.
Kadang – kadang beberapa obat atau dosis yang berbeda harus dicoba sebelum menemukan
yang tepat yang bekerja untuk orang tertentu. Siapa pun yang minum obat harus dimonitor
dengan cermat dan cermat oleh dokter yang meresepkannya.17
Jenis obat yang paling umum digunakan untuk mengurangi gejala ADHD disebut
sebagai ‘stimulan’. Walaupun mungkin terlihat tidak biasa untuk mengobati ADHD dengan
obat yang dianggap sebagai stimulan, obat ini bekerja karena obat ini meningkatkan zat kimia
otak dopamin dan norepinefrin, yang memainkan peran penting dalam pemikiran dan
perhatian.17
Obat golongan stimulan ini mampu mengurangi gejala ADHD pada sekitar 70% orang
dewasa dan 70% hingga 80% anak – anak. Mereka cenderung mengurangi gejala hiperaktif,
menyela, dan gelisah. Serta mereka juga dapat membantu seseorang menyelesaikan tugas dan
meningkatkan hubungan.24
Terdapat banyak jenis stimulan yang tersedia untuk membantu mengurangi gejala
ADHD yaitu short – acting, intermediate – acting, dan long – acting. Bentuk short – acting
biasanya diambil dua atau tiga kali sehari, dan yang long – acting cukup hanya sekali sehari.
Manfaat dari short – acting adalah penderita memiliki kontrol kapan mereka mau obat
tersebut berada di dalam sistem tubuh mereka. Sedangkan, bagi tipe long – acting cukup
diminum setiap hari di pagi hari. Stimulant long – acting ini juga dapat mengurangi beberapa
efek samping. Tetapi mereka yang menggunakan stimulant long – acting ini mungkin lebih
sulit untuk beristirahat di malam hari sehingga mereka mendapatkan dosis obat dan waktu
yang tepat untuk diminum.24

1. Short – acting stimulants:24


a. Amphetamine/dextroamphetamine (Adderall)
o Anak usia 3-5 tahun: Dosis awal adalah 2,5 mg/hari. Dapat ditingkatkan
sebanyak 2,5 mg setiap minggunya, jika dibutuhkan.
o Anak usia di atas 6 tahun: Dosis awal adalah 5 mg, 1-2 kali dalam sehari.
Dosis dapat ditingkatkan sebanyak 5 mg setiap minggu, jika dibutuhkan. Dosis
maksimal adalah 40 mg/hari.
b. Dextroamphetamine (Dexedrine, Pro Centra, Zenzedi)
o Anak usia 6 tahun dan ke atas: Dosis awal adalah 5 mg, 1 – 2 kali dalam
sehari. Dosis dapat ditingkatkan sebanyak 5 mg setiap minggu, jika
dibutuhkan. Dosis maksimal adalah 40 mg/hari.
c. Dexmethylphenidate (Focalin)
o Untuk pasien pediatrik: Dosisnya adalah 2.5 mg, 2 kali dalam sehari. Dosis
dapat ditingkatkan sebanyak 2.5 - 5 mg setiap minggu, jika dibutuhkan. Dosis
maksimal adalah 20 mg/hari, 2 kali sehari.
2. Intermediate – acting stimulants:24

a. Amphetamine sulfate (Evekeo)

o Anak usia 3 – 5 tahun: Dosis awal adalah 2,5 mg/hari. Dapat ditingkatkan
sebanyak 2,5 mg setiap minggunya, jika dibutuhkan.
o Anak usia di atas 6 tahun: Dosis awal adalah 5 mg, 1-2 kali dalam sehari.
Dosis dapat ditingkatkan sebanyak 5 mg setiap minggu, jika dibutuhkan. Dosis
maksimal adalah 40 mg/hari.

3. Long – acting stimulants:24

a. Amphetamine (Adzenys XR-ODT, Dyanavel XR)

o Pasien pediatric: Dosis awal adalah 6.3 mg/hari, pagi hari. Dapat ditingkatkan
sebanyak 3.1 mg atau 6.3 mg setiap minggu. Dosis maksimum pada anak 6 –
12 tahun adalah 18.8 mg per hari, 13 – 17 tahun adalah 12.5 mg per hari.

b. Dexmethylphenidate (Focalin XR)


o Pasien Pediatrik: Dosis awal 5 mg, 1 kali sehari di pagi hari. Dosis dapat
ditingkatkan sebanyak 5 mg setiap minggu, jika dibutuhkan. Dosis maksimal
adalah 30 mg/hari.
o Pasien dewasa: Dosis awal 10 mg, 1 kali sehari di pagi hari. Dosis dapat
ditingkatkan sebanyak 5 mg setiap minggu, jika dibutuhkan. Dosis maksimal
adalah 40 mg/hari.

c. Dextroamphetamine (Adderall XR)

o Anak usia 6-12 tahun: Dosis awal adalah 10 mg/hari, pagi hari. Dapat
ditingkatkan sebanyak 5 – 10 mg setiap minggunya, jika dibutuhkan. Dosis
maksimal adalah 30 mg/hari.

o Anak usia 13-17 tahun: Dosis awal adalah 10 mg/hari, pagi hari. Dosis dapat
ditingkatkan menjadi 20 mg/hari jika tidak ada perubahan.
o Dewasa: Dosis yang dianjurkan adalah 20 mg/hari di pagi hari.

Di bawah pengawasan medis, obat stimulan dianggap aman. Namun, ada risiko dan
efek samping, terutama ketika disalahgunakan atau diambil melebihi dosis yang diresepkan.
Misalnya, stimulan dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung serta meningkatkan
kecemasan. Oleh karena itu, seseorang dengan masalah kesehatan lainnya, termasuk tekanan
darah tinggi, kejang, penyakit jantung, glaukoma, penyakit hati atau ginjal, atau gangguan
kecemasan harus memberi tahu dokter mereka sebelum mengambil stimulan. Antara efek
samping daripada penggunaan obat stimulant adalah:17

- Nafsu makan menurun.


- Masalah tidur.
- Tics (gerakan yang berulang-ulang),
- Perubahan kepribadian,
- Peningkatan kecemasan dan lekas marah,
- Sakit perut,
- Sakit kepala.

Obat golongan stimulan biasanya menjadi pilihan pertama dokter untuk mengurangi
gejala ADHD, tetapi tidak untuk semua orang. Obat golongan stimulan ini dapat
menyebabkan efek samping yang buruk bagi sebagian orang. 24 Dan bagi yang lain, mereka
tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu, golongan obat non stimulan biasanya diberikan
untuk menggantikan obat golongan stimulan ini. Namun, obat – obatan golongan non
stimulan ini membutuhkan waktu lebih lama untuk mulai bekerja dibandingkan dengan
golongan stimulan, tetapi juga dapat meningkatkan fokus, perhatian, dan impulsif pada orang
dengan ADHD.17
Contoh obat golongan non stimulan yang spesifik digunakan bagi membantu
mengatasi gejala ADHD adalah obat Atomoxetine (Strattera). Atomoxetine ini dapat
digunakan untuk anak – anak, remaja, dan orang dewasa. Obat ini meningkatkan jumlah
norepinefrin di otak sehingga mampu meningkatkan perhatian seseorang dan mengurangi
perilaku impulsif dan hiperaktif mereka. Selain itu, Clonidine ER (Kapvay) dan Guanfacine
ER (Intuniv) juga dapat digunakan bagi anak usia 6 hingga 17 tahun dan juga orang dewasa.
Kedua obat ini memiliki efek pada area – area tertentu di otak. Studi menunjukkan bahwa
mereka menurunkan tingkat gangguan dan meningkatkan perhatian, memori yang bekerja,
dan mengontrol impuls.33 Antara efek samping daripada penggunaan obat non stimulan
adalah:17

- Sakit perut,
- Nafsu makan berkurang,
- Mual,
- Pusing,
- Kelelahan,
- Perubahan mood.

Psikoterapi
Terapi perilaku atau behavior therapy adalah jenis psikoterapi yang bertujuan untuk
membantu seseorang mengubah perilakunya. Ini mungkin melibatkan bantuan praktis, seperti
membantu mengatur tugas atau menyelesaikan tugas sekolah, atau bekerja melalui peristiwa
yang sulit secara emosional. Terapi perilaku juga mengajarkan seseorang cara:17

- Memantau perilakunya sendiri,


- Memberikan pujian atau penghargaan kepada diri sendiri karena bertindak dengan
cara yang diinginkan, seperti mengendalikan amarah atau berpikir sebelum bertindak.

Orang tua, guru, dan anggota keluarga juga dapat memberikan umpan balik positif
atau negatif untuk perilaku tertentu dan membantu menetapkan aturan yang jelas, daftar
tugas, dan rutinitas terstruktur lainnya untuk membantu seseorang mengendalikan
perilakunya. Terapis juga dapat mengajarkan keterampilan sosial anak – anak, seperti cara
menunggu giliran, berbagi mainan, meminta bantuan, atau menanggapi ejekan atau sindiran.
Belajar membaca ekspresi wajah dan nada suara orang lain, dan bagaimana merespons
dengan tepat juga dapat menjadi bagian dari pelatihan keterampilan sosial.17
Terapi perilaku kognitif juga dapat mengajarkan teknik kesadaran seseorang, atau
meditasi. Seseorang belajar bagaimana menjadi sadar dan menerima pikiran dan perasaan
sendiri untuk meningkatkan fokus dan konsentrasi. Terapis juga mendorong orang dengan
ADHD untuk menyesuaikan diri dengan perubahan hidup yang datang dengan perawatan,
seperti berpikir sebelum bertindak, atau menahan keinginan untuk mengambil risiko yang
tidak perlu.17

Perbedaan antara Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity
Disorder (ADHD)

Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder


(ADHD) adalah dua kondisi terpisah yang dapat saling berkongsi beberapa gejala.
Mengatakan perbedaan antara autisme dan ADHD terkadang sulit, terutama pada anak – anak
yang lebih muda.25 Kesulitan memperhatikan orang, sentiasa bergerak aktif, tidak membaca
isyarat sosial dengan baik dan mengalami ‘meltdown’ atau mengamuk merupakan tanda –
tanda yang ada pada mereka dengan gangguan ASD dan ADHD. Malah, kedua kondisi
tersebut dapat terjadi secara bersamaan.26 Walaubagaimanapun, kedua kondisi ini dapat
dibedakan berdasarkan deskripsi berikut:25

1. Definisi
Autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf berbasis
biologis yang ditandai dengan defisit persisten dalam komunikasi sosial dan interaksi
sosial dan pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas dan berulang. Attention Deficit
Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah satu kondisi perkembangan saraf yang
mempersulit anak – anak untuk berkonsentrasi, memperhatikan, duduk diam dan
mengendalikan impulsif. ASD dan ADHD sulit dibedakan karena anak autisme cenderung
fokus pada dunianya sendiri sehingga tidak ada perhatian/in-atensif ketika diajak
komunikasi, sedangkan Anak ADHD cenderung tidak mau diam sehingga tidak ada
perhatian/in-atensif ketika diajak komunikasi.
2. Etiologi
Kedua – dua Autism spectrum disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity
Disorder (ADHD) masih tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, kedua kelainan ini
sangat mempunyai hubungan dengan faktor genetik.
Walau bagaimanapun, penelitian mendapatkan bahwa selain faktor genetik yang
mempengaruhi, pada anak dengan Autism spectrum disorder (ASD) telah ditemukan
adanya mutasi protein yang terlibat dalam pembentukan dan fungsi sinaptik, kontrol atas
ukuran dan proyeksi neuron, produksi dan pensinyalan neurotransmiter dan
neuromodulator, fungsi saluran ion, metabolisme sel umum, ekspresi gen, dan sintesis
protein. Kebanyakan dari mutasi ini memiliki hubungan yang jelas dengan respons saraf
yang bergantung pada aktivitas dan dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf yang
mendasari kesadaran dan perilaku sosial.
Sedangkan, pada anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD pula
didapatkan volume otak yang lebih kecil dibandingkan dengan anak yang seusia
dengannya. Pada pemeriksaan volume otak, penelitian – penelitian menemukan adanya
penurunan volume pada kortek frontalis, ganglia basalis dan serebelum pada penderita
ADHD dimana bagian – bagian otak ini berperan dalam pengaturan aktivitas, perhatian
dan emosi secara baik.
3. Gejala atau Tanda – Tanda yang Terlihat 26
a. Pada ASD:
- Menghindari kontak mata dan / atau kontak fisik.
- Terlambat berbicara (atau tidak berbicara sama sekali) atau mengulangi kalimat / kata
secara berulang-ulang.
- Rentan mengamuk karena masalah pemrosesan sensorik, kecemasan, frustrasi atau
kesulitan komunikasi.
- Merasa kesal dengan perubahan rutinitas.
- Mengalami kesulitan dengan keterampilan sosial.
- Menggunakan gerakan tubuh yang berlebihan untuk menenangkan diri (misalnya,
goyang, tangan mengepak).
- Memiliki minat yang obsesif dan tekun.
- Terus-menerus bergerak; gelisah dan mengambil dan mengutak – atik semuanya.
- Sangat maju secara lisan, tetapi kesulitan dengan isyarat nonverbal.
- Kesulitan menunjukkan pemahaman tentang perasaan orang lain dan perasaannya
sendiri.
- Bereaksi kuat terhadap bunyi tertentu, bau, rasa, tampilan atau rasa (masalah
pemrosesan sensorik).
- Kesulitan dengan keamanan dan kesadaran akan bahaya.
b. Pada ADHD:
- Terlihat pelupa, mudah teralihkan atau melamun.
- Kelihatan tidak mendengarkan dan kesulitan mengikuti petunjuk.
- Sangat rentan mengamuk karena frustrasi atau kurangnya kontrol impuls.
- Kesulitan dengan pengaturan dan menyelesaikan tugas.
- Kesulitan untuk tetap mengerjakan tugas kecuali suatu aktivitas sangat
menyenangkan.
- Kesulitan dalam keterampilan sosial.
- Kesusahan untuk duduk diam selama kegiatan tenang, seperti waktu makan atau
selama waktu kegiatan bebas di sekolah.
- Memiliki kesulitan menunggu gilirannya dan dan sulit untuk bersabar.
- Terus – menerus bergerak; gelisah dan mengambil dan mengutak-atik semuanya.
- Suka menyela orang, dan kesulitan memahami isyarat nonverbal.
- Bertindak tanpa berpikir dan mungkin tidak memahami konsekuensi dari tindakannya.
- Dapat bereaksi berlebihan terhadap input sensorik, seperti suara, bau, rasa, tampilan
atau nuansa.
- Bermain dengan kasar dan mengambil risiko fisik.

Rentang Perhatian (Attention Span)


Anak – anak dengan ADHD sering mengalami kesulitan memperhatikan hal yang
sama terlalu lama, dan mereka dapat dengan mudah terganggu. Manakala, pada anak – anak
dengan ASD, mereka mungkin memiliki cakupan minat yang terbatas sehingga mereka
tampak terobsesi dengan hal – hal yang mereka sukai dan kesulitan memfokuskan pada hal –
hal yang tidak mereka minati. Mereka mungkin dapat mengingat fakta dan detail dengan
mudah, malah beberapa mungkin begitu cemerlang dalam matematika, sains, musik, atau
seni.25
Tanda – tanda ini mungkin paling mudah untuk ditemukan pada saat anak – anak ini
sedang mengerjakan tugasan mereka dimana anak dengan ADHD ini mungkin tidak dapat
memperhatikan subjek apa pun. Tapi bagi seorang anak ASD, dia mungkin memiliki tingkat
fokus yang tinggi pada topik favorit mereka, tetapi mungkin tidak dapat terlibat dalam mata
pelajaran yang kurang menarik bagi mereka.25
Komunikasi
Kesulitan dalam berkomunikasi adalah karakteristik pada ASD. Namun, beberapa
anak dengan ADHD juga dapat mengalami kesulitan ini, tetapi mereka biasanya muncul
dengan cara yang berbeda.25
Anak – anak dengan ADHD dapat:

- Bicara terus menerus,


- Ingin memiliki kata terakhir,
- Tidak memperhatikan bagaimana kata – kata mereka memengaruhi orang lain,
- Mengganggu orang lain.

Sedangkan, anak dengan ASD dapat:

- Kesulitan mengungkapkan emosi dan pikiran mereka,


- Tidak menggunakan gerakan untuk berkomunikasi,
- Mempunyai masalah dengan kontak mata,
- Terpaku pada satu topik pembicaraan,
- Cara bermain yang berbeda: mereka mungkin tidak mengerti apa itu saling bergantian
atau permainan imaginasi,
- Tidak memulai atau menanggapi interaksi sosial.

Dampak Emosional dan Sosial


Pada anak ASD, perjuangan utama mereka melibatkan pemahaman sosial,
komunikasi dan rutinitas atau perilaku yang berulang – ulang. Banyak anak dengan ASD,
bahkan mereka yang tidak memiliki masalah kognitif yang signifikan tetap mengalami
kesulitan dalam mencari teman, memahami cara berhubungan dengan orang lain dan
membuat isyarat sosial.26
Pada anak ADHD, kesulitan mengikuti aturan sosial dapat menyulitkan untuk
mendapatkan dan mempertahankan pertemanan. Masukan – masukan negatif yang sering
diterima karena tindakannya atau karena tidak kurang memperhatikan dapat mempengaruhi
harga diri dan motivasi, membuat anak merasa dia “buruk” atau “tidak baik”.26

BAB III
KESIMPULAN

Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder


(ADHD) adalah dua kondisi terpisah yang dapat saling berkongsi beberapa gejala.
Mengatakan perbedaan antara autisme dan ADHD terkadang sulit, terutama pada anak – anak
yang lebih muda. Autism spectrum disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf
berbasis biologis yang ditandai dengan defisit persisten dalam komunikasi sosial dan
interaksi sosial dan pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas dan berulang. Attention
Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah satu kondisi perkembangan saraf yang
mempersulit anak – anak untuk berkonsentrasi, memperhatikan, duduk diam dan
mengendalikan impulsif.
Namun, kedua kondisi ini dapat dibedakan dengan melihat etiologi, gejala atau tanda
– tanda yang terlihat, rentang perhatian atau attention span, komunikasi rutin dan struktur
serta dampak emosional dan sosial. Diagnosis yang tepat sejak dini dapat membantu mereka
dengan kedua kondisi ini mendapatkan perawatan yang tepat sehingga mereka tidak
kehilangan perkembangan dan pembelajaran yang sepatutnya. Sebagai dokter umum,
membedakan kedua kondisi ini sangat penting supaya anak dengan kondisi ini dapat segera
dirujuk untuk diberikan perawatan yang sepatutnya supaya mereka dengan kondisi ini dapat
mendapatkan kualitas hidup yang sebaiknya.
Daftar Pustaka

1. Soetjiningsih, Ranuh G. Tumbuh Kembang Anak Edisi 2. Suyono J, editor. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2014. 387-431 p.

2. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III
dan DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2013

3. Lubis F, Suwandi JF. Paparan prenatal valproat dan autism spectrum disorder(ASD)
pada anak. Majority. September 2016;5(3):85-9.

4. Aydilla D, Rokhaidah. Metode glenn doman meningkatakan kemampuan interaksi


sosial anak autis. Jurnal care. vol 6(1);2018.h.15-7

5. The National Resource on ADHD [Internet]. 2016. Available from:


[Link]
6. Bhandari S. ADHD or autism. 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. Tersedia di
[Link]

7. Kaplan Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry. Behavior

th
Sciences Clinical Psychiatry. 11 ed. Lippincott Williams & Wilkins, 2015, h.527-30.

8. American Psychiatric Association. What is autism spectrum disorder. 2018. Diakses


tanggal 16 Januari 2020. Tersedia di [Link]
families/autism/what-is-autism-spectrum-disorder.
9. ICD – 10. F84.0 Childhood autism. Diakses tanggal 15 Januari 2020. Tersedia di
[Link]
10. ICD – 11 for Mortality and Morbidity Statistics. 6A02 Autism spectrum disorder.
Diakses tanggal 14 Januari 2020. Tersedia di [Link]
m/en#/http%3a%2f%[Link]%2ficd%2fentity%2f437815624.
11. World Health Organization (WHO). Autism spectrum disorder. 2018. Diakses tanggal
15 Januari 2020. Tersedia di [Link]
sheets/detail/autism-spectrum-disorders.
12. Performa mental dan gangguan kognitif pada anak dengan gangguan spectrum autism
di sekolah autis. 2016. Tersedia di http//[Link]/
13. Maisonneuve H, Floret D. Wakefield's affair: 12 years of uncertainty whereas no link
between autism and MMR vaccine has been proved. Presse Med. 2012; 41(9): 827-
34.
14. Hauser SL et al. Harrison’s neurology in clinical medicine. Dalam: Messing RO.,
Rubenstein JH., Nestler EJ. Biology of psychiatric disorder: autism spectrum disorder.
Edisi ke – 3. Mc Graw Hill Education; 2013.

15. Winarno, F.G. Autisme dan Peran Pangan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
2013

16. Alli RA. What are the treatments for autism?. 2018. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
Tersedia di [Link]
17. National Institute of Mental Health. Attention deficit hyperactivity disorder. 2016.
Diakses tanggal 15 Januari 2020. Tersedia di
[Link]
adhd/[Link].
18. ADHD Institute. Overview of the ICD – 10 medical classification system for ADHD.
2019. Diakses tanggal 16 Januari 2020. Tersedia di [Link]
[Link]/assessment-diagnosis/diagnosis/icd-10/.
19. Taylor E, Döpfner M, Sergeant J, et al. European clinical guidelines for hyperkinetic
disorder — first upgrade. Eur Child Adolesc Psychiatry 2004; 13(1): 7-30.
20. World Health Organization. The ICD-10 Classification of Mental and Behavioural
Disorders. Diakses tanggal 15 Januari 2020. Tersedia di
[Link]/entity/classifications/icd/en/[Link].
21. ICD – 11for Mortality and Morbidity Statistics. 6A05 Attention deficit hyperactivity
disorder. Diakses tanggal 15 Januari 2020. Tersedia di [Link]
m/en#/http%3a%2f%[Link]%2ficd%2fentity%2f821852937
22. Fayyad J, Sampson NA, Hwang I, et al. The descriptive epidemiology of DSM-IV
Adult ADHD in the World Health Organization World Mental Health Surveys. Atten
Defic Hyperact Disord 2017; 9: 47-65.
23. Yanofiandi, Syarif I. Perubahan neuroanatomi sebagai penyebab ADHD. Majalah
Kedokteran Andalas. 2009; 33(2): 179 – 87.
24. Bhandari S. Stimulant medication for ADHD. 2019. Diakses tanggal 16 Januari 2020.
Tersedia di [Link]
25. Leonard J. What is the difference between autism and ADHD. 2019. Diakses tanggal
14 Januari 2020. Tersedia di [Link]
26. Morin A. The difference between ADHD and Autism. Diakses tanggal 15 Januari
2020. Tersedia di [Link]
learning-disabilities/add-adhd/the-difference-between-adhd-and-autism.

Anda mungkin juga menyukai