Jenis dan Kriteria Fuel untuk Diesel
Jenis dan Kriteria Fuel untuk Diesel
Fuel oil adalah salah satu group dari oil yang didapatkan dari refining crude oil pada suatu titik
didih tertentu. Ketika crude oil dipanaskan, komponen-komponen yang mempunyai titik didih
rendah menguap terlebih dahulu, diikuti berurutan oleh komponen-komponen yang berikutnya
sesuai titik didihnya.
Gambar dibawah menunjukan suatu proses refining crude oil secara garis besar. Dibagian dalam
tower fractionating berisi rak-rak dengan tingkatan-tingkatan berbeda.
Crude oil dituangkan dari atas tower fractionating, dan dipanaskan dari bawah. Bila proses ini
berlangsung, temperatur pada bagian atas dari tower fractionating lebih rendah daripada
temperatur dibagian dasar, sehingga pada rak bagian atas dari tower fractionating, komponen-
komponen yang mempunyai titik didih rendah (komponen-komponen yang mudah menguap)
menguap lebih dulu, dan komponen-komponen sisanya mengalir turun ke-rak dibagian bawah
berikutnya. Komponen-komponen crude oil yang mengalir turun ke-rack berikutnya menguap
pada temperatur penguapan baru, dan komponen-komponen sisanya terus mengalir turun ke-
rack berikutnya. Dengan cara demikian, selagi crude oil mengalir dari atas tower fractionating
kedasar, komponen-komponen dengan titik didih rendah berurutan menguap.
Oil yang diuapkan dikelompokan pada setiap tingkatan, dan kemudian didinginkan untuk
mendapatkan jenis-jenis fuel oil.
1
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
KEROSENE
Kerosine adalah bahan bakar dengan rentang titik didih dari 170 sampai 2500C, dan digunakan
untuk bahan bakar pesawat udara. Jika kerosene digunakan sebagai bahan bakar engine diesel,
akan terjadi problem-problem sebagai berikut.
1. Fuel bekerja melumasi bagian-bagian dari system fuel yang bergesekan, seperti plunger
dalam pompa injeksi atau injector nozzle. Akan tetapi, kerosene mempunyai viscosity
rendah, sehinggai tidak dapat melumasi bagian-bagian bergersekan secara sempurna. Ini
berarti bahwa film oil hilang dan terjadi keausan yang abnormal atau kerusakan.
Fuel ini adalah bahan bakar dengan rentang titik didih dari 240 sampai 3500C, dan di-distilasi
setelah kerosene. Dari semua jenis-jenis bahan bakar, minyak ini mempunyai sifat-sifat yang
paling cocok untuk ignition, combustion, dan viscosity yang diperlukan oleh engine diesel high-
speed yang kecil, sehingga hampir semua engine diesel high-speed, termasuk engine-engine
untuk mesin-mesin konstruksi, menggunakan fuel (light diesel oil).
Fuel ini mengandung light diesel oil yang masih bericampur minyak residu (residual oil), dan
rentang titik didihnya sama dengan light diesel oil. Minyak diesel berat ini digunakan sebagai
bahan bakar boiler (mesin uap), heating furnace (tungku pemanas), atau engine diesel medium-
speed ukuran besar atau medium.
Tetapi dibandingkan dengan fuel/ light Diesel oil, heavy oil mempunyai problem-problem berikut,
sehingga minyak ini hampir tidak pernah digunakan sebagai bahan bakar engine untuk diesel
putaran tinggi (hig-speed):
2
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
Karakteristik utama yang mempengaruhi kerja dan performance engine adalah sebagai berikut:
Viscosity dan density secara langsung dikaitkan dengan performance engine, emissions
dan umur engine. Viscosity dan density rendah mengurangi output power, karena fuel
juga harus berfungsi sebagai pelumas terhadap komponen-komponen fuel system. Jika
kinematic viscosity lebih rendah daripada 1.4 cSt akan mempercepat kerusakan (scuffing
dan seizure) pada pompa injeksi, injector, dll.
2. DISTILLATION (PENYULINGAN)
Boilling range (tingkat didih) dari fuel adalah suatu sifat yang penting yang menentukan
kualitas fuel. Penentuan dari boiling range ditentukan dengan menggunakan “ASTM Test
Method D86 or D2887” (Gas Chromotography Test Method). Meskipun banyak spesifikasi
berisi hanya sebagian hasil-hasi distilasi (contoh temperatur distilasi pada 90%
Recovered), ini tidak cukup untuk menentukan kualitas dan kecocokan dari fuel untuk
penggunaan pada engine diesel. Diesel fuel dicampurkan produk-produk yang mana
unsure-unsurnya mempunyai titik didih tinggi yang dapat mempengaruhi pembakaran.
Hanya fuel-fuel dengan minimum 99% didapat kembali (recovery) dengan distilasi yang
harus digunakan. Rentang titik didih penuh seperti ditunjukkan dalam table halaman 10
yang harus digunakan untuk pemelihan fuel yang cocok.
( 90% temperatur distillasi : Temperatur dimana 90% dari fuel test menguap)
Fuel dapat terbakar didalam suatu engine hanya setelah diuapkan dengan sempurna.
Temperatur dimana fuel dapat menguap sempurna disebut sebagai “End Point
Temperature” pada “ASTM D86 Distillation Test Method”. Temperatur titik didih dari fuel
harus cukup rendah untuk mendapatkan penguapan sempurna pada temperatur ruang
bakar.
Temperatur ruang bakar tergantung pada temperatur ambient, kecepatan putar engine,
dan beban. Penguapan yang kurang baik lebih banyak terjadi selama operasi pada musim
dingin, idling yang terlalu lama dan/atau beban ringan. Dengan demikian, engine yang
beroperasi dengan kondisi-kondisi ini harus menggunakan fuel dengan temperatur
”distillation end point” yang lebih rendah.
3
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
4. KANDUNGAN SULFUR
Reaksi (1)
S + O2 SO2
Reaksi (2)
2SO2+ O2 2SO3
Reaksi (3)
SO3 + H2O H2SO4
4
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
Jika pour point tinggi dan temperatur turun, paraffin didalam fuel memisah secara
mudah. Bila kristal-kristal dari endapan paraffin mencapai beberapa percent, aliran
minyak menjadi sangat rendah dan paraffin membuntukan bagian dalam system
bahanbakar. Jika temperatur saat dimana kristal paraffin memisah lebih tinggi dari pada
temperatur pada saat dimana engine bisa di-start, kristal-kristal paraffin sudah
terpisahkan ketika engine di-start. Hal ini akan menahan injeksi fuel yang tepat, dan
sebagai akibatnya, engine susah dihidupkan, atau jika hidup, kecepatan putar (rpm)
tidak bisa naik, dan engine akan segera berhenti. Untuk itu, untuk engine-engine putaran
tinggi sangat diperlukan beberapa alat pemanas fuel.
Untuk daerah dingin, dianjurkan menggunakan minyak diesel khusus cuaca dingin yang
mengandung kadar paraffin rendah, dan titik didih yang jauh lebih rendah.
Aliran minyak
rendah
Engine susah
Pour point
dihidupkan
tinggi
didaerah dingih
Paraffin System
memisah secara [Link]
mudah mudah buntu
Kandungan residu carbon secara basic tidak termasuk didalam minyak diesel light (residu
carbon terkandung didalam heavy oil). Sebagai suatu ukuran kecenderungan untuk
deposit carbon dari pembakaran, fuel dikabutkan dan dibakar dibawah kondisi tertentu
untuk menghasilkan carbon, dan kandungan residu carbon digunakan untuk menunjukan
hasil test.
5
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
Cetana number adalah suatu nilai yang digunakan untuk menunjukan kemampuan
penyalaan dari fuel, dan suatu index yang penting pengaruhnya terhadap kemudahan
untuk menghidupkan engine dan pembakaran( output) pada engine diesel putaran
tinggi. Khususnya didaerah dingin, suatu nilai cetane tinggi diperlukan untuk
memudahkan starting, warming up, dan mengurangi timbulnya gas buang warna putih
(white smoke).
Starting susah
didaerah
dingin
Ash didalam fuel secara umum terdiri dari tiga macam: partikel-partikel padat, larutan
garam anorganik, dan campuran oil-larutan organic. Kandungan ash didalam fuell (light)
sangat kecil. Didalam heavy oil, kandungan ash lebih tinggi dari pada light diesel oil,
tetapi biarpun demikian, tingkat rata-rata sekitar 0.02 ~ 0.03 %.
Jika kandungan ash meningkat, ini disebabkan terutama karena karat (rust), pasir,atau
Lumpur yang berasal dari luar.
Filter buntu
6
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
Adalah penting untuk memahami bahwa cloud point berbeda dengan pour point. Tidak
ada hubungan antara cloud point dengan pour point.
Cloud point adalah temperatur dimana sebagian komponen-komponen yang lebih berat
didalam wax membuat padat fuel. Wax bukan suatu zat kontaminan didalam fuel. Wax
adalah suatu elemen yang penting pada diesel fuel No. 2. Wax mempunyai kandungan
suatu “fuel energy” yang tinggi dan mempunyai suatu nilai cetane yang sangat tinggi.
Menghilangkan wax yang lebih berat akan menurunkan cloud point dari fuel.
Menghilangkan wax juga menaikan cost karena sedikit fuel yang dapat dihasilkan dari
jumlah yang sama dari crude oil (minyak mentah). Pada dasarnya, diesel fuel No. 1 di-
formulakan dengan pengurangan wax dari disel fuel No. 2.
Cloud point dari fuel adalah penting karena cloud point dapat membatasi performance
fuel filter. Wax dapat merubah karakteristik fuel dalam musim dingin. Wax yang padat
dapat mengisi filter fuel. Wax yang padat dapat menghentikan aliran fuel. Filter di-
perlukan untuk menyaring kotoran dari fuel. Karena fuel harus mengalir lewat filter,
pemasangan suatu “fuel heater” adalah salah satu cara untuk mencegah problem. Fuel
heater akan menjaga fuel diatas cloud point sehingga fuel mengalir dalam fuel system.
7
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
8
Basic Knowledge of Engine Oil
1
Basic Knowledge of Engine Oil
Base oil terdiri dari suatu campuran senyawa-senyawa hydrocarbon dengan bermacam-macam komposisi.
Senyawa hydrocarbon diklasifikasikan kedalam paraffinic , naphtenic, dan aromatic hydrocarbon.
Karena paraffinic hydrocarbon mempunyai karakteristik kekentalan (viscosity) yang terbaik, base oil yang
mengandung kaya paraffinic secara umum digunakan untuk oil pelumasan.
KOMPOSISI ADDITIVE
Minyak-minyak pelumas untuk engine, gear, dan hydraulic diproduksi dengan menambahkan beberapa
packet additive yang berlainan kedalam “base oil”. Tipe additive ditunjukan seperti dalam table berikut.
Para supplier (pabrik) oil mengembangkan oli-oli aslinya dengan perpaduan tipe-tipe additive yang
berlainan atau dengan melakukan bermacam-macam metode penyulingan base oil. Sehingga ada beberapa
perbedaan untuk setiap oli yang diproduksi (merek oli).
2
Basic Knowledge of Engine Oil
3
Basic Knowledge of Engine Oil
Viscosity dan kualitas oil diklasifikasikan dengan standard SAE (The Society of Automotive Engineers)
0W 3.8 -
3250 at –35 -35 -
5W 3.8 -
3500 at –25 -30 -35
10 W 4.1 -
3500 at –20 -25 -30
15 W 5.6 -
3500 at –15 -20 -
20 W 5.6 -
4500 at –10 -15 -
25 W 9.3 -
6500 at –5 -10 -
20 5.6 < 9.5
- - -
30 9.3 < 12.5
- - -
40 12.5 < 16.5
- - -
KLASIFIKASI VISCOSITY
Klasifikasi ditunjukan dalam table. Huruf “W” artinya “winter” dan menjamin oil masih mudah mengalir pada
temperatur rendah. Sebagai contoh, oil multigrade SAE 15W-40, oil ini mempunyai kemampuan pelumasan
yang baik sampai 150C, dan memiliki viscosity sama seperti SAE 40 pada temperatur 1000C.
Oil diklasifikasikan kedalam C Series (kelas CA sampai CE), untuk engine diesel, dan S Series, untuk engine
gasoline.
4
Basic Knowledge of Engine Oil
USABLE AREA
TEST SUBJECT
SAE10 SAE20 SAE30 SAE40 SAE10W- SAE15W-
CD CD CD CD 30 CD 40 CD
VISCOSITY mm2/sec 55 - 9 8 - 12 9 - 15 12 - 18 8 - 16 10 - 20
(cSt)
n-PENTAN INSOLUBLES,
3 MAX
mg %
5
Basic Knowledge of Engine Oil
• VISCOSITY
Nilai TBN menunjukan sifat alkali dari additive didalam oil. Angka TBN menyatakan jumlah basa yang
dimasukan kedalam 1 gram oil, yang diperlukan untuk menetralisir acid, dan mengkonversikan bilangan ini
ke mg potassium hydroxida (KOH). Nilai TBN dinyatakna dalam mgKOH/g . Nilai untuk oil yang baru pada
umumnya adalah 6.0 – 13.0 mgKOH/g. Bila TBN turun dibawah 2.0 kinerja dari penetral asam dari oil
engine hilang dan dengan cepat meningkatkan korosif pada metal dan terjadi keausan. Metode pengukuran
TBN ada dua metode pengukuran: Hydrochloric Acid Method (ASTM D664), dan Perchloric Acid Method
(ASTM D2896). Karena “Perchloric Acid Method” memperhitungkan basa yang lemah, nilai yang diperoleh
menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu, perlu untuk menetapkan metode perhitungan yang mana yang
digunakan. Jika nilai TAN melebihi batas maximumnya, oil engine jangan digunakan meskipun nilai TBN
masih tinggi.
6
Basic Knowledge of Engine Oil
• N-PENTANE INSOLUBLE
• MOISTURE
7
PERUBAHAN EFEK [Link] CONTOH KERUSAKAN
FAKTOR PRODUK PENYEBAB
SIFAT OLI
8
Korosi [Link] dan Menggunakan fuel yang salah,
Hasil pembakaran Penurunan TBN, valve exhaust, aus kualitas fuel jelek,kandungan
sempurna,asam peningkatan TAN, abnormal tau metal sulfur tinggi
sulfat, air penaikan embun metal macet
Peningkatan Peningkatansludge Kerusakan pada injector, turbo-
Hasil pembakaran n-pentane insolu- filter buntu,ring jam,
FUEL charger,fuel pump,air cleaner,
tidak sempurna, ble,kenaikan vis- aus abnormal dan filter buntu
soot asam organik kositas pada cam ,tapetl
DETERIORASI OLI ENGINE
Kandungan sulphur didalam fuel sangat mempengaruhi meningkatkan proses oxidasi oil. Secara umum
semua engine diesel merekomendasikan pemakaian fuel dengan kandungan sulphur dibawah 0.5%. Jika
tidak memungkinkan untuk menggunakan fuel dengan kandungan sulphur dibawah 0.5%, perlu untuk
mengurangi interval penggantian oil setengah jadwal.
Fuel yang direkomendasikan adalah fuel dengan klsifikasi standard ASTM D975 No.2D.
9
Basic Knowledge of Engine Oil
Sulphur yang terkandung didalam fuel pada proses pembakaran akan teroxidasi dan membentuk gas SO2
(sulphur dioxida), dan sebagian akan berubah menjadi gas SO3 (sulphur tioxida) bila temperatur pembakaran
turun secara cepat saat langkah expansion (power). Gas SO3 ini mempunyai sifat dapat menurunkan titik
embun dari uap air biarpun temperatur uap air masih tinggi sekali, dan selanjutnya gas SO3 akan bereaksi
dengan embun (moisture) dan membentuk asam sulfat (H2SO4) yang sangat korosif.
Asam sulfat yang dihasilkan dapat terbentuk didalam ruang bakar atau diluar ruang bakar. Kalau proses (2)
dan (3) berlangsung di didalam crankcase, karena adanya blow-by, asam sulfat akan mencemari oil.
Selanjutnya angka TBN menjadi turun dan fungsi oil akan menurun.
Jika terjadi pembakaran yang tidak sempurna, yang disebabkan karena kualitas fuel jelek, pompa injeksi
rusak, injector/nzzle rusak, atau air restriction dari air filter besar (overfueling), maka hasil pembakaran selain
dihasilkan gas-gas diatas, juga timbul partikel-partikel carbon (C) dan sulphur yang berbentuk jelaga (soot)
dan gas CO. Jelaga ini akan mencemari oil, sehingga n-pentane insoluble menjadi naik.
10
Basic Knowledge of Engine Oil
MULTIGRADE OIL
Multigrade oil dibuat dari “low-viscosity base oil” dan “viscosity index” ditingkatkan, dan mempunyai sifat
mudah mengalir (fluidity) pada temperatur rendah dan viscosity lebih tinggi pada temperatur tinggi. Sebagai
contoh SAE10W-30 dan SAE15W-40.
Jika multigrade oil digunakan dalam engine, ada beberapa kelebihan berikut:
1. Dibandingkan dengan oil dengan viscosity rendah seperti SAE10W, oil film pada multigrade oil
lebih kental dan tidak ada penurunan ketahanan engine biarpun pada temperatur tinggi.
Sehingga hasilnya, oil memberikan suatu rentang temperatur yang luas untuk penggunaanya.
2. Viscosity stable biarpun bila ada perubahan temperatur. Kemampuan start dari multigrade oil
lebih baik daripada oil dengan high viscosity single grade seperti SAE30atau SAE40, dan juga
memberikan penghematan pemakaian oil.
3. Konsumsi oil lebih redah daripada oil dengan high viscosity single grade seperti SAE30 atau
SAE40.
Juga memungkinkan penggunaan multigrade oil untuk system hydraulic. Jangan menggunakan
multigrade oil untuk transmission atau final drive! Alasannya adalah bahwa pada transmission
yang menggunakan friction clutch dengan kecepatan putaran tinggi dan temperatur tinggi, atau
kontak antara gear dengan yang lainnya dengan tekanan permukaan yang sangat tinggi, semua
additive yang digunakan untuk mempertahankan viscosity idex secara mekanikal hilang fungsinya
dalam waktu singkat. Akibatnya, viscosity turun dan akan menyebabkan problem-problem seperti
clutch cepat rusak (seizure), atau lecet (scuffing) atau keausan abnormal pada gear.
11
Basic Knowledge of Engine Oil
12
Basic Knowledge of Engine Oil
KLASIFIKASI OIL
CLASS DESCRIPTION
Untuk engine gasoline dan engine diese lnatural aspiration yang
CA
menggunakan fuel dengan kadar sulfur rendah.
Untuk engine gasoline dan engine diesel natural aspiration yang
CB menggunakan fuel dengan kadar sulfur tinggi. Mencegah corrosion
pada bearing dan timbulnya deposit pada temperatur tinggi.
Untuk engine diesel supercharger low output dan engine gasoline
CC beban tinggi. Diguanakan untuk truck,mesin industri, tractor
pertanian dan mesin konstruksi. Mempunyai sifat anti corosion.
Untuk engine diesel supercharger putaran tinggi dan high output.
CD Mempunyai sifat anti-friction, anti-korosi, dan anti-deposit. Engine
dengan menggunakan fuel kadar sulfur tinggi.
Untuk engine diesel supercharger heavy duty yang dibuat tahun
mulai tahun 1983. Untuk engine dengan putaran rendah dan tinggi
CE
dan dengan beban tinggi. Memperbaiki oil consumption, anti-deposit
dan sludge yang sifatnya lebih baik dari klas CD.
Untuk engine 4 langkah. Dapat digunakan sebagai pengganti
CF-4 CC,CD,CE, dan cocok untuk heavy-duty truck. Mempunyai fungsi
pengontrolan oil consumption dan anti-piston-deposit.
13
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
Cetane Number
Cetane number atau cetane index digunakan sebagai suatu ukuran untuk menunjukan
kemampuan nyala dari fuel. Cetane number adalah suatu angka (index) yang menunjukan
kemudahan penyalaan (ignition), sementara octane number yang digunakan untuk fuel pada
engine gasoline adalah suatu indicator yang menunjukan kesukaran penyalaan. Kedua angka-
angka ini mempunyai hubungan yang berlawanan. Nilai cetane ditentukan dengan penggunaan
suatu engine CFR (engine test untuk mengukur cetane number) dan pembanding kemampuan
nyala fuel yang di- test cetane numbernya ialah ditentukan dengan kemampuan nyala dari fuel
referensi yang digunakan untuk penentuan (setting) cetane number.
Fuel referensi dibuat dengan pencampuran normal cetane (cetane number 100) kemampuan
nyala sangat tinggi dengan alpha-methyl naphthalene (cetane number 0) yang mempunyai
kemampuan penyalaan sangat rendah. Besarnya percentage volume dari normal cetane yang
dimasukan didalam fuel referensi yang memberikan kemampuan nyala sama seperti fuel uji
diambil sebagai cetane number.
Α-methyl
Cetanan Number Naphthalene Sama kemam- Cetane Number
puan nyalanya
45% 55% 45%
Pengujian seperti diatas agak susah untuk mengukur cetane number, sehingga sekarang ini
cetane number hampir tidak pernah diukur. Penggantinya, ASTM menggunakan derajat API dan
50% temperatur (0F) penyulingan (distillation) dan suatu formula cetane index yang tetap. Tidak
ada kesukaran dalam praktek dalam pengambilan cetane index untuk disamakan sebagai
cetane number.
Keterangan
• API degree : Ini adalah suatu satuan yang digunakan oleh American Petroleum Institute
untuk menunjukan penentuan specific gravity petroleum, dan merupakan index yang biasa
digunakan di USA.
• 50% distillation temperature: Ini adalah temperatur dimana 50% dari fuel yang ditest
menguap (evaporate).
9
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
10
Basic Knowledge 0f Fuel for Diesel Engine
Sumber informasi
11
Basic Knowledge of Coolant
COOLANT
Panas yang hasil pembakaran didalam engine sangat tinggi, sehingga diperlukan sistim
pendinginan untuk mengontrol temperatur kerja engine agar supaya engine bekerja
dengan performance yang optimum dan menghindari kerusakan komponen-komponen
akibat panas yang tinggi tadi.
Enersi yang diserap oleh sistem pendingin sekitar 20 % dari panas yang dihasilkan
pembakaran bahan bakar, dibuang sebagai exhaust gas 42 %, dan yang yang diubah
menjadi tenaga mekanis 38 %.
Secara umum yang dipakai sebagai media pendingin (coolant) digunakan air (water),
karena air mempunyai “cooling effect”yang baik.
Gambar dibawah memperlihatkan sistim pendinginan pada engine diesel secara umum.
ADR/EK/03/02 1
Basic Knowledge of Coolant
AIR (WATER)
Air merupakan media yang paling baik untuk digunakan dalam sistim pemindah panas,
mudah diidapat, namun air natural secara umum mempunyai sifat selalu mengandung zat-
zat organik, zat anorganik, atau zat kimia lain yang dapat menghasilkan endapan (scale)
pada permukaan dalam dari sistim pendingin, disamping air sendiri dapat menyebabkan
korosif pada besi atau logam lainya. Zat-zat yang terkandung didalam air natural dan sifat-
sifatnya berbeda menurut tempatnya.
dls dls
ADR/EK/03/02 2
Basic Knowledge of Coolant
KEKERASAN (HARDNESS)
• Besi dan mangan pada umumnya terkandung dalam air hanya dalam kuantitas yang
kecil. Kekerasan (hardness) terbentuk karena adanya kandungan limestone (CaCO3,
calcium carbonat), dan magnesia (MgCO3, magnesium carbonat). Kekerasan dari air
ditentukan dengan banyaknya zat-zat ini yang larut didalam air. Senyawa-senyawa
kimia ini larut dan membentuk scale (kerak) dan endapaan.
Note:
1 Ppm, sama dengan 1 gram material yang terkandung dalam 1 m3 fluid
Kekerasan air misalkan 8, artinya 8 gram CaO (lime) terkandung
Dalam 1 m3 (1.000.000 ml) air.
Ppm singkatan dari part per million)
ADR/EK/03/02 3
Basic Knowledge of Coolant
ADR/EK/03/02 4
Basic Knowledge of Coolant
RUST (karat)
Penyebab :
SCALE (kerak)
Penyebab :
Bila cooling system ditambahkan antifreeze yang berkualitas jelek, silicate-silicate (pasir)
terendapkan dan membentuk scale.
Silika merupakan partikel-partikel batu, tidak larut didalam air tetapi tetap bercampur. Jika
menempel pada dinding yang panas menjadi scale yang keras, dan sukar untuk dilepas dari
dinding tadi. Air yang mempunyai keasaman lebih tinggi, dan air yang lebih keruh, scale lebih
mudah untuk dilepas dari dinding.
Akibat penempelan scale pada permukaan dinding saluran pendingin, cooling effect menjadi
turun fungsinya, sehingga terjadi problem:
ADR/EK/03/02 5
Basic Knowledge of Coolant
Grafik dibawah ini memperlihatkan hubungan antara titik didih air dengan altitude (ketinggian
diatas permukaan laut).
• Pada sea level (tekanan atmosfer 760 mmHg) air memdidih pada temperatur 1000C,
tempat semakin tinggi misalkan diatas gunung tekanan atmosfer lebih rendah, dibawah
760 mmHg, titik didih air-pun makin rendah, dibawah 1000C. Bila machine beroperasi
ditempat yang tinggi, misalkan pada tempat dengan ketinggian 4000 m (Freeport) diatas
permukaan laut, titik didih kira-kira 860C, sedangkan temperatur optimum kerja engine
antara 700C-950C, maka air radiator mendidih dan menyebabkan engine rusak
(overheating).
• Untuk mencegah hal diatas, titik didih air didalam radiator harus jangan dipengaruhi oleh
tekanan udara luar, dan selama engine hidup tekanan (udara) didalam radiator harus
lebih besar daripada tekanan udara luar (differential pressure), agar supaya titik didih air
naik diatas 1000C. Pada grafik, jika diatas air bekerja tekanan sebesar 0.75 kg/cm2
(differential pressure) titikdidih air menjadi 1150C, pada sea level.
• Untuk menjaga supaya tekanan udara didalam radiator tidak dipengaruhi tekanan
atmosfer, pada radiator dilengkapi dengan radiator valve, yang berfungsi menjaga dan
membatasi tekanan (diff. Pressure) dan mencegah terjadi ke-vacuum-an didalam radiator
saat engine menjadi dingin. Pada umumnya tekanan didalam radiator dijaga sekitar 0.75
kg/cm2.
ADR/EK/03/02 6
Basic Knowledge of Coolant
RADIATOR VALVE
• Vacuum Valve
Setelah engine berhenti, dan temperatur dari
sistim pendingin menjadi turun, menyebabkan
terjadi negative pressure didalam sistim
pendingin, maka mencegah hal itu radiator
valve bekerja sebagai vacuum valve, sehingga
internal stress karena kevacuuman dapat
dicegah.
• Radiator Cap
Pada umumnya radiator valve dipasang assy
dengan cap radiator, sehingga cap membawa
peran yang sangat penting dalam pengontrolan
temperatur kerja sistim pendingin.
Secara periodik cap radiator atau radiator valve
harus diperiksa, jika opening pressure diluar
specifikasi ganti cap.
ADR/EK/03/02 7
Basic Knowledge of Coolant
CORROSION RESISTOR
Corrosion resistor dilengkapkan pada sistim pendingin engine, tujuannya supaya “cooling
effect” dari sisitim pendingin menjadi lebih baik, sehingga dapat meningkatkan ketahanan
dan memperpanjang umur engine, liner, dan pendinginan oli pelumas. Juga untuk mencegah
terjadinya problem pitting yang disebabkan karena terjadinya cavitation.
Inhibitor
ADR/EK/03/02 8
Basic Knowledge of Coolant
Pengaruh sifat alkali atau basa dan asam dalam air terhadap besi dan aluminium
diperlihatkan dengan grafik berikut.
GRAFIK SIFAT ALKALI (BASE) dan ASAM (ACID) terhadap CORROSION pada logam-logam
ALUMINIUM dan CAST IRON.
KETERANGAN GRAFIK
• Pada rentang pH neutral 6.8-7.5 besi lebih mudah korosif dibandingkan aluminium, sama
halnya dengan nilai pH kecil (asam).
• Dengan ditambahkan buffer agent pada corrosion resistor, coolant menjadi bersifat basa
(alkali), sehingga dapat menghambat proses korosif pada besi, sebaliknya untuk
aluminium malah mudah berkarat (kororsif), untuk itu pada corrosion resistor
ditambahkan “powerfull aluminium corrosion inhibitor”, dengan concentrate yang sesuai
dapat menghambat korosif pada aluminium. Pada grafik terlihat dengan penambahan
inhibitor tadi grafik korosif aluminium bergeser kekanan (daerah yang diarsir). Inhibitor
ini (Komatsu) lebih kuat dibanding dengan inhibitor yang biasa,
• Dari grafik dapat dilihat nilai pH yang baik untuk cooling system ada pada rentang 8.5-
10.5, dimana aman untuk besi maupun untuk aluminium.
• Dibawah digambarkan perbandingan pemakaian Al-inhibitor (Komatsu) dengan general
Al-inhibitor.
ADR/EK/03/02 9
Basic Knowledge of Coolant
ANTIFREEZE
ADR/EK/03/02 10
MEKANISME PROSES PENGHAMBATAN KOROSIF
Kavitasi (inhibitor
11
Pencegahan pitting kavitasi dan korosi
mengurangi impact)
Tamparan Pembentukan Tamparan Ledakan MEKANIKAL
Getaran gelembung PISTON,get glembung, KOROSI
PISTON
LINER [Link] aran LINER impact
ADR/EK/03/02
INHIBITOR
Basic Knowledge of Coolant
CORROSION
ADR/EK/03/02 12
Basic Knowledge of Coolant
ADR/EK/03/02 13
Basic Knowledge of Coolant
Overflow
Water hammer
Overheat
Korosi pad
Oil engine dan oil cooling system
powertrain ber-
campur (emulsion)
Cyl. Head retak
AIR PENDINGIN
JELEK Air menyembur
dari upper tank Cyl. Head distorsi
Excessive Rust
(red) Bearing rusak
Impeller
Air cepat kotor waterpump
kavitasi / pitting
LAIN-LAIN
(fan belt kendor, Terjadi
water pump
Oil cooler pitting
gelembung-
rusak, exhaustgas gelembung
masuk kedalam
air pendingin,
Air pendingin Air bocor dari seal
kotoran masuk
kedalam air beremulsi waterpump
d
ADR/EK/03/02 14
Basic Knowledge of Coolant
ADR/EK/03/02 15
Basic Knowledge of Air for Engine
UDARA
Pada engine, untuk mengasilkan power (expansion), sejumlah fuel yang diinjeksikan kedalam
cylinder dibakar. Untuk proses pembakaran fuel ini diperlukan sejumlah oxygen (O2), yang
diambil dari udara disekelilingnya. Oxigen yang terkandung didalam udara hanya 21% dari
volume udara.
KOMPOSISI UDARA
Lain-lain Oxygen
1% 21%
Nitrogen
78%
Bila fuel dan oxygen dimasukan bersama didalam suatu ruangan dengan temperatur tinggi
dan tekanan tinggi, molekul-molekul fuel terlepas dari gabungannya dan mengurai menjadi
atom-atom carbon (C) dan atom-atom hydrogen (H). Kemudian atom-atom dengan cepat
bereaksi dengan atom-atom oxygen (O2) membentuk gas carbon dioksida (CO2) dan air H2O
(uap air pada temperatur tinggi).
Namun, jika ada kekurangan oxygen , atau molekul-molekul carbon gagal bertemu dengan
molekul-molekul oxygen sebelum pembakaran sempurna terjadi, terbentuk carbon
monoksida (CO) daripada carbondioksida (CO2), atau molekul-molekul carbon (C) tetap bebas
dan tidak bergabung (bereaksi) dengan molekul-molekul oxygen. Pembakaran seperti ini
disebut pembakaran tidak sempurna (incomplete combustion).
Gas carbon dioksida dan uap air masing-masing membentuk suatu ikatan molekul yang kuat
yang tidak membahayakan manusia, tetapi carbon monoksida merupakan suatu ikatan
molekul tidak stabil, yang kemudian bereaksi dengan oxygen untuk membentuk gas carbon
dioksida, sehingga hal ini sangat membahayakan. Gas carbon monoksida ini tidak berwarna
dan tidak berbau, sehingga tidak bisa dilihat, sekalipun ada dalam gas buang (exhaust).
ADR/EK/03/02 1
1
Basic Knowledge of Air for Engine
Untuk mendapatkan suatu pembakaran yang sempurna dari 1 gram fuel, hasil kalkulasi dari
reaksi pembakaran bahwa diperlukan udara sebanyak 14.5 gram. Jadi, theoretical air adalah
14.5 gram untuk pembakaran setiap 1 gram fuel. Bila dikonversikan kedalam volume udara,
pada sea level, sama dengan 12 liter udara.
Pada proses pembakaran dalam engine diesel, untuk membakar fuel sempurna secara
theoritis diperlukan udara seberat 14.5 kali berat fuel. Tetapi, jika hanya theoretical air yang
dimasukan keruang bakar, molekul-molekul fuel tidak punya cukup waktu untuk bertemu
oxygen sebelum terjadi pembakaran sempurna karena waktu pembakaran sangat singkat
(pendek). Sehingga akan menghasilkan pembakaran tidak sempurna. (Sebagai contoh, jika
kecepatan engine 1800 rpm, waktu untuk satu cycle pembakaran mendekati 1/60 detik).
Untuk mencegah pembakaran tidak sempurna seperti ini, udara yang diperlukan harus lebih
banyak daripada theoretical air. Excess air ratio menunjukan berapa kali jumlah udara actual
yang disupply keruang bakar lebih besar dari pada theoretical air. Sebagai contoh, jika 18
liter udara yang disupply untuk 1 gram fuel, dan theoretical air adalah 14.5 gram, excess air
ratio adalah 1.5. Pada suatu engine, ukuran dari cylinder adalah tetap, sehingga jumlah
udara yang dapat masuk dengan sendirinya adalah tetap. Dengan demikian hubungan antara
jumlah fuel yang diinjeksikan dan excess air ratio adalah sebagai berikut.
• Jika LEBIH fuel yang diinjeksikan, excess air ratioi jadi LEBIH KECIL
• Jika KURANG fuel yang diinjeksikan, excess air ratio jadi LEBIH BESAR
ADR/EK/03/02 2
1
Basic Knowledge of Air for Engine
Dengan kata lain, dalam prakteknya untuk mendapatkan horsepower yang efektif pada
engine diesel untuk mesin konstruksi, udara yang diperlukan 22 sampai 29 kali lebih besar
dari berat fuel yang diinjeksikan keruang bakar pada keadaan full load. Atau, pada beban
engine maksimum (maximum torque) berat udara yang diperlukan adalah 1.5 sampai
2.0 kali berat udara teoritis yang diperlukan untuk membakar sejumlah berat fuel maksimum
yang diinjeksikan kesilinder pembakaran.
Jadi,
Berat Udara Aktual
Excess Air Ratio =
Berat Fuel yang Diinjeksikan X 14.5
Excess Air Ratio bertambah kecil akan mengakibatkan temperatur gas exhaust bertambah
naik, dan akan mencapai peak temperatur kalau Excess Air Ratio mendekati 1, kalau hal
demikian berlangsung terus menerus menyebabkan terjadi problem:
• Air restriction dari Air Cleaner terlalu besar (air cleaner buntu); batas air restriction
maximum pada sea level adalah 25 inchH2O (650 mmH2O).
• Turbocharger rusak atau ada kebocoran pada saluran udara antara turbochager dan
intake manifold.
• Valve timing.
• Quantity bahan bakar yang diinjeksikan melebihi batas maximum standarnya (over
fueling), akan terjadi power cenderung lebih tinggi selama air restriction masih
rendah (air cleaner bersih), jika air restriction makin besar selama engine bekerja
temperatur gas buang makin tinggi (excess air ratio makin rendah) dan seandainya
air cleaner makin kotor akan terjadi pembakaran tidak sempurna sehingga kabut
fuel hasil injeksi berubah menjadi partikel-partikel carbon/ jelaga (soot). Jadi, bila
overfueling kemungkinan terjadinya temperatur exhaust gas terlalu tinggi dan soot
akan terjadi lebih cepat dibandingkan dengan kondisi fuel supply normal, walaupun
air restriction dari air cleaner masih dibawah 25 inch H2O.
Akibat hal ini, banyak problem-problem engine seperti cylinder head retak, exhaust
manifold/turbocharger membara/retak, valve melting,dll. overheat pada lube dan
cooling system, penaikan viskositas oli karena bercampur dengan soot (n-pentane
insoluble naik) sehingga pelumasan tidak sempurna.
ADR/EK/03/02 3
1
Basic Knowledge of Air for Engine
• Pembakaran sempurna
S + O2 SO2
2SO2 + O2 2SO3 Ini terjadi kalau fuel mengandung sulfur
SO3 + H2O H2SO4
• Kalau temperatur pembakaran terlalu tinggi selain reaksi diatas, gas N2 yang
tekandung didalam udara (±78%) bereaksi dengan oxygen membentuk gas-gas
NOx, NO dan NO2. Gas Nox dan NO juga berbahaya bagi kesehatan.
• Untuk menghindari hal diatas udara yang disupply keruang bakar harus lebih besar
dari berat udara teoritis. (Excess air ratio 1.5 – 2.0, pada full load), dengan menjaga
restiction dari air cleaner maksimum 25 inch H2O (635 mm H2O).
ADR/EK/03/02 4
1
Jika air cleaner buntu atau rusak, akan terjadi problem-problem
PROBLEM SEBAB GEJALA EFEK PADA ENGINE CONTOH KERUSAKAN
5
Kertas filter rusak Power turun Keausan pada valve
PEMASUKAN DEBU DARI
kurang baik
AIR CLEANER
ADR/EK/03/02
Metode pembersihan
kurang baik
Exhaust
manifold dan
turbocharger
Pre-cleaner rusak
1
terlalu panas Keausan bearing
Basic Knowledge of Air for Engine
ADR/EK/03/02 6
1
Kandungan sulfur tinggi dalam bahan bakar mengakibatkan terbentuknya gas SO2 dan SO3 pada pembakaran, yang dapat menurunkan titik embun uap air dan membentuk asam sulfat korosif. Asam sulfat ini dapat mengakibatkan korosi pada piston dan liner, serta meningkatkan keausan dalam mesin .
Penggunaan antifreeze berkualitas rendah yang mengandung silikat dapat menyebabkan terbentuknya kerak (scale) yang mengurangi efisiensi transfer panas, sehingga meningkatkan risiko overheating, kerusakan piston dan liner, serta munculnya pitting .
Jika nilai n-pentane insoluble melebihi batas, hal ini menandakan peningkatan jelaga dalam oil engine, yang menyebabkan kondisi oil memburuk, sistem filter buntu, dan keausan pada bearing. Biasanya disebabkan oleh pembakaran yang tidak sempurna atau fuel berkualitas rendah .
Viskositas bahan bakar sangat berpengaruh pada performa mesin diesel karena viskositas rendah dapat mengurangi output daya dan mempercepat kerusakan komponen seperti pompa injeksi dan injector, sedangkan viskositas tinggi dapat menyebabkan pembakaran tidak sempurna dan penumpukan jelaga .
TBN menunjukkan sifat alkali dari additive dalam oil, yang berfungsi menetralisir asam dan melindungi metal dari korosi. Jika TBN turun di bawah 2.0 mgKOH/g, oil kehilangan kemampuan netralisasi asam, yang mempercepat korosif pada metal dan menyebabkan keausan .
Vakum valve dalam sistem pendingin mencegah tekanan negatif yang dapat terjadi ketika mesin berhenti dan suhu sistem pendingin menurun. Tanpa valve ini, kondisi vacuumm dapat meningkatkan stres internal pada komponen mesin dan berpotensi menyebabkan kerusakan .
Air terkontaminasi dalam sistem pendingin dapat menyebabkan korosi dan pembentukan karat serta scale pada permukaan besi, yang mengurangi efisiensi transfer panas dan berpotensi menyebabkan overheating dan kerusakan komponen mesin. Penggunaan inhibitor korosi dan menjaga kualitas air pendingin dapat mengurangi ancaman ini .
Multigrade oil memiliki keunggulan dalam stabilitas viskositas pada berbagai suhu, kemudahan aliran pada suhu rendah, dan konsumsi lebih rendah dibanding single grade oil. Oil ini dapat menahan suhu tinggi tanpa mengorbankan ketahanan mesin dan memungkinkan penggunaan dalam sistem hidrolik .
Masalah utama yang dihadapi ketika menggunakan minyak berat sebagai bahan bakar mesin diesel kecepatan tinggi termasuk tingginya kontaminasi yang menyebabkan sistem bahan bakar mudah tersumbat, viskositas tinggi yang mengakibatkan pembakaran kurang sempurna, dan tingginya kandungan sulfur yang dapat mempercepat keausan korosif .
Memilih oil engine dengan viskositas yang tepat sesuai suhu kerja penting untuk mencegah kerusakan komponen akibat pecahnya lapisan film oil pada viskositas rendah dan suhu tinggi, yang dapat menyebabkan seizure pada bearing. Penggunaan viskositas yang sesuai menjaga stabilitas oil film dan memperpanjang umur mesin .