0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan12 halaman

Tanggung Jawab Notaris dalam Pemungutan Pajak

Proposal tesis ini membahas tanggung jawab notaris dalam memungut pajak terkait akta yang dibuatnya, khususnya studi kasus penggelapan pajak oleh karyawan notaris di Surabaya. Notaris bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat berdasarkan undang-undang, termasuk memastikan pembayaran pajak sesuai ketentuan saat pembuatan akta jual beli tanah.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan12 halaman

Tanggung Jawab Notaris dalam Pemungutan Pajak

Proposal tesis ini membahas tanggung jawab notaris dalam memungut pajak terkait akta yang dibuatnya, khususnya studi kasus penggelapan pajak oleh karyawan notaris di Surabaya. Notaris bertanggung jawab atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat berdasarkan undang-undang, termasuk memastikan pembayaran pajak sesuai ketentuan saat pembuatan akta jual beli tanah.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TANGGUNG JAWAB NOTARIS DALAM PERAN SERTANYA

MEMUNGUT PAJAK BERKAITAN DENGAN AKTA YANG


DIBUATNYA STUDI KASUS PENGGELAPAN UANG PAJAK
OLEH KARYAWAN NOTARIS DI SURABAYA

PROPOSAL TESIS

IMANUELLA NOVENA
1606847310

0
A. Latar Belakang

Notaris merupakan pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta


autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris yang telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014.
Hal yang melandasi dibentuknya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan
Notaris (Undang-Undang Jabatan Notaris) ini adalah untuk terwujudnya jaminan
kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum yang memiliki inti kebenaran
dan keadilan. Melalui akta yang dibuat dihadapannya, Notaris harus dapat
memberikan kepastian hukum kepada masyarakat pengguna jasa Notaris. Jabatan
Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud
untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang
bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum.1 Dengan adanya
landasan tersebut, Notaris harus memiliki semangat untuk melayani masyarakat, dan
atas pelayanan yang diberikan oleh Notaris tersebut, maka masyarakat yang telah
dilayani oleh Notaris berdasarkan kemudian dapat memberikan honorarium.
Notaris yang merupakan pejabat umum, berdasarkan undang-undang diangkat
oleh pemerintah dalam hal ini Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik
Indonesia, tidak hanya menjalankan pekerjaan yang diamanatkan oleh Undang-
Undang saja tapi juga memberikan pelayanan yang mendukung pekerjaan yang
dilakukan sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Jasa yang diberikan oleh
notaris kepada masyarakat terkait erat dengan persoalan kepercayaan yang besar
terhadap notaris tersebut, oleh sebab itulah dapat dikatakan bahwa pemberian
kepercayaan kepada notaris berarti notaris tersebut mau tidak mau dapat dikatakan
memikul tanggung jawab atasnya. Tanggung jawab ini dapat berupa tanggung jawab
hukum maupun moral.2
Pelayanan yang dimaksud dalam hal ini contohnya adalah dalam hal
pembuatan akta jual beli dan peralihan hak atas tanah. Jual beli menurut Kitab
1
Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, Cet. 3, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), hlm.14
2
Achmad Arif Kurniawan , Pertanggungjawaban Pidana Notaris Dalam Hal Pekerja Notaris
Melakukan Tindak Pidana Pemalsuan Surat, Makalah, (Malang: Universitas Brawijaya, tanpa tahun),
hlm. 2

1
Undang-Undang Hukum Perdata adalah suatu perjanjian bersifat timbal balik dimana
pihak yang satu (penjual) berjanji untuk menyerahkan hak milik atas suatu barang,
sedang pihak yang lainnya (pembeli) berjanji untuk membayar harga yang terdiri atas
sejumlah uang sebagai imbalan dari perolehan hak milik tersebut.3
Pasal 5 UUPA menyatakan bahwa Hukum Tanah Nasional di Indonesia adalah
Hukum Adat. Sifat tunai berarti bahwa penyerahan hak dan pembayaran harganya
dilakukan pada saat yang sama.4 Hal ini berarti bahwa kita menggunakan konsepsi,
asas-asas lembaga hukum dan sistem Hukum Adat. Hukum Adat yang dimaksud
merupakan hukum adat yang telah disempurnakan. Sehingga, pengertian jual beli
tanah menurut Hukum Tanah Nasional adalah pengertian jual beli tanah menurut
Hukum Adat, yaitu perbuatan pemindahan hak, yang sifatnya terang dan tunai. 5
Terang berarti perbuatan pemindahan hak tersebut harus dilakukan dihadapan kepala
adat yang berperan sebagai pejabatn yang menanggung keteraturan dan sahnya
perbuatan pemindahan hak tersebut sehingga perbuatan tersebut diketahui oleh umum.
Tunai memiliki maksud, bahwa perbuatan pemindahan hak dan pembayaran harganya
dilakukan secara serentak, dimana dalam hal ini harga tanah dibayar secara kontan.6
Jual Beli memiliki 2 (dua) syarat, yaitu :
a. Syarat materiil
Syarat materiil sangat menentukan akan sahnya jual beli tersebut, antara
lain :
1. Pembeli memiliki hak untuk membeli tanah yang bersangkutan.
Maksudnya adalah pembeli sebagai penerima hak harus memenuhi
syarat untuk memiliki tanah yang akan dibelinya. Untuk menentukan
berhak atau tidaknya si pembeli memperoleh hak atas tanah yang
dibelinya tergantung pada hak apa yang ada pada tanah tersebut, apakah
hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha atau hak pakai. Menurut
ketentuan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), yang dapat mempunyai
hak milik atas tanah hanya warga negara indonesia tunggal dan badan-
badan hukum Indonesia yang ditetapkan oleh pemerintah. Jika pembeli
mempunyai kewarganegaraan asing di samping kewarganegaraan
3
R. Subekti, Aneka Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1982), hlm.1
4
Adrian Sutedi, Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarannya, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm.76.
5
Ibid., hlm. 71-72.
6
Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia, (Jakarta: Rajawali, 1983), hlm. 211

2
Indonesianya atau kepada suatu badan hukum yang tidak dikecualikan
oleh pemerintah, maka jual beli tersebut batal demi hukum dan tanah jatuh
pada Negara. (Pasal 26 ayat (2) UUPA).
2. Penjual memiliki hak untuk menjual tanah yang bersangkutan
Yang berhak menjual suatu bidang tanah tentu saja si pemegang
yang sah dari hak atas tanah tersebut yang disebut pemilik. Apabila
pemilik sebidang tanah hanya satu orang, maka ia berhak untuk menjual
sendiri tanah tersebut. Akan tetapi, apabila pemilik tanah adalah dua
orang, maka yang berhak menjual tanah itu ialah kedua orang itu bersama-
sama, tidak boleh hanya satu orang saja yang bertindak sebagai penjual.7
3. Tanah hak yang bersangkutan boleh diperjualbelikan dan tidak dalam
sengketa
Mengenai tanah-tanah hak apa saja yang boleh diperjualbelikan
telah ditentukan dalam UUPA, yaitu hak milik, hak guna usaha, hak guna
bangunan, dan hak pakai. Jika salah satu syarat materiil ini tidak dipenuhi,
dalam arti penjual bukan merupakan orang yang berhak atas tanah yang
dijualnya atau pembeli tidak memenuhi syarat untuk menjadi pemilik hak
atas tanah atau tanah yang diperjualbelikan sedang dalam sengketa atau
merupakan tanah yang tidak boleh diperjualbelikan, maka jual beli tanah
tersebut adalah tidak sah. Jual beli tanah yang dilakukan oleh yang tidak
berhak adalah batal demi hukum. Artinya sejak semula hukum
menggangap tidak pernah terjadi jual beli.8
b. Syarat Formal
Setelah semua persyaratan materiil dipenuhi, maka Pejabat Pembuat
Akta Tanah (PPAT) akan membuat akta jual belinya. Menurut ketentuan Pasal
37 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah,
akta jual beli harus dibuat oleh PPAT. Setelah akta dibuat, selambat-lambatnya
tujuh hari kerja sejak akta tersebut ditandatangani, PPAT menyerahkan akta
tersebut beserta dokumen-dokumen pendukungnya kepada Kantor Badan
Pertanahan Nasional Kabupaten/Kota setempat untuk pendaftaran pemindahan
haknya.
Sebelum akta jual beli dapat dibuat oleh PPAT, maka para pihak yang
7
Effendi Perangin, Praktik Jual Beli Tanah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 2
8
Ibid.

3
bersangkutan diminta untuk menyerahkan surat-surat yang diperlukan kepada PPAT,
yaitu:
1. Apabila tanah sudah bersertifikat, maka dokumen yang diperlukan adalah
sertifikat asli dan bukti pembayaran biaya pendaftarannya.
2. Apabila tanah tersebut belum memiliki sertifikat, maka dokumen yang
perlukan oleh PPAT adalah surat keterangan bahwa tanah tersebut belum
bersertifikat, surat-surat tanah yang ada yang memerlukan penguatan oleh
Kepala Desa dan Camat, dilengkapi dengan surat-surat yang membuktikan
identitas penjual dan pembelinya yang diperlukan untuk persertifikatan
tanahnya setelah selesai dilakukan jual beli.9
Salah satu syarat agar peralihan tanah tersebut dapat dilakukan adalah
dibayarkannya pajak-pajak yang yang timbul dari adanya transaksi peralihan hak atas
tanah tersebut, dalam hal ini berupa Pajak Penghasilan (PPh) oleh pihak yang
mengalihkan tanah dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) oleh
pihak yang menerima peralihan tanah tersebut. Terkait dengan BPHTB ini didasari
oleh Pasal 24 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 21 tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan,
yang menyatakan bahwa Notaris dalam jabatannya selaku Pejabat Pembuat Akta
Tanah hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan atau
bangunan pada saat pihak yang bersangkutan menyerahkan bukti pembayaran pajak
berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. Apabila para
pihak tersebut tidak menyerahkan bukti pembayaran pajak-pajak tersebut, maka
peralihan tanah tidak dapat dilakukan. dalam ketentuan Pasal 103 Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah, disebutkan bahwa dalam pendaftaran peralihan hak atas tanah,
PPAT wajib menyampaikan akta dan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam
proses pendaftaran peralihan haknya ke Kantor Badan Pertanahan Nasional setempat.
Salah satu dokumen yang dimaksud adalah bukti pelunasan pembayaran Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan bukti pelunasan pembayaran
PPh Final atas peralihan hak atas tanah dan/atau bangunan.
Adanya kewajiban pembayaran PPh dan BPHTB tersebut mengakibatkan
tenggang waktu antara perikatan jual beli yang dilakukan dihadapan Notaris, dengan
9
Op. cit., Adrian Sutedi, hlm. 79

4
pelaksanaan jual beli/peralihan hak atas tanahnya yang dilakukan dihadapan PPAT
yang berwenang memiliki jarak waktu yang relatif lama, oleh karena itu para pihak
yang melakukan transaksi jual beli hak atas tanah tersebut seringkali menyerahkan
sejumlah uang untuk biaya PPh dan BPHTB dengan menitipkannya kepada
Notaris/PPAT yang membuat akta peralihan hak atas tanahnya.
Notaris berupaya memberikan pelayanan yang terbaik bagi kliennya, dengan
membantu membayarkan PPh dan BPHTB atas tanah yang akan dialihkan tersebut.
Dalam menjalankan kewenangan dan kewajibannya Notaris memang sangat
memerlukan bantuan tenaga kerja yang dalam hal ini adalah pekerja/karyawan
notaris. Karyawan Notaris memegang peran yang cukup penting untuk membantu
kinerja Notaris dalam melayani jasa pembuatan akta, seperti membantu menyiapkan
pembuatan, melakukan pendaftaran dan mengesahkan surat-surat atau akta-akta yang
dibuat di bawah tangan dan menjadi saksi dalam peresmian akta (Saksi
Instrumentair).
Karyawan atau yang juga sering disebut pekerja merupakan elemen penting
bagi Notaris dari segi tugas dan tanggung jawab yang diembannya, karena memiliki
kedudukan strategis dalam proses pembuatan akta, tanpa karyawan apa yang telah
dirancang oleh Notaris tentu tidak akan dapat terlaksana sesuai dengan perencanaan.
Oleh karena karyawan Notaris sudah terbiasa dalam membantu Notaris dalam
menjalankan kewajibannya, maka biasanya Notaris memiliki kepercayaan yang cukup
besar bagi para karyawannya untuk mengurus banyak hal terkait dengan
pekerjaannya.
Seringkali dalam praktiknya Notaris memberikan kepercayaan kepada
karyawannya untuk membantu dalam melayani masyarakat, salah satunya adalah
dengan membantu membayarkan titipan PPh dan BPHTB dari kliennya/pihak yang
ingin melakukan jual beli tanah. Hal ini tentunya dapat membuka peluang terjadinya
penyelewengan dana PPh dan BPHTB yang dititipkan tersebut oleh karyawan
Notaris.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut diatas, perlu suatu penelitian lebih lanjut


mengenai pelayanan pembayaran PPh dan BPHTB oleh Notaris/PPAT yang akan
dituangkan ke dalam tesis yang berjudul “TANGGUNG JAWAB NOTARIS
DALAM PERAN SERTANYA MEMUNGUT PAJAK BERKAITAN DENGAN
AKTA YANG DIBUATNYA STUDI KASUS PENGGELAPAN UANG PAJAK

5
OLEH KARYAWAN NOTARIS DI SURABAYA"

B. Perumusan Permasalahan

Permasalahan yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah mengenai hal-
hal yang berhubungan dengan pemungutan pajak terkait dengan akta yang dibuat oleh
Notaris/PPAT dan tanggungjawab Notaris/PPAT tersebut.
Pokok permasalahan yang akan dibahas adalah:
1. Bagaimana pengaturan terkait dengan pelayanan Notaris/PPAT kepada
kliennya dalam hal pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) dan Bea Perolehan
Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) oleh Notaris/PPAT menurut
ketentuan perundang-undangan yang berlaku?
2. Bagaimanakah tanggungjawab Notaris terhadap karyawannya apabila Pajak
Penghasilan (PPh) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB) yang dititipkan hilang oleh karyawan Notaris?
3. Bagaimanakah tanggungjawab Notaris terhadap kliennya dalam hal Pajak
Penghasilan (PPh) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB) tersebut hilang?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian dari rumusan permasalahan di atas, maka tujuan dari
penelitian ini ialah sebagai berikut:

a. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara jelas dan
mendalam mengenai Notaris dalam praktek kesehariannya terkait
pelayanannya terhadap masyarakat, terutama dalam hal pemungutan pajak
PPh dan BPHTB, dan diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi
masyarakat luas.
b. Tujuan Khusus
a) Menganalisis resiko dan tanggungjawab Notaris terkait dengan
pelayanannya membantu klien membayarkan pajak-pajak terkait dengan
peralihan hak atas tanah tersebut.

6
b) Meningkatkan kesadaran terkait dengan pelayanan jasa Notaris agar
lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas dan kewajibannya melayani
masyarakat.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang dibahas, serta tujuan dari penelitian, maka
manfaat yang hendak dihasilkan dari penelitian ini antara lain:
a. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah agar
memberikan wawasan mengenai ilmu hukum kepada masyarakat pada
umum nya dan secara khusus kepada penegak hukum dan notaris, terkait
dengan adanya masalah mengenai penggelapan uang pajak PPh dan BPHTB
oleh karyawan Notaris.
b. Manfaat Praktis
Manfaat praktis penelitian ini adalah untuk masyarakat, notaris, pemerintah
dan penulis adalah menganalisis mengenai tanggungjawab Notaris terkait
pelayanannya membantu membayarkan PPh dan BPHTB kliennya apabila
uang tersebut disalahgunakan oleh karyawannya.

E. Definisi Operasional

Pada penelitian ini definisi operasional dimaksudkan untuk memberi


pembatasan pembahasan tesis agar terhidar dari kesalahan pemahaman dan
perbedaan penafsiran atas istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Definisi
operasional yang dirasa perlu untuk dijelaskan oleh penulis yaitu:
a. Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik
dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.10
b. Pajak Penghasilan (PPh) dalam hal ini adalah pajak yang dikenakan atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan atas
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dan/atau perjanjian pengikatan
jual beli atas tanah dan/atau bangunan beserta perubahannya.11

10
Indonesia, Undang-Undang tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004
tentang Jabatan Notaris, UU Nomor 2 Tahun 2014, LN Tahun 2014 Nomor 3, TLN Nomor 5491, Pasal
1 angka 1.
11
Indonesia, Peraturan Pemerintah Tentang Pajak Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas
Tanah Dan/Atau Bangunan, dan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Atas Tanah Dan/Atau Bangunan
Beserta Perubahannya, PP Nomor 34 Tahun 2016 , LN. No. 168 Tahun 2016, TLN. No. 5916, Pasal 1

7
c. Perolehan Hak Atas Tanah dan atau Bangunan adalah perbuatan atau
peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau
bangunan oleh orang pribadi atau badan.12
d. Bea Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan atas
perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.13

F. Metode Penelitian

Metode Penelitian merupakan suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data


dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah disini didasarkan pada ciri-citi
keilmuan, yaitu rasional, empiris dan sistematis.14
Bentuk penelitian yang akan digunakan dalam tesis ini adalah menggunakan
bentuk penelitian yuridis normatif15, yaitu suatu penelitian yang dilakukan terhadap
hukum positif tertulis maupun tidak tertulis, sehingga dapat menjawab permasalahan-
permasalahan dalam penelitian ini berdasarkan hukum yang ada serta beberapa teori-
teori pendukung lainnya.
Tipologi peneitian diliat dari sifatnya merupakan penelitian deskriptif analitis,
yang digunakan untuk menggambarkan suatu masalah dalam substansi hukum terkait.
Pada penelitian ini jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
sekunder, mencangkup data yang diperoleh dari kepustakaan.
Alat pengumpulan data yang dipergunakan yaitu studi dokumen atau bahan
pustaka, yang berfungsi untuk memberikan fakta-fakta yang secara tidak langsung
memberikan suatu pemahaman atas permasalahan yang sedang diteliti. 16 Diharapkan
bahwa dengan penggunaan studi dokumen atau bahan pustaka ini, dapat memberikan
fakta-fakta dan pemahaman yang le bih jelas mengenai permasalahan yang diteliti.
Selanjutnya, pendekatan yang digunakan dalam mengolah data yang berkaitan
dengan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena pengolahan data dilakukan
dengan cara menganalisis secara deskriptif data yang diperoleh. Proses analisis data
ayat (2).
12
Indonesia, Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997
tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, UU Nomor 20 Tahun 2000, LN. No. 130 Tahun
2000, TLN. No. 3988, Pasal 1 angka 2.
13
Ibid., Pasal 1 angka 1.
14
Http://[Link]/files/konsep%20dasar%[Link], diakses pada tanggal
27 Agustus 2018 pukul 20.31 WIB.
15
Sri Mamudji [Link]., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum (Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005), hlm. 9.
16
Ibid, hlm. 66.

8
sekunder yang diperoleh dilakukan dengan menelaah peraturan perundang-undangan,
teori-teori hukum dan artikel-artikel maupun jurnal-jurnal yang terkait dengan pokok
permasalahan dalam penelitian ini untuk kemudian dicari kesesuaian antara satu
dengan yang lainnya. Pada pendekatan tersebut, tata cara penelitian menghasilkan
data deskriptif analitis, yaitu apa yang dinyatakan oleh sasaran penelitian yang
bersangkutan secara tertulis, lisan, dan perilaku nyata. 17 Pendekatan kualitatif
seringkali disebut sebagai pendekatan dengan pemahaman yang mendalam dan tuntas
karena pendekatan kualitatif mempertanyakan suatu objek secara mendalam.

G. Sistematika Penulisan

Dalam sistem penulisan tesis ini penulis membagi atas 4 (empat) bab yang
terdiri dari:
Pada Bab I ini, penulis akan menguraikan tentang latar belakang permasalahan
yang akan dibahas dalam penelitian, pokok permasalahan yang menjadi masalah
dalam penelitian ini, metode yang digunakan dalam penelitian, serta sistematika dari
penulisan Tesis ini.
Pada Bab II ini, penulis akan menjelaskan mengenai Peraturan-peraturan yang
terkait dengan Pajak Penghasilan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
Tugas dan kewenangan Notaris dalam hal pelayanan serta peran karyawan Notaris
juga akan dijelaskan pada bab ini.
Pada Bab III ini, penulis akan menganalisis apabila terjadi penyalahgunaan
kepercayaan oleh karyawan Notaris terkait dengan pembayaran Pajak Penghasilan
dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, yang menyebabkan tidak
terbayarkannya Pajak tersebut.
. Pada Bab IV ini, penulis akan menguraikan kesimpulan yang diperoleh dalam
penulisan tesis ini dan diakhiri dengan saran penulis berkaitan dengan permasalahan
yang dibatasi dalam tesis ini.

17
Ibid, hlm. 67.

9
DAFTAR PUSTAKA

Buku:
Muhammad, Abdulkadir, Etika Profesi Hukum, Cet. 3, (Bandung: Citra Aditya Bakti,
2006).
Perangin, Effendi, Praktik Jual Beli Tanah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994)
Soekanto, Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif. Cet.
VIII. Jakarta: PT. Raja Grafindo Prsada, 2006.
Sri Mamudji [Link]., Metode Penelitian dan Penulisan Hukum. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2005.
Subekti, R., Aneka Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1982)
Sutedi, Adrian, Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarannya, (Jakarta: Sinar Grafika,

10
2008).

Makalah/Jurnal:
Kurniawan, Achmad Arif, Pertanggungjawaban Pidana Notaris Dalam Hal Pekerja
Notaris Melakukan Tindak Pidana Pemalsuan Surat, Makalah, (Malang:
Universitas Brawijaya, tanpa tahun).

Internet:
[Link] diakses pada
tanggal 27 Agustus 2018 pukul 20.31 WIB

Peraturan Perundang-Undangan:
Indonesia. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-
Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Lembaran Negara
Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2014 Nomor 3, dan Tambahan Lembaran
Negara (TLN) Nomor 5491.
________. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan
Bangunan, Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2000 Nomor
130, dan Tambahan Lembaran Negara (TLN) Nomor 3988.
________. Peraturan Pemerintah Tentang Nomor 34 Tahun 2016 tentang Pajak
Penghasilan Dari Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan, dan
Perjanjian Pengikatan Jual Beli Atas Tanah Dan/Atau Bangunan Beserta
Perubahannya, Lembaran Negara Republik Indonesia (LNRI) Tahun 2016
Nomor 168 Tahun 2016, dan Tambahan Lembaran Negara (TLN) Nomor
5916.

11

Anda mungkin juga menyukai