0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan7 halaman

Konsentrasi Dustfall di Udara Ambien

Penelitian menentukan konsentrasi debu jatuh (dustfall) di Gedung Teknik Sipil dan Lingkungan IPB dengan metode gravimetri. Hasil pengukuran selama 7 hari menunjukkan konsentrasi tertinggi 5,3212 ton/km2/bulan, masih di bawah batas maksimum 10 ton/km2/bulan. Dustfall dapat mencemari lingkungan, tanaman, hewan dan manusia.

Diunggah oleh

Zirakuma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
122 tayangan7 halaman

Konsentrasi Dustfall di Udara Ambien

Penelitian menentukan konsentrasi debu jatuh (dustfall) di Gedung Teknik Sipil dan Lingkungan IPB dengan metode gravimetri. Hasil pengukuran selama 7 hari menunjukkan konsentrasi tertinggi 5,3212 ton/km2/bulan, masih di bawah batas maksimum 10 ton/km2/bulan. Dustfall dapat mencemari lingkungan, tanaman, hewan dan manusia.

Diunggah oleh

Zirakuma
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENENTUAN KONSENTRASI PARTIKULAT DEBU JATUH

PADA UDARA AMBIEN DI GEDUNG TEKNIK SIPIL DAN


LINGKUNGAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR DENGAN
MENGGUNAKAN METODE GRAVIMETRI

Determining The Concentration Of Particulate Dustfall In Ambient


Air Located In Civil And Environmental Engineering Building
Bogor Agricultural University Using Gravimetri Method
Muhammad Ramaldy Irwin1, Fuad Rosyadi2, Ahmad Fausan3, Rafli Fajar Arianto4,
Ingrith Tiara Deva5
Senin – Kelompok 3
1,2,3,4,5)
Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Dramaga Kampus IPB
Email: ahmadfausan625@[Link]

Abstrak: Adanya peningkatan dalam bidang komunikasi, inovasi, dan transportasi merupakan
dampak positif bagi globalisasi. Namun, secara bersamaan globalisasi turut memberikan dampak
pada siklus ekologis berupa polusi. Salah satu penyebab polusi udara yaitu debu jatuh (dustfall).
Dustfall merupakan aerosol dengan diameter sama dengan atau lebih besar dari 10 μm dan
memiliki kemampuan untuk menetap setelah penghentian sementara di udara. Sumber utama
dustfall yaitu cerobong asap dan gas buang kendaraan bermotor. Penelitian debu jatuh (dustfall)
dengan metode gravimetri dilakukan di Laboratorium Kualitas Udara Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan, IPB University pada tanggal 23 September 2019. Lokasi sampling berada di Lantai 3
Gedung Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk
menentukan konsentrasi dustfall pada udara ambien dengan menggunakan metode gravimetri.
Hasil penelitian menunjukkan jumlah konsentrasi dustfall tertinggi dari hasil pengukuran selama 7
hari yaitu sebesar 5,3212 ton/km2/bulan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara, konsentrasi dustfall di Lantai 3 Gedung Departemen
Teknik Sipil dan Lingkungan masih dapat dikategorikan aman, dikarenakan berada di bawah batas
ambang maksimum yang diperbolehkan yaitu sebesar 10 ton/ km2/bulan. Dustfall yang mencemari
udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Penanggulangan pencemaran
dustfall dapat dilakukan dengan memakai peralatan pengendali debu, seperti bag filter,
electrostatic precipitator (ESP), cyclone, dan scrubber.
Kata kunci: Debu jatuh, gravimetri, polusi udara

Abstract: An increase in the fields of communication, innovation, and transportation is a positive


impact on globalization. However, at the same time globalization also has an impact on the
ecological cycle of pollution. One cause of air pollution is dustfall. Dustfall is an aerosol with a
diameter equal to or greater than 10 μm and has the ability to settle after a temporary suspension
in the air. The main sources of dustfall are the chimneys and exhaust gases of motor vehicles.
Dustfall research with gravimetric method was conducted at the Air Quality Laboratory of the
Department of Civil and Environmental Engineering, IPB University on September 23, 2019. The
sampling location was on the 3rd Floor of the Department of Civil and Environmental Engineering
Building. The aim of this research is to determine the concentration of dustfall in ambient air using
gravimetric methods. The results showed the highest amount of dustfall concentration from the
measurement results for 7 days, amounting to 5.3212 tons / km2 / month. Based on Government
Regulation No. 41 of 1999 concerning Air Pollution Control, dustfall concentrations on the 3rd
Floor of the Department of Civil and Environmental Engineering Building can still be categorized
as safe, because they are below the maximum permissible threshold of 10 tons / km2 / month. Dustfall
which pollutes the air can damage the environment, plants, animals and humans. Dustfall pollution
prevention can be done by using dust control equipment, such as bag filters, electrostatic
precipitators (ESP), cyclones, and scrubbers.
Keywords: Air pollution, dustfall, gravimetric,

1
PENDAHULUAN
Pembangunan yang berkembang semakin pesat dewasa ini, khususnya dalam
industri dan teknologi, serta meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang
menggunakan bahan bakar fosil (minyak) menyebabkan udara ambien tercemar
oleh gas-gas buangan hasil pembakaran (Wardhana 2001). Adanya peningkatan
pada bidang komunikasi, inovasi, dan transportasi merupakan dampak positif bagi
globalisasi. Namun, secara bersamaan globalisasi turut memberikan dampak pada
siklus ekologis berupa polusi. Salah satu polusi pada lingkungan hidup adalah
polusi udara. Menurut Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara, terdapat sembilan jenis polutan, salah satunya
adalah dustfall (Aisyiah 2014).
Dustfall atau debu jatuh merupakan salah satu macam dari banyak bentuk
partikel. Debu adalah bagian yang besar dari emisi polutan yang berasal dari
berbagai macam sumber seperti mobil, truk, pabrik baja, pabrik semen, dan
pembuangan sampah terbuka (Sarudji 2010). Dustfall adalah debu jatuh akibat dari
pengaruh gravitasi maupun yang terbawa air hujan, diukur setelah pengambilan
contoh air uji dalam satu bulan. Dustfall sangat membahayakan kesehatan manusia
khususnya gangguan pada sistem pernafasan. Dustfall juga dapat menurunkan
kualitas lingkungan dan mempengaruhi kualitas material. Berdasarkan uraian
tersebut maka perlu dikaji mengenai kadar partikulat berupa debu jatuh (dustfall)
agar dapat segera dilakukan tindakan pengelolaan pencemaran. Penelitian ini
dilakukan bertujuan untuk menentukan konsentrasi dustfall pada udara ambien
dengan menggunakan metode gravimetri.

METODOLOGI
Penelitian debu jatuh (dustfall) dengan metode gravimetri dilakukan di
Laboratorium Kualitas Udara Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, IPB
University pada tanggal 23 September 2019. Lokasi sampling berada di Lantai 3
Gedung Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University. Peralatan yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu dustfall canister, filter, timbangan analitik,
oven, dan desikator. Pengukuran dustfall dilakukan dengan lama sampling 7 hari.
Mulai

Berat filter ditimbang sebanyak tiga kali

Diameter dustfall canister dukur

Gambar 1 Diagram alir pengukuran dutfall canister

2
A

Setelah 7 hari, dustfall canister dilepas dan bagian permukaan dustfall canister
dibilas dengan akuades secukupnya.

filter dipindahkan dalam petridish dengan bantuan pipet, kemudian


dikeringkan dalam oven selama satu jam dengan suhu 105.5 °C.

Filter dikeluarkan dari oven dan didinginkan selama 15 menit.

Filter ditimbang pada timbangan analitik dengan bantuan pipet.

Berat filter yang diperoleh digunakan sebagai data berat filter akhir

Selesai

Gambar 2 Diagram alir pengukuran dutfall canister (lanjutan)


Besarnya berat dustfall dapat dihitung dengan persamaan (1).

w = berat filter akhir – berat filter awal........................................ (1)

Keterangan:
w = berat dustfall (gram)
Luas permukaan dustfall canister dapat dihitung dengan persamaan (2).
1
𝐴 = 4 𝜋𝑑 2 ......................................................................................(2)

Keterangan:
A = luas permukaan dustfall canister (m2)
d = diameter dustfall canister (m)
Konsentrasi dustfall selama 7 hari dapat dihitung dengan persamaan (3).
𝑤 30
𝐶= ........................................................................................(3)
𝐴 𝑇

Keterangan:
C = konsentrasi dustfall (ton/km2/bulan)

3
A = luas permukaan dustfall canister (m2)
T = lama sampling (hari)
w = berat dustfall (gram)
Data yang diperoleh dari hasil pengukuran dan perhitungan kemudian dianalisis.
Besarnya konsentrasi dustfall yang dihasilkan dalam 22 hari dibandingkan dengan
baku mutu yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Menurut Wieringa et al. (1997) dalam Samsuar (2011), debu jatuh (dustfall)
merupakan salah satu bentuk pencemaran udara primer. Dustfall terdiri dari
material yang kompleks dengan komposisi yang konstan dan konsentrasi logam
berat di dalamnya sangat bervariasi. Istilah debu jatuh (dustfall) mengacu pada
aerosol dengan diameter sama atau lebih besar dari 10 μm dan memiliki
kemampuan untuk menetap setelah penghentian sementara di udara (Sami et al.
2006). Dustfall juga dapat dikatakan sebagai debu yang jatuh akibat dari pengaruh
gravitasi maupun yang terikut air hujan yang diukur setelah pengambilan contoh air
uji dalam satu bulan (Samsuar 2011).
Dustfall merupakan salah satu macam dari banyak bentuk partikel. Sebagian
partikel, dikenal sebagai partikel primer yang dipancarkan secara langsung dari
sumbernya, seperti lokasi konstruksi, jalan beraspal, cerobong asap, kebakaran dan
lain-lain. Bentuk lainnya berasal dari reaksi bahan kimia yang kompleks di atmosfer
seperti oksida belerang dan oksida nitrogen yang dipancarkan dari pembangkit
listrik, industri dan mobil (Samsuar 2011). Menurut Sastrawijaya dan Tresna (2000)
dalam Samsuar (2011), sumber utama partikel adalah cerobong asap dan gas buang
kendaraan bermotor. Partikel-partikel ini tinggal di udara dalam beberapa hari.
Partikel yang kecil dapat bertahan selama berminggu- minggu di udara. Sedangkan
partikel yang besar segera jatuh dekat dengan sumbernya
Penelitian dustfall dilakukan selama 7 hari dengan mengabaikan faktor
pengganggu seperti kotoran serangga, alga, jamur, dan dedaunan yang tidak
termasuk dalam kategori partikel terukur. Data hasil penelitian dustfall selama 22
hari disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Data hasil penelitian dustfall selama 7 hari


Data hasil pengukuran Nilai
Diameter atas bejana,d (m) 0,1140
Berat filter awal (gram) 0,1408
berat filter akhir (gram) 0,1535
Berat Dustfall, w (gram) 0,0127
Luas pemukaan bajana, A (m2) 0,0102
Jumlah dustfall selama 7 hari, C (ton/km2/bulan) 5,3212

Berdasarkan hasil yang terdapat dalam Tabel 1 dapat ditunjukkan bahwa berat
filter akhir memiliki nilai yang lebih besar dari berat filter awal. Selisih antara berat
filter akhir dengan berat filter awal menunjukkan berat dustfall yang diperoleh,
yaitu sebesar 0.0127 gram. Berat dustfall, luas permukaan dustfall canister, dan
lama hari akan mempengaruhi jumlah konsentrasi dustfall yang dihasilkan.

4
Besarnya konsentrasi dustfall yang dihasilkan dalam pengukuran selama 7 hari
yaitu sebesar 5,3212 ton/km2/bulan. Jumlah konsentrasi dustfall tersebut apabila
dibandingkan dengan baku mutu yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah No.
41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara maka dapat
dikategorikan aman. Hal ini dikarenakan konsentrasi dustfall yang dihasilkan
selama 7 hari masih berada di bawah batas ambang maksimum yang
diperbolehkan, yaitu sebesar 10 ton/km2/bulan.
Dustfall yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan
manusia. Dampak paparan dustfall terhadap manusia yaitu dapat menimbulkan
berbagai macam penyakit saluran pernafasan atau pneumokoniosis.
Pneumokoniosis adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh adanya
partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam paru-paru. Penyakit
pneumokinosis terdiri dari berbagai jenis, tergantung dari jenis partikel (debu) yang
masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Jenis penyakit pneumokinosis yang banyak
dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi yaitu
silikosis, basinosis, asbestosis, antrakosis, dan beriliosis (BPLHD Jabar 2007).
Pengaruh partikulat terhadap tanaman terutama adalah dalam bentuk debunya,
dimana debu tersebut jika bergabung dengan uap air atau air hujan gerimis akan
membentuk kerak yang tebal pada permukaan daun, dan tidak dapat tercuci dengan
air hujan kecuali dengan menggosoknya. Lapisan kerak tersebut mengganggu
proses fotosintesis pada tanaman karena menghambat masuknya sinar matahari dan
mencegah pertukaran CO2 dengan atmosfer. Akibatnya petumbuhan tanaman
menjadi terganggu. Bahaya lain yang ditimbulkan dari pengumpulan partikulat
pada tanaman adalah kemungkinan bahwa partikulat tersebut mengandung
komponen kimia yang berbahaya bagi hewan yang memakan tanaman tersebut
(Wieringa et al. 1997).
Penanggulangan pencemaran debu dapat dilakukan dengan memakai peralatan
pengendali debu, seperti bag filter, electrostatic precipitator (ESP), cyclone, dan
scrubber (Prayudi dan Susanto 2001). Electrostatic precipitator (ESP) dapat
mengurangi tingkat polusi debu hingga 99% tetapi memerlukan catu daya yang
besar. Prinsip kerja cyclone adalah debu yang terdapat dalam aliran gas berputar
menuruti body cyclone. Dalam perputaran tersebut debu akan collapse dan jatuh
sehingga gas yang keluar akan menjadi bersih. Bag filter akan menyaring debu
dengan diameter tertentu berdasarkan ukuran lubang mesh yang dipasang. Scrubber
bekerja dengan memanfaatkan semburan air dan NaOH.

SIMPULAN
Pengukuran dustfall dapat dilakukan dengan metode gravimetri. Jumlah
konsentrasi dustfall tertinggi dari hasil pengukuran selama 7 hari yaitu sebesar
5,3212 ton/km2/bulan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara maka konsentrasi dustfall di Lantai 3
Gedung Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan masih dapat dikategorikan
aman, dikarenakan berada di bawah batas ambang maksimum yang diperbolehkan
yaitu sebesar 10 ton/ km2/bulan. Dustfall yang mencemari udara dapat member
dampak negatif terhadap lingkungan, tanaman, hewan dan manusia.
Penanggulangan pencemaran dustfall dapat dilakukan dengan memakai peralatan
pengendali debu, seperti bag filter, electrostatic precipitator (ESP), cyclone, dan
scrubber.

5
Saran
Penelitian ini akan memberikan hasil yang lebih akurat apabila persiapan untuk
pengukuran dustfall di luar ruangan lebih ditingkatkan. Pemilihan lokasi untuk
pengukuran dustfall sudah baik. Saat menimbang filter, harus hati-hati agar tidak
robek sehingga debut jatuh tidak lolos di filter tersebut. Setelah pengukuran 7 hari,
dilakukan dengan menggunakan sumpit saat mengangkat filter + partikulat, tidak
terkena debu secara langsung agar kesehatan tidak terganggu,

DAFTAR PUSTAKA
[BPLHD Jabar] Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat. 2007.
Pengembangan Sistem Pemantauan Udara Passive Sampler, Kegiatan
Pengendalian Pencemaran Udara di Jawa Barat. Jawa Barat (ID): BPLHD
Jabar.
Aisyiyah, Kurniasari. 2014. Permodelan konsentrasi partikel debu (PM10) pada
pencemaran udara di kota Surabaya dengan metode Geographically-
Temporally Weighted Regression. J Sains dan Senni Pomits. 2(1): 152-157.
Prayudi T, Susanto JP. 2001. Kualitas debu dalam udara sebagai dampak industri
pengecoran logam ceper. J Teknol Lingkungan. 2(2): 168-174.
Sami M, Amir W, Sher A. 2006. Quantitative estimation of dustfall and smoke
particles in Quetta Valley. Journal of Zhejiang University Science B. 7(7):
542-547.
Samsuar. 2011. Rancang Bangun dan Uji Kinerja Alat Ukur Debu Jatuh (Dustfall)
[tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Sarudji, Didik. 2010. Kesehatan Lingkungan. Bandung (ID): Karya Putra Darwati.
Sastrawijaya, Tresna A. 2000. Pencemaran Lingkungan. Jakarta (ID): Rineka
Cipta.
Wardhana, Wisnu A. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta (ID):
Andi Offset.
Wieringa MH, Weyler JJ, Bastelaer VFJ, Nelen VJ, Sprundel VMP, Vermeire PA.
1997. Higher asthma occurance in an urban than a suburban area: role of
house dust mite skin allergy. Eur Resipiration Journal. 10: 1460-1466. Doi:
10.1183/09031936.97.1007146.

6
LAMPIRAN
Lampiran 1 Proses Oven Dustfall Canister

Gambar 3 Proses oven

Anda mungkin juga menyukai