Bekisting ini dibuat dari kayu dan triplek (plywood) atau papan yang tahan akan kelembaban.
Sangat
mudah untuk diproduksi tetapi memakan waktu untuk struktur yang lebih besar, dan triplek yang
digunakan memiliki umur yang relatif singkat. Hal ini masih digunakan secara luas di mana biaya tenaga
kerja lebih rendah daripada biaya untuk pengadaan bekisting yang dapat digunakan kembali (reusable).
Ini juga merupakan jenis bekisting yang paling fleksibel, karena dapat diterapkan pada bentuk konstruksi
yang rumit.. Penggunaan kayu ini biasanya terbagi dalam sistem peyangga/perancah (biasanya
menggunakan kayu gelam, bambu, atau sejenis kayu bulat dan persegi), rehel, penyangga volume balok,
klem . Bekisting beton konvensional ini biasa digunakan untuk proyek rumah tinggal dan ruko atau
bangunan tipe [Link] bekisting tradisional ini pada umumnya hanya dipakai untuk satu kali
pekerjaan, namun jika material kayu masih memungkinan untuk dipakai maka dapat digunakan kembali
untuk bekisting pada elemen struktur yang lain
Kekurangan bekisting konvensional adalah:
· Material kayu tidak awet untuk dipakai berulang-ulang kali
· Waktu untuk pasang dan bongkar bekisting menjadi lebih lama
· Banyak menghasilkan sampah kayu dan paku, sehingga lokasi menjadi kotor
· Bentuknya tidak presisi.