LAPORAN KASUS PORTOFOLIO
DOKTER INTERNSHIP
Hernia Inguinalis Lateralis
Disusun Oleh :
Nama : dr. Sri Agnes Eka Novria Sihombing
Wahana : RSUD Sumbawa Besar
Periode : Februari 2019-Februari 2020
Dokter Pembimbing :
dr. G. Iwan Bomba, Sp.B
dr. Koernia Kartika Utama, Sp.B
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SUMBAWA BESAR
KABUPATEN SUMBAWA
2019
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO
Pada hari ini tanggal 12 Oktober 20196di Wahana RSUD Sumbawa Besar telah dipresentasikan
portofolio oleh :
Nama : dr. Sri Agnes Eka Novria Sihombing
Kasus : Hernia Inguinalis Lateralis
Topik : Ilmu Bedah
Nama Pendamping : dr. Putu Purnama
Nama Pembimbing : dr. G. Iwan Bomba, Sp.B
dr. Koernia Kartika Utama, Sp.B
Nama Wahana : RSUD Sumbawa Besar
No Nama Peserta Tanda tangan
1 1.
2 2.
3 3.
4 4.
5 5.
6 6.
7 7.
8 8.
9 9.
10 10.
Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.
Mengetahui,
Dokter Internship Dokter Pembimbing Dokter Pembimbing Dokter Pendamping
dr. Sri Agnes E.N.S dr. G. Iwan Bomba Sp.B dr. Koernia K.U Sp.B dr. Putu Purnama
Nama Peserta : dr. Sri Agnes Eka Novria Sihombing
Nama Wahana : RSUD Sumbawa Besar
Topik : Ilmu Bedah
Tanggal (kasus) : 28 September 2019
Nama Pasien : Tn. A (Laki-laki) No. RM : 140182
Tanggal Presentasi : 12 Oktober 2019 Nama Pendamping :
dr. Putu Purnama
Tempat Presentasi : RSUD Sumbawa Besar
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
v
Diagnostik Manajemen Masalah b Istimewa
v
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
V
Deskripsi :
Tn. A, 57 tahun datang ke Poliklinik Bedah dengan keluhan benjolan di lipatan paha
sebelah kanan dialami sejak 3 bulan ini. Benjolan keluar masuk, keluar bila mengangkat
benda berat dan jika istirahat benjolan dapat masuk kembali, nyeri (-). Nyeri perut (-), mual
(-), BAK (+) dalam batas normal, lancar, tidak ada hambatan. BAB (+) dalam batas normal
Tujuan :
Untuk menegakkan diagnosis
Manajemen penatalaksanaan
Bahan bahasan Tinjauan pustaka Riset Kasus Audit
Cara membahas Diskusi Presentasi & diskusi Email Pos
Data Pasien: Nama: Tn. H Nomor Registrasi: 129485
Nama RS: RSUD Sumbawa Besar Terdaftar sejak :28 Maret 2019
Data utama untuk bahan diskusi
1. Diagnosis/Gambaran Klinis
Tn. A, 57 tahun datang ke Poliklinik Bedah dengan keluhan benjolan di lipatan paha
sebelah kanan dialami sejak 3 bulan ini. Benjolan keluar masuk, keluar bila
mengangkat benda berat dan jika istirahat benjolan dapat masuk kembali, nyeri (-).
Nyeri perut (-), mual (-), BAK (+) dalam batas normal, lancar, tidak ada hambatan.
BAB (+) dalam batas normal
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat sakit seperti ini sebelumnya disangkal
Riwayat penyakit prostat disangkal
Riwayat batuk lama disangkal
3. Riwayat Keluarga
Riwayat sakit dengan keluhan yang sama disangkal
4. Riwayat pekerjaan dan pendidikan
Pasien bekerja sebagai petani
5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum: sakit sedang
b. Kesadaran: compos mentis
c. Tanda vital:
Tekanan darah: 130/90 mmHg
Nadi: 92 x/menit
Respirasi: 22 x/menit
Suhu : 370C
d. Kepala: Normocephali
e. Mata: Konjungtiva palpebra anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
f. Leher: Tidak ada pembesaran KGB
g. Thoraks: simetris, retraksi (-)
h. Paru: Suara dasar vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
i. Jantung: Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)
j. Abdomen: Soepel, bising usus (+) dalam batas normal, NT (-), distensi (-),
benjolan (+) di daerah inguinal dextra
k. Ekstremitas: akral hangat, capillary refill <2”
Edema (-/-/-/-)
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium :
Darah rutin :
Leukosit : 8.000 (N: 4000-11.300)
Eritrosit : 5,4x106 (N: 4,5-5,9x106)
Hemoglobin : 15,0 (N: 14-17)
Hematokrit : 46,7 (N: 40-52)
MCV : 87 (N: 79-99)
MCH : 28 (N: 33-37)
MCHC : 32 (N: 33-37)
Trombosit : 254.000 (N: 150.000-440.000)
Urin rutin :
pH : 7,0 (N: 4,8-7,4)
BJ : 1,005 (N: 1,016-1,022)
Protein : - (N: negatif)
Reduksi : - (N: negatif)
Bilirubin : - (N: negatif)
Keton : - (N: negatif)
Nitrit : - (N: negatif)
Urobilinogen : - (N: negatif)
Leukosit : - (N: negatif)
Eritrosit : - (N: negarif)
Sedimen urin
Leukosit : 0-5 (N: 3-4/LP)
Eritrosit : 0-5 (N: 1-2/LP)
Epitel : 0-5 (N: 0-5/LP)
Silinder : - (N: 0-5/LP)
Kristal : - (N: negatif)
b. EKG : NSR
c. Radiologi :
Foto Thorax: Tidak tampak kelainan
7. Follow up
Tanggal Follow up Terapi
16-10- S:
2019 O : KU : lemah
TD : 120/90 mmHg
HR : 92x/menit
RR : 32x/menit
T : 37,40C
A:
30-3-2019 S:
O : KU : sedang
TD : 80/50
HR : 84x/menit
RR : 24x/menit
T : 360C
A:
31-3-2019 S:
O : KU : baik
TD : 90/60 mmHg
HR : 91x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,40C
A:
1/4/2019 S:
O : KU : baik
TD : 80/60 mmHg
HR : 76x/menit
RR : 20x/menit
T : 360C
A:
2/4/2019 S : perut besar, bengkak tungkai
O : KU : baik
TD : 90/50 mmHg
HR : 79x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,20C
A:
3/4/2019 S:
O : KU : baik
TD : 80/50 mmHg
HR : 79x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,20C
A:
4/4/2019 S:
O : KU : baik
TD : 90/50 mmHg
HR : 84x/menit
RR : 20x/menit
T : 36,20C
A:
Daftar Pustaka:
1.
Hasil Pembelajaran :
a. Anatomi
b. Definisi
c. Komponen Hernia
d. Etiologi
e. Klasifikasi
f. Pathogenesis
g. Gambaran Klinis
h. Diagnosis
i. Penatalaksanaan
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio :
1. Subyektif
Tn. A, 57 tahun datang ke Poliklinik Bedah dengan keluhan benjolan di lipatan paha sebelah
kanan dialami sejak 3 bulan ini. Benjolan keluar masuk, keluar bila mengangkat benda berat
dan jika istirahat benjolan dapat masuk kembali, nyeri (-). Nyeri perut (-), mual (-), BAK (+)
dalam batas normal, lancar, tidak ada hambatan. BAB (+) dalam batas normal
2. Obyektif
Pemeriksaan fisik didapatkan :
keadaan umum : sakit sedang
Tekanan darah: 120/90 mmHg Respirasi: 32x/menit
Nadi: 92 x/menit Suhu : 37,40C
Dari pemeriksaan fisik ditemukan
3. Assessment
ANATOMI REGIO INGUINAL
Gambar1 : Regio Inguinalis
1. Aponeurosis muskulus obliqus eksternus (MOE)
Merupakan otot ileo inguinal yang paling superficial, yang dimulai dari costa ke-8 bagian lateral
berjalan kearah medio caudal. Fascia superfiacialis dan fascia profundus dari otot ini menjadi
satu setelah mencapai dinding depan abdomen dan membentuk suatu Aponeurosis MOE,
dibagian medial dekat tuberkulum pubicum, Aponeurosis ini pecahmenjadi 2 bagian, yaitu: crus
superior dan crus inferior.3
2. Muskulus Obliqus Abdomis Internus (MOI)
Lapisan otot dibawah MOE, arah sedikit oblique, berjalan dari pertengahan lateral ligament
inguinalis menuju ke cranio medial sampai pada tepi lateral muskulus Rectus Abdominis.3
3. Ligamantum Inguinale (Poupart)
Merupakan penebalan bagian bawah aponeurosis muskulus obliqus [Link] mulai dari
sias sampai ke ramus superior tulang publis.3
4. Ligamentum lakunare (Gimbernat)
Merupakan paling bawah dari ligamentum inguinale dan dibentuk dari serabut tendon obliqus
eksternus yang berasal dari daerah [Link] ini membentuk sudut kurang dari 45 derajat
sebelum melekat pada ligamentum pektineal. Ligamentum ini membentuk pinggir medial kanalis
femoralis.
5. Fasia transversalis
Tipis dan melekat erat serta menutupi muskulus transversus abdominis.
6. Segitiga Hasselbach
Hasselbach tahun (1814) mengemukakan dasar dari segi tiga yang dibentuk oleh pekten pubis
dan ligamentum pektinea. Segitiga ini dibatasi oleh .
Supero-lateral : Pembuluh darah epigastrika inferior
Medial : Bagian lateral rektus abdominis.
Inferior : Ligamentum ingunale.
Gambar 2. Segitiga Hasselbach
7. Kanalis Inguinalis
Kanalis inguinalis adalah saluran yang berjalan oblik (miring) dengan panjang ± 4 cm
dan terletak di atas ligamentum inguinale. Dinding yang membatasi kanalis inguinalis adalah
- Anterior : Dibatasi oleh aponeurosis muskulus obliqus abdominis eksternus dan 1/3 lateralnya
muskulus obliqus internus.
- Posterior: Dibentuk oleh aponeurosis muskulus transversus abdominis yang bersatu dengan
fasia transversalis dan membentuk dinding posterior dibagian lateral. Bagian medial dibentuk
oleh fasia transversa dan konjoin tendon.
- Superior: Dibentuk oleh serabut tepi bawah muskulus obliqus internus dan muskulus
transversus abdominis dan aponeurosis.
- Inferior : Dibentuk oleh ligamentum inguinale dan lakunare.
Isi kanalis inguinalis pria :
a. Vas deferens
b. 3 arteri yaitu :
1. Arteri spermatika interna
2. Arteri diferential
[Link] spermatika eksterna
c. Plexus vena pampiniformis
d. 3 nervus yaitu :
1. Cabang genital dari nervus genitofemoral
2. Nervus ilioinguinalis
3. Serabut simpatis dari plexus hipogastrik
e. 3 lapisan fasia:
1. Fasia spermatika eksterna, lanjutan dari fasia innominate.
2. Lapisan kremaster, berlanjut dengan serabut-serabut muskulus obliqus abdominis
internus.
3. Fasia spermatika interna, perluasan dari fasia transversal.
8. Annulus internus:
Dibentuk oleh ligamentum inguinalis, conjoin tendon ( tepi bawah muskulus obliqus
abdominis internus, dan muskulus transverses abdominus), dan vasa epigastrika inferior.
Annulus ini merupakan tempat keluarnya funikulus spermatikus dari cavum abdomen ke kanalis
inguinalis. Terletak diantara SIAS dan Tuberkulum pubicum (± 1- 1,5cm diatas ligamentum
inguinale).
9. Annulus eksternus:
Terdiri dari crus lateral dan crus medial (merupakan pelekatan aponeurosis MOE pada
tuberkulum pubicum). Annulus ini merupakan keluarnya [Link] dan funikulus
spermatikus ke scrotum (pada wanita berupa round ligament).
10. Kanalis Femoralis
Kanalis femoralis merupakan lubang berbentuk oval dengan diameter kurang dari 4 cm, dan pada
wanita mempunyai diameter lebih lebar dibang dengan laki-laki. Pada sisi medial femoral sheath
dan vena femoralis yang mengandung limfonodus dan lemak. Di sekelilingnya terdapat beberapa
bagian rigid yaitu pada sisi anterior terdapat ligamentum inguinale, sisi media terdapat lacuna
dari ligamentum inguinale, dan pada sisi posteriornya terdapat bagian pectineus dari ligamentum
inguinale. Cincin yang sempit ini beresiko tinggi untuk mengalami inkarserasi (terjepitnya usus).
Kanalis femoralis terletak medial dari vena femoralis didalam lakuna vaserum dorsal dari
ligamentum inguinalis, tempat vena saphena magna bermuara didalam vena [Link]
ini sempit dan dibatasi oleh pinggir keras dan [Link] kranio ventral dibentuk oleh
ligamentum inguinalis, kaudodorsal oleh pinggir os pubis yang terdiri dari ligamentum ilio
pectineale (ligamentum cooper), sebelah lateral oleh (sarung) vena femoralis, dan disebelah
medial oleh ligamentum lakunare gimbernati. Hernia femoralis keluar melalui lakuna vasorum
kaudal dari ligamentum inguinale. Keadaan anatomi ini sering mengakibatkan inkarserasi hernia
femoralis.
DEFINISI HERNIA
Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang abnormal
ataukelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga dimana ia terisi secara normal.4
Hernia inguinalis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus/lateralis
menelusurikanalis inguinalis dan keluar rongga abdomen melalui anulus inguinalis
externa/medialis.
KOMPONEN HERNIA
3 komponen yang selalu ada pada hernia adalah:
1. Kantong hernia (Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia
memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia intertitialis)
2. Isi hernia (usus,omentum, organ intra ataupun ekstraperitoneal).
3. Pintu atau leher hernia (cincin hernia, lokus minoris dinding abdomen)
ETIOLOGI
Penyebab hernia inguinalis adalah :
a. Kelemahan otot dinding abdomen.
1. Kelemahan jaringan
2. Adanya daerah yang luas diligamen inguinal
3. Trauma
b. Peningkatan tekanan intra abdominal
1. Obesitas
2. Mengangkat benda berat
3. Mengejan à Konstipasi
4. Kehamilan
5. Batuk kronik
6. Hipertropi prostate
KLASIFIKASI
Berdasarkan arah penonjolannya hernia dibagi menjadi:
I. Hernia Eksterna ( tampak dari luar ).
Hernia eksterna adalah hernia yang menonjol keluar melalui dinding perut, pinggang,
atau perineum.
a. Hernia Inguinalis Lateralis.
b. Hernia Inguinalis Medialis.
c. Hernia Femoralis.
d. Hernia umbilikalis
II Hernia Interna ( tidak tampak dari luar).
Hernia interna adalah tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lubang dalam
rongga perut, seperti foramen Winslow, resesus retrosekalis atau defek dapatan pada
mesenterium umpamanya setelah operasi anastomosis usus.
a. Hernia Obturatoria c. Hernia Foramen Winslowi
b. Hernia diafragmatika d. Hernia Ligament Treit
Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas :
1. Hernia bawaan (congenital) :
Timbulnya sejak bayi lahir atau pada anak-anak, umumnya didapatkan pada hernia
inguinalis lateralis, yang disebabkan karena tidak menutupnya prosesus vaginalis setelah
proses penurunan testis ke skrotum baik sebagian atau seluruhnya.
2. Hernia didapat (acquired)
Timbul hernia setelah dewasa dan lanjut usia. Hal ini disebabkan adanya tekanan intra
abdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama, misalnya pada batuk kronis,
gangguan proses kencing (BPH), konstipasi kronis, asites dan sebagainya. Insiden ini
semakin meningkat dengan bertambahnya usia karena otot-otot dinding perut yang sudah
lemah, manifestasi klinis umumnya adalah hernia inguinalis medialis.
Menurut sifatnya, hernia dibagi atas :
1. Hernia reponibel
Isi hernia dapat keluar [Link] keluar ketika berdiri atau mengedan, dan masuk lagi
ketika berbaring atau bila didorong masuk ke [Link] hernia masih reponibel, tidak
ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
2. Hernia Irreponibel
Isi kantong tidak dapat kembali ke perut, biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong
kepada peritoneumkantong hernia. Hernia ini disebut juga hernia akreta (perlekatan
karena fibrosis).
Berdasarkan ada tidaknya nyeri, hernia irreponibel dibagi atas :
a. Hernia inkarserata atau hernia strangulata
Bila isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak
dapat kembali ke rongga [Link], terjadi gangguan
b. Hernia strangulata
Disertai gangguan [Link] strangulasi hanya menjepit sebagian dinding
usus, hernianya disebut hernia Richter
PATOFISOLOGI
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti
tekananpada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang
kuatatau bersin dan perpindahan bagian usus kedaerah otot abdominal, tekanan yang
berlebihanpada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan
mungkindisebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut
dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup
lama,pembedahan abdominal dan kegemukan.
Pertama-tama terjadi kerusakan yang sangat kecilpada dinding abdominal, kemudian
terjadi [Link] organ-organ selalu selalu sajamelakukan pekerjaan yang berat dan
berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan dan mengakibatkan
kerusakan yang sangat [Link] akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam
perut menjadi atau mengalami kelemahan jikasuplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat
menyebabkan ganggren.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena kongenital atau karena sebab yang [Link]
hernia meningkat dengan bertambahnya umur karena meningkatnya penyakit yang meninggikan
tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang [Link] relaksasi
otot dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur.
Pada keadaan ini tekanan intra abdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis berjalan
[Link] otot dinding perut berkontraksi kanalis inguinalis berjalan lebih transversal
dananulus inguinalis tertutup sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis
inguinalis. Pada orang dewasa kanalis tersebut sudah tertutup, tetapi karena kelemahan daerah
tersebut maka akan sering menimbulkan hernia yang disebabkan keadaan peningkatan tekanan
intra abdomen.
DIAGNOSA
1. Anamnesa
- Benjolan dilipatan paha atau perut bagian bawah pada scrotum atau labium mayor pada
wanita. Pada bayi dan anak-anak, adanya benjolan yang hilang timbul di pelipatan paha
biasanya diketahui oleh orang tuanya. Benjolan timbul pada waktu terjadi peningkatan
tekanan intra abdominal, misalnya mengejan, menangis, batuk, atau mengangkat beban
berat. Benjolan akan menghilang atau mengecil ketika penderita berbaring (reponibel),
tidak dapat kembali atau tidak menghilang ketika berbaring (irreponibel)
- Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau
paraumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu segmen
usus halus masuk kedalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah baru
timbul kalau terjadi inkarserata karena illeus (dengan gambaran obstruksi usus dan
gangguan keseimbangan cairan elektrolit dan asam basa), atau strangulasi karena
nekrosis atau gangrene (akibat adanya gangguan vaskularisasi)
Faktor-faktor predisposisi, antara lain:
- Pekerjaan : mengangkat-angkat beban berat, atlet angkat besi, tentara, kuli bangunan
- Penyakit ataupun gangguan kronis : BPH, stricture urethra, batuk kronis
- Faktor usia : semakin tua, otot-otot dinding abdomen semakin lemah
2. Pemeriksaan Fisik (Posisi penderita berdiri dan berbaring)
INSPEKSI
Tampak benjolan dilipatan paha simetris atau asimetris pada posisi berdiri. Apabila tidak
didapatkan benjolan, penderita kita minta untuk melakukan manuver valsava.
Benjolan berbentuk lonjong (HIL) atau bulat (HIM)
Tanda-tanda radang ada atau tidak, pada hernia inguinalis biasanya tanda radang (-).
PALPASI
Dilakukan dalam keadaan ada benjolan hernia, bila tidak tampak benjolan penderita
diminta mengejan atau melakukan manuver valsava.
Tentukan konsistensinya
Lakukan reposisi: apakah benjolan dapat direposisi atau tidak
Untuk membedakan antara hernia inguinalis lateralis dan medialis dapat dilakukan
beberapa macam test (provokasi test)
AUSKULTASI
Ditemukan suara bising usus (diatas benjolan)
3. Pemeriksaan Khusus
ZIEMAN’S TEST
Penderita dalam keadaan berdiri [Link] kantong hernia terisi, kita masukkan dulu
kedalam kavum [Link] memeriksa bagian kanan digunakan tangan kanan dan
sebaliknya. Test ini dapat dikerjakan pada penderita laki-laki ataupun perempuan. Dengan jari
kedua tangan pemeriksa diletakkan diatas annulus inguinalis internus ( ± 1,5 cm diatas
pertengahan SIAS dan tuberkulum pubikum), jari ketiga diletakkan pada annulus inguinalis
ekternus dan jari keempat pada fossa ovalis. Penderita disuruh mengejan maka timbul dorongan
pada salah satu jari tersebut [Link] dorongan pada jari kedua berarti hernia inguinalis
lateralis, bila pada jari ketiga berarti hernia inguinalis medialis dan bila pada jari keempat berarti
hernia femoralis.
Gambar 3. Zieman’s Test
FINGER TEST
Test ini hanya dilakukan pada penderita laki-laki. Dengan menggunakan jari telunjuk
atau kelingking skrotum diinvaginasikan menyelusuri annulus eksternus sampai dapat mencapai
kanalis inguinalis kemudian penderita disuruh batuk, bilamana ada dorongan atau tekanan timbul
pada ujung jari maka didapatkan hernia inguinalis lateralis, bila pada samping jari maka
didapatkan suatu hernia inguinalis medialis.
Gambar 4. Finger Test
THUMB TEST
Penderita dalam posisi tidur telentang atau pada posisi berdiri. Setelah benjolan
dimasukkan kedalam rongga perut, ibu jari kita tekankan pada annulus [Link]
disuruh mengejan atau meniup dengan hidung atau mulut tertutup atau [Link] benjolan
keluar waktu mengejan berarti hernia inguinalis medialis dan bila tidak keluar berarti hernia
inguinalis lateralis.
Gambar 5. Thumb Test
4. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mencari kemungkinan adanya tekanan intra peritoneal meningkat, sebagai
penyebab timbulnya hernia.
Rectum toucher : BPH, Stenosis Anal, Tumor Recti
Thorax foto : Batuk kronis, asma, tumor paru
USG Abdomen : Asites, tumor abdomen
Genitalia Eksterna : Striktura urethra, phymosis
3.7 DIAGNOSA BANDING
Hidrokel testis
Limfadenopati
Abses inguinal
Varikokel
Hematom karena trauma
Lipoma
Tumor testis
Untuk membedakannya perlu diketahui bahwa munculnya hernia erat hubungannya
dengan aktifitas seperti mengejan , batuk dan gerak lain yang disertai dengan peningkatan
tekanan intra abdomen, sedangkan penyakit lain tidak berhubungan dengan aktifitas demikian.
PENATALAKSANAAN
1. NON OPERATIF, pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian bantalan penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah
direposisi (pemakaian sabuk TRUSS). Indikasinya adalah :
Bila menolak operasi
Disertai penyakit berat yang dapat meningkatkan tekanan intraabdominal (ascites, cirrhosis
hepatic, tumor paru)
Hernia Inguinalis Medialis ukuran kecil dan belum mengganggu (atasi dulu factor
penyebabnya)4
2. OPERATIF,
Pada Hernia inguinalis:
Hernia inguinalis dengan komplikasi inkarserata ataupun stangulata.
Hernia inguinalis lateralis pada anak maupun dewasa (reponibilis atau irreponibilis)
Hernia inguinalis medialis yang cukup besar dan mengganggu.
MACAM OPERASI
1. Herniotomy: dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka,
dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi. Kantong hernia
dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
2. Herniorrhapy: herniotomy disertai tindakan bedah untuk memperkuat dinding perut
bagian bawah di belakang kanalis inguinalis (hernioplasty). Hernioplasti lebih penting
dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan tindakan herniotomy
Untuk tindakan bedah ini (hernioplasty) ada 2 macam:
Bassini : Menjahit conjoint tendon dengan ligament inguinale Pouparti untuk
memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Funiculus spermaticus tetap
berada di kanalis inguinalis.
Lotheissen- Mc Vay : Menjahitkan fasia transversa, otot transversus abdominis,
dan otot oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper.
Gambar 6. Operasi Bassini
Kelemahan Teknik herniotomy Bassini adalah terdapatnya regangan berlebihan pada
otot-otot yang dijahit, maka pada saat ini digunakan teknik hernioplasti menggunakan Mesh
prostesis untuk memperkuat fasia transversalis yang membentuk dasar kanalis inguinalis tanpa
menjahitkan otot-otot ke ligamentum inguinale.
Gambar 7. Prolene Mesh
KOMPLIKASI POST OPERASI
1. Hematoma (pada luka atau pada skrotum)
2. Infeksi pada luka operasi
3. Nyeri kronis
4. Nyeri dan pembengkakan testis yang menyebabkan atrofi testis
5. Rekurensi / residif
PROGNOSIS
Prognosa tergantung pada keadaan umum penderita serta ketepatan [Link]
pada umumnya ‘baik’ karena kekambuhan setelah operasi jarang terjadi, kecuali pada hernia
berulang atau hernia yang besar yang memerlukan penggunaan materi [Link] penyakit
hernia ini yang penting adalah mencegah faktor predisposisinya.6
4. Plan
Diagnosis : berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pasien ini
didiagnosis
Pengobatan : IVFD
Pendidikan : diberikan pemahaman pada pasien dan keluarganya bahwa penyakit ini perlu
ditangani secara menyeluruh oleh dokter ahli.
Konsultasi : perlunya konsultasi dengan spesialis penyakit dalam untuk upaya penanganan
kuratif.