Peran Fintech dalam Daya Saing Keuangan
Peran Fintech dalam Daya Saing Keuangan
Kom
FINTECH PICU E ra digital telah menyergap semua lini
kehidupan, baik interaksi sosial maupun
bisnis. Berbagai inovasi selalu berkaitan
dengan digital melalui berbagai
pengembangan Teknologi Informasi (TI).
Tak terkecuali ranah regulasi pun
Tanggal 5 Oktober 2017 bisa dikatakan menjadi hari yang bersejarah bagi pasar modal Tanah Air.
Pasalnya, pada tanggal tersebut untuk pertama kalinya sebuah perusahaan rintisan alias start up yakni
PT Kioson Komersial Indonesia Tbk. mencatatkan saham perdananya di lantai bursa Tanah Air.
IDX Incubator
Dalam rangka mendorong IPO
perusahaan rintisan ini, BEI telah
membentuk Inkubator start up dan
UKM yang efektif berjalan pada Maret
2017.
Menurut Direktur Utama BEI
Tito Sulistio, inkubator tersebut
merupakan fasilitas yang dibuat “Jadi persepsi pasar modal berbeda perusahaan rintisan diperkirakan
oleh otoritas pasar modal untuk dengan lembaga jasa keuangan seperti bakal semarak ke depannya.
memberikan pembekalan tentang bank. Kalau LJK langsung terkait laba Sejumlah perusahaan sekuritas pun
aspek hukum, penyusunan laporan rugi saat itu, sedangkan bursa terkait mengaku tengah menyiapkan
keuangan, hingga memperkenalkan dengan prospek, proyeksi ke depan. Jadi perusahaan rintisan untuk IPO pada
perusahaan rintisan kepada venture meski mereka masih merugi, 2018.
capital atau angle investor. perusahaan bisa mencatatkan sahamnya Salah satunya PT Kresna Sekuritas.
“Bursa sangat ingin mereka IPO. di bursa,” jelasnya di sela-sela Seminar Direktur Utama Kresna Sekuritas
Kalau mereka tidak IPO, mereka tidak Nasional Pasar Modal di Universitas Octavianus Budiyanto mengaku
efisien, tapi kalau tidak mau tidak apa- Negeri Malang, Sabtu (14/10). tengah menyiapkan IPO dua
apa. Yang penting perusahaannya maju, Terlebih, OJK juga memberikan perusahaan rintisan digital. “Asetnya
idenya terlaksana, menciptakan fasilitas berupa regulasi yang kurang lebih sama dengan MCAS,”
lapangan kerja, bayar pajak dengan mempermudah syarat perusahaan katanya, Rabu (1/11).
benar,” katanya awal tahun ini. kecil untuk IPO. Kini, dengan modal Direktur Penilaian BEI Samsul
Pada Agustus 2017, BEI Rp5 miliar, perusahaan rintisan bisa Hidayat mengungkapkan, ada dua
menggandeng HHP Law Firm untuk IPO. Syarat laporan akuntansi pun perusahaan start up didikan IDX
meningkatkan kualitas inkubator agar juga tak lagi seketat perusahaan yang Incubator yang berpotensi menggelar
para pebisnis pemula yang tergabung sudah besar. IPO saham pada tahun depan.
dalam IDX Incubator memiliki Pada Juli 2017, OJK juga telah Menurutnya, kedua perusahaan
pengetahuan dan mampu mengelola merilis POJK Nomor 53 Tahun 2017 tersebut bergerak di sektor financial
perusahaan dari sisi aspek hukum. yang mengatur tentang listing dan technology alias fintech. Saat ini, ada
Kerja sama tersebut diharapkan rights issue perusahaan dengan aset sekitar 20 perusahaan start up yang
dapat melahirkan generasi wirausaha skala kecil dan menengah. sedang menjalani penggemblengan di
berbasis digital dengan fondasi bisnis Saat ini, Dewan Standar IDX Incubator.
dan legal yang kuat sebagai modal di Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Kendati memiliki prospek yang
kemudian hari. Indonesia (DSAK IAI) tengah menarik, Analis PT Koneksi Kapital
Direktur Pengembangan BEI menyusun Pernyataan Standar Alfred Nainggolan mengingatkan
Hosea Nicky Hogan berharap Akuntansi Keuangan atau PSAK yang investor untuk tetap cermat dalam
perusahaan rintisan yang IPO mengakomodir kapitalisasi bisnis berinvestasi pada perusahaan start
semakin banyak. Menurutnya, start up. Penyusunan PSAK tersebut up. Menurutnya, setidaknya ada tiga
melalui IPO, perusahaan start up bisa diharapkan rampung sebelum akhir poin yang harus dicermati yakni
mendapatkan alternatif pembiayaan tahun ini. fundamental (kinerja keuangan
selain dari perbankan atau lembaga Dengan dukungan dari otoritas perusahaan), prospek usaha (prospek
keuangan lainnya. pasar modal dan kisah sukses IPO bisnis di masa depan), dan
dua perusahaan rintisan, tren IPO keberlanjutan (kestabilan perusahaan
menjaga kinerja yang positif). ⚫
atau menyesatkan sehingga
mempengaruhi harga efek di BEI.
Ini Dia Ketiga, perubahan gaya
manajemen perusahaan. Dalam
pengambilan keputusan/kebijakan,
Kewajiban Perusahaan manajemen emiten harus lebih
memperhatikan kepentingan publik.
Prinsip tata kelola perusahaan yang
baik harus menjadi rambu-rambu
Setelah Go Public dalam menjalankan proses bisnis
perusahaan.
Secara struktur organisasi, emiten
Menjadi perusahaan publik dengan embel-embel Terbuka (Tbk.) harus memiliki komisaris independen
pada bagian akhir nama perusahaan, tentu tak sekadar perubahan minimal 30% dari anggota Dewan
Komisaris dengan masa jabatan
status, tetapi ada konsekuensi yang harus dijalankan. paling banyak 2 periode berturut-
turut. Di jajaran direksi, emiten harus
S ejumlah konsekuensi itu adalah
Pertama, sharing kepemilikan
Laporan insidentil yang dimaksud
antara lain laporan perubahan
memiliki 1 Direktur Independen
dengan masa jabatan paling banyak 2
saham dengan pemegang
kepemilikan saham, informasi rencana periode berturut-turut. Struktur
saham publik. penyelenggaraan Rapat Umum organisasi lain yang harus dimiliki
Jumlah saham yang dimiliki oleh Pemegang Saham, dan informasi adalah Komite Audit dan Sekretaris
pemegang saham publik minimal 50 tentang pemegang saham tertentu. Pada Perusahaan.
juta saham dan minimal 7,5% dari intinya, informasi atau fakta material Keempat, emiten harus
jumlah saham dalam modal disetor. yang wajib dilaporkan adalah segala membayar biaya pencatatan. Biaya
Selain itu, jumlah pemegang saham informasi dan fakta penting terkait pencatatan ini ada tiga yakni biaya
publik minimal harus terdiri dari peristiwa, kejadian, atau fakta yang pencatatan awal pada saat listing,
300 pihak (memiliki rekening efek di dapat mempengaruhi harga efek pada biaya pencatatan tahunan, dan biaya
Anggota Bursa). bursa efek/keputusan pemodal, calon pencatatan saham tambahan apabila
Kedua, emiten (sebutan untuk pemodal, atau pihak lain yang mencatatkan saham tambahan.
perusahaan yang mencatatkan berkepentingan atas informasi atau Merujuk pada Peraturan BEI No.
sahamnya di Bursa Efek Indonesia) fakta tersebut. I-A tentang Pencatatan Saham dan
harus lebih transparan dalam Semua informasi baik yang berkala Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham
keterbukaan informasi. maupun yang insidentil tersebut harus Yang Diterbitkan Oleh Perusahaan
Merujuk pada UU Nomor 8 Tahun disampaikan melalui sistem pelaporan Tercatat, besaran biaya pencatatan
1995 tentang Pasar Modal Pasal 86 elektronik (e-reporting) yang disebut awal adalah Rp1 juta untuk setiap
ayat (1), emiten wajib menyampaikan IDXnet untuk diumumkan di website kelipatan Rp1 miliar dari nilai
laporan secara berkala kepada resmi BEI. kapitalisasi saham atau minimum
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Selain dua prosedur pelaporan Rp10 juta dan maksimum Rp150 juta.
mengumumkan laporan tersebut tersebut, otoritas pasar modal Sementara itu, biaya pencatatan
kepada masyarakat. biasanya akan meminta penjelasan tahunan ditetapkan sebesar
Laporan berkala tersebut yaitu kepada emiten dalam hal antara lain Rp500.000 untuk setiap kelipatan
laporan keuangan berkala, laporan terdapat informasi penting yang Rp1 miliar dari jumlah modal disetor
realisasi penggunaan dana hasil beredar dan belum diinformasikan terkini emiten yang bersangkutan,
penawaran umum, dan laporan emiten kepada BEI, terjadi unusual atau minimum Rp5 juta dan
keuangan tahunan. transaction atas efek emiten di BEI, maksimum Rp100 juta. Adapun
Selain laporan berkala, emiten wajib dan bursa meminta penjelasan lebih besaran biaya pencatatan saham
menyampaikan laporan kepada OJK lanjut atas informasi yang telah tambahan sama dengan biaya
dan mengumumkan kepada masyarakat disampaikan emiten. pencatatan awal.
tentang peristiwa material (insidentil) Dalam hal penyampaian Kelima, iuran kepada Otoritas Jasa
yang dapat mempengaruhi harga efek informasi, emiten dilarang keras Keuangan. Khusus emiten, iuran
selambat-lambatnya pada akhir hari membuat pernyataan atau dikenakan saat melakukan emisi dan iuran
kerja kedua setelah terjadinya peristiwa memberikan keterangan yang yang dibayarkan setahun sekali. ⚫
tersebut. secara material tidak benar
Perbankan
TEKNOLOGI
FINANSIAL
BANK
UMUM
BANK BANK
PEMBANGUNAN PERKREDITAN
DAERAH RAKYAT
T ahun depan
momentum
disebut
bagi
menjadi
industri
Bisnis Bank (RBB) terkait dengan
mendorong pertumbuhan ekonomi,”
ujarnya melalui pesan tertulis, Kamis
perbankan untuk mulai ekspansi. pertumbuhan kredit diubah menjadi (16/11).
Walaupun, dari segi 11%. Lalu, pada kuartal IV/2017, Heru menyebutkan, selaku
kinerja, sampai akhir 2017 di bawah OJK memperkirakan pertumbuhan otoritas, pada tahun depan arah
target yang ditentukan pada awal kredit sampai akhir 2017 berada kebijakan untuk industri perbankan
tahun. pada kisaran 7% sampai 9%, seperti akan mendorong untuk melakukan
Dari data statistik perbankan dikutip dari presentasi Ketua Dewan kolaborasi dan sinergi. Dia
Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Komisioner OJK Wimboh Santoso menuturkan, ke depan, bank umum
Keuangan (OJK) sampai kuartal pada acara PWI, Kamis (2/11). akan menyesuaikan dan berkolaborasi
III/2017, pertumbuhan kredit Walaupun, pertumbuhan kredit lebih lanjut dengan teknologi finansial
perbankan hanya naik 7,86% menjadi masih belum menggeliat, tetapi dari (tekfin). Pasalnya, kolaborasi itu
Rp4.543 triliun dibandingkan dengan sisi rasio kredit bermasalah atau sudah menjadi kebutuhan dari
akhir tahun lalu. Tingkat Non Performing Loan (NPL) gross perbankan.
pertumbuhan itu masih jauh dari perbankan secara industri membaik “Saat ini, pada umumnya
target awal pertumbuhan kredit yang setelah turun ke level 2,93%. perbankan sudah berkolaborasi
sebesar 10% sampai 12%. Anggota Dewan Komisioner dengan teknologi terutama dengan
Adapun, memasuki semester Kepala Eksekutif Pengawas maraknya digital banking pada
II/2017, rata-rata revisi Rencana Perbankan OJK Heru Kristiana beberapa bank besar,” tuturnya.
mengatakan, pihaknya ingin Selain bank umum, Bank
FOKUS
Perbankan
Pembangunan Daerah (BPD) akan Dengan berkolaborasi, baik dari Edie melanjutkan, selain terkait
melanjutkan transformasi yang sudah sisi bank maupun tekfin akan pembiayaan mikro, beberapa kelompok
dicanangkan sejak tahun lalu. menciptakan hubungan mutualisme. BPD juga tengah menunggu kesiapan
Heru mengatakan, untuk Bank “Bank yang memiliki basis nasabah platform untuk layanan kantor
Perkreditan Rakyat (BPR) juga akan yang luas bisa memberikan layanan nircabang atau Laku Pandai. “Sebagian
disinergikan dengan bank umum agar yang nyaman, cepat, dan terkini BPD kecuali bank BUKU [Bank Umum
bisa lebih berperan dalam melayani dengan lebih efisien, sedangkan Kegiatan Usaha] I sudah siap, tetapi dulu
kebutuhan masyarakat. Dari sisi bank tekfin yang terkendala jaringan bisa ada komitmen untuk menggunakan
umum, kolaborasi dengan tekfin menawarkan produknya tersebut,” platform yang sama, Namun, ketika
memang menjadi solusi dalam melayani ujarnya. sekarang ditagih, platform-nya belum
perkembangan teknologi. Adapun, bank berkode BBNI itu siap,” lanjutnya.
Direktur PT Bank Negara Indonesia pun juga tengah menunggu izin dari Dia juga menuturkan, beberapa
(Persero) Tbk. Putrama Wahyu OJK terkait salah satu produk sistem BPD yang sudah memiliki layanan
Setyawan menyatakan, perbankan pembayaran yang bekerja sama Laku Pandai saat ini telah memilih
memang mendapatkan tantangan dari dengan salah satu perusahaan tekfin. menggunakan platform lain.
disruption technology. Banyak tekfin Di sisi lain, dari sisi bank Sementara itu, dari segi BPR justru
yang berupaya untuk mendapatkan pembangunan daerah (BPD) pun sudah menantikan sinergi dengan bank
porsi dari sistem pembayaran transaksi masih terus berupaya untuk umum. Pasalnya, melalui sinergi dengan
keuangan. “Untuk itu, perbankan bertransformasi yang sudah berjalan bank umum, BPR bisa lebih efisien
sebagai lembaga keuangan yang lebih selama dua tahun terakhir. dalam menjalankan bisnisnya.
tua pun harus mengubah diri juga,” Sekretaris Jenderal Asosiasi Bank Ketua Perhimpunan Bank
ujarnya dalam wawancara, Kami (9/11). Daerah (Asbanda) Edie Rizliyanto Perkreditan Rakyat (Perbarindo) Joko
menuturkan, untuk perkembangan Suyanto menjelaskan, sinergi dengan
Dia menyebutkan, agar perbankan transformasi BPD, pihaknya sudah bank umum sudah menjadi misi
bisa tetap menjaga eksistensinya dalam menyiapkan standarisasinya yang pihaknya dalam mengembangkan BPR
sistem pembayaran, mau tidak mau terlampir dalam standar operasional di Indonesia. “Kalau otoritas sudah
harus memberikan pelayanan kepada prosedur (SOP). “Standarisasi itu mempunyai pandangan yang sama,
nasabah yang lebih nyaman dan nantinya untuk layanan pembiayaan berarti ini akan semakin baik dalam
canggih. Menurut Putrama, untuk bisa mikro. Sebentar lagi, kami akan bahas proses sinergi antara BPR dan bank
tetap kompetitif, salah satu solusinya untuk sistem teknologi informasinya,” umum. Soalnya, proses perizinan kan
adalah perbankan berkolaborasi dengan ujarnya melalui pesan tertulis Jumat harus melalui regulator dan dengan
tekfin. (17/11). begitu antara BPR dan bank umum tidak
dibiarkan bersaing,” ujarnya.
Joko melanjutkan, sejauh ini
antara bank umum dengan BPR pun
sudah melakukan beberapa sinergi
seperti program linkage dalam
pinjaman modal yang sudah berjalan
sejak lama. Lalu dengan BPD juga ada
kerja sama dalam mengelola
likuiditas, dana bergulir, dan
sebagainya untuk setiap regional bank
daerah.
“Soalnya, kan bank umum punya
kekuatan di infrastruktur, sedangkan
kami punya kelebihan di jaringan.
Jadi dengan bersinergi intermediasi
yang dilakukan bank umum lewat BPR
semakin mengena ke seluruh lapisan
masyarakat,” ujarnya. Adapun,
beberapa kerja sama yang dilakukan
antara bank umum dengan BPR juga
terkait jaringan Anjungan Tunai
Mandiri (ATM). ⚫
Manajemen Risiko Perbankan
Kredit Bermasalah yang Membuat Resah
Antisipasi Kenaikan
Suku Bunga agar
Tak Terlalu Tinggi
S ejak awal tahun 2017, OJK
mewacanakan pemangkasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) belum mengambil keputusan terkait
selisih capping antara dua
kategori bank tersebut. kebijakan pembatasan maksimum (capping) suku bunga deposito
Bahkan, pada September 2017,
OJK juga melempar wacana untuk untuk Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) III serta BUKU IV.
penghapusan capping.
Special Rate
Kendati bunganya terus turun,
deposito masih menjadi instrumen
favorit bagi nasabah. Data distribusi
simpanan yang diterbitkan oleh
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)
menunjukkan bahwa sampai
September 2017, simpanan deposito
menjadi kontributor terbesar yakni
BISNIS PEMULA
H
Pilihan
adirnya pilihan investasi dan layanan
pembiayaan alternatif ini
diharapkan meningkatkan inklusi
jasa keuangan di
Indonesia. Alhasil, pelaku fintech
lending pun terus bertambah dengan
Layanan Kian
menawarkan keunikan layanannya
masing-masing.
Salah satunya adalah PT Cicil
Solusi Mitra Teknologi, fintech
dengan brand [Link], berfokus
pada pembiayaan pada segmen
Beragam mahasiswa.
Yuppie Wietanto, Marketing
Head [Link], pihaknya mencoba
mengatakan pihaknya menawarkan
sesuatu yang memang menjadi
Layanan keuangan pinjam meminjam langsung berbasis teknologi kebutuhan mahasiswa selama
atau financial technology (fintech) lending terus berkembang. ini. Menurutnya, sejak beroperasi
Apalagi, setelah Otoritas Jasa Keuangan menerbitkan Peraturan pada September 2016 [Link]
mendapatkan respon positif lantaran
OJK No. 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam minimnya kemungkinan mahasiswa
Uang Langsung Berbasis Teknologi pada akhir 2016. mendapatkan pendanaan dari
layanan jasa keuangan konvensional.
“Selama ini tidak ada celah bagi
mahasiswa untuk mendapatkan
pinjaman, mungkin beli laptop untuk
skripsi, kamera untuk kelas fotografi.
Dan kalau beli harus tunai, paling
harus menabung berbulan-bulan,”
ujarnya.
Oleh karena itu, Yuppie mengatakan
pihaknya mulai mengembangkan
layanan pembiayaan dengan berfokus
pada segmen tersebut. Hingga saat ini
pihaknya sudah melayani kebutuhan
pendanaan mahasiswa di lima wilayah,
yakni Bandung, Jabodetabek,
Yogyakarta, Malang dan Semarang.
2016 Rp1,46 Rp
2017
(Per Agustus) 120.174 Rp
(Per Agustus)
Sumber: OJK
2016 12.145
Pemberi
Pinjaman/
Lender 2017
48.034
(Per Agustus)
“Industri Pembayaran akan Berevolusi”
Sejak dua tahun terakhir, industri financial technology atau fintech di Tanah Air berkembang begitu pesat.
Tren inipun membuat para pelaku industri berkumpul dan mendirikan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech).
Hanya dalam kurun 1 tahun, fintech yang semula belum diketahui banyak orang, menjadi topik
perbincangan hingga akhirnya memiliki payung hukum sendiri di bawah naungan OJK.
Niki Luhur, Chairman Aftech sekaligus Founder dan Presiden Komisioner Kartuku menceritakan kisah
perjalanan asosiasi yang mewadahi industri yang kekinian tersebut. Berikut petikan wawancaranya.
Bisa diceritakan awal mula pembayaran, termasuk semua untuk bank, tidak usah mikirin
masuk ke dunia fintech sistem untuk memfasilitasi gudang, sekuriti, dan lain-lain.
hingga kemudian mendirikan penerimaan kartu debit dan kartu Semua di-outsourcing ke Kartuku.
asosiasi? kredit, sudah berjalan puluhan Orang tahunya outsourcing, tetapi
Tujuan dan visi misi dari tahun. Persepsi selama ini, yang itu sebenarnya sudah fintech.
asosiasi adalah untuk mendorong bangun infrastrukturnya bank. Itu suatu tren yang sudah kami
inklusi keuangan, dengan cara Sebetulnya bank cari vendor. Pola tebak, industri pembayaran akan
digital. Dengan cara konvensional, lamanya, jual barang. Bank yang berevolusi.
selama ini penetrasi pasarnya lakukan semua, beli alat, pasang, Setelah fase itu, 2006 – 2009,
maksimal baru 35%. Kami ingin maintain, dan manage sendiri. kami semua kejar deadline. Mulai
mendukung strategi pemerintah Itu pola yang umum ditemui di ganti-ganti jaringan. Bank mulai
untuk meningkatkan inklusi Indonesia sebelum 2006. lepas, enggak mau lagi manage
keuangan hingga menjadi 70% Lalu pada 2006, waktu kartu sendiri. Banyak yang belum tahu
pada 2019. chip baru diimplementasikan, bahwa ada garis yang jelas antara
Teknologi yang sudah semua jaringan sistem core kompetensi fintech dan core
berkembang secara pesat pembayaran harus diubah, karena kompetensi perbankan. DNA-nya
membuka kesempatan untuk ada regulasi dari Bank Indonesia. aja udah beda. Kalau di fintech,
mengubah paradigma bahwa Deadline-nya akhir 2008, kami ngomonginnya tren mobile,
membangun infrastruktur yang diperpanjang ke 2009. Nah pada personalization, user experience,
tidak harus selalu fisik. Nah, saat itu bank mulai mengevaluasi, interface baru. Memang fintech
bagaimana kita bisa mengikuti apakah efisien untuk mengelola dan bank dua industri yang
tren-tren teknologi, seluruh proses mulai dari jualan berbeda, tapi saling
memanfaatkannya, untuk bantu ke merchant, akuisisi merchant, membutuhkan. Itu isu terbesar
industri jasa keuangan. Ini yang manage jaringan, hingga call yang masih banyak orang enggak
penting sekali. Kadang-kadang center di mereka sendiri? mengerti.
banyak yang salah paham, bahwa Maka kita bisa lihat, dari dulu
fintech akan menggeser bank. ada banyak core function yang Apa yang menjadi
Tidak. Fintech dasarnya dibutuhkan untuk bangun sistem permasalahan utama di
merupakan perusahaan teknologi, pembayaran, yang sebetulnya industri ini?
yang melayani industri keuangan, bukan core kompetensinya bank, Kalau saya lihat masalah
berpartner, bukan mengganti tetapi core kompetensinya utamanya bukan kompetisi, tetapi
industri keuangan. teknologi. kuenya masih kecil. Padahal
Memang sejak 2015, kami Saya pun memulainya sejak potensinya besar. Itu karena dari
lihat fintech mulai berkembang 2006, dengan Kartuku. Kami mulai sisi regulasi masih banyak yang
lebih cepat, tetapi bukan berarti manage service. Ada biaya perlu dioptimalkan. Contohnya
belum ada sebelumnya. Sistem langganan, sehingga lebih fleksibel soal keamanan data. Walaupun
TOKOH
Grafik 1. Jumlah
Perusahaan FinTech di
Indonesia, 2006 - 2016
Terjadinya evolusi global dalam inovasi tersebut hanya tumbuh sekitar 177,78%, Growth, yang ditulis oleh Garvey, K. et
teknologi keuangan juga turut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan al. (2017) diketahui bahwa sepanjang
mempengaruhi perkembangan FinTech di tahun 2006-2007 yang mencapai sekitar tahun 2016 di Indonesia dijumpai 9
Indonesia. Hanya 300%. Dalam tahun 2013-2014 jumlah (sembilan) jenis model pembiayaan
saja indikator yang tersedia dan dapat perusahaan FinTech bertambah sebanyak alternatif online, yaitu1
digunakan untuk melihat konfigurasi 15 perusahaan hingga menjadi 40 : (i) Peer-to-peer (P2P)/market place
FinTech di Indonesia saat ini masih perusahaan, atau tumbuh sekitar 60%. business lending; (ii) Peer-to-peer
sangat terbatas. Perkembangan yang spektakuler terjadi (P2P)/market place consumer lending; (iii)
Berdasarkan data yang tersedia, hanya dalam tahun 2014-2016, dimana jumlah Peer-to-peer (P2P)/market place real
jumlah perusahaan perusahaan FinTech bertambah sebanyak estate lending; (iv) Donation-based
dan market size yang dapat dijadikan 125 perusahaan hingga menjadi 165 crowdfunding; (v) Equity-based
sebagai referensi untuk menjelaskan perusahaan. Artinya terjadi peningkatan crowdfunding; (vi) Reward-based
konfigurasi tersebut. Dari sisi jumlah jumlah perusahaan FinTech sekitar 312,5% crowdfunding; (vii) Revenue-sharing/
perusahaan, dalam periode sebelum tahun dibandingkan tahun sebelumnya (Grafik profit-sharing crowdfunding; (viii)
2006 jumlah perusahaan FinTech yang 1). Debentures (debt-based securities); dan
berpartisipasi baru 4 perusahaan dan (ix) Balance sheet consumer lending. Dari
kemudian bertambah menjadi sembilan jenis model tersebut 6 (enam)
model diantaranya mulai diperkenalkan
16 perusahaan pada tahun 2006-2007. dalam tahun 2016 dan 3 model
Pertambahan jumlah pelaku (perusahaan)
dalam aktivitas pembiayaan alternatif
lainnya sudah tersedia sejak tahun 2013
Dalam kurun waktu empat tahun setelah (FinTech) ini telah mempengaruhi
(Tabel 1).
itu hanya terjadi penambahan sebanyak perkembangan jenis model FinTech di
9 perusahaan yang melakukan aktivitas Indonesia. Berdasarkan laporan publikasi Dengan bertambahnya jumlah perusahaan
FinTech, sehinga menjadi 25 perusahaan CCAF (Cambridge Centre for Alternative dan jenis model pembiayaan alternatif yang
dalam tahun Finance) dalam The tersedia, tahun 2016 merupakan tahun yang
istimewa bagi aktivitas FinTech di
2011-2012. Secara relatif, jumlah 2nd Asia Pacific Region Alternative Indonesia dengan focal point
perusahaan FinTech dalam tahun Finance Industry Report - Cultivating
9
Donation-based crowdfunding ✓ ✓ ✓ ✓
Equity-based crowdfunding ✓
Reward-based crowdfunding ✓ ✓ ✓ ✓
Revenue-sharing/profit-sharing crowdfunding ✓
(Grafik 3). Model pembiayaan ini (incumbent) baik perbankan maupun dengan nilai pembiayaan sebesar
memiliki proporsi paling besar yaitu sekitar lembaga keuangan bukan bank. US$0,02 juta (setara Rp266,2 juta).
80,5% dari total market size FinTech. Bila Beberapa Implikasi dan
Jenis model lain yang juga
ditelusuri lebih jauh, dalam model P2PL ini
tumbuh tinggi dalam tahun 2016 Potensi Risiko
sekitar 76,0% diantaranya (sebesar
adalah crowdfunding. Total dana
US$21,65 juta atau setara Rp288,1 miliar) Walaupun belum banyak jenis pilihan
pembiayaan dengan menggunakan
berasal dari pinjaman kalangan dunia usaha model FinTech yang tersedia di Indonesia,
model crowdfunding mencapai
(peer-to-peer business lending). Konstituen namun hampir dapat dipastikan bahwa
US$6,62 juta (setara Rp88,1 miliar),
kedua terbesar dalam model P2PL ini keberadaan FinTech akan memberikan
atau tumbuh dengan laju lebih dari
dalam tahun 2016 adalah pinjaman warna dan membawa implikasi pada
200% dibandingkan tahun 2015,
konsumen (peer-to-peer consumer lending) layanan jasa keuangan dan para pihak
yang hanya mencapai US$2,16 juta
dengan pangsa pasar 22,9% (senilai (stakeholders) di dalam negeri.
(setara Rp28,9 miliar). Konstituen
US$6,52 juta atau setara Rp86,8 miliar).
terbesar dalam model crowdfunding
Pertama, bagi layanan keuangan,
Sebagai model baru yang diperkenalkan FinTech memiliki potensi untuk
ini adalah pembiayaan yang
dalam tahun 2016, proprosi pinjaman
berbasis sumbangan (donation- “memecah” (unbundling) dan
konsumen sebesar itu tergolong tinggi merestrukturisasi jasa keuangan yang ada.
based crowdfunding) senilai US$3,29
dibandingkan dengan model pembiayaan Keberadaan FinTech bisa “memecah”
juta (setara Rp43,8 miliar) dan
online yang diluncurkan pada waktu konsentrasi yang terjadi di pasar keuangan
yang berbasis ekuitas (equity-based
bersamaan—yaitu (peer-to-peer real estate sehingga market share akan terdistribusi
crowdfunding) sebesar US$3,2 juta (setara
lending) dengan proporsi hanya sekitar antar pesaing yang menawarkan jasa
Rp42,6 miliar). Model crowdfunding
1,1% (dengan nilai sebesar US$0,3 juta layanan yang sama. Akibatnya, tidak ada
berbasis ekuitas ini juga merupakan model
setara Rp86,8 miliar). Fakta ini dapat lagi dominasi lembaga perantara
baru yang diperkenalkan dalam tahun 2016
dijadikan sebagai indikasi awal bahwa (intermediari) keuangan tertentu di pasar
dan memiliki pangsa yang cukup besar
pasar pembiayaan konsumen akan semakin keuangan dan kompetisi yang terjadi
dalam pembiayaan model crowdfunding,
kompetitif, baik sesama penyedia pinjaman berpotensi menurunkan tingkat harga jasa
yaitu sekitar 48,3%. Model crowdfunding
online (FinTech) maupun antara FinTech layanan keuangan. Selain itu, FinTech juga
lain yang juga baru diluncurkan dalam
dengan lembaga keuangan lainnya akan mengubah kontestabilitas dalam jasa
tahun 2016 adalah model bagi hasil
layanan keuangan karena relatif murahnya
(revenue-sharing/profit-sharing
crowdfunding), hanya saja proporsinya
masih sangat kecil yaitu sekitar 0,3%,
11
biaya bagi pendatang baru (new entrants) data (cyber risks), privasi, dan kepemilikan melindungi kepentingan nasional terkait
untuk memasuki pasar (He, et al., 2017). data serta tata kelola (governance) data. dengan pencegahan kegiatan pencucian
Dengan terpecahnya konsentrasi pasar Risiko ini bisa muncul karena kerentanan uang (money laundering), pendanaan
dan terjadinya perubahan kontestabilitas sistem dan proses yang berbasis komputer terorisme, dan stabilitas sistem
dalam jasa layanan keuangan maka yang saling terkait dan dapat dimanfaatkan keuangan.
komposisi (struktur) jasa layanan oleh para hacker untuk kesenangan atau
keuangan juga akan mengalami niat kriminal (Narain, 2016 dan Wellisz,
Di lain pihak, Bank Indonesia juga
perubahan. Perubahan tersebut selain 2016). Risiko yang dihadapi konsumen
telah menetapkan regulasi bagi para
membuka peluang terjadinya diversifikasi tentu saja turut berpengaruh pada
penyelenggara FinTech yang
dan desentralisasi juga berpotensi operasional (operational risks) perusahaan
aktivitasnya terkait dengan sistem
mendorong efisiensi dalam sistem FinTech, infrastruktur pasar keuangan,
pembayaran.
keuangan. Implikasi yang tidak kalah atau bahkan sektor-sektor yang rentan
Hal ini tertuang Peraturan Bank
pentingnya bagi sistem keuangan adalah terhadap guncangan. Kristalisasi risiko-
Indonesia (PBI) No.19/12/ PBI/2017
terciptanya transparansi sehingga dapat risiko tersebut lebih lanjut bisa memiliki
tentang Penyelenggaraan Teknologi
mengurangi—kalaupun tidak dapat dampak sistemik terhadap sistem
Finansial dan ketentuan pelaksanaannya
menghilangkan—informasi yang keuangan secara keseluruhan.
dalam Peraturan Anggota Dewan
asimetris (asymmetric information) dan
Gubernur (PADG) No.
memperbaiki kemampuan pelaku pasar
19/14/PADG/2017 tentang Ruang Uji
dalam mengelola risiko.
Coba Terbatas (Regulatory Sandbox)
Penutup Teknologi Finansial
1. Crowdfunding atau penggalangan dana adalah proses 3. Peer–to–Peer Lending(P2PL)atau biasa juga disebut
mengumpulkan sejumlah uang untuk suatu proyek atau usaha sebagai social lending atau person-to-person lending
oleh sejumlah besar orang, biasanya dilakukan melalui merupakan salah satu bentuk crowdfunding berbasis utang
platformonline. Ada tiga pihak yang terlibat dalam platform berupa praktik pemberian pinjaman uang antar individu
crowdfunding, yaitu project owner, supporter (publik yang dimana peminjam dan pemberi pinjaman (investor)
memberikan dukungan dana) dan penyedia platform. Ketiga dipertemukan melalui platform yang diberikan oleh
pihak ini memiliki peran masing-masing dalam menciptakan perusahaan P2PL. P2PL memberikan wadah bagi seseorang
sebuah ekosistem yang dapat menunjang kebutuhan tiap yang ingin meminjam uang dari seseorang yang tidak pernah
pihak. dijumpai secara langsung sebelumnya. Begitu juga dengan
investor, ia dapat memberikan pinjaman kepada seseorang
yang ia tidak kenal dan informasi yang diketahui bisa hanya
2. Berdasarkan bentuk imbalan yang diberikan kepada
berdasarkan rekam jejak kredit dari peminjam. Model P2PL
pemberi dana, crowdfunding dapat dibedakan menjadi
ini dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu sebagai berikut :
beberapa jenis, yaitu : reward-based/donation-based
crowdfunding, equity-based crowdfunding, dan loan-based
crowdfunding.
• Peer–to–Peer (P2P) Business Lending adalah transaksi
• Reward-based crowdfunding adalah
berbasis utang antara individu dan dunia usaha/bisnis yang
bentuk crowdfunding yang berbasis hadiah atau
ada, yang sebagian besar merupakan usaha kecil dan
penghargaan (reward). Reward-based crowdfunding akan
menengah (UKM) dengan banyak pemberi pinjaman
memberikan reward kepada investor, biasanya berupa individual yang memberikan kontribusi terhadap satu
versipertama atau edisi terbatas dari produk atau layanan
pinjaman. Contoh : Gandengtangan
yang didanai. Reward yang diberikan umumnya
disesuaikan dengan jumlah dana yang diberikan, semakin
besar dananya semakin eksklusif reward yang didapatkan • Peer–to–Peer (P2P) Consumer Lendingadalah transaksi
investor. berbasis utang dimana individu menggunakan platform
online untuk meminjam dari sejumlah pemberi pinjaman
individual, yang masing-masing memberikan pinjaman
• Donation-based crowdfunding adalah bentuk sejumlah kecil. Sebagian besar bentuknya berupa pinjaman
crowdfunding tanpa imbalan, dan biasanya pribadi/personal tanpa jaminan.
terkait dengan suatu kegiatan filantropi.