0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan53 halaman

Geologi Formasi Talang Akar Jawa Barat

Proposal skripsi ini membahas studi geologi dan sikuen stratigrafi Formasi Talang Akar di Lapangan Y Cekungan Jawa Barat Utara berdasarkan data sumur dan seismik. Tujuannya adalah mengetahui variasi litologi, fasies, batas stratigrafi, system tract, dan sejarah sedimentasi Formasi Talang Akar dengan pendekatan sikuen stratigrafi. Penelitian ini diharapkan dapat memodelkan paleogeografi Formasi Talang Akar.

Diunggah oleh

raditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan53 halaman

Geologi Formasi Talang Akar Jawa Barat

Proposal skripsi ini membahas studi geologi dan sikuen stratigrafi Formasi Talang Akar di Lapangan Y Cekungan Jawa Barat Utara berdasarkan data sumur dan seismik. Tujuannya adalah mengetahui variasi litologi, fasies, batas stratigrafi, system tract, dan sejarah sedimentasi Formasi Talang Akar dengan pendekatan sikuen stratigrafi. Penelitian ini diharapkan dapat memodelkan paleogeografi Formasi Talang Akar.

Diunggah oleh

raditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan ke
PT. PERTAMINA UTC

GEOLOGI DAN STUDI SIKUEN STRATIGRAFI FORMASI TALANG AKAR


LAPANGAN “Y” CEKUNGAN JAWA BARAT UTARA, BERDASARKAN DATA
SUMUR DAN DATA SEISMIK

Oleh :
Muhammad Reza
NIM. 111.120.013

POGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

YOGYAKARTA

2015

1
2
KATA PENGANTAR

Atas berkat rahmat ALLAH SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga penyusun masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan proposal pengajuan skripsi
ini. Proposal skripsi ini, penyusun mengambil judul Geologi dan Studi Sikuen Stratigrafi
Formasi Talang Akar Lapangan “ Y “ Cekungan Jawa Barat Utara, berdasarkan Data
Sumur dan Data Seismik

Penyusun menyadari proposal ini belum sepenuhnya sempurna, maka kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat melengkapi dan menyempurnakan dalam
pembuatan proposal skripsi ini. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkenan memberikan saran dan kritik terhadap proposal skripsi ini.

Yogyakarta, 2 Desember 2015


Penyusun,

(Muhammad Reza)

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN 5
1.1. Latar Belakang 5
1.2. Rumusan Masalah 6
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 7
1.4. Lokasi dan Waktu Penelitian 8
1.5. Hasil yang Diharapkan 9
1.6 Alat dan Fasilitas 10
1.7 Manfaat Peneliian 11
1.8 Pembimbing 12
BAB 2. METODOLOGI PENELITIAN 13
2.1. Tahap Pendahuluan 13
2.2. Tahap Penelitian 14
2.3. Bagan Alir Penelitian 19
BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA 20
3.1. Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara 20
3.1.1. Kerangka Tektonik Regional 20
3.1.2. Stratigrafi Regional 24
3.2. Konsep Sikuen Stratigrafi 25
3.3. Interpretasi Data Sumur 35
3.3.1. Core 35
3.3.2. Analisa Serbuk Bor 35
3.3.3. Log Sumur 35
3.4. Interpretasi Data Seismik 45
BAB IV. PENUTUP
51
DAFTAR PUSTAKA

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cekungan ini merupakan cekungan belakang busur yang sangat luas dan rumit,
yang dimana bagian utara hingga selatannya terdiri dari orientasi sejumlah bentukan
struktur halfgraben. Sub-cekungan ini terletak di tepi selatan dari platform Sunda
(Reksalegora et al., 1996). Cekungan Jawa Barat Utara memiliki akumulasi
Hidrokarbon berlimpah, dan minyak dan gas bumi yang dimana reservoarnya
bertumpukan dengan volkanik klastik, karbonatan, dan lapisan coarsesiliciclastic
(Noble et al., 1997). Cekungan Jawa Barat Utara sekarang telah dianggap mature,
dengan pembagian untuk bagian atasnya yaitu berupa pasir dari formasi Talang Akar
dan diatasnya ditambah dengan karbonat pada jaman Miosen sepenuhnya.
Pertimbangan mengenai potensi yang ada didaerah tersebut cukup kecil hingga
menengah dan dapat tetap berada dalam pembentukan Jatibarang syn-rift Posisinya
lebih rendah dari formasi Talang Akar, dan terletak didalam karbonat formasi Batu
raja.

Peningkatan teknologi menghasilkan data-data bawah permukaan (subsurface


data) seperti data log mekanik (wireline log), data seismik 2D maupun 3D, inti batuan
(core), dan data paleontologi (biostratigraphy) yang dapat membantu dalam
pemecahan permasalahan geologi suatu tempat. Konsep sikuen stratigrafi digunakan
oleh ahli kebumian untuk memecahkan masalah stratigrafi dari suatu daerah, dengan
melakukan interpretasi terhadap key surfaces berupa sequence
boundary (SB), transgressive surface (TS) maupun maximum flooding surface (MFS)
yang dapat menjadi indikator bagi bekerjanya aspek geologi yakni adanya perubahan
sea level yang terkait dengan tektonik maupun eustacy, subsidence, dan tingkat suplai
sedimen dimana dari parameter-parameter ini dapat menghasilkan endapan-
endapan khusus sebagai suatu system tract (Lowstand System Tract, Transgressive
System Tract, dan High Stand System Tract), dengan konsep sikuen stratigrafi,

5
sedimen dapat dibagi berdasarkan paket-paket unit genetik tertentu sehingga
memudahkan dalam interpretasi sejarah geologi maupun sejarah sedimentasi suatu
daerah.

Formasi Talang akar dipilih sebagai studi analisis geologi dan sikuen stratigrafi
tersebut karena formasi ini memiliki berbagai macam litologi penyusun seperti
batupasir berbutir kasar-sedang, batulempung, paleosoil, dan jatuhan tuff, dan juga
formasi ini memiliki cadangan minyak terbesar pada cekungan Jawa barat utara.

1.2. Rumusan Masalah

 Bagaimana variasi litologi bawah permukaan yang berkembang pada Formasi


Talang akar ?

 Bagaimana variasi fasies pengendapan pada Formasi Talang akar ?

 Bagaimana batas-batas Key Surfaces berupa Sequence Boundary (SB),


Transgerssive Surface (TS) dan Maximum flooding Surface (MFS) yang
terdapat pada Formasi Talang akar ?

 System Tract apa saja yang berkembang pada Formasi Talang Akar
berupa lowstand system tract (LST), transgressive system
tract (TST), maupun high stand sytem tract (HST) ?

 Bagaimana dinamika perubahan muka air laut yang menghasilkan system


tract pada Formasi Talang akar ?

 Bagaimana sejarah sedimentasi Formasi Talang akar dengan pendekatan


metode sikuen stratigrafi ?

 Bagaimana permodelan paleogeografi Formasi Talang akar berdasarkan dari


pendekatan metode sikuen stratigrafi ?

6
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud dari penelitian ini ialah untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di
bangku kuliah pada lingkungan kerja secara langsung, dan selain itu juga sebagai salah
satu syarat utama untuk menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta untuk mendapatkan Gelar Sarjana (S1)
pada bidang Teknik Geologi.

Sementara tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah sebagai berikut

 Mengetahui variasi litologi bawah permukaan yang berkembang pada Formasi


Talang akar.

 Mengetahui variasi fasies pengendapan pada Formasi Talang akar.

 Mengetahui batas-batas Key Surfaces berupa Sequence Boundary (SB),


Transgerssive Surface (TS) dan Maximum flooding Surface (MFS) yang
terdapat pada Formasi Talang akar.

 Mengetahui System Tract apa saja yang berkembang pada Formasi Talang Akar
berupa lowstand system tract (LST), transgressive system
tract (TST), maupun high stand sytem tract (HST).

 Mengetahui dinamika perubahan muka air laut yang menghasilkan system


tract pada Formasi Talang akar.

 Mengetahui sejarah sedimentasi Formasi Talang akar dengan pendekatan


metode sikuen stratigrafi.

 Mengetahui permodelan paleogeografi Formasi Talang akar berdasarkan dari


pendekatan metode sikuen stratigrafi.

7
1.4. Lokasi dan Waktu Penelitian

1.4.1 Lokasi Penelitian

Lokasi daerah penelitian yang diajukan berada di Lapangan “ Y “ PT.


PEERTAMINA UTC di Cekungan Jawa Barat Utara, Provinsi Jawa Barat,
Indonesia.(Gambar 1.1)

Gambar 1.1 Cekungan Jawa Barat Utara (Noble dkk., 1997)

1.4.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang direncanakan yakni dimulai dari awal bulan Januari
sampai dengan awal Maret tahun 2016 dengan kisaran periode selama 2 bulan. Jenis
kegiatan dan rencana tata waktu pelaksanaan penelitian seperti disajikan pada Tabel
1.1

Tabel 1.1 Rencana Waktu Penelitian


Bulan 1 Bulan 2
Jenis Kegiatan Minggu
1 2 3 4 5 6 7 8
Studi Literatur
Pengumpulan Data
Interpretasi dan Analisa
Data
Penyusunan Laporan
dan Diskusi
Presentasi dan Evaluasi

8
1.5. Hasil yang Diharapkan

Dengan melakukan penelitian ini, yang berjudul Geologi dan Studi Sikuen
Stratigrafi Formasi Talang Akar Lapangan “ Y “ Cekungan Jawa Barat Utara,
berdasarkan Data Sumur dan Seismik, , diharapkan penulis mampu memanfaatkan
dan menggunakan data secara benar dalam rangka melakukan pendekatan interpretasi
dan analisis data bawah permukaan dengan baik. Adapun hasil yang diharapkan dari
pemanfaatan data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

 Data Inti Batuan (Core)

Dari data inti batuan (core) yang dimanfaatkan dalam penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi dalam penentuan litologi dan penentuan fasies
pengendapan berdasarkan aspek fisik, kimia dan biologi secara langsung dari suatu
kedalaman tertentu dari Formasi Talang akar.

 Data Serbuk Bor (Cutting)

Hasil yang dapat diharapkan dari data serbuk bor adalah berupa deskripsi batuan
pada kedalaman tertentu . Data serbuk bor juga dapat memberikan informasi
berupa indikasi adanya oil show yang terkandung pada batuan reservoar.

 Data Log sumur (Wireline Log)

Dengan menggunakan data log sumur maka diharapkan dapat


memperolehparameter-parameter penting dalam studi peneltian, diantaranya
variasi litologi yang ditentukan berdasarkan nilai kurva log Gamma Ray, density,
neutron dan resistivityserta kurva log lainnya dan juga untuk penentuan fasies
pengendapan berdasarkan pola log Gamma Ray (GR) yang berkembang
(Electrofacies). Dari data log sumur digunakan pula untuk menentukan parameter-
parameter sikuen stratigrafi berupa key surfaces baik sequence boundary (SB)
maupun maximum flooding surface (MFS) serta tipe system tract berupa lowstand
system tract (LST), transgressive system tract (TST), maupun high stand sytem
tract (HST).

9
 Data Seismik

Data seismik yang digunakan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam


melakukan interpretasi paramater sikuen dengan memperhatikan kemenerusan dari
bidang refleksi yang dibentuk oleh parameter peak maupun through yang
nantinya diharapkan dapat menjadi dasar dalam menentukan pola terminasi
seismik berupa onlap, downlap, toplap, offlap, maupun erosional truncation,
untuk melihat adanya discontinuity atau unconformity serta analisis konfigurasi
seismic untuk menentukan facies seismik yang berkembang (oblique, sigmoid,
complex oblique- sigmoid, parallel, mounded, chaotic, dan sebagainya) untuk
menentukan parasequence maupun parasequence sets yang terdapat dalam system
tract pada Formasi Talang akar . Selain parameter sikuen stratigrafi, data seismik
juga digunakan untuk interpretasi struktur regional berupa patahan maupun lipatan
yang berkembang pada area Formasi Talang akar.

 Data Paleontologi

Data paleontologi baik mikrofosil, makrofosil maupun fosil jejak (trace


fossils) dapat digunakan untuk mendukung interpretasi lingkungan pengendapan
yang dilakukan dengan data log dan inti bor. Selain itu juga dapat digunakan untuk
menentukan umur batuan, sehingga dalam model yang dibangun dapat diterapkan
hubungan kesamaan waktu (korelasi).

1.6. Alat dan Fasilitas

Untuk mendukung kegiatan penelitian maka dibutuhkan beberapa alat pendukung


diantaranya:

1. Data wireline log

2. Data seismic 3 D

3. Data inti batuan atau core dan serbuk pemboran atau cutting

10
4. Seperangkat computer (selama berada di lingkungan perusahaan)

5. Literatur terkait

6. Peralatan lain yang dapat menunjang penilitan

Fasilitas:

1. Akses ke perpustakaan

2. Akses ke internet

3. Akses untuk penggandaan data

4. Pembimbing dari perusahaan

1.7. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini antara lain:

[Link] untuk Keilmuan (Penulis)

 Memberikan pengetahuan mengenai keadaan geologi bawah permukaan dari


Formasi Talang akar dengan melakukan analisis dan interpretasi terhadap data
yang diberikan.

 Memberikan informasi, pengetahuan serta keterampilan tentang perolehan,


pengolahan, dan analisis data berupa data bawah permukaan yakni data sumur dan
juga data seismik dalam memecahkan permasalahan stratigrafi menggunakan
konsep geologi dan sikuen stratigrafi.

 Mampu mengaplikasikan teori yang didapat di bangku kuliah untuk


diimplementasikan secara langsung di lapangan atau dunia kerja.

[Link] untuk Perusahaan (PT. PERTAMINA UTC)

 Membantu memecahkan permasalahan geologi yang berhubungan dengan analisis


dan intepretasi data bawah permukaan Formasi Talang akar.

11
 Memberikan data evaluasi terhadap permasalahan stratigrafi Formasi Talang akar
dengan menggunakan metode sikuen stratigrafi.

 Memberikan evaluasi yakni gambaran umum dari kondisi geologi bawah


permukaan yakni kondisi stratigrafi maupun kondisi struktur geologi dan
mengenai sejarah sedimentasi, tektonik, paleogeografi ataupun eustasi yang
menghasilkan unit-unit batuan sedimen yang terdapat pada Formasi Talang akar
sehingga diharapkan dapat bermanfaat dalam pendekatan untuk mengetahui
prospek reservoar.

[Link] untuk Institusi Pendidikan (UPN “Veteran” Yogyakarta)

 Memberikan kesempatan bagi calon Sarjana Teknik Geologi Universitas


Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta untuk terjun secara langsung dalam
dunia industri sehingga kedepannya dapat menambah pengalaman dan
kemampuan bagi mahasiswa tersebut sebelum berkecimpung didalam dunia kerja.

 Menjalin kerja sama yang mendukung satu sama lain antara pihak institusi
universitas dengan pihak perusahaan yang terkait.

1.8. Pebimbing

Untuk pembimbing dilapangan diharapkan dapat disediakan oleh perusahaan,


sedangkan untuk pembimbing di universitas, penulis telah mendapatkan dari salah satu
staff pengajar pada Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

12
BAB 2

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan konsep sikuen


stratigrafi dengan mengintegrasikan data log sumur, inti bor, serbuk bor, data seismik
dan data paleontologi. Untuk memperlancar pelaksanaan penelitian maka dilakukan
dengan beberapa tahapan sebagai berikut.

2.1. Tahap Pendahuluan


2.1.1 Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan tahap awal yang cukup penting dimana dari studi
pustaka penulis mendapatkan referensi-referensi awal yang berkaitan secara langsung
dalam pelaksanaan penelitian, referensi yang dimaksud terkait dengan daerah telitian
berupa geologi regional yang didapatkan dari literatur, jurnal, maupun dari laporan-
laporan terdahulu dari daerah telitian, dalam hal ini ialah geologi regional cekungan
Jawa Barat Utara terkait stratigrafi dan struktur-struktur yang berkembang dalam
cekungan tersebut, selain itu studi literatur mengenai teori dan konsep yang
berhubungan dengan studi daerah telitian juga sangat diperlukan dalam menunjang
analisis dan interpretasi agar didapatkan hasil yang memuaskan dan dapat
dipertanggung jawabkan.

2.1.2 Penyusunan Proposal

Penyusunan proposal merupakan tahapan yang dilakukan setelah ditentukannya


topik ataupun judul skripsi terkait dengan studi yang akan diangkat. Penentuan topik
dan materi serta teori yang terkait tentunya berasal dari minat penulis yang selanjutnya
didiskusikan bersama dengan para pihak yang berkompeten sebelum proposal ini
disetujui dan disahkan oleh Dosen Pembimbing I dari Jurusan Teknik Geologi, UPN
“Veteran” Yogyakarta.

13
[Link] Penelitian
2.2.1 Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan dilakukan penulis agar dapat memperoleh gambaran umum


dalam rangka memahami langkah-langkah awal dalam pelaksanaan penelitian tentang
pemahaman mengenai inti permasalahan topik tersebut. Untuk itu diperlukan studi
yang terarah dari beberapa pustaka yang menjelaskan tentang kondisi geologi
cekungan terkait dan studi mengenai topik yang diangkat.

2.2.2 Studi Regional

Studi regional dilakukan untuk menyusun hipotesis tentang kondisi geologi


regional, latar belakang masalah, serta tujuan penelitian sehingga dapat memberikan
gambaran awal tentang kondisi geologi pada daerah telitian, dalam hal ini ialah
Formasi Talang akar yang terdapat dalam Subcekungan Jatibarang, Jawa Barat.

2.2.3 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah studi pendahuluan dan studi regional


tercapai, pengumpulan data meliputi data-data bawah permukaan, yakni data seismik,
data sumur berupa log sumur (wireline log) dan inti batuan (core) serta serbuk bor
(cutting), serta data paleontologi. Dalam penelitian ini data yang digunakan diambil
dari salah satu lapangan minyak (eksplorasi atau eksploitasi) milik PT. PERTAMINA
UTC.

Adapun data yang dibutuhkan meliputi data primer dan data sekunder. Adapun data-
data primer meliputi :

a) Data log sumur (sinar gamma, resistivitas, neutron, densitas).


b) Data seismik berupa penampang seismik amplitudo yang digunakan untuk
mengetahui konfigurasi stratigrafi bawah permukaan dengan mengacu pada pola-

14
pola terminasi dan konfigurasi seismik, struktur geologi makro yang berkembang
serta menarik kemenerusan horizon marker daerah telitian.

Data sekunder meliputi:

a) Data serbuk bor (cutting) atau Core, guna mengetahui litologi yang berkembang
pada daerah telitian, dan data paleontologi, serta untuk menunjang interpretasi data
log sumur.
b) Data-data geologi daerah telitian dari literatur, jurnal, makalah maupun dari
laporan penelitian terdahulu.

2.2.4 Interpretasi Data

Pada tahapan interpretasi data dilakukan analisis yang terkait dengan studi
penelitian yakni sikuen stratigrafi mengenai susunan-susunan tertata berdasarkan unit
genetik pada Formasi Talang akar, analisis dan interpretasi menggunakan data utama
berupa data log dan data seismik untuk melakukan analisis sikuen yang nantinya akan
dikorelasikan dan integrasikan untuk mendapatkan konfigurasi stratigrafi bawah
permukaan yang tentunya akan didasari pula oleh aspek-aspek geologi lainnya yang
mendukung interpretasi.

Interpretasi data sumur dilakukan untuk menentukan susunan litologi pada


Formasi Talang akar serta dipergunakan untuk menentukan fasies pengendapan dan
lingkungan pengendapan yang mana diharapkan dapat mengetahui sejarah geologi
berupa sejarah sedimentasi yang akan dikaitkan dengan konsep sikuen stratigrafi.

Interpretasi data sumur dari wireline log juga harus ditunjang oleh data-
data lainnya seperti data inti batuan (core), serbuk bor (cutting), dan data paleontologi
untuk memperkuat hipotesa geologi. Sementara itu data log sumur dalam kaitannya
dengan kurva log Gamma Ray (log GR) dan Spontaneous Potential (log SP)
digunakan untuk melakukan analisis facies pengendapan berdasarkan atas pola log
yakni cylindrical, irreguler, bell shaped, funnel shaped, dan symetrical-

15
asymetricalshaped yang mana pola-pola log ini mampu merepresentasikan proses
sedimentasi yang bekerja sehingga membentuk adanya pola khusus tersebut sehingga
dari pendekatan ini mampu dijadikan acuan dalam melakukan interpretasi facies
pengendapan yang tentunya diintegrasikan dengan data langsung berupa data inti
batuan dan data serbuk bor. Selain itu data kurva log sumur digunakan untuk
melakukan interpretasi dalam rangka menetukan marker straigrafi (stratigraphy
boundary) yakni key surfaces yang berupa sequence boundary (SB), transgressive
surface (TS) maupun maximum flooding surface (MFS) serta menentukan tipesystem
tract yang berkembang, berupa lowstand system tract (LST), transgressive system
tract (TST), maupun high stand sytem tract (HST), dimana tiap-tiap system tract akan
dibangun oleh parasequence maupun parasequence sets tertentu.

Interpretasi data seismik berupa seismik 3D dilakukan melakukan tracing


terhadap kemenerusan atau kontinuitas dari bidang refleksi yang dibentuk oleh
parameter peak maupun through yang nantinya diharapkan dapat menjadi dasar
dalam menentukan pola terminasi seismik berupa onlap, downlap, toplap, offlap,
maupun erosional truncation. Analisis terhadap bidang discontinuity atau
unconfirmity dari terminasi seismik digunakan sebagai acuan untuk menentukan
marker stratigrafi (stratigraphy boundary) yaitu bidang kunci sequence boundary
(SB), transgressive surface (TS), dan maximum flooding surface (MFS). Analisis
terhadap konfigurasi seismik untuk menentukan facies seismik yang berkembang
(oblique, sigmoid, complex oblique-sigmoid, parallel, mounded, chaotic, dan
sebagainya) untuk menentukan parasequence maupun parasequence sets yang
membangun suatu system tract (LST,TST, dan HST) yang dibatasi oleh marker
stratigrafi (SB,TS,MFS) pada Formasi Talang akar. Dalam melakukan interpretasi
kualitatif terhadap komponen-komponen sikuen stratigrafi pada data seismik,
dilakukan pula integrasi dengan data log sumur. Selain parameter sikuen stratigrafi,
data seismik juga digunakan untuk interpretasi struktur regional berupa patahan
maupun lipatan yang berkembang pada area Formasi Talang akar.

16
Dari hasil-hasil interpretasi data yang telah dilakukan, maka dapat dibuat
korelasi baik korelasi struktur maupun korelasi stratigrafi. Korelasi dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui pelamparan lateral dari tiap-tiap unit genetik (system
tract) yang dibatasi oleh suatu marker stratigrafi (key surfaces), sehingga didapatkan
gambaran mengenai kondisi geologi berupa kondisi stratigrafi dan struktur geologi
pada daerah telitian, dalam hal ini ialah Formasi Talang akar, selain itu dapat diketahui
sejarah geologi meliputi sejarah sedimentasi, dinamika suplai sedimen asal darat, iklim
purba (paleoclimate) dan sejarah tektonik yang mengontrol pembentukan
akomodasi (accomodation space) termasuk di dalamnya dinamika sea level
changing sebagai respon terhadap dinamika subsidence dan eustacy yang
mengontrol paket-paket sedimentasi yang membangun Formasi Talang akar.

[Link] Tahap Interpretasi Data:

a) Analisa litologi berdasarkan pola log sinar gamma, resistivitas, log densitas, log
neutron, dan log lainnya yang mendukung, ditunjang pula dengan data inti batuan
dan serbuk pemboran.
b) Analisa facies pengendapan berdasarkan atas pola kurva log sumur (electrofacies),
ditunjang dengan data inti batuan dan data paleontologi.
c) Penentuan komponen sikuen stratigrafi berupa marker stratigrafi berupa sequence
boundary, transgressive surface, dan maximum flooding surface (SB, TS dan
MFS) pada kurva log sumur.
d) Penentuan komponen sikuen stratigrafi yakni system tract baik berupa low stand
system tract (LST), transgressive system tract (TST), maupun high stand system
tract (HST) pada kurva log sumur.
e) Interpretasi struktur makro pada penampang line seismik.
f) Penentuan pola terminasi seismik refleksi untuk mendeterminasi adanya
ketidakmenerusan bidang refleksi sebagai dasar penentuan marker stratigrafi (key
surfaces).

17
g) Penentuan facies seismik berdasarkan konfigurasi seismik untuk penentuan system
tract.
h) Integrasi data sumur dengan data seismik untuk mendapatkan pelamparan lateral
dari tiap-tiap komponen sikuen stratigrafi pada penampang seismik.
i) Korelasi stratigrafi antar tiap log sumur dengan metoda sikuen stratigrafi ditunjang
dengan data paleontologi.
j) Korelasi struktur antar tiap log sumur untuk mengetahui konfigurasi struktur
geologi daerah telitian.
k) Membuat peta penyebaran komponen sikuen stratigrafi masing-masing sytem
tract, yakni peta penyebaran Low stand sytem tract, transgressive system tract,
dan high stand system tract.
l) Interpretasi sejarah geologi baik sejarah sedimentasi maupun struktur geologi yang
meliputi sejarah sedimentasi, dinamika suplai sedimen asal darat, iklim purba
(paleoclimate) dan sejarah tektonik yang mengontrol pembentukan akomodasi
(accomodation space) termasuk di dalamnya dinamika sea level changing sebagai
respon terhadap dinamika subsidence dan eustacy yang mengontrol paket-
paketsedimentasi yang membangun Formasi Talang akar.
m) Membuat permodelan paleogeografi berdasarkan dari hasil data diatas dengan
menggunakan pemahaman geologi dan metode sikuen stratigrafi.

18
2.3. Bagan Alir Penelitian

Gambar 1.2 Diagram alir penelitian

19
BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara

[Link] Tektonik Regional

Cekungan Jawa Barat Utara secara geodinamik saat ini berada pada posisi
belakang busur dari jalur Vulkanik Jawa yang merupakan hasil dari subduksi
lempeng India-Australia di selatan terhadap lempeng Eurasia ( paparan sunda ) di
utara. Beberapa peristiwa tektonik yang terjadi sejak Tersier mempengaruhi
pembentukan struktur dan pola sedimentasi cekungan ini.

Gambar 3.1. Jalur Subduksi Meratus (Kapur Akhir-Tersiar Awal) dan Jalur Subduksi
Tersier Akhir (Hutchison, 1982). Panah hijau menunjukan arah tegasan utama
(kompresif) pada masing-masing periode subduksi.

Selama periode Akhir sampai Miosen Awal, berlangsung subduksi yang di


kenal dengan Subduksi Meratus pada batas selatan paparan Sunda dengan jalur gunung
apinya melewati Cekungan Jawa Barat Utara ( Gambar 3.1 ). Menurut Gresko dkk.
(1995), keberadaan subduksi mempengaruhi keadaan cekungan. Terjadi metamorfisme
pada Kapur Akhir, deformasi pada paleosen, serta Vulkanisme sampai Oligosen Awal
diperkirakan berkaitan dengan Subduksi Meratus. Metamorfisme dan Magmatisme

20
yang berlangsung menghasilkan batuan metamorf dan intrusi batuan beku yang
menyusun batuan dasar pada Cekungan Jawa Barat Utara, sedangkan deformasi
menyebabkan pengangkatan dan erosi pada kala Paleosen.

Gambar 3.2. Peta Struktur dan tektonik Oligosen awal pada cekungan jawa barat uata
( Gresko dkk,.1995 )

Jalur Subduksi Meratus yang berarah relatif baratdaya-timurlautmemberikan


tegasan utama kompresif berarah baratlaut-tenggara, menghasilkan struktur sesar-
sesar normal (turun) berarah baratlaut-tenggara di daerah penelitian. Pemekaran
(Rifting) yang diakibarkan pergerakan sesar-sesar turun tersebut menyebabkan
terbentuknya daerah-daerah rendahan (Gambar 3.2) yang kemudian diisi oleh endapan-
endapan yang dihasilkan oleh kegiatan Vulkanisme yang sedang berlangsung (Formasi
Jatibarang).

21
Gambar 3.3. Pergerakan dari selatan dari Kapur sampai Eosen Awal (kanan) yang
kemudian membentuk batas selatan Paparan Sunda (Sribudiyani dkk., 2003)

Pemekaran pada Cekungan Jawa Barat Utara kemudian berhenti pada Oligosen
Awal. Menurut Sribudiyani dkk., 2003, sebua fragmen benua ysng berasal dari selatan
bergerak menuju ke jalur Subduksi Meratus dan mulai menumbuk jalur subduksi
tersebut pada Eosen awal. Tubukan tersebut menyebabkan berhentinya aktivitas
magmatisme sebelumnya (periode Subduksi Meratus) dan terjadi pengangkatan
kompleks subduksi membentuk Pegunungan Meratus di Kalimantan dan kompleks
Lok Ulo di Jawa Tengah (Gambar 3.3), serta menyebabkan berhentinya pemekaran di
Cekungan Jawa Barat Utara.

Setelah berlangsungnya tumbukan fragmen benua dengan tepi tenggara


Paparan Sunda, jalur subduksi baru yang dikenal Subduksi Jawa yang berarahbarat-
timur kemudian muncul. Jalur Subduksi Jawa ini berada di selatan jalur Subduksi
Meratus dan menghasilkan jalur gunung api yang berada di selatanterhadap jalur
gunung api akibat subduksi meratus, sehingga Cekungan Jawa Barat Utara berada di
belakang busur sejak Oligosen (Gambar 3.3).

22
Gambar 3.4. Cekungan-cekungan pull apart yang terbentuk pada Eosen Tengah
sampai Oligosen Akhir (Daly dkk., 1987). Biru: pull apart basin yang terbentuk pada
masing- masing periode.
Daly dkk., 1987 menyatakan bahwa konvergensi antara India dengan Asia
Tenggara sejak Eosen Akhir mengebabkan ekstursi Asia Tenggara melalui beberapa
sesar geser utama yang dianggap berperan dalam menimbulkan fase transtensional
yang berperan dalam pembentukan cekungan-cekungan di region Sumatra dan Jawa
(Sribudiyani dkk., 2003). Rendahan-rendahan yang diakibatkan pergerakan sesar-
sesar normal berarah relatif utara-selatan muncul di Sumatra pada Eosen Tengah dan di
Jawa Barat pada Oligosen (Gambar 3.4). Cekungan Jawa Barat Utara berkembang
menjadi pull apart basin yang terdapat di belakang busur sejak Oligosen.

Gambar 3.5. Penampang barat-timur Cekungan Jawa Barat Utara ( Patmosukismo dan
Yahya, 1974)

23
Pembentukan struktur sesar-sesar nomal (Oligosen Akhir) tersebut
menyebabkan terjadinya pemekaran yang diikuti oleh penurunan dasar cekungan.
Bebrapa tinggian dan rendahan yang terbentuk mengontrol penyebaran dari sedimen
serta membagi Cekungan Jawa Barat Utara menjadi beberapa sub- cekungan: Sub-
cekungan Ciputat, Sub-cekungan Pasirputih, dan Sub-cekungan Jatibarang (Gambar
3.5). Namun pengisian cekungan yang berlangsung cepat dan diikuti oleh adanya
pengangkatan bagian selatan dataran menjadi cekungan padaPlio-
Plistosen mengakibatkan terjadinya penutupan untuk Cekungan Jawa Barat Utara.

[Link] Regional

Cekungan ini merupakan cekungan belakang busur yang sangat luas dan rumit,
yang dimana bagian utara hingga selatannya terdiri dari orientasi sejumlah bentukan
struktur halfgraben. Sub-cekungan ini terletak di tepi selatan dari platform Sunda
(Reksalegora et al., 1996). Cekungan Jawa Barat Utara memiliki akumulasi
Hidrokarbon berlimpah, dan minyak dan gas bumi yang dimana reservoarnya
bertumpukan dengan volkanik klastik, karbonatan, dan lapisan coarsesiliciclastic
(Noble et al., 1997).

Cekungan Jawa Barat Utara sekarang telah dianggap mature, dengan


pembagian untuk bagian atasnya yaitu berupa pasir dari formasi Talang Akar dan
diatasnya ditambah dengan karbonat pada jaman Miosen sepenuhnya. Pertimbangan
mengenai potensi yang ada didaerah tersebut cukup kecil hingga menengah dan dapat
tetap berada dalam pembentukan Jatibarang syn-rift Posisinya lebih rendah dari
formasi Talang Akar, dan terletak didalam karbonat formasi Batu raja.

24
Gambar 3.6. NW Java Basin dan Sunda asri basin (Suryono et all,2005)

Gambar 3.7. Stratigrafi Cekungan Jawa Barat Utara (Noble et all,1997)

25
3.2. Konsep Sikuen Stratigrafi

Di dalam Siliciclastic Sequence Stratigraphy - Concepts and Applications,


sikuen stratigrafi dijelaskan sebagai, ”a rock relationships within a time–
stratigraphic framework of repetitive, genetically related strata bounded by surfaces of
erosion or nondeposition, or their correlative conformities” (Posamentier et al.,1988;
Van Wagoner et al., 1988).

Jadi secara sederhana sikuen stratigrafi dapat diartikan sebagai suatu ilmu
tentang hubungan perulangan batuan di dalam suatu kerangka waktu stratigrafi yang
mana lapisan- lapisan yang terhubung secara genetik dibatasi oleh suatu bidang erosi
atau periode dimana tidak terjadi pengendapan, atau adanya hubungan keselarasan.

Didalam istilah yang lebih praktis, sikuen stratigrafi menyangkut analisis pola
dari siklus sedimentasi yang hadir dalam urut-urutan stratigrafi yang mana berkembang
sebagai akibat dari adanya variasi suplai sedimen dan ruang yang tersedia bagi
sedimen untuk terakumulasi.

3.2.1 Parameter-Parameter Sikuen Stratigrafi

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi pola facies dan arsitektur dari strata
didalam cekungan sedimentasi antara lain yaitu akomodasi sedimen (fungsi dari
eustasi, tektonik, kompaksi sedimen, tatanan fisiografi), tingkat suplai sedimen dan
fisiografi dari cekungan, namun secara khususnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Eustasi (sea level change)

Perubahan eustasi berkaitan dengan perubahan glasial, deformasi kulit bumi


akibat pemekaran lempeng, subduksi, kolisi, sedimentasi, faktor astronomi
(teori Milankovitch).

2. Tektonik

Tektonik memerankan peran penting dalam kaitannya tentang pembentukan


akomodasi sedimen, tektonik memberikan pengaruh langsung pada naik atau turunnya

26
cekungan sedimentasi (subsidence dan uplift), selain itu juga memberikan dampak
pada tingkat suplai sedimen.

3. Muka Laut Relatif (Relative sea Level)


Permukaan air laut relatif terkait erat dengan tektonik meliputi penurunan dasar
cekungan maupun pengangkatan, relative sea level juga merupakan fungsi dari tingkat
eustasi, jadi baik tektonik maupun eustasi, keduanya mempengaruhi perilaku dari
perubahan muka air laut. Naik atau turunnya muka air laut sangat penting karena
merupakan kunci dalam menghasilkan pola sedimentasi dalam suatu fisiografi
pengendapan dan membatasi suatu paket-paket sedimen kedalam unit-unit genetik
tertentu, selain itu naik atau turunnya muka air laut memberikan perbedaan dari segi
litologi dan proses-proses yang terkait selama proses ini terjadi akan
meninggalkan jejak-jejak tertentu yang nantinya digunakan sebagai kunci dalam
pemecahan konsep sikuen stratigrafi.

4. Akomodasi

Akomodasi ialah ruang yang dibutuhkan oleh sedimen untuk terakumulasi,


akomodasi merupakan fungsi dari parameter-parameter seperti eustasi dan tektonik
dimana akan berkaitan erat pula dengan variasi perubahan muka air laut, merupakan
salah satu faktor penting dalam sikuen stratigrafi, secara praktis akomodasi dapat
diartikan sebagai ruang yang hadir diantara lantai samudra dengan muka air laut.

5. Suplai sedimen

Kontrol utama yang mempengaruhi suplai sedimen antara lain iklim, relief
daridrainage fluvial basin, litologi dari subtrat dan vegetasi penutup. Adanya
perubahan tingkat suplai sedimen dapat disebabkan oleh tektonik dan perubahan iklim,
selain itu faktor lain seperti kapasitas media discharge, dalam hal ini fluvial sistem
turut mempengaruhi tingkatinflu sedimen yang masuk kedalam ruang akomodasi.

27
6. Fisiografi cekungan

Fisiografi cekungan dapat memerankan peranan yang cukup penting dalam


rangka menghasilkan arsitektur stratigrafi. Macam-macam aspek dari fisiografi yang
dapat mempengaruhi arsitektur stratigrafi secara signifikan antara lain hadir atau
tidaknya slope break, besarnya sudut dari shelf dan slope,lebarnya shelf, ataukah ada
tidaknya penimbunan yang terlokalisasi atau wilayah-wilayah didalam cekungan yang
mengalami pengangkatan.

3.2.2 Tata Tingkatan Sikuen Stratigrafi

Berdasarkan kronostratigrafinya, secara garis besar sikuen stratigrafi dapat


dikelompokkan menjadi beberapa orde sikuen pengendapan (Gambar 3.8), yaitu:

Gambar 3.8. Orde sikuen pengendapan (Van Wagoner , [Link], 1991)

Parasikuen

Parasikuen dapat diartikan sebagai urutan yang relatif selaras dari lapisan-
lapisan(beds) atau kumpulan lapisan (bedsets) yang terkait secara genetik dan dibatasi
oleh permukaan marine flooding yaitu bidang batas yang memisahkan antara

28
parasikuen yang diakibatkan karena bertambahnya kedalaman air laut secara tiba-
tiba dan perlamparanya ke arah lateral.

Parasikuenset

Parasikuenset merupakan tingkatan yang lebih besar daripada parasikuen,


dimana dapat diartikan sebagai suatu urutan yang relatif selaras dari kumpulan
parasikuen yang terkait secara genetik membentuk pola penumpukan yang khusus dan
biasanya dibatasi oleh permukaan marine flooding utama dan bidang-
bidang korelatifnya.

Sikuen

Sikuen dapat diartikan sebagai suatu urutan yang relatif selaras dari strata yang
terkait secara genetik dan dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan dan keselerasan
korelatifnya. Suatu sikuen diinterpretasikan diendapkan selama satu sea level
cycle dari sequence boundary yang satu sampai sequence boundary berikutnya. Tipe-
tipe SB yaitu:

a. Tipe 1 Sequence Boundary


Merupakan suatu ketidakselarasan regional yang terbentuk pada
keadaan dimana tingkat penurunan eustasi lebih besar dibandingkan dengan
tingkat penurunan cekungan, hal ini menyebabkan muka air laut turun dan
menghasilkansequence boundary tipe 1, sikuen ini sering diartikan oleh
beberapa peneliti sebagai suatu ketidakselarasan dengan skala yang lebih besar
ketimbang sequence boundarytipe 2 dan juga kadang disalah artikan sebagai
penurunan muka air laut yang menyebabkan tersingkapnya seluruh bagian
dari shelf.

29
b. Tipe 2 Sequence Boundary

Terbentuk ketika tingkat penurunan eustasi lebih kecil dibandingkan


dengan tingkat penurunan cekungan, hal ini menyebabkan muka air laut naik
dalam tingkat kecepatan yang rendah dan tidak terjadi periode penurunan muka
air laut dalam fase ini, sikuen ini sering disalah artikan sebagai penurunan
muka air laut yang tidak mengekspos keseluruhan bagian dari shelf.

3.2.3 Pola Penumpukan

Pola penumpukan adalah ragam gambaran dimana parasequences atau parasequence


sets yang semakin lebih muda berlapis satu di atas yang lainnya. Pola penumpukan
terdiri dari:
[Link]
Terjadi ketika rate of sediment supply lebih besar ketimbang rate of
subsidence (pembentukan akomodasi), endapan-endapan foreshore akan
menumpuk diatas endapan shoreface, dan endapan shoreface akan terendapkan
diatas endapan facies offshore transition, umumnya akan menunjukkan pola
pengkasaran keatas pada log gamma ray (funnel shaped).

b. Aggradational
Terjadi ketika rate of sedimentation seimbang dengan rate of
subsidence, pada keadaan ini material sedimen akan memiliki susunan yang
bertumpuk vertikal tanpa adanya variasi-variasi tertentu,
endapan foreshore akan menumpuk endapan foreshore, dan endapan-
endapan shoreface akan menumpuk diatas endapan shoreface pula, dan
seterusnya. Pada umumnya akan menunjukkan pola blocky pada log gamma
ray (blocky shaped).

30
c. Retrogradational

Terjadi ketika rate of subsidence (pembentukan akomodasi) lebih besar


ketimbang rate of sedimentation, endapan-endapan shoreface akan menumpuk
diatas endapan foreshore, dan seterusnya, umumnya akan menunjukkan pola
penghalusan keatas pada log gamma ray (bell shaped).

Gambar 3.9. Ekspresi log dan penampang dari pola stacking pattern (Van Wagoner ,
[Link], 1991)

3.2.4 Systems Tract

Parasequence dan parasequence sets merupakan pembentuk atau


penyangga system tracts. Tiga system tract yang diketahui
adalah lowstand, transgressive system tract, dan highstand system tract.
Ketiga system tract tersebut didefinisikan berdasarkan pada parasequence d
an parasequence set stacking patterns, geometri perlapisan dari bidang batas dan
posisinya di dalam suatu sikuen (Gambar 3.10).

31
Gambar 3.10. System tract berdasarkan eustasi (modified from Posamentier
and others, 1988)

a. Lowstand Systems Tracts (LST)


Merupakan endapan yang terbentuk selama periode muka air laut rendah. Muka
air laut naik secara perlahan namun tingkat suplai sedimen masih relatif tinggi. Sungai
berhenti mengerosi namun tetap bergerak melewati paparan mengakibatkan
berlanjutnya sedimentasi menuju kipas bawah laut (basin-floor fan) sebagai endapan
turbidit. Sedimen juga mulai menumpuk diatas kipas pada dasar lereng untuk
membentuk lowstand wedge. Pola penumpukan dari endapan ini pada awalnya
progradasional, lalu menjadi aggradasional pada lowstand wedge sebagai indikator
terjadinya peningkatan derajad muka air laut. Pada bagian bawahnya dibatasi
oleh Sequence Boundary sementara pada bagian atas dibatasi olehTransgressive
Surface.

b. Transgressive System Tract (TST)

Merupakan endapan-endapan yang terbentuk selama periode kenaikan muka air


laut relatif dimana tingkat pembentukan akomodasi lebih besar daripada tingkat suplai
sedimen. Menunjukkan pola penumpukan retrogradasional dimana garis pantai
bergerak relatif kearah darat. Sedimen tidak lagi tersuplai menuju basin-
floor dikarenakan akomodasi yang tidak memadai di shelf. TST ini dibatasi pada base-
nya oleh transgressive surface dan padatop-nya oleh maximum flooding surface. TST

32
terdiri dari backstepping parasequencesdengan pola finning upward. Biasanya TST
menunjukkan onlap diatas sequence boundarydalam suatu arah menuju daratan
dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan laut.

c. Highstand System Tract (HST)


Merupakan endapan yang terbentuk selama periode muka air laut yang tinggi,
endapan-endapan dapat menunjukkan pola penumpukan baik aggradational maupun
progradational yang menyebabkan garis pantai bergerak semakin kearah laut. Sedimen
disuplai oleh sungai-sungai dari darat dan kebanyakan akumulasinya terjadi pada shelf
dengan presentasi kecil dari sedimen yang mencapai cekungan yang lebih dalam. HST
dibatasi pada dasarnya oleh MFS dan pada top-nya oleh yaitu SB. Kearah daratan dari
HST meningkat dari aggradational menjadi progradational. HST menunjukkan
terminasi onlap pada SB ke arah daratan, dan menunjukkan downlap pada top TST
ke arah cekungan. Pada penampang amplitudo seismik, awal HST dicirikan terutama
oleh progradational offlap sedangkan akhir HST dicirikan oleh oblique offlap dan
kenampakan log berupa coarsening- upward pattern.

3.2.5 Permukaan dalam Sikuen Pengendapan

[Link] boundary (SB)

Adalah ketidakselarasan dan keselarasan padanannya yang terjadi selama jangka


waktu penurunan relatif permukaan laut. Sungai-sungai mengerosi sedimen yang ada
dari siklus pengendapan sebelumnya pada shelf, erosi ini ini kemudian membentuk
ketidakselarasan. Pada kurun ketika penurunan muka air laut mencapai shelf edge, maka
baik material yang dibawa oleh sungai dan material hasil erosi pada shelf akan terbawa
melewati shelf edge dan terendapkan pada basin-floor sebagai endapan turbidit
membentukbasin-floor submarine fan, pada saat periode tersebut, ketidakselarasan tidak
terbentuk namun ditandai dengan keselarasan padanannya (correlative conformity).

33
[Link] surface (TS)

Merupakan titik dimana tingkat pembentukan akomodasi lebih besar dari pada
tingkat suplai sedimen, menyebabkan terjadinya kenaikan muka air laut relatif.
Menandai mulanya pola retrogradational di dalam runtutan sedimentasi sebagai
indikasi bahwa besar akomodasi melebihi suplai sedimen. Jika suplai sedimen relatif
rendah maka TS kemungkinan bersifat erosional. Permukaan hasil erosional yang
terbentuk pada periode transgresi disebut sebagai ravinement surfaces dan terbentuk
karena tingkat energi ombak yang tinggi di laut dangkal. TS terletak pada top dari LST
dan pada bottom dari TST. Dalam skala regional, TS ini memisahkan parasequence
progradational atau aggradational LST yang terletak dibawahnya dengan
parasikuen back stepping “TST” yang terletak diatasnya.

[Link] flooding surface (MFS)

Merupakan permukaan yang terdapat pada titik dimana kecepatan kenaikan


muka air laut mulai menurun secara perlahan dan sistem pengendapan mencapai
keadaan dimana besar akomodasi seimbang dengan tingkat suplai sedimen, ketika hal
ini terjadi, transgresi berhenti dan garis pantai pada mulanya akan akan tetap statis lalu
kemudian bergerak ke arah laut. Tingkat sedimentasi yang sangat rendah
pada shelf dapat dikenali dengan beberapa penciri seperti
kehadiran glauconite dan phosporites, condensed beds yang kaya akan fosil dan
bukti dari sea-floor cementation dari hargrounds dan firmgrounds. MFS
membentuk top TST dan bottom dari HST. Prograding clinoforms dari HST yang
menutupinya menunjukkan downlap keatas MFS.

3.2.6 Konsep Dasar Korelasi

Korelasi merupakan langkah penentuan unit stratigrafi dan struktur yang


mempunyai persamaan waktu, umur dan posisi stratigrafi. Hal penting yang perlu
dilakukan sebelum melakukan korelasi adalah memilih kandidat bidang datum yang

34
kita yakini kebenarannya dan mudah dikenali. North American Stratigraphic Code
tahun 1983 mengenali tiga macam korelasi yang utama, yakni : Lithocorrelation,
dimana menghubungkan unit-unit dari kesamaan lithologi dan posisi
stratigrafi; Biocorrelation, dimana mencerminkan kesamaan kandungan fosil dan
posisi biostratigrafi; dan Chronocorrelation, dimana mengekspresikan suatu umur dan
posisi kronostratigrafi, umumnya bidang atau lapisan penciri yang dipakai
adalah flooding surface (FS) atau sequence boundary (SB).

Beberapa kesulitan-kesulitan umum dalam pekerjaan korelasi antara lain: (1)


diskontinuitas dari unit stratigrafi; (2) Kerumitan struktural; (3) variasi lateral dalam
ketebalan, lithologi, paleontologi; (4) miskin perkembangan atau ketidakhadiran
lapisan marker; (5) kehadiran ketidakselarasan yang tidak dikenali; (6) kontrol
penampang dalam jumlah terbatas; (7) Keberagaman nomenclature dari lithogenetik
dan time-stratigrapy; (8) kekeliruan data, dan (9) personal yang kurang pengalaman
dalam memecahkan permasalahan yang ada.

3.2.7 Penampang Bawah Permukaan


Ada dua macam penampang bawah permukaan, yaitu penampang stratigrafi
dan penampang struktur. Pembuatan penampang stratigrafi bawah permukaan
dilakukan untuk merekonstruksi kondisi geologi suatu cekungan pada saat
pengendapan. Sedangkan penampang struktur bawah permukaan digunakan untuk
merekonstruksi kondisi geologi bawah permukaan suatu cekungan pada saat sekarang
(aktual).

3.3. Interpretasi Data Sumur

[Link] Batuan (Core)

Core adalah inti batuan dengan diameter 2-5 inchi yang diambil dari bawah
permukaan untuk keperluan kalibrasi log sumur. Data core diambil pada beberapa titik
didalam sumur, terutama pada horison-horison yang potensial produksi, dimana
informasi yang lebih detil dibutuhkan dan informasi dari cutting tidak mencukupi.

35
Ada 2 tipe core :

1. Conventional Core : Core yang di ambil pada saat pemboran


2. Sidewall Core : Core yang di ambil sesudah pemboran bersamaan
dengan proses logging dimana Sidewall Core dikerjakan pada saat Recovery
Core dari metode Conventional, hasilnya kecil atau tidak di dapatkan

Infomasi yang didapatkan dari data core antara lain :

 Identifikasi litologi dan struktur sedimen


 Porositas dan Permeabilitas
 Kejenuhan fluida dalam batuan
 Oil staining

[Link] Serbuk Bor (cutting)

Analisis serbuk bor digunakan sebagai data pendukung guna melengkapi


interpretas dari data inti batuan utuk melakukan analisis fasies lingkungan
pengendapan dari reservoir tersebut.

3.3.3. Log Sumur (Wireline Log)


Log merupakan suatu gambaran terhadap kedalaman dari suatu perangkat yang
mewakili parameter-parameter yang dapat diukur secara menerus di dalam suatu
sumur. Adapun parameter-parameter yang dapat diukur adalah sifat kelistrikan
(spontaneous potential), tahanan jenis batuan (resistivity), daya hantar listrik
(conductivity), sifat keradioaktifan (radioactivity) dan sifat meneruskan gelombang
suara. Metode perekamannya dengan menggunakan cara menurunkan suatu sonde atau
peralatan ke dasar lubang pemboran.
Jenis – jenis log berdasarkan fungsinya adalah:

a. Log Spontaneous Potensial (SP)

Kurva SP adalah rekaman perbedaan potensial antara elektroda


yangzbergerak di dalam lubang bor dengan elektroda di permukaan. Satuannya
adalah millivolt. Kurva SP yang menunjukan garis lurus umumnya

36
disebut garis dasar serpih,sedangkan pada formasi permeabel kurva SP
menyimpang dari garis dasar serpih dan mencapai garis konstan pada lapisan
permeabel yang cukup tebal, yaitu garis pasir. Penyimpangan SP dapat ke kiri
atau ke kanan tergantung pada kadar garam dari formasi dan filtrasi lumpur.

b. Log Gamma Ray (GR)

Prinsip log GR adalah perekaman radioaktivitas alami bumi.


Radioaktivitas GR berasal dari 3 unsur radioaktif yang ada dalam batuan
yaitu Uranium–U,Thorium–Th, dan Potasium–K, yang secara kontinyu
memancarkan GR dalam bentuk pulsa–pulsa energi radiasi tinggi. Sinar
Gamma ini mampu menembus batuan dan dideteksi oleh sensor sinar gamma
yang umumnya berupa detektor sintilasi. Setiap GR yang terdeteksi akan
menimbulkan pulsa listrik pada detektor. Parameter yang direkam adalah
jumlah dari pulsa yang tercatat per satuan waktu (sering disebut cacah GR).
Tingkat radiasi serpih lebih tinggi dibandingkan batuan lain karena unsur –
unsur radioaktif cenderung mengendap di lapisan serpih yang tidak permeabel,
karena itu GR log mampu memisahkan dengan baik antara lapisan serpih dari
lapisan permeabel.

c. Log Densitas
Log densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur
densitas elektron suatu formasi. Prinsip pencatatan dari log densitas adalah
suatu sumber radioaktif yang dimasukkan kedalam lubang bor mengemisikan
sinar gamma kedalam formasi. Di dalam formasi sinar tersebut akan
bertabrakan dengan elektron dari formasi. Pada setiap tabrakan sinar gamma
akan berkurang energinya. Sinar gamma yang terhamburkan dan mencapai
detektor pada suatu jarak tertentu dari sumber dihitung sebagai indikasi
densitas formasi. Jumlah tabrakan merupakan fungsi langsung dari jumlah
elektron didalam suatu formasi. Karena itu log densitas dapat mendeterminasi
densitas elektron formasi dihubungkan dengan densitas bulk sesungguhnya

37
didalam gr/cc, densitas matrik batuan, porositas, dan densitas fluida pengisi
formasi.

d. Log Neutron

Log neutron merupakan tipe log porositas yang mengukur konsentrasi


ion hidrogen dalam suatu formasi. Di dalam formasi bersih dimana porositas
diisi air atau minyak, log neutron mencatat porositas yang diisi cairan. Neutron
energi tinggi yang dihasilkan oleh suatu sumber kimia ditembakkan kedalam
formasi, sebagai akibatnya neutron kehilangan energinya. Kehilangan energi
maksimum akan terjadi pada saat neutron bertabrakan dengan atom hidrogen
karena kedua atom tersebut mempunyai massa yang hampir sama. Karena itu
kehilangan energi maksimum merupakan fungsi dari konsentrasi hidrogen
dalam formasi, karena dalam formasi yang sarang hidrogen terkonsentrasi
didalam pori-pori yang terisi cairan, maka kehilangan energi akan dapat
dihubungkan dengan porositas formasi.

e. Log Sonik

Log sonik merupakan suatu log yang mengukur interval waktu lewat
dari suatu gelombang suara kompressional untuk melalui suatu feet formasi.
Interval waktu lewat dengan satuan mikrodetik per kaki merupakan kebalikan
kecepatan gelombang suara kompresional (satuan feet per detik). Harga log
sonik tergantung pada litologi dan porositas.

[Link].Wireline Log untuk Identifikasi Fasies Pengendapan (Electrofacies)

[Link]
Bentuk silinder pada log GR atau SP dapat menunjukkan sedimen tebal
dan homogen yang dibatasi oleh pengisian channel (channel-fills) dengan
kontak yang tajam. Cylindrical merupakan bentuk dasar yang mewakili
homogenitas dan ideal sifatnya. Bentuk cylindrical diasosiasikan dengan
endapan sedimen braided channel, estuarine atau sub-marine channel fill,
anastomosed channel, eolian dune, tidal sand.

38
2. Irregular

Bentuk ini merupakan dasar untuk mewakili heterogenitas batuan


reservoar. Bentuk irregular diasosiasikan dengan sedimen alluvial plain,
floodplain, tidal sands, shelf atau back barriers. Umumnya mengidentifikasikan
lapisan tipis silang siur (thin interbedaed). Unsur endapan tipis mungkin
berupacreavasse splay, overbanks deposits dalam laguna serta turbidit.

3. Bell Shaped
Profil berbentuk bell menunjukkan penghalusan ke arah atas,
kemungkinan akibat pengisian channel (channel fills). Pengamatan membuktikan
bahwa range besar butir pada setiap level cenderung sama, namun jumlahnya
memperlihatkan gradasi menuju berbutiri halus (dalam artian lempung yang
bersifat radioaktif makin banyak ke atas). Bnetuk bell dihasilkan oleh
endapan point bars, tidal deposits, transgressive shelf sands (dominated tidal),
sub marine channel dan endapan turbidit.

4. Funnel Shaped
Profil berbentuk corong (funnel) menunjukkan pengkasaran ke arah atas
yang merupakan bentuk kebalikan dari bentuk bell. Bentuk funnel kemungkinan
dihasilkan sisitem progradasi seperti sub marine fan lobes, regresive shallow
marine bar, barrier islands atau karbonat terumbu depan yang berprogadasi di
atas mudstone, delta front (distributary mounth bar),creavase splay, beach and
barrier beach (barrier island), strandplain, shoreface, prograding (shallow
marine)shelf sands dan submarine fan lobes.

5. Symmetrical-Asymetrical Shapped.
Bentuk symmetrical merupakan kombinasi antara bentuk bell-
[Link] coarseninng-finning upward ini dapat dihasilkan oleh proses
bioturbasi, selain tatanan secara geologi yang merupakan ciri dari shelf sand
bodies, submarine fans and sandy offshore bars. Bentuk asymmetricalmerupakan

39
ketidakselarasan secara proporsional dari kombinasi bell-funnelpada lingkungan
pengendapan yang sama.
Ekspresi kurva log yang umum dapat dilihat pada Gambar 3.11 di bawah ini

Gambar 3.11. Indikasi Lingkungan Pengendapan dari kurva log GR/SP


(Walker,1992)

Pada Gambar 3.12. Menunjukkan hubungan antara ekspresi kurva log


GR/SP dengan produk fasies sedimen sebagai indikator lingkungan
pengendapan.

Gambar 3.12. Indikasi Fasies Pengendapan dari kurva log GR/SP, merupakan
model log dan fasies sedimen yang ideal (modifikasi dari Serra, 1972; Parker,
1977; Galloway dan Hobday, 1983 dalam Rider, 1996)

40
[Link]. Wireline Log untuk Korelasi Sikuen Stratigrafi

Log adalah suatu grafik kedalaman atau waktu dari satu set data yang
menunjukkan parameter yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah
sumur. Suatu korelasi dilakukan dengan menarik marker stratigrafi. Marker inilah
yang harus diidentifikasi pada log. Dalam korelasi, yang umum dijadikan marker
adalah flooding surface atau maximum flooding surface dan sequence boundary.

a. Respon Log GR
Sebagai respon dari flooding surface, log GR akan memberikan
kenampakankick ke arah kanan, yang berarti membesarnya angka pembacaan
sinar gamma secara tiba-tiba. Sedangkan pada maximum flooding surface, log
GR akan menunjukkan angka yang paling besar. Untuk Sequence Boundary
umumnya ditunjukkan bentuk kurva GR yang blocky atau bell shape, dan
umumnya harga kurva GR-nya kecil, hal ini menunjukkan endapan channel.

b. Kombinasi Log Neutron dan Log Densitas


Kombinasi dari log neutron dan log densitas dapat membentuk separasi
atau cross over. Separasi adalah keadaan dimana log densitas dan log neutron
saling menjauhi, log neutron menunjukkan hydrogen index yang besar (ke arah
kiri) sementara log densitas menunjukkan kerapatan yang besar (ke arah
kanan). Kondisi ini umumnya terjadi pada batulempung, dengan demikian
dapat diinterpretasikan bahwa semakin besar separasi akan semakin halus
batuannya, sehingga dapat digunakan untuk menentukanflooding
surface atau maximum flooding surface. Cross over menunjukkan keadaan
yang sebaliknya, yaitu mengindikasikan suatu reservoir yang baik.

41
[Link]. Wireline Log Untuk Menentukan Key Surfacesa.
[Link] Base Erosion

Merupakan sharp base dengan endapan channel berbutir kasar yang


memotong sedimen dibawahnya. Pada kurva log dikarateristikkan oleh adanya
perubahan kearah atas yang jelas dari shale atau silt menjadi pasir dan akan
dapat diidentifikasi dengan metodeelectosequence analysis. Sikuen yang
menumpuk merupakan endapan channel yang nampak pada log sebagai
pendangkalan ke atas dan terjadi pengurangan nilai porositas. Mengindikasikan
adanya erosi channel-base yang bersifat lokal, dapat dilihat pada Gambar
3.13.

Gambar 3.13. Contoh pola kurva log Gamma Ray (GR) untuk erosi
dasar channel. Erosi terjadi pada bagian dasar dari sikuen penghalusan ke atas
yang diinterpretasikan sebagai alluvial channel. (Rider, 1996)

b. Sequence Boundary (SB)

Petunjuk khusus untuk mengidentifikasi batas dari sequence


boundary adalah dengan mengetahui posisinya dalam urutan-
urutan sedimentasi, biasanya ditandai dengan perubahan facies kearah laut
(basinward shift in facies) disebabkan oleh penurunan muka air laut. Contoh
kurva log dari sequence boundary menunjukkan perubahan yang jelas dariclean
distal marine shales menjadi very coarse, nearshore marine sands, dapat
dilihat pada Gambar 3.14.

42
Gambar 3.14. Contoh kurva log yang menunjukkan sequence
boundary, merupakan batas yang jelas dan dikenal sebagai suatu bidang
erosional (tidak selalu). Gilbert type deltadengan pasir kasar menumpuk distal
shelf shale menunjukkan perubahan facies ke arah cekungan. (Rider, 1996)

c. Marine Flooding Surface (FS)

Dalam analisa elektrosikuen, permukaan marine flooding akan


menunjukkan picked out sebagai perpindahan yang jelas atau tiba-tiba antara
pasir di bagian bawah dan serpih di bagian atas, akhir dari sikuen pengkasaran
ke atas. Gambar 3.15. Menunjukkan endapan yang paling kasar, berada pada
bagian teratas dari endapan sikuen pengkasaran ke atas laut dangkal dilanjutkan
secara tiba-tiba oleh serpih dengan karateristik laut dalam. Diantara pasir dan
serpih terdapat interval dari pasir lanauan yang tebal dengan konsentrasi
bioturbasi yang tinggi dengan butiran pasir kasar yang tersebar, dipisahkan oleh
lapisan pasir di bawahnya oleh batas tegas yang merupakan marine flooding
surface.

43
Gambar 3.15. Kurva log yang menunjukkan flooding surface dengan bidang
tegas, terjadi perubahan nilai yang mendadak pada log densitas dan resistivitas.
(Rider, 1996)

d. Transgressive Surface (Ravinement Surface) (TS)

Pada kenampakan log, transgressive surface akan menunjukkan


kemiripan dengan flooding surface namun respon log akan cenderung menjadi
lebih tiba-tiba. Gambar 3.16. Menunjukkan batupasir berbutir sedang, silang
siur, dengan zona karbonat tipis yang tersemenkan, tidak ada bioturbasi. Pada
bagian paling top-nya nampak memotong bedform, ditutupi oleh lapisan
bioturbasi, pada kenampakan log, permukaan pada bagian atas dari batupasir
terlihat jelas dan lapisan bioturbasi menunjukkan respon high density dan high
velocity, diikuti oleh serpih kaya organik diatasnya. Pada bagian bawah dimana
kandungan organik sangat melimpah, respon log gamma ray tinggi, neutron
tinggi, densitas rendah, dan sonik tinggi (velositas rendah)

44
Gambar 3.16. Kurva log yang menunjukkan transgressive surface dengan
bidang erosional. (Rider, 1996)

e. Maximum Flooding Surface (MFS)

Maximum flooding surface diinterpretasikan kedalam condensed


section yang lebih luas dikarateristikkan oleh nilai yang tinggi dari log Gamma
Ray dan Neutron, dan nilai yang rendah densitas dan velositas. Maximum
flooding surface itu sendiri diinterpretasikan dimana log neutron berada pada
angka paling tinggi dan log densitas berada pada nilai terendah. (Gambar 3.17)

Gambar 3.17. Ekspresi log yang menunjukkan maximum flooding surface


sebagai condensed section.(Rider, 1996)

45
Pola ekspresi kurva log yang menggambarkan System Tract
ditunjukkan oleh Gambar 3.18.

Gambar 3.18. Pola ekspresi kurva log yang


menggambarkan System Tract,termasuk endapan laut dalam (oleh Vail
dan Wordnard,1990 dalam Rider, 1996)

[Link] Data Seismik (Seismic Stratigraphy)

Stratigrafi seismik adalah suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan penentuan
hubungan litologi dan stratigrafi bawah permukaan yang diperoleh dari data seismik
refleksi. Dengan mengunakan data seismik dapat diperoleh informasi geometri
reservoir secara lateral yang lebih baik. Dalam penggunaannya data seismik perlu
diintegrasikan dengan data log sumur dan inti bor untuk menghasilkan suatu
interpretasi lingkungan pengendapan.

46
Metode interpretasi seismik stratigrafi bisa dibagi menjadi dua bagan, yaitu :

1. Penentuan fasies seismik berdasarkan konfigurasi, kontinuitas dan atribut


seismik refleksi, dan kemudian memetakan distribusi fasies ini.
2. Seleksi kandidat sequence boundary dan system tract boundaries berdasarkan
gambaran seismik refleksi dan terminasi yang diintegrasikan dengan data log
sumur, inti bor dan data paleontologi sampai suatu interpretasi konsisten
dengan seluruh data sets diperoleh.
Fasies seismik adalah kumpulan refleksi seismik yang sifat-sifatnya berbeda
dengan kumpulan refleksi seismik yang lain yang berdekatan dengannya. Terminasi
seismik refleksi adalah bahwa refleksi seismik cenderung menunjukkan permukaan
strata yang sejajar dan mempunyai arti kronostratigrafi (Gambar 3.19). Tipe-
tipe terminasi tersebut antara lain :

1. Toplap suatu terminasi diskordan, dimana updip dari perlapisan


miring/menyudut terhadap permukaan diatasnya, yang disebabkan oleh
nondeposisi sedimen atau pengendapan yang tereduksi. Hal ini dijumpai pada
lingkungan progradasi laut dangkal seperti delta dan pada endapan-
endapan laut dalam.
2. Erotional Truncation suatu hubungan top diskordan yang dihasilkan dari suatu
hubungan angularity suatu permukaan erosi terhadap perlapisan dibawahnya.
3. Onlap suatu teminasi diskordan perlapisan yang lebih muda mengalami lap
outsecara progresif keatas terhadap suatu permukaan yang miring.
4. Downlap suatu terminasi downdip yang base diskordan dari perlapisan yang
awalnya miring terhadap suatu permukaan yang lebih tua dengan kemiringan
lapisan yang lebih kecil.
5. Baselap suatu terminasi hubungan base-diskordan yang umum dan digunakan
apabila onlap tidak dapat dibedakan dengan downlap.
6. Offlap suatu refleksi seismik lapisan pada suatu lingkungan progradasi.

47
Gambar 3.19 Terminasi Seismik Refleksi
Kontinuitas refleksi berhubungan erat dengan dengan kontinuitas perlapisan.
Ada beberapa konfigurasi pantulan seismik (Gambar 3.20) yang sudah dapat dikenali
adalah sebagai berikut :

a) Pola konfigurasi paralel dan sub paralel


Pola konfigurasi paralel dan sub paralel memperlihatkan pola yang relatif sejajar.
Pola ini menunjukkan keseragaman kecepatan pengendapan dan keseragaman
penurunan paparan atau menunjukkan cekungan sedimentasi yang stabil. Variasi
kedua bentuk ini disebut even dan wavy

b) Pola konfigurasi divergen

Pola konfigurasi divergen dicirikan oleh unit membentuk membaji atau satuan
bentuk pembajian secara lateral yang disebabkan oleh penebalan siklus pantulan dan
variasi kecepatan pengendapan.

48
c) Pola konfigurasi prograding
Pola konfigurasi prograding merupakan konfigurasi yang kompleks dan
diinterpretasikan sebagai perlapisan yang terjadi karena adanya perkembangan
sedimentasi secara lateral. Atau dengan kata lain adalah pola pantulan yang
disebabkan oleh perlapisan-perlapisan yang diendapkan secara progradasi lateral
membentuk permukaan pengendapan yang lebih landai (clinoform). Pola-polayang
termasuk ke dalam konfigurasi prograding clinoform, yaitu sigmoid, oblique,
complex sigmoid-oblique, shingled dan hummocky clinoform. Perbedaan utama
pada masing-masing konfigurasi tersebut menggambarkan suatu variasi
pertambahan pasokan sedimen, kecepatan penurunan dasar cekungan atau
perubahan muka air laut relatif.

d) Pola konfigurasi chaotic

Pola konfigurasi chaotic adalah pola yang tidak menerus, saling memotong dan
menunjukkan susunan yang tidak teratur. Pola ini diinterpretasikan sebagai lapisan
yang diendapkan pada kondisi yang kacau dengan energi pengendapan yang tinggi,
atau mula-mula merupakan suatu lapisan yang menerus tetapi kemudian
mengalamai deformasi sehingga susunan perlapisan menjadi rusak.

e) Pola konfigurasi reflection free

Pola konfigurasi reflection free menunjukkan tidak adanya pantulan dalam


perekaman. Pola ini diinterpretasikan terjadi pada suatu batuan yang homogen tanpa
perlapisan atau perlapisan yang hampir vertikal

f) Pola konfigurasi modifikasi

Pola konfigurasi ini mempunyai bentuk wavy, even, lenticular, hummocky,


disrupted dan contorted.

49
Gambar 3.20. Pola konfigurasi seismik (Mitchum et al, 1977)

50
BAB 5

PENUTUP

Kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa dalam melakukan skripsi ini akan dapat
membuka wawasan mahasiswa pada bidang teknik geologi yang dimanfaatkan dalam dunia
perminyakan. Dalam kesempatan ini mahasiswa akan memanfaatkanya semaksimal mungkin,
serta hasil dari skripsi ini akan dibuat dalam bentuk laporan dan akan dipresentasikan di
perusahan terkait dan juga di universitas (jurusan).

Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan, saya lampirkan beberapa dokumen


antara lain :

 Surat Pengantar Skripsi dari Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Naisonal “Veteran” Yogyakarta.
 Transkrip IPK sementara.
 Daftar Riwayat Hidup (Curiculum Vitae)

51
DAFTAR PUSTAKA

Adnan, A., Sukowitono, dan Suprianto. 1991. Jatibarang Sub Basin- A Half Graben in the
Onshore of Northwest Java, Proceedings of Indonesian Petroleum Association, 20th
Annual Convention.

Arpandi D., dan Patmosukismo, S. 1995. The Cibulakan Formation as One of the Most
Prospective Stratigraphic Units in the North West Java Basin Area, Proceedings of
Indonesian Petroleum Associati,4th Annual Convention.

Daly, M.C., B.G.D. Hooper dan D.G Smith. 1986. Tertiary Plate and Basin Evaluating in
Indonesia. Proceedings of Indonesian Petroleum Association,16th Annual Convention.
Gresko, M., C. Suria dan S. Sinclair. 1995. Basin Evalution of Ardjuna Rift System and Its
Implications for Hydrocarbon Exploration, Offshore Northwest Java, Indonesia,
Proceedings of Indonesian Petroleum Association,24th Annual Convention.
Hutchinson, C.S. 1992. Tectonic Evolution of Sundaland: A Phanerozoic Syntesis,
Proceedings, Regional Conference on the Geological of Southeast Asia.

Noble, R.A., K.H. Pratomo, K. Nugrahanto, A.M.T. Ibrahim, I. Prastya. N. Mujahidin, C.H.
Wu dan J.V.C Howes. 1997. Petroleum System of Northwest Java, Indonesia,
Indonesian Petroleum Associatio, Proceedings of Petroleum System of SE Asia and
Australasia Conference.
Sribudiyani, N. Muchsin, R. Ryacudu, T. Kunto, P. Astono, I. Prasetya, B. Sapiie, S. Asikin,
A.H. Harsolumakso., dan I. Yulianto. 2003. The Colliton of The East Java Microplate
and Its Implication for Hydrocarbon Occurences in the East Java Basin,
Proceedings of Indonesian Petroleum Association,29th Annual Convention.
Brown, Alistair R. 1991. Interpretation of Three-Dimensional Seismic Data ‘Third Edition’.
Tulsa, Oklahoma : AAPG Memoir 42.
Haun, John D & Leroy,L.W. 1958. Subsurface Geology in Petroleum Exploration. Colorado
School of Mines : Johnson Publishing Company.

Koesoemadinata, R.P.1978. Geologi Minyak dan Gas Bumi. Bandung : ITB.

Nichols, Gary. 2009. Sedimentology and Stratigraphy ‘Second Edition’. West Sussex :Wiley-
Blackwell Ltd.

52
Posamentier, H.W. and Allen, G.P. (1999), Siliciclastic Sequence Stratigraphy : Concepts and
Application. SEPM.

Rider, Malcolm. 1996. The Geological Interpretation of Well Logs „Second edition‟.
Sutherland : Rider-French Consulting Ltd.

Wagoner J.C. Van., Mitchum, RM., Campion, K.M., dan Rahmanian, v.D., 1991, Siliciclastics
sequence Stratigraphy in Well Logs, Core and Outcrops: Concepts for High
Resolution Correlation of Time and Facies, AAPG Methods in Series, No. 7, Tulsa
USA, p. 1-55.

53

Anda mungkin juga menyukai