Geologi Formasi Talang Akar Jawa Barat
Geologi Formasi Talang Akar Jawa Barat
Diajukan ke
PT. PERTAMINA UTC
Oleh :
Muhammad Reza
NIM. 111.120.013
YOGYAKARTA
2015
1
2
KATA PENGANTAR
Atas berkat rahmat ALLAH SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya
sehingga penyusun masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan proposal pengajuan skripsi
ini. Proposal skripsi ini, penyusun mengambil judul Geologi dan Studi Sikuen Stratigrafi
Formasi Talang Akar Lapangan “ Y “ Cekungan Jawa Barat Utara, berdasarkan Data
Sumur dan Data Seismik
Penyusun menyadari proposal ini belum sepenuhnya sempurna, maka kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat melengkapi dan menyempurnakan dalam
pembuatan proposal skripsi ini. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah berkenan memberikan saran dan kritik terhadap proposal skripsi ini.
(Muhammad Reza)
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN 5
1.1. Latar Belakang 5
1.2. Rumusan Masalah 6
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian 7
1.4. Lokasi dan Waktu Penelitian 8
1.5. Hasil yang Diharapkan 9
1.6 Alat dan Fasilitas 10
1.7 Manfaat Peneliian 11
1.8 Pembimbing 12
BAB 2. METODOLOGI PENELITIAN 13
2.1. Tahap Pendahuluan 13
2.2. Tahap Penelitian 14
2.3. Bagan Alir Penelitian 19
BAB 3. TINJAUAN PUSTAKA 20
3.1. Geologi Regional Cekungan Jawa Barat Utara 20
3.1.1. Kerangka Tektonik Regional 20
3.1.2. Stratigrafi Regional 24
3.2. Konsep Sikuen Stratigrafi 25
3.3. Interpretasi Data Sumur 35
3.3.1. Core 35
3.3.2. Analisa Serbuk Bor 35
3.3.3. Log Sumur 35
3.4. Interpretasi Data Seismik 45
BAB IV. PENUTUP
51
DAFTAR PUSTAKA
4
BAB I
PENDAHULUAN
5
sedimen dapat dibagi berdasarkan paket-paket unit genetik tertentu sehingga
memudahkan dalam interpretasi sejarah geologi maupun sejarah sedimentasi suatu
daerah.
Formasi Talang akar dipilih sebagai studi analisis geologi dan sikuen stratigrafi
tersebut karena formasi ini memiliki berbagai macam litologi penyusun seperti
batupasir berbutir kasar-sedang, batulempung, paleosoil, dan jatuhan tuff, dan juga
formasi ini memiliki cadangan minyak terbesar pada cekungan Jawa barat utara.
System Tract apa saja yang berkembang pada Formasi Talang Akar
berupa lowstand system tract (LST), transgressive system
tract (TST), maupun high stand sytem tract (HST) ?
6
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dari penelitian ini ialah untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat di
bangku kuliah pada lingkungan kerja secara langsung, dan selain itu juga sebagai salah
satu syarat utama untuk menyelesaikan studi di Program Studi Teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta untuk mendapatkan Gelar Sarjana (S1)
pada bidang Teknik Geologi.
Mengetahui System Tract apa saja yang berkembang pada Formasi Talang Akar
berupa lowstand system tract (LST), transgressive system
tract (TST), maupun high stand sytem tract (HST).
7
1.4. Lokasi dan Waktu Penelitian
Waktu penelitian yang direncanakan yakni dimulai dari awal bulan Januari
sampai dengan awal Maret tahun 2016 dengan kisaran periode selama 2 bulan. Jenis
kegiatan dan rencana tata waktu pelaksanaan penelitian seperti disajikan pada Tabel
1.1
8
1.5. Hasil yang Diharapkan
Dengan melakukan penelitian ini, yang berjudul Geologi dan Studi Sikuen
Stratigrafi Formasi Talang Akar Lapangan “ Y “ Cekungan Jawa Barat Utara,
berdasarkan Data Sumur dan Seismik, , diharapkan penulis mampu memanfaatkan
dan menggunakan data secara benar dalam rangka melakukan pendekatan interpretasi
dan analisis data bawah permukaan dengan baik. Adapun hasil yang diharapkan dari
pemanfaatan data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
Dari data inti batuan (core) yang dimanfaatkan dalam penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi dalam penentuan litologi dan penentuan fasies
pengendapan berdasarkan aspek fisik, kimia dan biologi secara langsung dari suatu
kedalaman tertentu dari Formasi Talang akar.
Hasil yang dapat diharapkan dari data serbuk bor adalah berupa deskripsi batuan
pada kedalaman tertentu . Data serbuk bor juga dapat memberikan informasi
berupa indikasi adanya oil show yang terkandung pada batuan reservoar.
9
Data Seismik
Data Paleontologi
2. Data seismic 3 D
3. Data inti batuan atau core dan serbuk pemboran atau cutting
10
4. Seperangkat computer (selama berada di lingkungan perusahaan)
5. Literatur terkait
Fasilitas:
1. Akses ke perpustakaan
2. Akses ke internet
11
Memberikan data evaluasi terhadap permasalahan stratigrafi Formasi Talang akar
dengan menggunakan metode sikuen stratigrafi.
Menjalin kerja sama yang mendukung satu sama lain antara pihak institusi
universitas dengan pihak perusahaan yang terkait.
1.8. Pebimbing
12
BAB 2
METODE PENELITIAN
Studi pustaka merupakan tahap awal yang cukup penting dimana dari studi
pustaka penulis mendapatkan referensi-referensi awal yang berkaitan secara langsung
dalam pelaksanaan penelitian, referensi yang dimaksud terkait dengan daerah telitian
berupa geologi regional yang didapatkan dari literatur, jurnal, maupun dari laporan-
laporan terdahulu dari daerah telitian, dalam hal ini ialah geologi regional cekungan
Jawa Barat Utara terkait stratigrafi dan struktur-struktur yang berkembang dalam
cekungan tersebut, selain itu studi literatur mengenai teori dan konsep yang
berhubungan dengan studi daerah telitian juga sangat diperlukan dalam menunjang
analisis dan interpretasi agar didapatkan hasil yang memuaskan dan dapat
dipertanggung jawabkan.
13
[Link] Penelitian
2.2.1 Studi Pendahuluan
Adapun data yang dibutuhkan meliputi data primer dan data sekunder. Adapun data-
data primer meliputi :
14
pola terminasi dan konfigurasi seismik, struktur geologi makro yang berkembang
serta menarik kemenerusan horizon marker daerah telitian.
a) Data serbuk bor (cutting) atau Core, guna mengetahui litologi yang berkembang
pada daerah telitian, dan data paleontologi, serta untuk menunjang interpretasi data
log sumur.
b) Data-data geologi daerah telitian dari literatur, jurnal, makalah maupun dari
laporan penelitian terdahulu.
Pada tahapan interpretasi data dilakukan analisis yang terkait dengan studi
penelitian yakni sikuen stratigrafi mengenai susunan-susunan tertata berdasarkan unit
genetik pada Formasi Talang akar, analisis dan interpretasi menggunakan data utama
berupa data log dan data seismik untuk melakukan analisis sikuen yang nantinya akan
dikorelasikan dan integrasikan untuk mendapatkan konfigurasi stratigrafi bawah
permukaan yang tentunya akan didasari pula oleh aspek-aspek geologi lainnya yang
mendukung interpretasi.
Interpretasi data sumur dari wireline log juga harus ditunjang oleh data-
data lainnya seperti data inti batuan (core), serbuk bor (cutting), dan data paleontologi
untuk memperkuat hipotesa geologi. Sementara itu data log sumur dalam kaitannya
dengan kurva log Gamma Ray (log GR) dan Spontaneous Potential (log SP)
digunakan untuk melakukan analisis facies pengendapan berdasarkan atas pola log
yakni cylindrical, irreguler, bell shaped, funnel shaped, dan symetrical-
15
asymetricalshaped yang mana pola-pola log ini mampu merepresentasikan proses
sedimentasi yang bekerja sehingga membentuk adanya pola khusus tersebut sehingga
dari pendekatan ini mampu dijadikan acuan dalam melakukan interpretasi facies
pengendapan yang tentunya diintegrasikan dengan data langsung berupa data inti
batuan dan data serbuk bor. Selain itu data kurva log sumur digunakan untuk
melakukan interpretasi dalam rangka menetukan marker straigrafi (stratigraphy
boundary) yakni key surfaces yang berupa sequence boundary (SB), transgressive
surface (TS) maupun maximum flooding surface (MFS) serta menentukan tipesystem
tract yang berkembang, berupa lowstand system tract (LST), transgressive system
tract (TST), maupun high stand sytem tract (HST), dimana tiap-tiap system tract akan
dibangun oleh parasequence maupun parasequence sets tertentu.
16
Dari hasil-hasil interpretasi data yang telah dilakukan, maka dapat dibuat
korelasi baik korelasi struktur maupun korelasi stratigrafi. Korelasi dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui pelamparan lateral dari tiap-tiap unit genetik (system
tract) yang dibatasi oleh suatu marker stratigrafi (key surfaces), sehingga didapatkan
gambaran mengenai kondisi geologi berupa kondisi stratigrafi dan struktur geologi
pada daerah telitian, dalam hal ini ialah Formasi Talang akar, selain itu dapat diketahui
sejarah geologi meliputi sejarah sedimentasi, dinamika suplai sedimen asal darat, iklim
purba (paleoclimate) dan sejarah tektonik yang mengontrol pembentukan
akomodasi (accomodation space) termasuk di dalamnya dinamika sea level
changing sebagai respon terhadap dinamika subsidence dan eustacy yang
mengontrol paket-paket sedimentasi yang membangun Formasi Talang akar.
a) Analisa litologi berdasarkan pola log sinar gamma, resistivitas, log densitas, log
neutron, dan log lainnya yang mendukung, ditunjang pula dengan data inti batuan
dan serbuk pemboran.
b) Analisa facies pengendapan berdasarkan atas pola kurva log sumur (electrofacies),
ditunjang dengan data inti batuan dan data paleontologi.
c) Penentuan komponen sikuen stratigrafi berupa marker stratigrafi berupa sequence
boundary, transgressive surface, dan maximum flooding surface (SB, TS dan
MFS) pada kurva log sumur.
d) Penentuan komponen sikuen stratigrafi yakni system tract baik berupa low stand
system tract (LST), transgressive system tract (TST), maupun high stand system
tract (HST) pada kurva log sumur.
e) Interpretasi struktur makro pada penampang line seismik.
f) Penentuan pola terminasi seismik refleksi untuk mendeterminasi adanya
ketidakmenerusan bidang refleksi sebagai dasar penentuan marker stratigrafi (key
surfaces).
17
g) Penentuan facies seismik berdasarkan konfigurasi seismik untuk penentuan system
tract.
h) Integrasi data sumur dengan data seismik untuk mendapatkan pelamparan lateral
dari tiap-tiap komponen sikuen stratigrafi pada penampang seismik.
i) Korelasi stratigrafi antar tiap log sumur dengan metoda sikuen stratigrafi ditunjang
dengan data paleontologi.
j) Korelasi struktur antar tiap log sumur untuk mengetahui konfigurasi struktur
geologi daerah telitian.
k) Membuat peta penyebaran komponen sikuen stratigrafi masing-masing sytem
tract, yakni peta penyebaran Low stand sytem tract, transgressive system tract,
dan high stand system tract.
l) Interpretasi sejarah geologi baik sejarah sedimentasi maupun struktur geologi yang
meliputi sejarah sedimentasi, dinamika suplai sedimen asal darat, iklim purba
(paleoclimate) dan sejarah tektonik yang mengontrol pembentukan akomodasi
(accomodation space) termasuk di dalamnya dinamika sea level changing sebagai
respon terhadap dinamika subsidence dan eustacy yang mengontrol paket-
paketsedimentasi yang membangun Formasi Talang akar.
m) Membuat permodelan paleogeografi berdasarkan dari hasil data diatas dengan
menggunakan pemahaman geologi dan metode sikuen stratigrafi.
18
2.3. Bagan Alir Penelitian
19
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA
Cekungan Jawa Barat Utara secara geodinamik saat ini berada pada posisi
belakang busur dari jalur Vulkanik Jawa yang merupakan hasil dari subduksi
lempeng India-Australia di selatan terhadap lempeng Eurasia ( paparan sunda ) di
utara. Beberapa peristiwa tektonik yang terjadi sejak Tersier mempengaruhi
pembentukan struktur dan pola sedimentasi cekungan ini.
Gambar 3.1. Jalur Subduksi Meratus (Kapur Akhir-Tersiar Awal) dan Jalur Subduksi
Tersier Akhir (Hutchison, 1982). Panah hijau menunjukan arah tegasan utama
(kompresif) pada masing-masing periode subduksi.
20
yang berlangsung menghasilkan batuan metamorf dan intrusi batuan beku yang
menyusun batuan dasar pada Cekungan Jawa Barat Utara, sedangkan deformasi
menyebabkan pengangkatan dan erosi pada kala Paleosen.
Gambar 3.2. Peta Struktur dan tektonik Oligosen awal pada cekungan jawa barat uata
( Gresko dkk,.1995 )
21
Gambar 3.3. Pergerakan dari selatan dari Kapur sampai Eosen Awal (kanan) yang
kemudian membentuk batas selatan Paparan Sunda (Sribudiyani dkk., 2003)
Pemekaran pada Cekungan Jawa Barat Utara kemudian berhenti pada Oligosen
Awal. Menurut Sribudiyani dkk., 2003, sebua fragmen benua ysng berasal dari selatan
bergerak menuju ke jalur Subduksi Meratus dan mulai menumbuk jalur subduksi
tersebut pada Eosen awal. Tubukan tersebut menyebabkan berhentinya aktivitas
magmatisme sebelumnya (periode Subduksi Meratus) dan terjadi pengangkatan
kompleks subduksi membentuk Pegunungan Meratus di Kalimantan dan kompleks
Lok Ulo di Jawa Tengah (Gambar 3.3), serta menyebabkan berhentinya pemekaran di
Cekungan Jawa Barat Utara.
22
Gambar 3.4. Cekungan-cekungan pull apart yang terbentuk pada Eosen Tengah
sampai Oligosen Akhir (Daly dkk., 1987). Biru: pull apart basin yang terbentuk pada
masing- masing periode.
Daly dkk., 1987 menyatakan bahwa konvergensi antara India dengan Asia
Tenggara sejak Eosen Akhir mengebabkan ekstursi Asia Tenggara melalui beberapa
sesar geser utama yang dianggap berperan dalam menimbulkan fase transtensional
yang berperan dalam pembentukan cekungan-cekungan di region Sumatra dan Jawa
(Sribudiyani dkk., 2003). Rendahan-rendahan yang diakibatkan pergerakan sesar-
sesar normal berarah relatif utara-selatan muncul di Sumatra pada Eosen Tengah dan di
Jawa Barat pada Oligosen (Gambar 3.4). Cekungan Jawa Barat Utara berkembang
menjadi pull apart basin yang terdapat di belakang busur sejak Oligosen.
Gambar 3.5. Penampang barat-timur Cekungan Jawa Barat Utara ( Patmosukismo dan
Yahya, 1974)
23
Pembentukan struktur sesar-sesar nomal (Oligosen Akhir) tersebut
menyebabkan terjadinya pemekaran yang diikuti oleh penurunan dasar cekungan.
Bebrapa tinggian dan rendahan yang terbentuk mengontrol penyebaran dari sedimen
serta membagi Cekungan Jawa Barat Utara menjadi beberapa sub- cekungan: Sub-
cekungan Ciputat, Sub-cekungan Pasirputih, dan Sub-cekungan Jatibarang (Gambar
3.5). Namun pengisian cekungan yang berlangsung cepat dan diikuti oleh adanya
pengangkatan bagian selatan dataran menjadi cekungan padaPlio-
Plistosen mengakibatkan terjadinya penutupan untuk Cekungan Jawa Barat Utara.
[Link] Regional
Cekungan ini merupakan cekungan belakang busur yang sangat luas dan rumit,
yang dimana bagian utara hingga selatannya terdiri dari orientasi sejumlah bentukan
struktur halfgraben. Sub-cekungan ini terletak di tepi selatan dari platform Sunda
(Reksalegora et al., 1996). Cekungan Jawa Barat Utara memiliki akumulasi
Hidrokarbon berlimpah, dan minyak dan gas bumi yang dimana reservoarnya
bertumpukan dengan volkanik klastik, karbonatan, dan lapisan coarsesiliciclastic
(Noble et al., 1997).
24
Gambar 3.6. NW Java Basin dan Sunda asri basin (Suryono et all,2005)
25
3.2. Konsep Sikuen Stratigrafi
Jadi secara sederhana sikuen stratigrafi dapat diartikan sebagai suatu ilmu
tentang hubungan perulangan batuan di dalam suatu kerangka waktu stratigrafi yang
mana lapisan- lapisan yang terhubung secara genetik dibatasi oleh suatu bidang erosi
atau periode dimana tidak terjadi pengendapan, atau adanya hubungan keselarasan.
Didalam istilah yang lebih praktis, sikuen stratigrafi menyangkut analisis pola
dari siklus sedimentasi yang hadir dalam urut-urutan stratigrafi yang mana berkembang
sebagai akibat dari adanya variasi suplai sedimen dan ruang yang tersedia bagi
sedimen untuk terakumulasi.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi pola facies dan arsitektur dari strata
didalam cekungan sedimentasi antara lain yaitu akomodasi sedimen (fungsi dari
eustasi, tektonik, kompaksi sedimen, tatanan fisiografi), tingkat suplai sedimen dan
fisiografi dari cekungan, namun secara khususnya dapat dijelaskan sebagai berikut :
2. Tektonik
26
cekungan sedimentasi (subsidence dan uplift), selain itu juga memberikan dampak
pada tingkat suplai sedimen.
4. Akomodasi
5. Suplai sedimen
Kontrol utama yang mempengaruhi suplai sedimen antara lain iklim, relief
daridrainage fluvial basin, litologi dari subtrat dan vegetasi penutup. Adanya
perubahan tingkat suplai sedimen dapat disebabkan oleh tektonik dan perubahan iklim,
selain itu faktor lain seperti kapasitas media discharge, dalam hal ini fluvial sistem
turut mempengaruhi tingkatinflu sedimen yang masuk kedalam ruang akomodasi.
27
6. Fisiografi cekungan
Parasikuen
Parasikuen dapat diartikan sebagai urutan yang relatif selaras dari lapisan-
lapisan(beds) atau kumpulan lapisan (bedsets) yang terkait secara genetik dan dibatasi
oleh permukaan marine flooding yaitu bidang batas yang memisahkan antara
28
parasikuen yang diakibatkan karena bertambahnya kedalaman air laut secara tiba-
tiba dan perlamparanya ke arah lateral.
Parasikuenset
Sikuen
Sikuen dapat diartikan sebagai suatu urutan yang relatif selaras dari strata yang
terkait secara genetik dan dipisahkan oleh bidang ketidakselarasan dan keselerasan
korelatifnya. Suatu sikuen diinterpretasikan diendapkan selama satu sea level
cycle dari sequence boundary yang satu sampai sequence boundary berikutnya. Tipe-
tipe SB yaitu:
29
b. Tipe 2 Sequence Boundary
b. Aggradational
Terjadi ketika rate of sedimentation seimbang dengan rate of
subsidence, pada keadaan ini material sedimen akan memiliki susunan yang
bertumpuk vertikal tanpa adanya variasi-variasi tertentu,
endapan foreshore akan menumpuk endapan foreshore, dan endapan-
endapan shoreface akan menumpuk diatas endapan shoreface pula, dan
seterusnya. Pada umumnya akan menunjukkan pola blocky pada log gamma
ray (blocky shaped).
30
c. Retrogradational
Gambar 3.9. Ekspresi log dan penampang dari pola stacking pattern (Van Wagoner ,
[Link], 1991)
31
Gambar 3.10. System tract berdasarkan eustasi (modified from Posamentier
and others, 1988)
32
terdiri dari backstepping parasequencesdengan pola finning upward. Biasanya TST
menunjukkan onlap diatas sequence boundarydalam suatu arah menuju daratan
dari shelf break. TST diendapkan selama suatu penaikan relatif permukaan laut.
33
[Link] surface (TS)
Merupakan titik dimana tingkat pembentukan akomodasi lebih besar dari pada
tingkat suplai sedimen, menyebabkan terjadinya kenaikan muka air laut relatif.
Menandai mulanya pola retrogradational di dalam runtutan sedimentasi sebagai
indikasi bahwa besar akomodasi melebihi suplai sedimen. Jika suplai sedimen relatif
rendah maka TS kemungkinan bersifat erosional. Permukaan hasil erosional yang
terbentuk pada periode transgresi disebut sebagai ravinement surfaces dan terbentuk
karena tingkat energi ombak yang tinggi di laut dangkal. TS terletak pada top dari LST
dan pada bottom dari TST. Dalam skala regional, TS ini memisahkan parasequence
progradational atau aggradational LST yang terletak dibawahnya dengan
parasikuen back stepping “TST” yang terletak diatasnya.
34
kita yakini kebenarannya dan mudah dikenali. North American Stratigraphic Code
tahun 1983 mengenali tiga macam korelasi yang utama, yakni : Lithocorrelation,
dimana menghubungkan unit-unit dari kesamaan lithologi dan posisi
stratigrafi; Biocorrelation, dimana mencerminkan kesamaan kandungan fosil dan
posisi biostratigrafi; dan Chronocorrelation, dimana mengekspresikan suatu umur dan
posisi kronostratigrafi, umumnya bidang atau lapisan penciri yang dipakai
adalah flooding surface (FS) atau sequence boundary (SB).
Core adalah inti batuan dengan diameter 2-5 inchi yang diambil dari bawah
permukaan untuk keperluan kalibrasi log sumur. Data core diambil pada beberapa titik
didalam sumur, terutama pada horison-horison yang potensial produksi, dimana
informasi yang lebih detil dibutuhkan dan informasi dari cutting tidak mencukupi.
35
Ada 2 tipe core :
36
disebut garis dasar serpih,sedangkan pada formasi permeabel kurva SP
menyimpang dari garis dasar serpih dan mencapai garis konstan pada lapisan
permeabel yang cukup tebal, yaitu garis pasir. Penyimpangan SP dapat ke kiri
atau ke kanan tergantung pada kadar garam dari formasi dan filtrasi lumpur.
c. Log Densitas
Log densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur
densitas elektron suatu formasi. Prinsip pencatatan dari log densitas adalah
suatu sumber radioaktif yang dimasukkan kedalam lubang bor mengemisikan
sinar gamma kedalam formasi. Di dalam formasi sinar tersebut akan
bertabrakan dengan elektron dari formasi. Pada setiap tabrakan sinar gamma
akan berkurang energinya. Sinar gamma yang terhamburkan dan mencapai
detektor pada suatu jarak tertentu dari sumber dihitung sebagai indikasi
densitas formasi. Jumlah tabrakan merupakan fungsi langsung dari jumlah
elektron didalam suatu formasi. Karena itu log densitas dapat mendeterminasi
densitas elektron formasi dihubungkan dengan densitas bulk sesungguhnya
37
didalam gr/cc, densitas matrik batuan, porositas, dan densitas fluida pengisi
formasi.
d. Log Neutron
e. Log Sonik
Log sonik merupakan suatu log yang mengukur interval waktu lewat
dari suatu gelombang suara kompressional untuk melalui suatu feet formasi.
Interval waktu lewat dengan satuan mikrodetik per kaki merupakan kebalikan
kecepatan gelombang suara kompresional (satuan feet per detik). Harga log
sonik tergantung pada litologi dan porositas.
[Link]
Bentuk silinder pada log GR atau SP dapat menunjukkan sedimen tebal
dan homogen yang dibatasi oleh pengisian channel (channel-fills) dengan
kontak yang tajam. Cylindrical merupakan bentuk dasar yang mewakili
homogenitas dan ideal sifatnya. Bentuk cylindrical diasosiasikan dengan
endapan sedimen braided channel, estuarine atau sub-marine channel fill,
anastomosed channel, eolian dune, tidal sand.
38
2. Irregular
3. Bell Shaped
Profil berbentuk bell menunjukkan penghalusan ke arah atas,
kemungkinan akibat pengisian channel (channel fills). Pengamatan membuktikan
bahwa range besar butir pada setiap level cenderung sama, namun jumlahnya
memperlihatkan gradasi menuju berbutiri halus (dalam artian lempung yang
bersifat radioaktif makin banyak ke atas). Bnetuk bell dihasilkan oleh
endapan point bars, tidal deposits, transgressive shelf sands (dominated tidal),
sub marine channel dan endapan turbidit.
4. Funnel Shaped
Profil berbentuk corong (funnel) menunjukkan pengkasaran ke arah atas
yang merupakan bentuk kebalikan dari bentuk bell. Bentuk funnel kemungkinan
dihasilkan sisitem progradasi seperti sub marine fan lobes, regresive shallow
marine bar, barrier islands atau karbonat terumbu depan yang berprogadasi di
atas mudstone, delta front (distributary mounth bar),creavase splay, beach and
barrier beach (barrier island), strandplain, shoreface, prograding (shallow
marine)shelf sands dan submarine fan lobes.
5. Symmetrical-Asymetrical Shapped.
Bentuk symmetrical merupakan kombinasi antara bentuk bell-
[Link] coarseninng-finning upward ini dapat dihasilkan oleh proses
bioturbasi, selain tatanan secara geologi yang merupakan ciri dari shelf sand
bodies, submarine fans and sandy offshore bars. Bentuk asymmetricalmerupakan
39
ketidakselarasan secara proporsional dari kombinasi bell-funnelpada lingkungan
pengendapan yang sama.
Ekspresi kurva log yang umum dapat dilihat pada Gambar 3.11 di bawah ini
Gambar 3.12. Indikasi Fasies Pengendapan dari kurva log GR/SP, merupakan
model log dan fasies sedimen yang ideal (modifikasi dari Serra, 1972; Parker,
1977; Galloway dan Hobday, 1983 dalam Rider, 1996)
40
[Link]. Wireline Log untuk Korelasi Sikuen Stratigrafi
Log adalah suatu grafik kedalaman atau waktu dari satu set data yang
menunjukkan parameter yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah
sumur. Suatu korelasi dilakukan dengan menarik marker stratigrafi. Marker inilah
yang harus diidentifikasi pada log. Dalam korelasi, yang umum dijadikan marker
adalah flooding surface atau maximum flooding surface dan sequence boundary.
a. Respon Log GR
Sebagai respon dari flooding surface, log GR akan memberikan
kenampakankick ke arah kanan, yang berarti membesarnya angka pembacaan
sinar gamma secara tiba-tiba. Sedangkan pada maximum flooding surface, log
GR akan menunjukkan angka yang paling besar. Untuk Sequence Boundary
umumnya ditunjukkan bentuk kurva GR yang blocky atau bell shape, dan
umumnya harga kurva GR-nya kecil, hal ini menunjukkan endapan channel.
41
[Link]. Wireline Log Untuk Menentukan Key Surfacesa.
[Link] Base Erosion
Gambar 3.13. Contoh pola kurva log Gamma Ray (GR) untuk erosi
dasar channel. Erosi terjadi pada bagian dasar dari sikuen penghalusan ke atas
yang diinterpretasikan sebagai alluvial channel. (Rider, 1996)
42
Gambar 3.14. Contoh kurva log yang menunjukkan sequence
boundary, merupakan batas yang jelas dan dikenal sebagai suatu bidang
erosional (tidak selalu). Gilbert type deltadengan pasir kasar menumpuk distal
shelf shale menunjukkan perubahan facies ke arah cekungan. (Rider, 1996)
43
Gambar 3.15. Kurva log yang menunjukkan flooding surface dengan bidang
tegas, terjadi perubahan nilai yang mendadak pada log densitas dan resistivitas.
(Rider, 1996)
44
Gambar 3.16. Kurva log yang menunjukkan transgressive surface dengan
bidang erosional. (Rider, 1996)
45
Pola ekspresi kurva log yang menggambarkan System Tract
ditunjukkan oleh Gambar 3.18.
Stratigrafi seismik adalah suatu disiplin ilmu yang berkaitan dengan penentuan
hubungan litologi dan stratigrafi bawah permukaan yang diperoleh dari data seismik
refleksi. Dengan mengunakan data seismik dapat diperoleh informasi geometri
reservoir secara lateral yang lebih baik. Dalam penggunaannya data seismik perlu
diintegrasikan dengan data log sumur dan inti bor untuk menghasilkan suatu
interpretasi lingkungan pengendapan.
46
Metode interpretasi seismik stratigrafi bisa dibagi menjadi dua bagan, yaitu :
47
Gambar 3.19 Terminasi Seismik Refleksi
Kontinuitas refleksi berhubungan erat dengan dengan kontinuitas perlapisan.
Ada beberapa konfigurasi pantulan seismik (Gambar 3.20) yang sudah dapat dikenali
adalah sebagai berikut :
Pola konfigurasi divergen dicirikan oleh unit membentuk membaji atau satuan
bentuk pembajian secara lateral yang disebabkan oleh penebalan siklus pantulan dan
variasi kecepatan pengendapan.
48
c) Pola konfigurasi prograding
Pola konfigurasi prograding merupakan konfigurasi yang kompleks dan
diinterpretasikan sebagai perlapisan yang terjadi karena adanya perkembangan
sedimentasi secara lateral. Atau dengan kata lain adalah pola pantulan yang
disebabkan oleh perlapisan-perlapisan yang diendapkan secara progradasi lateral
membentuk permukaan pengendapan yang lebih landai (clinoform). Pola-polayang
termasuk ke dalam konfigurasi prograding clinoform, yaitu sigmoid, oblique,
complex sigmoid-oblique, shingled dan hummocky clinoform. Perbedaan utama
pada masing-masing konfigurasi tersebut menggambarkan suatu variasi
pertambahan pasokan sedimen, kecepatan penurunan dasar cekungan atau
perubahan muka air laut relatif.
Pola konfigurasi chaotic adalah pola yang tidak menerus, saling memotong dan
menunjukkan susunan yang tidak teratur. Pola ini diinterpretasikan sebagai lapisan
yang diendapkan pada kondisi yang kacau dengan energi pengendapan yang tinggi,
atau mula-mula merupakan suatu lapisan yang menerus tetapi kemudian
mengalamai deformasi sehingga susunan perlapisan menjadi rusak.
49
Gambar 3.20. Pola konfigurasi seismik (Mitchum et al, 1977)
50
BAB 5
PENUTUP
Kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa dalam melakukan skripsi ini akan dapat
membuka wawasan mahasiswa pada bidang teknik geologi yang dimanfaatkan dalam dunia
perminyakan. Dalam kesempatan ini mahasiswa akan memanfaatkanya semaksimal mungkin,
serta hasil dari skripsi ini akan dibuat dalam bentuk laporan dan akan dipresentasikan di
perusahan terkait dan juga di universitas (jurusan).
Surat Pengantar Skripsi dari Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Naisonal “Veteran” Yogyakarta.
Transkrip IPK sementara.
Daftar Riwayat Hidup (Curiculum Vitae)
51
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, A., Sukowitono, dan Suprianto. 1991. Jatibarang Sub Basin- A Half Graben in the
Onshore of Northwest Java, Proceedings of Indonesian Petroleum Association, 20th
Annual Convention.
Arpandi D., dan Patmosukismo, S. 1995. The Cibulakan Formation as One of the Most
Prospective Stratigraphic Units in the North West Java Basin Area, Proceedings of
Indonesian Petroleum Associati,4th Annual Convention.
Daly, M.C., B.G.D. Hooper dan D.G Smith. 1986. Tertiary Plate and Basin Evaluating in
Indonesia. Proceedings of Indonesian Petroleum Association,16th Annual Convention.
Gresko, M., C. Suria dan S. Sinclair. 1995. Basin Evalution of Ardjuna Rift System and Its
Implications for Hydrocarbon Exploration, Offshore Northwest Java, Indonesia,
Proceedings of Indonesian Petroleum Association,24th Annual Convention.
Hutchinson, C.S. 1992. Tectonic Evolution of Sundaland: A Phanerozoic Syntesis,
Proceedings, Regional Conference on the Geological of Southeast Asia.
Noble, R.A., K.H. Pratomo, K. Nugrahanto, A.M.T. Ibrahim, I. Prastya. N. Mujahidin, C.H.
Wu dan J.V.C Howes. 1997. Petroleum System of Northwest Java, Indonesia,
Indonesian Petroleum Associatio, Proceedings of Petroleum System of SE Asia and
Australasia Conference.
Sribudiyani, N. Muchsin, R. Ryacudu, T. Kunto, P. Astono, I. Prasetya, B. Sapiie, S. Asikin,
A.H. Harsolumakso., dan I. Yulianto. 2003. The Colliton of The East Java Microplate
and Its Implication for Hydrocarbon Occurences in the East Java Basin,
Proceedings of Indonesian Petroleum Association,29th Annual Convention.
Brown, Alistair R. 1991. Interpretation of Three-Dimensional Seismic Data ‘Third Edition’.
Tulsa, Oklahoma : AAPG Memoir 42.
Haun, John D & Leroy,L.W. 1958. Subsurface Geology in Petroleum Exploration. Colorado
School of Mines : Johnson Publishing Company.
Nichols, Gary. 2009. Sedimentology and Stratigraphy ‘Second Edition’. West Sussex :Wiley-
Blackwell Ltd.
52
Posamentier, H.W. and Allen, G.P. (1999), Siliciclastic Sequence Stratigraphy : Concepts and
Application. SEPM.
Rider, Malcolm. 1996. The Geological Interpretation of Well Logs „Second edition‟.
Sutherland : Rider-French Consulting Ltd.
Wagoner J.C. Van., Mitchum, RM., Campion, K.M., dan Rahmanian, v.D., 1991, Siliciclastics
sequence Stratigraphy in Well Logs, Core and Outcrops: Concepts for High
Resolution Correlation of Time and Facies, AAPG Methods in Series, No. 7, Tulsa
USA, p. 1-55.
53