0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan28 halaman

Pengertian dan Sistem Multi Level Marketing

Multi Level Marketing (MLM) adalah sistem pemasaran yang melibatkan banyak tingkatan distribusi untuk menjual produk secara langsung kepada konsumen. MLM menggunakan jaringan distribusi yang dibangun dengan melibatkan konsumen sebagai tenaga pemasaran. Ada beberapa sistem MLM seperti binary plan, matrix, dan break away.

Diunggah oleh

sasmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan28 halaman

Pengertian dan Sistem Multi Level Marketing

Multi Level Marketing (MLM) adalah sistem pemasaran yang melibatkan banyak tingkatan distribusi untuk menjual produk secara langsung kepada konsumen. MLM menggunakan jaringan distribusi yang dibangun dengan melibatkan konsumen sebagai tenaga pemasaran. Ada beberapa sistem MLM seperti binary plan, matrix, dan break away.

Diunggah oleh

sasmi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Multi Level Marketing

Multi Level Marketing berasal dari bahasa Inggris, dimana multi berarti

banyak, level berarti tingkat, sedangkan marketing berarti pemasaran. Jadi Multi

Level Marketing adalah pemasaran yang berjenjang banyak. Pemasaran adalah

suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan

apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan

mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.1 Pemasaran juga dapat

diartikan sebagai upaya-upaya yang dilakukan agar memudahkan terjadinya

penjualan atau perdagangan.2

Multi Level Marketing atau MLM disebut juga Network Marketing, Multi

Generation Marketing, dan Uni Level Marketing. Namun, dari semua istilah

tersebut, yang paling popular adalah istilah Multi Level Marketing. Pengertian

Multi Level Marketing atau disingkat MLM adalah sebuah sistem pemasaran

modern melalui jaringan distribusi yang dibangun secara permanen dengan

memposisikan pelanggan perusahaan sekaligus sebagai tenaga pemasaran.

Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa Multi Level Marketing adalah

pemasaran berjenjang melalui jaringan distribusi yang dibangun dengan

menjanjikan konsumen (pelanggan) sekaligus sebagai tenaga pemasaran.3

1
Philip Kotler dan Armstrong, Marketing Management, Alih Bahasa: Benyamin Molan,
Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Indeks, 2007), hal.1
2
Ibid, hal. 2
3
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, Cet. ke-III, (Jakarta: Amzah, 2015), hal. 613

14
15

MLM ini disebut juga sebagai network marketing. Disebut demikian

karena anggota kelompok tersebut semakin banyak, sehingga membentuk sebuah

jaringan kerja (network) yang merupakan suatu sistem pemasaran dengan

menggunakan jaringan kerja berupa sekumpulan banyak orang yang kerjanya

melakukan pemasaran.4

Sebagian orang ada juga yang menyebut MLM sebagai bisnis penjualan

langsung atau direct selling.5 Pendapat ini berdasarkan pelaksanaan penjualan

MLM yang dilakukan secara langsung oleh juru jual kepada konsumen. Aktifitas

penjualan tersebut dilakukan oleh seorang penjual disertai penjelasan, presentase

dan demo produk. Di Indonesia saat ini penjualan langsung atau direct selling

baik yang single level maupun multi level bergabung dalam suatu asosiasi yaitu

Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI). Organisasi ini merupakan

anggota KADIN, bagian dari World Federation Direct selling Association

(WFDSA).6

MLM merupakan konsep yang memberikan kesempatan kepada

konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan

keuntungan di dalam garis kemitraannya. Dalam istilah MLM, anggota dapat

disebut pula sebagai distributor atau mitra niaga. Jika mitra niaga mengajak orang

lain untuk menjadi seorang anggota sehingga jaringan pelanggan atau pasar

4
Gemala Dewi, et al, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), hal.
187
5
Direct Selling atau penjualan langsung adalah penjualan produk atau jasa tanpa
menggunakan kios atau toko eceran, distributor, jasa pialang, pemborong atau setiap bentuk
perantara dagang yang lain. Lihat Norman A. Hart et al, Kamus Marketing, Cet. ke-III, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2007), hal. 68
6
Ahmad Mardalis dan Nur Hasanah, ”Multi-Level Marketing (MLM) Perspektif Ekonomi
Islam”, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No.1, Februari 2016
16

semakin besar atau luas, itu artinya mitra niaga telah berjasa mengangkat omzet

perusahaan. Atas dasar itulah kemudian perusahaan berterimakasih dengan bentuk

memberi sebagian keuntungannya kepada mitra niaga yang berjasa dalam bentuk

insentif berupa bonus, baik bonus bulanan, tahunan, maupun bonus-bonus

lainnya.7

MLM merupakan pemasaran yang dilakukan banyak level atau tingkatan,

yang biasanya dikenal dengan istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat

bawah). Up line dan down line umumnya mencerminkan hubungan pada level

yang berbeda vertical maupun horizontal. Karena itu seseorang akan disebut up

line apabila telah mempunyai down line, baik berjumlah satu maupun lebih.

Bisnis MLM menggunakan sistem jaringan, meskipun masing-masing perusahaan

distributor menyebut dengan istilah yang berbeda-beda.8

Promotor (upline) adalah anggota yang sudah mendapatkan hak

keanggotaan terlebih dahulu, sedangkan bawahan (downline) adalah anggota baru

yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Dalam MLM ada dikenal istilah

member, yaitu orang yang berjasa dalam menjualkan produk perusahaa secara

tidak langsung, dengan membangun formasi jaringan. Posisi member dalam

jaringan MLM ini, tidak lepas dari dua posisi:

1. Pembeli langsung, manakala sebagai member, dia melakukan transaksi

pembelian secara langsung, baik kepada perusahaan maupun melalui

distributor atau pusat stock.

7
Veithzal Rivai, Islamic Marketing, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), hal.
298
8
Mardani, Hukum Perikatan Syariah di Indonesia, Cetakan Pertama, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2013), hal. 209
17

2. Makelar, karena dia telah menjadi perantara melalui perekrutan yang telah dia

lakukan bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk

perusahaan tersebut. Inilah praktek yang terjadi dalam bisnis MLM yang

menamakan multilevel marketing, maupun refereal business.

Pada sistem MLM, ada point yang bisa didapatkan oleh anggota jika ada

pembelian langsung dari produk yang dipasarkan, maupun melalui pembelian

tidak langsung melalui jaringan keanggotaan. Tetapi kadang point bisa diperoleh

tanpa pembelian produk, namun dilihat dari banyak dan sedikitnya anggota yang

bisa direkrut oleh orang tersebut, yang sering disebut dengan pemakelaran.9

B. Macam-macam Multi Level Marketing

Secara garis besar, macam-macam MLM di antaranya adalah sebagai

berikut:

1. Sistem Binary Plan

Sistem Binary Plan ini mengutamakan pengembangan jaringan hanya

dua leg saja dan mengutamakan keseimbangan jaringan. Semakin seimbang

jaringan dan omset bisnis dalam perusahaan MLM seperti ini, semakin besar

bonus yang terima. Namun jika tidak seimbang, maka bonus-bonus tersebut

mengalir deras ke dalam perusahaan. Biasanya sistem Binary Plan ini diusung

perusahaan-perusahaan MLM yang dibuat oleh orang Indonesia. Biasanya

perkembangan jaringan perusahaan yang menggunakan sistem Binary Plan

9
Andi Setiawan, “Multi Level Marketing (MLM) Dalam Perspektif Hukum Ekonomi
Syariah”, Jurnal STAIN Jurai Siswo Metro, hal. 4 dalam http://
[Link].phpkronikaarticleviewFile1005948 diakses pada 16 Februari
2017 pukul 10.20 Wib
18

relatif cepat sekali. Mitra-mitranya cepat mendapat bonus besar. Agar terlihat

semakin mudah mendapatkan uang, mitra-mitra dari perusahaan seperti ini

menerapkan aturan mendapatkan uang sebagai bonus dari perekrutan mitra

yang mereka ajak (bonus sponsoring). Ini artinya mereka seperti halnya

memperjualbelikan orang-orang (trafficking) dalam cara halus. Sistem ini

biasanya memberikan bonus besar di awal karir saja sebagai iming-iming

bahwa menjalankan bisnis MLM bersistem binary ini sangat mudah.

Kenyataannya sistem binary ini menciptakan kesimpulan bahwa yang

diuntungkan adalah mitra yang join di awal. Karenanya, MLM dengan sistem

ini tidak pernah mendapatkan sertifikasi syariah bagi sistemnya.10

Dalam perusahaan seperti ini biasanya juga memungkinkan sesorang

untuk membeli posisi tertentu sehingga seseorang dapat memperoleh peringkat

tertentu tanpa bersusah payah mengerjakannya. Ini juga memungkinkan seseorang

memiliki beberapa posisi dengan satu nama pribadi yaitu milik orang itu

sendiri.11

10
Ibid, hal. 6-7
11
Ibid, hal. 7
19

2. Sistem Matrix

Sistem matrix ini pengembangan jaringannya menggunakan konsep

hanya 3 frontline saja dan begitu pula selanjutnya ke bawah. Jenis sistem ini

muncul untuk mengakali sistem binary yang dianggap money game.12

3. Sistem Break Away

Sistem ini pengembangan jaringannya mengutamakan kelebaran.

Semakin banyak frontline, semakin besar pula bonus yang diterima. Namun

kelemahannya adalah seorang agen harus mengurus semuanya sendiri. Sistem

ini juga memungkinkan downline untuk melebihi upline-nya. Bonus yang

didapat mitranya biasanya kecil di awal, namun besar di peringkat atas.

Dikarenakan bonus member di awal karirnya kecil, maka biasanya perusahaan

seperti ini mengandalkan iming-iming bonus perekrutan.13

Dengan kita mengetahui sistem marketing bisnis plan yang ditawarkan

oleh perusahaan, serta keyakinan akan kesuksesan yang memungkinkan untuk


12
Ibid, hal. 7
13
Ibid, hal. 8
20

dapat diraih dengan menyetujui segala syarat serta konpensasi yang ada. Maka

kerja membesarkan bisnis MLM yang kita pilih bisa dapat lebih terarah dengan

baik.14

C. Cara Kerja Multi Level Marketing

MLM adalah menjual atau memasarkan langsung suatu produk baik

berupa barang atau jasa konsumen sehingga biaya distribusi dari barang yang

dijual atau dipasarkan tersebut sangat minim bahkan sampai ke titik nol, yang

artinya bahwa dalam bisnis MLM ini tidak diperlukan biaya distribusi. MLM juga

menghilangkan biaya promosi dari barang yang hendak dijual karena distribusi

dan promosi ditangani langsung oleh distributor dengan sistem berjenjang.15

Mekanisme operasional pada MLM ini yaitu, seorang distributor dapat

mengajak orang lain untuk ikut juga sebagai distributor kemudian, orang lain itu

dapat pula mengajak orang lain lagi untuk ikut bergabung. Begitu seterusnya,

semua yang diajak dan ikut merupakan suatu kelompok distributor yang bebas

mengajak orang lain lagi sampai level yang tanpa batas. Inilah salah satu

perbedaan MLM dengan pendistribusian secara konvensional yang bersifat single

level. Pada pendistribusian konvensional, seorang agen mengajak beberapa orang

bergabung ke dalam kelompoknya menjadi penjual atau sales atau disebut juga

“wiraniaga”. Pada sistem single level ini, para wiraniaga tersebut meskipun

mengajak temannya, hanya sekedar pemberi referensi yang secara organisasi tidak

14
Ibid, hal. 8
15
Firman Wahyudi, “Mutli Level Marketing Dalam Kajian Fiqh Muamalah”, Jurnal Al-
Banjari, Vol. 13, No. 2, Juli-Desember 2014, hal. 166-167 dalam [Link]-
[Link]-banjariarticleviewFile396309. Diakses pada 16 Februari 2017 pukul
10.20 Wib
21

dibawah koordinasinya melainkan terlepas. Mereka berada sejajar sama-sama

sebagai distributor.16

Dalam MLM, terdapat unsur jasa. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya

seorang distributor yang menjualkan barang yang bukan miliknya dan ia

mendapat upah dari presentase harga barang. Selain itu jika ia dapat menjual

barang tersebut sesuai dengan target yang telah ditetapkan, maka ia mendapatkan

bonus yang ditetapkan perusahaan.17

Pada dasarnya cara kerja pemasaran dengan strategi MLM berorientasi

pada prestasi dari setiap anggota atau distributornya. Para distributor dituntut

untuk menjual produk sesuai target dan membangun jaringan seluas-luasnya.

Adapun cara kerja pemasaran dengan strategi MLM adalah:18

1. Pertama-tama Anda akan disponsori oleh seorang distributor perusahaan

MLM. Sponsor Anda adalah distributor yang lebih dahulu bergabung dengan

perusahaan MLM. Tugas Anda antara lain menjual produk-produk perusahaan

MLM dan mencari mitra bisnis baru sebanyak mungkin untuk bergabung

menjadi distributor, hingga membentuk suatu jaringan yang luas.

2. Membayar uang pangkal/pendaftaran. Untuk dapat didaftar sebagai anggota

atau distributor, setiap orang diwajibkan membayar sejumlah uang yang sudah

ditentukan besarnya. Uang pendaftaran ini biasanya akan diserahkan ke

stockiest terdekat bersamaan dengan formulir pendaftaran yang telah diisi oleh

prospek atau calon distributor. Setelah membayar uang pangkal seorang

16
Gemala Dewi, et al, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005),
hal. 188.
17
Mardani, Hukum Perikatan..., hal. 210
18
Andi Setiawan, Multi Level Marketing..., hal. 8
22

distributor baru akan mendapatkan berbagai fasilitas misalnya buku pedoman,

kartu anggota, literatur perusahaan, majalah, selebaran berkala, informasi

produk, formulir-formulir pesanan, nasehat bisnis, dan contoh-contoh produk.19

3. Menandatangani perjanjian atau kontrak. Seorang anggota/distributor yang

sudah membayar sejumlah uang pangkal tadi, kemudian akan menandatangani

suatu kontrak yang bersifat mengikat distributor dan perusahaan. Seorang

distributor harus mematuhi berbagai peraturan yang sudah ditetapkan,

sedangkan perusahaan berkewajiban untuk menyediakan produk, memberikan

berbagai bonus atau komisi, memberikan layanan sebagaimana dijanjikan

dalam marketing plan perusahaan, dan pedoman agar para distributor dapat

menjalankan bisnisnya dengan benar. Setiap anggota berhak untuk

mendapatkan produk-produk dari perusahaan dengan harga distributor atau

harga grosir.20

4. Melaksanakan aktivitas penjualan produk. Para distributor kemudian

melakukan kegiatan menjual produk-produk perusahaan kepada konsumen.

Sebagian besar penjualan langsung/direct selling ini merupakan personal

selling/face to face, diawali dengan suatu rekomendasi atau pendekatan

langsung. Para distributor biasanya memberikan penjelasan tentang produk-

produk perusahaan dan meyakinkan akan manfaat, keunggulan, atau kualitas

agar orang bersedia untuk membelinya.21

5. Mengembangkan jaringan. Selain bertugas menjual produk secara langsung

kepada konsumen, setiap distributor juga harus mengembangkan jaringan


19
Ibid, hal. 8
20
Ibid, hal. 9
21
Ibid, hal. 9
23

penjualan seluas-luasnya. Untuk dapat membangun jaringan, setiap distributor

harus mencari prospek. Ada beberapa strategi untuk mendapatkan prospek,

yaitu kembangkan jaringan seluas-luasnya, jelajahi seluruh pasar, temui orang-

orang tempat prospek bergantung, dan tampakkan diri sebagai agen. Apabila

distributor berhasil dalam mengembangkan jaringan, maka perusahaan akan

memberikan berbagai imbalan dalam bentuk bonus, potongan harga, dan

insentiv-insentiv lainnya. Strategi MLM bertumpu pada pengembangan

jaringan, sehingga semakin banyak seorang distributor berhasil merekrut

anggota baru maka penghasilan atau bonusnya semakin besar.22

D. Multi Level Marketing Dalam Pandangan Hukum Ekonomi Syariah

Semua bisnis yang menggunakan sistem MLM, dalam literatur fiqh

termasuk dalam kategori muamalah yang dibahas dalam bab al-buyu’ (jual-beli).

Dalam kajian fiqh kontemporer, bisnis MLM ini dapat ditinjau dari dua aspek

yaitu: (1) produk barang atau jasa yang dijual; dan (2) sistem penjualannya

(selling marketing).23

Pertama, berkaitan dengan produk atau barang yang dijual apakah halal

atau haram tergantung kandungannya, apakah terdapat sesuatu yang diharamkan

Allah seperti unsur babi, khamr, bangkai atau darah. Begitu pula dengan jasa

yang dijual apakah mengandung unsur kemaksiatan seperti praktik perzinaan,

22
Ibid.
23
Anita Rahmawaty, “Bisnis Multilevel Marketing”.., hal. 77
24

perjudian, gharar dan spekulatif.24 Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah:

275:

‫َا‬‫ِن‬
‫َ إ‬ ٌُٕ ‫ُٕي‬‫َق‬ ٚ ‫َا‬‫ْ ن‬ ‫َٰٕا‬
‫ِت‬‫َ ٱنش‬
ٌُٕ ‫ُه‬‫َأۡك‬
ٚ َ ٍِٚ ‫َز‬‫ٱن‬
ٍِ
َ ‫ُ ي‬ ٌَٰ َۡٙ
‫ط‬ ‫ٱنّش‬ ُّ
ُ ‫َط‬
‫َث‬‫َخ‬
‫َر‬ٚ ِ٘ ‫ُ ٱن‬
‫َز‬ ‫ُٕو‬ ‫َق‬ ٚ ‫َا‬ ًَ‫ك‬
‫ۡع‬َٙ
ُ ‫لت‬ۡ ‫َا ٱ‬ ًَ‫إ‬ ِ ‫ُٕٓا‬
ْ ‫َان‬‫ُىۡ ق‬ ََٓ
‫ِأ‬‫َ ت‬ ‫ِك‬ ٰ
‫َن‬ ‫ر‬ ِۚ
‫َظ‬ ۡ ‫ٱ‬
‫لي‬
‫َو‬
َ ‫َش‬
‫َد‬ٔ َ ‫ۡع‬َٙ ۡ ‫ٱ‬
‫لت‬ َّ
ُ ‫َ ٱنه‬ ‫َم‬‫َد‬
‫َأ‬ٔ ْۗ َٰٕ
‫ا‬ ‫ِت‬‫ُ ٱنش‬ ‫ِثۡل‬‫ي‬
‫ِۦ‬ِّ‫َت‬
‫ٍِ س‬ ‫ ي‬ٞ‫َح‬ ‫ِظ‬‫َٕۡػ‬
‫ُۥ ي‬ ‫َآء‬
َِ ‫ٍَ ج‬ ًَ‫ْ ف‬ۚ َٰٕ
‫ا‬ ‫ِت‬‫ٱنش‬
ِۖ
َّ ‫َٗ ٱنه‬ ‫ُٓۥ إ‬
‫ِن‬ ُِ‫َوۡس‬
‫َأ‬ٔ َ ‫َف‬‫َه‬
‫َا ع‬ ‫ُۥ ي‬َّ ‫َٰٗ ف‬
‫َه‬ ‫َٱَر‬
َٓ ‫ف‬
‫َا‬ ‫ُىۡ ف‬
ِٓٛ ْ ِۖ
‫َاس‬ُ‫ُ ٱن‬ ٰ ۡ‫َص‬
‫َب‬‫ح‬ ‫َ أ‬‫ِك‬‫َٰٓئ‬
‫ْل‬ُٔ
‫َأ‬‫َ ف‬‫َاد‬‫ٍَۡ ػ‬‫َي‬
ٔ
)٥٧٢( ٌَُٔ‫ِذ‬ ٰ
‫َن‬ ‫ر‬

Artinya: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri


melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran
(tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu
sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba),
maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang
larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali
(mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya.25

Dalam QS. Ash-Shaff: 10-13 juga di sebutkan:

َٰٗ
‫َه‬‫ُىۡ ػ‬
‫ُك‬‫ُن‬
‫أد‬َ ۡ‫َم‬
ْ ْ
‫ُٕا‬
َُ‫َاي‬
‫َ ء‬
ٍِٚ
‫َز‬‫َا ٱن‬
ُٓ ‫َٰأ‬
َٚ ٓ
٘
)٠١( ٞ‫ى‬ِٛ
‫َن‬‫ٍ أ‬ ‫َاب‬
‫َز‬‫ٍِۡ ػ‬‫ُى ي‬
‫ك‬ِٛ‫ُُج‬‫ ذ‬ٞ‫َج‬‫َٰس‬
‫ِج‬‫ذ‬
ِٙ‫َ ف‬ٌُٔ
‫ِذ‬َْٰ
‫ذج‬ ٔ ‫ِۦ‬
َُ ِّ‫ُٕن‬
‫َع‬‫َس‬
ٔ ِ
َّ‫ِٱنه‬
‫ٌ ب‬
َُٕ
ُِ‫ُؤۡي‬‫ذ‬
24
Ibid, hal. 78
25
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Dan Terjemahnya.., hal. 47
25

ۡ‫ُى‬
‫ِك‬ ٰ
‫َن‬ ‫ر‬ ۚۡ‫ُى‬
‫ِك‬‫فغ‬
ََُ
‫َأ‬ٔ ۡ‫ُى‬
‫ِك‬ ٰ ۡ‫َو‬
‫َن‬ٔ ‫ِأ‬‫ت‬ َّ
ِ ‫ٱنه‬ ‫م‬ِٛ
ِ ‫َث‬‫ع‬
ۡ‫ِش‬
‫َغۡف‬
ٚ )٠٠( َ
ٌُٕ
ًَ‫َغۡن‬
‫ُىۡ ذ‬
‫ُُر‬ ‫ُىۡ إ‬
‫ٌِ ك‬ ‫َك‬‫ ن‬ٞ‫ۡس‬َٙ
‫خ‬
ٍِ
‫ِ٘ ي‬ ‫ ذ‬ٞ‫َٰخ‬
‫َجۡس‬ ٍَ‫ُىۡ ج‬
‫ِمۡك‬
‫ُذۡخ‬
َٚٔ ۡ‫ُى‬
‫َك‬‫ُٕت‬
َُ‫ُىۡ ر‬
‫َك‬‫ن‬
‫َٰخ‬
ِ ٍَ ‫ ف‬ٞ‫َح‬
‫ ج‬ِٙ ‫ِث‬َٛ
‫َ ط‬
ٍِ‫َٰك‬
‫َظ‬‫َي‬ ‫َٰس‬
ٔ ُ ٌَِۡ
‫لأ‬ۡ ‫َا ٱ‬
ِٓ‫َخۡذ‬
‫ذ‬
َٰٖ
‫ُرۡس‬
‫َأ‬ٔ )٠٥( ُ
‫ى‬ِٛ
‫َظ‬ ۡ ‫ُ ٱ‬
‫لػ‬ ‫َٕۡص‬
‫لف‬ۡ ‫َ ٱ‬
‫ِك‬ ٰ
‫َن‬ ‫ر‬ ٞ
ۚ ٌۡ‫َذ‬
‫ػ‬
ٞ
ۗ ‫ة‬ِٚ
‫َش‬‫ ق‬ٞ‫َدۡح‬
‫َف‬ٔ ِ
َّ‫ٍ ٱنه‬
َِ‫ ي‬ٞ‫َصۡس‬ َ ۖ‫َا‬َُٕٓ‫ِث‬ ‫ُذ‬
‫ذ‬
)٠١( َ
‫ِني‬
ُِ‫ُؤۡي‬ۡ ‫ِ ٱ‬
‫لي‬ ‫ِش‬‫َّش‬
‫َت‬ٔ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan


suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih.
(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan
Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika
kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan
memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-
sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam
jannah ´Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia
yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan
kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang beriman.26

Selanjutnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim juga
disebutkan:

َُ
ّ ‫َ انه‬ ِٙ‫سض‬َ ِ َّ
‫ِانه‬ ‫ْذ‬‫َث‬
‫ِ ػ‬ ٍْ‫ِت‬
‫ِش‬‫َات‬‫ْ ج‬ ٍَ
‫َػ‬ٔ
َّ
ُ ‫َٗ انه‬ ‫َه‬‫ِ ص‬َّ‫َ انه‬ ‫ْل‬ُٕ
‫َع‬‫َ س‬‫ِغ‬
ًَ‫ُ ع‬
ََّ ‫َا أ‬ًُْٓ
َُ‫ػ‬
‫َح‬
َ ‫َك‬
ًِ‫َت‬
َُْٕ
ٔ ِ‫ْخ‬‫َر‬‫َ انف‬ ‫َاو‬‫ُ ػ‬‫ُٕل‬‫َق‬ٚ َ
‫َى‬‫َه‬‫َع‬
ٔ َِّْٛ
‫َه‬‫ػ‬
‫ْش‬
ًَِ‫َ اخل‬ ‫ْغ‬َٛ
‫َ ت‬ ‫َو‬
‫َش‬‫ُ د‬ َّ‫ُٕن‬‫َع‬
‫َس‬ٔ َ َّ‫َ انه‬ ٌِ‫إ‬
‫َا‬ٚ َ‫ْم‬
ِٛ‫َق‬
‫و ف‬ ِ‫َا‬ ُْ‫َص‬
‫َاأل‬ٔ ِ‫ِش‬ِٚ
‫ْض‬ُِ
‫َاخل‬
ٔ ِ ‫َح‬
‫ْر‬َٛ
ًْ‫َان‬
ٔ
‫َا‬َِٓ‫َئ‬
‫ِ ف‬‫َح‬‫ْر‬
ٛ‫مل‬
َ‫َ ا‬ ‫ْو‬ُٕ‫ُذ‬
‫َ ش‬ ‫ْد‬
َٚ‫َأ‬
‫َس‬‫ِ أ‬
َّ‫َ انه‬ ‫ْل‬ُٕ
‫َع‬‫س‬
ُٕ‫ُه‬
‫َا اجل‬ ِٓ‫ُ ت‬ ٍَ
ْْ‫ُذ‬‫َذ‬
ٔ ُ ٍُ
‫ُف‬‫َا انغ‬ ِٓ
‫َٗ ت‬ ‫ْه‬
‫ُط‬‫ذ‬
26
Ibid, hal. 552
26

ٌ‫َا‬
‫و‬ ‫َش‬‫َد‬
َُْٕ
‫َ ال‬
‫َاال‬
‫َق‬‫ُ ؟ ف‬ ‫َاط‬ُ‫َاان‬ِٓ‫ُ ت‬‫ِخ‬
‫ْث‬‫َص‬
‫ْر‬‫َغ‬
َُٚٔ
‫د‬
ّْ
ِ َٛ
‫َه‬‫ُ ػ‬َّ‫َٗ انه‬ ‫َه‬‫ِ ص‬ َّ
‫ُ انه‬ ‫ُل‬ُٕ
‫َع‬‫َ س‬‫َال‬‫َ ق‬ ‫ُى‬
‫ث‬
ٌِ
َ ‫َ إ‬‫ُٕد‬َٓٛ‫ُ ان‬ َّ‫َ انه‬ ‫َم‬
‫َاذ‬‫َ ق‬‫ِك‬‫َن‬
‫َر‬‫ْذ‬
ُِ‫َ ػ‬‫َى‬
‫َه‬‫َع‬
ٔ
ِْ
ُ ُٕ
‫َه‬ًَ
‫َا ج‬ َٓ
‫ُٕ ي‬ ‫ُذ‬‫ْ ش‬‫ِى‬ْٓ
َٛ‫َه‬
‫َ ػ‬‫َو‬
‫َش‬‫َا د‬ًَ‫َ ن‬َّ
‫انه‬
)َِّٛ‫َه‬
‫ٌ ػ‬ ‫َق‬
‫رف‬َُ
‫ُ (ي‬ َّ
ًََُ
‫ُٕا ث‬ ‫َه‬
‫َك‬‫َأ‬
‫ُ ف‬ِْ
ُٕ‫َاػ‬‫َ ت‬‫ُى‬
‫ث‬

Dari Jabir bin Abdillah r.a. bahwa ia mendengar Rasulullah Saw.


bersabda di Makkah pada tahun penaklukan Kota Makkah (Fath
Makkah, 8 H), “Sesungguhnya, Allah melarang jual-beli minuman keras,
bangkai, babi, dan berhala.” Ada orang bertanya, “Ya Rasulullah, apa
pendapat Anda tentang lemak bangkai karena ia biasa digunakan untuk
mengecat perahu, meminyaki kulit, dan dipakai untuk menyalakan
lampu?” Beliau bersabda, “Tidak, ia haram.” Kemudian, setelah itu,
Rasulullah Saw. bersabda, “Allah melaknat orang-orang Yahudi karena
ketika Allah mengharamkan atas mereka (jual-beli) lemak bangkai
mereka malah memprosesnya dan menjualnya, lalu mereka memakan
hasilnya.” (Muttafaq „Alaih).27

Kedua, berkaitan dengan sistem penjualannya, bisnis MLM tidak hanya

sekedar menjalankan penjualan produk barang, melainkan juga produk jasa,

yaitu jasa marketing yang berlevel-level (bertingkat-tingkat) dengan imbalan

berupa marketing fee, bonus, dan sebagainya tergantung level, prestasi

penjualan dan status keanggotaan distributor. Jasa marketing yang bertindak

sebagai perantara antara produsen dan konsumen ini, dalam terminologi fiqh

disebut sebagai “Samsarah/simsar”.28

Menurut Sayid Sabiq, Simsar adalah:

‫ِغ‬
ُ‫َائ‬
‫ْث‬‫ان‬ ٍْ
َ َٛ
‫ت‬ ‫َط‬
ُ ‫َع‬
َٕ‫َر‬
ٚ ِ٘
ْ ‫َز‬
‫َان‬
ُُْٕ
‫َاس‬
‫ْغ‬ًِ
‫َنغ‬
‫ا‬
‫ْغ‬
ِ َٛ
‫َث‬‫ِ ان‬
‫َح‬ِٛ
‫َه‬ًَ
‫ِ ػ‬
‫ْم‬ِٛ
ْٓ‫َغ‬
‫ِر‬‫ْ ن‬
ِ٘‫َش‬
‫ْر‬‫ُّش‬
ًْ‫َان‬
ٔ

27
Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five in One, terj. Lutfi
Arif, Adithya Warman, dan Fakhruddin, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2012), hal. 457
28
Anita Rahmawaty, “Bisnis Multilevel Marketing” …, hal. 78
27

Simsar adalah orang yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli
untuk mempermudah pelaksanaan jual beli.

Kegiatan samsarah (perantara) dalam bentuk distributor, agen, member

atau mitra niaga termasuk akad ijarah29, yaitu transaksi memanfaatkan tenaga dan

jasa orang lain dengan imbalan atau ujrah. Akad samsarah ini hukumnya

dibolehkan oleh para ulama, seperti Ibnu Sirin, „Atha‟, Ibrahim, Hasan, dan Ibnu

Abbas.30

Insentif yang diberikan harus memperhatikan dua kriteria, yaitu:

1. Prestasi penjualan produk;

2. Banyaknya down line yang dibina, sehingga ikut menyukseskan kinerjanya.

Sedangkan dari sisi syariah, pemberian insentif harus memenuhi tiga

syarat sebagai berikut.

1. Adil. Insentif (bonus) kepada seseorang (up line) tidak boleh mengurangi hak

orang lain yang ada di bawahnya (down line), sehingga tidak ada yang

dizalimi.

2. Terbuka. Pemberian insentif juga harus diinformasikan kepada seluruh

anggota, bahkan mereka harus diajak musyawarah dalam menentukan insentif

dan pembagiannya.

29
Ijarah juga dapat berarti akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui
pembiayaan upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership milikiyyah atas
barang itu sendiri. Lihat Isriani Hardini dan Muh. H. Giharto, Kamus Perbankan Syariah, Cet. ke-
II, (Bandung: PT Kiblat Buku Utama, 2012), hal. 45
30
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat..., hal. 616
28

3. Berorientasi kepada al-falah (keuntungan dunia dan akhirat). Keuntungan

dunia artinya keuntungan yang bersifat materi. Sedangkan keuntungan akhirat

bahwa kegiatan bisnisnya merupakan ibadah kepada Allah SWT.31

Namun demikian, untuk keabsahan bisnis ini harus memenuhi syarat-

syarat, di antaranya adalah: distributor dan perusahaan harus jujur, ikhlas,

transparan, tidak menipu dan tidak menjalankan bisnis yang haram dan syubhat.

Selain itu, distributor berhak menerima imbalan setelah berhasil memenuhi

akadnya. Sedangkan pihak perusahaan yang menggunakan jasa marketing harus

segera memberikan imbalan para distributor dan tidak boleh menghanguskan atau

menghilangkannya.32 Allah SWT berfirman dalam surat an-Nisa: 29:

ُْٕٓ
‫ا‬ ‫ُه‬‫َأۡك‬
‫َا ذ‬ ‫ا ن‬ ُْٕ
َُ ‫َاي‬ ‫َ ء‬ٍِٚ
‫َز‬‫َا ٱن‬ُٓ
َٚ ‫َٰأ‬
ٓ
٘
ٌُٕ
َ ‫َك‬‫ٌَ ذ‬ ‫َآ أ‬
‫إن‬ِ ِ‫طم‬
َِٰ ‫ل‬
‫ب‬ ۡ ‫ِٱ‬ ‫َۡك‬َٙ
‫ُى ب‬ ‫ُى ت‬
‫َك‬ ٰ ۡ‫َو‬
‫َن‬ٔ ‫أ‬
‫ُٕٓا‬
ْ ‫ُه‬‫َقۡذ‬
‫ذ‬ ‫َا‬
‫َن‬ٔ ۚۡ‫ُى‬
‫ُِك‬
‫ي‬ ٞ‫َاض‬
‫َش‬‫ذ‬ ٍَ
‫ػ‬ ‫َج‬
ً ‫َٰس‬
‫ِج‬‫ذ‬
)٥٢( ‫ا‬ٞ‫ى‬ِٛ
‫َد‬‫ُىۡ س‬
‫ِك‬‫َ ت‬
ٌ‫َا‬
‫َ ك‬
َّ‫َ ٱنه‬
ٌِ‫ُىۡۚ إ‬
‫َك‬‫ُغ‬
‫ََف‬
‫أ‬

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling


memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan
janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha
Penyayang kepadamu.33

Selanjutnya dalam surat al-A‟raf ayat 85 disebutkan:

31
Ibid, hal, 619
32
Anita Rahmawaty, Bisnis Multilevel Marketing Dalam Perspektif Islam…, hal. 78
33
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Dan Terjemahnya..., hal. 83
29

َِٕۡ
‫و‬ ٰ َ
‫َق‬٘ ‫َال‬‫ا ق‬ۚ ٞ‫ۡب‬َٙ
‫ُؼ‬‫ُىۡ ش‬
ْ‫َا‬
‫َخ‬‫ٍ أ‬
ََٚۡ‫َذ‬
‫َٰٗ ي‬
‫ِن‬‫َإ‬ٔ
ۡ‫َذ‬
‫ُۥۖ ق‬
ُِ‫ۡس‬َٙ َِٰ
‫ٍ غ‬ ‫ِل‬‫ٍِۡ إ‬
‫ُى ي‬‫َك‬‫َا ن‬
‫َ ي‬ ‫ْ ٱنه‬
َّ ‫ُٔا‬
‫ُذ‬ ۡ ‫ٱ‬
‫عت‬
ََۡٙ
‫ل‬ ۡ ‫ْ ٱ‬
‫لك‬ ‫ُٕا‬‫َٔۡف‬
‫َأ‬‫ُىۡۖ ف‬
‫ِك‬‫َت‬‫ٍِ س‬ ‫ ي‬ٞ‫َح‬
َُِٛ
‫ُى ت‬‫َخۡك‬
‫َآء‬‫ج‬
ۡ‫ُى‬َْ‫َآء‬ ٚۡ‫َػ‬
‫َ أ‬‫َاط‬ُ‫ْ ٱن‬ ‫ُٕا‬ ‫َةۡخ‬
‫َغ‬ ‫َا ذ‬
‫َن‬ٔ ٌَ‫َا‬
‫ض‬ِٛ ۡ ‫َٱ‬
‫لي‬ ٔ
ۚ‫َا‬
ِٓ‫َد‬ٰ ۡ‫ِص‬
‫ل‬ ‫َ إ‬ ‫َغۡد‬
‫ِ ت‬ ‫َسۡض‬‫لأ‬ۡ ‫ ٱ‬ِٙ ‫ْ ف‬
‫ُٔا‬ ‫ُفۡع‬
‫ِذ‬ ‫َا ذ‬ ‫َن‬ٔ
)٥٢( َ
‫ِني‬
ُِ‫ُؤۡي‬
‫ُى ي‬
‫ُُر‬ ‫ُىۡ إ‬
‫ٌِ ك‬ ‫َك‬‫ ن‬ٞ‫ۡس‬َٙ
‫ُىۡ خ‬
‫ِك‬ ٰ
‫َن‬ ‫ر‬

Artinya: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara


mereka, Syu´aib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang
kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah
takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia
barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang
beriman.34

Dalam surat al-Baqarah ayat 233 juga disebutkan:

‫َا‬‫َه‬‫ُىۡ ف‬
‫َك‬ ٰ َۡٔ
‫َد‬‫ل‬ ‫ْ أ‬‫ُٕٓا‬ ‫َشۡض‬
‫ِؼ‬ ‫َظۡذ‬
‫ٌَ ذ‬‫ُىۡ أ‬‫َدذ‬ ‫ٌِۡ أ‬
‫َس‬ ‫َإ‬ٔ
‫ُى‬‫ۡذ‬َٙ
‫َاذ‬‫َآ ء‬ ‫ُى ي‬ ‫َىۡذ‬
‫َه‬‫َا ع‬ ‫ِر‬‫ُىۡ إ‬
‫ۡك‬َٙ‫َه‬
‫َ ػ‬ ‫َاح‬ ُُ‫ج‬
َّ
َ ‫َ ٱن ه‬
ٌَ‫ْ أ‬‫ُٕٓا‬
ًَ‫َٱعۡن‬
ٔ ََّ‫ْ ٱنه‬‫ُٕا‬
‫َق‬‫َٱذ‬
ٔ ِۗ
‫ُٔف‬‫َغۡس‬
‫لي‬ۡ ‫ِٱ‬
‫ب‬
)٥١١( ٞ‫ِري‬
‫َص‬‫َ ت‬
ٌُٕ
‫َه‬‫َغۡي‬
‫َا ذ‬
ًِ‫ت‬

Artinya: Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.35

34
Ibid, hal. 161
35
Ibid, hal. 37
30

Mengenai beberapa bisnis MLM atau hanya berkedok MLM yang masih

meragukan (syubhat) ataupun yang sudah jelas ketahuan tidak sehatnya bisnis

tersebut baik dari kehalalan produknya, system marketing fee, legalitas formal,

pertanggung jawaban, tidak terbebasnya dari unsur-unsur haram seperti riba

(permainan bunga atau penggandaan uang), dzulm, gharar (merugikan nasabah

dengan money game), maysir (perjudian) sebaiknya ditinggalkan.36 Hal ini sesuai

dengan kaidah fiqh yang berbunyi:

‫َاس‬
َ ‫ِٖش‬
‫َض‬‫َال‬
َٔ‫َس‬
‫َٖش‬
‫َض‬‫ال‬
Tidak boleh membahayakan diri atau orang lain 37

Ada MLM yang membuka pendaftaran keanggotaan (member), dengan

mensyaratkan kepada member untuk membayar sejumlah uang tertentu untuk

menjadi member dan setelah menjadi member, ia akan menerima suatu produk

tertentu yang diberikan oleh pihak perusahaan. Ini berarti, terjadi pembayaran dari

satu pihak yang kemudian diikuti oleh pemberian barang dari pihak lainnya,

sehingga terjadi akad bai’ (jual beli). Selain itu, dia secara otomatis mendapat

kesempatan untuk mencari orang yang akan menjadi downline-nya.

Jika dia berhasil mencari sejumlah downline (sesuai kesepakatan dengan

perusahaan), maka dia berhak atas bonus dari perusahaan. Pencarian orang ini

sifatnya tidak mengikat, artinya si member tidak berkewajiban untuk itu, hanya

sebatas berhak saja. Bila ingin mendapatkan bonus, maka tentu dia harus mencari

36
Madani. Fiqh Ekonomi Syari’ah, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 314
37
Abbas Arfan, 99 Kaidah Fiqh: Muamalah Kulliyyah, Cet. ke-II, (Malang: UIN-Maliki
Press, 2013), hal.74
31

downline, tapi bila tidak juga tidak apa-apa. Hal seperti ini menimbulkan akad

ju‟alah.

Dalam MLM tipe ini, terjadi dua akad dalam waktu yang bersamaan:

akad bai’ dan akad ju’alah. Bai’ berarti jual beli, sedangkan ju‟alah berarti

memberikan upah kepada seseorang yang telah melakukan pekerjaan untuknya.38

Jual beli diartikan juga dengan menukar barang dengan barang atau barang

dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain

atas dasar saling merelakan.39 Berkaitan dengan terjadinya dua akad dalam waktu

yang bersamaan, terdapat hadis Nabi Saw. yang melarangnya, yaitu:

ُُٕ
‫ل‬ ‫َع‬‫َٗ س‬ َٓ َ ‫َال‬
‫ُ ق‬ َُّْ‫ُ ػ‬ َّ
‫َ انه‬ ِٙ
‫َض‬‫ُ س‬َُّْ
‫َػ‬ٔ
ٍَ
ْ ‫َ ػ‬ ‫َى‬
‫َه‬‫َع‬
ٔ ِ ّْ
َٛ‫َه‬
‫ُ ػ‬ َّ
‫َٗ انه‬ ‫َه‬
‫ِ ص‬ َّ‫انه‬
‫َذ‬
ُ ًْ
‫َد‬‫أ‬ ِ‫َا‬
ُ َٔ‫(س‬ ‫َح‬
ٍ ‫ْؼ‬
َٛ‫ت‬ ِٙ
ْ ‫ف‬ ٍْ
ِ َٛ
‫َر‬‫ْؼ‬
َٛ‫ت‬
ٍْ
ُ ‫َات‬ٔ ِ٘
ُ ‫ِز‬
‫ْي‬‫ِٖش‬
‫انر‬ َّ
ُ ‫َذ‬
‫َذ‬‫َص‬
ٔ ِٙ
ُ ‫َائ‬‫َغ‬
ُ‫َان‬ ٔ

ٌ‫َا‬‫ِث‬‫د‬

Dari Abu Hurairah r.a berkata, “Rasulullah Saw. melarang dua jual-beli
dalam satu transaksi.” Riwayat Ahmad dan An-Nasa’i. Hadits ini sahaih
menurut Al-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.40

Transaksi adalah pertukaran barang-barang atau jasa-jasa pada tingkat

harga tertentu atau dalam jumlah uang tertentu.41 Sedangkan dua jual-beli ini

berarti akad. Artinya, dilarang melakukan dua akad dalam stau transaksi. MLM

jelas mempraktekkan dua akad dalam satu transaksi, yaitu bai‟ dan ju‟alah.

38
Madani. Fiqh Ekonomi Syari’ah..., hal. 314
39
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pres, 2010), hal. 67
40
Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five in One..., hal. 469
41
Ridwan S. Sundjaja dan Inge Barlian, Manajemen Keuangan Satu, Edisi 3, (Jakarta: PT.
Prehanllindo, 2001), hal. 499
32

Dari sisi akad, ada beberapa MLM yang bai’-nya terancam rusak (fasid).

Ini terjadi pada beberapa MLM yang mensyaratkan pembelian produk untuk

menjadi member, tapi pada prakteknya justru seperti jual beli. Calon member

membayar biaya pendaftaran dan perusahaan memberinya produk tertentu,

sehingga secara lahiriah adalah jual beli. Tapi calon member ketika memberikan

uang tidak berniat membeli barang melainkan niatnya adalah menjadi member,

sehingga ijab dari pihak member ini kabur. Maka dari itu, jual belinya fasid,

karena salah satu rukunnya tidak jelas.

Selain itu, calon member juga harusnya tidak melakukan akad dengan

terpaksa. Artinya jika niatnya menjadi member, seharusnya calon member tidak

menyesal jika ternyata ia harus membeli produk tertentu dari perusahaan tersebut.

Secara realitas, kini perusahaan MLM sudah banyak tumbuh di dalam dan

luar negeri. Bahkan, di Indonesia sudah ada yang secara terang-terangan

menyatakan bahwa MLM tersebut sesuai syariat, seperti Ahad-Net, MQ-Net, dan

lain-lain. Produk dan usaha MLM yang menjalankan Prinsip Syariah, memperoleh

sertifikat halal dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-

MUI). Untuk MLM yang berdasarkan Prinsip Syariah ini, hingga sejauh ini

memang diperlukan akuntabilitas dari MUI.42

Agar bisnis MLM ini sesuai dengan syariah, maka harus dipenuhi

beberapa syarat sebagai berikut:

1. Produk yang dipasarkan harus halal, thayib (berkualitas), dan menghindari

syubhat.

42
Gemala Dewi, et al, Hukum Perikatan Islam..., hal. 190
33

2. Sistem akadnya harus memenuhi kaidah dan rukun jual beli sebagaimana yang

terdapat dalam hukum Islam.

3. Kegiatan operasional, kebijakan, corporate culture, dan sistem akuntansinya

harus sesuai denga syariah.

4. Tidak ada upaya untuk melakukan mark up harga barang melampaui batas

kewajaran (misalnya dua kali lipat), sehingga anggota terzalimi dengan harga

yang sangat mahal, tidak sepadan dengan kualitas dan manfaatnya.

5. Struktur manajemennya memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang terdiri

dari para ulama yang memahami masalah ekonomi.

6. Formula insentif harus adil, tidak menzalimi down line dan tidak menempatkan

up line hanya sebagai anggota yang menerima pasif income tanpa bekerja.

7. Pembagian bonus harus mencerminkan usaha masing-masing anggota.

8. Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara orang yang awal

menjadi anggota dengan yang akhir (belakangan)

9. Bonus yang diberikan harus jelas angka nisbahnya sejak awal.

10. Tidak menitikberatkan kepada barang-barang tersier ketika umat masih

bergelut dengan pemenuhan kebutuhan primer.

11. Cara penghargaan kepada mereka yang berprestasi tidak boleh mencerminkan

sikap hura-hura dan pesta pora karena sikap tersebut tidak sesuai dengan

syariah.

12. Perusahaan MLM harus beorientasi kepada kemaslahatan ekonomi umat.43

43
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, hal. 618-619
34

E. Fatwa DSN MUI NO. 75/DSN-MUI/VII/2009 Tentang Pedoman Penjualan

Langsung Berjenjang Syariah (PLBS)

Dunia semakin maju, teknologi semakin canggih dan sistem perdagangan

pun semakin banyak dan beraneka ragam. Salah satu bentuk trend bisnis yang saat

ini menjamur di masyarakat adalah sistem penjualan berjenjang atau yang lebih

dikenal dengan istilah Multi Level Marketing. Sistem Multi Level Marketing

mengehendaki konsumennya untuk melakukan penjualan barang kepada

konsumen lain dan merekrut konsumen lain untuk ikut sebagai tenaga pemasaran

dalam suatu jaringan kerja.

Namun karena mudahnya mencari keuntungan dalam bisnis model ini

banyak orang yang meragukan kehalalan sistemnya, dan tidak sedikit yang

menganggapnya sebagai bisnis yang haram. Sehingga hal tersebut membuat

Dewan Syariah Nasional MUI sebagai lembaga yang berwenang mengeluarkan

fatwa akan adanya suatu hal yang baru yang berkaitan dengan aktivitas umat

Islam termasuk dalam hal perdangangan, memandang perlu untuk mengeluarkan

fatwa tentang sistem perdangangan yang mengusung sistem penjualan berjenjang

dalam kerjanya agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam pandangan yang salah,

terlebih lagi kepada bisnis yang tidak halal. Adapun fatwa tersebut adalah Fatwa

DSN MUI NO. 75/DSN MUI/VII/2009 Tentang Pedoman Penjualan Langsung

Berjenjang Syariah. Dimana ketentuan-ketentuannya adalah sebagai berikut:

Pertama :Ketentuan Umum


1. Penjualan Langsung Berjenjang adalah cara penjualan
barang atau jasa melalui jaringan pemasaran yang dilakukan
35

oleh perorangan atau badan usaha kepada sejumlah perorangan


atau badan usaha lainnya secara berturut-turut.
2. Barang adalah setiap benda berwujud, baik bergerak
maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat
dihabiskan, yang dapat dimiliki, diperdagangkan, dipakai,
dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen.
3. Produk jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan
atau pelayanan untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
4. Perusahaan adalah badan usaha yang berbentuk badan
hukum yang melakukan kegiatan usaha perdagangan barang dan
atau produk jasa dengan sistem penjualan langsung yang
terdaftar menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.
5. Konsumen adalah pihak pemakai barang dan atau jasa,
dan tidak untuk diperdagangkan.
6. Komisi adalah imbalan yang diberikan oleh perusahaan
kepada mitra usaha atas penjualan yang besaran maupun
bentuknya diperhitungkan berdasarkan prestasi kerja nyata, yang
terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan
barang dan atau produk jasa.
7. Bonus adalah tambahan imbalan yang diberikan oleh
perusahaan kepada mitra usaha atas penjualan, karena
berhasil melampaui target penjualan barang dan atau
produk jasa yang ditetapkan perusahaan.
8. Ighra’ adalah daya tari luar biasa yang menyebabkan
orang lalai terhadap kewajibannya demi melakukan halhal atau
transaksi dalam rangka mempereroleh bonus atau komisi yang
dijanjikan.
9. Money Game adalah kegiatan penghimpunan dana masyarakat
atau penggandaan uang dengan praktik memberikan komisi dan
bonus dari hasil perekrutan/pendaftaran Mitra Usaha yang
baru/bergabung kemudian dan bukan dari hasil penjualan
produk, atau dari hasil penjualan produk namun produk yang
dijual tersebut hanya sebagai kamuflase atau tidak mempunyai
mutu/kualitas yang dapat dipertanggung jawabkan.
10. Excessive mark-up adalah batas marjin laba yang berlebihan
yang dikaitkan dengan hal-hal lain di luar biaya.
11. Member get member adalah strategi perekrutan keanggotaan
baru PLB yang dilakukan oleh anggota yang telah terdaftar
sebelumnya.
12. Mitra usaha/stockist adalah pengecer/retailer yang
menjual/memasarkan produk-produk penjualan langsung.

Kedua : Ketentuan Hukum


Praktik PLBS wajib memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai
berikut:
36

1. Adanya obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa


barang atau produk jasa;
2. Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu
yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu
yang haram;
3. Transaksi dalam perdagangan tersebut tidak mengandung
unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat;
4. Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive
mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak
sepadan dengan kualitas/manfaat yang diperoleh;
5. Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota
baik besaran maupun bentuknya harus berdasarkan pada
prestasi kerja nyata yang terkait langsung dengan volume atau
nilai hasil penjualan barang atau produk jasa, dan harus
menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS;
6. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota
(mitra usaha) harus jelas jumlahnya ketika dilakukan
transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan
atau produk jasa yang ditetapkan oleh perusahaan;
7. Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang
diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau
penjualan barang dan atau jasa;
8. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada
anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra’.
9. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian
bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya;
10. Sistem perekrutan keanggotaan, bentuk penghargaan dan
acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur
yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia,
seperti syirik, kultus, maksiat dan lainlain;
11. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan
berkewajiban melakukan pembinaan dan pengawasan kepada
anggota yang direkrutnya tersebut;
12. Tidak melakukan kegiatan money game.

Ketiga :Ketentuan Akad


Akad-akad yang dapat digunakan dalam PLBS adalah:

1. Akad Bai‟/Murabahah merujuk kepada substansi Fatwa


No. 4/DSN-MUI/IV/2000 tentang Murabahah; Fatwa No.
16/DSN-MUI/IX/2000 tentang Diskon dalam Murabahah;
2. Akad Wakalah bil Ujrah merujuk kepada substansi Fatwa
No. 52/DSN-MUI/III/2006 tentang Wakalah bil Ujrah
pada Asuransi dan Reasuransi Syariah;
3. Akad Ju‟alah merujuk kepada substansi Fatwa No.
62/DSN-MUI/XII/2007 tentang Akad Ju‟alah;
37

4. Akad Ijarah merujuk kepada substansi Fatwa No.


9/DSNMUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah.
5. Akad-akad lain yang sesuai dengan prinsip syariah setelah
dikeluarkan fatwa oleh DSN-MUI.

Keempat :Ketentuan Penutup


1. Jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka
penyelesaiannya dilakukan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan sesuai prinsip syariah.
2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika
di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan
disempurnakan sebagaimana mestinya.44

F. Penelitian Terdahulu

Sejauh pengetahuan dan pengamatan penulis, hingga saat ini, sebenarnya

sudah banyak kajian yang membahas masalah Multi Level Marketing dalam

bentuk karya ilmiah skripsi. Oleh karena itu, disamping untuk mengetahui posisi

penulis dalam melakukan penelitian ini, penulis juga berusaha untuk melakukan

review terhadap beberapa literatur atau buku yang ada kaitannya atau relevan

terhadap masalah yang menjadi objek dalam penelitian ini.

Adapun penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan dengan penelitian

yang akan peneliti lakukan diantaranya adalah sebagai berikut:

Skripsi yang ditulis oleh Lulu Ainun Nikmah yang berjudul “ Analisis

Sadd Az-Zari’ah Terhadap Pelarangan Multi Level Marketing (MLM) Haji Oleh

Majelis Ulama Indonesia.”45 Penelitian milik Lulu tersebut bertujuan untuk

44
Dewan Syariah Nasional MUI, Fatwa No. 75/DSN-MUI/VII/2009 Tentang Pedoman
Penjualan Langsung Berjenjang Syariah, (Jakarta: tp, 2009), hal. 5-8
45
Lulu Ainun Nikmah“ Analisis Sadd Az-Zari’ah Terhadap Pelarangan Multi Level
Marketing (MLM) Haji Oleh Majelis Ulama Indonesia.” (Jurusan Muamalah IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2013). Dalam [Link].id10645. Diakses pada 5
Februari 2017 Pukul 20.00 Wib.
38

mengetahui alasan mengapa MLM Haji dilarang oleh MUI dan bagaimana

pandangan Sadd Az-Zari’ah Terhadap Pelarangan Multi Level Marketing (MLM)

tersebut. Persamaannya penelitian tersebut dengan penelitian peneliti adalah

terletak pada bentuk pemasaran kontemporer yang diteliti yaitu sistem Multi Level

Marketing. Sedangkan perbedaannya yaitu jika penelitian peneliti menggunakan

analisis Fatwa DSN-MUI sedangkan pada penelitian Lulu menggunakan tinjauan

Sadd Az-Zari’ah (Metode Istinbat Hukum).

Skripsi yang ditulis oleh Alaiya Hikmawati yang berjudul, “Strategi

Pemasaran Multi Level Marketing (MLM) Pada PT. Avail Elok Indonesia

Distributor Jepara”.46 Skripsi tersebut bertujuan untuk mengetahui strategi

pemasaran yang meliputi segmentasi pasar, produk, harga, distribusi dan strategi

promosi yang ada pada PT. Avail Elok Indonesia distributor Jepara. Persamaan

penelitian tersebut dengan penelitian peneliti adalah objek yang menjadi fokus

penelitiannya yaitu sistem pemasaran berjaring / MLM. Sedangkan perbedaannya

adalah penelitian milik Alaiya tersebut menggunakan tinjauan hukum positif

sedangkan pada penelitian penelitian peneliti menggunakan tinjauan hukum islam

khususnya Fatwa Dsn MUI No. 75 Tahun 2009.

Skripsi yang ditulis oleh Ibnu Rijal Silmi yang berjudul “Analisis Sistem

Pemasaran Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PLBS) Pada PT. Arminareka

Perdana Jakarta”.47 Penelitian milik Ibnu Rijal tersebut dilakukan untuk

46
Alaiya Hikmawati, “Strategi Pemasaran Multi Level Marketing (MLM) Pada PT. Avail
Elok Indonesia Distributor Jepara”, (Fakultas Ekonomi Dan Bisnis UIN Ulama‟ Jepara, Skripsi
Tidak Diterbitkan, 2013). Dalam [Link].id29411.%20ROMAWI%[Link].
Diakses pada 28 Februari 2017 Pukul 11.00 Wib.
47
Ibnu Rijal Silmi “Analisis Sistem Pemasaran Penjualan Langsung Berjenjang Syariah
(PLBS) Pada PT. Arminareka Perdana Jakarta”, (Jurusan Manajemen Dakwah UIN Syarif
39

mengetahui kesesuaian sistem pemasaran yang digunakan PT Arminareka

Perdana Jakarta terhadap fatwa No. 83/DSN-MUI/VI/2012. PT Arminareka

Perdana Jakarta yang menjadi tempat penelitian Ibnu Rijal tersebut dalam

pemasaran produknya menggunakan sistem penjualan langsung berjenjang / direct

selling yang merupakan salah satu dari sistem MLM. Sehingga persamaan

penelitian milik Ibnu Rijal tersebut dengan penelitian peneliti adalah dalam hal

objek formalnya yaitu sistem pemasaran berjenjang /MLM. Sedangkan

perbeadaaannya adalah fatwa yang digunakan untuk menganalisis sistem

pemasaran tersebut. Ibnu Rijal menggunakan Fatwa DSN-MUI No. 83 Th 2012

sedangkan pada penelitian peneliti menggunakan Fatwa DSN-MUI No. 75 Th

2009.

Skripsi yang ditulis oleh Ami Sholihati yang berjudul “ Tinjauan Hukum

Islam Tentang Intensiv Pasif Income Pada Multilevel Marketing Syariah di PT.

K-link Internasional”.48 Persamaan penelitian ini dengan penelitian peneliti adalah

masih berkisar pada bentuk bisnis MLM. Perbedaannya yaitu bahwa pada skripsi

tersebut hanya membahas masalah pendapatan pasif dalam sistem bisnis MLM.

Sedangkan pada penelitian peneliti ini lebih kearah sistem pemasarannya.

Skripsi yang ditulis oleh Muhamad Amin yang berjudul “Strategi

Pemasaran MLM (Multi Level Marketing) Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus

Hidayatullah, Jakarta, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2013). Dalam [Link]


[Link].iddspacebitstream123456789307001 IBNU % 20 RIJAL % 20SILMI-
[Link]. Diakses pada 5 Februari 2017 pukul 10.20 Wib.
48
Ami Sholihati, “ Tinjauan Hukum Islam Tentang Intensiv Pasif Income Pada Multilevel
Marketing Syariah di PT. K-link Internasional”, (Jurusan Muamalah IAIN Wali Songo Semarang,
Skripsi Tidak Diterbitkan, 2012). Dalam [Link] library.
[Link]. Diakses pada 15
Januari 2017 pukul 11.00 Wib.
40

Pada PT. Natural Nusantara Cabang Purwokerto).49 Persamaan penelitian ini

dengan penelitian peneliti adalah masih berkisar pada bentuk bisnis MLM yaitu

pada bentuk pemasarannya. Sedangkan perbedaannya yaitu pada penelitian

peneliti ini hanya menganalisa sistem pemasaran berjaring dengan ketentuan

Fatwa DSN MUI No. 75 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penjualan Langsung

Berjenjang Syariah. Sedangkan pada penelitian milik Muhamad Amin tersebut

selain meneliti strategi pemasaran MLM dalam perspektif Ekonomi Islam secara

umum juga meneliti apakah dalam strategi pemasaran MLM pada PT. Natural

Nusantara Cabang Purwokerto juga terdapat sistem money gamenya.

Skripsi yang ditulis oleh Ayyudiana Niyati Mufidah yang berjudul “ Bisnis

Multi Level Marketing (MLM) K-Link Menurut Hukum Islam.50 Persamaan

penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu objek formalnya sama-sama

membahas MLM. Sedangkan pada objek material, penelitian ini lebih mengarah

kepada MLM perspektif Hukum Islam secara umum, sedangkan pada penelitian

peneliti lebih khusus pada pandangan Fatwa DSN-MUI tentang Penjualan

Langsung Berjenjang Syariah.

Skripsi yang ditulis oleh Nur Ajizah yang berjudul “Tijauan Hukum Islam

Terhadap Sistem Multi Level Marketing (MLM) Pada PT Duta Network

49
Muhamad Amin, “Strategi Pemasaran MLM (Multi Level Marketing) Perspektif
Ekonomi Islam (Studi Kasus Pada PT. Natural Nusantara Cabang Purwokerto)”. (Jurusan
Ekonomi Syariah IAIN Purwokerto, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2016) dalam
[Link].id3021COVER_BABI-BABV_DAFTAR%[Link].
Diakses pada 5 Februari 2017 Pukul 10.10 Wib.

50
Ayyudiana Niyati Mufidah,“ Bisnis Multi Level Marketing (MLM) K-Link Menurut
Hukum Islam”. (Jurusan Hukum Bisnis Syariah UIN Maliki Malang, Skripsi Tidak Diterbitkan,
2012) dalam [Link] Diakses pada 5 Februari 2017
pukul 10.00 Wib.
41

Indonesia (Studi Kasus Team Ninja Bangkit Tulungagung)”.51 Fokus skripsi

tersebut yaitu pandangan Hukum Islam pada penerapan sistem bisnis MLM oleh

Team Ninja Bangkit Tulungagung. Persamaan penelitian tersebut dengan

penelitian peneliti yaitu sama-sama membahas tentang bisnis yang menerapkan

konsep penjualan berjenjang atau MLM. Perbedaannya yaitu, Nur Ajizah meneliti

perusahaan MLM yang berbasis konvensional sedangkan peneliti pada perusahaan

MLM yang mengusung konsep Halal Network tetapi tetap memakai sistem

pemasaran berjenjang layaknya MLM konvensional. Selain itu tinjauan yang

digunakan sebagai analisa temuan penelitian, Nur Ajizah menggunakan Hukum

Islam secara umum, sedangkan Peneliti memakai Fatwa DSN MUI NO 75 Tahun

2009 yang merupakan hasil ijtihad para ulama kontemporer.

51
Nur Ajizah “Tijauan Hukum Islam Terhadap Sistem Multi Level Marketing (MLM)
Pada PT Duta Network Indonesia (Studi Kasus Team Ninja Bangkit Tulungagung)”. (Jurusan
Hukum Ekonomi Syariah IAIN Tulungagung, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2014). Dalam
[Link] Diakses pada 23 Februari 2017 Pukul
16.05 Wib.

Anda mungkin juga menyukai