Pengertian dan Sistem Multi Level Marketing
Pengertian dan Sistem Multi Level Marketing
KAJIAN PUSTAKA
Multi Level Marketing berasal dari bahasa Inggris, dimana multi berarti
banyak, level berarti tingkat, sedangkan marketing berarti pemasaran. Jadi Multi
suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan
apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.1 Pemasaran juga dapat
Multi Level Marketing atau MLM disebut juga Network Marketing, Multi
Generation Marketing, dan Uni Level Marketing. Namun, dari semua istilah
tersebut, yang paling popular adalah istilah Multi Level Marketing. Pengertian
Multi Level Marketing atau disingkat MLM adalah sebuah sistem pemasaran
Dengan kata lain, dapat dikemukakan bahwa Multi Level Marketing adalah
1
Philip Kotler dan Armstrong, Marketing Management, Alih Bahasa: Benyamin Molan,
Manajemen Pemasaran, (Jakarta: Indeks, 2007), hal.1
2
Ibid, hal. 2
3
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, Cet. ke-III, (Jakarta: Amzah, 2015), hal. 613
14
15
melakukan pemasaran.4
Sebagian orang ada juga yang menyebut MLM sebagai bisnis penjualan
MLM yang dilakukan secara langsung oleh juru jual kepada konsumen. Aktifitas
dan demo produk. Di Indonesia saat ini penjualan langsung atau direct selling
baik yang single level maupun multi level bergabung dalam suatu asosiasi yaitu
(WFDSA).6
konsumen untuk turut terlibat sebagai penjual dan memperoleh manfaat dan
disebut pula sebagai distributor atau mitra niaga. Jika mitra niaga mengajak orang
lain untuk menjadi seorang anggota sehingga jaringan pelanggan atau pasar
4
Gemala Dewi, et al, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005), hal.
187
5
Direct Selling atau penjualan langsung adalah penjualan produk atau jasa tanpa
menggunakan kios atau toko eceran, distributor, jasa pialang, pemborong atau setiap bentuk
perantara dagang yang lain. Lihat Norman A. Hart et al, Kamus Marketing, Cet. ke-III, (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2007), hal. 68
6
Ahmad Mardalis dan Nur Hasanah, ”Multi-Level Marketing (MLM) Perspektif Ekonomi
Islam”, Jurnal Ekonomi Syariah, Vol. 1, No.1, Februari 2016
16
semakin besar atau luas, itu artinya mitra niaga telah berjasa mengangkat omzet
memberi sebagian keuntungannya kepada mitra niaga yang berjasa dalam bentuk
lainnya.7
yang biasanya dikenal dengan istilah up line (tingkat atas) dan down line (tingkat
bawah). Up line dan down line umumnya mencerminkan hubungan pada level
yang berbeda vertical maupun horizontal. Karena itu seseorang akan disebut up
line apabila telah mempunyai down line, baik berjumlah satu maupun lebih.
yang mendaftar atau direkrut oleh promotor. Dalam MLM ada dikenal istilah
member, yaitu orang yang berjasa dalam menjualkan produk perusahaa secara
7
Veithzal Rivai, Islamic Marketing, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), hal.
298
8
Mardani, Hukum Perikatan Syariah di Indonesia, Cetakan Pertama, (Jakarta: Sinar
Grafika, 2013), hal. 209
17
2. Makelar, karena dia telah menjadi perantara melalui perekrutan yang telah dia
lakukan bagi orang lain untuk menjadi member dan membeli produk
perusahaan tersebut. Inilah praktek yang terjadi dalam bisnis MLM yang
Pada sistem MLM, ada point yang bisa didapatkan oleh anggota jika ada
tidak langsung melalui jaringan keanggotaan. Tetapi kadang point bisa diperoleh
tanpa pembelian produk, namun dilihat dari banyak dan sedikitnya anggota yang
bisa direkrut oleh orang tersebut, yang sering disebut dengan pemakelaran.9
berikut:
jaringan dan omset bisnis dalam perusahaan MLM seperti ini, semakin besar
bonus yang terima. Namun jika tidak seimbang, maka bonus-bonus tersebut
mengalir deras ke dalam perusahaan. Biasanya sistem Binary Plan ini diusung
9
Andi Setiawan, “Multi Level Marketing (MLM) Dalam Perspektif Hukum Ekonomi
Syariah”, Jurnal STAIN Jurai Siswo Metro, hal. 4 dalam http://
[Link].phpkronikaarticleviewFile1005948 diakses pada 16 Februari
2017 pukul 10.20 Wib
18
relatif cepat sekali. Mitra-mitranya cepat mendapat bonus besar. Agar terlihat
yang mereka ajak (bonus sponsoring). Ini artinya mereka seperti halnya
diuntungkan adalah mitra yang join di awal. Karenanya, MLM dengan sistem
memiliki beberapa posisi dengan satu nama pribadi yaitu milik orang itu
sendiri.11
10
Ibid, hal. 6-7
11
Ibid, hal. 7
19
2. Sistem Matrix
hanya 3 frontline saja dan begitu pula selanjutnya ke bawah. Jenis sistem ini
Semakin banyak frontline, semakin besar pula bonus yang diterima. Namun
dapat diraih dengan menyetujui segala syarat serta konpensasi yang ada. Maka
kerja membesarkan bisnis MLM yang kita pilih bisa dapat lebih terarah dengan
baik.14
berupa barang atau jasa konsumen sehingga biaya distribusi dari barang yang
dijual atau dipasarkan tersebut sangat minim bahkan sampai ke titik nol, yang
artinya bahwa dalam bisnis MLM ini tidak diperlukan biaya distribusi. MLM juga
menghilangkan biaya promosi dari barang yang hendak dijual karena distribusi
mengajak orang lain untuk ikut juga sebagai distributor kemudian, orang lain itu
dapat pula mengajak orang lain lagi untuk ikut bergabung. Begitu seterusnya,
semua yang diajak dan ikut merupakan suatu kelompok distributor yang bebas
mengajak orang lain lagi sampai level yang tanpa batas. Inilah salah satu
bergabung ke dalam kelompoknya menjadi penjual atau sales atau disebut juga
“wiraniaga”. Pada sistem single level ini, para wiraniaga tersebut meskipun
mengajak temannya, hanya sekedar pemberi referensi yang secara organisasi tidak
14
Ibid, hal. 8
15
Firman Wahyudi, “Mutli Level Marketing Dalam Kajian Fiqh Muamalah”, Jurnal Al-
Banjari, Vol. 13, No. 2, Juli-Desember 2014, hal. 166-167 dalam [Link]-
[Link]-banjariarticleviewFile396309. Diakses pada 16 Februari 2017 pukul
10.20 Wib
21
sebagai distributor.16
Dalam MLM, terdapat unsur jasa. Hal ini dapat kita lihat dengan adanya
mendapat upah dari presentase harga barang. Selain itu jika ia dapat menjual
barang tersebut sesuai dengan target yang telah ditetapkan, maka ia mendapatkan
pada prestasi dari setiap anggota atau distributornya. Para distributor dituntut
MLM. Sponsor Anda adalah distributor yang lebih dahulu bergabung dengan
MLM dan mencari mitra bisnis baru sebanyak mungkin untuk bergabung
atau distributor, setiap orang diwajibkan membayar sejumlah uang yang sudah
stockiest terdekat bersamaan dengan formulir pendaftaran yang telah diisi oleh
16
Gemala Dewi, et al, Hukum Perikatan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2005),
hal. 188.
17
Mardani, Hukum Perikatan..., hal. 210
18
Andi Setiawan, Multi Level Marketing..., hal. 8
22
dalam marketing plan perusahaan, dan pedoman agar para distributor dapat
harga grosir.20
orang tempat prospek bergantung, dan tampakkan diri sebagai agen. Apabila
termasuk dalam kategori muamalah yang dibahas dalam bab al-buyu’ (jual-beli).
Dalam kajian fiqh kontemporer, bisnis MLM ini dapat ditinjau dari dua aspek
yaitu: (1) produk barang atau jasa yang dijual; dan (2) sistem penjualannya
(selling marketing).23
Pertama, berkaitan dengan produk atau barang yang dijual apakah halal
Allah seperti unsur babi, khamr, bangkai atau darah. Begitu pula dengan jasa
22
Ibid.
23
Anita Rahmawaty, “Bisnis Multilevel Marketing”.., hal. 77
24
perjudian, gharar dan spekulatif.24 Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah:
275:
َاِن
َ إ ٌُٕ ُٕيَق ٚ َاْ ن َٰٕا
ِتَ ٱنش
ٌُٕ ُهَأۡك
ٚ َ ٍِٚ َزٱن
ٍِ
َ ُ ي ٌَٰ َۡٙ
ط ٱنّش ُّ
ُ َط
َثَخ
َرٚ ِ٘ ُ ٱن
َز ُٕو َق ٚ َا ًَك
ۡعَٙ
ُ لتۡ َا ٱ ًَإ ِ ُٕٓا
ْ َانُىۡ ق ََٓ
ِأَ ت ِك ٰ
َن ر ِۚ
َظ ۡ ٱ
لي
َو
َ َش
َدٔ َ ۡعَٙ ۡ ٱ
لت َّ
ُ َ ٱنه َمَد
َأٔ ْۗ َٰٕ
ا ِتُ ٱنش ِثۡلي
ِۦَِّت
ٍِ س يَٞح ِظَٕۡػ
ُۥ ي َآء
َِ ٍَ ج ًَْ فۚ َٰٕ
ا ِتٱنش
ِۖ
َّ َٗ ٱنه ُٓۥ إ
ِن َُِوۡس
َأٔ َ َفَه
َا ع ُۥ يَّ َٰٗ ف
َه َٱَر
َٓ ف
َا ُىۡ ف
ِٓٛ ْ ِۖ
َاسُُ ٱن ٰ َۡص
َبح َ أِكَٰٓئ
ْلُٔ
َأَ فَادٍَۡ ػَي
ٔ
)٥٧٢( ٌَُِٔذ ٰ
َن ر
َٰٗ
َهُىۡ ػ
ُكُن
أدَ َۡم
ْ ْ
ُٕا
ََُاي
َ ء
ٍِٚ
َزَا ٱن
ُٓ َٰأ
َٚ ٓ
٘
)٠١( ٞىِٛ
َنٍ أ َاب
َزٍِۡ ػُى ي
كُُِٛج ذَٞجَٰس
ِجذ
َِٙ فٌُٔ
ِذَْٰ
ذج ٔ ِۦ
َُ ُِّٕن
َعَس
ٔ ِ
َِّٱنه
ٌ ب
َُٕ
ُُِؤۡيذ
24
Ibid, hal. 78
25
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Dan Terjemahnya.., hal. 47
25
ُۡى
ِك ٰ
َن ر ُۚۡى
ِكفغ
ََُ
َأٔ ُۡى
ِك ٰ َۡو
َنٔ ِأت َّ
ِ ٱنه مِٛ
ِ َثع
ِۡش
َغۡف
ٚ )٠٠( َ
ٌُٕ
ًََغۡن
ُىۡ ذ
ُُر ُىۡ إ
ٌِ ك َك نٞۡسَٙ
خ
ٍِ
ِ٘ ي ذَٰٞخ
َجۡس ٍَُىۡ ج
ِمۡك
ُذۡخ
َٚٔ ُۡى
َكُٕت
َُُىۡ ر
َكن
َٰخ
ِ ٍَ فَٞح
جِٙ ِثَٛ
َ ط
ٍَِٰك
َظَي َٰس
ٔ ُ ٌَِۡ
لأۡ َا ٱ
َِٓخۡذ
ذ
َٰٖ
ُرۡس
َأٔ )٠٥( ُ
ىِٛ
َظ ۡ ُ ٱ
لػ َٕۡص
لفۡ َ ٱ
ِك ٰ
َن ر ٞ
ۚ ٌَۡذ
ػ
ٞ
ۗ ةِٚ
َش قَٞدۡح
َفٔ ِ
ٍَّ ٱنه
َِ يَٞصۡس َ َۖإَُِٓث ُذ
ذ
)٠١( َ
ِني
ُُِؤۡيۡ ِ ٱ
لي ِشَّش
َتٔ
Selanjutnya dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim juga
disebutkan:
َُ
ّ َ انه ِٙسضَ ِ َّ
ِانه ْذَث
ِ ػ ٍِْت
ِشَاتْ ج ٍَ
َػٔ
َّ
ُ َٗ انه َهِ صََّ انه ْلُٕ
َعَ سِغ
ًَُ ع
ََّ َا أًُْٓ
َُػ
َح
َ َك
ًَِت
َُْٕ
ٔ ِْخَرَ انف َاوُ ػُٕلَقٚ َ
َىَهَع
ٔ َِّْٛ
َهػ
ْش
ًََِ اخل ْغَٛ
َ ت َو
َشُ د َُّٕنَع
َسٔ َ ََّ انه ٌِإ
َاٚ َْم
َِٛق
و ف َِا َُْص
َاألٔ ِِشِٚ
ْضُِ
َاخل
ٔ ِ َح
ْرَٛ
ًَْان
ٔ
َآََِئ
ِ فَحْر
ٛمل
ََ ا ْوُُٕذ
َ ش ْد
ََٚأ
َسِ أ
ََّ انه ْلُٕ
َعس
ُُٕه
َا اجل ُِٓ ت ٍَ
ُْْذَذ
ٔ ُ ٍُ
ُفَا انغ ِٓ
َٗ ت ْه
ُطذ
26
Ibid, hal. 552
26
ٌَا
و َشَد
َُْٕ
َ ال
َاال
َقُ ؟ ف َاطَُاانُِٓ تِخ
ْثَص
ْرَغ
َُٚٔ
د
ّْ
ِ َٛ
َهُ ػََّٗ انه َهِ ص َّ
ُ انه ُلُٕ
َعَ سَالَ ق ُى
ث
ٌِ
َ َ إُٕدَُٓٛ ان ََّ انه َم
َاذَ قِكَن
َرْذ
َُِ ػَى
َهَع
ٔ
ِْ
ُ ُٕ
َهًَ
َا ج َٓ
ُٕ ي ُذْ شِىْٓ
ََٛه
َ ػَو
َشَا دًََ نَّ
انه
)ََِّٛه
ٌ ػ َق
رفَُ
ُ (ي َّ
ًََُ
ُٕا ث َه
َكَأ
ُ فِْ
َُٕاػَ تُى
ث
sebagai perantara antara produsen dan konsumen ini, dalam terminologi fiqh
ِغ
َُائ
ْثان ٍْ
َ َٛ
ت َط
ُ َع
ََٕر
ٚ ِ٘
ْ َز
َان
ُُْٕ
َاس
ْغًِ
َنغ
ا
ْغ
ِ َٛ
َثِ ان
َحِٛ
َهًَ
ِ ػ
ْمِٛ
َْٓغ
ِرْ ن
َِ٘ش
ْرُّش
ًَْان
ٔ
27
Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five in One, terj. Lutfi
Arif, Adithya Warman, dan Fakhruddin, (Jakarta: PT Mizan Publika, 2012), hal. 457
28
Anita Rahmawaty, “Bisnis Multilevel Marketing” …, hal. 78
27
Simsar adalah orang yang menjadi perantara antara penjual dan pembeli
untuk mempermudah pelaksanaan jual beli.
atau mitra niaga termasuk akad ijarah29, yaitu transaksi memanfaatkan tenaga dan
jasa orang lain dengan imbalan atau ujrah. Akad samsarah ini hukumnya
dibolehkan oleh para ulama, seperti Ibnu Sirin, „Atha‟, Ibrahim, Hasan, dan Ibnu
Abbas.30
1. Adil. Insentif (bonus) kepada seseorang (up line) tidak boleh mengurangi hak
orang lain yang ada di bawahnya (down line), sehingga tidak ada yang
dizalimi.
dan pembagiannya.
29
Ijarah juga dapat berarti akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa melalui
pembiayaan upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership milikiyyah atas
barang itu sendiri. Lihat Isriani Hardini dan Muh. H. Giharto, Kamus Perbankan Syariah, Cet. ke-
II, (Bandung: PT Kiblat Buku Utama, 2012), hal. 45
30
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat..., hal. 616
28
transparan, tidak menipu dan tidak menjalankan bisnis yang haram dan syubhat.
segera memberikan imbalan para distributor dan tidak boleh menghanguskan atau
ُْٕٓ
ا ُهَأۡك
َا ذ ا ن ُْٕ
َُ َاي َ ءٍِٚ
َزَا ٱنُٓ
َٚ َٰأ
ٓ
٘
ٌُٕ
َ َكٌَ ذ َآ أ
إنِ ِطم
َِٰ ل
ب ۡ ِٱ َۡكَٙ
ُى ب ُى ت
َك ٰ َۡو
َنٔ أ
ُٕٓا
ْ ُهَقۡذ
ذ َا
َنٔ ُۚۡى
ُِك
ي َٞاض
َشذ ٍَ
ػ َج
ً َٰس
ِجذ
)٥٢( اٞىِٛ
َدُىۡ س
ِكَ ت
ٌَا
َ ك
ََّ ٱنه
ٌُِىۡۚ إ
َكُغ
ََف
أ
31
Ibid, hal, 619
32
Anita Rahmawaty, Bisnis Multilevel Marketing Dalam Perspektif Islam…, hal. 78
33
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran Dan Terjemahnya..., hal. 83
29
َِٕۡ
و ٰ َ
َق٘ َالا قۚ ٞۡبَٙ
ُؼُىۡ ش
َْا
َخٍ أ
َََٚۡذ
َٰٗ ي
ِنَإٔ
َۡذ
ُۥۖ ق
ُِۡسَٙ َِٰ
ٍ غ ِلٍِۡ إ
ُى يَكَا ن
َ ي ْ ٱنه
َّ ُٔا
ُذ ۡ ٱ
عت
ََۡٙ
ل ۡ ْ ٱ
لك ُٕأَۡف
َأُىۡۖ ف
ِكَتٍِ س يَٞح
َُِٛ
ُى تَخۡك
َآءج
ُۡىََْآء َٚۡػ
َ أَاطُْ ٱن ُٕا َةۡخ
َغ َا ذ
َنٔ ٌََا
ضِٛ ۡ َٱ
لي ٔ
َۚا
َِٓدٰ ِۡص
ل َ إ َغۡد
ِ ت َسۡضلأۡ ٱِٙ ْ ف
ُٔا ُفۡع
ِذ َا ذ َنٔ
)٥٢( َ
ِني
ُُِؤۡي
ُى ي
ُُر ُىۡ إ
ٌِ ك َك نٞۡسَٙ
ُىۡ خ
ِك ٰ
َن ر
َاَهُىۡ ف
َك ٰ َۡٔ
َدل ْ إُٔٓا َشۡض
ِؼ َظۡذ
ٌَ ذُىۡ أَدذ ٌِۡ أ
َس َإٔ
ُىۡذَٙ
َاذَآ ء ُى ي َىۡذ
َهَا ع ِرُىۡ إ
ۡكََٙه
َ ػ َاح ُُج
َّ
َ َ ٱن ه
ٌَْ إُٔٓا
ًََٱعۡن
ٔ ََّْ ٱنهُٕا
َقَٱذ
ٔ ِۗ
ُٔفَغۡس
ليۡ ِٱ
ب
)٥١١( ِٞري
َصَ ت
ٌُٕ
َهَغۡي
َا ذ
ًِت
Artinya: Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut
yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah
Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.35
34
Ibid, hal. 161
35
Ibid, hal. 37
30
Mengenai beberapa bisnis MLM atau hanya berkedok MLM yang masih
meragukan (syubhat) ataupun yang sudah jelas ketahuan tidak sehatnya bisnis
tersebut baik dari kehalalan produknya, system marketing fee, legalitas formal,
dengan money game), maysir (perjudian) sebaiknya ditinggalkan.36 Hal ini sesuai
َاس
َ ِٖش
َضَال
ََٔس
َٖش
َضال
Tidak boleh membahayakan diri atau orang lain 37
menjadi member dan setelah menjadi member, ia akan menerima suatu produk
tertentu yang diberikan oleh pihak perusahaan. Ini berarti, terjadi pembayaran dari
satu pihak yang kemudian diikuti oleh pemberian barang dari pihak lainnya,
sehingga terjadi akad bai’ (jual beli). Selain itu, dia secara otomatis mendapat
perusahaan), maka dia berhak atas bonus dari perusahaan. Pencarian orang ini
sifatnya tidak mengikat, artinya si member tidak berkewajiban untuk itu, hanya
sebatas berhak saja. Bila ingin mendapatkan bonus, maka tentu dia harus mencari
36
Madani. Fiqh Ekonomi Syari’ah, (Jakarta: Kencana, 2012), hal. 314
37
Abbas Arfan, 99 Kaidah Fiqh: Muamalah Kulliyyah, Cet. ke-II, (Malang: UIN-Maliki
Press, 2013), hal.74
31
downline, tapi bila tidak juga tidak apa-apa. Hal seperti ini menimbulkan akad
ju‟alah.
Dalam MLM tipe ini, terjadi dua akad dalam waktu yang bersamaan:
akad bai’ dan akad ju’alah. Bai’ berarti jual beli, sedangkan ju‟alah berarti
Jual beli diartikan juga dengan menukar barang dengan barang atau barang
dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari yang satu kepada yang lain
atas dasar saling merelakan.39 Berkaitan dengan terjadinya dua akad dalam waktu
ُُٕ
ل َعَٗ س َٓ َ َال
ُ ق َُُّْ ػ َّ
َ انه ِٙ
َضُ سَُّْ
َػٔ
ٍَ
ْ َ ػ َى
َهَع
ٔ ِ ّْ
ََٛه
ُ ػ َّ
َٗ انه َه
ِ ص َّانه
َذ
ُ ًْ
َدأ َِا
ُ َٔ(س َح
ٍ ْؼ
َٛت ِٙ
ْ ف ٍْ
ِ َٛ
َرْؼ
َٛت
ٍْ
ُ َاتٔ ِ٘
ُ ِز
ْيِٖش
انر َّ
ُ َذ
َذَص
ٔ ِٙ
ُ َائَغ
َُان ٔ
)َ
ٌَاِثد
Dari Abu Hurairah r.a berkata, “Rasulullah Saw. melarang dua jual-beli
dalam satu transaksi.” Riwayat Ahmad dan An-Nasa’i. Hadits ini sahaih
menurut Al-Tirmidzi dan Ibnu Hibban.40
harga tertentu atau dalam jumlah uang tertentu.41 Sedangkan dua jual-beli ini
berarti akad. Artinya, dilarang melakukan dua akad dalam stau transaksi. MLM
jelas mempraktekkan dua akad dalam satu transaksi, yaitu bai‟ dan ju‟alah.
38
Madani. Fiqh Ekonomi Syari’ah..., hal. 314
39
Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta: Rajawali Pres, 2010), hal. 67
40
Imam Al-Hafidz ibnu Hajar Al-„Asqalany, Bulughul Maram Five in One..., hal. 469
41
Ridwan S. Sundjaja dan Inge Barlian, Manajemen Keuangan Satu, Edisi 3, (Jakarta: PT.
Prehanllindo, 2001), hal. 499
32
Dari sisi akad, ada beberapa MLM yang bai’-nya terancam rusak (fasid).
Ini terjadi pada beberapa MLM yang mensyaratkan pembelian produk untuk
menjadi member, tapi pada prakteknya justru seperti jual beli. Calon member
sehingga secara lahiriah adalah jual beli. Tapi calon member ketika memberikan
uang tidak berniat membeli barang melainkan niatnya adalah menjadi member,
sehingga ijab dari pihak member ini kabur. Maka dari itu, jual belinya fasid,
Selain itu, calon member juga harusnya tidak melakukan akad dengan
terpaksa. Artinya jika niatnya menjadi member, seharusnya calon member tidak
menyesal jika ternyata ia harus membeli produk tertentu dari perusahaan tersebut.
Secara realitas, kini perusahaan MLM sudah banyak tumbuh di dalam dan
menyatakan bahwa MLM tersebut sesuai syariat, seperti Ahad-Net, MQ-Net, dan
lain-lain. Produk dan usaha MLM yang menjalankan Prinsip Syariah, memperoleh
sertifikat halal dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-
MUI). Untuk MLM yang berdasarkan Prinsip Syariah ini, hingga sejauh ini
Agar bisnis MLM ini sesuai dengan syariah, maka harus dipenuhi
syubhat.
42
Gemala Dewi, et al, Hukum Perikatan Islam..., hal. 190
33
2. Sistem akadnya harus memenuhi kaidah dan rukun jual beli sebagaimana yang
4. Tidak ada upaya untuk melakukan mark up harga barang melampaui batas
kewajaran (misalnya dua kali lipat), sehingga anggota terzalimi dengan harga
6. Formula insentif harus adil, tidak menzalimi down line dan tidak menempatkan
up line hanya sebagai anggota yang menerima pasif income tanpa bekerja.
8. Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara orang yang awal
11. Cara penghargaan kepada mereka yang berprestasi tidak boleh mencerminkan
sikap hura-hura dan pesta pora karena sikap tersebut tidak sesuai dengan
syariah.
43
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, hal. 618-619
34
pun semakin banyak dan beraneka ragam. Salah satu bentuk trend bisnis yang saat
ini menjamur di masyarakat adalah sistem penjualan berjenjang atau yang lebih
dikenal dengan istilah Multi Level Marketing. Sistem Multi Level Marketing
konsumen lain dan merekrut konsumen lain untuk ikut sebagai tenaga pemasaran
banyak orang yang meragukan kehalalan sistemnya, dan tidak sedikit yang
fatwa akan adanya suatu hal yang baru yang berkaitan dengan aktivitas umat
dalam kerjanya agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam pandangan yang salah,
terlebih lagi kepada bisnis yang tidak halal. Adapun fatwa tersebut adalah Fatwa
F. Penelitian Terdahulu
sudah banyak kajian yang membahas masalah Multi Level Marketing dalam
bentuk karya ilmiah skripsi. Oleh karena itu, disamping untuk mengetahui posisi
penulis dalam melakukan penelitian ini, penulis juga berusaha untuk melakukan
review terhadap beberapa literatur atau buku yang ada kaitannya atau relevan
Skripsi yang ditulis oleh Lulu Ainun Nikmah yang berjudul “ Analisis
Sadd Az-Zari’ah Terhadap Pelarangan Multi Level Marketing (MLM) Haji Oleh
44
Dewan Syariah Nasional MUI, Fatwa No. 75/DSN-MUI/VII/2009 Tentang Pedoman
Penjualan Langsung Berjenjang Syariah, (Jakarta: tp, 2009), hal. 5-8
45
Lulu Ainun Nikmah“ Analisis Sadd Az-Zari’ah Terhadap Pelarangan Multi Level
Marketing (MLM) Haji Oleh Majelis Ulama Indonesia.” (Jurusan Muamalah IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2013). Dalam [Link].id10645. Diakses pada 5
Februari 2017 Pukul 20.00 Wib.
38
mengetahui alasan mengapa MLM Haji dilarang oleh MUI dan bagaimana
terletak pada bentuk pemasaran kontemporer yang diteliti yaitu sistem Multi Level
Pemasaran Multi Level Marketing (MLM) Pada PT. Avail Elok Indonesia
pemasaran yang meliputi segmentasi pasar, produk, harga, distribusi dan strategi
promosi yang ada pada PT. Avail Elok Indonesia distributor Jepara. Persamaan
penelitian tersebut dengan penelitian peneliti adalah objek yang menjadi fokus
Skripsi yang ditulis oleh Ibnu Rijal Silmi yang berjudul “Analisis Sistem
46
Alaiya Hikmawati, “Strategi Pemasaran Multi Level Marketing (MLM) Pada PT. Avail
Elok Indonesia Distributor Jepara”, (Fakultas Ekonomi Dan Bisnis UIN Ulama‟ Jepara, Skripsi
Tidak Diterbitkan, 2013). Dalam [Link].id29411.%20ROMAWI%[Link].
Diakses pada 28 Februari 2017 Pukul 11.00 Wib.
47
Ibnu Rijal Silmi “Analisis Sistem Pemasaran Penjualan Langsung Berjenjang Syariah
(PLBS) Pada PT. Arminareka Perdana Jakarta”, (Jurusan Manajemen Dakwah UIN Syarif
39
Perdana Jakarta yang menjadi tempat penelitian Ibnu Rijal tersebut dalam
selling yang merupakan salah satu dari sistem MLM. Sehingga persamaan
penelitian milik Ibnu Rijal tersebut dengan penelitian peneliti adalah dalam hal
2009.
Skripsi yang ditulis oleh Ami Sholihati yang berjudul “ Tinjauan Hukum
Islam Tentang Intensiv Pasif Income Pada Multilevel Marketing Syariah di PT.
masih berkisar pada bentuk bisnis MLM. Perbedaannya yaitu bahwa pada skripsi
tersebut hanya membahas masalah pendapatan pasif dalam sistem bisnis MLM.
Pemasaran MLM (Multi Level Marketing) Perspektif Ekonomi Islam (Studi Kasus
dengan penelitian peneliti adalah masih berkisar pada bentuk bisnis MLM yaitu
Fatwa DSN MUI No. 75 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penjualan Langsung
selain meneliti strategi pemasaran MLM dalam perspektif Ekonomi Islam secara
umum juga meneliti apakah dalam strategi pemasaran MLM pada PT. Natural
Skripsi yang ditulis oleh Ayyudiana Niyati Mufidah yang berjudul “ Bisnis
membahas MLM. Sedangkan pada objek material, penelitian ini lebih mengarah
kepada MLM perspektif Hukum Islam secara umum, sedangkan pada penelitian
Skripsi yang ditulis oleh Nur Ajizah yang berjudul “Tijauan Hukum Islam
49
Muhamad Amin, “Strategi Pemasaran MLM (Multi Level Marketing) Perspektif
Ekonomi Islam (Studi Kasus Pada PT. Natural Nusantara Cabang Purwokerto)”. (Jurusan
Ekonomi Syariah IAIN Purwokerto, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2016) dalam
[Link].id3021COVER_BABI-BABV_DAFTAR%[Link].
Diakses pada 5 Februari 2017 Pukul 10.10 Wib.
50
Ayyudiana Niyati Mufidah,“ Bisnis Multi Level Marketing (MLM) K-Link Menurut
Hukum Islam”. (Jurusan Hukum Bisnis Syariah UIN Maliki Malang, Skripsi Tidak Diterbitkan,
2012) dalam [Link] Diakses pada 5 Februari 2017
pukul 10.00 Wib.
41
tersebut yaitu pandangan Hukum Islam pada penerapan sistem bisnis MLM oleh
konsep penjualan berjenjang atau MLM. Perbedaannya yaitu, Nur Ajizah meneliti
MLM yang mengusung konsep Halal Network tetapi tetap memakai sistem
Islam secara umum, sedangkan Peneliti memakai Fatwa DSN MUI NO 75 Tahun
51
Nur Ajizah “Tijauan Hukum Islam Terhadap Sistem Multi Level Marketing (MLM)
Pada PT Duta Network Indonesia (Studi Kasus Team Ninja Bangkit Tulungagung)”. (Jurusan
Hukum Ekonomi Syariah IAIN Tulungagung, Skripsi Tidak Diterbitkan, 2014). Dalam
[Link] Diakses pada 23 Februari 2017 Pukul
16.05 Wib.