0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan42 halaman

Analisis Golongan Sulfonamida

Makalah ini membahas analisis golongan sulfonamida. Sulfonamida merupakan kelompok obat penting untuk penanganan infeksi saluran kemih. Struktur kimianya terdiri dari gugus sulfonat yang dituliskan -S(=O)2-NH2. Umumnya berbentuk kristal putih yang sukar larut dalam air kecuali garam natriumnya. Mekanisme kerjanya dengan menghambat sintesis asam folat bakteri.

Diunggah oleh

Ismi Hayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan42 halaman

Analisis Golongan Sulfonamida

Makalah ini membahas analisis golongan sulfonamida. Sulfonamida merupakan kelompok obat penting untuk penanganan infeksi saluran kemih. Struktur kimianya terdiri dari gugus sulfonat yang dituliskan -S(=O)2-NH2. Umumnya berbentuk kristal putih yang sukar larut dalam air kecuali garam natriumnya. Mekanisme kerjanya dengan menghambat sintesis asam folat bakteri.

Diunggah oleh

Ismi Hayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI ANALISIS I

OBJEK I
ANALISIS GOLONGAN SULFONAMIDA

DI SUSUN OLEH :

NAMA : ISMIHAYATI NASUTION

NO BP : 1601022

KELAS : VA

DOSEN PENGAMPU :1. RIDHO ASRA, [Link], Apt


2. BOY CHANDRA, [Link]

LABORATORIUM KIMIA FARMASI ANALISIS


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI (STIFARM)
PADANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

NAMA [Link] TANDA TANGAN


[Link] 1601003
[Link] Warmalia 1601006
[Link] Anita 1601020
[Link] Maulidatul Sarah 1601021
[Link] Amriani 1601030
[Link] Jeka Putri 1601035
[Link] Oktavia 1601050

DOSEN PENGAMPU

DOSEN I DOSEN II

RIDHO ASRA, [Link], Apt BOY CHANDRA, [Link]

ASISTEN DOSEN

ASDOS I ASDOS II

MEILANDA SEPTRIANIS YOLANDA TRIANA PUTRI

ASDOS III ASDOS IV

SUSI YULIANTI RAHMA APRIANI P

ASDOS V

LAILATUL HASANAH
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Kimia Farmasi Analitik tentang “Analisis Golongan
Sulfonamida ” dengan baik dan lancar.
Makalah Kimia Farmasi Analitik ini telah kami susun dengan maksimal
dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak dan lamanya batas tempo yang
diberikan sehingga kami dapat memperlancar pembuatan makalah [Link] itu
kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata [Link] karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah Kimia Farmasi Analitik
tentang Analisis Golongan Sulfonmamida ini dapat memberikan manfaat maupun
inspirasi terhadap pembaca ataupun teman-teman semuanya.

Padang, 17 September 2018


BAB I
PENDAHULUAN

Analisis kualitatif obat diarahkan pada pengenalan senyawa obat, meliputi


semua pengetahuan tentang analisis yang hingga kini telah dikenal. Dalam
melakukan analisis kita mempergunakan sifat-sifat zat atau bahan, baik sifat-sifat
fisik maupun sifat-sifat kimianya. Teknik analisis obat secara kualitatif didasarkan
pada golongan obat menurut jenis senyawanya secara kimia, dan bukan
berdasarkan efek farmakologinya. Hal ini disebabkan karena kadang-kadang suatu
obat dengan struktur kimia yang sama, mempunyai efek farmakologi/daya
terapeutis yang jauh berbeda. Misalnya asam hidroksi benzoat dan turunannya
sebagai berikut :
 asam salisilat (asam orto-hidroksi benzoat) digunakan sebagai obat luar
(keratolitikum)
 asetosal (asam asetil salisilat) digunakan sebagai obat analgetikum dan
antipiretikum
 nipagin (metil-p-hidroksibenzoat) digunakan sebagai zat pengawet.

a b c
Gambar 1. Asam salisilat (a), Asetosal (b), Nipagin (c)
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, maka teknik analisis
kualitatif senyawa organik juga semakin berkembang. Identifikasi pemastian jenis
senyawa dilakukan secara modern menggunakan instrumen-instrumen seperti
spektrofotometri UV–Vis, spektrofotometri IR, spektrofotometri Massa,
kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) atau High Performance Liquid
Chromatography (HPLC), kromatografi gas (KG) atau Gas Chromatography (GC)
yang dapat memberikan hasil yang valid. Mengingat instrumen- instrumen
tersebut tidak dimiliki oleh seluruh daerah tempat mahasiswa berada, sehingga
metode analisis konvensional masih menjadi pilihan agar analisis obat tersebut
dapat dilakukan di manapun dengan peralatan yang sederhana.
Dalam melakukan identifikasi obat secara konvensional, kita
mempergunakan sifat- sifat bahan baik sifat fisik maupun sifat [Link]
ada suatu sampel cairan dalam gelas kimia. Bila kita ingin tahu nama dan jenis
sampel cair tersebut, maka kita harus melakukan analisis kualitatif terhadap
sampel cairan itu. Langkah pertama adalah menentukan sifat fisik sampel tersebut,
seperti warna, bau, indeks bias, titik didih, massa jenis, dan kelarutannya. Begitu
pula jika sampel yang kita jumpai berbentuk padatan, kita tentukan sifat fisiknya
meliputi warna, bau, warna nyala, titik leleh, bentuk kristal, dan kelarutannya.
Harus disadari bahwa untuk melalukan analisis kualitatif yang cepat dan tepat
diperlukan pengetahuan yang cukup mengenai sifat fisik bahan-bahan yang
dianalisa.
Metode identifikasi obat secara konvensional dapat dilakukan melalui tiga
tahap yaitu:
1. Uji Pendahuluan, meliputi :
a. Penyandraan/penginderaan (organoleptik) yaitu mengidentifikasi sifat
fisik obat menggunakan indera untuk menentukan bentuk, warna, bau,
dan rasa obat.
b. Penentuan sifat-sifat fisika, seperti kelarutan, penentuan titik lebur dan
titik didih.
c. Pengujian derajat keasaman obat menggunakan tes keasaman .
d. Penentuan unsur-unsur obat.
2. Penentuan gugusan fungsional yang khas (uji golongan)
3. Penentuan jenis zat berdasarkan reaksi-reaksinya dengan pereaksi tertentu
dan pengamatan bentuk kristal menggunakan mikroskop.
BAB II
GOLONGAN SULFONAMIDA

2.1 Dasar teori


Secara kimia sulfonamida dituliskan –s(=O)2 -NH2 sebagai gugus sulfonat.
Beberapa sulfonamide kemungkinan diturunkan dari asam sulfonat. Sulfonamida
pertama diisolasi dari senyawa tar batubara analin, tahun 1900an, digunakan
pertama untuk mengatasi infeksi kokus tahun 1935. Tidak termasuk antibiotik
karena tidak dihasilkan dari substnsi biologis. Khasiat bakteriostatik melalui
hambatan sintesis asam folat atau PGA bakteri. Saat ini penggunaannya sudah
banyak yang tergeser untuk infeksi saluran kemih. Tak efektif untuk jamur dan
virus. Sulfonamida adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara
sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia.
Sulfonamida merupakan kelompok obat penting pada penanganan infeksi saluran
kemih (ISK). Sulfonamide berbentuk Kristal putih yang umumnya sukar larut
dalam air, tetapi garam natriumnya mudah larut Sulfonamid mempunyai spectrum
antibakteri yang luas, meskipun kurang kuat dibandingkan dengan antibiotik dan
strain mikroba yang resisten. Golongan obat ini umumnya hanya bersifat
bakteriostatik, namun pada kadar yang tinggi dalam urin, sulfonamide dapat
bersifat bakterisid. Obat-obat ini memiliki daya kerja bakteriostatik yang
luas terhadap bakteri Gram positif dan Gram negative tetapi Pseudomonas,
Proteus, dan Streptococcus faecales tidak aktif.

2.2 Struktur Golongan Sulfonamida

Gambar 2. Struktur golongan sulfonamida


2.3 Sifat kimia dan fisika Sulfonamida
1. Bersifat ampoter, karena itu sukar di pindahkan dengan acara
pengocokanyangdigunakan dalam analisa organik.
2. Mudah larut dalam aseton, kecuali Sulfasuksidin, Ftalazol dan Elkosin.

2.4 Kelarutan Sulfonamida


1. Umumnya tidak melarut dalam air, tapi adakalanya akan larut dalam air
panas. Elkosin biasanya larut dalam air panas dan dingin.
2. Tidak larut dalam eter, kloroform, petroleum eter.
3. Larut baik dalam aseton.
4. Sulfa – sulfa yang mempunyai gugus amin aromatik tidak bebas akan
mudah larut dalam HCl encer. Irgamid dan Irgafon tidak lariut dalam HCl
encer.
5. Sulfa – sulfa dengan gugusan aromatik sekunder sukar larut dalam HCl,
misalnya septazin, soluseptazin, sulfasuksidin larut dalam HCl, akan tetapi
larut dalam NaOH.
6. Sulfa dengan gugusan –SO2NHR akan terhidrolisis bila dimasak dengan
asam kuat HCl atau HNO3.

2.5 Pemakaian
1. Kemoterapeutikum : Sulfadiazin, Sulfathiazol
2. Antidiabetikum : Nadisa, Restinon, dll.
3. Desinfektan saluran air kencing : Thidiour
4. Diuretikum : Diamox

2.6 Mekanisme kerja


Obat ini memilik kerja bakteriostatis yang luas terhadap bakteri gram –
postif dan gram – negatif; terhadap Pseudomonas, Proteus dan streptococcus
faecalis tidak aktif. Mekanisme kerjanya berdasarkan pencegahan sintesis
(dihidro)folat dalam kuman dengan cara antagonisme saingan denga PABA.
Banyak jenis bakteri membutuhkan asam folat untuk membangun asam-asam
intinya DNA dan RNA. Asam folat ini dibentuknya sendiri dari bahan-pangkal
PABA(=para-aminobenzoid acid) yang terdapat di mana – mana dalam tubuh
manusia.

2.7 Klasifikasi Sulfonamide


1. Berdasarkan Lamanya Masa Kerja
Berdasarkan masa kerjanya sulfonamida sistemik dibagi menjadi 3
kelompok yaitu sulfonamida dengan masa kerja pendek, sulfonamida dengan
masa kerja sedang, sulfonamida dengan masa kerja panjang.
 Sulfonamide dengan masa kerja yang panjang mempunyai waktu paroh
lebih besar 24 jam.
Contoh:Sulfadoksin, sulfalen, sulfametoksipiridazine dan
sulfametoksidiazin. II.
 Sulfonamide dengan masa kerja yang sedang mempunyai waktu paroh 10
± 24 jam.
Contoh:Sulfadiazin, sulfametoksasol dan sulfafenazolc.
 Sulfonamide dengan masa kerja yang pendek mempunyai waktu paruh
lebih kecil dari 10 jam.
Contoh:Sulfisoksazol, sulfetidol, sulfamerazin,sulfametazin, sulfatiazol,
sulfasomidin dan sulfaksasol.
2. Berdasarkan Kecepatan Absorpsi dan Ekskresinya
Sulfonamid dibagi dalam empat golongan besar:
 Sulfonamid dengan ekskresi cepat, antara lain sulfadiazin dan
sulfisoksazol.
 Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit bila diberikan per oral dan
karena itu kerjanya dalam lumen usus, antara lain sulfasalazin.
 Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pembrian topikal, antara lain
sulfasetamid, mafenid, dan Ag-sulfadiazin.
 Sulfonamid dengan masa kerja panjang,seperti sulfadoksin, absorpsinya
cepat dan ekskresinya lambat.
2.8 Hubungan Struktur sulfonamida dan Aktifitas
1. Gugus amino primer aromatik sangat penting untuk aktifitas,karena banyak
modifikasi pada gugus tersebut ternyata menghilangkan aktivitas antibakteri.
Contoh : metabolit N4 –asetilasi tidak aktif sebagai antibakteri. Oleh karena
itu gugus amino harus tidak tersubstitusi (R’ = H) atau mengandung
substituen yang mudah dihilangkan pada in vivo.
2. Bentuk yang aktif sebagai antibakteri adalah bentuk garam N1-terionisasi (
N1- monosubstitusi), sedang N1-disubstitusi tidak aktif sebagai antibakteri.
3. Penggantian cincin benzen dengan sistem cincin yang lain dan pemasukan
substituen lain pada cincin benzen akan menurunkan atau menghilangkan
aktivitas.
4. Penggantian gugus SO2NH2 dengan SO2-C6H4-(p)NH2 senyawa tetap aktif
sebagai anti bakteri. Pengantian dengan CONH-C6H4-(p)NH2 atau CO-C6H4-
(p)NH2 akan menurunkan aktifitas.
5. Dari studi hubungan nilai pKa turunan sulfonamida dengan aktifitas
antibekterinya secara invitro, Bell dan Roblin mendapatkan bahwa aktivitas
antibakteri yang cukup tinggi ditunjukan oleh turunan sulfonamida yang
mempunyai nilai pKa antara 6,0-7,4 dan terlihat bahwa aktivitas maksimal
dicapai oleh senyawa yang mempunyai nilai pKa mendekati pH fisiologis. pH
= pKa + log [HA]/[A- ]
6. Dalam studi hubungan kuantitatif struktur dan aktivitas turunan sulfonamida,
hansch dan fujita membuktikan bahwa adanya hubungan bermakna antar
aktivitas antibakteri turunan sulfonamida dengan sifat lipofil (log P) dan
eletronik (σ dan pKa).

2.9 Farmakokinetik

[Link]
Absorpsi melalui saluran cerna mudah dan cepat, kecuali beberapa
macam sulfonamid yang khusus digunakan untuk infeksi lokal pada usus.
Kira-kira 70-100% dosis oral sulnamid diabsorpsi melalui saluran cerna dan
dapat ditemukan dalam urin 30 menit setelah pemberian. Absorpsi terutama
terjadi pada usus halus, tetapi beberapa jenis sulfa dapat diabsorpsi melalui
lambung. Absorpsi melalui tempat-tempat lain, misalnya vagina, saluran
napas, kuli yag terluka, pada umumnya kurang baik, tetapi cukup
menyebabkan reaksi toksik atau reaksi hipersensitivitas.
2. Distirbusi
Semua sulfonamid terikat pada protein plasma terutama albumin
dalam derjat yang berbeda-beda. Obat ini tersebar keseluruh jaringan tubuh,
karena itu berguna untuk infeksi sistemik. Dalam cairan tubuh kadar obat
dalam bentuk bebas mencapai 50-80% kadar dalam darah. Pemberian
sulfadiazin dan sulfisoksazol secara sistemik dengan dosis adekuat dapat
mencapai kadar efektif dalam CSS (Cairan serebrospinal) otak.
Kadar taraf mantap didalam CSS mencapai 10-80% dari kadarnya
dalam darah; pada meningitis kadar ini lebih tinggi lagi. Namun karena oleh
timbulnya resistensi mikroba terhadap sulfonamid, obat ini jarang lagi
digunakan untuk pengobatan meningitis. Obat dapat melalui sawar uri dan
menimbulkan efek antimikroba dan efek toksik pada janin.
3. Metabolisme
Dalam tubuh, sulfa mengalami asetilasi dan oksidasi. Hasil oksidasi
inilah yang sering menyebabkan reaksi toksik sistemik berupa lesi pada kulit
dan gejalan hipersensitivitas, sedangkan hasil asetilasi menyebakan hilangnya
kativitas obat, bentuk asetin pada N-4 merupakan metobil utama, dan
beberapa sulfonamid yang terasetilasi lebih sukar larut air sehingga sering
menyebabkan kristaluria atau komplikasi ginjal lain. Bentuk asetil ini lebih
banyak terikat protein plasma dari pada bentuk aslinya. Kadar bentuk
terkonyugasu ini tergantung terutama pada besarnya dosis, lama pemberian,
keadaan fungsi hati dan ginjal pasien.
4. Ekskresi
Hampir semua obat diekskresi melalui ginjal, baik dalam bentuk asetil
maupun bentuk bebas. Masa paruuh sulfonamid tergantung pada keadaan
funsi ginjal. Sebagian kecil diekskresi melaluin tinja, empedu dan air susu ib
2.10 Turunan Sulfonamida
1. Sulfamerazin

Gambar 3. Struktur sulfamerazin


Nama resmi : Sulfamerazinum
Nama Lain : Sulfamerazina
Rumus Molekul : C11H12N4O2S
Nama kimia : Streptozid-4-Aminobenzensulfonamid
Berat Molekul : 264, 31
Pemerian :Serbuk putih agak kekuningan, tidak barbau atau tidak hampir
berbau, rasa agak pahit. Mantap di udara kalau kena cahaya
langsung lambat dan warna menjadi tua.
Kelarutan :Sangat sukar larut dalam air, dalam kloroform P dandalam eter
P,sukar larut dalam etanol (95%) P, agak sukar larut dalam
aseton
Kegunaan :Antibakteri

2. Sulfadiazin

Gambar 4. Struktur sulfadiazin


Nama resmi : Sulfadiazinum
Nama Lain :Sulfadiazina
Rumus Molekul : C10H10N4O2S
Nama kimia : 2-pirinil sulfanilamida
Berat Molekul : 250,27
Pemerian : Serbuk putih, putih kekuningan atau putih agak merah jambu,
hampir tidak berbau tidak berasa.
Kelarutan :praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol
(95%)p dalam Aseton p, mudah larut dalam asam mineral
encer dan Aseton p, mudah larut dalam asam mineral encer
danhidroksida.
Penyimpanan :Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Kegunaan : Antibakteri

3. Sulfaguanidin

Gambar 5. Struktur sulfaguanidin


Nama resmi : SulfaGuanidinum
Namsa Lain :Sulfaguanidina
Rumus Molekul : C7H10N4O2S H2O
Nama kimia : aminobenzensulfoniguanida monohidrat
Berat Molekul : 232,26
Pemerian :Hablur atau serbuk, putih atau hampir putih,tidak berbau
atauhampirtidak Berbau,oleh pengaruh cahaya lambat laun
warna berubah menjadi gelap.
Kelarutan :Mudah larut dalam air mendidih dan dalam asam mineral
encer,sukar larut Dalam etanol (95%)p dan dalam p,sangat
sukar larut dalam air praktis Tidak larut dalam larutan alkali
hidroksida

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik,terlindung dari cahaya


Kegunaan : Antibakteri
4. Sulfametazin

Gambar 6. Struktur sulfametazin


Nama resmi : Sulfadimidin
Nama Lain :Sulfadimidine,Sulfametazin
Rumus Molekul : C12H14N4O2S
Nama kimia : 4,6-dimetil-2-pirimidin
Berat Molekul : 278,33
Pemerian :Serbuk,putih sampai putih kekuningan ,dapat menjadi gelap
pada pemaparan terhadap cahaya,rasa agak pahit,praktis tidak
berbau.
Kelarutan :Sangat sukar larut dalam air dan dalam eter,larut dalam
aseton,sukar larutdalam etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik,tidak tembus cahaya
Kegunaan : Antibakteri

5. Sulfacetamid

Gambar 7. Struktursulfacetamid
Nama resm : Sulfacetamide
Nama Lain : Sulphacetamide
Rumus Molekul : C8H10N2O3S
Nama kimia : Acetosulfamine
Berat Molekul : 214.239 g/mol
Pemerian :Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa asam khas;
larutandalam air peka terhadap cahaya, tidak stabildalam
suasana asam dan dalam alkali kuat.
Kelarutan :Sukar larut dalam air dan dalam eter; mudah larut dalam asam
mineral encer, dalam larutan kalium hidroksida dan dalam
larutan natrium hidroksida; larut dalam etanol; sangat sukar
larut dalam kloroform; praktis tidak larut dalam benzen
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik,tidak tembus cahaya
Kegunaan : Antibakteri

6. Sulfatiazol

Gambar 8. Struktur sulfatiazol


Nama resmi : Sulfathiazole
Nama Lain : Sulphathiazole
Rumus Molekul : C9H9N3O2S2

Nama kimia : Sulfanilamidothiazole


Berat Molekul : 255,31 g/mol
Pemerian : serbuk putih kuning rasa pahit tidak berbau
Kelarutan : tidak larut(<1 mg/ml pada 70
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan baik
Kegunaan : Antibakteri
2.11 Sediaan Golongan Sulfonamida Yang Beredar di Pasaran

NO NAMA GENERIK NAMA DAGANG PABRIK KOMPOSISI


1 Sulfadiazin + Trisulfa Kimia 500 mg / tablet
Sulfamerazin + Farma,
Sulfamezatin Indofarma
2 Sulfasetamida Albucid Nicholas Tetes mata 10%,
Natrium salep mata 6%
3 Kotrimoksazol Bactrim, Roche Suspensi 240 mg /
(Trimetroprim + Bactricid 5 mg,
Sulfametoksazol) Tablet 480 mg.
Molex Sulfamotoxonazol
4 Sulfametoxonazole Infatrim Ayus e 400 mg Tablet

5 Sulfadiazin Sulfadiazin Infarmind Sulfadiazin 500


mg Tablet
Triple Sulfa
Lantrisul
Neotrizine
Sulfaloid
Sulfonamides
Duplex
Sulfose
Terfonyl
Triple Sulfoid
Triple Sulfas
BAB III
IDENTIFIKSI GOLONGAN SULFONAMIDA

3.1 Reaksi Pendahuluan


SULFONAMIDA
N1-(4,6-dimetil-2-pirimidinil) sulfanilamida
Bm 278,33
C12H14N4O2S

SIFAT FISIKA

Pemerian : serbuk, putih sampai putih kekuningan dapat menjadi gelap pada
pemaparan terhadap cahaya, agak pahit, praktis tidak berbau

3.1.1 Pemeriksaan Organoleptis


Pemeriksaan organoleptis bias dilihat pada Tabel 1.
Sediaan Bentuk Warna Rasa Bau
1. Sulfamerazin Serbuk Putih atau Agak Tidak berbau
atau agak putih pahit atau praktis
hablur kekuningan tidak berbau

2. Sulfadiazin Serbuk Putih Tidak Tidak berbau


sampai agak berasa atau hampir
kuning tidak berbau

3. Sulfaguanidin Hablur Putih, Tidak Tidak berbau


atau mengkilat berasa atau hampir
serbuk tidak berbau

4. Sulfamezatin Serbuk Putih Tidak Tidak berbau


sampai agak berasa atau hampir
kuning tidak berbau

5. Sulfacetamid Serbuk Putih Asam Tidak berbau


hablur khas

6. Sulfatiazole Serbuk Putih, Pahit Tidak berbau


kuning lemah
putih

3.1.2 Kelarutan
1. Diasamkan dengan asam cuka 3 %
a. Larut : Sulfanilamid, sulfasetamid, soluseptazin.
b. Tidak larut :Sulfadiazin, sulfamorazin, sulfametazin,sulfatiazol,
sulfapyridin, irgafen, irgamid.
2. Dengan alkohol 96%
a. Larut : Sulfasetamid, Irgamid, Igafen.
b. Tidak larut :Sulfadiazin Na, Sulfamerazin Na, SulfametazinNa,
Sulfapyridin Na
3. Larut dalam asam cuka 7%
Sulfanalamid, Sulfasetamid, Soluseptazin.
4. Tidak larut dalam air; larut dalam air panas
Sulfanalamid, sulfasetamid, marfenil.
5. Larut dalam NaOH 10% dan HCl 1%
Sulfaciazin, sulfamerazin, elkosin, sulfa piridin, sulfamezatin
6. Tidak larut dalam NaOH 10 %
Irgafen, Septazin, Radilon, Sulfaguanidin.
7. Tidak larut dalam HCl 1%
Irgafen, Radilon, Sulfaguanidin.

3.1.3 Uji Keasaman


Larutan Sampel : Celupkan kertas lakmus biru → merah (asam)
Celupkan kertas lakmus merah→ biru (basa)

3.1.4 Penentuan Unsur-Unsur


Unsur selain karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) pada obat yang
diidentifikasi. Unsur-unsur lain yang diperiksa tersebut adalah nitrogen (N),
sulfur (S), fosfor (P), dan halogen (Cl, Br, dan I). Keberadaan unsur-unsur
tersebut sangat berpengaruh terhadap langkah pengujian senyawa obat tersebut.
Pada semua golongan sulfonamida terdapat unsur C, N, S.
SULFONAMIDA

 Didalam golongan sulfonamida terdapat unsur : Amin primer,


Benzen, Sulfo, Amin sekunder, piridin, pirimidin, isoxazolil

Golongan sulfonamida:
1. Sulfamerazine

Gambar 9. Struktursulfamerazin
Terdapat unsur : Amin primer, Amin sekunder, Unsur S, Inti benzen, Inti
primidine.

2. Sulfadiazine

Gambar 10. Struktursulfadiazin


Terdapat unsur : Amin primer, Amin sekunder, unsur S, Inti benzen, Inti
primidin.

3. Sulfaguanidine

Gambar 11. Struktursulfaguanidin


Terdapat unsur : Amin sekunder, Amin primer, Unsur S, Inti benzen.

4. Sulfametazine

Gambar 12. Struktursulfametazin


Terdapat unsur : Amin primer, Amin sekunder, Inti benzen, Unsur S, Inti
primidin.
5. Sulfacetamid

Gambar 13. Struktursulfacetamid


Terdapat unsur : Amin primer, Amin sekunder, Unsur S, Inti benzen, Aldehid.

6. Sulfatiazole

Gambar 14. Struktursulfatiazol


Terdapat unsur : Amin primer, Amin sekunder, Inti benzen, Unsur S,intitiazol

Perbedaan dari setiap struktur turunan golonga Sulfonamida


No Struktur Perbedaan

1. sulfamerazin - Memiliki gugus alkil


(metil)
- Memilikiintipirimidin

2. Sulfadiazin - Memiliki inti pirimidin


3. Sulfaguanidine - Memiliki gugus amin
- Memiliki gugus amida
- Tidak Memiliki inti
pirimidin

4. Sulfametazine - Memilikidua gugus alkil


(dimetil)
- Memiliki inti pirimidin

5. Sulfacetamid - Memiliki aldehid


- Tidak Memiliki inti
pirimidin

6. Sulfatiazole - Mempunyai inti tiazol

3.2 Reaksi Gugus Unsur (Uji Golongan)


[Link] Senyawa Nitrogen (N):
Bahan : Ekstrak lassaigne, larutan sulfat besi yang baru disiapkan,larutan
besi klorida. Asam klorida pekat
Alat : Tabung reaksi, pemegang tabung reaksi, droppers dan Bunsen
burner.
Prosedur :
Ambil sebagian kecil dari ekstrak lassaigne dalam tabung [Link] ini,
tambahkan sedikit larutan sulfat besi yang baru disiapkan menggunakan
[Link] sianida yang terbentuk selama fusi bereaksi dengan ion-ion
besi untuk membentuk natrium ferro sianida.
6NaCN + FeSO4 Na4[Fe(CN)6] + Na2SO4
Sodium Sianida Ferro sianida
Panaskan isi tabung reaksi diatas pembakar [Link] beberapa
tetes larutan besi klorida menggunakan pipet. Dengan menggunakan pipet
lain, tambahkan asam klorida pekat untuk melembabkan isi tabung uji.
Natrium ferro sianida bereaksi dengan besi klorida untuk membentuk biru-
hijau atau ferrosianida besi.
3Na4[Fe(CN)6] + 4FeCl3 Fe4[Fe(CN)6]3 + 12NaCl

Gambar hasil uji nitrogen (N)

3.2.2 Pemeriksaan senyawa Sulfur (S)


Ada 2 pengujian keberadaan unsur S, yaitu:
1. Tes natrium nitroprisside
Bahan : Ekstrak lasagne, larutan natrium nitroprussida
Alat : Tabung reaksi dan pipet
Prosedur :
1) Ambil sebagian kecil ekstarak lassaigne dalam tabung reaksi
2) Tambahkan satu tetes natrium nitroprusside menggunakan
pipet.
3) Sodium sulfida terbentuk selama fusi bereaksi dengan natrium
nitroprusside untuk membentuk warna ungu berwarna natrium
thionitroprusside.
Na2S + Na2[Fe(CN)5NO] Na4[Fe(CN)5NOS]
Sodium sulfida + Sodium nitroprusside Thionitroprusside

Gambar hasil tes natrium nitroprisside


2. Uji timbal asetat
Bahan : Ekstrak lassaigne, asam asetan, larutan timbal asetat
Alat : Tabung reaksi dan droppers
Prosedur :
1) Ambil sebagian kecil ekstarak lassaigne dalam tabung reaksi.
2) Dengan menggunakan pipet tambahkan beberapa tetes asam
asetat untuk mengasamkan ekstrak lassaigne.
3) Tambahkan beberapa tetes larutan timbal asetat dengan
menggunakan pipet lainnya.
4) Sodium sulfida terbentuk selama fusi beberaksi dengan timbal
asetat menghasilkan endapan hitam timbal sulfida.
Na2S + (CH3COO)2Pb PbS + 2CH3COONa
Gambar hasil uji timbal asetat
3.2.3 Unsur O
Bahan : Larutan hidrogen peroksida, bubuk NaO2
Alat : Tabung reaksi, Bunsen, penjepit tabung, lidi atau bambu tipis
Prosedur :
Ambil tabung reaksi, masukkan larutan hydrogen peroksida
secukupnya, tambahkan sedikit bubuk NaO2 kemudian panaskan diatas
Bunsen, sambil lidi dibakar di atas Bunsen hingga seperti terbakar kemudian
masukkan kedalam tabung reaksi jangan menyentuh larutan, sehingga akan
terbentuk api yang menyala

Gambar hasil uji oksigen (O)


3.2.4 Unsur Hidrogen (H)
Bahan : Strip magnesium, 1 M hidroklorik
Alat : Tabung reaksi, lidi atau bambu tipis, korek api, dropper
Prosedur :
Masukkan strip magnesium kedalam tabung reaksi, tambahkan beberapa
asam hidroklorik, tutup dengan dropper, kocok perlahan hingga terasa
sedikit hangat dan mulai terasa adanya tekanan,nyalakan lidi dengan korek
api, lalu terdengar bunyi “pop”
3.2.5 Unsur C
Untuk mendeteksi unsur karbon dan hidrogen, senyawa yang akan
di uji terlebih dahulu direaksikan dengan lembaga oksida kering (CuO)
sambil dipanaskan untuk mempercepat dan menyempurnakan reaksi.
Kemudian gas CO2 yang dihasilkan dialirkan ke dalam larutan Ca (OH)2
Dimana nantinya bila positif terdapat CO2 maka larutan Ca(OH)2 akan
berubah menjadi keruh.

3.3 Reaksi Gugus Fungsi (Uji Golongan)


a. Reaksi Sulfon
Zat uji + KMnO4 + HCl + asam oksalat (menghilangkan warna) + BaCl2→
endapan berwarna.
b. Amin primer ( Amin aromatis )
1. Zat uji + DAB (dimetil amino benzaldehida) HCl → warna merah jingga
dan endapan merah jingga.
2. Reaksi Diazo (amin aromatis primer).
Zat uji + HCl 2N + 1ml air + NaNO2 + teteskan β-naftol dalam NaOH →
endapan jingga lalu merah → jika β-naftol diganti α-naftol warna endapan
merah darah.
a. Gratisin : kekesruhan jingga kuning
b. Negatif : sulfasuksidin, thalazol, septazin
c. Amin sekunder
Reaksi Alkalis : Zat + NaOH → ↑ NH3 (NH3 menguap)
d. Inti benzens
1. Reaksi Querbet:
Zat + HNO3 Pekat + alcohol + HCl + Zn Powder → Reaksi diazo warna
merah orange
2. Reaksi Ramwez:
Zat + KNO3 (2 x Bz) + 1 cc H2SO4 →dingin → air + NH4OH + Na2S →
lapisan merah coklat
e. Amin tersier
1. Reaksi Hoffman
Zat + CHCl2 + spiritus + NaOH + bau isonitril
2. Reaksi mustard oil Hoffman
Zat + etanol + 1 cc CS2 → bau mustard oil
f. Eter
1. Reaksi Methylen Oxide
Zat + H2SO4 Pekat+ Asam Galat → warna biru, ungu
2. Reaksi Methoxyl
Zat + NaOH + CuSO4→ biru violet.
g. Keton
1. Reaksi Legal-Rothera
Zat + Na2HPO4 + NH4OH → warna biru, ungu
2. Reaksi Taufel Tholer
Zat + salycyl aldehid + H2SO4 Pekat → kocok → merah carten
h. Aldehida
Zat uji + reagen Schiff → warna dari merah hingga ungu

3.4 Reaksi Penegasan dan Warna

1. Reaksi DAB HCL


Zat pada plat tetes + 2 tetets pereaksi =kuning tua (pereaksi : 1 gram p-DAB
+ 10 ml HCL ad dengan aquadest 100 ml)
2. Reaksi Diazo
Zat + 2 tetes HCL 2 N + 1ml air + NaOH / NaNO2 lalu teteskan alpha naftol
dalam NaOH = endapan jingga kemudian merah darah .(catatan : 0,1 gram
alpha naftol dilarutkan dalam 2 ml NaOH)
3. Dengan pereaksi Roux
1 tetes pereaksi roux + zat pada plat tetes = warna biru (pereaksi roux : 10
ml natrium nitroprusida +100 ml aquadest +2 ml NaOH + 5 ml KmnO4 )
4. Dengan KbrO3
1 tetes KbrO3 + 10 mg zat + 1cc H2SO4= kuning sampai hijau
5. Reaksi indophenol
100 mg zat + 2 cc air +panaskan sampai mendidih + 2 tetes NaOH dalam 2
ml kaporit + 1 tetes fenol liquafectum= warna yang dihasilkan kuning
kehijauan
6. zsxPirolisa
Zat sulfadiazeine + panaskan diatas titik lebur pelelehan dengan warna
coklat merah + SO yang bisa ditentukan dengan Pb asetat
7. Parri
Pereaksi parri + larutan sulfadiazine dalam alcohol = warna yang dihasilkan
merah tua (pereaksi parri : dilarutkan 2 gram CoCL2 dalam 1 ml HCL
kemudian ditambahkan air sampai volume 100 ml)
8. Pereaksi CuSO4
Zat + NaOH + pereaksi CuSO4= warna yang dihasilkan hijau sampai ungu
kelabu. ( pereaksi CuSO4 : dilarutkan 5 gram CuSO4 dalam 100 ml H2SO4
encer).
9. Reagen raybin
Zat disublimasi dengan hati-hati + 1 tetes resorcine dalam alcohol + 1 cc
H2SO4= warna yang dihasilkan adalah warna merah
3.5 Reaksi UjiGolongan
3.5.1 Reaksi Ehrlich
Zat uji + DAB HCl 2 tetes → kuning sampai jingga
Pereaksi :1g p-DAB + 10mL HCl + aquadest hingga 100mL
Catatan : Kuning sitrun= Sulfametazin, sulfadiazine, sulfamerasin
Gratisin.
Kuning = Elkosin
Jingga = Sulfaguanidin, sulfadikramid
Kuning tua = Sulfanilamide, thazalol
Kuning jingga =Sulfamethizol, sulfacetamid

3.5.2 Reaksi Korek Api


Zat uji + HCl encer → celupkan batang korek api → jingga intensif
sampai kuning
Catatan :Asam sulfanilat = kuning
KCL3+H2SO4→HCLO3+ KHSO4
HCLO3+ CXHx→ HCL + CO2 + H2O

3.5.3 Reaksi Diazo


Zat uji + HCl 2N + 1ml air + NaNO2 + teteskan β-naftol dalam NaOH
→ endapan jingga lalu merah → jika β-naftol diganti α-naftol warna
endapan merah
Catatan :Negatif = Suksinilsulfathiazol, Ptalilsulfatiazol
HCL+ NaNO2→HNO2+NaCL
NH2 N+N Cl-

+ HNO2 + HCl + 2H2O


→ OH

CL-
N N
N+ N+ →+ → +HCL

Endapan merah

Cara PembuatanAsamKlorida:
Pembuatan asam klorida dengan kadar 2 N atau 2 Normal. Karena asam
klorida mempunyai bilangan valensi = 1, maka Normalitas HCl = Molaritas
HCLatauN(HCL)=M( HCl ).
Diketahui asam klorida murni / Pekat mempunyai kadar 36,5 %. berarti
setiap 1000 ml larutan mengandung 36,5 g HCl.
Keterangan :
V1 :banyaknya larutan murni yang kita ambil
N1 :konsentrasi larutan yang akan kita encerkan
V2 :banyaknya larutan yang akan kita buat dengan pengenceran
N2 :konsentrasilarutan yang akan kitabuat
Jika diketahui bahwa Kadar Asam Klorida Murni = 36-37 % ( N1 ) ~
12 N. Maka perhitungan pembuatan larutan Asam Klorida 2 N ( N2 ) sebanyak
1000 ml ( V2 ) adalah sebagai berikut :
 Perhitungan :
V1.N1 = V2.N2
V1 = V2.N2 : N1
= 1000 ml. 2 N : 12 N
= 55,55556 ml ~ 55, 6 ml

3.5.3 Uji Bromat


Zat uji + H2SO4 pekat + kristal KBrO3→ warna cokelat
Catatan :Kuning cokelat: Sulfamethizol
Kuning jingga-cokelat tua: Sulfacetamid
Ungu endapan cokelat:Suksinilsulfathiazol

3.6 Reaksi khusus


Reaksi Zwikker
Zat uji + 10 tetets raegen zwikker I + 2 tetes reagen zwikker II
Warna ungu
Pereaksi: - zwikker I
1 gram kobalt (II) nitrat larutkan dalam metanol 100 ml.
- zwikker II
100% piridin larutkan dalam metanol 100 ml.

3.7 Reaksi Kristal


1. Dengan Aseton-Air
5 tetes zat uji dalam aseton pada obyek glas + 2 tetes aquadest → biarkan
hingga terbentuk kristal → amati dibawah mikroskop.
2. Dengan Reagen Dragendorf
Zat uji ditaburkan pada obyek glas + HCl 0,5N hingga larut + 1 tetes reagen
dragendorf → biarkan 15-30 menit → panaskan perlahan →amati dibawah
mikroskop.
3. Dengan Larutan Asam Pikrat
Zat uji diratakan pada obyek glas + HCl 0,5N hingga larut + 1 tetes reagen
asam pikrat → biarkan beberapa saat hingga terbentuk kristal → amati
dibawah mikroskop.
Tidak berwarna: Ptalilsulfatiazo
Bentuk-bentuk Contoh Kristal Golongan Sulfonamida:
1) Sulfanamida
Kristal sulfonamida biasanya bewarna kuning dan sering
menyerupai kristal asam urat. Namun, kristal sulfa mudah dibedakan
dari asam urat dengan tes konfirmasi

2) Sulfamerazin
3) Sulfadiazin
Kristal sulfadiazin terbentuk karena banyak obat diekskresikan
dalam urine mempunyai potensi untuk membentuk kristal.

Kristal sulfadiazine adalah temuan umunm dengan pemberian


trimethoprim-sulfadiazin. Mereka sering dianggap sebagai ”kejutan
gandum” atau spherules radial-lurik

3.8 Reaksi – Reaksi Individual ( Turunan Sulfonamida )


1. Reaksi Umum
 Zat uji pada drupple plate + 1-2 tetes DAB HCl → amati warna yang
terjadi, amati pula kristalnya dibawah mikroskop (bandingkan tiap – tiap
sulfa).
 Zat uji pada tabung reaksi + NaOH → kelebihan alkali netralkan dengan
HCl → + CuSO4 → kocok → amati warna yang terjadi (bandingkan tiap-
tiap sulfa)
 Zat uji pada drupple plate + larutan jenuh KBrO3 + 1-2 tetes H2SO4pekat
→ amati warna yang terjadi (bandingkan tiap-tiap sulfa)
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah
mikroskop(bandingkan tiap-tiap sulfa)
2. Sulfaguanidin
 Zat uji + DAB HCl → warna orange, ada kristal agak putih
 Zat uji + reagen Parri → warna hijau biru
 Zat uji + Cu asetat + aseton → warna biru muda
 Reaksi kuprifil → warna biru muda
 Zat uji + H2SO4 + KCl → warna orange yang lama-lama hilang
 Zat uji + 5 mL NaOH → didihkan untuk melarutkan → bau amonia
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah
mikroskop(bandingkan tiap-tiap sulfa)
3. Sulfadiazin
 Zat uji + DAB HCl → warna kuning lama-lama orange
 Zat uji + reagen Parri → warna hijau ungu
 Zat uji + Cu asetat + aseton → warna violet hitam
 Zat uji + 10 mL aquadest + 1 mL NaOH 0,1N + 0,5 mL
CuSO4→endapan hijau zaitun → diamkan → kelabu ungu
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah mikroskop
 Zat uji + NaOH + HCl hingga netral + beberapa tetes CuSO4 → amati
warna endapan
4. Sulfamerazin
 Zat uji + DAB HCl → warna kuning lama-lama orange merah
 Zat uji + reagen Parri → warna ungu
 Zat uji + Cu asetat + aseton → warna cokelat hitam
 Zat uji + 10 mL aquadest + 1 mL NaOH 0,1N + 0,5 mL
CuSO4→endapan hijau zaitun → diamkan → kelabu tua
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah mikroskop
5. Sulfamezatin
 Zat uji + DAB HCl → warna ungu lama-lama orange muda
 Zat uji + reagen Parri → warna ungu
 Zat uji + Cu asetat + aseton → warna hijau lama-lama cokelat
 Zat uji + 10 mL aquadest + 1 mL NaOH 0,1N + 0,5 mL CuSO4→
endapan hijau zaitun → diamkan → kelabu tua
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah mikroskop
6. Sulfacetamid
 Zat uji + alkohol + beberapa tetes H2SO4 pekat → panaskan → bau etil
asetat pada pengenceran dengan air
 Zat uji + 10 mL aquadest + 1 mL NaOH 0,1N + 0,5 mL CuSO4→
endapan biru kemerahan
7. Sulfatiazol
 Zat uji + 10 mL aquadest + 1 mL NaOH 0,1N + 0,5 mL CuSO4→
endapan biru hijau
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah mikroskop
8. Ptalilsulfatiazol
 Zat suji + DAB HCl → warna kuning
 Zat uji + reagen Parri → warna ungu merah
 Zat uji + 10 mL aquadest + 1 mL NaOH 0,1N + 0,5 mL CuSO4→
endapan biru hijau
 Reaksi kristal dengan aseton-air → amati dibawah mikroskop
9. Sulfametoxazole
 Zat uji + reaksi diazo → menghasilkan warna jingga kemudian merah
darah
 Zat uji + FeCl3 → menghasilkan warna kuning oange
 Zat uji + CuSO4 → menghasilkan warna hijau toska
 Zat uji + NaOH + CuSO4 → menghasilkan warna hijau lumut atau green
tea
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
 Penentuan Zat Tambahan
 Zat + Air Talkum

 Reaksi Penegasan

 Zat uji + Reaksi Diazo + Coklat muda (-)


 Zat uji + Fecl3 Kuning orange (+)

 Zat uji + CuSO4 Hijau tosca (+)

 Zat uji + NaOH +CuSO4 Abu-abu (-)


4.2 PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini yang berjudul analisis golongan sulfonamida yang
bertujuan untuk menganalisis zat aktif dan zat tambahan yang terdapat pada
sampel yang diberikan oleh asisten dosen pada saat praktikum, sebelum
praktikum kita harus tau apa itu sulfonamida. Sulfonamida adalah kemoterapeutik
yang pertama digunakan secara sistemik untuk pengobatan dan pencegahan
penyakit infeksi pada manusia.

Adapun organoleptis dari sulfonamida yaitu serbuk putih sampai putih


kekuningan dapat menjadi gelap pada pemaparan terhadap cahaya, agak pahit,
praktis tidak berbau. Kelarutan sulfonamida umumnya larut baik dalam aseton,
tapi tidak melarut dalam air dan akan larut dalam air panas, tidak larut dalam
eter,kloroform,petroleum eter.

Mekanisme kerja dari obat ini memiliki kerja bakteriostatis yang luas
terhadap bakteri gram-positif dan gram-negatif, terhadap pseudomonas, proteus
dan streptococcus faecalis tidak aktif. Mekanisme kerjanya berdasarkan
pencegahan sintesis (dihidro) folat dalam kuman dengan cara antagonisme
saingan dengan PABA.

Pada praktikum kali ini kami menguji zat aktif sulfonamida, tetapi berhubung
sulfonamidanya tidak ada jadi yang kami uji yaitu sulfametaksazol (turunan
sulfonamida).

Selanjutnya disini saya akan menjelaskan cara kerja yang telah dilakukan
pada praktikum kali ini yaitu sebelum kita memulai praktek kita harus
menyiapkan alat-alat dan bahan yang akan kita uji, alat alat seperti tabung reaksi
dicuci bersih, pipet tetes, penggegep, spatel, rak tabung reaksi, bros, bunsen, tissu,
korek api. Adapun kegunaannya yaitu :

- tabung reaksi sebagai tempat untuk melarutkan sampel atau zat uji
- pipet tetes untuk meneteskan larutan kedalam tabung reaksi
- penggegep sebagai penjepit tabung reaksi
- spatel untuk mengambil sampel
- rak tabung reaksi sebagai tempat untuk meletakkan tabung reaksi
- bros untuk membersihkan tabung reaksi jika telah dilakukan pengujian
- bunsen untuk memanaskan zat uji yang akan dipanaskan
- tissu untuk membersihkan alat

dan siapkan bahan yang akan digunakan yaitu sampel, air, reaksi diazo, HCl ,
FeCl3, CuSO4, NaOH .

Setelah alat dan bahan siap kita bisa menjalan kan praktek, dimana pertama
kita penentuan zat tambahan pertama masukkan sampel menggunakan spatel
kedalam tabung reaksi dan tambahkan air kemudian panaskan diatas bunsen yang
telah dinyalakan dengan korek api sambil digoyang-goyang menggunakan gegep,
jangan arahkan pada praktikkan lainnya karena akan membahayakan praktikkan
yang berada disekitar kita, kemudian lihat reaksi yang didapat jika menghasilkan
zat yang mengapung diatas larutan berarti zat tambahan yang didapat positif
Talkum, jika hasilnya menjadi kental (gel) setelah dipanaskan diatas bunsen
berarti zat tambahan pada sampel tersebut positif Amprotab dan jika sampel
tersebut hasilnya larut dalam air maka positif SL, disini hasil yang saya dapatkan
yaitu Talkum karena setelah sampet ditambah air lalu dipanaskan hasil yang saya
dapat larutan tersebut menjadi kental (gel).

Kedua kita lakukan reaksi penegasan pada sampel yaitu dengan


menggunakan pelarut air , larutan FeCl3, larutan CuSO4, larutan NaOH, dan
larutan Reaksi diazo dengan cara:

1. Pertama lakukan pengujian reaksi diazo, caranya masukkan zat uji atau
sampel tadi kedalam tabung reaksi menggunakan spatel lalu tambahakan
reaksi diazo yaitu hcl 2 tetes , air 1 ml tambah NaOH akan menghasilkan
larutan berwarna coklat muda (-)
2. Kemudian lakukan pengujian dengan larutan FeCl3, ambil lagi tabung
reaksi masukkan sampel tambahkan larutan FeCl3 akan menghasilkan
larutan warna kuning orange (+)
3. Lalu pengujian dengan larutan CuSO4, masukkan lagi sampel kedalam
tabung reaksi menggunakan spatel tambahkan larutan CuSO4
menghasilkan larutan warna hijau tosca (+)
4. Kemudian dengan menggunakan larutan NaOH + CuSO4, masukkan
sampel kedalam tabung reaksi tambahkan larutan NaOH dan tambahkan
larutan CuSO4 menghasilkan warna abu-abu pada larutan (-)

Pada uji penegasan reaksi yang telah dilakukan ada beberapa hasil yang saya
dapat terjadi kesalahan atau ketidaksesuaian hasil yang didapat pada sampel yang
telah direaksikan pada literatur atau diktat yaitu ada beberapa yang hasilnya
berbeda (negatif) . Yaitu pada pengujian yang zat uji ditambahkan reaksi diazo
tambah hcl 2 tetes air 1 ml menghasilkan negatif larutan coklat muda dan zat uji
ditambah NaOH tambah CuSO4 mendapat hasil negatif abu-abu . Sedangan pada
reaksi zat uji ditambah FeCl3 hasilnya positif berwarna kuning orange, pada
peegujian zat uji ditambah CuSO4 hasilnya positif hijau tosca, berarti ada dua
reaksi yang mendapatkan hasil negatif. Dari hasil tersebut mungkin terjadi karena
ada beberapa faktor kesalahan yaitu :

- Pada alat yang digunakan tidak steril atau masih terdapat kotoran atau zat
lain yang menempel
- Sampel tidak murni terdapat zat lain yang tercampur
- Pada pemipetan larutan sering terjadi kesalahan yang seharusnya hcl
ditetesi 2 tetes malah lebih atau kurang jika ditambahkan pada zat uji, dan
tetes air 1 ml hingga berlebih 2 sampai 3 ml
- Kelebihan dan kekurangan pada sampel dan larutan yang diuji setelah
dicampur
- Terlalu sebentar dan terlalu lama pada pemanasan pengujian zat tersebut

Pada praktikum ini saya benar mendapatkan zat aktif sulfametaksazol dan zat
tambahan talkum, dan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada saat mereaksikan
itu hanya karena kecerobohan dan ketidaktelitian saya.
BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Jadi kesimpulan yang saya dapat pada praktikum kali ini adalah pada saat
mereaksikan untuk menentukan zat aktif saya yaitu Sulfonamida dan zat
tambahan yang saya dapatkan Talkum karena setelah dilakukan pemanasan
hasilnya yaitu mengapung.

4.2 Saran
 Pada saat praktikum praktikan harus menggunakan alat-alat yang dapat
menyelamatkan diri praktikan
 Praktikan harus mengerti prosedur kerja pada saat praktikum
 Praktikan harus berhati hati pada saat merekasikan agar tidak terjadi
kesalahan
DAFTAR PUSTAKA

[Link] informasi spesialis obat indonesia volume 48. Jakarta: penerbit


[Link].

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi [Link] Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Ditjen POM. 2017. Farmakope Indonesia Edisi [Link] Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta.

Fessenden, J, S & Fessenden, R, J. [Link] Organik edisi ketiga Jilid I.


Erlangga ; Jakarta.

Ganiswara. 1995. S“ Farmakologi dan Terapi”. Bagian Farmakologi. Fakultas


Kedokteran. Universitas Indonesia. Jakarta.

Ghanjar, G., I.,dan Abdul, R. 2007. Kimia Farmasi Analisis. PustakaPelajar:


Yogyakarta.

Harjadi, [Link] Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Erlangga.


LAMPIRAN

Common questions

Didukung oleh AI

The solubility of sulfonamides significantly impacts their effectiveness and clinical administration. While sulfonamides are generally poorly soluble in water, their sodium salts are more soluble, facilitating oral administration and absorption . Solubility also affects drug distribution; more soluble forms are better absorbed and distributed in the body, hence improving therapeutic efficacy in systemic infections. Poor solubility can lead to complications, such as crystalluria, if the drug precipitates in the renal tubules . The choice of formulation often aims to enhance solubility to achieve better therapeutic levels .

Sulfonamides function as antibacterial agents by inhibiting the synthesis of folic acid in bacteria, functioning primarily as bacteriostatic agents. They are not classified as antibiotics because they are synthesized chemically and not derived from biological sources. Their bacteriostatic action is achieved by mimicking para-aminobenzoic acid (PABA), a substrate for folic acid synthesis, thus competitively inhibiting the enzyme responsible for converting PABA to folic acid . Despite their bacteriostatic nature, at high concentrations in urine, sulfonamides can exhibit bactericidal properties .

One primary challenge with sulfonamides is their general poor solubility in water, which can lead to issues such as crystalluria, wherein crystals form in the urine, potentially causing kidney damage . To mitigate such issues, sodium salts of sulfonamides, which are more soluble, are often used. Moreover, their solubility in different solvents is variable, which influences formulations suitable for therapeutic administration .

Sulfonamides are well-absorbed in the gastrointestinal tract, leading to rapid attainment of therapeutic levels in the blood and tissues, which necessitates careful dosing to avoid toxicity . They are predominantly excreted by the kidneys, both as metabolites and unchanged drug, implying that renal function significantly impacts dosing considerations . Adjustments are often needed in patients with renal impairment to avoid drug accumulation and potential adverse effects like crystalluria .

To identify functional groups in sulfonamides, several analytical techniques are recommended, including colorimetric and precipitation reactions with specific reagents. Tests such as the Diazo reaction help detect aromatic amines, generating distinct color changes indicative of particular functional groups . Additionally, reactions with methylene oxide, diazo compounds, and various acid-bases establish the presence of these groups based on colorimetric response and crystal formation analyzed under a microscope . These tests rely on chemical interaction with the sulfonamide groups, producing observable changes that confirm the presence of specific functional groups .

Understanding the physical properties of a sample is crucial in conventional drug analysis because these properties, such as color, odor, boiling point, and solubility, can provide essential clues for identifying the chemical nature of a drug when sophisticated instruments are not accessible . This allows the analysis to be conducted in various locations using basic equipment and enhances the speed and accuracy of qualitative analysis .

Sulfonamides act as antibacterial agents primarily through a bacteriostatic mechanism, inhibiting the synthesis of folic acid in bacteria. This inhibition occurs because sulfonamides block the enzyme dihydropteroate synthase, which is crucial for folate synthesis, thereby preventing the bacteria from replicating and growing . They have a broad spectrum of activity but are not effective against all bacteria, and their usage has declined due to microbial resistance .

Sulfonamides are rapidly absorbed in the gastrointestinal tract with 70-100% bioavailability and then distributed widely across body tissues . They bind variably to plasma proteins and penetrate bodily fluids, including spinal fluid, facilitating their action against systemic infections . They undergo hepatic metabolism primarily through acetylation and oxidation, where acetylation can lead to inactive forms, and oxidation metabolites can cause hypersensitivity reactions or crystal formation if poorly soluble .

To confirm the presence of hydrogen and carbon in organic compounds, experimental procedures typically involve chemically reacting the organic sample with specific reagents and observing resultant products. For hydrogen, magnesium strips are reacted with hydrochloric acid producing a 'pop' sound, indicating hydrogen gas release . For carbon, a compound is reacted with dry copper oxide, and resulting carbon dioxide is passed through calcium hydroxide, causing it to turn cloudy if carbon is present, corroborating the presence of carbon atoms in the compound .

The chemical structure of sulfonamides, especially the presence and positioning of functional groups like the sulfonamide and amine moieties, significantly dictates their pharmacological behavior and side effect profile. Substituted groups influence solubility, binding affinity to bacterial enzymes, and interaction with human proteins . For instance, para-aminobenzoic aromatic derivatives are more prone to cause hypersensitivity reactions due to structural similarities with natural substrates . Understanding these relationships allows for optimizing drug formulations with reduced adverse effects and enhanced activity .

Anda mungkin juga menyukai