STUNTING
A. Definisi Balita pendek (Stunting)
Balita pendek (stunting) merupakan keadaan tubuh yang pendek dan
sangat pendek hingga melampaui defisit -2 SD dibawah median panjang
atau tinggi badan. Stunting dapat di diagnosis melalui indeks antropometri
tinggi badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang
dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi
jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai. Stunting merupakan
pertumbuhan linear yang gagal untuk mencapai potensi genetik sebagai
akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit infeksi (ACC/SCN, 2000).
Stunting adalah masalah gizi utama yang akan berdampak pada
kehidupan sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Ada bukti jelas bahwa
individu yang stunting memiliki tingkat kematian lebih tinggi dari berbagai
penyebab dan terjadinya peningkatan penyakit. Stunting akan
mempengaruhi kinerja pekerjaan fisik dan fungsi mental dan intelektual
akan terganggu (Mann dan Truswell, 2002). Hal ini juga didukung oleh
Jackson dan Calder (2004) yang menyatakan bahwa stunting berhubungan
1
dengan gangguan fungsi kekebalan dan meningkatkan risiko
kematian. Di Indonesia, diperkirakan 7,8 juta anak mengalami stunting, data
ini berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh UNICEF dan memposisikan
Indonesia masuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah anak yang
mengalami stunting tinggi (UNICEF, 2007). Hasil Riskesdas 2010, secara
nasional prevalensi kependekan pada anak umur 2-5 tahun di Indonesia
adalah 35,6 % yang terdiri dari 15,1 % sangat pendek dan 20 % pendek.
B. Tanda dan gejala stunting
1. Berat badan dan panjang badan lahir bisa normal, atau BBLR (berat
bayi lahir rendah) pada keterlambatan tumbuh intra uterine, umumnya
tumbuh kelenjarnya tidak sempurna.
2. Pertumbuhan melambat, batas bawah kecepatan tumbuh adalah
5cm/tahun desimal.
3. Pada kecepatan tumbuh tinggi badan < 4cm/ tahun kemungkinan ada
kelainan hormonal.
4. Umur tulang (bone age) bisa normal atau terlambat untuk umurnya.
5. Pertumbuhan tanda tanda pubertas terlambat.
C. Patofisiologi stunting
Terjadinya stunting pada balita seringkali tidak disadari, dan setelah
dua tahun baru terlihat ternyata balita tersebut pendek Masalah gizi yang
kronis pada balita disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu
2
yang cukup lama akibat orang tua/keluarga tidak tahu atau belum sadar
untuk memberikan makanan yang sesuai dengan kebutuhan gizi
anaknya. Riskesdas 2010 menemukan bahwa ada 21,5% balita usia 2-4
tahun yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 16%
yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal. Dan bila ini
berlangsung dalam waktu lama, maka akan mengganggu pertumbuhan berat
dan tinggi badan.
Pada ibu hamil juga terdapat 44,4% yang mengonsumsi energi di
bawah kebutuhan minimal dan 49,5% wanita hamil yang mengonsumsi
protein di bawah kebutuhan minimal yang berdampak pada terhambatnya
pertumbuhan janin yang dikandungnya. Selain asupan yang kurang,
seringnya anak sakit juga menjadi penyebab terjadinya gangguan
pertumbuhan. Sanitasi lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak
melalui peningkatan kerawanan anak terhadap penyakit infeksi. Anak yang
sering sakit akibat rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan kronis dan berdampak anak menjadi
pendek.
Dari hasil Riskesdas, 2010 lebih dari setengah (54,9%) masyarakat
kita memiliki akses sumber air minum tidak terlindung. Hanya 55,5%
masyarakat yang terakses dengan sanitasi, di perkotaan 71,4% dan pedesaan
38,5%. Penanganan sampah di masyarakat 52% dibakar dan penggunaan
bahan bakar arang dan kayu bakar 40,0%. Selain itu juga ternyata Dua dari
3 perokok kita (76,7%) merokok di rumah dan dampak dari semua ini
berpotensi menyebabkan penyakit diare dan gangguan pernapasan pada
balita.
D. Penyebab Stunting
Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak merupakan
suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan
sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya
stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun
pertama kehidupan.
3
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab
tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan
perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin
mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir
dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan
disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi
yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta mengurangi
nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan
ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang
akhirnya berpeluang terjadinya stunted (Allen and Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor
saja seperti yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak
faktor, dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama
lainnnya. Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai
berikut:
1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat
gizi dalam makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin,
dan air)
2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR)
3. Riwayat penyakit.
E. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Stunting
Beberapa faktor yang terkait dengan kejadian stunted antara lain
kekurangan energi dan protein, sering mengalami penyakit kronis, praktek
pemberian makan yang tidak sesuai dan faktor kemiskinan. Prevalensi
stunted meningkat dengan bertambahnya usia, peningkatan terjadi dalam
4
dua tahun pertama kehidupan, proses pertumbuhan anak masa lalu
mencerminkan standar gizi dan kesehatan.
Menurut laporan UNICEF (1998) beberapa fakta terkait stunted dan
pengaruhnya antara lain sebagai berikut :
1. Anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu sebelum usia
enam bulan, akan mengalami stunted lebih berat menjelang usia dua
tahun. Stunted yang parah pada anak-anak akan terjadi deficit jangka
panjang dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak mampu
untuk belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak
dengan tinggi badan normal. Anak-anak dengan stunted cenderung
lebih lama masuk sekolah dan lebih sering absen dari sekolah
dibandingkan anak-anak dengan status gizi baik. Hal ini memberikan
konsekuensi terhadap kesuksesan anak dalam kehidupannya dimasa
yang akan datang.
2. Stunted akan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembanangan
anak. Faktor dasar yang menyebabkan stunted dapat mengganggu
pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Penyebab dari stunted
adalah bayi berat lahir rendah, ASI yang tidak memadai, makanan
tambahan yang tidak sesuai, diare berulang, dan infeksi pernapasan.
Berdasarkan penelitian sebagian besar anak-anak dengan stunted
mengkonsumsi makanan yang berada di bawah ketentuan
rekomendasi kadar gizi, berasal dari keluarga miskin dengan jumlah
keluarga banyak, bertempat tinggal di wilayah pinggiran kota dan
komunitas pedesaan.
3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunted dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang kurang.
Anak stunted pada usia lima tahun cenderung menetapsepanjang
hidup, kegagalan pertumbuhan anak usia dini berlanjut pada masa
remaja dan kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunted dan
mempengaruhi secara langsung pada kesehatan dan produktivitas,
sehingga meningkatkan peluang melahirkan anak dengan BBLR.
5
Stunted terutama berbahaya pada perempuan, karena lebih cenderung
menghambat dalam proses pertumbuhan dan berisiko lebih besar
meninggal saat melahirkan.
F. Penilaian Stunting secara Antropometri
Untuk menentukan stunted pada anak dilakukan dengan cara
pengukuran. Pengukuran tinggi badan menurut umur dilakukan pada
anak usia di atas 2 tahun. Antropometri merupakan ukuran dari tubuh,
sedangkan antropometri gizi adalah jenis pengukuran dari beberapa
bentuk tubuh dan komposisi tubuh menurut umur dan tingkatan gizi,
yang digunakan untuk mengetahui ketidakseimbangan protein dan
energi. Antropometri dilakukan untuk pengukuran pertumbuhan tinggi
badan dan berat badan (Gibson, 2005).
1. Standar digunakan untuk standarisasi pengukuran berdasarkan
rekomendasi NCHS dan WHO. Standarisasi pengukuran ini
membandingkan pengukuran anak dengan median, dan standar
deviasi atau Z-score untuk usia dan jenis kelamin yang sama pada
anak- anak. Z-score adalah unit standar deviasi untuk mengetahui
perbedaan antara nilai individu dan nilai tengah (median) populasi
referent untuk usia/tinggi yang sama, dibagi dengan standar deviasi
dari nilai populasi rujukan. Beberapa keuntungan penggunaan Z-
score antara lain untuk mengiidentifikasi nilai yang tepat dalam
distribusi perbedaan indeks dan perbedaan usia, juga memberikan
manfaat untuk menarik kesimpulan secara statistik dari pengukuran
antropometri.
2. Indikator antropometrik seperti tinggi badan menurut umur (stunted)
adalah penting dalam mengevaluasi kesehatan dan status gizi anak-
anak pada wilayah dengan banyak masalah gizi buruk. Dalam
menentukan klasifikasi gizi kurang dengan stunted sesuai dengan
”Cut off point”, dengan penilaian Z-score, dan pengukuran pada
anak balita berdasarkan tinggi badan menurut Umur (TB/U) Standar
baku WHO-NCHS berikut (Sumber WHO 2006)
6
G. . Dampak Stunting
Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga
prestasi belajar menjadi rendah dan tidak dapat melanjutkan sekolah. Bila
mencari pekerjaan, peluang gagal tes wawancara pekerjaan menjadi besar
dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang berakibat penghasilan rendah
(economic productivity hypothesis) dan tidak dapat mencukupi kebutuhan
pangan. Karena itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya
pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas
dan prestasinya kelak setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara.
Selain itu dari aspek estetika, seseorang yang tumbuh proporsional akan
kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.
Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko
meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan
motorik yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen &
Gillespie, 2001). Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-
masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan sulit
diperbaiki. Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka
waktu panjang, yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi mikro.
H. Cara Mencegah Stunting
1. Mencegah Stunting pada Balita
Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan
menangani masalah gizi di masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita
masih harus bekerja keras untuk menurunkan prevalensi balita pendek
sebesar 2,9% agar target MD’s tahun 2014 tercapai yang berdampak pada
turunnya prevalensi gizi kurang pada balita kita.
7
Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan
bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif kurang
sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi gangguan
pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar
pertumbuhan tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan
anak usia sekolah sampai remaja relatif kecil kemungkinannya. Maka
peluang besar untuk mencegah stunting dilakukan sedini mungkin.
dengan mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja putri,
wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu,
menangani balita yang dengan tinggi dan berat badan rendah yang
beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang telah stunting agar
tidak semakin berat.
Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam
kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu
hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan makanan yang cukup
gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet Fe), dan terpantau
kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI saja
sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan
pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas
selain mendapat makanan cukup gizi, juga diberi suplementasi zat gizi
berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis
seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan
balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di
posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini
terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan
terjadinya balita stunting.
Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan
dan penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap sumber air
terlindung, serta pemukiman yang layak. Juga meningkatkan akses keluarga
terhadap daya beli pangan dan biaya berobat bila sakit melalui penyediaan
lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.
8
Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada
pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi
keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang baik.
Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan penyediaan informasi
tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan dilaksanakan
oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah
terjadinya balita stunting.
I. Penanggulangan dan pencegahan Stunting pada Bayi
1. Penanggulangan stunting pada pertumbuhan bayi
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari
pertama kehidupan, yaitu:
a. Pada ibu hamil
Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik
dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang
baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah
mengalami KurangEnergiKronis (KEK), maka perlu diberikan makanan
tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat
tablet tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu
harus tetap dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.
b. Pada saat bayi lahir
Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi
lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia
6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif).
c. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2
tahun atau lebih. Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, taburia,
imunisasi dasar lengkap.
9
2. Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi
a. Kebutuhan gizi masa hamil
Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan
gizinya dipergunakan untuk kegiatan rutin dalam proses metabolisme
tubuh, aktivitas fisik, serta menjaga keseimbangan segala proses dalam
tubuh. Di samping proses yang rutin juga diperlukan energi dan gizi
tambahan untuk pembentukan jaringan baru, yaitu janin, plasenta, uterus
serta kelenjar mamae. Ibu hamil dianjurkan makan secukupnya saja,
bervariasi sehingga kebutuhan akan aneka macam zat gizi bisa terpenuhi.
Makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah makanan yang
mengandung zat pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu
juga perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses
pertumbuhan itu.
b. Kebutuhan Gizi Ibu saat Menyusui
Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih besar
dibanding dengan ibu hamil, akan tetapi kualitasnya tetap sama. Pada ibu
menyusui diharapkan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berenergi
tinggi, seperti diisarankan untuk minum susu sapi, yang bermanfaat untuk
mencegah kerusakan gigi serta tulang. Susu untuk memenuhi kebutuhan
kalsium dan flour dalam ASI. Jika kekurangan unsur ini maka terjadi
pembongkaran dari jaringan (deposit) dalam tubuh tadi, akibatnya ibu
akan mengalami kerusakan gigi. Kadar air dalam ASI sekitr 88 gr %.
Maka ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum sebanyak 2–
2,5 liter (8-10 gelas) air sehari, di samping bisa juga ditambah dengan
minum air buah.
1) Kebutuhan Gizi Bayi 0 – 12 bulan
Pada usia 0 – 6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu Ibu
(ASI). ASI adalah makanan terbaik bagi bayi mulai dari lahir sampai
kurang lebih umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya dilakukan sesegara
mungkin setelah melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi disusui
selama minimal 20 menit pada masing-masing payudara hingga
10
payudara benar-benar kosong. Apabila hal ini dilakukan tanpa
membatasi waktu dan frekuensi menyusui,maka payudara akan
memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan hingga 1,5 – 2 liter
perhari.
2) Kebutuhan Gizi Anak 1 – 2 tahun
Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat
tetapi perkembangan motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi
lingkungan sekitar dengan cara berjalan kesana kemari, lompat, lari
dan sebagainya. Namun pada usia ini anak juga mulai sering
mengalami gangguan kesehatan dan rentan terhadap penyakit infeks
seperti ISPA dan diare sehingga anak butuh zat gizi tinggi dan gizi
seimbang agar tumbuh kembangnya optimal. Pada usia ini ASI tetap
diberikan. Pada masa ini berikan juga makanan keluarga secara
bertahap sesuai kemampuan anak. Variasi makanan harus
diperhatikan. Makanan yang diberikan tidak menggunakan penyedap,
bumbu yang tajam, zat pengawet dan pewarna. dari asi karena saat ini
hanya asi yang terbaik untuk buah hati anda tanpa efek samping.
J. Penatalaksaan
Pengobatan pada stunting antara lain :
1. Kalsium
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi,
pembekuan darah dan kontraksi otot. Bahan makanan sumber
kalsium antara lain : ikan teri kering, belut, susu, keju, kacang-
kacangan.
2. Yodium
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon
tiroid mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan
11
tubuh. Yodium juga penting untuk mencegah gondok dan
kekerdilan. Bahan makanan sumber yodium : ikan laut, udang, dan
kerang.
3. Zink
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan
luka, fungsi kekebalan dan pengembangan fungsi reproduksi laki-
laki. Bahan makanan sumber zink : hati, kerang, telur dan kacang-
kacangan.
4. Zat Besi
Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh,
pertumbuhan otak, dan metabolisme energi. Sumber zat besi antara
lain: hati, telur, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-
buahan.
5. Asam Folat
Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan
pertumbuhan sel, memproduksi sel darah merah dan mencegah
anemia. Sumber asam folat antara lain : bayam, lobak, kacang-
kacangan, serealia dan sayur-sayuran.
K. Pentingnya Pemberian ASI (Air Susu Ibu) Terhadap Gizi Bayi-Balita
Air Susu Ibu merupakan sumber gizi yang paling sempurna, baik
kualitas maupun kuantitasnya dengan komposisi yang seimbang dan
disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI bukan sekedar sebagai
makanan melainkan juga sebagai suatu cairan yang terdiri dari sel-sel yang
hidup (seperti darah). ASI mengandung sel darah putih, antibodi, hormon,
faktor-faktor pertumbuhan, enzim, serta zat yang dapat membunuh bakteri dan
virus. Menggunakan tata laksana menyusui yang benar, ASI sebagai makanan
tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh bayi normal sampai usia 6
bulan (Roesli, 2005).
12
ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan tanpa makanan tambahan
sekurang-kurangnya sampai usia 4 bulan dan jika mungkin sampai usia 6
bulan. Pemberian ASI eksklusif sejak lahir pada anak akan mempengaruhi
masukan zat gizi anak sehingga pertumbuhan anak juga akan berpengaruh.
Dengan pemberian MP-ASI (Makanan Pengganti-ASI) dini maka konsumsi
energi dan zat gizi dari ASI akan menurun yang berdampak pada kegagalan
pertumbuhan bayi dan anak (Fikawati et al., 2015). Status gizi balita
merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orangtua. Perlunya
perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa
kurang gizi yang terjadi pada usia emas ini bersifat irreversible (tidak dapat
pulih) (Marimbi, 2010).
L. Status Perkembangan Gizi Bayi-Balita Terkait Pemberian ASI di
Indonesia
Gizi merupakan suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi
secaranormal melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan,
metabolismedan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan serta menghasilkan
energi, untukmempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari
organ-organ (Proverawati A, 2009).
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan
tingkatkesehatan antara pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Tingkat
keadaangizi normal tercapai bila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Salah
satu upayayang ditempuh untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
yaitu denganpeningkatan status gizi masyarakat. Penilaian status gizi dapat
dilakukan secaralangsung dan tidak langsung, salah satunya pengukuran
antropometri (Budiyanto,2002).
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan
danpenggunaan zat-zat gizi. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan
salahsatu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi
yang baikbagi seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga
13
terhadapkemampuan dalam proses pemulihan. Status gizi masyarakat dapat
diketahuimelalui penilaian konsumsi pangannya berdasarkan data kuantitatif
maupun kualitatif (Supariasa, 2001).
Status gizi erat kaitannya dengan pertumbuhan sehingga untuk
mengetahui pertumbuhan bayi, perlu memperhatikan status gizinya. Menurut
pendapat Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K),
status gizi Indonesia saat ini lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan
meningkatnya cakupan ASI Eksklusif dan menurunnya angka Balita pendek
(stunting) di Indonesia.
Pemberian ASI eksklusif untuk bayi yang berusia kurang dari 6 bulan
secara global dilaporkan kurang dari 40%. Secara nasional cakupan ASI untuk
bayi sampai umur 6 bulan mengalami fluktuasi, hasil Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan cakupan ASI eksklusif bayi 0-6
bulan pada tahun 2002 sebesar 40%, tahun 2007 sebesar 32%, dan tahun 2012
sebesar 42% (Roesli, 2005; Depkes, 2014).
Namun, sekarang dunia kini mengakui bahwa Lancet Breastfeeding
Series 2016 menyebutkan ASI Eksklusif kita meningkat dari sebelumnya 38%
(Riskesdas, 2013) naik menjadi 65%.
Sementara itu, keberhasilan lainnya adalah Indonesia berhasil
menurunkan angka stunting yang sebelumnya mencapai 37,2% (Riskesdas,
2013) menjadi 29,0% berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di 496
Kabupaten/Kota dengan melibatkan 165.000 balita sebagai sampelnya. Hasil
ini diperkuat juga dengan data UNICEF yang melakukan intervensi selama tiga
tahun sejak 2011-2014 di tiga Kabupaten di Indonesia (Sikka, Jayawijaya,
Klaten) dan berhasil menurunkan angka stunting sebesar 6%.
Perlu diketahui, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat
pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Anak dengan
stunting memiliki kelemahan dan berkorelasi terhadap : IQ yang rendah, tinggi
14
badan dan berat badan tidak sesuai grafik perkembangan, serta rentan terhadap
penyakit. Oleh karena itu, masyarakat utamanya para remaja harus mengerti
dan memahami bagaimana merencanakan keluarga, utamanya mengenai
nutrisi. Bagaimana kesiapannya untuk menikah, hamil dan memiliki anak, serta
bagaimana agar dapat menjaga kecukupan nutrisi anak tersebut dan dirinya
sendiri.
M. Upaya Pemerintah Dalam Peningkatan Gizi Bayi-Balita
Upaya perbaikan gizi sebaiknya dilakukan melalui pendekatan
continuum of care dengan fokus yang diutamakan adalah 1000 hari pertama
kehidupan, yaitu mulai dari masa kehamilan sampai anak berumur 2
[Link] telah mengupayakan penanggulangan masalah gizi dengan
mengembangkan suatu program yaitu usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK).
Kegiatan utama UPGK adalah penyuluhan gizi melalui pemberdayaan keluarga
dan masyarakat .
Ketiga masalah tersebut berkaitan dengan tingkat pendidikan,
pengetahuan, dan keterampilan keluarga. Pokok permasalahan yang
menyebabkan kurang gizi pada balita adalah kurangnya pemberdayaan wanita
dalam keluarga dan kurangnya pemanfaatana sumberdaya masyarakat
berkaitan dengan faktor penyebab langsung dan tidak langsung (Azwar A,
2004). Kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan kesehatan tentang
KADARZI akan meningkatkan pengetahuan dan peranserta ibu tentang
perilaku apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan gizi balitanya. Ibu
akan dapat meningkatkan gizi balita dan keluarganya dengan berperilaku sadar
gizi, antara lain; memantau berat badan balita secara teratur setiap bulan ke
15
Posyandu, mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam, hanya
mengkonsumsi garam beryodium, memberikan hanya Asi saja kepada bayi
sampai usia 6 bulan, serta mendapatkan dan memberikan makanan tambahan
bagi balitanya.
Kegiatan penyuluhan ini juga dilakukan untuk membantu mengatasi
masalah gizi makro. Strategi yang dilakukan untuk mengatasi masalah gizi
makro adalah melalui pemberdayaan keluarga di bidang kesehatan dan gizi,
subsidi loangsung berupa dana untuk pembelian makanan tambahan dan
penyuluhan pada ibu balita gizi buruk dan ibu hamil yang mengalami kurang
gizi kronis (Depkes RI, 2006).
Disamping upaya tersebut diatas, Pemerintah juga melakukan
sosialisasi perbaikan pola asuh pemeliharaan balita, seperti promosi pemberian
ASI secara eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan dan rujukan dini kasus gizi
kurang. Karena sampai saat ini perilaku ibu dalam menyusui secara eksklusif
masih rendah yaitu baru mencapai 39% dari seluruh ibu yang menyusui bayi 0
– 6 bulan. Hal tersebut merupakan penyebab tak langsung dari masalah gizi
pada anak balita.
Menurut WHO, cara pemulihan gizi buruk yang paling ideal adalah
dengan rawat inap di rumah sakit, tetapi pada kenyataannya hanya sedikit anak
dengan gizi buruk yang di rawat di rumah sakit, karena berbagai alasan. Salah
satu contohnya dari keluarga yang tidak mampu, karena rawat inap
memerlukan biaya yang besar dan dapat mengganggu sosial ekonomi sehari-
hari. Alternatif untuk memecahkan masalah tersebutdengan melakukan
16
penatalaksanaan balita gizi buruk di posyandu dengan koordinasi penuh dari
puskesmas. Oleh karena itu Pemerintah membentuk Tim Asuhan Gizi yang
terdiri dari dokter, perawat, bidan, ahli gizi, serta dibantu oleh tenaga kesehatan
yang lain. Diharapkan dapat memberikan penanganan yang cepat dantepat pada
kasus gizi buruk baik di tingkat puskesmas maupun di rumah sakit, untuk
membantu pemulihan kasus gizi buruk pada anak balita.
Bidan sebagai tenaga kesehatan harus selalu memberikan konseling dan
penyuluhan tentang pentingnya pemberian gizi yang tepat sesuai dengan usia
dan perkembangannya. Konseling tentang gizi balita bisa dilakukan ketika
posyandu diadakan, ketika ibu balita berkunjung ke bidan desa untuk
menggunakan KB. Disamping itu hendaknya tenaga kesehatan selalu
memberikan penyadaran tentang pentingnya pemberian nutrisi tepat untuk
balitanya. Hal itu bisa dilakukan melalui penyuluhan rutin, penyebaran leaflet
dan pemasangan spanduk yang berhubungan dengan pemenuhan asupan
nutrisi. Kegiatan ini diupayakan dilakukan secara berkala dan terus menerus
agar ibu termotivasi untuk memberikan makanan tambahan sesuai dengan
kebutuhan dan jadwal pemberian makanan .
N. Peran perawat pada anak stunting
1. Pemberi perawatan
Merupakan peran utama perawat yaitu memberikan pelayanan
keperawatan kepada individu, keluarga,kelompok atau masyarakat
sesuai dengan masalah yang terjadi mulai dari masalah yang bersifat
sederhana sampai yang kompleks. Contoh peran perawat sebagai
17
pemberi perawatan adalah peran ketika perawat memenuhi kebutuhan
dasar seperti memberi makan, membantu pasien melakukan ambulasi
dini.
2. Sebagai Advocat keluarga
Sebagai client advocate, perawat bertanggung jawab untuk
memebantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi
dari berbagai pemberi pelayanan dan informasi yang diperlukan untuk
mengambil persetujuan (inform concent) atas tindakan keperawatan
yang diberikan kepadanya. Peran perawat sebagai advocate keluarga
dapat ditunjukkan dengan memberikan penjelasan tentang prosedur
tindakan pengukuran pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan
pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka panjang,
akibat dari gizi yang tidak memadai.
3. Pendidik
Perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran
ilmu keperawatan kepada klien, tenaga keperawatan maupun tenaga
kesehatan lainya. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam
keperawatan adalah aspek pendidikan, karena perubahan tingkah laku
merupakan salah satu sasaran dari pelayanan keperawatan. Perawat
harus bisa berperan sebagai pendidik bagi individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat. Memberi penyuluhan kesehatan tentang
penanganan stunting (bayi pendek) merupakan salah satu contoh peran
perawat sebagai pendidik ( health educator )
18
4. Konseling
Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola
interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya. Adanya perubahan
pola interaksi ini merupakan dasar dalam perencanaan tindakan
keperawatan. Konseling diberikan kepada individu, keluarga dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman masa
lalu. Pemecahan masalah difokuskan pada; masalah keperawatan,
mengubah perilaku hidup sehat (perubahan pola interaksi).
19
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, Uliyah. (2015). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba
Medika.
Rotua, M & Rohanta S. 2015 . Manajemen Sistem Penyelenggaraan Makanan
Institusi Dasar. Jakarta : EGC.
Adi, 2016. Ilmu Gizi Teori dan Aplikasi. Jakarta : EGC
Irianto. 2017. Pedoman Gizi lengkap keluarga dan olahragawan, edisi revisi.
Yogjakarta: Andi
Rotua M & Rohanta S. 2015. Manajemen sistem penyelenggaraan makanan
institusi dasar. Jakarta: EGC
20