TUGAS MATA KULIAH
KEPERAWATAN JIWA 2
“RESIKO BUNUH DIRI”
Disusun Oleh :
Kelompok 2
Meri Ardianti (1710142010016)
Mesi Kartika Sari (1710142010017)
Mulya Ulfa Kaswati (1710142010018)
Munzir Mubarak (1710142010019)
Nadia Hanifa (1710142010020)
Nesti Kurnia (1710142010021)
Noveldo Eko Putra (1710142010023)
Oktami Sridika Ayu Z. (1710142010024)
Ovilia Zulita (1710142010025)
Rahmat Besly Permata (1710142010026)
Rahmi Adiati Anggina (1710142010027)
Rahmi Hasanah (1710142010028)
Rakes (1710142010029)
Dosen Pembimbing : Ns. Silvia Intan Suri, [Link]
Prodi S1 Keperawatan
STIKES YARSI SUMBAR BUKITTINGGI
T.A 2019/2020
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji serta syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan kita begitu banyak Nikmat dan Rahmat-Nya, sehingga
dengan nikmatnya itu penulis bisa menyelesaikan tugas makalah ini yang
berjudul “RESIKO BUNUH DIRI”
Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda Rasullulah
SAW, yang telah menuntun kita pada jalan kebenaran dan semoga kita selalu
menjadi pengikutnya hingga akhir zaman, Amin.
Makalah ini berisikan tentang materi Resiko Bunuh Diri. Kami berharap
makalah ini dapat berguna untuk menambah pemahaman bagi pemakalah
ataupun pembacanya. Penulis menyadari bahwa makalah yang kami buat ini
masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Akhir harapan dari penulis
agar makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya
dan penulis khususnya.
Bukittinggi, 9 Januari 2020
Penulis
i
DAFTAR ISI
Sampul
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan Masalah 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep RBD 2
2.2. Asuhan Keperawatan RBD 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 27
3.2 Saran 27
DAFTAR PUSTAKA
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam
nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku
destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas
bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai
sesuatu yang diinginkan. (Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009.
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian (Gail w. Stuart, 2007. Dikutip Dez, Delicious, 2009).
Bagi individu yang mengalami gangguan emosi hebat, bunuh diri dapat
mengganti kemarahan atau kekerasan yang tidak dapat direpresi. Orang ini
cenderung untuk bertindak kasar dan bunuh diri dapat merupakan
penyelesaian mengenai pertentangan emosi dan keinginan untuk membunuh.
(Robert Hendin).
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana Konsep teori resiko bunuh diri?
b. Bagaimana Asuhan keperawatan resiko bunuh diri?
1.3 Tujuan Masalah
a. Untuk mengetahui konsep teori resiko bunuh diri
b. Untuk mengetahui asuhan keperawatan resiko bunuh diri
1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep RBD
A. Defenisi RBD
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu
untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008).
Menciderai diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan
dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan
terakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain,
2008).
Perilaku destruktif diri yaitu setiap aktivitas yang tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian. Perilaku desttruktif diri langsung mencakup
aktivitas bunuh diri. Niatnya adalah kematian, dan individu menyadari hal ini
sebagai hasil yang diinginkan. Perilaku destruktif diri tak langsung termasuk
tiap aktivitas kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada
kematian. Orang tersebut tidak menyadari tentang potensial terjadi pada
kematian akibat perilakunya dan biasanya menyangkal apabila dikonfrontasi
(Stuart & Sundeen, 2006). Menurut Shives (2008) mengemukakan rentang
harapan putus harapan merupakan rentang adaptif maladaptive
2
Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh normanorma
sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku, sedangkan respon
maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam menyelesaikan
masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya
setempat. Respon maladaptif antara lain :
1. Ketidak berdayaan, keputusasaan, apatis
Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan
masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang
bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan
koping yang baru serta yakin tidak ada yang membantu.
2. Kehilangan, ragu-ragu
Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan
merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya :
kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu
akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang semuanya dapat
berakhir dengan bunuh diri.
a. Depresi
Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang
ditandaidengan kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri
terjadi padasaat individu ke luar dari keadaan depresi berat.
b. Bunuh diri
Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri
untukmengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping
terakhirindividu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Laraia,
2005).
Perilaku bunuh diri biasanya dibagi ke dalam kategori :
Ide bunuh diri
Pikiran membunuh diri sendiri, baik yang dilaporkan kepada diri sendiri
atau kepada orang lain. Ide bunuh diri bisa pasih (ketika hanya ada
3
pikiran untuk bunuh diri tanpa niat untuk bertindak atau aktif (ketika
ada rencana yang menyebabkan kematiannya).
Ide bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung
ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan: “Tolong jaga anak-anak
karena saya akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik
tanpa saya.”
Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri
hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan
bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa
bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak berdaya. Pasien juga
mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang
menggambarkan harga diri rendah
Ancaman bunuh diri
Adalah peringatan langsung atau tidak langsung, verbal atau non
verbal bahwa seseorang berencana mengakhiri hidupnya.
Peringatan ini mungkin halus : “apakah anda mengingikan saya jika
saya pergi?” “jaga keluarga baik-baik ya” “saya tidak lama lagi disini”
Isyarat non verbal : “memberikan harta yang berharga dan menulis
surat”
Percobaan bunuh diri
Adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri
kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh diri
dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau
menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
Perilaku bunuh diri/ bunuh diri yang berhasil
Kematian yang diakibatkan oleh diri sendiri berupa cidera, keracunan,
4
nafas tersumbat yang dibuktikan bahwa orang meninggal tersebut
berniat membunuh dirinya sendiri.
B. Jenis-jenis RBD
Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan
oleh kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan
individu itu seolah-olah tidak berkepribadian. Kegagalan integrasi
dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka tidak menikah
lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan
mereka yang menikah.
2. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung
untuk bunuh diri karena indentifikasi terlalu kuat dengan suatu
kelompok, ia merasa kelompok tersebut sangat mengharapkannya.
3. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara
individu dan masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan
norma-norma kelakuan yang biasa. Individu kehilangan pegangan dan
tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan kepuasan
padanya karena tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap
kebutuhan-kebutuhannya.
C. Etiologi RBD
1) Faktor Predisposisi
Menurut Stuart Gw & Laraia (2005), faktor predisposisi bunuh diri
antaralain :
5
a. Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan
bunuh diri, mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga
gangguan jiwa yang dapat membuat individu beresiko untuk bunuh
diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
b. Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya
resiko bunuh diri adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi.
c. Lingkungan psikososial
Seseorang yang baru mengalami kehilangan,
perpisahan/perceraian, kehilangan yang dini dan berkurangnya
dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan
dengan bunuh diri.
d. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan
faktor resiko penting untuk prilaku destruktif.
e. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan
depominersik menjadi media proses yang dapat menimbulkan
prilaku destrukif diri.
2) Faktor Presipitasi
Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah:
a. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan
hubunganinterpersonal/gagal melakukan hubungan yang berarti.
b. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
c. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan
hukumanpada diri sendiri.
d. Cara untuk mengakhiri keputusan.
6
D. Mekanisme Koping
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) terdapat sumber dan mekanisme
koping pada perilaku bunuh diri yaitu:
1. Sumber Koping
Pasien dengan penyakit kronik, nyeri, atau penyakit yang mengancam
kehidupan dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Sering kali orang
ini secara sadar memilih untuk bunuh diri. Kulaitas hidup menjadi isu
yang mengesampingkan kuantitas hidup. Dilema etik mungkin timbul
bagi perawat yang menyadari pilihan pasien untuk berperilaku merusak
diri. Tidak ada jawaban yang mudah mengenai bagaimana mengatasi
konflik ini. Perawat harus melakukannya sesuai dengan sistem
keyakinannya sendiri.
2. Mekanisme Koping
Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku
destruktif-diri tak langsung adalah :
a. Denial, mekanisme koping yang paling menonjol
b. Rasionalisme
c. Intelektualisasi
d. Regresi
Mekanisme pertahanan diri tidak seharusnya ditantang tanpa
memberikan cara koping alternatif. Mekanisme pertahanan ini
mungkin berada diantara individu dan bunuh diri. Perilaku bunuh diri
menunjukkan mendesaknya kegagalan mekanisme koping. Ancaman
bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan
pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi
merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif.
7
E. Tanda dan Gejala
Pikiran dan rencana bunuh diri
Keputusasaan
Ketidakberdayaan
Menyalahkan diri
Suasana hati tertekan
Kegelisaan
Ansietas berat-panik
Insomnia persisten
Kebersihan buruk
Halusinasi
F. Komplikasi
Komplikasi yang mungkin muncul pada klien dengan tentamen suicide
sangat tergantung pada jenis dan cara yang dilakukan klien untuk bunuh diri,
namun resiko paling besar dari klien dengan tentamen suicide adalah
berhasilnya klien dalam melakukan tindakan bunuh diri, serta jika gagal akan
meningkatkan kemungkingan klien untuk mengulangi perbuatan tentamen
suicide.
Pada klien dengan percobaan bunuh diri dengan cara meminum zat
kimia atau intoksikasi zat komplikasi yang mungkin muncul adalah diare,
pupil pi- poin, reaksi cahaya negatif , sesak nafas, sianosis, edema paru
.inkontenesia urine dan feces, kovulsi, koma, blokade jantung akhirnya
meninggal.
8
Pada klien dengan tentamen suicide yang menyebabkan asfiksia akan
menyebabkan syok yang diakibatkan karena penurunan perfusi di jaringan
terutama jaringan otak.
Pada klien dengan perdarahan akan mengalami syok hipovolemik yang
jika tidak dilakukan resusitasi cairan dan darah serta koreksi pada penyebab
hemoragik syok, kardiak perfusi biasanya gagal dan terjadi kegagalan
multiple organ.
G. Pohon Masalah
Perilaku Kekerasan (Resiko mencederai diri sendiri)
Rsiko Bunuh Diri
Gangguan interaksi sosial (Menarik Diri)
Gangguan Konsep Diri (Harga Diri
9
2.2. Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri
I. Pengkajian
1. Identitas Pasien:
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
tanggal MRS (masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, No
Rumah Sakit dan alamat klien.
2. Keluhan Utama:
Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah, dan perkembangan yang dicapai.
3. Faktor Predisposis
Beberapa faktor prediposisi perilaku bunuh diri meliputi :
a. Diagnosa Medis Gangguan Jiwa: Diagnosa medis gangguan jiwa
yang beresiko untuk bunuh diri yaitu gangguan afektif,
penyalahgunaan zat dan schizophrenia. Lebih dari 90% orang
dewasa mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri mengalami
gangguan jiwa.
b. Sifat Kepribadian: Sifat kepribadian yang meningkatkan resiko
bunuh diri yaitu suka bermusuhan, impulsif, kepribadian anti sosial
dan depresif.
c. Lingkungan Psikososial: Individu yang mengalami kehilangan
dengan proses berduka yang berkepanjangan akibat perpisahan
dan bercerai, kehilangan barang dan kehilangan dukungan sosial
merupakan faktor penting yang mempengaruhi individu untuk
melakukan tindakan bunuh diri.
d. Riwayat Keluarga: Keluarga yang pernah melakukan bunuh diri dan
konflik yang terjadi dalam keluarga merupakan faktor penting
untuk melakukan bunuh diri.
10
e. Menurunnya neurotransmitter serotonin, opiate dan dopamine dapt
menimbulkan perilaku destruktif-diri.
4. Faktor Predispitasi
Klien mengatakan hidupnya tak berguna lagi dan lebih baik mati saja
Masalah Keperawatan:
a. Resiko bunuh diri
b. Risiko perilaku kekerasan
c. Harga diri rendah
5. Aspek Fisik/Biologis
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernafasan, TB, BB)
dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.
6. Konsep Diri
a. Gambaran Diri: Klien biasanya merasa tidak ada yang ia sukai lagi
dari dirinya.
b. Identitas: Tanyakan pada klien apakah dia sudah, menikah atau
belom, kalau sudah menikah apakah sudah memiliki anakn
c. Peran Diri: Tanyakan pada klien apakah klien seorang kepala
keluarga, ibu/ ibu rumah tangga atau sebagai anak dari berapa
bersaudara
d. Ideal Diri: Klien menyatakan bahwa kalau nanti sudah
pulang/sembuh klien akan melakukan apa untuk hidupnya
selanjutnya, apakah lebih bersemangat atau membuat lembaran
baru.
e. Harga Diri:Tanyakan apakah Klien Agresif, bermusuhan, implisif,
11
depresi dan jarang berinteraksi dengan orang lain.
7. Hubungan Sosial
Tanyakan Menurut klien orang yang paling dekat dengannya siapa
,ataukah teman sekamar yg satu agama. Apakah Klien adalah orang
yang kurang perduli dengan lingkungannya atau sangat peduli dengan
lingkugannya, apakah klien sering diam, menyendiri, murung dan tak
bergairah ,apakah klien merupakan orang yg jarang berkomunikasi dan
slalu bermusuhan dengan teman yang lain, ataukah sangat sensitive.
8. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan: Tanyakan apakah pasien percayaakan adanya
Tuhan atau dia sering mempersalahkan Tuhan atas hal yang
menimpanya.
b. Kegiatan ibadah: Tanyakan apakah Klien sering,selalu atau jarang
beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
9. Status Mental
a. Penampilan:
pada penampilan fisik: Tidak rapi, mandi dan berpakaian harus di
suruh, rambut tidak pernah tersisir rapi dan sedikit bau, Perubahan
kehilangan fungsi, tak berdaya seperti tidak intrest, kurang
mendengarkan.
b. Pembicaraan:
Klien hanya mau bicara bila ditanya oleh perawat, jawaban yang
diberikan pendek, afek datar, lambat dengan suara yang pelan,
tanpa kontak mata dengan lawan bicara kadang tajam, terkadang
terjadi blocking.
c. Aktivitas Motorik:
12
Klien lebih banyak murung dan tak bergairah, serta malas
melakukan aktivitas
d. Interaksi selama wawancara:
Kontak mata kurang, afek datar, klien jarang memandang lawan
bicara saat berkomunikasi.
e. Memori
Klien kesulitan dalam berfikir rasional, penurunan kognitif.
10. Kebutuhan Persiapan Pulang
a. Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan lat
makan kembali.
b. Kemampuan BAB, BAK, menggunakan dan membersihkan WC
serta membersihkan dan merapikan pakaian.
c. Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi.
d. Istirahat tidur kilien, aktivitas didalam dan diluar rumah.
e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum
11. Stressor Pencetus
Bunuh diri dapat terjadi karena stres yang berlebihan yang dialami
individu. Faktor pencetus seringkali berupa peristiwa kehidupan yang
memalukan seperti masalah hubungan interpersonal, dipermalukan di
depan umum, kehilangan pekerjaan, ancaman penahanan dan dapat
juga pengaruh media yang menampilkan peristiwa bunuh diri.
12. Penilaian Stressor
Upaya bunuh diri tidak mungkin diprediksikan pada setiap tindakan.
Oleh karena itu, perawat harus mengkaji faktor resiko bunuh diri pada
pasien
13
13. Sumber Koping
Perlu dikaji adakah dukungan masyarakat terhadap klien dalam
mengatasi masalah individu dalam memecahkan masalah seringkali
membutuhkan bantuan orang lain.
14. Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang berhubungan dengan perilaku merusak diri
tak langsung adalah denial, rasionalisasi, intelektualisasi dan regresi.
Seseorang yang melakukan tindakan bunuh diri adalah indiviidu telah
gagal menggunakan mekanisme pertahanan diri sehingga bunuh diri
sebagai jalan keluar menyelesaikan masalah hidupnya
15. Intensitas Bunuh diri
Intensitas bunuh diri yang dikemukakan oleh Bailey dan Dreyer (1997,
dikutip oleh shivers, 1998,hal 475). Mengkaji intensitas bunuh diri yang
disebut SIRS (Suicidal Intertion Rating Scale). , intensitas bunuh diri
dengan skor 0-4 dijelaskan pada tabel
II. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku percobaan
bunuh diri:
Resiko bunuh diri.
14
III. Intervensi Keperawatan
SP 1 :
Identifikasi beratnya masalah resiko bunih diri : isyarat, ancaman,
percobaan (jika percobaan segera di rujuk)
Identifikasi benda-benda berbahaya dan mengamankannya
(lingkungan aman untuk pasien)
Latihan cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri : buat daftar
aspek positif diri sendiri, latihan afirmasi/berpikir aspek positif yang
dimiliki
Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif 5 kali/hari
SP 2 :
Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri, beri pujian. Kaji
ulang resiko bunuh diri
Latih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri: buat daftar
aspek positif keluarga dan lingkungan, latih berpikir aspek positif
keluarga dan lingkungan.
Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif tentang diri keluarga
dan lingkungan
SP 3 :
Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri, keluarga dan
lingkungan, beri pujian. Kaji ulang resiko bunuh diri
Diskusikan harapan dan masa depan
Diskusikan cara mencapai harapan dan masa depan
Latih cara-cara mencapai harapan dan masa depan secara bertahap
Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif tentang diri keluarga,
15
lingkungan dan tahapan kegiatan yang dipilih
SP 4 :
Evaluasi kegiatan berpikir positif tentang diri sendiri, keluarga,
lingkungan, serta kegiatan yang dipilih beri pujian.
Latih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan
Masukkan pada jadwal latihan berpikir positif tentang diri, keluarga
dan lingkungan, serta kegiatan yang dipilih untuk persiapan masa
depan
16
Strategi Pelaksanaan I
Resiko Bunuh Diri
A. Proses Keperawatan
Strategi Tindakan Perawatan
Masalah Utama: Resiko Bunuh Diri
Pertemuan : Ke 1
Tindakan keperawatan untuk pasien:
1. Tujuan umum : Klien dapat terhindar dari resiko bunuh diri
2. Tujuan khusus :
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien mendapat perlindungan dari lingkungannya
c. Klien dapat mengungkapkan perasaanya
B. Strategi komunikasi
Orientasi:
“Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya AA, panggil saya A, hari
ini saya akan berbincang-bincang dengan bapak.”
17
“Nama bapak siapa? Senangnya di panggil apa?”
“Bagaimana perasaan bapak saat ini?”
“Baiklah, kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan
bapak.”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana jika
10 menit?”
“Di mana enaknya kita duduk-duduk untuk berbincang-bincang, pak?
Bagaimana jika di ruang tamu?”
Kerja:
“Bagaimana perasaan B setelah bencana ini terjadi? Apakah dengan bencana ini B merasa paling
menderita di dunia ini? Apakah B kehilangan kepercayaan diri? Apakah B merasa tak berharga
atau bahkan lebih rendah daripada orang lain? Apakah B merasa bersalah atau mempersalahkan
diri sendiri? Apakah B sering mengalami kesulitan berkonsentrasi? Apakah B berniat untuk
menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau berharap bahwa B mati? Apakah B pernah mencoba
untuk bunuh diri? Apa sebabnya, bagaimana caranya? Apa yang B rasakan?” Jika pasien telah
menyampaikan ide bunuh dirinya, segera dilanjutkan dengan tindakan keperawatan untuk
melindungi pasien, misalnya dengan mengatakan: “Baiklah, tampaknya B membutuhkan
pertolongan segera karena ada keinginan untuk mengakhiri hidup”. ”Saya perlu memeriksa seluruh
isi kamar B ini untuk memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan B.”
”Nah B, Karena B tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup B,
maka saya tidak akan membiarkan B sendiri.”
”Apa yang B lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu muncul, maka
untuk mengatasinya B harus langsung minta bantuan kepada perawat di ruangan ini dan juga
keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi B jangan sendirian ya, katakan pada perawat,
keluarga atau teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan”
18
Terminasi:
”Bagaimana perasaan B sekarang setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin bunuh diri?”
”Coba B sebutkan lagi cara tersebut”
”Saya akan menemani B terus sampai keinginan bunuh diri hilang”
( jangan meninggalkan pasien )
“Baiklah B besok kita akan berbincang-bincang lagi tentang mengendalikan diri B untuk bunuh
diri,Apakah B bersedia?”
“Kira- kira waktunya kapan ya?Bagaimana kalau besok kita berjumpa jam 09.00 WIB”
“Kira – kira tempat yang cocok kita ngobrol dimana ya?Sampai jumpa besok
19
Strategi Pelaksanaan Il
Resiko Bunuh Diri
ORIENTASI
”Assalamu’alaikum B!, masih ingat dengan saya khan?Bagaimana perasaanB hari ini? O... jadi B
merasa tidak perlu lagi hidup di dunia ini. Apakah B ada perasaan ingin bunuh diri? Baiklah kalau
begitu, hari ini kita akan membahas tentang bagaimana cara mengatasi keinginan bunuh diri. Mau
berapa lama? Dimana?”Disini saja yah!
KERJA
“Baiklah, tampaknya B membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan untuk mengakhiri
hidup”. ”Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar B ini untuk memastikan tidak ada benda-benda
yang membahayakan B.”
”Nah B, karena B tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup
B, maka saya tidak akan membiarkan B sendiri.”
”Apa yang B lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul ? Kalau keinginan itu muncul,
maka untuk mengatasinya B harus langsung minta bantuan kepada perawat atau keluarga
dan teman yang sedang besuk. Jadi usahakan B jangan pernah sendirian ya..”.
TERMINASI
“Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa yang telah kita
bicarakan tadi? Bagus B. Bagimana Masih ada dorongan untuk bunuh diri? Kalau masih ada
perasaan / dorongan bunuh diri, tolong panggil segera saya atau perawat yang lain. Kalau sudah
tidak ada keinginan bunh diri saya akan ketemu B lagi, untuk besok kit akan bertemu lagi
membicarakan cara mencapai harapan masa depan B”
“Kira- kira waktunya kapan ya?Bagaimana kalau besok kita berjumpa jam 09.00 WIB”
“Kira – kira tempat yang cocok kita ngobrol dimana ya?Sampai jumpa besok
20
Strategi Pelaksanaan Ill
Resiko Bunuh Diri
ORIENTASI
“Assalamu’alaikum B! Bagaimana perasaan B saat ini? Masih adakah dorongan
mengakhiri kehidupan? Baik, sesuai janji kita kemarin B sekarang kita akan membahas tentang
harapan dan masa depan yang B miliki.”
KERJA
Apa saja dalam hidup B yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira yang sedih dan rugi kalau B
meninggal. Coba B ceritakan hal-hal yang baik dalam kehidupan B. Keadaan yang bagaimana
yang membuat B merasa puas? Bagus. Ternyata kehidupan B masih ada yang baik yang patut B
[Link] B sebutkan kegiatan apa yang masih dapat B lakukan selama ini”.Bagaimana kalau B
mencoba melakukan kegiatan tersebut, Mari kita latih.”
TERMINASI
“Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa-apa saja yang B
patut syukuri dalam hidup B? Ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan B jika terjadi
dorongan mengakhiri kehidupan (aff B. Tindakan keperawatan pada keluarga
irmasi).Bagus B. Coba B ingat-ingat lagi hal-hal lain yang masih B miliki dan perlu disyukuri! Besok
kita akan bertemu membahas tentang latihan untuk mencapai masa depan. Tempatnya dimana?
Jam berapa?Baiklah. Tapi kalau ada perasaan-perasaan yang tidak terkendali segera hubungi saya
ya!”
21
Strategi Pelaksanaan lV
Resiko Bunuh Diri
ORIENTASI
”Assalamu’alaikum, B. Bagaimana perasaannyai? Masihkah ada keinginan bunuh diri?
Apalagi hal-hal positif yang perlu disyukuri? Bagus! Sekarang kita akan berdiskusi tentang
Latihan mencarpai masa depan. Mau berapa lama? Di saja yah ?”
KERJA
« Coba ceritakan situasi yang membuat B ingin bunuh diri. Selain bunuh diri, apalagi kirakira
jalan keluarnya. Wow banyak juga yah. Nah coba kita diskusikan keuntungan dan
kerugian masing-masing cara tersebut. Mari kita pilih cara mengatasi masalah yang paling
menguntungkan! Menurut B cara yang mana? Ya, saya setuju. B bisa dicoba!”Mari kita buat
rencana kegiatan untuk masa depan.”
TERMINASI
Bagaimana perasaan B, setelah kita bercakap-cakap? Apa cara mengatasi masalah yang B
akan gunakan? Coba dalam satu hari ini, B merancang kegiatan B untuk mencapai masa
depan”Baiklah hari ini kita terakhir bertemu dan bias jadi kita akan bertemu lagi,jika ada yang bias
saya bantu B bias temui saya atau berbicara pada perawat lainnya”
22
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu
untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain, 2008).
Perilaku resiko bunuh diri biasanya masuk ke dalam kategori : ide bunuh
diri, ancaman bunuh diri, percobaan bunuh diri, perilaku bunuh diri yang
berhasil.
3.2. Saran
Hendaknya perawat memiliki pengetahuan yang cukup tentang ciri-ciri
pasien yang ingin mengakhiri hidupnya sehingga dapat mengantisipasi
terjadinya perilaku bunuh diri pasien. Hendaknya perawat melibatkan
keluarga dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
gangguan jiwa.
23
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
_DIRI
[Link]
EN_DENGAN_RESIKO_BUNUH_DIRI
[Link]
[Link]
DENGAN-RESIKO-BUNUH-DIRI-docx
30
31