BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pemeriksaan radiologi adalah cara-cara pemeriksaan yang menghasilkan
gambar bagian dalam tubuh manusia untuk tujuan diagnostik yang dinamakan
pencitraan diagnostik. Menurut Patel (2005:2), radiologi merupakan ilmu
kedokteran yang digunakan untuk melihat bagian tubuh manusia yang
menggunakan pancaran atau radiasi gelombang elektromagnetik maupun
gelombang mekanik. Modalitas pencitraan (modality) merupakan istilah dari alat-
alat yang digunakan dalam bidang radiologi untuk melakukan diagnosa terhadap
penyakit. Pemeriksaan radiologi memungkinan suatu penyakit terdeteksi pada
tahap awal sehingga akan meningkatkan keberhasilan pengobatan yang
dilakukan. Jenis pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan peralatan
pencitraan diagnostik yang perkembangannya sangat dipengaruhi oleh kemajuan
ilmu fisika, kimia, dan biologi serta teknologi elektronika, dan komputer. Dalam
pembangunan suatu fasilitas kesehatan, peralatan pencitraan diagnostik
merupakan investasi terbesar dari seluruh anggaran yang diperlukan
(Kartawiguna & Georgiana, 2011:1).
Tugas pokok radiologi adalah untuk menghasilkan gambar dan laporan
temuan pemeriksaan untuk keperluan diagnosis, yang bersama-sama dengan
teknik dan temuan diagnostik lainnya akan menjadi dasar tindakan perawatan
pasien. Meskipun radiologi merupakan komponen utama dari diagnosis, namun
radiologi tidak terbatas hanya untuk keperluan pencitraan diagnostik. Radiologi
juga berperan dalam terapi intervensi seperti biopsi, dan pengobatan lainnya,
seperti aplikasi pembuluh darah termasuk recanalization (menghilangkan
penyumbatan) atau lysis (pengurangan simptom suatu penyakit akut secara
bertahap (gradually) (Kartawiguna & Georgiana, 2011:3).
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1014/MENKES/SK/XI/2008 tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di
Sarana Pelayanan Kesehatan menyatakan bahwa, pelayanan radiologi sebagai
bagian yang terintegrasi dari pelayanan kesehatan secara menyeluruh
merupakan bagian dari amanat Undang–Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan. Bertolak dari hal tersebut serta makin meningkatnya kebutuhan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, maka pelayanan radiologi sudah
selayaknya memberikan pelayanan yang berkualitas. Penyelenggaraan
pelayanan radiologi umumnya dan radiologi diagnostik khususnya telah
dilaksanakan di berbagai sarana pelayanan kesehatan, mulai dari sarana
pelayanan kesehatan sederhana, seperti puskesmas dan klinik–klinik swasta,
maupun sarana pelayanan kesehatan yang berskala besar seperti rumah sakit
kelas A. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
terjadi dewasa ini telah memungkinkan berbagai penyakit dapat dideteksi dengan
menggunakan fasilitas radiologi diagnostik yaitu pelayanan yang menggunakan
radiasi pengion dan non pengion (gelombang mekanik). Dengan berkembangnya
waktu, radiologi diagnostik juga telah mengalami kemajuan yang cukup pesat,
baik dari peralatan maupun metodenya.
Macam-macam Pemeriksaan Radiologi Berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Kesehatan RI No. 1014/MENKES/SK/XI/2008 tentang Standar Pelayanan
Radiologi Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan menyatakan, dalam
pelayanan radiologi diagnostik memiliki tiga jenis. Tiga pelayanan radiologi
diagnostik meliputi :
1. Pelayanan Radiodiagnostik.
Pelayanan radiodiagnostik adalah pelayanan untuk melakukan diagnosis
dengan menggunakan radiasi pengion (sinar-X), meliputi antara lain
pelayanan sinar-X konvensional, Computed Tomography Scan (CT Scan)
dan mammogra.
2. Pelayanan Pencitraan Diagnostik.
Pelayanan pencitraan diagnostik adalah pelayanan untuk melakukan
diagnosis dengan menggunakan radiasi non pengion, antara lain
pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan
ultrasonografi (USG).
3. Pelayanan Radiologi Intervensional.
Pelayanan radiologi intervensional adalah pelayanan untuk melakukan
diagnosis dan terapi intervensi dengan menggunakan peralatan radiologi
sinar-X (angiografi, CT Scan). Pelayanan ini memakai radiasi pengion dan
radiasi non pengion. Ilmu Radiologi intervensi adalah area spesialisasi
dalam bidang radiologi yang menggunakan teknik radiologi seperti
radiografi sinar-X, pemindai CT, pemindai MRI, dan ultrasonografi untuk
menempatkan kabel, tabung, atau instrumen lain di dalam pasien untuk
mendiagnosa atau mengobati berbagai kondisi.
Jenis-jenis pemeriksaan ini dijelaskan secara garis besar berdasarkan
modalitas radiodiagnostik maupuan pencitraan diagnostik lainnya yang
digunakan.
1. Radiografi dan Fluoroskopi
Pemeriksaan sinar-X klasik adalah metode radiologi tertua. Secara
umum, radiogram dapat membedakan antara tulang, udara, dan jaringan,
tetapi sulit membuat penggambaran yang tepat dari struktur oleh karena
tumpang tindih. Saat ini, pemeriksaan sinar-X klasik terutama digunakan
untuk memeriksa paru-paru dan tulang (Kartawiguna & Georgiana,
2011:6). Selama pemeriksaan sinar-X dilakukan, sinar-X akan menembus
tubuh. Jaringan tubuh, seperti tulang dan organ-organ tubuh akan
melemahkan sinar - X dengan berbagai tingkat perlemahan yang
berbeda, sinar yang mampu melewati tubuh sepenuhnya akan mengenai
sebuah film yang sensitif terhadap cahaya, membentuk pola paparan. Ini
adalah radiogram klasik. Sedangkan pada sebuah radiogram digital, film
sinar-X digantikan dengan detektor datar yang bekerja berdasarkan teknik
semikonduktor.
2. Computed Tomography
Sama seperti sinar-X konvensional, tomografi komputer (computed
tomography atau CT) bekerja dengan sinar-X, tetapi memberikan gambar
yang tidak tumpang tindih yang disebut tomografi. Ini berarti bahwa
daerah yang akan diperiksa adalah disinari dengan sinar-X pada banyak
irisan tipis yang terpisah, yang dapat dilihat secara individual atau dapat
dikombinasikan untuk membentuk tampilan tiga dimensi, sehingga
memudahkan diagnosis yang lebih baik (Kartawiguna & Georgiana,
2011:8). Selama pemeriksaan CT, tubuh dipindai dalam bagian-bagian
individu sementara pasien bergerak di atas meja melalui gantry. Sebuah
tabung sinar-X, yang terletak di dalam cincin berbentuk donat, diarahkan
menuju pusat cincin, di mana pasien berbaring. Seberkas sinar-X
berbentuk kipas dengan ketebalan 1-10 mm melewati pasien menuju
detektor irisan berganda pada sisi yang berlawanan, memungkinkan
gambar dalam bentuk volume dibuat.
3. Ultrasound atau Sonography
Sonografi paling cocok untuk pencitraan terus menerus atau pemantauan,
karena ini adalah teknik yang sama sekali bebas risiko diagnostik
dibandingkan dengan radiografi, yang menggunakan radiasi berbahaya.
Bahkan pemeriksaan gema berganda (multiple echo) benar-benar aman
bagi pasien. Untuk alasan ini, sonografi, sebagai contoh, telah menjadi
prosedur standar untuk pemantauan kehamilan. USG mengkonversi
pulsa elektrik ke gelombang suara, yang ditransmisikan dari transduser
atau probe ke tubuh. Tergantung pada berbagai jenis jaringan tubuh,
gelombang suara diserap dan dipantulkan secara berbeda. Mereka
dideteksi oleh probe dan komputer kemudian dihitung waktu kembalinya
gema dan intensitas gema, mengkonversi gelombang suara yang
dipantulkan ke dalam gambar (Kartawiguna & Georgiana, 2011:6).
4. Magnetic Resonance Imaging
MRI adalah pilihan metode pencitraan saat diperlukan diferensiasi
jaringan lunak ditambah dengan resolusi spasial tinggi dan kemampuan
pencitraan fungsional. Seperti CT, MRI juga merupakan metode tomografi
tapi tidak seperti CT, tidak menggunakan sinar-X. Sebaliknya, MRI
menggunakan medan magnet yang kuat yang terbentuk dalam cincin
menyebabkan perubahan orientasi proton hidrogen dalam tubuh.
Jaringan yang berbeda menghasilkan sinyal yang berbeda, yang direkam
oleh peralatan dan diubah menjadi gambar dengan komputer
(Kartawiguna & Georgiana, 2011:9).
5. Angiografi
Angiografi adalah pemeriksaan sinar-X khusus yang memungkinkan
untuk memvisualisasikan pembuluh darah. Aplikasi klinis khas berkisar
dari visualisasi pembuluh darah koroner, kepala, dan pembuluh arteri
serviks dan vena, ke pembuluh perifer di panggul dan ekstremitas.
Metode ini memudahkan diagnosis stenosis (penyempitan) dan trombosis
(penyumbatan) dan bahkan penyembuhan kondisi ini menggunakan
teknik invasif khusus (Kartawiguna & Georgiana, 2011:10). Angiografi
menggunakan media kontras untuk memvisualisasikan pembuluh darah.
Media kontras diberikan melalui kateter yang ditempatkan sedekat
mungkin dengan pembuluh darah yang akan divisualisasikan. Sebuah
sistem sinar-X berbentuk lengan C (C-arm) yang dibutuhkan untuk
melakukan radiografi pembuluh darah. Alat ini dilengkapi dengan lengan
berbentuk C yang dapat bergerak dengan tabung sinar- X di satu ujung
dan detektor panel datar pada sisi yang lain.
B. RUMUSAN MASALAH
Dalam dunia kesehatan, khususnya dalam dunia radiologi telah berkembang
inovasi-inovasi terbaru dalam pengolahan pencitraan radiograf yaitu
memanfaatkan komputer digital untuk menghasilkan suatu pencitraan yang cepat,
efisien dan mudah. Dunia radiologi semakin lama berubah seiring perkembangan
teknologi, dan itu semakin memudahkan radiografer untuk bekerja lebih cepat dan
dapat memberikan pencitraan yang lebih baik.
Perkembangan teknologi dalam dunia medis pada umumnya dan dunia
radiologi pada khususnya, selain membuat terciptanya banyak opsi pengobatan
juga membuat lebih selektif dalam pemilihan alat-alat radiologi apakah sudah
sesuai dengan undang-undang atau peraturan mengenai radiologi maupun
kesehatan nuklir dan apakah alat tersebut mempunyai nilai investasi yang baik
untuk kedepannya.
BAB II
PEMBAHASAN
A. RADIOTERAPI
Radioterapi atau disebut juga terapi radiasi adalah terapi menggunakan
radiasi yang bersumber dari energi radioaktif. Cukup banyak dari penderita kanker
yang berobat ke rumah sakit menerima terapi radiasi. Kadang radiasi yang
diterima merupakan terapi tunggal, kadang dikombinasikan dengan kemoterapi
dan/atau operasi pembedahan. Tidak jarang pula seorang penderita kanker
menerima lebih dari satu jenis radiasi.
Terapi radiasi yang juga disebut radioterapi, irradiasi, terapi sinar-X, atau
istilah populernya "dibestral" ini bertujuan untuk menghancurkan jaringan kanker.
Paling tidak untuk mengurangi ukurannya atau menghilangkan gejala dan
gangguan yang menyertainya. Terkadang malah digunakan untuk pencegahan
(profilaktik). Radiasi menghancurkan material genetik sel sehingga sel tidak dapat
membelah dan tumbuh lagi.
Tidak hanya sel kanker yang hancur oleh radiasi. Sel normal juga. Karena itu
dalam terapi radiasi dokter selalu berusaha menghancurkan sel kanker sebanyak
mungkin, sambil sebisa mungkin menghindari sel sehat di sekitarnya. Tetapi
sekalipun terkena, kebanyakan sel normal dan sehat mampu memulihkan diri dari
efek radiasi. Radiasi bisa digunakan untuk mengobati hampir semua jenis tumor
padat termasuk kanker otak, payudara, leher rahim, tenggorokan, paru-paru,
pankreas, prostat, kulit, dan sebagainya, bahkan juga leukemia dan limfoma. Cara
dan dosisnya tergantung banyak hal, antara lain jenis kanker, lokasinya, apakah
jaringan di sekitarnya rawan rusak, kesehatan umum dan riwayat medis penderita,
apakah penderita menjalani pengobatan lain, dan sebagainya. Berikut ini
merupakan jenis-jenis Radioterapi :
1. Radiasi Eksternal
Radiasi jenis ini bisa menghancurkan hampir semua jenis kanker dan bisa
dijalani oleh pasien rawat jalan (tidak perlu opname). Juga bisa digunakan
untuk menghilangkan nyeri dan gangguan lain yang lazim dialami oleh
penderita kanker yang sudah metastase (menyebar) . Kadang diberikan
bersamaan dengan operasi/pembedahan, yaitu kalau kankernya belum
menyebar tetapi tidak bisa diangkat seluruhnya, atau dikhawatirkan akan
tumbuh lagi di sekitarnya. Tindakan dilakukan setelah jaringan utama
kanker diangkat, sebelum luka bedah ditutup kembali lokasi bekas kanker
diradiasi. Cara yang disebut intraoperative radiation therapy (IORT) ini
terutama digunakan pada kanker thyroid, usus, pankreas, dan rahim
(termasuk indung telur, leher rahim, mulut rahim, dan sekitarnya). Radiasi
eksternal juga diberikan sebagai pencegahan (prophylactic cranial
irradiation, PCI), misalnya pada penderita kanker paru radiasinya
diarahkan ke otak supaya sel kanker tidak menjalar ke otak. Terapi radiasi
eksternal tidak membuat penderita menjadi radioaktif (memancarkan
radiasi ke sekitarnya). Jadi tidak berbahaya bagi orang-orang di
sekitarnya.
2. Radiasi Internal (Brachytherapy)
Sumber radiasi berupa susuk/implant berbentuk seperti kabel, pita,
kapsul, kateter, atau butiran kecil berisi isotop radioaktif iodine, strontium
89, fosfor, palladium, cesium, iridium, fosfat, atau cobalt, yang ditanamkan
tepat di jaringan kanker atau di dekatnya. Cara ini lebih efektif membunuh
sel kanker sekaligus memperkecil kerusakan jaringan sehat di sekitar
sasaran radiasi. Radiasi internal sering digunakan untuk mengobati
kanker di daerah kepala dan leher, thyroid, prostat, leher rahim,
kandungan, payudara, sekitar selangkangan, dan di saluran kencing.
Susuk radioaktif ini ada yang ditanam selama beberapa menit saja (dosis
tinggi), ada yang selama beberapa hari (dosis rendah), ada juga yang
dibiarkan di dalam tubuh tanpa diangkat lagi. Selama menjalani terapi ini
penderita sedikit radioaktif, khususnya di sekitar lokasi susuk, tetapi
secara keseluruhan tubuh penderita tidaklah radioaktif. Untuk mencegah
hal-hal yang tidak diinginkan, penderita perlu menjalani rawat inap dengan
beberapa batasan. Misalnya, dirawat di ruang tersendiri. Pendamping
boleh melayani penderita, tetapi tidak terus-menerus berada di sisinya.
Begitu juga tamu yang bezuk dibatasi waktunya. Wanita hamil dan anak-
anak di bawah usia 18 tahun tidak boleh berkunjung. Tetapi setelah
implant radioaktif ini diambil lagi, penderita sama sekali tidak radioaktif.
Brachytherapy sering juga disebut sebagai Radiasi Lokal. Contoh paling
sederhana dari Bachytheraphy adalah penggunaan Koyo/Patch
Radioaktif untuk menghilangkan Keloid ataupun Parut/Scar pada kulit
luar. Besarnya Koyo dan Tingkat Radiasi ditentukan sebelumnya dan
berbeda-beda untuk orang yang memiliki beberapa Keloid dan/atau Parut
di tubuhnya. Kesembuhan dapat mencapai 100% atau setidak-tidaknya
hampir hilang dalam masa pengobatan 4-11 bulan.
3. Radiasi Sistemik
Pada radiasi sistemik, bahan radioaktif sebagai sumber radiasi ditelan
seperti obat atau disuntikkan, yang kemudian mengikuti aliran darah ke
seluruh tubuh. Radiasi ini digunakan untuk mengobati kanker thyroid dan
non-Hodgkin’s lymphoma. Sisa-sisa bahan radioaktif yang tak terpakai
keluar dari tubuh melalui air liur, keringat, dan air kencing. Dalam kurun
waktu tertentu cairan ini bersifat radioaktif, tetapi sesudahnya tidak lagi.
Itu sebabnya penderita yang menjalani radiasi sistemik perlu menjalani
rawat inap.
Radioterapi memiliki peranan penting dalam penatalaksanaan penyakit
kanker. Namun sangat disayangkan, saat ini baru 28 rumah sakit, baik negeri
maupun swasta di Indonesia yang memiliki layanan penyinaran tersebut.
Idealnya, alat radioterapi di suatu negara 1 alat banding 1 juta pasien dan
Indonesia sekarang perbandingannya adalah 1 alat radioterapi untuk 4 juta
pasien. Hal ini merupakan sebuah kesempatan baik untuk berinvestasi dalam
bidang pengobatan radioterapi.
B. PERALATAN RADIOTERAPI
Sebelum keputusan dibuat mengenai apakah radioterapi cocok untuk
mengobati kanker, kondisi Pasien akan dibahas oleh tim kesehatan. Dalam
pembahasan ini, perwakilan dari semua dokter spesialis yang terlibat dalam
menangani jenis kanker tertentu akan berdiskusi terkait masalah Pasien. Tim
kesehatan tersebut biasanya:
1. Spesialis bedah
2. Spesialis onkologi bedah
3. Spesialis onkologi radiasi
4. Spesialis patologi
5. Ahli radiologi.
Tim kesehatan akan mempelajari seluruh data terkait kasus pasien, termasuk
data mengenai gaya hidup dan riwayat kesehatan, dan hasil dari berbagai
pemeriksaan. Kemudian membuat kesimpulan mengenai pilihan pengobatan
terbaik untuk mengobati jenis kanker yang pasien alami.
1. Radiasi Eksternal
Sebelum radioterapi dimulai, lokasi sasaran akan diidentifikasi dengan
pemeriksaan Computed Tomography Scan (CT-Scan). Prosedur ini
sering disebut dengan tahap simulasi atau perencanaan. Scanning
dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Positron Emission
Tomography (PET) mungkin juga akan dilakukan.
Rencana radioterapi Pasien (seperti dosis dan lokasi sasaran radiasi)
akan ditentukan oleh spesialis onkologi radiasi. Radioterapi dilakukan
oleh terapis radiasi berdasarkan data dari simulasi dan data dari scanning
CT, MRI atau PET.
Jika lokasi pengobatan pada kepala atau leher, dokter mungkin akan
menempatkan penahan khusus pada tubuh bagian atas Pasien. Penahan
akan dipakai selama pengobatan agar kepala atau bagian atas tubuh
Pasien tidak bergerak.
Pada kasus lain, snug-fitting akan ditempatkan di sekitar tubuh selama
radioterapi untuk menjaga kestabilan posisi Pasien. Sebagian proses
radioterapi mengharuskan Pasien berbaring telungkup pada cradle atau
belly-board khusus, yang membuat bagian usus Pasien tidak berada
dalam area pengobatan.
Terapis radiasi akan menandai lokasi sasaran pada tubuh Pasien dengan
tinta non-permanen. Penandaan ini akan membantu peralatan radioterapi
agar tepat sasaran. Setelah menemukan posisi yang ideal, terapis radiasi
akan menandai titik-titik tertentu pada kulit Pasien dengan tinta agar lokasi
pengobatan lebih akurat.
Mungkin juga Pasien akan diberikan agen kontras, yang juga sering
disebut dengan media kontras atau pewarna dengan cara ditelan atau
disuntikkan ke salah satu pembuluh darah. Hal ini bertujuan untuk
menegaskan keberadaan dan struktur organ-organ internal Pasien
selama proses radiasi.
a. CT-Scan
Computerized tomography scan (CT scan) atau computerized axial
tomography scan (CAT scan) adalah prosedur pemeriksaan medis
dengan menggunakan kombinasi teknologi Rontgen atau sinar-X
dan sistem komputer khusus untuk melihat kondisi dalam tubuh
dari berbagai sudut dan potongan. Hasil CT scan memiliki kualitas
dan kedalaman yang lebih rinci dibanding foto Rontgen biasa. CT
scan umumnya digunakan sebagai alat bantu diagnosis, panduan
untuk melakukan tindakan selanjutnya, serta memantau kondisi
sebelum dan sesudah terapi. Untuk mendapatkan citra dari organ
yang lebih jelas, terkadang diperlukan kontras yang diberikan
melalui suntikan di pembuluh darah atau diminum. Berikut data
perbandingan 3 alat CT-Scan yang sudah sesuai standar
pelayanan radioterapi :
Multi-Slice CT Scanner System
No Spesifikasi / Keterangan
NeuViz 16 Classic
Merk Neusoft
Model/Type NeuViz 16 Classic
Country of Origin China
Factory of Origin Neusoft Medical System Co.,
Ltd., China
Source E-Katalog
Price IDR 3,893,847,590.00
(21 Desember 2018)
Features a. 64-slice platform: NeuViz 16
Classic is designed based
on 64-slice CT platform that
makes it can provide
expand clinical applications
and create a new
generation of high-
performance CT
b. 4MHU tube: Powerful tube
design longer continuous
scan time, which enables
large patient long range
scanning
c. 32-row detector: Efficient
detector design results in
high X-Ray conversion rate
and low noise, which can
produce high definition
images. Large sub-
millimeter detector coverage
enables large range fast
scan, which decreases scan
time and patient dose
d. Golden standard design:
70cm aperture enables
more patients are
scannable, ±30°mechanical
gantry tilt can decrease
radiation dose and give
better image quality, vertical
moveable couch enable
motion difficult patient easily
get in and off the couch and
make sure every patients at
the ISO center
e. Low dose solutions: Unique
O-dose platform and
advance ClearView Iterative
Reconstruction algorithm
reduce radiation dose while
maintaining diagnostic
image quality
f. Full range of application: A
robust AVW offers
advanced image analysis
and processing capabilities
as well as intuitive workflow
guidance
Picture
Clinical Picture a. Bone 3D