Hidup Baru Nasha Bersama Tante
Hidup Baru Nasha Bersama Tante
Siapa aku? Aku Natasha Putri Diandra. Keluargaku, teman SMP-ku dulu memanggilku dengan
nama Nasha. Aku sekarang tinggal bersama Tanteku, adik dari Mama. Sebelumnya aku hanya tinggal
berdua dengan Mama. Jangan tanyakan siapa Papaku dan apapun tentangnya. Karena aku hanya
mengenalnya sebatas nama saja. Itu sejarah kelam diriku. Mama hamil saat ia kelas 2 SMP dulu,
kemudian menikah dengan pria yang bernama Hadi Haryanto. Hanya sampai aku lahir saja pernikahan
itu bertahan. Saat aku berusia 3 bulan, mereka resmi bercerai. Mamaku adalah artis, dan karenaku,
kariernya yang melambung menjadi runtuh seketika. Saat ini mamaku masih menjadi artis, bahkan ia
bisa memperbaiki kariernya yang sempat hancur dulu. Kini ia lebih terkenal dibandingkan dulu. Dan
kabar tentangku mulai terdengar lagi. SD dapat kulalui dengan baik-baik saja. Aku mulai menyadari
setiap orang memandangku dengan tatapan yang tidak mengenakkan saat aku akan masuk SMP. Itulah
alasannya aku mengambil kelas akselerasi, agar aku dapat lulus SMP dengan cepat dan segera pindah
bersama Tante. Di kelas akselerasi hanya terdapat sekitar 14 anak saja. Sehingga kami menjadi dekat,
tak ada permusuhan. Kami dikenal memiliki otak yang jenius tetapi kami bukan tipikal nerd. Kami keren,
ganteng, cantik, dan dekat satu sama lain. Kami dipuji para guru dan menjadi bintang sekolah. Kami
selalu mendapat ranking tertinggi di sekolah. Kami sudah cukup sibuk memikirkan pelajaran dan tugas
yang menumpuk, sehingga kami tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting yang
bisa menghancurkan kekompakan kami. Terbukti dua tahun kebersamaan kami, mereka bertiga belas
tidak ada yang memusingkan siapa aku, bagaimana latar belakangku dan segala hal yang membuatku
terlihat buruk.
Tapi aku ingin menikmati masa SMA-ku dengan utuh. Tiga tahun yang utuh, diwarnai berbagai
warna kehidupan masa putih abu-abu. Maka ketika Tante dipindah tugaskan ke kota ini, aku meminta
tinggal bersamanya dan ia tidak keberatan. Akhir-akhir ini Mama juga sangat sibuk dengan kegiatannya
sebagai artis. Apalagi usianya yang masih terbilang cukup muda, seringkali ia lebih kekanak-kanakkan
dibandingkan denganku. Sehingga ketika aku mengatakan aku ingin tinggal bersama Tante, Mama
terlihat biasa saja, ia tidak keberatan. Katanya, “Kalau kamu butuh uang, katakan saja, Mama akan
kirimkan.” Tapi kelihatannya aku belum membutuhkannya karena selama hampir sebulan aku tinggal di
sini bersama Tante, Tante selalu memenuhi semua kebutuhanku. Dibandingkan dengan Mama, aku lebih
dekat dengan Tante. Selisih usiaku dengan Tante juga tidak berbeda jauh. Hanya sembilan tahun saja.
Maka dari itu orang lebih percaya kalau aku adalah adik Mama dan Tante, bukan anak atau
keponakannya. Terlebih selama ini Mama merahasiakan identitasku di depan publik. Oleh karena itu,
wartawan semakin gencar mencari tahu informasi mengenai aku. Syukurlah pihak SMP-ku dulu sangat
mengerti keadaanku. Aku bisa melenggang tanpa terganggu wartawan. Meskipun wartawan menunggu
di gerbang sekolah hampir tiap hari, namun aku bisa bebas keluar masuk sekolah tanpa mereka
menyadari bahwa akulah yang mereka cari. Dan kelasku diberi hak-hak khusus, dalam rapat orang tua
misalnya. Orang tuaku tidak pernah menghadiri rapat orang tua sekalipun penerimaan rapor sewaktu
SMP tak pernah sekalipun Mama menunjukkan diri di sana. Aku tinggal di apartemen mewah, dengan
keamanan yang sangat terjamin. Wartawan gila yang sangat terobsesi untuk meliput kehidupan Mama
takkan bisa masuk ke sana.
Tapi pada akhirnya mereka menemukanku. Akhir semester 1 kemarin, menjelang ulangan akhir
semester aku masuk rumah sakit. Salah seorang temanku secara tidak sengaja melempar bola basket
dan mengenai kepalaku. Cukup keras hingga mampu membuatku terjatuh dan kepalaku membentur
lantai lapangan basket. Mama yang saat itu sedang melakukan wawancara, mendapat telepon dari
sekolah segera datang ke rumah sakit tempat aku dirawat. Mama begitu gugup, sehingga melupakan
wartawan yang sedang mewawancarainya. Dan itulah akhir kemisteriusanku. Satu-persatu gosip tak
mengenakkan itu terus berdenging. Saat di kantin sekolah, banyak siswi dari kelas reguler yang
menggunjingkanku. Mereka juga berkata bahwa aku bisa masuk di kelas akselerasi karena ibuku artis,
dan aku memberi banyak sumbangan kepada sekolah. Tapi itu semua tidak benar. Aku bisa
membuktikannya. Beruntungnya aku berada di kelas akselerasi dan memiliki teman-teman yang mau
mengerti keadaanku. Oleh karena itu aku terus belajar. Siang dan malam, aku belajar. Dan aku berhasil
membuktikan pada mereka, bahwa apa yang kucapai karena kerja kelasku. Aku mendapat ranking 3
dalam kelulusan dan seperti biasa ranking 1-14 berasal dari kelas kami dengan selisih nilai yang sangat
sedikit.
Itu alasanku memilih tinggal bersama Tanteku. Tante Lidya berusia 23 tahun. Namun ia berhasil
menjadi sarjana di usia 21 dengan zuma cumlaude. Itu yang membuatnya mudah mencari pekerjaan. Ia
dipindah tugaskan ke Semarang agar menjadi kepala cabang di sini. Awalnya kukira Semarang berbeda
dengan Jakarta. Tapi ternyata sama saja. Macet. Panas. Hampir semua yang ada di Jakarta juga ada di
Semarang.
Dan sekarang.. Kisah Putih Abu-Abuku dimulai..
Akhirnya! Hari ini datang juga. Ini hari pertamaku masuk SMA. Semalaman aku tidak bisa tidur
nyenyak hanya untuk memikirkan hari ini. Sekolahku adalah sekolah favorit di kota ini----aku sudah
mencari informasi, karena ini pertama kalinya aku pindah dan tinggal bersama Tante. Aku berjuang
untuk bisa lolos dalam tes masuk penerimaan siswa baru kemarin. Aku bahkan merubah penampilanku
agar tidak banyak yang menyadari siapa aku.
“Nasha.. Udah bangun belom?” Tante mengetuk pintu kamarku. Aku membukakan pintu
kamarku.
“Tante, gimana penampilan baruku? Hehe.” Aku tekekeh. Tante Lidya menutup mulutnya
dengan kedua tangannya.
“Astaga! Kamu udah ngaca? Jelek banget!” Tante Lidya tampak sangat terkejut. Aku yang sangat
stylish kini tampak sangat nerd. Kaca mata bulat –kebetulan aku memang minus, rambut dikepang dua,
rok panjang di bawah lutut, dasi yang terpasang rapi. Benar-benar bukan aku.
“Kamu benar akan sekolah dengan penampilan seperti ini? kamu bakalan nyesel, Sha!” aku
mengangguk. Tante Lidya menatapku tidak percaya.
Aku sudah tahu sekolah baruku. Aku kan sudah pernah datang untuk tes masuk! Mereka
berpenampilan keren, sama seperti anak-anak di SMP-ku yang lama. Tapi aku takut mereka tahu siapa
aku sebenarnya. Karena kali ini aku tidak masuk ke kelas akselerasi lagi.. Aku ingin menikmati masa
sekolah secara utuh.
“Ya sudah, ayo Tante antar kamu sekolah.” Tante menarik lenganku. Tapi aku tidak mau
beranjak.
“Tante, aku takut mereka tahu siapa aku. Boleh nggak kalo aku panggil Tante ‘Kakak’ aja? Lagian
Tante lebih pantas jadi kakakku ketimbang jadi tanteku.” Pintaku. Tante menghela napas.
“Haah. Terserah kamu saja deh. Tante nurut saja. Tante udah cukup kaget liat penampilanmu
pagi ini. ck!” Tante menarik tanganku lagi. Aku terkekeh mengikuti Tante. Kalau aku jadi Tantepun aku
juga akan kaget. Tapi tak apalah, ini juga inginku.
Perjalanan menuju sekolah terasa sangat cepat. Dan sekolah masih sangaaat sepi. Padahal
waktu sudah menunjuk angka 6.30.
“Kakak, besok kita beli sepeda ya? Setelah Masa Orientasi Peserta Didik, aku pengen berangkat
sekolah naik sepeda aja..” pintaku lagi saat aku baru turun dari mobil.
“Lho? Kamu nggak suka diantar Tante ke sekolah?” Tante eh, Kakak mengernyitkan dahinya.
“Kakak, bukan Tante.” Ralatku. “Bukannya nggak suka, aku pengen kelihatan biasa aja.”
Tambahku.
“Iya deh. Terserah kamu saja.. Tapi kalo kamu jadi item, Tan, eh Kakak nggak tanggung jawab lho
ya. Hehe.” Tante mencoba bergurau. “Ini kunci duplikat rumah, nanti kamu pulang pake taksi aja ya?
Tante nggak bisa jemput kamu.. oh ya, nanti siang, ada pembantu baru yang bakal tinggal bareng kita.
Namanya Mbak Iyah. Dia anaknya Mbok Sum yang dulu kerja sama Mama kamu. Pokoknya kalo dia
dateng, suruh masuk aja. Kamarnya di belakang. Oke?” terang Kakak panjang lebar. Aku mengangguk.
Daya ingatku cukup bagus untuk mencerna dan mengingat semua perkataan Kakakku itu.
“Aku masuk dulu ya, Kak.. Daaaah!” lambaiku pada Kakak sebelum aku masuk ke sekolah.
Kelasku X-A (kelas unggulan). Kelas X-A ada di lantai 2 gedung 1. Sekolahku sangat luas. Terdiri
dari 5 gedung, dan tiap gedungnya terdapat 4 lantai. Aku segera naik ke lantai 2 gedung 1 dan mencari
kelasku. Ternyata kelasku berada di dekat tangga. Aku membaca tata letak tempat duduk di papan dekat
white board. Dari papan itu aku tahu kalau di kelasku terdapat 34 siswa. Aku duduk di bangku kedua dari
depan di sisi paling kanan dekat jendela. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat lapangan basket, sepak
bola, dan voli outdoor. Lumayan.. pikirku.
“Hei, udah ada yang berangkat lebih dulu ternyata.” Sapa seorang cowok yang berjalan ke arah
papan tata letak tempat duduk yang tadi sudah lebih dulu kulihat.
“Wah, namamu Natasha? Ck. Salah nama kayaknya, kamu bukan di situ deh. Namamu Fatimah
Isnawati kan? Kamu di pojok sana tuh!” katanya lagi. Aku menggeleng.
“Bukan. Namaku memang Natasha Putri Diandra. Emangnya kenapa? Masalah?” sahutku ketus.
Anak ini kayaknya nyebelin banget deh. Penampilannya nggak jauh beda denganku. Tapi gayanya sok-
sokan.
“Eh? Soalnya namamu bagus, ta-tapi..” katanya tersendat waktu dia melihatku yang tengah
melotot ke arahnya.
“Kenapa? Trus namamu siapa? Paijo? Kayak kamu lebih baik aja dari aku.” Sungutku kesal. Dia
juga pakai kacamata, rambut dibelah tengah, dan lebih parahnya lagi, kemejanya dikancingkan sampai
ke leher! Setidaknya aku lebih baik daripadanya. Melihat kemejanya yang dikancingkan sampai di leher
benar-benar membuat leherku serasa dicekik.
“Na-namaku Calvin. Eh. Sorry deh!” dia tampak kehabisan kata. Tapi aku menyadari ada
ketulusan di sana.
“Nggak!” kataku tak bergeming.
“Aku duduk di sampingmu persis di kirimu. Masa kamu nggak mau maafin aku sih?” katanya
putus asa. Mungkin ia menyadari bahwa duduk di sampingku, mau tidak mau ia akan dekat denganku.
Pikirku. Tapi aku masih tak menjawab.
Ia berjalan ke arahku dan berhenti di sampingku persis, menatapku dengan pandangan
memelas. Aku menatap matanya tajam. Matanya.. mata di balik kacamata itu tampak polos dan seperti
anak kecil.
“Pleaasee..” Pintanya. Ia masih memelas. Tuk..tuk.. suara sepatu terdengar dari arah pintu.
“Ehm.” Terdengar suara orang berdeham, membuat Calvin menoleh. Wajahnya tampak
memerah. Dari posisinya tadi, membuat aku dan dia tampak seperti kekasih yang sedang bertengkar.
Calvin akhirnya mundur dan duduk di kursinya yang hanya berjarak satu meter saja dariku.
Anak yang baru masuk itu juga melihat papan terlebih dahulu. Kemudian ia duduk di
belakangku. Dia pasti yang bernama Rionaldo. Ia tampan.. tapi terlihat berandalan, rambutnya juga di
cat. Yah, mungkin berandalan yang tampan dan pintar. Tak lama datang beberapa siswa lain yang masuk
ke kelasku. Beberapa bahkan duduk tanpa melihat papan terlebih dahulu. Mungkin mereka sudah tahu
letak tempat duduk mereka sebelumnya. Entahlah. Dan yang duduk di depanku adalah seorang
perempuan dengan rambut sebahu. Rambutnya tidak lurus, dan di cat berwarna juga. Tapi ia sangat
cantik. Dia juga pasti yang bernama Sophia. Sangat stylish.
“Hai. Aku Soffie.” Ia berbalik dan duduk menghadap belakang, atau tepatnya menghadapku. Aku
tersenyum tipis. Tampaknya ia seorang yang ramah.
“Aku Diandra.” Sapaku balik.
“Wow. Aku kira kamu dipanggil Natasha.” Ia tampak terkejut. Tapi sedetik kemudian ia tertawa,
memamerkan giginya yang dikawat pink.
“Kamu tahu? Katanya anak Melysha Diana sekolah di sini juga lho. Namanya juga Natasha, sama
kayak nama depan kamu. Tapi yang pasti dia bukan kamu, ya?” ia tertawa lagi. Aku juga tertawa.
Tertawa gugup. Aku memang anak dari Melysha Diana, tapi syukurlah mereka tidak menyadarinya.
“Bukan. Tapi kudengar banyak anak artis yang bersekolah di sini, ya?” tanyaku balik. Ia
mengangguk.
“Banyak. Kamu tahu? Reina? Jay? Mereka bersekolah di sini juga.” Sejujurnya aku tidak tahu
siapa mereka. Aku hanya mengangguk sok tahu dengan wajah sedikit terkejut. Aku pandai berakting.
Seperti Mama.
“Apa kamu tidak sadar yang duduk di belakangmu? Dia Rionaldi!” bisiknya penuh semangat. Aku
pura-pura lebih terkejut. Aku tahu dia Rionaldi, tapi aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Dia artis?
Berandalan itu?
“Kriiiiiiiiiiiiiiiiing!!!!!!!!!” Suara bel tanda masuk berbunyi. Masa orientasi akan dimulai. Aku
merasakan jadi pusat perhatian. Beberapa anak menatapku dengan tatapan aneh. Aku baru menyadari,
bahwa aku dan Calvin benar-benar menjadi pusat perhatian. Kami kelihatan paling aneh. Aku tidak biasa
dipandang demikian. Tapi lain halnya dengan Calvin. Ia tampak biasa saja. Soffie juga terlihat biasa saja.
Ia tidak memandangku aneh, seperti mereka yang lainnya.
Pletak. Gumpalan kertas jatuh tepat di depanku.
Maafin aku yaa? Please! Kamu pasti tahu, kalau tampaknya kita akan menjadi teman baik.
Mereka menatap kita terus. Aku tahu kamu nggak nyaman. Sebenarnya aku juga! Mungkin aku dan
kamu akan punya sedikit teman. So, ayo kita berteman aja. –Calvin.
Benar. Aku nggak mau punya musuh. Aku menatap Calvin. Aku mengangguk dan ia tampak
sangat lega. Ia tersenyum lebar.
Sudah 5 menit bel berbunyi, masih ada bangku yang kosong di pojok belakang. Baru saja aku
berpikir siapa orangnya, tapi kemudian anak itu datang dengan berlari dan duduk dengan napas yang
tersengal-sengal. Kelasku yang sudah cukup histeris karena ada rionaldo di kelas ini ---bahkan tempat
duduknya dikerumuni banyak anak perempuan yang sepertinya ngefans berat--- kini semakin ramai
setelah anak laki-laki itu datang. Anak itu, melambaikan tangannya ke arah..ku? oh ternyata ke arah
Rionaldo. Dia pasti artis juga! Ia juga tampan, walau menurutku lebih tampan Rionaldi, setidaknya
bajunya lebih rapi. Ia juga mengenakan dasi dengan rapi.
Akhirnya beberapa kakak kelas masuk ke kelasku. Kelasku menjadi lebih histeris lagi. Pasti salah
satu dari mereka juga orang yang tenar. Sepertinya aku salah tempat. Aku tidak menyangka bahwa akan
demikian banyaknya artis yang bersekolah di sini. Batinku dalam hati.
Kakak kelas itu berjumlah 5 orang. Tiap orang akan memimpin satu kelompok. Satu kelompok
terdiri dari 7 siswa, ada juga yang 6.
“Saya Evan. Dari kelas XI IPA 2. Saya akan memimpin kelompok 1, yang terdiri dari..” ia
mengambil kertas dari sakunya, dan mulai membacakannya. “Rion, Calvin, Diandra, Cellyn, Karissa, Leo,
Fatma. Silahkan yang saya sebut namanya, mengikuti saya ke luar kelas.” Kudengar nada kecewa dari
siswi. Saat aku maju ke luar kelas, aku baru menyadari bahwa aku satu kelompok dengan para idola tadi.
“Kakak akan menunjukkan ruangan-ruangan yang ada di sekolah ini. kita diberi waktu 2 jam
untuk berkeliling. Kalau kita berhasil menyelesaikan, dan masih ada waktu yang tersisa, kakak akan beri
kelonggaran untuk kalian boleh ke kantin. Bagaimana? Setuju?” semua mengangguk setuju. Aku melihat
name tag idola yang kini sedang berjalan bersisian dengan Rion. Namanya Leo ternyata. Ia tampak
sangat percaya diri, ia melambaikan tangan pada semua orang yang kemungkinan adalah fans Leo dan
Rion. Berbeda dengan Leo, Rion nampak sangat cuek. Merasa diperhatikan, Leo menatapku. Ia
tersenyum lebar dan melambaikan tangan padaku. Tapi aku bukan salah satu fansnya, aku hanya
menatapnya dengan tatapan datar dan biasa saja. Calvin berjalan agak cepat. Ia tambak berusaha sejajar
denganku.
“Nggak apa kan?” tanya Calvin padaku.
“Menurutmu?” balasku cuek.
“Kamu masih marah?” tanyanya lagi.
“Nggak. Santai aja lagi.” Sejujurnya aku kasihan melihat tatapan Calvin yang memelas.
“Kelas kita ada pasangan nerd.” Celetuk seseorang di belakangku. Aku menoleh. Rion. Nadanya
agak ketus walaupun wajahnya tampak cuek seperti biasa. Aku memasang ekspresi cuek. Cuek? Aku
jagonya. Batinku.
“Nggak usah dipeduliin.” Kataku menenangkan Calvin yang tampak khawatir aku marah.
Untungnya yang lain tidak menyadari apa yang terjadi di antara duo idol dan duo nerd yang berjalan
paling belakang di kelompok 1.
“Sebentar lagi kita selesai keliling sekolah. Aku traktir kamu di kantin, ya?” tawarnya. Aku
tersenyum senang. Tawaran yang bagus!
Benar kata Calvin. Hanya satu jam kami berjalan, kami sudah berhasil mengelilingi sekolah. Kami
masih punya waktu satu jam untuk beristirahat. Kak Evan berjalan paling depan memimpin kami
memasuki kantin gedung 4, kantin kami.
“Kalian boleh istirahat di sini. Ada yang masih ingin bertanya?” tanyanya sebelum memisahkan
diri dari kami. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Kakak satu gedung dengan kami?” tanyaku tanpa malu. Kak Evan nampak kaget.
“Eh, iya. Lantai 4 ruang 2. Kenapa?” tanyanya balik. Aku hanya menggeleng dan tersenyum
samar. Kak Evan hanya mengangkat bahunya. “Baiklah, kayaknya udah nggak ada yang nanya lagi nih.
Berarti sekarang kita berpisah, tapi ingat! Nanti jam 10, kita harus udah kumpul di aula. Oke?” kami
mengangguk, tanda mengerti.
“Soalnya, kalo dia nggak satu gedung dengan kita, dia nggak mungkin makan di kantin sini.”
Bisikku pada Calvin, aku tahu Calvin pasti ingin tahu.
“Oh gitu.. Ngomong-omong, kamu pengen makan apa?” tanyanya.
“Apa ya?” aku mulai berpikir. Sebenarnya aku masih belum lapar, tapi mengingat tadi pagi aku
belum sarapan..
“Soto aja, gimana?” tanyanya memberi saran. Aku mengangguk.
“Aku tunggu di meja 3 ya?” aku menunjuk ke arah meja no. 3. sementara aku menunggu, Calvin
memesan di kedai yang tak jauh dari tempatku duduk. Kantin masih sepi. Hanya berisikan 8 siswa. 7
junior, dan 1 senior.
“Kamu suka jus mangga?” tanya Calvin, sambil membawa nampan berisi soto, sambal, dan
kecap. Aku mengangguk, sambil membantunya memindahkan mangkuk dari nampan yang ia bawa. Di
belakangnya tampak seorang ibu membawakan jus mangga.
“Terima kasih, bu.” Kataku sewaktu ibu itu meletakkan jus yang ia bawa. Ia tersenyum.
“Sama-sama. Kamu gadis yang sopan.” Katanya sebelum kembali ke kedainya. Aku tersenyum
senang. Aku memang sopan, batinku.
“Ngomong-omong, rumah kamu dimana sih, Dra?” tanyanya. Ia tahu nama panggilanku? “Eh,
aku denger waktu kamu ngobrol sama Soffie tadi pagi.” Sambungnya buru-buru.
“Oh. Aku nggak jauh dari sini. Aku perumahan Grand Varia. Kenapa emangnya?” kataku sambil
mulai menyantap soto semarang. Enak.
“Kita satu perumahan! Blok apa? No. Berapa?” tanyanya bersemangat.
“Blok D/26.” Kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari soto yang kusantap.
“Kita satu blok! Kok aku nggak pernah lihat kamu, ya?” tanyanya heran. Ia bahkan masih belum
menyantap makanannya.
“Kamu nggak pingin makan ya? Makan gih, keburu dingin.” Kataku. Ia tersenyum lebar
mendengar teguranku.
“Iya. Iya. Eh, tapi nanti kita pulang bareng ya?” pintanya lagi.
“Hm.” Aku mengiyakan. Ternyata Calvin lebih bawel dari yang kukira. Ia juga baik. Nggak ada
salahnya berteman baik dengannya. Dan kalau diperhatikan, sebenarnya Calvin cukup tampan. Ia seperti
permata yang belum digosok sehingga kilaunya belum terlihat.
“Gimana, kalau tiap hari kita berangkat dan pulang bareng aja?” hah?! Ajakan Calvin sukses
membuatku tersedak.
Sudah pukul delapan malam, tapi tante belum pulang juga. Kemarin-kemarin ia selalu pulang
pukul lima sore. Setidaknya aku tidak sendiri mulai sekarang. Mbak baru yang bekerja pada tante
berusia masih muda sekitar 19 tahunan dan sudah datang sejak siang tadi. Aku masih memikirkan
perkataan Calvin di sekolah. Aku berharap dia tidak serius..
Esoknya..
“Semalem kamu nungguin Tante ya?” ini sudah pukul 6 pagi, waktu dimana kami biasa sarapan
bersama. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan tante.
“Semalem Tante kemana sih? Kok pulangnya malem banget, sampai aku nggak tau Tante
semalam pulang jam berapa.” Gerutuku. Tapi tanteku hanya menunjukkan cengirannya yang semakin
membuatku sebal.
“Jam sepuluh. Tante harus kerja lembur, karena kerjaan Tante kemaren hilang belum sempat di
save. Jadi terpaksa ngulang deh, lagian kamu tau sendiri kan Tante kalau lagi kerja kayak apa,,” katanya
sambil menusukkan garpu ke perkedel dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Jadi, kapan rencananya Tante harus nemenin kamu beli sepeda?” tanya Tante melanjutkan.
Aku mengangkat bahu.
“Kemarin ada sih yang nawarin buat ngantar jemput aku, tapi liat aja ntar.” Aku masih
melanjutkan makanku.
“Oh ya? Pasti cowok ya?” tebak tante dan kembali aku menganggukkan kepala pertanda
tebakannya benar. Ia tertawa. Lanjutnya, “Wow dengan penampilan kamu yang seperti itu saja sudah
ada yang berani mendekatimu, Sha! Ckck.” Tanteku berdecak. Aku hanya menggelengkan kepala.
“Tante ngggak tahu sih, kami dekat karena persamaan nasib! Kami berdua yang penampilannya
paling nerd di kelas. Tapi dia lebih parah sih. Hehe.” Memang benar kok, dia lebih parah dibandingkan
aku, meskipun ada beberapa hal yang membuatku memberikan poin khusus untuknya.
“Oh ya? Tapi kayaknya kamu benar-benar akan mengalami jatuh cinta deh.” ujar Tante dengan
nada menggoda.
“Apaan sih Tante. Orang dibilang temen kok!” aku masih mencoba meyakinkan tante.
“Cuma teman atau masih teman?” tanya tante dengan nada gurauan.
“Masih temen.” Jawabku dengan suara pelan. Menyerah lebih baik dari pada terus digoda oleh
tanteku yang usil ini. mendengar jawabanku, Tante tersenyum puas.
“Pokoknya tunggu sampai sepuluh menit lagi, kalau dia nggak datang.. berarti Tante harus
belikan aku sepeda!” tuntutku pura-pura kesal. Tante hanya tertawa.
Ini sudah lima hari aku bersekolah di Java International Senior High School. Sekolahku hanya
masuk lima hari dalam seminggu, sabtu minggu kami libur. Menyenangkan. Sudah empat hari aku
dijemput dan pulang bersama Calvin. Ia sangat perhatian dan pengertian terhadapku. Kelas kami bahkan
menganggap kami benar berpacaran. Tapi kami tidak peduli. Aku menganggap Calvin teman dekatku.
Walau begitu aku tidak menceritakan siapa aku sebenarnya. Aku benar-benar tidak ingin ada
seorangpun yang tahu. Karena kalau sampai ada yang tahu, sia-sia saja pengorbananku untuk mengubah
penampilanku.
Drrrrrrrrrrrttttt.. ponselku bergetar. Pasti Calvin. Benar.
From : Calvin
Aku pengen main ke rumahmu. Boleh?
Eh? Why not? Pikirku. Aku segera membalas SMS-nya.
To : Calvin
Boleh. Kenapa enggak?
Sent! Tak sampai lima menit sms terkirim, bel rumah berbunyi. Aku berlari kecil membukakan
pintu.
“Hai, Vin.” Sapaku sambil tersenyum lebar. Tapi Calvin tidak menjawab. Ia tetap berdiri
mematung di depanku.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanyaku. Aku bingung, tapi Calvin malah terlihat lebih bingung.
“Kamu kok?” ia memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku baru sadar sesuatu.
Aku menarik Calvin masuk ke dalam rumah.
“Aku jelasin nanti. mending sekarang kamu masuk dulu deh.” Aku menariknya dan
menyuruhnya duduk di ruang tamu. Aku mengambilkan air minum di kulkas dan menuangkan ke gelas.
“Minum dulu, Vin. Kamu pucet banget tuh.” Aku memberikan gelas berisi air dingin padanya. Ia
menerimanya dan mulai meminum seteguk demi seteguk.
“Kamu kaget ngeliat penampilanku yang kayak gini?” tanyaku. Ia mengangguk. Benar-benar
polos.
“Emangnya salah kalo aku kayak gini? Aku kan juga pengen kayak yang lain.” Aku berusaha
menghindari kata nerd agar ia tidak tersinggung.
“Tapi aku nggak nyangka kalo kamu beda banget sama yang di sekolah.” Ia masih menyanggah.
“Kamu mirip anaknya Melysha Diana.” Lanjutnya. Aku kaget. Ia mengenaliku!
“Eh? I-iya itu emang aku. Kamu bisa kan jaga rahasia? Aku nggak mau ada yang tahu. Karena
kamu udah terlanjur tahu, ini jadi rahasia kita ya?” ia memandangku tak percaya. Aku menatapnya
dengan pandangan memelas. Ia terdiam cukup lama hingga akhirnya ia tersenyum.
“Oke. Ini rahasia kita. Tapi kapan-kapan aku boleh mintain tanda tangan Mama kamu? ”
syukurlah ia tidak berpikir negatif tentangku.
“Boleh, tapi sehabis liburan tengah semester ya?” kataku sambil tersenyum lega. Calvin
memang baik, terlepas dari penampilannya yang kurang oke, sebenarnya ia cukup sempurna di mataku.
“Ngomong-omong, tumben kamu pengen main ke sini. Pasti mau nanya sesuatu kan?” tebakku.
Ia mengangguk. Tebakanku biasanya tepat.
“Kamu udah dapet angketnya kan? Kamu ambil ekstrakulikuler apa?” tanyanya. Aku berpikir
keras. Apa ya? Bingung.
“Kayaknya teater deh. Kalo kamu?” tanyaku balik.
“Kamu teater? Aku juga deh.” Ia menjawab dengan nada bimbang.
“Kok ikutan aku sih? Pilih sesuai kemauan dan kemampuan kamu dong.” Saranku.
“Aku suka basket, tapi aku takut nggak diterima. Kamu tahu kan, aku dipandang kayak gimana.
Lagian ada kamu di teater.” Aku?
“Tuh kan, aku jadi alesan.” Kataku pura-pura sebal.
“Bukan gitu, tapi temanku yang ngerti aku cuma kamu Dra. Aku takut kalo di basket, aku nggak
ada temennya.”
Aku menggenggam tangannya. “Kalo kamu emang suka main basket, kamu tunjukin
kemampuan kamu! Mereka pasti nilai kamu dari kemampuan kamu kok. Aku bakalan dukung kamu!”
kataku. Ia mulai tersenyum.
“Tapi..” katanya menggantung.
“Tapi apa?” tanyaku.
“Kalo aku latihan basket, kamu tungguin aku ya, sampai aku pulang. Biar kita bisa pulang bareng.
Trus kalo kamu latihan teater, aku tungguin kamu juga deh. Ya?” benar-benar kayak anak kecil.
“Dasar!” aku menjitak kepalanya. Ia berpura-pura kesakitan dan pingsan. Aku tertawa. Selain
penampilanmu, kamu sempurna, Vin. Batinku. Apaan sih? Jangan sampai kamu jatuh hati sama Calvin,
Sha. Dia temen baikmu di sini. Batinku lagi.
“Heh. Anak basket kok lemah.” Gurauku menyindir Calvin yang masih berpura-pura pingsan.
“Eitss. Aku kuat!” sontak saja ia langsung duduk tegak. Lagi-lagi ia membuatku tertawa.
Tiba-tiba terlintas ide aneh di kepalaku.
“Vin?” ia mendongak. Aku langsung melepas kacamatanya, dan merapikan rambut belah
tengahnya. Benar saja. Ia sangaaaat tampan! Entah kenapa aku merasa wajahku seperti terbakar, dan
ada rasa geli yang menggelitik. Jantungku juga berdebar tak karuan. Aku berusaha terlihat biasa saja,
tapi entah kenapa aku yakin aku terlihat aneh dan salah tingkah. Aku tak mau terlihat salah tingkah.
“Sini!” Aku menariknya masuk ke kamarku. Karena di kamarku ada cermin besar di lemari. Aku
ingin menunjukkan seberapa tampannya ia.
“Eh. Ngapain narik aku ke kamar kamu?” wajahnya memerah. Ia pasti berpikiran aneh-aneh.
“Udah, jangan bawel!” aku menutup dan mengunci pintu kamarku. Wajahnya bertambah merah
sewaktu aku membuka kancing teratas yang biasanya membuatku merasa tercekik saat melihatnya.
“Sini. Liat di sini!” aku mendorongnya ke depan kaca. Ia menyipitkan matanya.
“Apa menurutmu aku pantas berpenampilan seperti itu?” pertanyaannya terdengar aneh
bagiku.
“Iya lah! Emangnya kamu nggak mikir kayak gitu?” tanyaku balik. Ia menggeleng.
“Aku pernah mencobanya. Tapi mereka malah mengacuhkanku.”
“Mereka siapa?” aku jadi semakin bingung.
“Bukannya aku pernah cerita kalau dulu aku punya 3 sahabat?” Oh iya. Aku ingat! Ketiga
sahabat Calvin semuanya berpenampilan culun. Mereka berprinsip, don’t judge a book from the cover.
Sewaktu Calvin berpenampilan normal, mereka malah bilang itu nggak pantas buat dia.
“Sekarang kan ada aku, Vin. Aku rasa ini bukan perubahan yang buruk kok. Dan aku pikir kamu
nggak pantas dan kurang nyaman dengan penampilan kamu yang sekarang. Lagi pula, katamu mereka
beda sekolah sama kita.” Aku tersenyum.
“Kamu benar.” Ia tersenyum mengiyakan pendapatku. “Aku senang bisa punya teman
sepertimu.”t
Aku juga, Vin. Kataku dalam hati. Ini kali pertama aku merasakan perasaan aneh saat
berdekatan dengan laki-laki. Apa seperti inikah rasanya jatuh cinta? Kalau iya, mungkin kamu tidak
beruntung karena disukai oleh perempuan menyedihkan sepertiku yang berpura-pura menjadi orang
lain demi masa SMA-nya. Atau mungkin kau akan senang? Disukai oleh anak seorang idola? Mungkinkah
perasaan ini tak bertepuk sebelah tangan? Atau mungkin perasaan ini yang akan menghancurkan
pertemanan kita? Aku tak ingin pertemanan kita rusak..
“Ngomong-omong, foto bareng yuk!” aku mengambil kamera dari laci lemariku. Meletakkannya
diatas meja belajar dan menyetel timernya. Tapi Calvin masih saja berdiri di depan lemari, menatapku
dengan tatapan bingung.
“Sini, Vin. Duduk di sini.” Aku menepuk tempat tidurku. “Kita menghadap sana!” aku menunjuk
kamera. Tapi Calvin selalu saja melihat ke arah yang lain. Ia seperti canggung. Tidak sabar, kutarik ia
duduk di sampingku.
“Itu! Liat disana!” aku menarik wajahnya agar menghadap ke kamera.
“Nggak! Aku malu Ndra.” Aku terus menarik wajahnya agar menghadap kamera dan tiga.. dua..
satu.. aku berhasil menariknya menatap ke kamera!
“Waa.. lucu fotonya, Vin!” aku menunjukkan gambar di kameraku, dimana kami terlihat seperti
sedang menarik satu sama lain. Di sana ia tampak agak cemberut dan aku sedang tertawa ke arah
kamera.
“Ini biar aku bawa ke studio photo aja ya, biar dicetak di sana. Hehe.” Aku nyengir sementara
Calvin masih cemberut.
“Nanti kalo udah jadi, aku kasih kamu satu deh.. gimana?” aku mencoba membujuknya agar
tidak merajuk. Ia memang polos seperti anak kecil. Aku tersenyum semanis yang aku bisa. Mungkin
kadar kemanisan senyumanku bisa mengalahkan manisnya gula. Hehe.
“Jangan senyum kayak gitu deh. Sok manis banget!” katanya sambil memanyunkan bibirnya.
“Habisnya kamu kayak anak kecil gitu. Hobinya ngambek.” Sahutku sambil menjulurkan lidah.
“Dari pada kamu hobinya marah-marah kayak induk singa.” Balasnya.
Aku menatapnya terpana. Ia tersenyum. Aku tahu senyumannya tak ada bedanya dengan
senyumannya di waktu yang lalu. tapi entah kenapa senyumnya kali ini terasa lebih indah bagiku. Ada
perasaan aneh yang kembali menjalar. Tapi perasaan takutku muncul kembali. Kupeluk Calvin seerat
yang kubisa. Calvin pasti gugup, detak jantungnya terasa lebih cepat..
“Ke-kenapa?” ia gugup. Ia berusaha melepaskan pelukanku.
“Jangan lepas, Vin.. kali ini saja..” pintaku. Biarkan aku memelukmu kali ini saja, Vin. Ini pertama
kalinya aku memeluk orang pertama yang menjatuhkan hatiku. Biarkan aku memelukmu sebelum hati
ini kuhancurkan untukmu, Vin.. lanjutku dalam hati. Entah Calvin mengerti atau tidak, ia tak lagi
berusaha melepaskan pelukanku. Tangannya mengelus kepalaku,membuat perasaanku tak karuan. Tapi
meskipun begitu tetap saja aku merasa nyaman.
“Jangan pernah berubah, Vin. Jadilah Calvin yang tetap mengerti aku. Aku nggak mau
persahabatan kita rusak karena apapun, Vin. Jangan pernah ada alasan untuk kehilangan persahabatan
kita..” pintaku lagi.
“Nggak akan, Ndra. Buat aku, kamu segalanya. Kalo nggak ada kamu, aku nggak yakin bisa
melewati masa sekolah kayak gimana. Bahkan sampai sekarang, aku cuma punya kamu.” Ia masih
mengelus kepalaku.
Salahkah kalau aku menginginkan seperti itu? Salahkah bila kuharap aku satu-satunya yang
kamu punya? Kamu nggak boleh seperti ini, Sha. Batinku dalam hati. Kalau kamu memang
menyayanginya, harusnya kamu membantunya berubah menjadi lebih baik. Kalaupun memang
perasaanmu bertepuk sebelah tangan, setidaknya kamu takkan pernah kehilangannya. Ia tetaplah
sahabatmu. Malaikat dalam diriku terus bicara. Benar, aku harus mendukungnya menjadi lebih baik. Aku
melepaskan pelukanku. Ia masih tersenyum. Tak lama, ia memelukku. Bukan aku yang memeluknya. Ia
yang memelukku! Tapi tubuhku rasanya berubah kaku layaknya batu. Aku terlalu kaku untuk membalas
pelukannya.
“Kamu perempuan pertama selain keluargaku, yang kupeluk, Ndra. Kamu sahabat perempuan
yang pertama.” Seandainya perasaanku tak bertepuk sebelah tangan..
“Ka-kamu mau soft copy file foto kita yang tadi?” pertanyaan itu meluncur begitu saja.
Pertanyaan itu yang membuatnya melepaskan pelukannya. Ia mengangguk.
“Pinjam USB-mu dulu deh, besok aku kembaliin. Ngomong-omong, kamu jadi cetak foto tadi?”
tanyanya.
Aku mengangguk bersemangat. Foto itu akan kusimpan di dompetku.
Sebulan berlalu..
“Tugas ini Bapak bagi satu kelompok 4 orang.” Tegas Pak Har sambil menuliskan nama siswa
dalam satu kelompok. Aku mencari namaku. Diandra, Rion, Soffie, Leo. Hah? Aku menatap papan tulis
tak percaya. Mungkin aku salah membaca nama. Tapi sama saja. Nama merekalah yang tertera di sana.
Bukan Calvin. Tidak ada nama Calvin dalam kelompokku. Calvin menatapku kecewa. Aku yakin dia juga
sama sepertiku. Aneh, biasanya kami ditugaskan dalam satu kelompok yang sama. Ya sudahlah, kami
memang berteman dekat. Tapi bukan berarti harus selalu bersama kan?
“Mau ngerjain tugas dimana?” tanya Soffie. Aku hanya mengangkat bahuku.
“Di rumahku aja. Kalian bawa laptop ya, biar cepat selesai.” Sahut Rion, masih dengan nada
datar dan wajah cueknya.
“Aku nggak tahu rumahmu. Rumah Soffie aja.” Aku berusaha menolak pendapat Rion. Memang
aku kurang suka dengan Rion. Menurutku ia sombong.
“Nanti aku jemput.” Sahut Rion dengan gampangnya.
“Hah?!” Seruku dan Soffie bersamaan. Ada angin apa Rion mau berbaik hati kepadaku? Si culun
yang biasa dipanggil Makhluk Mars oleh mereka. Soffie bukan penggemar Rion, tapi siapapun pasti
kaget kalau tahu Rion menawarkan diri menjemputku.
“A-aku bareng Soffie aja!” kataku tergagap.
“Tapi aku nggak tahu rumah Rion.” Bantah Soffie.
“Aku jemput kamu deh!” kata Leo pada Soffie. Soffie manggut-manggut. Hanya aku saja yang
masih belum menerima keputusan yang menurutku sangat memaksa.
“Kamu kan nggak tahu rumahku! Gimana mau jemput aku?” aku masih berusaha mencari-cari
alasan.
“Kali ini kamu pulang, aku yang antar. Setelah kamu bawa selesai ganti seragam dan ambil
laptop baru kamu berangkat ke rumahku.” Keputusan fix. Aku nggak bisa mengelak. Aku hanya bisa
menunduk pasrah.
“Bentar ya, kamu tunggu di sini.” Kataku mempersilahkan Rion menunggu di ruang tamu
sementara aku ke kamar untuk berganti seragam.
Aku buru-buru berganti pakaian, aku takut saat aku kembali ke ruang tamu ia sedang mengacak-
acak. Aku takut dia tahu bahwa aku anak Melysha Diana. Aku melepas kepangku, rambutku menjadi
bergelombang. Aku mengenakan T-shirt dan celana jeans pendek. Aku juga memakai topi. Kusambar tas
laptop dan dompet yang ada diatas meja belajarku. Dan berlari ke ruang tamu.
“Makhluk Mars ternyata nggak terlalu culun, ya?” sindir Rion saat pertama kali melihatku tanpa
seragam sekolah. Masa bodohlah, setidaknya rambutku yang tadinya lurus seperti Mama kini menjadi
bergelombang karena kukepang tiap hari, dan karena tiap hari diantar jemput menggunakan motor,
rambutku juga jadi kemerah-merahan dan kuitku tidak seputih dulu---walaupun kini juga tidak dalam
kategori hitam. Aku yang sekarang terlihat berbeda dari aku yang dulu.
“Ayo. Kasihan kalo Leo sampai di rumah duluan.” Katanya.
Ia berjalan menuju mobilnya lebih dulu. Aku berpamitan dengan Mbak Iyah lebih dulu lalu
berlari menyusul Rion.
“Waah.. kamu beda banget!” Soffie terus menatapku tak berkedip. Ia seperti tak percaya.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanyaku pura-pura biasa saja.
“Iya kamu salah kostum kalo sekolah. Kayak gini baru mendingan!” jawab Leo dengan
bangganya sambil terkekeh. Syukurlah nampaknya mereka tidak menyadari siapa aku.
“Udah ayo, buruan kita kerjain tugasnya. Keburu sore nih.” Kataku mengalihkan pembicaraan.
“Kuku kakimu dicat juga ya? Wah bagus lagi.. ckck. Keliatannya aja norak, tapi ternyata kamu
nggak se-nerd yang kita kira.” Soffie masih saja membahas tentangku. Aku hanya bisa tersenyum tipis.
Penampilan segitu pentingnya?
“Sudah, ayo kita kerjakan tugasnya.” Rion menengahi. “Sof, kamu sama Leo kerjain Bab I, aku
sama Diandra kerjain Bab II. “ aku mendelik mendengar keputusannya yang menurutku semaunya saja.
Tapi ia tampak tak peduli dengan protes tanpa suara yang kuajukan.
Aku membuka laptopku dengan setengah hati. Mengerjakan satu bab? Ayolah Sha, demi tugas!
Aku berusaha menguatkan hati.
“Astaga, ini foto kamu Ndra?” Seru Soffie begitu melihat background laptopku. Itu fotoku
bersama Calvin. Aku mengangguk mengiyakan.
“Ini pacar kamu? Kok kayak pernah lihat ya? Tapi siapa?” sepertinya Soffie memiliki kadar kepo
yang sangat tinggi hari ini. aku menghela napasku.
“Bukan. Dia temen aku. Cakep nggak?” gurauku. Soffie mengangguk penuh semangat. Apa dia
benar-benar tidak sadar kalau yang dimaksud adalah Calvin? Calvin hanya berubah sedikiiit saja, Soffie
tidak mengenalnya?
“Kenalin dong, Ndra.. dia jomblo?” astaga Soffie yang cantik ini, secara nggak sadar minta
dikenalin sama Calvin? Aku nggak percaya.
“Iya. Dia belum pernah pacaran. Itu setahuku.” Memang hanya itu yang kutahu. Karena selalu
berdua denganku, kami benar-benar dianggap berpacaran oleh satu sekolah. Ia selalu berdua denganku,
karena temannya lebih sedikit dibandingkanku. Ia sangat malu bila berhadapan dengan perempuan, dan
ia sering dijahili oleh anak laki-laki.
“Serius kamu bukan pacarnya, Ndra? Di sini kamu nggak keliatan kuper kok.” Soffie masih terus
mencecarku dengan pertanyaan tentang Calvin. Aku mengangguk. Aku cukup hanya kuper di sekolah
saja, selain itu aku nggak mau terlihat lebih bodoh lagi. Seandainya bisa, tapi aku nggak mau merusak
persahabatanku dengan Calvin hanya karena perasaan sukaku saja. Imbuhku dalam hati.
“Apaan sih?” Leo ikutan nimbrung menatap layar laptopku.
“Bukan apa-apa.” Sahutku cepat.
“Pacarmu?” tanya Rion. Si judes ini berani tanya juga toh. Pikirku.
“Bukan.” Rion kembali tampak tidak peduli. Seperti biasa.
“Cepat kerjakan bagianmu.” kata-kata Rion cukup ampuh. Soffie dan Leo tidak lagi bertanya dan
mulai mengerjakan bagian tugasnya.
Hari ini pengumpulan angket. Aku sudah menandai dua ekskul yang kupilih. Dance dan Teater.
Sedangkan Calvin sudah jelas, ia memilih basket. Aku memintanya agar ia hanya menuruti hati dan
kemampuannya, bukan mengikuti inginku. Seluruh kelas tampak kaget, saat diumumkan bahwa aku
mengikuti ekskul dance dan Calvin mengikuti ekskul basket.
“Aku nggak yakin, Ndra.” Calvin mengkeret saat beberapa anak laki-laki menatapnya tidak suka.
Aku mengedipkan sebelah mataku.
“kamu jauuuuuh lebih baik dari mereka. Sungguh! Aku berani bertaruh bahwa kemampuan
basketmu lebih baik. Kamu nggak mau bikin aku malu kan? Jadi kamu harus buktikan kalau kamu
memang lebih baik!” aku berusaha menghiburnya. Ia mengangguk. Sesungguhnya kamu selalu tampak
lebih baik, Vin. Kapanpun dan dimanapun kamu selalu lebih baik.
“Thanks, Ndra. Aku nggak bakal bikin kamu mau. Makasih banget.” Katanya sebelum ia
mengacak-acak rambutku. Aku tersenyum. Aku sangat senang saat ia mengacak-acak rambutku, meski
rambutku jadi berantakan. Ia kembali ke tempat duduknya sambil melirik ke arahku.
“Sinetron amat sih.” Sindir Rion di belakangku dengan nada ketus. Abaikan! Pikirku.
Walaupun angket baru saja dikumpulkan, tetap saja sore ini ekskul Dance diadakan. Pertemuan
ekskul kali ini sangat penting. Karena di pertemuan selanjutnya akan dipilih anggota tim dance inti. Tiap
angkatannya hanya ada 10 anggota tim inti yang nantinya akan dilombakan saat ada lomba dance antar
sekolah. Walau aku tak mengincar posisi tim inti, aku tak ingin terlihat sebagai anak culun yang ikut
dance hanya untuk mempermalukan diriku sendiri.
“Kamu benar tidak ingin masuk tim dance intu?” tanya Soffie lagi. Ia sudah menanyakan
kepadaku lebih dari lima kali. Kami sedang menonton ekskul basket yang diadakan lebih dulu. Aku
menonton Calvin dengan serius. Setidaknya minggu kemarin aku sudah mengajaknya membeli softlens
untuk keperluan basketnya. Dan kini ia memang tampak berbeda walaupun rambutnya masih di belah
tengah dan ujung bajunya masih dimasukkan di celana.
Aku menggeleng, “aku masuk dance karena kamu yang minta, Fie. Dan aku tidak begitu tertarik
jadi tim inti kok.”
“Kalau aku yang minta kamu untuk jadi anggota tim inti, apa kamu mau?” tanyanya
membujukku. Aku tersenyum melihat kelakuannya. Sementara Calvin melempar bola ke arah ring dari
jarak jauh, dan THREE POINTS!! Aku tersenyum saat ia memalingkan wajahnya ke arahku dan tersenyum
bangga. Aku tahu kamu pantas untuk masuk ke tim inti.
“Aku hanya akan mencoba. Kalau lolos berarti itu keberuntunganku.” Aku menatap Soffie yang
masih belum menyerah.
“Kamu harus masuk tim inti, kau tahu? Natasya yang mengaku anak artis itu juga bertekat
masuk! Aku nggak bisa membayangkan gimana malunya dia kalo dia bisa dikalahin sama kamu. Ayo lah..
biar cap jelek yang selama ini udah nempel di kamu mulai luntur.” Ia terus membujukku dengan kata-
kata bahwa cap nerd-ku sudah cukup mengganggu.
“Kamu nggak takut kalah tenar dibandingin aku nantinya?” candaku. Soffie tertawa lepas.
“Kalo buat kamu.. nggak masalah deh!” ngomong-omong, si pengaku itu juga ikut dance? Hal ini
cukup menarik minatku untuk mengalahkannya dalam dance nanti. Aku akan masuk tim inti, demi
mengalahkannya! Aku nggak mau ada yang mengaku-aku sebagai aku.
“Kita satu team kan? Kita harus bisa kalahin si Natasya itu!” kataku sambil tersenyum. Soffie
melongo melihat perubahan dalam diriku.
“Tapi bakalan susah, karena dia anak Melysha pasti bakalan banyak yang dukung dia masuk tim
inti. Lagian kamu kayak gini, gimana ya biar pandangan mereka berubah, dikiit aja biar kemampuan
kamu nggak keliatan meragukan.” Ia menopangkan dagu dengan kedua tangannya. Sekali lagi
PENAMPILAN.
“Apa aku harus merubah penampilan?” tanyaku pelan. Aku ragu untuk melakukan ini. Tapi
Soffie mengangguk membenarkan.
“kenapa sih? Gaya berpenampilan kamu di sekolah, sama di luar sekolah beda?” soffie
berdecak.
“Apa seekstrem itu?” aku berusaha terlihat bodoh. Ia mengangguk.
“Bodoh. Sebenarnya kamu cantik, tanpa kaca mata bulat tebal, rambut kepang dua, rok panjang
balapan sama kaos kakinya. Ckck.” Aku kembali memandangi Calvin yang tampak sangat lelah. Dan
pertarungan babak pertama untuk dapat masuk ke tim basket inti sudah selesai.
“Bentar ya, aku ke sana dulu.” Calvin melambaikan tangan padaku, aku berlari kecil
menghampirinya.
“Mau minum?” tawarku. Aku mengeluarkan botol minumku yang masih berisi lebih dari
setengahnya. Tanpa basa-basi ia langsung mengambil botol minumku dan meminumnya. Aku
tersenyum.
“Kamu jadi masuk dance?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Hahaha. Seorang dancer? Kayak gini?” ia menarik kepangku. Aku tahu ia hanya bercanda, tapi
menurutku, tindakannya sangat mengesalkan.
“Kenapa? Emangnya salah kalo dancer penampilannya kayak aku?” ia mengangguk.
“Jadi harusnya dancer itu kayak gimana?” tanyaku mencoba mengujinya.
“Kayak itu tuh.” Calvin mengalihkan pandangannya ke arah Soffie. Matanya bahkan terlihat
sangat berbeda saat ia menatap Soffie seperti itu. Calvin tersenyum sendiri.
Tiba-tiba aku merasa dadaku nyeri. Apa Calvin menyukai Soffie?
“Aku kayaknya benar-benar suka sama Soffie deh. Dia sempurna banget.” Ya, Soffie memang
sempurna. Dan tiba-tiba aku merasa kesal sendiri. Kenapa? Aku sendiri tidak tahu. Setidaknya aku tahu
bahwa aku tidak boleh melampiaskan kekesalan tak berdasarku pada Soffie. Karena kesempurnaannya.
“Aku balik dulu ya, bentar lagi aku juga ekskul dance.” Aku meninggalkan Calvin. Aku juga lupa
meminta botol minumku. Soffie memanggilku.
“Jadi, di ekskul ini, kamu bakal tetep kayak gini?” tanyanya gusar. Tentu saja tidak. Meskipun
aku takut dan ragu, aku tidak ingin benar-benar kelihatan bodoh dalam hal apapun.
“Aku bawa pakaian ganti. Kamu bawa?” ia tertawa dan menggandeng tanganku ke wc putri.
aku masuk di bilik no. 8, dan Soffie di no.7, sambil berganti pakaian, kami membicarakan banyak
hal. Dari hal yang tidak penting sampai ..
“Kamu suka cowok yang kayak gimana, sih Fie?” tanyaku iseng. Aku masih kesulitan melepas
kepangku dan menyisirnya. Rambutku kini agak kecokelatan dan juga bergelombang.
“Kayak gimana ya? Oh iya. Tau nggak sih, sampai sekarang aku masih kepikiran cowok yang foto
bareng sama kamu. Itu lho yang kamu jadiin background laptop kamu. Kamu kapan mau kenalin aku
sama dia?” tanya Soffie blak-blakan. Aku yang sedang memasangkan softlens, kaget dan tanganku
mencolok mataku sendiri.
“Aduuh..” mataku sebenarnya tak apa hanya saja kini terlihat agak memerah.
“kenapa? Kamu kenapa?” tanya Soffie. Dari nadanya kutangkap ada kekhawatiran di sana.
“nggak apa-apa kok!” kataku sambil memasang sebelah softlensku.