Register
Register merupakan ragam bahasa yang dipergunakan untuk maksud tertentu, sebagai kebalikan dari dialek sosial
atau regional ( yang bervariasi karena penuturnya) register ini dapat dibatasi menjadi lebih sempit dengan acuan
pada pokok ujaran, pada media atau pada tingkat keformalan (Harman dan Stork dalam Alwasilah 1993 : 53).
Register menurut Halliday (1994 :54) merupakan konsep semantik yang dapat didefinisikan sebagai suatu susunan
makna yang dihubungkan secara khusus dengan susunan tertentu dari medan, pelibat, dan sarana. Ungkapan
susunan makna register termasuk juga ungkapan dari ciri leksiko gramatis dan fonologis yang secara khusus
menyertai atau menyatakan makna- makna.
Register merupakan ragam bahasa berdasarkan pemakaianya, yaitu bahasa yang digunakan tergantung pada apa
yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatannya. Register mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial, yaitu proses
sosial yang merupakan proses macam- macam kegiatan sosial yang biasanya melibatkan orang. Register
merupakan bentuk makna khususnya dihubungkan dengan konteks sosial tertentu, yang di dalamnya banyak
kegiatan dan sedikit percakapan, yang kadang- kadang sering disebut dengan bahasa tindakan.
Dengan kata lain, register dipahami sebagai konsep semantik yaitu sebagai susunan makna yang dikaitkan secara
khusus dengan susunan situasi tertentu. Konsep situasi menurut Halliday mengacu pada tiga hal, yaitu (1) medan
(field), (2) pelibat (tenor), (3) sarana (mode). Medan mengacu pada hal yang sedang terjadi atau pada saat tindakkan
berlangsung, apa sesungguhnya yang sedang disebutkan oleh para pelibat (bahasa termasuk sebagai unsur pokok
tertentu). Pelibat menunjukan pada orang yang turut mengambil bagian, sifat para pelibat, kedudukan dan peran
[Link] menunjuk pada peranan yang diambil bahasa dalam situasi tertentu, seperti bersifat membunjuk,
menjelaskan, mendidik, dan sebagainya.
Lebih lanjut dalam sosiolinguistik dijelaskan konsep register secara lebih sempit, yakni mengacu pada pemakaian
kosakata khusus yang berkaitan dengan kelompok pekerjaan yang berbeda. Di samping itu register juga merupakan
variasi bahasa yang berbeda satu dengan lainnya karena kekhasan penggunannya. Berdasarkan pada situasi
pemakaiannya Chaer (1995 : 90) menyatakan bahwa register merupakan variasi bahasa menurut pemakaiannya
yang digunakan oleh sekelompok orang atau masyarakat tertentu sesuai dengan profesi dan perhatian yang sama.
Ferguson (1971) berpendapat register adalah situasi komunikasi yang terjadi berulang secara teratur dalam suatu
masyarakat (yang berkenaan dengan partisipan, tempat, fungsi- fungsi komunikatif, dan seterusnya) sepanjang
waktu cenderung akan berkembang menandai struktur bahasa dan pemakaian bahasa yang berbeda dengan
pemakaian bahasa pada situasi komunikasi yang lain.
Register sering dihubungkan dengan masalah dialek jika dialek berkenaan dengan bahasa yang digunakan oleh
siapa, di mana, dan kapan, maka register berkenaan dengan bahasa itu dugunakan untuk kegiatan apa. Masyarakat
di daerah tertentu memiliki dialek yang berbeda dengan daerah lain. Meskipun demikian, ada berbagai macam
register yang [Link] tersebut disebabkan kegiatan masyarakat yang bermacam-macam.
Alwasilah (1985:22) mengatakan bahwa penggunaan bahasa yang khas dalam linguistik disebut linguistik. Adi
Sumartono (1993:24) mengatakan bahwa register merupakan perangkat makna pengguna bahasa dengan makna
dan tujuan yang relevan dengan fungsi, bahasa secara khusus. Fungsi tersebut meliputi kata- kata, penggunaan
istilah dan idiom-idiom, pilihan struktur, ragam lisan atau tulisan-tulisan dan gaya wacana.
Pengertian register menurut wilkins (dalam pateda, 1990:60) bahwa register adalah ragam pemakaian bahasa yang
dihubungkan dengan pekerjaan seseorang. Register dibedakan dalam jenis-jenis berikut:
1. Oratorical atau frozen (baku); yaitu register yang digunakan oleh pembicara yang profesional karena pola dan
kaidahnya sudah mantap, biasanya digunakan pada situasi yang khidmad, seperti pada mantra, undang-undang,
kitab suci, dan lain sebagainya.
2. Deliberative atau formal; yaitu register yang digunkan pada situasi resmi sesuai dengan tujuan untuk memperluas
pembicaraan yang disengaja, misalnya pidato kenegaraan, peminangan, dan sebagainya.
3. Consultative atau usaha; yaitu register yang digunakan dalam transaksi kenegaraan , peminanagan, dan
sebagainya.
4. Casual atau santai; yaitu register yang digunakan dalam situasi tidak resmi. Ragam ini banyak menggunakan
allegro, yaitu bentuk kata yang diperpendek.
5. Intimate atau intim; yaitu register yang digunakan pada situasi antar anggota keluarga.
Halliday (1994 :25) mengemukakan bahwa register adalah bahasa yang dipergunakan saat ini. Tergantung pada apa
saja yang sedang dikerjakan. Selain itu, sifat kegiatannya mencerminkan aspek lain dari tingkat social yang biasanya
melibatkan orang.
Berdasarkan uraian tentang register di atas, dapat disimpulkan bahwa, register adalah ragam bahasa menurut
pemakaianya, yaitu bahasa yang digunakan tergantung pada apa yang sedang dikerjakan dan sifat kegiatannya.
Register mencerminkan aspek lain dari tingkat sosial, yaitu proses sosial yang merupakan macam- macam kegiatan
sosial yang selalu melibatkan orang.
Register dibagi menjadi dua bentuk yaitu register selingkung terbatas dan register selingkung terbuka. Register
selingkung terbatas maknanya sedikit, sifatnya terbatas jumlah kata dan maknanya terbatas sehingga beritanya
terbatas dan tertentu, register ini merupakan yang tidakk mempunyai tempat secara konkrit dalam masyarakat
maupun dalam tataran individu dan kreativitas, karena sudah jarang dipakai.
Register selingkung terbuka mempunyai corak- corak makna yang berhubungan dengan register, bahasa yang
digunakan dalam register yang lebih terbuka adalah bahasa tidak resmi atau percakapan spontan. Namun, register
ini tidak ada situasi maknanya ada tingkat tertentu tidak ditujukan secara langsung selalu ada ciri yang dijelaskan (
Halliday 1994 : 53-55).
Halliday (dalam Nababan, 1985 :42) menyebutkan bahwa fungsi register antara lain:
1. Fungsi Instrumental yaitu bahasa yang berorientasi pada pendengar atau lawan tutur. Bahasa yang digunakan
untuk mengatur tingkah laku pendengar sehingga lawan tutur mau menuruti atau mengikuti apa yang diharapkan
penutur atau penulis. Hal ini dapat dilakukan oleh penutur atau penulis dengan menggunakan ungkapan- ungkapan
yang menyatakan permintaan, himbauan, atau rayuan.
2. Fungsi interaksi yaitu fungsi bahasa yang berorientasi pada kontak antara pihak yang sedang berkomunikasi.
Register dalam hal ini berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan serta memperlihatkan perasaan
bersahabat atau solidaritas sosial. Ungkapan-ungkapan yang digunakan biasanya sudah berpola tetap, seperti pada
waktu berjumpa, berkenalan, menanyakan keadaan, meminta pamit, dan lain sebagainya.
3. Fungsi kepribadian atau personal yaitu fungsi bahasa yang berorientasi pada penutur. Bahasa digunakan untuk
menyatukan hal-hal yang bersifat pribadi. Dalam hal-hal yang berkaitan dengan dirinya.
4. Fungsi pemecah masalah atau heuristik yaitu fungsi pemakaian bahasa yang terdapat dalam ungkapan yang
meminta, menurut, atau menyatakan suatu jawaban terhadap masalah atau persoalan. Bahasa yang digunakan
biasanya sebagai alat untuk mempelajari.
5. Fungsi hayal atau imajinasi yaitu fungsi pemakaian bahasa yang berorientasi pada amanat atau maksud yang
akan disampaikan. Bahasa dalam fungsi ini digunakan untuk mengungkapkan dan menyampaikan pikiran atau
gagasan dan perasaan penutur atau penulis.
6. Fungsi informasi yaitu pemakaian bahasa yang berfungsi sebagai alat untuk memberi suatu berita atau informasi
supaya dapat diketahui orang lain.
Berdasarkan lima kategori variasi bahasa di atas, register adalah variasi yang dewasa ini banyak ditemui dalam
komunikasi lisan dan tulis namun, masih kurang diteliti. Penelitian ini fokus pada variasi berupa register yang ada
dalam artikel media cetak seperti koran dan tabloid yang dianalisis dalam perspektif sosiolinguistik. Hasil penelitian
ini akan memberikan gambaran tentang penggunaan register dalam bahasa tulis khususnya dalam artikel-artikel
publik dalam koran. Selain itu, akan menggambarkan pula kondisi sosio-linguitik dari penulis dan pembaca koran
tersebut. Ini sangat penting karena melalui hasil yang diperoleh akan dijadikan referensi pengajaran bahasa yang
baik dan benar dalam tulisan ilmiah maupun non ilmiah.