SATUAN ACARA PEMBELAJARAN
TERAPI BERMAIN
DI RUANG MELATI 4 RSUP Dr. SARDJITO
Tugas Kelompok
Stase Praktik Keperawatan Anak
Disusun Oleh:
Nurullita Hidayati. 19/451311/KU/21828
Rizki Dila Arbiyanti 19/451315/KU/21832
Silvi Alifah Hilmida 19/451318/KU/21835
Agnesta Veiga F.H 19/451262/KU/21779
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEPERAWATAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2019
JUDUL : Tebak Gambar dan Warna
TUJUAN : untuk melatih kreativitas dan menghibur pasien anak usia toodler (1-3 tahun)
TEMPAT : ruang bermain Melati 3 RSUP DR. Sardjito
WAKTU : Jumat, 6 Desember 2019 pukul 10.00 – 11.30 WIB
SASARAN
Peserta : pasien anak usia toodler (1-3 tahun)
Jumlah : 3 anak
METODE : demonstrasi
MEDIA : mainan anak, kertas bergambar, spidol warna
PEMBAGIAN KELOMPOK :
Ketua : Rizki Dila Arbiyanti
Pemandu : Nurullita Hidayati
Fasilitator : Agnesta Veiga F.H
Observer : Silvi Alifah Hilmida
RENCANA PELAKSANAAN
A. Persiapan
Persiapan yang dilakukan untuk terapi bermain adalah dimulai dengan mengidentifikasi macam-
macam rentang usia pasien di baruang Melati 4. Kemudian dari seluruh pasien yang ada di ruang
perawatan, kami memilih pasien usia toodler (1-3 tahun) karena pasien dengan rentang usia tersebut
paling senang bermain dan sangat kooperatif, serta pasien yang paling memungkinkan untuk
melakukan terapi bermain di ruang Melati 4.
Setelah menentukan sasaran, kami mulai menyusun acara dan jenis permainan yang akan kami
lakukan bersama dengan pasien. Kami memilih permainan tebak gambar untuk melatih kreativitas
dan sebagai terapi kognitif untuk menghibur pasien selama hospitalisasi di rumah sakit.
Adapun alat peraga yang akan kami gunakan adalah mainan anak, kertas bergambar, dan spidol
warna.
B. Proses
no Pemateri Respon peserta Waktu
1 Pembukaan Menjawab 5 menit
A. Salam pembukaan salam
B. Perkenalan pemateri Memperhatikan
C. Menjelaskan tujuan penjelasan
D. Kontrak waktu dengan cermat
Berpartisipasi
aktif
2. Kegiatan inti 20 menit
A. Memperkenalkan nama Memperhatikan
permainan dan cara permainan penjelasan
B. Anak diminta menebak gambar dengan cermat
dan menunjuk mainan yang Berpartisipasi
tersedia aktif dalam
C. Anak dianjurkan untuk kegiatan
menebak gambar yang akan
ditunjukkan
3 Penutup 5 menit
A. Memberikan reinforcement Mendengarkan
positif kepada anak Memperhatikan
B. Menyimpulkan kegiatan yang penjelasan
sudah dilaksanakan dengan cermat
C. Mengakhiri kegiatan Menjawab
salam
C. evaluasi
1. Evaluasi peserta
Kami memastikan bahwa ruangan aman, nyaman dan kondusif untuk terapi bermain
2. Evaluasi isi
a. pasien dapat berperan aktif selama permainan berlangsung
b. pasien dapat mengembangkan motorik halus dengan menebak gambar
c. pasien dan pendamping dapat mengungkapkan manfaat yang dirasakan dengan
aktivitas bermain
MATERI SAP
“Terapi Bermain Anak Usia 1-3 Tahun: Tebak Gambar dan Warna”
1. Pengertian Terapi Bermain
Bermain menurut Hughes, seorang ahli perkembangan anak, mengatakan bahwa permainan
merupakan hal yang berbeda dengan belajar dan bekerja, suatu kegiatan bermain harus memiliki
lima unsur yaitu, mempunyai tujuan untuk mendapatkan kepuasan, memilih dengan bebas atas
kehendak sendiri, menyenangkan dan dapat dinikmati, meningkatkan daya imajinatif dan
kreativitas, serta melakukannya secara aktif (Huges, 1999 dalam Ismail, 2006).
Bermain merupakan kegiatan atau simulasi yang sangat tepat untuk anak. Bermain dapat
meningkatkan daya pikir anak untuk mendayagunakan aspek emosional, sosial serta fisiknya serta
dapat meningkatkan kemampuan fisik, pengalaman, dan pengetahuan serta keseimbangan mental
anak. Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan kegiatan yang
dilakukan anak untuk mengatasi berbagai macam perasaan yang tidak menyenangkan dalam
dirinya. Dengan bermain anak akan mendapatkan kegembiraan dan kepuasan (Saputro et al,
2017).
Terapi bermain merupakan terapi yang diberikan kepada anak untuk menghadapi ketakutan,
kecemasan dan mengenal lingkungan, belajar mengenai perawatan dan prosedur yang dilakukan
serta staf rumah sakit yang ada. Menurut Vanfleet et al (2010), terapi bermain merupakan suatu
bentuk permainan anak-anak, di mana mereka dapat berhubungan dengan orang lain, saling
mengenal, sehingga dapat mengungkapkan perasaannya sesuai dengan kebutuhan mereka. Terapi
bermain didefinisikan sebagai penggunaan sistematis model teoritis untuk membangun proses
antar pribadi untuk membantu seseorang mencegah atau mengatasi kesulitan psikososial serta
mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Asosiasi Terapi Bermain, 2008) dalam
Homeyer, 2008).
Dapat disimpulkan bahwa terapi bermain merupakan salah satu cara yang efektif untuk
mengatasi stress pada anak ketika dirawat di rumah sakit, karena hospitalisasi menimbulkan krisis
dalam kehidupan anak, sehingga dengan bermain mereka dapat mengeluarkan rasa takut dan
cemas yang mereka alami.
2. Tujuan Terapi Bermain
Wong et al (2009) menyebutkan bahwa bermain sangat penting bagi mental, emosional, dan
kesejahteraan sosial anak. Seperti kebutuhan perkembangan mereka, kebutuhan bermain tidak
berhenti pada saat anak-anak sakit atau di rumah sakit. Sebaliknya, bermain di rumah sakit
memberikan manfaat utama yaitu meminimalkan munculnya masalah perkembangan anak, selain
itu tujuan terapi bermain adalah untuk menciptakan suasana aman bagi anak-anak untuk
mengekspresikan diri, memahami bagaimana sesuatu dapat terjadi, mempelajari aturan sosial dan
mengatasi masalah mereka serta memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berekspresi dan
mencoba sesuatu yang baru.
3. Fungsi Terapi Bermain
Dunia anak tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bermain. Diharapkan dengan bermain, anak
akan mendapatkan stimulus yang mencukupi agar dapat berkembang secara optimal. Adapun
fungsi bermain pada anak yaitu (Saputro et al, 2017):
1. Perkembangan Sensoris-motorik
Aktivitas sensoris-motorik merupakan komponen terbesar yang digunakan anak dan
bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi otot.
2. Perkembangan Intelektual
Anak melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di
lingkungan sekitarnya, terutama mengenal warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan
membedakan objek. Semakin sering anak melakukan eksplorasi, akan melatih
kemampuan intelektualnya.
3. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan lingkungannya.
Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan menerima. Bermain dengan
orang lain akan membantu anak untuk mengembangkan hubungan sosial dan belajar
memecahkan dari hubungan tersebut.
4. Perkembangan Kreativitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan mewujudkannya ke dalam
bentuk objek dan atau kegiatan yang dilakukannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan
belajar dan mencoba untuk merealisasikan ide-idenya.
5. Perkembangan Kesadaran Diri
Anak akan belajar mengenal kemampuannya dan membandingkannya dengan orang lain
dan menguji kemampuannya dengan mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak
tingkah lakunya terhadap orang lain. Peran orang tua sangat penting untuk menanamkan
nilai moral dan etika sehingga anak dapat memahami dampak positif dan negatif dari
perilakunya terhadap orang lain.
6. Bermain Sebagai Terapi
Pada saat anak dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai perasaan yang
sangat tidak menyenangkan seperti: marah, takut, cemas, sedih dan nyeri. Perasaan
tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang dialami anak karena menghadapi
beberapa stressor yang ada di lingkungan rumah sakit. Dengan melakukan permainan anak
akan terlepas dari ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan
permainan, anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi).
1. Prinsip terapi bermain di Rumah Sakit
Agar anak dapat lebih efektif dalam bermain di rumah sakit, perlu diperhatikan prinsip-prinsip
sebagai berikut (Saputro & Fazrin, 2017).
a. Permainan tidak banyak menggunakan energi, waktu bermain lebih singkat untuk menghindari
kelelahan dan alat-alat permainannya lebih sederhana.
Menurut Vanfleet et al. (2010), waktu yang diperlukan untuk terapi bermain pada anak yang
dirawat di rumah sakit adalah 15-20 menit. Waktu 15-20 menit dapat membuat kedekatan antara
orangtua dan anak serta tidak menyebabkan anak kelelahan akibat bermain. Hal ini berbeda dengan
Adriana (2011) yang menyatakan bahwa waktu untuk terapi bermain 30-35 menit yang terdiri dari
tahap persiapan 5 menit, tahap pembukaan 5 menit, tahap kegiatan 20 menit dan tahap penutup 5
menit. Lama pemberian terapi bermain bisa bervariasi, idealnya dilakukan 15-30 menit dalam
sehari selama 2-3 hari. Pelaksanaan terapi ini dapat memberikan mekanisme koping dan
menurunkan kecemasan pada anak.
b. Mainan harus relatif aman dan terhindar dari infeksi silang.
Permainan harus memperhatikan keamanan dan kenyamanan. Anak kecil perlu rasa nyaman
dan yakin terhadap benda-benda yang dikenalnya, seperti boneka yang dipeluk anak untuk
memberi rasa nyaman dan dibawa ke tempat tidur di malam hari, mainan tidak membuat anak
tersedak, tidak mengandung bahan berbahaya, tidak tajam, tidak membuat anak terjatuh, kuat dan
tahan lama serta ukurannya menyesuaikan usia dan kekuatan anak
c. Sesuai dengan kelompok usia.
Pada rumah sakit yang mempunyai tempat bermain, hendaknya perlu dibuatkan jadwal dan
dikelompokkan sesuai usia karena kebutuhan bermain berlainan antara usia yang lebih rendah dan
yang lebih tinggi.
d. Tidak bertentangan dengan terapi
Terapi bermain harus memperhatikan kondisi anak. Bila program terapi mengharuskan anak
harus istirahat, maka aktivitas bermain hendaknya dilakukan ditempat tidur. Permainan tidak boleh
bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan anak. Apabila anak harus tirah baring,
harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain
dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruang rawat.
e. Perlu keterlibatan orangtua dan keluarga
Menurut Wong (2009), keterlibatan orangtua dalam terapi adalah sangat penting, hal ini
disebabkan karena orangtua mempunyai kewajiban untuk tetap melangsungkan upaya stimulasi
tumbuh kembang pada anak walaupun sedang dirawat si rumah sakit. Anak yang dirawat di rumah
sakit seharusnya tidak dibiarkan sendiri. Keterlibatan orangtua dalam perawatan anak di rumah
sakit diharapkan dapat mengurangi dampak hospitalisasi. Keterlibatan orangtua dan anggota
keluarga tidak hanya mendorong perkembangan kemampuan dan ketrampilan sosial anak, namun
juga akan memberikan dukungan bagi perkembangan emosi positif, kepribadian yang adekuat
serta kepedulian terhadap orang lain. Kondisi ini juga dapat membangun kesadaran buat anggota
keluarga lain untuk dapat menerima kondisi anak sebagaimana adanya. Hal ini sesuai dengan
penelitian Bratton et al. (2005) keterlibatan orangtua dalam pelaksanaan terapi bermain
memberikan efek yang lebih besar dibandingkan pelaksanaan terapi bermain yang diberikan oleh
seorang profesional kesehatan mental. Perawat hanya bertindak sebagai fasilitator sehingga
apabila permainan dilakukan oleh perawat, orang tua harus terlibat secara aktif dan mendampingi
anak mulai dari awal permainan sampai mengevaluasi hasil permainan bersama dengan perawat
dan orang tua anak lainnya.
4. Terapi bermain menurut usia
Menurut Saputro & Fazrin (2017), terdapat berbagai macam terapi bermain yang dapat
diterapkan kepada anak menurut usia, yaitu:
a. Permainan anak usia 0-1 tahun
Tujuan bermain pada usia 0 – 1 tahun adalah menstimulasi perkembangan anak,
mengalihkan perhatian anak, mengalihkan nyeri dan ketidaknyamanan yang dirasakan.
Pemilihan mainan anak harus aman, bersih dan selalu dalam pemantauan orang tua. Anak usia
0 – 1 tahun mengalami perkembangan oral (mulutnya) dimana kepuasan ada dalam mulutnya,
jadi anak cenderung memainkan mulut dan suka memasukkan semua benda kedalam
mulutnya. Permainan permainan yang dapat dilakukan pada anak usia 0 -1 tahun meliputi:
1) Permainan kerincing
Permainan ini menggunakan penglihatan dan pendengaran anak yang berfungsi untuk
mengalihkan perhatian anak serta melatih anak untuk menemukan sumber bunyi yang
berasal dari kerincing.
2) Sentuhan
Permainan ini menggunakan benda-benda yang akan disentuhkan ke anak, baik kekulit
anak maupun ke telapak tangan anak. Permainan ini bertujuan untuk mengenalkan benda
dengan sensasi sentuhan dan mengembangkan kesadaran terhadap benda-benda
disekitarnya.
3) Mengamati mainan
Permainan ini ditujukan untuk perhatian anak dengan menggunakan benda-benda yang
bergerak.
4) Meraih mainan
Permainan ini melatih motorik kasar anak dan membuat anak berusaha meraih apa yang
disukainya.
5) Bermain bunyi-bunyian
Permainan ini ditujuan untu anak usia 6 bulan lebih. Pada permainan ini menggunakan
alat musik mainan, baik yang ditiup atau dipukul yang dapat mengeluarkan suara.
6) Mencari mainan
Pada permainan ini ditujukan untu melatih toleransi anak terhadap adanya kehilangan,
agar anak bisa beradaptasi jika sesuatu benda hilang agar tenang dan berfikir cara
mendapatkannya.
7) Menyusun donat warna warni
Permainan ini menggunakan mainan donat plastik yang bawahnya besar dan semakin
keatas semakin mengecil. Permainan ini berfungsi untuk melatih koordinasi motorik halus
anak yang menghubungkan mata dengan otot kecil tubuh.
8) Mengenal bagian tubuh
Permainan ini mengenalkan bagian tubuh anak dan nama-namanya, anak hanya perlu
memperhatikan apa yang dilakukan oleh fasilitator dan akan dilanjutkan oleh keluarga anak.
b. Permainan anak usia 1-3 tahun
1) Arsitek Menara
Bahan yang dibutuhkan adalah kotak/kubus yang berwarna-warni dengan ukuran yang
sama, kemudian anak diminta untuk menyusun kotak atau kubus ke atas. Penyusunan
kubus/kotak diupayakan yang sama warnanya. Selalu beri pujian setiap kegiatan anak.
2) Tebak Gambar
Permainan ini membutuhkan gambar yang sudah tidak asing bagi anak seperti binatang,
buah-buahan, jenis kendaraan atau gambar profesi/pekerjaan. Permainan dimulai dengan
menunjukkan gambar yang telah ditentukan sebelumnya kemudian ajak anak untuk
menebak gambar tersebut, lakukan beberapa kali. Jika anak tidak mengetahui gambar yang
dimaksud, sebaiknya petugas memberitahu dan menanyakan kembali ke anak setelah
berpindah ke gambar lain untuk melatih ingatan anak.
3) Menyusun Puzzle
Permainan ini membutuhkan pendampingan petugas dan diupayakan puzzle yang lebih
besar agar anak mudah menyusun dan memegangnya. Pilih gambar puzzle yang tidak asing
bagi anak, sebelum gambar puzzle dipisah pisah, tunjukkan keanak gambar puzzle yang
dimaksud, kemudian ajak dan dampingi anak untuk menyusun puzzle. Beri contoh
bagaimana cara menyusun puzzle, seperti dimulai dipojok dahulu atau bagian samping
terlebih dahulu. Hal yang perlu diperhatikan dalam puzzle ini adalah jumlah puzzle yang
dipasang/susun tidak lebih dari 6 potongan.
c. Permainan anak usia 4-6 tahun
1) Bola keranjang
Permainan ini memerlukan bola dan keranjang sampah plastik (bisa juga kotak
kosong). Letakkan kotak/keranjang plastik sejauh 2 meter dari anak, kemudian minta anak
melempar bola kedalam kotak/keranjang sampah plastik, jika ada bola yang tercecer atau
tidak masuk, dibiarkan saja hingga bola sudah habis lalu ajak anak untuk mengambil bola
yang tercecer tersebut dan memasukkannya kedalam keranjang dari tempat bola itu
jatuh/tercecer.
2) Bermain dokter-dokteran
Permainan ini sangat baik untuk mengenalkan situasi lingkungan di rumah sakit dengan
berperan sebagai profesi kesehatan. Dalam permainan ini ajak anak untuk bermain drama
yaitu anak sebagai dokternya sedangkan pasiennya adalah boneka.
3) Bermain abjad
Permainan ini membutuhkan pasangan minimal 2 anak, permainan ini dengan
menggunakan jari tangan yang diletakkan dilantai kemudian jari tersebut dihitung mulai A
hingga Z. Jumlah jari terserah pada anak dan jari yang tidak digunakan dapat ditekuk.
Huruf yang tersebut terakhir akan dicari nama binatang/nama buahnya sesuai dengan huruf
depannya
4) Boneka tangan
Permainan ini dilakukan dengan menggunakan boneka tangan atau bisa juga boneka
jari. Dalam kegiatan ini petugas bercerita dengan menggunakan boneka tangan.
d. Permainan anak usia 6-12 tahun
1) Melipat kertas origami
Permainan origami untuk melatih motorik halus anak, serta mengembangkan imajinasi
anak. permainan ini dilakukan dengan melipat kertas membentuk topi, kodok, ikan, bunga,
burung dan pesawat.
2) Mewarnai gambar
Permainan ini juga melatih motorik halus anak dan meningkatkan kreatifitas anak.
Sediakan kertas bergambar dan krayon/spidol warna, kemudian berikan kertas bergambar
tersebut kepada anak dan minta anak untuk mewarnai gambar dengan warna yang sesuai,
ingatkan anak untuk mewarnai didalam garis.
3) Menyusun puzzle
Siapkan gambar puzzle yang akan disusun anak, upayakan pemilihan gambar puzzle
yang tidak asing bagi anak-anak. Pisahkan terlebih dahulu puzzlenya kemudian minta anak
untuk menyusun kembali gambar tersebut.
4) Menggambar bebas
Sediakan kertas kosong dan pensil atau krayon/spidol warna, lalu berikan kepada anak
dan minta anak menggambar diatas kertas tersebut. Kemudian minta anak menceritakan
gambar yang telah dibuatnya.
5) Bercerita
Permainan ini ditujukan untuk anak usia 10-12 tahun. Permainan ini dimulai dengan
memberi kesempatan kepada anak untuk membaca sebuah cerita/dongeng (cerita/dongeng
bisa kita siapkan sebelumnya dalam majalah atau buku cerita). Setelah itu minta anak
menceritakan kembali apa yang telah dibacanya.
6) Meniup balon
Permainan ini sangat baik sekali untuk anak-anak, selain untuk bermain juga melatih
pernafasan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Adriana (2011). Tumbuh Kembang & Terapi Bermain Pada Anak. Salemba Medika: Jakarta
Bratton, S. C., Ray, D., & Rhine, T. (2005). The Efficacy of Play Therapy With Children: A Meta-
Analytic Review of Treatment Outcomes. Professional Psychology: Research and Practice , 36, 376-
390
Homeyer, L.E., & Morisso, M.O. (2008). Play Therapy Practice, Issues, and Trends. The Board of
Trustees of the University of Illinois.
Ismail, A. (2006). Education Games menjadi Cerdas dan Ceria dengan Permainan Edukatif.
Yogyakarta: Pilar Media.
Saputro, H., & Fazrin, I. (2017). Anak Sakit Wajib Bermain di Rumah Sakit: Penerapan Terapi
Bermain Anak Sakit; Proses, Manfaat dan Pelaksanaannya. Ponorogo: Forum Ilmiah Kesehatan
(FORIKES).
Saputro, H., & Fazrin, I. (2017). Anak Sakit Wajib Bermain di Rumah Sakit: Penerapan Terapi
Bermain Anak Sakit; Proses, Manfaat dan Pelaksanaannya. Ponorogo: Forum Ilmiah Kesehatan
(FORIKES).
Vanfleet, R., Sywulak, E. A., & Sniscak, C. C. (2010). Child-Centered Play Therapy. New York: A
Division of Guilford Publication, Inc
Vanfleet, R., Sywulak, E.A., & Sniscak, C.C. (2010). Child-Centered Play Therapy. New York: A
Division of Guilford Publication, Inc.
Wong, D. L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (Vol. Volume 1). Jakarta: EGC
Wong, D.L. (2009). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik (Vol. Volume 1). Jakarta: EGC.