I.
Pendahuluan
Keamanan menjadi salah satu yang dibutuhkan saat ini. Dengan perkembangan teknologi,
banyak sarana yang dirancang secara otomatis untuk membantu manusia dalam meningkatkan
keamanan dilingkungannya. Salah satu yang sering terjadi pada lingkungan adalah kebakaran.
Berdasarkan hal di atas maka dirancanglah alat untuk mendeteksi adanya api yang
dikontrol menggunakan Arduino Uno. Diharapkan dengan adanya alat pendeteksi api ini, dapat
mempermudah kita untuk menghindarkan ruangan khusus agar ruangan tersebut terhindar dari
hal-hal yang dapat membahayakan penghuninya.
II. Landasan Teori
Untuk mengetahui berbagai komponen dan peralatan yang dibutuhkan, maka disusunlah tinjauan
pustaka sebagai acuan dalam merancang dan membuat aplikasi menggunakan Arduino ini.
1. Sensor Api (Flame Sensor)
Flame sensor adalah merupakan salah satu alat instrument berupa sensor yang dapat
mendeteksi nilai intensitas dan frekuensi api dalam suatu proses pembakaran, dalam hal
ini pembakaran dalam boiler pada pembangkit listrik tenaga uap. Flame sensor bisa
mendeteksi kedua hal tersebut dikarenakan oleh komponen-komponen pendukung dari
flame sensor tersebut. Prinsip kerja flame sensor adalah dimulai dari bahwa api akan bisa
dideteksi oleh keberadaan spectrum cahaya infra red maupun ultraviolet, dan dari situ
semacam sensor dalam flame sensor akan bekerja untuk membedakan spektrum cahaya
yang terdapat pada api yang terdeteksi tersebut. Flame sensor ini dapat mendeteksi nyala
api dengan panjang gelombang 760 nm ~ 1100 [Link] nyala api ini mempunyai sudut
pembacaan 60 derajat, dan beroperasi pada suhu -25°C - +85°C. Dan tentu saja untuk
Anda perhatikan, bahwa jarak pembacaan antara sensor dan objek yang dideteksi tidak
boleh terlalu dekat, untuk menghindari kerusakan sensor.
Spesifikasi sensor:
Mendeteksi api, dengan mendeteksi sumber cahaya dan sensitivitas cahaya dengan panjang
gelombang 940 nm.
Antarmuka analog.
Tegangan: +5 V.
Jangkauan deteksi: 20 cm (4,8V) – 100 cm(1V).
Antarmuka dengan mikrokontroler dan rangkaian logika.
Berikut ini adalah luaran nilai analog dari sensor api:
Analog
Tidak mendeteksi Tinggi (lebih dari
2,5V)
Mendeteksi Rendah (kurang dari
2V)
2. XBee
XBee merupakan modul RF yang didesain dengan protokol standar IEEE 802.15.4 dan
sesuai dengan kebutuhan sederhana untuk jaringan tanpa kabel. Kelebihan utama yang
menjadikan XBee sebagai komunikasi serial nirkabel karena XBee memiliki konsumsi
daya yang rendah yaitu hanya 3,3 V dan beroperasi pada rentang frekuensi 2,4 GHz.
Dalam melakukan komunikasi dengan perangkat lainnya Xbee mampu melakukan
komunikasi dengan dua macam komunikasi yang berbeda, tergantung dari perangkat apa
yang dihubungkan dengan modul Xbee. Komunikasi dapat dilakukan dengan
menggunakan jaringan tanpa kabel dan komunikasi secara serial.
Komunikasi serial adalah salah satu metode komunikasi data di mana hanya satu bit data
yang dikirimkan melalui seuntai kabel pada suatu waktu tertentu. Pada dasarnya
komunikasi serial adalah kasus khusus komunikasi paralel dengan nilai n = 1, atau
dengan kata lain adalah suatu bentuk komunikasi paralel dengan jumlah kabel hanya satu
dan hanya mengirimkan satu bit data secara simultan. Hal ini dapat disandingkan dengan
komunikasi paralel yang sesungguhnya di mana n-bit data dikirimkan bersamaan, dengan
nilai umumnya 8 ≤ n ≤ 128. Untuk komunikasi serial tersinkron, lebar pita setara dengan
frekuensi jalur.
3. Arduino Uno
Arduino merupakan modul atau kit mikrokontroler yang bersifat sumber terbuka baik
piranti keras maupun piranti lunaknya. Pengertian awam, Arduino merupakan komputer
kecil yang dapat di program untuk memproses masukan dan luaran antara modul itu
sendiri dengan komponen eksternal yang dihubungkan dengannya. Arduino memiliki
kompilator program tersendiri menggunakan bahasa C++ yang dilengkapi dengan
program pustaka yang memudahkan para pengguna untuk merancang suatu program.
Perangkat kerasnya terdiri dari pengendali yang memiliki desain sederhana dengan Atmel
AVR sebagai pengolah utama dan pintu masukan serta luaran yang langsung terpasang
pada papan utamanya.
Beberapa macam jenis Arduino dijual dipasaran, salah satunya Arduino Uno dengan
tipe terbaru yaitu Arduino Uno R3. Modul ini memiliki 14 pin masukan/luaran (yang
mana 6 dapat digunakan sebagai PWM output), 6 analog input, keramik resonator
16MHz, koneksi USB, power jack, header ICSP, dan tombol reset, memuat semua yang
dibutuhkan untuk mendukung mikrokontroler. Arduino R3 dapat dihubungkan langsung
ke komputer dengan kabel USB atau dengan mencatu dengan catu daya.
Gambar. Arduino Uno
Fitur-fitur yang dimiliki oleh Arduino Uno R3 ditunjukkan dibawah ini.
• Mikrokontroler : ATmega328
• Kaki I/O digital : 14 (6 diantaranya adalah PWM)
• Kaki I/O analog : 6
• Flash Memory : 32 KB (8 KB digunakan untuk bootloader)
• SRAM : 2 KB
• EEPROM : 1 KB
• Tegangan kerja : 5 volt
• Tegangan masukan : 7 – 12 volt
• Arus DC pada kaki I/O : 40 mA
Arduino Uno R3 dapat diaktifkan melalui koneksi USB atau dengan catu daya eksternal.
Sumber listrik dipilih secara otomatis. Daya eksternal (non-USB) dapat menggunakan
adaptor AC-DC atau baterai. Arduino ini dapat beroperasi pada catu tegangan eksternal
dari 6 Volt sampai 20 Volt. Rentang tegangan yang dianjurkan adalah 7 sampai 12
Volt.
Masing-masing dari 14 kaki digital pada Arduino Uno R3 dapat digunakan sebagai
masukan atau luaran, menggunakan fungsi pinMode (), digitalWrite (), dan
digitalRead(). Mereka beroperasi pada tegangan 5 Volt. Setiap kaki dapat memberikan
atau menerima maksimum 40 mA dan memiliki resistor pull-up internal (terputus secara
alami) sebesar 20-50 KOhms. Selain itu, beberapa kaki memiliki fungsi khusus:
4. Perancangan Alat
a. Perangkat Keras dan Rangkaian Elektronika
Adapun sistem yang digunakan yaitu :
Sensor api (flame sensor)
XBee sebagai pengirim data
Arduino Uno sebagai pengendali semua perangkat
Rangkaian PCB untuk masukan
Rangkaian PCB untuk luaran (XBee).
b. Blok Diagram Hubungan Komponen Utama
Blok diagram aplikasi Arduino Uno menggunakan masukan sensor api, asap, dan
karbon monoksida dengan luaran XBeedapat dilihat pada gambar dibawah ini :
c. Melakukan PengaturanKonfigurasi pada XBee
Sebelum menggunakan XBee terlebih dahulu harus dikonfigurasi. Berikut ini adalah
beberapa langkah yang dilakukan agar XBee pada Pemancar dan XBee pada
penerima dapat saling bertukar data.
Hubungkan XBee ke PC/laptop dengan menggunakan XBee adapter.
Jalankan program X-CTU yang telah diinstal sebelumnya.
Pada tampilan X-CTU, pilih COM port yang digunakan oleh XBee. Untuk mengetahui
COM port yang digunakan XBee buka device manager pada PC/laptop dengan cara klik
kanan pada computer lalu pilih Manage kemudian Device Manager. Pilih tanda panah
pada bagian Ports (COM & LPT) dan lihat usb port yang aktif.
Setelah itu lakukan pengaturan baudrate, flow control, data bits, parity, dan stop bits.
Kemudian tekan tombol “Test Query”.
Jika koneksi antara X-CTU dengan XBee gagal, maka akan muncul sebuah pesan
kesalahan dan jika koneksi berhasil, maka akan tampil modem type dan firmware version
dari XBee yang sedang digunakan.
Setelah koneksi berhasil, pilih tab Modem Configuration untuk mengkonfigurasi
parameter-parameter yang diperlukan.
Tekan tombol “Read”, untuk membaca dan menampilkan pengaturan yang sedang
digunakan XBee.
Agar dapat melakukan komunikasi lakukan pengaturan pada beberapa parameter berikut
ini :
PAN IDserver = PAN IDsemua robot,
DLserver = MYsemua robot,
DLsemua robot = MYserver.
Setelah selesai melakukan konfigurasi beberapa parameter, langkah terakhir yaitu
menyimpan konfigurasi yang telah dilakukan pada XBee. Untuk menyimpan konfigurasi
tersebut, cukup dengan menekan tombol “Write” pada X-CTU. Di bawah ini gambar
hasil read dan write XBee.