DIKSI
Diksi ialah pilihan dan penggunaan secara tepat untuk mewakili pikiran dan perasaan yang
ingin dinyatakan dalam pola dalam suatu kalimat.
Dalam tuturan atau tulisan resmi terutama pada karya ilmiah, pilihan kata yang tepat sangat
menentukan kualitas pembicaraan dan tulisan. penutur atau penulis selalu harus menguasai
cukup banyak kosakata yang dimiliki bahasa tersebut, harus pula mengetahui kaidah kaidah
yang dimaksud meliputi kaidah makna, kaidah kalimat, kaidah sosial, dan kaidah karang-
mengarang.
1. Kaidah Makna
Ada dua jenis makna yang terpenting di antaranya adalah makna denotatif atau makna
leksikal dan makna konotatif atau makna gramatikal.
A. Kata yang Denotatif dan Kata yang Konotatif
Kata denotatif Kata Konotatif
berhubungan dengan konsep denotasi berhubungan dengan konsep konotasi
Denotasi adalah konsep dasar yang Konotasi adalah nilai rasa atau gambaran
didukung oleh kata tambahan yang ada di samping denotasi
Kata yang denotatif mengandung makna Kata yang konotatif mengandung makna
yang sebenarnya, makna kata yang sesuai tambahan yang sesuai dengan sikap dan nilai
dengan konsepnya sehingga disebut juga rasa tertentu pengguna bahasa bersangkutan.
makna konseptual, makna yang sesuai Kata konotatif biasa juga disebut makna
dengan makna kata dalam kamus atau gramatikal atau makna struktural, yaitu
makna leksikal makna yang timbul bergantung pada struktur
tertentu sesuai dengan konteks dan situasi di
mana kata itu berada.
Contoh : (1) Toko itu dilayani gadis-gadis cantik.
(2) toko itu dilayani dara-dara cantik
(3) toko itu dilayani perawan- perawan cantik.
Kata–kata gadis, dara, perawan secara denotatif maknanya sama, yaitu wanita atau
wanita muda yang belum kawin, tetapi secara konotatif maknanya berbeda. Gadis
mengandung makna umum, dara mengandung makna yang bersifat puitis, dan perawan
mengandung makna asosiasi tertentu.
Demikian pula kata–kata kelompok, rombongan, dan gerombolan secara denotatif
bermakna kumpulan benda atau orang, tetapi secara konotatif dibedakan maknanya, yaitu
kelompok dan rombongan berada dalam makna positif, sedangkan gerombolan dipahami
dalam hubungan makna negatif.
Contoh : (4) Kelompok anak mudah itu sedang asyik bermain musik.
(5) Ketua rombongan turis yang baru tiba dikalungi untaian bunga
(6) Gerombolan pengacau tersebut telah ditumpas habis.
B. Kata yang Bersinonim dan Berhomonim
Sinonim adalah kata yang maknanya sama atau mirip dengan kata lain. Persamaan
makna itu dapat tidak berlaku sepenuhnya. Namun, dalam kadar tertentu ada
pertalian makna antara kata–kata yang berbeda itu.
Contohnya dapat terlihat pada penggunaan kata–kata indah, cantik, dan bagus
yang mengandung makna yang sama tentang sesuatu yang sedap dipandang mata.
Antonim atau lawan makna adalah ungkapan yang maknanya kebalikan dari
ungkapan yang lain. Misalya, kata mudah dan sukar, yaitu dua kata yang
maknanya berlawanan dan relasi antonim selalu berlaku dua arah.
Istilah berhomonim atau homonim terjadi jika dua kata mempunyai bentuk
(tulisan) dan lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda. Misalnya, kata buku dapat
bermakna sendi (pada tulang, bambu, dan tebu), dapat pula bermakna kertas tulis
yang dijilid (buku tulis, atau buku bacaan). Begitu pula kata bisa dapat bermakna
racun atau dapat atau boleh.
Contoh : (7) Saya membeli beberapa buah buku tulis.
(8) Buku tulang-tulangku terasa nyeri.
Homofon dan homograf.
Homofon adalah kata- kata yang sama lafalnya, tetapi berbeda ejaannya.
Misalnya, kata bang dan bank, sangsi dan sanksi.
Contoh :
(9) “Bagaimana bang, setujukah ?” Tanya istrinya. (bang singkatan dari abang
semakna dengan kakak, yaitu kakak laki- laki)
(10) Untuk menarik nasabah, beberapa bank mengadakan undian tabungan. (bank,
lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa dalam lalu
lintas pembayaran dan pengedaran uang)
Homograf adalah kata–kata yang sama ejaannya, tetapi berbeda lafalnya.
Misalnya, kata teras (dengan e pepet) bermakna bagian atau bagian utama, seperti
pada teras kayu dan pegawai teras, dan kata teras (dengan e taling) bermakna
anjungan atau kaki lima, seperti pada teras rumah dan teras toko.
Contoh :
(11) Ayahnya adalah pegawai teras kantor gubernur.
(12) Pada waktu malam mulai larut, tampak beberapa orang tuna wisma tidur di
teras toko.
C. Kata Konkret dan Kata Abstrak
Kata Konkret Kata Abstrak
Kata–kata yang tergolong kata konkret . Kata abstrak adalah kata-kata yang
adalah kata–kata yang berupa objek yang berupa konsep
nyata, dapat dilihat, didengar, diraba, dan
dirasa
Kata-kata konkret dapat dilihat pada kata Kata-kata abstrak dalam bahasa Indonesia
orang, pohon, kucing, awan, makanan, dan pada umumnya adalah kata-kata bentukan
minuman dengan konfiks peng-/ -an dan ke-/ -an,
seperti pada kata-kata perdamaian,
penyesalan, kecerdasan ketahanan
nasional, di samping kata-kata seperti
demokrasi dan aspirasi
Contoh : (13) Saya melihat seekor kucing memanjat pohon
(14) Perdamaian yang merata di seluruh jagat raya ini masih tetap
merupakan impian.
D. Kata Umum dan Kata Khusus
Makin luas ruang lingkup suatu kata makin umum sifatnya, sebaliknya makin sempit
ruang lingkupnya makin khusus sifatnya. Kata-kata umum termasuk kata yang
mempunyai hubungan luas, sedangkan kata-kata khusus mempunyai hubungan
sempit, terbatas, bahkan khusus atau unik.
kata umum kata khusus
Pemimpin Direktur
Runcing Tajam mancung
Memasak Menanak
Kata runcing dapat digunakan untuk menyebut sifat semua benda yang makin ke
ujung makin kecil dan tajam, sedangkan kata mancung hanya digunakan secara
khusus untuk hidung yang runcing. Demikian juga kata memasak digunakan untuk
menyatakan pekerjaan masak-memasak secara umum, sedangkan menanak hanya
khusus untuk menanak nasi.
E. Kata Populer dan Kata Kajian
Kata-kata yang tergolong kata populer adalah kata yang populer atau terkenal di
kalangan masyarakat atau kata-kata yang banyak digunakan dalam berkomunikasi
pada berbagai lapisan masyarakat. Sebaliknya, kata kajian adalah kata-kata yang
digunakan secara terbatas pada kesempatan tertentu berupa kata atau istilah yang
digunakan oleh golongan ilmuwan dalam pembicaraan tulisan ilmiah.
F. Kata Baku dan Tidak Baku
Kata baku ada yang berasal dari bahasa Indonesia, ada juga yang berasal dari bahasa
daerah dan bahasa asing yang telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang
resmi. Sebaliknya, kata-kata tidak baku, yaitu kata-kata yang belum berterima secara
resmi atau kata-kata yang tidak mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa
Indonesia.
Kata-kata tidak baku dapat berupa :
(1) kata-kata dari dialek-dialek bahasa Indonesia yang ada
(2) kata-kata serapan bahasa daerah yang belum berterima,
(3) kata-kata bahasa asing yang tidak memenuhi persyaratan ejaan dalam bahasa
Indonesia,
(4) kata-kata bahasa Indonesia yang dieja sebagai bahasa asing, dan
(5) kata-kata bentukan yang tidak menuruti kaidah yang berlaku.
G. Kata Mubazir
Kata mubazir adalah kata-kata bersinonim atau kata-kata yang sama maknanya dan
digunakan bersama-sama sekaligus sehingga menjadi mubazir, yaitu menjadi
berlebih-lebihan. Penggunaan kata mubazir itu dalam tuturan atau tulisan sebaiknya
dihindari karena menimbulkan makna yang berlebihan. Hal seperti itu terlihat antara
lain pada pemakaian kata-kata sejak dan dari, demi dan untuk, agar dan supaya, sebab
dan karena, amat sangat dan sekali. adalah merupakan, namun demikian.
H. Kata Mirip
Kata-kata yang tergolong kata mirip adalah kata-kata yang tampak mirip dari segi
bentuknya atau kata-kata yang rasanya mirip dari segi maknanya.
kata-kata yang hampir mirip dalam ejaan
intensif insentif
interferensi inferensi
karton kartun
preposisi proposisi
korporasi koperasi
Contoh:
a. Tinggallah dulu di sini, saya akan membicarakan sesuatu hal denganmu. (salah)
b. Tinggallah dulu di sini, saya akan membicarakan sesuatu denganmu. (benar) pilih
sesuatu atau suatu hal
c. Pelajaran pertama berlangsung pada pukul 07.30 sampai dengan 09.30. (kata pukul
digunakan menunjukkan waktu)
d. Pelajaran pertama berlangsung selama dua jam. (kata jam digunakan menunjukkan
jangka waktu)
I. Pasangan Idiomatis
Berdasarkan kaidah bahasa maka dalam bahasa Indonesia terdapat pilihan kata yang
merupakan kata berpasangan tetap atau ungkapan idiomatis. Kata tersebut selalu
muncul bersamaan, tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.
Contoh :
bentuk kata pasangan idiomatis
sesuai dengan . . . bergantung pada . . .
terdiri atas . . . berbeda dengan . . .
terbuat dari . . . berbeda dari . . .
terjadi dari . . . berharap akan . . .
sehubungan dengan . . . bertemu dengan . . .
berbicara tentang . . . sejalan dengan . . .
disebabkan oleh . . . berkenaan dengan . .
2. Penggunaan Pilihan Kata (Diksi)
a. Ketepatan Diksi
Agar pemilihan kata benar-benar tepat, seseorang pengguna bahasa diharapkan
dapat memahami syarat-syarat dalam pemilihan kata. Syarat yang dimaksud di
antaranya adalah ketepatan diksi dan kesesuaian diksi.
Syarat ketepatan diksi adalah sebagai berikut :
(1) membedakan secara tepat antara kata bermakna konotasi dan denotasi,
(2) membedakan secara cermat terhadap kata yang hampir sama maknanya,
(3) membedakan kata-kata yang mirip atau hampir mirip ejaannya,
(4) mewaspadai akhiran asing yang kurang tepat,
(5) memahami kata yang tergolong kata umum dan kata khusus,
(6) memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah
dikenal.
b. Kesalahan Diksi
Beberapa contoh penggunaan diksi yang tidak tepat penggunaannya dalam
kalimat.
(1) Pemakaian kata tidak tepat di antaranya ada beberapa, yaitu kata dari atau
daripada sering digunakan tidak tepat, seperti dalam contoh berikut. Hasil
daripada penjualan saham akan digunakan untuk memperluas bidang usaha.
Penggunaan kata daripada pada kalimat di atas tidak tepat karena kata
daripada hanya dapat dipakai membandingkan antara dua buah objek. Jadi,
kata yang tepat dalam pemakaian kalimat tersebut adalah kata dari yang
menyatakan asal.
(2) Pemakaian kata berpasangan, yaitu ada sejumlah kata yang pemakaiannya
berpasangan disebut konjungsi korelatifa, seperti
Baik pedagang ataupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga
tidak terjadi transaksi. (salah)
Baik pedagang maupun konsumen masih menunggu kepastian harga sehingga
tidak terjadi transaksi. (benar)
(3) Pemakaian dua kata, yaitu dalam kenyataan terdapat pemakaian dua kata yang
bermakna dan berfungsi sama. Kata-kata yang sering digunakan secara
serentak, bahkan pada posisi yang sama, seperti: ialah adalah merupakan, agar
supaya, demi untuk, seperti contoh misalnya, atau daftar nama-nama
(4) Kelangsungan pilihan kata dapat berlangsung dengan baik jika maksud atau
pikiran penulis atau pembaca tersampaikan secara tepat dan mudah
dimengerti. Pemilihan kata dapat berlangsung dengan baik, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan oleh penulis, yaitu :
(1) Menghindari kata-kata yang tidak menambah kejelasan makna kata.
(2) Menghindari penggunaan beberapa kata yang bermakna sama.
(3) Menghindari penggunaan istilah baru karena dapat menimbulkan
kebingungan bagi pembaca atau pendengar
MAKALAH
DASAR-DASAR MEMAHAMI BAHASA INDONESIA
TENTANG DIKSI
DOSEN PEMBIMBING
Dzar Albanna, S.S., M.A.
DISUSUN OLEH
Citra Latisia
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
2019/2020