TUGAS
TEKNIK EKSPLORASI BATUBARA
DISUSUN OLEH :
DEA FRISKI SARAGIH
DBD 112 018
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2015
Cara penggolongan sumber daya dan cadangan batu bara di Indonesia masih beragam
sehingga dirasakan perlu untuk membuat suatu standar yang dapat digunakan sebagai
pedoman di dalam pengklasifikasian sumber daya dan cadangan batubara Indonesia. Dengan
demikian, standar ini diharapkan dapat menghindari kerancuan dalam menafsirkan berbagai
istilah dan pengertian yang berkenaan dengan sumber daya dan cadangan batubara Indonesia.
Klasifikasi sumberdaya dan cadangan batubara berdasarkan BSN, 1999 :
Sumberdaya Batubara Hipotetik
Sumber daya batubara adalah jumlah batubara di daerah penyelidikan atau bagian dari
daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang
ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau.
Sumberdaya Batubara Tereka
Sumber daya batubara tereka adalah jumlah batubara di daerah penyelidikan atau bagian
dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat
yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi
Sumberdaya Batubara Tertunjuk
Sumber daya batubara tertunjuk adalah jumlah batubara di daerah penyelidikan atau
bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi
syarat-syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan
Sumberdaya Batubara Terukur
Sumber daya batubara terukur adalah jumlah batubara di daerah penyelidikan atau bagian
dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat
yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci
Cadangan Batubara Terkira
Cadangan batubara terkira adalah sumber daya batubara tertunjuk dan sebagian sumber daya
batubara terukur, tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah
terpenuhi sehingga hasil kajiannya dinyatakan layak.
Cadangan Batubara Terbukti
Cadangan batubara terbukti adalah sumber daya batubara terukur yang berdasarkan
kajian kelayakan semua faktor yang terkait telah terpenuhi sehingga hasil kajiannya
dinyatakan layak.
Dasar Klasifikasi
Klasifikasi sumber daya dan cadangan batu bara didasarkan pada tingkat keyakinan
geologi dan kajian kelayakan. Pengelompokan tersebut mengandung dua aspek, yaitu aspek
geologi dan aspek ekonomi.
1. Aspek Geologi
Berdasarkan tingkat keyakinan geologi, sumber daya terukur harus mempunyai tingkat
keyakinan yang lebih besar dibandingkan dengan sumber daya tertunjuk, begitu pula sumber
daya tertunjuk harus mempunyai tingkat keyakinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
sumber daya tereka. Sumber daya terukur dan tertunjuk dapat ditingkatkan menjadi cadangan
terkira dan terbukti apabila telah memenuhi kriteria layak . Tingkat keyakinan geologi
tersebut secara kuantitatif dicerminkan oleh jarak titik informasi (singkapan, lubang bor).
2. Aspek Ekonomi
Ketebalan minimal lapisan batu bara yang dapat ditambang dan ketebalan maksimal
lapisan pengotor atau “dirt parting” yang tidak dapat dipisahkan pada saat ditambang, yang
menyebabkan kualitas batu baranya menurun karena kandungan abunya meningkat,
merupakan beberapa unsur yang terkait dengan aspek ekonomi dan perlu diperhatikan dalam
menggolongkan sumber daya batu bara.
Kondisi geologi yang harus diperhatikan ketika menghitung sumber cadangan adalah
kondisi geologi sederhana, kondisi geologi moderat dan kondisi geologi kompleks.
Kondisi Geologi/ Kompleksitas
Berdasarkan proses sedimentasi dan pengaruh tektonik, karakteristik geologi tersebut dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama : Kelompok geologi sederhana, kelompok
geologi moderat, dan kelompok geologi kompleks. Ringkasan tentang batasan umum untuk
masing-masing kelompok tersebut beserta tipe lokalitasnya dapat dilihat dalam tabel di
bawah.
Uraian tentang batasan umum untuk masing-masing kelompok tersebut beserta tipe
lokalitasnya adalah sebagai berikut,
a. Kelompok Geologi Sederhana
Endapan batu bara dalam kelompok ini umumnya tidak dipengaruhi oleh aktivitas
tektonik, seperti sesar, lipatan, dan intrusi. Lapisan batu bara pada umumnya landai, menerus
secara lateral sampai ribuan meter, dan hampir tidak mempunyai percabangan. Ketebalan
lapisan batu bara secara lateral dan kualitasnya tidak memperlihatkan variasi yang berarti.
Contoh jenis kelompok inantara lain, di lapangan Bangko Selatan dan Muara Tiga Besar
(Sumatera Selatan), Senakin Barat (Kalimantan Selatan), dan Cerenti (Riau).
b. Kelompok Geologi Moderat
Batu bara dalam kelompok ini diendapkan dalam kondisi sedimentasi yang lebih
bervariasi dan sampai tingkat tertentu telah mengalami perubahan pasca pengendapan dan
tektonik. Sesar dan lipatan tidak banyak, begitu pula pergeseran dan perlipatan yang
diakibatkannya relatif sedang. Kelompok ini dicirikan pula oleh kemiringan lapisan dan
variasi ketebalan lateral yang sedang serta berkembangnya percabangan lapisan batu bara,
namun sebarannya masih dapat diikuti sampai ratusan meter. Kualitas batu bara secara
langsung berkaitan dengan tingkat perubahan yang terjadi baik pada saat proses sedimentasi
berlangsung maupun pada pasca pengendapan. Pada beberapa tempat intrusi batuan beku
mempengaruhi struktur lapisan dan kualitas batu baranya. Endapan batu bara kelompok ini
terdapat antara lain di daerah Senakin, Formasi Tanjung (Kalimantan Selatan), Loa Janan-
Loa Kulu, Petanggis (Kalimantan Timur), Suban dan Air Laya (Sumatera Selatan), seta
Gunung Batu Besar (Kalimantan Selatan).
c. Kelompok Geologi Kompleks
Batu bara pada kelompok ini umumnya diendapkan dalam sistim sedimentasi yang
komplek atau telah mengalami deformasi tektonik yang ekstensif yang mengakibatkan
terbentuknya lapisan batu bara dengan ketebalan yang beragam. Kualitas batu baranya
banyak dipengaruhi oleh perubahanperubahan yang terjadi pada saat proses sedimentasi
berlangsung atau pada pasca pengendapan seperti pembelahan atau kerusakan lapisan (wash
out). Pergeseran, perlipatan dan pembalikan (overturned) yang ditimbulkan oleh aktivitas
tektonik, umum dijumpai dan sifatnya rapat sehingga menjadikan lapisan batu bara sukar
dikorelasikan. Perlipatan yang kuat juga mengakibatkan kemiringan lapisan yang terjal.
Secara lateral, sebaran lapisan batu baranya terbatas dan hanya dapat diikuti sampai puluhan
meter. Endapan batu bara dari kelompok ini, antara lain, diketemukan di Ambakiang,
Formasi warukin, Ninian.
Penghitungan Sumber Daya Dengan Metode USGS
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung sumberdaya batubara
di daerah penelitian. Pemakaian metode disesuaikan dengan kualitas data, jenis data yang
diperoleh, dan kondisi lapangan serta metode penambangan (misalnya sudut penambangan).
Karena data yang digunakan dalam penghitungan hanya berupa data singkapan, maka metode
yang digunakan untuk penghitungan sumber daya daerah penelitian adalah metode Circular
(USGS)
Aturan Penghitungan Sumberdaya Batubara dengan Metode Circular (USGS) (Wood et al.,
1983)
Penghitungan sumber daya batubara menurut USGS dapat dihitung dengan rumus :
Tonnase batubara = A x B x C
Dimana : A = bobot ketebalan rata-rata batubara dalam inci, feet, cm atau meter
B = berat batubara per stuan volume yang sesuai atau metric ton.
C = area batubara dalam acre atau hektar
Kemiringan lapisan batubara juga memberikan pengaruh dalam perhitungan sumber
daya batubara. Bila lapisan batubara memiliki kemiringan yang berbeda-beda, maka
perhitungan dilakukan secara terpisah.
1. Kemiringan 00 – 100
Perhitungan Tonase dilakukan langsung dengan menggunakan rumus :
Tonnase = ketebalan batubara x berat jenis batubara x area batubara
2. Kemiringan 100 – 300
Untuk kemiringan 100 – 300, tonase batubara harus dibagi dengan nilai cosines kemiringan
lapisan batubara.
3. Kemiringan > 300
Untuk kemiringan > 300, tonase batubara dikali dengan nilai cosinus kemiringan lapisan
batubara.