PENGARUH RELATIONSHIP MARKETING, NILAI NASABAH DAN
KEPUASAN NASABAH TERHADAP LOYALITAS NASABAH
(Studi Kasus Nasabah PT. Bank Cental Asia Tbk KCP Purwosari)
Proposal Penelitian
Disusun oleh:
DYANA BELLA SRIASTARI
M.2315.0301
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI ATMA BHAKTI
SURAKARTA
2019
HALAMAN PERSETUJUAN
Yang bertanda tangan di bawah ini setelah membaca proposal skripsi dengan judul:
PENGARUH RELATIONSHIP MARKETING, NILAI NASABAH DAN
KEPUASAN NASABAH TERHADAP LOYALITAS NASABAH
(Studi Kasus Nasabah PT. Bank Cental Asia Tbk KCP Purwosari)
Disusun oleh:
DYANA BELLA SRIASTARI
M.2315.0301
Surakarta, 17 September 2019
Pembimbing
(Sutianingsih, SE., MM.)
PENGARUH RELATIONSHIP MARKETING, NILAI NASABAH DAN
KEPUASAN NASABAH TERHADAP LOYALITAS NASABAH
(Studi Kasus Nasabah PT. Bank Cental Asia Tbk KCP Purwosari)
A. Latar Belakang Masalah
Era globalisasi saat ini memberikan dampak yang luas terhadap
pertumbuhan dunia perbankan di Indonesia. Dengan maraknya produk-produk
perbankan saat ini, merupakan indikasi setiap bank untuk berusaha memunculkan
produk unggulannya dengan memberikan berbagai kemudahan fasilitas layanan.
Hal ini ditandai dengan berdirinya bank-bank swasta, baik lokal maupun
penanam modal asing dan juga bank konvensional maupun bank syariah. Semua
itu tidak terlepas dari berbagai keberhasilan pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi Indonesia yang cukup pesat. Pengembangan sistem perbankan di
Indonesia dilakukan dalam kerangka dual-banking system atau sistem perbankan
ganda dalam kerangka Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk
menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada
masyarakat Indonesia. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan
perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat
secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor
perekonomian nasional (OJK, 2017).
Semakin berkembangnya pertumbuhan di dunia perbankan, masing-
masing bank berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan
meningkatkan kualitas baik dari segi pelayanan, doorprize, sampai dengan
pemanfaatan teknologi yang semakin berkembang. Dinamika perubahan
lingkungan bisnis yang berkembang cepat telah memaksa perusahaan khususnya
perbankan untuk menemukan sebuah solusi tepat dalam bertahan dan
memenangkan persaingan. Dalam rangka memenangkan persaingan ini para
pemilik perusahaan berlomba-lomba untuk menerapkan strategi pemasaran yang
paling jitu. Oleh karena itu konsentrasi pemasaran tidak lagi sekadar bagaimana
produk itu sampai kepada pelanggan tetapi lebih fokus apakah produk itu telah
memenuhi keinginan konsumen, sehingga dapat memberikan kepuasan terhadap
nasabah (Hastriana, 2014). Tingkat persaingan yang ketat serta munculnya
lembaga keuangan sejenis yang baru menuntut perusahan terutama saat
munculnya perbankan syariah, maka perbankan konvensional berusaha
mempertahankan market share-nya dengan prioritas mempertahankan nasabah
yang sudah ada. Mempertahankan nasabah dan menjaga loyalitasnya merupakan
hal yang sangat penting dan menjadi competitive advantage bagi perusahan
(Waqi’ah, 2019).
Berbagai upaya dilakukan bank untuk tetap bertahan hidup (survive),
disamping harus menghadapi persaingan yang sangat ketat, bank perlu
mempertahankan nasabah agar tetap loyal terhadap perusahaan. Nasabah yang
loyal akan dengan senang hati mengungkapkan hal-hal yang positif dan
memberikan rekomendasi mengenai perusahaan kepada orang lain. PT. Bank
Cental Asia Tbk hadir sebagai salah satu bank konvensional swasta terbesar di
Indonesia yang didirikan pada 21 Februari 1957 dengan nama Bank Central Asia
NV dan pernah menjadi bagian penting dari Salim Group dan mempunyai banyak
cabang yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia serta 2 kantor perwakilan luar
negeri yang berlokasi di Hong Kong dan Singapura. PT. Bank Central Asia Tbk
hadir di tengah masyarakat Indonesia dan tumbuh menjadi salah satu bank
terbesar di Indonesia. Selama hampir 62 tahun BCA tidak pernah berhenti
menawarkan beragam solusi perbankan yang menjawab kebutuhan finansial
nasabah dari berbagai kalangan. Melalui beragam produk dan pelayanan yang
berkualitas dan tepat sasaran, solusi finansial BCA mendukung perencanaan
keuangan pribadi dan perkembangan nasabah bisnis. Didukung oleh kekuatan
jaringan antar cabang, luasnya jaringan ATM, serta jaringan perbankan
elektronik lainnya, siapa saja dapat menikmati kemudahan dan kenyamanan
bertransaksi yang ditawarkan BCA. Semua strategi tersebut dilakukan BCA
dalam upaya mempertahankan nasabah lama dan menarik calon nasabah menjadi
nasabah ([Link]).
Sesuai dengan komitmen “Senantiasa di Sisi Anda”, BCA akan terus
berupaya menjaga kepercayaan dan harapan nasabah serta para pemangku
kepentingan. Memenangkan kepercayaan untuk memberikan solusi terbaik bagi
kebutuhan finansial para nasabah adalah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi
BCA. BCA juga berupaya menciptakan beragam strategi dalam industri
perbankan demi pencapaian serta peningkatan kepuasan nasabah yang
selanjutnya menciptakan loyalitas pelanggan. Salah satu usaha yang dapat
dilakukan BCA adalah menerapkan relationship marketing dalam memahami
keinginan beserta kebutuhan nasabahnya ([Link]).
Relationship Marketing merupakan salah satu strategi dalam bidang
pemasaran yang saat ini semakin banyak diimplementasikan oleh perusahaan-
perusahaan di Indonesia termasuk BCA sebagai perusahaan perbankan swasta
terbesar di Indonesia. Relationship Marketing merupakan strategi bisnis dengan
kemajuan teknologi yang diperkuat melalui organisasi-organisasinya,
menciptakan koneksi untuk membantu organisasi mengoptimalkan nilai yang
diterima atas dasar pengolahan persepsi pelanggan (Tjiptono, 2015). Djatmiko
(2013) mengemukakan bahwa berkurangnya loyalitas pelanggan biasanya
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor banyaknya pilihan produk dan
jasa yang sejenis, kurangnya ketersediaan informasi, dan masalah keuangan yang
dihadapi oleh konsumen. Dengan berkurangnya loyalitas pelanggan terhadap
suatu produk, dikhawatirkan akan menggangu kelangsungan hidup perusahaan
tersebut.
Kotler dan Keller (2016), berpendapat bahwa dalam menciptakan
hubungan yang kuat dan erat dengan pelanggan adalah mimpi semua pemasar
dan hal ini sering menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Ikatan hubungan
secara luas dianggap sebagai alat untuk menjaga loyalitas pelanggan.
Relationship marketing sangat relevan jika diterapkan dalam perusahaan jasa,
utamanya perusahaan perbankan. Kunci pokok dari sebuah relationship
marketing antara lain adalah mengenai kepercayaan, kualitas pelayanan dan nilai
pelanggan. Dalam penelitian ini, faktor-faktor kunci tersebut akan menjadi
variabel penelitian untuk mengetahui pengaruhnya terhadap loyalitas nasabah.
Relationship Marketing merupakan penciptaan nilai dan pemeliharaan
hubungan tahan lama antara perusahaan dengan pelanggan sehingga tercipta
kepuasan bagi kedua belah pihak. Industri perbankan merupakan industri yang
mengadopsi relationship marketing sebagai strategi pemasarannya untuk
membangun hubungan dengan nasabah. Hal ini didukung hasil penelitian Ridwan
dkk (2018), Rosyadi dan Nurwisda (2018) dimana relationship marketing
berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah.
Faktor nilai nasabah disinyalir kuat juga dapat mempengaruhi loyalitas
nasabah karena nasabah puas. Persepsi konsumen terhadap nilai atas kualitas
yang ditawarkan relatif lebih tinggi dari pesaing akan mempengaruhi tingkat
loyalitas nasabah, semakin tinggi persepsi nilai yang dirasakan oleh nasabah,
maka semakin besar kemungkinan terjadinya hubungan (transaksi). Keberhasilan
pemasaran tersebut hanya bisa dicapai melalui penerapan strategi pemasaran
yang melibatkan perusahaan dan nasabah, meningkatkan kepuasan pelanggan
melalui nilai-nilai pelanggan (customer value) dan memungkinkan mempersulit
hambatan persaingan bagi pesaing, sehingga memampukan perusahaan untuk
meningkatkan loyalitas pelanggan. Hubungan yang diinginkan adalah hubungan
yang bersifat jangka panjang, sebab usaha dan biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan diyakini akan jauh lebih besar apabila harus menarik pelanggan baru
atau pelanggan yang sudah meninggalkan perusahaan, dari pada
mempertahankannya (Zaini dkk, 2017). Nilai nasabah adalah karakteristik
produk yang ada dibenak dan dijelaskan oleh nasabah. Sebuah perusahaan
dikatakan mempunyai nilai yang tinggi di mata para nasabahnya kalau mampu
memberikan kualitas, manfaat dan pengorbanan yang seminimal mungkin kepada
para nasabahnya (Sof’an dan Supriyadi, 2016).
Nilai dapat dilihat terutama sebagai kombinasi mutu, jasa, dan harga
(QSP: quality, service, price), yang disebut tiga serangkai nilai pelanggan. Nilai
meningkat jika mutu dan layanannya meningkat serta menurun jika harganya
meningkat. Persepsi konsumen terhadap nilai atas kualitas yang ditawarkan
relatif lebih tinggi dari pesaing akan mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen,
semakin tinggi persepsi nilai yang dirasakan oleh pelanggan, maka semakin besar
kemungkinan terjadinya hubungan (transaksi). Hubungan yang diinginkan adalah
hubungan yang bersifat jangka panjang, sebab usaha dan biaya yang dikeluarkan
oleh perusahaan diyakini akan jauh lebih besar apabila harus menarik pelanggan
baru atau pelanggan yang sudah meninggalkan perusahaan, dari pada
mempertahankannya. Bagi pelanggan, kinerja produk yang dirasakan sama atau
lebih dari yang diharapkan, yang dianggap bernilai dan dapat memberikan
kepuasan (Kotler, 2010). Hal ini mendukung hasil penelitian Sof’an dan
Supriyadi (2016), Riadi dkk (2017) yang memberikan bukti empiris bahwa nilai
nasabah berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah.
Selain relationship marketing dan nilai nasabah, hal utama yang dapat
mempengaruhi loyalitas nasabah adalah kepuasan nasabah. Kepuasan nasabah
merupakan strategi jangka panjang yang membutuhkan komitmen, baik dana
maupun sumber daya manusia. Kepuasan nasabah menurut Kotler (2010) adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan
kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang
diharapkan. Jika kinerja berada dibawah harapan, nasabah tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan, nasabah puas. Jika kinerja melebihi harapan, nasabah amat
puas atau senang. Hal ini sudah menjadi hal umum, jika pelanggan merasa puas
dengan suatu produk, konsumen akan cenderung terus membeli dan
menggunakannya serta memberi tahu orang lain tentang pengalaman yang
menyenangkan dengan produk atau merk tersebut (Olson dan Peter, 2014). Hal
ini mendukung hasil penelitian Woran dkk (2016), Muntaha (2017), Leninkumar
(2017) dimana masing-masing hasil penelitian mereka memberikan bukti empiris
bahwa kepuasan nasabah berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka peneliti tertarik
untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Relationship Marketing,
Nilai Nasabah dan Kepuasan Nasabah terhadap Loyalitas Nasabah (Studi Kasus
Nasabah PT. Bank Cental Asia Tbk KCP Purwosari )”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah relationship marketing berpengaruh signifikan terhadap loyalitas
nasabah BCA KCP Purwosari?
2. Apakah nilai nasabah berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah
BCA KCP Purwosari?
3. Apakah kepuasan nasabah berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah
BCA KCP Purwosari?
4. Variabel manakah yang paling dominan pengaruhnya terhadap loyalitas
nasabah KCP Purwosari?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini untuk:
1. Menganalisis signifikansi pengaruh relationship marketing terhadap loyalitas
nasabah BCA KCP Purwosari.
2. Menganalisis signifikansi pengaruh nilai nasabah terhadap loyalitas nasabah
BCA KCP Purwosari.
3. Menganalisis signifikansi pengaruh kepuasan nasabah terhadap loyalitas
nasabah BCA KCP Purwosari.
4. Menganalisis faktor yang memiliki pengaruh dominan terhadap loyalitas
nasabah BCA KCP Purwosari.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
Sebagai salah satu bahan informasi atau bahan kajian dalam menambah
pengetahuan dalam bidang manajemen pemasaran khususnya tentang
relationship marketing, nilai nasabah dan kepuasan nasabah serta dapat
dilihat pengaruhnya terhadap loyalitas nasabah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi BCA KCP Purwosari
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
mengambil keputusan dan mungkin dapat digunakan untuk melakukan
inovasi produknya (jasa) sehingga dapat meningkatkan loyalitas nasabah
melalui relationship marketing, nilai nasabah dan kepuasan yang
diharapkan atau diinginkan oleh nasabah.
b. Bagi Penulis
Penelitian ini berguna untuk menambah wawasan dan pengetahuan serta
pengalaman dalam bidang perbankan tepatnya dalam pemasaran
perbankan dalam hal relationship marketing, nilai nasabah, kepuasan
nasabah dan loyalitas nasabah yang berhubungan dengan teoritis yang
diperoleh dalam perkuliahan.
c. Bagi akademik
Menambah wawasan akademisi khususnya mahasiswa/i tentang seberapa
besar pengaruh relationship marketing, nilai nasabah, kepuasan nasabah
terhadap loyalitas nasabah.
d. Bagi pihak lain
Sebagai salah satu bahan informasi yang berguna serta dapat memberikan
gambaran bagi penelitian selanjutnya khususnya dalam bidang
manajemen pemasaran bidang perbankan.
E. Landasan Teori
1. Manajemen Pemasaran Jasa
Pemasaran jasa dapat didefinisikan sebagai setiap tindakan atau
perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak yang lain
pada dasarnya bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
menghasilkan kepemilikan sesuatu (Tjiptono, 2015). Menurut Hurriyati
(2015) pemasaran jasa merupakan suatu proses yang didalamnya berisi
tentang mempersepsikan, memahami, menstimulasi, dan memenuhi
kebutuhan pasar yang dipilih secara khusus dengan meyalurkan berbagai
sumber suatu organisasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Lovelock dkk (2011) mendefinisikan pemasaran jasa adalah suatu
aktivitas ekonomi yang ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak yang lain.
Sering kali kegiatan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu (time-
based), dalam bentuk suatu kegiatan (performance) yang akan membawa
hasil yang diinginkan kepada penerima, obyek, maupun aset-aset lainnya
yang menjadi tanggung jawab dari pembeli. Sebagai pertukaran dari uang,
waktu dan upaya, pelanggan jasa berharap akan mendapatkan nilai (value)
dari suatu akses ke barang-barang, tenaga kerja, tenaga ahli, fasilitas, jejaring
dan sistem tertentu, tetapi para pelanggan biasanya tidak akan mendapatkan
hak milik dari unsur-unsur fisik yang terlibat dalam penyediaan jasa tersebut.
Dari definisi pemasaran yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan
bahwa pemasaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh individu
maupun kelompok yang memiliki tujuan untuk memenuhi semua kebutuhan
yang diharapkan.
Menurut Kotler (2010) manajemen pemasaran adalah proses analisis,
perencanaan, implementasi, dan pengendalian program-program yang
dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang
menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2016) manajemen pemasaran
adalah analisis perencanaan, implementasi dan pengendalian program-
program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan
mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan target pembeli
untuk mencapai objektivitas organisasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah sebuah
proses yang mengimplementasikan fungsi manajemen yang terdiri atas
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian ke dalam
proses pemasaran untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Perilaku Konsumen dalam Konteks Jasa
Menurut Lovelock dkk, (2011) ada tiga perilaku konsumen dalam
tahap mengkonsumsi jasa, yaitu:
a. Tahap prapembelian, ini diawali dengan timbulnya kebutuhan, dan
kesadaran pelanggan potensial akan suatu kebutuhan, dilanjutkan dengan
pencarian informasi dan pengevaluasian sejumlah alternatif untuk
memutuskan apakah pelanggan akan membeli suatu layanan.
b. Tahap pelayanan, setelah mengambil keputusan pembelian, pelanggan
melangkah ke tahap inti dari pengalaman layanan ini: Tahap transaksi
interaksi layanan (service encounter) yang biasanya meliputi suatu
rentetan kontak dengan perusahaan jasa yang sudah dipilih. Tahap ini
sering kali dimulai dengan pemesanan, meminta reservasi, atau bahkan
mengirimkan formulir aplikasi (untuk proses permintaan peminjaman
dana, pendaftaran asuransi, atau masuk ke perguruan tinggi).
c. Tahap pascapembelian, dalam tahap ini para pelanggan menilai kinerja
layanan yang telah mereka alami dan membandingkannya dengan
ekspektasi mereka sebelumnya.
3. Relationship Marketing
a. Pengertian Relationship Marketing
Lupiyoadi (2014) berpendapat bahwa implementasi strategi
relasional berpengaruh terhadap kepuasan dan loyalitas pelanggan. Riset
yang dilakukan berhasil memperlihatkan bahwa kualitas pelayanan
karyawan terhadap pelanggan berpengaruh secara asimetri atas kepuasan
pelanggan, dimana pelayanan yang buruk berakibat lebih besar terhadap
kepuasan pelanggan daripada pelayanan yang dikategorikan terbaik.
Implementasi strategi dengan kategori terbaik akan meningkatkan
kepuasan dan loyalitas pelanggan lebih besar daripada tidak ada
pemasaran relasional yang dilakukan. Namun sebaliknya, implementasi
strategi yang dikategorikan terburuk akan menurunkan kepuasan dan
loyalitas pelanggan lebih besar daripada tidak ada pemasaran relasional
yang dilakukan.
Relationship marketing memaparkan bahwa kepuasan nasabah
harus dibangun dengan usaha keras dalam bentuk personalisasi dimana
nasabah menjadi inti dari aktifitas pemasaran. Perusahaan haruslah
mampu untuk menjalin hubungan baik dengan pelanggannya.
Relationship marketing inilah strategi bagaimana menjalin hubungan
antara perusahaan dan pelanggan dengan proses transaksi, interaksi, dan
komunikasi yang orientasinya dalam jangka panjang dan untuk
mempersembahkan sebuah kepuasan pelanggan (Hastriana, 2014).
Relationship marketing adalah pemasaran yang mempunyai tujuan
membentuk tujuan jangka panjang yang saling memuaskan dari pihak-
pihak yang penting seperti pelanggan, pemasok, dan distributor dalam
rangka mendapatkan dan mempertahankan bisnis mereka (Kotler, 2010).
b. Implementasi Relationship Marketing
Tjiptono (2015), mengemukakan bahwa terdapat tiga faktor kunci
sukses implementasi Relationship Marketing yaitu:
1) Kualitas jasa inti, basis utama kesuksesan relasi jangka panjang
adalah kepuasan dan loyalitas yang terbentuk karena kualitas jasa inti
perusahaan kompetitif. Bila kualitas jasa tidak memenuhi standar,
maka akan sulit bagi organisasi jasa untuk menjalin relasi yang
langgeng dengan para pelanggannya.
2) Segmentasi dan pemilihan pasar sasaran secara cermat, jasa wajib
mempelajari dan memenetukan tipe atau segmen pelanggan yang
ingin dijadikan mitra relasi jangka panjang. Melalui proses segmentasi
(demografi, geografis, psikografis dan/atau behavioral) sesuai dengan
kriteria measurability, accessibility, substantiality, dan actionabilty,
penyedia jasa memilih segmen pasar yang ingin dijadikan sasaran.
Evaluasi segmen pasar didasarkan pada beberapa aspek, diantaranya
ukuran dan pertumbuhan masing-masing segmen (seperti nilai dan
volume penjualan, prediksi tingkat pertumbuhan pasar, dan margin
laba yang diaharapkan), daya tarik struktural segmen (contohnya,
pesaing saat ini dan pesaing potensial, produk dan jasa substitusi,
bargaining power konsumen, dan bargaining power pemasok), dan
tujuan serta sumber daya organisasi.
3) Pemantauan berkesinambungan terhadap relasi yang dibina,
pemantauan relasi yang dibina bisa dilakukan melalui beberapa cara,
seperti melakukan survei reguler untuk memahami persepsi pelanggan
terhadap nilai yang diterima, kualitas, kepuasan terhadap layanan
perusahaan dan kepuasan terhadap penyedia jasa dibandingkan
pesaing, pengembangan database pelanggan (menyangkut identitas,
preferensi pembelian, biaya melayani mereka, pendapatan dari
mereka, dan seterusnya), dan kontak pelanggan (misalnya,
komunikasi via telefon, email, fax, media sosial, tatap muka langsung
dan customer visits).
Relationship marketing menekankan upaya menjalin hubungan yang
kuat antara organisasi dan semua pasar stakeholder-nya. Pemahaman atas
dinamika pasar stakeholder akan mempengaruhi kemampuan organisasi
dalam bertahan dan memenangkan kompetisi global. Tjiptono (2014)
mengidentifikasi enam pasar stakeholder utama yang mempengaruhi
efektifiatas pemasaran organisasi: pasar pelanggan, influence markets
(termasuk pemegang saham), pasar rekrutmen, referral markets, pasar
internal, dan pasar pemasok/aliansi. Definisi ini dijabarkannya ke dalam
model Kerangka Enam Pasar stakeholder sebagaimana tersaji pada
Gambar 1 berikut:
Pasar
Internal
Pasar Refferal
Pemasok/Aliansi Market
Pasar Pelanggan
Pasar Influence
Rekrutmen Markets
Gambar 1. Kerangka Enam Pasar Stakeholder
Sumber: Tjiptono (2015)
c. Manfaat Relationship Marketing
Pemasaran berbasis hubungan akan menguntungkan baik konsumen
dan perusahaan. Jadi, bukan hanya perusahaan yang berminat
mengembangkan pemasaran berbasis hubungan tetapi konsumen juga
akan memperoleh keuntungan dalam hubungan jangka panjang tersebut
(Tjiptono, 2016).
1) Manfaat untuk konsumen
Jika konsumen dapat memilih, mereka akan tetap setia pada suatu
perusahaan ketika mereka menerima nilai yang lebih relatif dengan
nilai yang ditawarkan pesaing. Perceived value merupakan penilaian
konsumen terhadap kegunaan suatu produk berdasarkan persepsi apa
yang diberikan dan apa yang diterima. Konsumen kemungkinan besar
akan tetap berhubungan dengan perusahaan ketika mereka menerima
kegunaan (benefit dan kualitas) yang sepadan dengan biaya
(pengorbanan uang, waktu, dan resiko) yang mereka keluarkan.
Disamping menerima manfaat yang melekat pada suatu nilai yang
diperoleh dari hubungan tersebut, konsumen juga menikmati manfaat
dari hubungan jangka panjang tersebut. Terkadang peranan manfaat
ini lebih kuat dibandingkan dengan atribut layanan jasa atau produk
yang membuat konsumen tetap setia. Ada berbagai alasan mengapa
nasabah tetap setia pada satu bank meski mereka mendapatkan
penawaran yang baik dari bank pesaing: 1) anda merasa nyaman
dengan hubungan yang ada, 2) anda tahu apa yang diaharapakan, 3)
anda memiliki hubungan yang baik dengan karyawan bank, dan 4)
anda merasa yakin akan dilayani dengan baik jika anda memiliki
permintaan khusus.
Konsumen memperoleh berbagai manfaat hubungan jangka
panjang dengan perusahaan penyedia jasa seperti: confidence benefit,
social benefit, special treatment benefit. Dalam industri jasa,
confidence benefit merupakan manfaat berhubungan yang dianggap
paling penting oleh konsumen. Confidence benefit merupakan
perasaan yakin terhadap penyedia jasa, berkurangnya kecemasan
konsumen, dan perasaan nyaman karena konsumen mengetahui apa
yang diharapkan. Sebagian besar konsumen tidak akan mengganti
penyedia jasa, khususnya ketika mereka telah melakukan investasi
yang cukup banyak dalam membina hubungan tersebut. Jika penyedia
jasa mengenal konsumen dan mengetahui preferensi mereka dan
memberikan jasa sesuai dengan kebutuhan konsumen, berganti
penyedia jasa akan menyebabkan konsumen harus “mendidik”
penyedia jasa yang baru tentang semua kebutuhan dan kebiasaan
konsumen.
Social benefit muncul ketika hubungan antara konsumen dan
penyedia jasa berlangsung cukup lama dan mereka sudah saling
mengenal. Jika manfaat ini terbentuk, kecil kemungkinan konsumen
akan berpindah kepenyedia jasa yang lain, meski penyedia jasa ini
menjanjikan nilai yang lebih baik. Gambaran social benefit yang
muncul ketika konsumen memiliki hubungan yang baik dengan
penyedia jasa mereka.
Special treatment benefit atau manfaat perlakuan khusus juga
diperoleh konsumen ketika hubungan dengan penyedia jasa atau
perusahaan sudah berlangsung cukup lama. Perlakuan khusus ini
dapat berupa potongan harga, penawaran jasa yang lebih menarik, atau
perlakuan yang lebih istimewa.
2) Manfaat untuk perusahaan
Banyak manfaat yang dapat diperoleh perusahaan jika mereka
menerapkan strategi perusahaan berbasis hubungan yang efektif.
Berikut adalah rangkuman manfaat pemasaran yang berbasis
hubungan:
a) Peningkatan pembelian. Konsumen cenderung membeli lebih
banyak setiap tahun setelah mereka berhubungan dengan
perusahaan tertentu dibandingkan dengan sebelum berhubungan
dengan perusahaan tersebut. Ketika konsumen mulai mengenal
perusahaan dan puas dengan produk mereka, konsumen cenderung
untuk melakukan bisnis lebih banyak kepada perusahaan atau
penyedia jasa tersebut.
b) Perusahaan membutuhkan waktu untuk memperoleh keuntungan
dari konsumen. Sebagian konsumen tidak mendatangkan
keuntungan langsung bagi perusahaan, tetapi perusahaan harus
tetap membina konsumen pelajar ini karena pada saat mereka
bekerja nanti mereka akan sangat mungkin menjadi pelanggan
setia perusahaan, karena mereka telah mengetahui produk
perusahaan sejak dini.
c) Penurunan biaya. Ada banyak startup cost yang tekait dengan
konsumen baru. Biaya-biaya ini termasuk periklanan dan promosi,
biaya operasi pembuatan rekening dan sistem, dan waktu untuk
mengenal konsumen. Kadangkala biaya ini lebih tinggi daripada
penerimaan yang diperoleh dari konsumen baru dalam jangka
pendek. Disamping itu, biaya menjaring konsumen baru lima kali
lebih besar daripada biaya mempertahankan pelanggan yang ada.
d) Peluang membina hubungan antar generasi. Salah satu faktor
kunci dalam pemilihan bank oleh anak-anak atau pelajar adalah
pengaruh orang tua. Jadi, menjaga hubungan dengan salah satu
anggota keluarga akan mempengaruhi anggota keluarga yang lain
dimasa mendatang.
e) Dampak positif words of mouth. Ketika produk atau jasa bersifat
kompleks atau sukar dievalusi, konsumen biasanya mencari
informasi dari teman atau kerabat untuk menentukan penyedia jasa
yang akan dipilih. Konsumen setia yang puas kemungkinan besar
akan merekomendasikan produk atau jasa perusahaan kepada
konsumen yang lain. Rekomendasi konsumen yang setia ini lebih
efektif jika dibandingkan dengan periklanan yang dibayar dan
dapat mengurangi biaya perekrutan konsumen baru.
f) Employee retention. Dampaknya tidak langsung strategi
relationship marketing adalah perusahaan dapat mempertahankan
karyawan mereka karena perusahaan pada saat yang sama dapat
menjaga customer base mereka. Karyawan akan suka bekerja pada
perusahaan yang memiliki konsumen yang setia. Para karyawan
juga akan merasa puas dan bisa memfokuskan waktu mereka
untuk menjaga hubungan baik dengan pelanggan setia perusahaan.
d. Proses Relationship Marketing
Secara umum Munandar (2016) menggambarkan proses relationship
marketing sebagai berikut:
Sejarah pembelian Mengidentifikasi
masa lalu pelanggan yang
Besarnya pembelian sangat potensial Mengembangkan
Kedalaman penawaran yang
pembelian terfokus pada
sekmen tertentu
Pembagian
Membuat Mengembangkan informasi
perbedaan antara strategi Pemerolehan
pelanggan yang manajemen penetapan harga
menghasilkan laba portofolio
tinggi dan rendah pelanggan
Membangun
kepercayaan
dengan pelanggan Memaksimalkan
menghasilkan laba equitas pelanggan
tinggi
Meningkatkan
share of wallet
kepada pelangan
yang menghasilkan
laba rendah
Gambar 2. Proses Relationship Marketing
Sumber: Munandar (2016)
Dari gambar 2. dapat dijelaskan bahwa tujuan utama relationship
marketing adalah memaksimalkan ekuitas pelanggan, jumlah nilai
keberlangsungan hidup pelanggan dalam perusahaan. Jika ditelusuri maka
urutan prosesnya sebagai berikut: dengan menggunakan data sejarah
pembelian masa lalu perusahaan dapat mengidentifikasi nasabah yang
potensial. Langkah berikut ialah menentukan strategi untuk memperoleh
pelanggan dengan cara melakukan promosi pada segmen pelanggan
tertentu. Langkah ini kemudian diikuti dengan mengembangkan strategi
pengembangan manejemen portofolio pelanggan dengan cara membuat
perbedaan pelanggan yang menghasilkan laba tinggi dan rendah. Langkah
terakhir adalah memaksimalkan equitas pelanggan.
e. Indikator Relationship Marketing
Menurut Alrubaiee dan Al-Nazer (2010) kunci pokok dari
relationship marketing adalah:
1) Trust (Kepercayaan). Kepercayaan dianggap penting karena ini
memberikan basis untuk kolaborasi masa depan. Ketika kepercayaan
dibentuk, perusahaan belajar bahwa usaha bersama yang terkoordinasi
akan membuahkan hasil yang melebihi apa yang dicapai perusahaan
bila bertindak sendiri meski untuk kepentingan terbaik. Kepercayaan
juga didefinisikan sebagai keyakinan satu pihak bahwa kebutuhannya
bisa dipenuhi di masa depan lewat aksi yang diambil pihak lain.
Dalam psikologi sosial, konsensus muncul bahwa kepercayaan
berisi dua elemen penting, yaitu kepercayaan ke kejujuran pasangan
dan kepercayaan ke benevolensi partner. Kejujuran adalah keyakinan
bahwa partner bertindak berdasarkan perkataannya. Benevolensi
adalah keyakinan bahwa partner bertujuan untuk kesejahteraan
perusahaan dan tidak mengambil aksi yang tidak diharapkan yang bisa
berdampak negatif ke perusahaan. Sepertinya, jika partner dalam
sebuah hubungan bisa saling percaya, maka mereka bisa terikat secara
emosional, dan kurang begitu menonjolkan biaya dan keuntungan dari
hubungan. Kepercayaan memiliki aspek pikiran dan perasaan dan
bahwa kepercayaan adalah berorientasi sosial.
Kepercayaan dapat terjalin pada saat suatu pihak merasa
nyaman melakukan pertukaran dengan pihak lain dengan penuh
kejujuran dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan kepercayaan
pelanggan perusahaan harus melakukan komunikasi secara efektif,
menerapkan norma-norma yang diyakini pelanggan dan menjauhi
penilaian terhadap hal yang negatif, dan faktor kegagalan terbesar
dalam menjalin hubungan antara pelanggan dan pemasar yaitu
kurangnya kepercayaan. Kepercayaan dapat dibangun dengan cara
menepati janji terhadap pelanggan, memberikan kenyamanan pada
saat melakukan transaksi, dapat memberikan pelayanan yang
mumpuni, memperlihatkan sikap kepeduliaan terhadap pelanggan,
dan dapat memberikan rasa aman dan nyaman kepada pelanggan.
Kepercayaan merupakan fokus utama pemasar dalam pengembangan
keinginan yang kuat untuk dapat mempertahankan hubungan jangka
panjang dengan pelanggan. Dengan mempertahankan hubungan
tersebut maka akan terbentuk loyalitas pelanggan terhadap perusahaan
(Septira, 2017).
2) Commitment (Komitmen). Komitmen perusahaan juga menjadi
komponen penting dari pertukaran relasional. Ini didefinisikan
sebagai keinginan untuk menjaga hubungan yang bernilai. Penelitian
menunjukkan bahwa komitmen hubungan berada di inti dari
hubungan kerja sukses dan bahwa ini adalah bahan penting dalam
hubungan jangka panjang sukses, termasuk hubungan suplaier-
pembeli. Komitmen adalah sumpah implisit atau eksplisit bagi
kelanjutan hubungan antar partner pertukaran. Dalam praktek dan
penelitian marketing, dikatakan bahwa komitmen mutual antar partner
dalam hubungan bisnis bisa menghasilkan keuntungan signifikan bagi
perusahaan. Komitmen adalah indikator yang baik bagi hubungan
jangka panjang, dan dianggap merepresentasikan puncak dari ikatan
relasional.
Komitmen merupakan sebuah keyakinan antara pihak terkait
yang menginginkan adanya hubungan secara terus menerus dan
dinilai penting dalam menjaga hubungan jangka panjang tersebut.
Komitmen perusahaan merupakan fokus dari Relationship Marketing,
komitmen perusahaan diperoleh dengan cara perusahaan menentukan
pelanggan sebagai prioritas utama. Komitmen perusahaan dapat
ditujukan dengan terus menerus melakukan pembenahan dan
pembelajaran dalam menyediakan kebutuhan pelanggan serta kualitas
layanan agar dapat meningkatkan kepuasan pelanggan, yang akhirnya
akan menciptakan hubungan yang baik dengan pelanggan (Septira,
2017).
3) Communications (Komunikasi). Komunikasi juga dianggap aspek
penting bagi hubungan sukses, komunikasi sebagai sharing secara
formal atau informal berbagai informasi yang penting dan secara tepat
waktu antar perusahaan. Bukti empiris menunjukkan bahwa
komunikasi bisa meningkatkan level kepercayaan antar partner
komunikasi membantu menciptakan kepercayaan dengan memberikan
partner sebuah mekanisme yang bisa digunakan untuk menyelesaikan
perselisihan. Selain itu, ini bisa meningkatkan kemampuan partner
dalam menyelaraskan harapan dan persepsi.
Konflik dapat muncul dalam sebuah perusahaan hal tersebut
terjadi apabila semua elemen dalam perusahaan tidak memiliki
komunikasi yang baik dengan satu dan yang lainnya. Perusahaan
dituntut untuk dapat membentuk komunikasi yang baik agar terhindar
dari kesalahpahaman yang akan menyebabkan kerugian pada
perusahaan. Komunikasi adalah alat untuk mendapatkan informasi
yang benar dan jelas agar pelanggan juga dapat melakukan aktifitas
pembelian pada produk yang dipasarkan, pelanggan akan senang
mendapatkan informasi dari produk yang ditawarkan kepada
pelanggan karena dengan mendapatkan informasi dari komunikasi
yang efektif akan membuat pelanggan mengetahui apa yang
seharusnya dibutuhkan oleh pelanggan tersebut, dan tak jarang terjadi
apa yang seharusnya tidak ingin dibeli tetapi dengan adanya
komunikasi dan penyebaran informasi yang didapat oleh pelanggan
maka pelanggan juga akan membelinya. Hal ini yang menjadi hal
fokus pemasar dalam memasarkan produk-produknya kepada
pelanggan, adanya informasi produk melalui komunikasi yang baik
akan memberikan dampak baik terhadap penjualan produk-produk
pemasar kepada pelanggan (Amir, 2018).
Komunikasi dalam Relationship Marketing berhubungan
terhadap nilai yang didapat oleh pelanggan, melakukan pemberian
informasi yang tepat dan dipercaya akan memberikan kebaikan
kepada pemasar dalam terciptanya sebuah komunikasi yang efektif
dengan pemasar, dan komunikasi yang terjalin dengan baik akan
meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap pemasar, dan hal
tersebut yang diinginkan oleh pemasar dalam menyebarkan informasi
yang benar dan jelas (Septira, 2017).
4) Conflict Handling (Penanganan Masalah). Penanganan masalah
sebagai kemampuan untuk menghindari potensial konflik,
memberikan solusi sebelum terjadi permasalahan, dan mendiskusikan
solusi secara terbuka ketika permasalahan muncul. Perilaku keluhan
konsumen adalah mencakup semua tindakan konsumen yang berbeda
bisa merasa tidak puas dengan suatu pembelian/ pelayanan.
Perusahaan dan pelanggan saling bergantung untuk
membentuk sebuah hubungan yang saling mendukung satu sama lain,
namun hal tersebut terkadang dapat menimbulkan konflik yang dipicu
oleh beberapa hal. Hal-hal yang berpotensi menciptakan konflik tidak
hanya produk, melainkan pelayanan, keramahan, sikap sopan santun
yang diberikan pemasar kepada pelanggan. Konflik dapat menjadi
masalah yang fatal didalam perusahaan yang akan berpotensi
menurunkan kepercayaan satu dengan yang lainnya, penanganan
konflik dan win-win solution dibutuhkan untuk mencegah konflik
yang berkelanjutan. Penanganan konflik dapat berfokus pada
kemampuan perusahaan untuk mencegah dampak dari konflik, dan
dapat menyelesaikan konflik dengan strategi-strategi tepat guna, agar
perusahaan dapat menjaga hubungan antara elemen karyawan maupun
terhadap pelanggan (Septira, 2017).
5) Satisfaction (Kepuasan). Kepuasan sering disebut sebagai variabel
hasil penting bagi hubungan yang sukses. Ini berhubungan erat
dengan pengalaman, kepercayaan, komitmen dan penepatan janji.
Untuk memberikan kepuasan total ke konsumen, tidak hanya
memberikan apa yang dibutuhkan konsumen, tapi “menyenangkan”
konsumen dengan memberikan lebih dari apa yang mereka harapkan.
Kepuasan adalah komponen penting dari hubungan, baik dalam
komponennya sendiri dan dalam pengaruhnya ke komponen lain.
Kelima kunci pokok relationship marketing ini dijadikan indikator dalam
penelitian ini yaitu kepercayaan, komitmen, komunikasi dan penanganan
masalah. Keempat dimensi Relationship Marketing tersebut memiliki
hubungan satu kesatuan yang saling berkaitan, yang memiliki tujuan
untuk menciptakan hubungan jangka panjang antara perusahaan atau
dengan pelanggan, sehingga dalam menciptakan Relationship Marketing
pemasar harus dengan cermat menentukan sikap dalam dimensi
Relationship Marketing. Karena menjaga hubungan jangka panjang
pelanggan adalah inti dari kesuksesan perusahaan (Septira, 2017).
4. Nilai Pelanggan/Nasabah
a. Pengertian Nilai Pelanggan/Nasabah
Dalam menentukan tingkat kepuasan, seorang pelanggan sering kali
melihat dari nilai lebih suatu produk dan kinerja pelayanan yang diterima
dari suatu proses pembelian produk (jasa). Besarnya nilai lebih yang
diberikan oleh suatu produk (jasa) kepada pelanggan tersebut merupakan
jawaban dari pertanyaan tentang mengapa seorang pelanggan menentukan
pilihannya. Pelanggan pada dasarnya mencari nilai terbesar yang
diberikan suatu produk dan jasa (Lupiyoadi, 2014).
Kotler dan Amstrong (2016) menyatakan nilai pelanggan ialah
perbedaan antara nilai total bagi pelanggan dan biaya total pelanggan
terhadap penawaran pemasaran (laba bagi pelanggan). Nilai pelanggan
total ialah nilai total produk, pelayanan, personil dan citra yang diterima
pembeli dari penawaran pemasaran.
Nilai dapat dilihat terutama sebagai kombinasi mutu, jasa dan harga
(QSP: Quality, Service, Price) yang disebutkan tiga serangkai nilai
pelanggan. Nilai meningkat jika mutu dan layanannya meningkat serta
menurun jika harganya meningkat. Pelanggan akan membeli dari
perusahaan yang mereka yakini menawarkan nilai yang dipikirkan
pelanggan yang tertinggi. Nilai mencerminkan sejumlah manfaat, baik
yang berwujud maupun yang tidak berwujud, dan biaya yang
dipersepsikan oleh pelanggan. Nilai adalah kombinasi kualitas, pelayanan
dan harga, atau disebut juga tiga elemen nilai pelanggan. Nilai meningkat
seiring dengan meningkatnya kualitas dan pelayanan, begitu juga
sebaliknya, nilai akan menurun jika kualitas dan pelayanan lemah (Kotler
dan Keller, 2016).
Tjiptono (2015) berpendapat bahwa nilai pelanggan memiliki
sejumlah karakteristik utama, pertama, nilai bersifat instrumental, dalam
artian produk dan jasa sebenarnya hanyalah alat untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan pelanggan. Oleh karenanya, pemasar tidak
hanya wajib menciptakan nilai dalam penawarannya, namun juga harus
mengkaitkan penawaran tersebut dengan kebutuhan dan keinginan
spesifik setiap pelanggan sasaran. Kedua, nilai berifat dinamis seiring
dengan perubahan kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selain itu, nilai
juga bisa berubah dikarenakan semakin meningkatnya ekspektasi pasar.
Apabila pemasaran berhasil memenuhi atau melampaui ekspektasi
pelanggan pada suatu waktu tertantu, maka ekspektasi tersebut akan
menjadi standar minimum berikutnya untuk penilaian kinerja pemasar
dilain waktu. Ketiga, nilai bersifat hirarkis, dimana nilai universal
merupakan fondasi utamanya. Apabila nilai universal tidak ada,
pelanggan bahkan tidak memperdulikan bahwa produk/jasa yang
ditawarkan memberikan nilai personal tertentu.
Nilai pelanggan (CPV-Customer Perceived Value) adalah selisih
antara penilaian pelanggan prospektif atas semua manfaat dan biaya dari
suatu penawaran terhadap alternatifnya. Total manfaat pelanggan (total
customer benefit) adalah kumpulan manfaat ekonomi, fungsional, dan
psikologis yang diharapkan pelanggan dari suatu penawaran pasar. Total
biaya pelanggan (total customer cost) adalah kumpulan biaya yang
dipersepsikan dan diharapkan pelanggan untuk mengevaluasi,
mendapatkan, menggunakan dan menyingkirkan suatu penawaran pasar,
termasuk biaya moneter, waktu, energi dan psikologis (Kotler dan Keller,
2016).
Nilai yang dipersepsikan pelanggan
Total manfaat pelanggan Total biaya pelanggan
Manfaat produk Biaya moneter
Manfaat jasa Biaya waktu
Manfaat personel Biaya energi
Manfaat citra Biaya psikologis
Gambar 3. Nilai Yang Dipersepsikan Pelanggan
Sumber: Kotler dan Keller (2016)
Gambar 3 tersebut dapat dianalisis nilai pelanggan untuk mengungkapkan
kekuatan dan kelemahan perusahaan relatif terdapat kekuatan dan
kelemahan berbagai pesaingnya. Langkah-langkah dalam analisis ini
adalah:
1) Mengidentifikasi atribut dan manfaat utama yang dinilai pelanggan
Pelanggan ditanyai apa tingkat atribut, manfaat dan kinerja yang
mereka cari dalam memilih produk dan penyedia layanan.
2) Menilai arti penting kuantitatif dari atribut dan manfaat yang berbeda
Pelanggan diminta memeringkat arti penting berbagai atribut dan
manfaat. Jika peringkat mereka jauh berbeda, pemasar harus
mengelompokkan mereka kedalam berbagai segmen.
3) Menilai kinerja perusahaan dan pesaing berdasarkan nilai pelanggan
yang berbeda
Pelanggan menggambarkan ditingkat mana mereka melihat kinerja
perusahaan dan pesaing pada setiap atribut dan manfaat.
4) Mempelajari bagaimana pelanggan dalam segmen tertentu
Jika tawaran perusahaan melebihi tawaran pesaing atas semua atribut
dan manfaat penting, perusahaan dapat mengenakan harga yang lebih
tinggi, sehingga menghasilkan laba yang lebih tinggi, atau perusahaan
dapat mengenakan harga yang sama dan mendapatkan pangsa pasar
yang lebih banyak.
5) Mengamati nilai pelanggan sepanjang waktu
Secara berkala, perusahaan harus mengulangi studi nilai pelanggan
dan posisi pesaing ketika terjadi perubahan dalam hal ekonomi,
teknologi dan fitur.
b. Indikator Nilai Pelanggan/Nasabah
Tjiptono (2015) mengelompokkan indikator nilai
pelanggan/nasabah menjadi empat kategori:
1) Nilai emosi (emotional value). Utilitas yang berasal dari perasaan atau
afektif (emosi) positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk.
2) Nilai sosial (social value). Utilitas yang didapatkan dari kemampuan
produk untuk meningkatkan konsep diri sosial konsumen.
3) Kualitas atau nilai performa (quality/performance value). Utilitas
yang didapatkan dari produk dikarenakan reduksi biaya jangka
panjang.
4) Nilai harga (value worthy of price). Utilitas yang diperoleh dari
persepsi terhadap kualitas dan kinerja yang diharapkan atas produk.
Perbedaan nilai (value) dan kualitas adalah bahwa nilai (value)
lebih relatif pada setiap individu seseorang, sedangkan kualitas lebih
abstrak. Oleh sebab itu, nilai (value) yang dirasakan oleh setiap orang
dapat berbeda meskipun persepsi kualitas terhadap suatu produk sama.
Nilai (value) merupakan perasaan trade-off antara manfaat dan biaya dan
kualitas merupakan bagian dari manfaat (Tjiptono, 2015).
5. Kepuasan Nasabah
a. Pengertian Kepuasan Nasabah
Kepuasan nasabah merupakan hal yang penting bagi
penyelenggara jasa, karena nasabah akan menyebarluaskan rasa puasnya
kepada calon nasabah, sehingga akan menaikkan reputasi pemberi jasa.
Menurut Kotler (2010) kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa
seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau
kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-
[Link] Tjiptono (2015) menyatakan bahwa kepuasan
pelanggan adalah situasi kognitif pembeli berkenaan dengan
kesepadanan atau tidak sepadan antara hasil yang didapatkan
dibandingkan dengan pengorbanan yang dilakukan. Lupiyoadi (2014)
menguraikan bahwa tidak selalu program kepuasan pelanggan
menghasilkan seperti yang diharapkan. Hal ini berdasarkan pemikiran
bahwa dengan meningkatkan kualitas atribut produk dan pelayanan maka
kepuasan pelanggan juga akan meningkat. Meningkatnya kepuasan
pelanggan ini dihrapkan dapat meningkatkan upaya mempertahankan
pelanggan (customer retention) yang pada akhirnya akan menghasilkan
profit yang lebih besar.
Tjiptono (2015) merumuskan kepuasan pelanggan sebagai sikap
keseluruhan terhadap suatu barang atau jasa setelah perolehan
(acquisition) dan pemakainnya. Dengan kata lain, kepuasan pelanggan
merupakan penilaian evaluatif purnabeli yang dihasilkan dari seleksi
pembelian spesifik. Definisi ini dijabarkannya ke dalam model
kepuasan/ketidakpuasan pelanggan sebagaimana tersaji pada Gambar 4
berikut:
Pemakaian/konsumsi
produk
Harapan akan Konfirmasi/ Evaluasi
kinerja kualitas diskonfirmasi kinerja/kualitas
produk harapan produk
Evaluasi terhadap Respon Atribut penyebab
keadilan emosional kinerja produk
pertukaran
Kepuasan/
ketidakpuasan
pelanggan
Gambar 4. Model Kepuasan/Ketidakpuasan Pelanggan
Sumber: Tjiptono (2015)
b. Manfaat Program Kepuasan Pelanggan/Nasabah
Realisasi kepuasan pelanggan melalui perencanaan,
pengimplementasian dan pengendalian program khusus berpotensi
memberikan beberapa manfaat pokok, diantaranya (Tjiptono, 2014):
1) Reaksi terhadap produsen berbiaya rendah. Fokus pada kepuasan
pelanggan merupakan upaya mempertahankan pelanggan dalam
rangka menghadapi produsen berbiaya rendah. Banyak perusahaan
yang mendapati cukup banyak pelanggan yang sebenarnya bersedia
membayar harga lebih mahal untuk pelayanan dan kualitas lebih baik.
2) Manfaat ekonomik retensi pelanggan versus perpetual prospecting.
Dalam mempertahankan dan memuaskan pelanggan saat ini jauh lebih
murah dibandingkan upaya terus menarik atau memprospek pelanggan
baru.
3) Nilai kumulatif dari relasi berkelanjutan. Upaya mempertahankan
loyalitas pelanggan terhadap produk dan jasa perusahaan pada periode
waktu yang lama bisa menghasilkan anuitas jauh lebih besar
dibanding pembelian individual.
4) Daya persuasif gethok tular (word of mouth). Dalam banyak industri
jasa, pendapat positif dari teman dan keluarga jauh lebih persuasif dan
kredibel dibanding iklan.
5) Reduksi sensitivitas harga. Pelanggan yang puas dan loyal terhadap
perusahaan cenderung lebih jarang menawar harga untuk setiap
pembelian individualnya. Hal ini dikarenakan faktor kepercayaan
(trust) sudah terbentuk.
6) Kepuasan pelanggan sebagai indikator kesuksesan bisnis masa depan.
Kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang karena
dibutuhkan waktu lama sebelum bisa membangun dan mendapatkan
reputasi atas layanan prima dan juga dituntut investasi besar pada
serangkaian aktifitas yang ditujukan untuk membahagiakan pelanggan
saat ini dan masa depan.
c. Elemen-elemen Kepuasan Nasabah
Menurut Tjiptono (2014) pada umumnya program kepuasan
pelanggan meliputi kombinasi dari enam elemen utama, yakni:
1) Barang dan jasa yang berkualitas, Perusahaan yang ingin menerapkan
program kepuasan pelanggan harus memiliki produk berkualitas baik
dan layanan yang prima.
2) Program promosi loyalitas, program promosi loyalitas bank diterapkan
untuk menjalin relasi antara perusahaan dan pelanggan. Biasanya
program ini memberikan semacam penghargaan (rewards) khusus
(seperti bonus, diskon, voucher, dan hadiah yang dikaitkan dengan
frekuensi pembelian atau pemakaian produk/jasa perusahaan) kepada
pelanggan kelas kakap atau pelanggan rutin (heavy user) agar tetap
loyal pada produk dari perusahaan bersangkutan.
3) Fokus pada pelanggan terbaik (best customer), pelanggan terbaik
bukan sekedar mereka yang termasuk heavy user. Tentu saja mereka
berbelanja banyak, namun kriteria lainnya menyangkut pembayaran
yang lancar dan tepat waktu, tidak terlalu banyak membutuhkan
layanan tambahan, dan relatif tidak sensitif terhadap harga.
4) Sistem penanganan komplain secara efektif, sistem penanganan
komplain yang efektif membutuhkan beebrapa aspek seperti: (1)
permohonan maaf kepada pelanggan atas ketidak nyamanan yang
mereka alami, (2) empati terhadap pelanggan yang marah, (3)
kecepatan dalam penanganan keluhan, (4) kewajaran atau keadilan
dalam memecahkan masalah/keluhan, dan (5) kemudahan bagi
konsumen untuk menghubungi perusahaan dalam rangka
menyampaikan komentar, kritik, saran, pertanyaan, dan/atau
complain.
5) Unconditional guarantes, Unconditional guarantes dibutuhkan untuk
mendukung keberhasilan program kepuasan pelangan. Garansi
merupakan janji eksplisit yang disampaikan kepada para pelanggan
mengenai tingkat kinerja yang dapat diharapkan akan mereka terima.
Garansi bermanfaat dalam mengurangi resiko pembelian oleh
pelanggan, Memberikan sinyal mengenai kualitas produk, dan secara
tegas menyatakan bahwa perusahaan bertanggungjawab atas
produk/jasa yang diberikannya.
6) Program pay-for-performance, total customer satisfaction harus
didukung dengan total equity reward yang mengaitkan sistem
penilaian kinerja dan kompensasi dengan kontribusi setiap karyawan
dalam penyempurnaan kualitas dan peningkatan kepuasan pelanggan.
d. Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan
Metode pengukuran kepuasan pelanggan menutut Tjiptono (2014)
adalah:
1) Sistem keluhan dan saran. Setiap perusahaan jasa yang berorientasi
pada pelanggan wajib memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi
para pelanggan untuk menyampaikan saran, kritik, pendapat dan
keluhan mereka. Informasi yang diperoleh melalui metode ini dapat
memberikan ide-ide baru dan masukan berharga kepada perusahaan,
sehingga memungkinkan untuk bereaksi dengan tanggap dan cepat
untuk mengatasi masalah yang timbul. Namun metode ini bersifat
pasif, akan sulit memperoleh gambaran lengkap tentang kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan. Jika tidak puas maka pelanggan akan
berpindah ke perusahaan lain.
2) Ghost shopping. Metode ini dapat untuk memperoleh gambaran
kepuasan pelanggan dengan memperkerjakan beberapa orang berperan
sebagai pelanggan potensial jasa perusahaan dan pesaing yang biasa
disebut sebagai ghost shopper. Ada baiknya para manajer perusahaan
terjun langsung sebagai ghost shopper untuk mengetahui bagaimana
karyawan berinteraksi dan memperlakukan para pelanggan.
3) Lost Customer Analysis. Dengan menghubugi pelanggan yang telah
berhenti membeli agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan
dapat mengambil kebijakan perbaikan selanjutnya. Metode ini sulit
diterapkan.
4) Survei kepuasan pelanggan. Melalui survei perusahaan akan
memperoleh tanggapan dan umpan balik langsung dari pelanggan dan
memberikan sinyal positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
terhadap mereka.
e. Dampak Kepuasan Nasabah
Kepuasan nasabah yang diberikan bank akan berimbas sangat luas
bagi peningkatan keuntungan bank atau dengan kata lain, apabila
nasabah puas terhadap pembelian jasa bank, maka nasabah tersebut
antara lain (Kasmir, 2016):
1) Loyal kepada bank, artinya kecil kemungkinan nasabah untuk pindah
ke bank yang lain dan akan tetap serta menjadi nasabah bank yang
bersangkutan.
2) Mengulang kembali pembelian produknya, artinya kepuasan terhadap
pembelian jasa bank akan menyebabkan nasabah membeli kembali
terhadap jasa yang ditawarkan secara berulang-ulang.
3) Membeli lagi produk lain dalam bank yang sama dalam hal ini
nasabah akan memerluas pembelian jenis jasa yang ditawarkan
sehingga pembelian nasabah menjadi semakin beragam dalam satu
bank.
4) Memberikan promosi gratis dari mulut ke mulut. Hal inilah yang
menjadi keinginan bank karena pembicaraan tentang kualitas
pelayanan bank ke nasabah lain akan menjadi bukti akan kualitas jasa
yang ditawarkan.
f. Indikator Kepuasan Nasabah
Menurut Tjiptono (2014) dikemukakan ada beberapa hal dalam
konsep inti untuk mengukur kepuasan pelanggan yang dijadikan
indikator dalam penelitian ini, yaitu:
1) Kepuasan Pelanggan secara keseluruhan (overall customer
satisfaction) yaitu mengukur tingkat kepuasan pelanggan terhadap
produk atau jasa perusahaan bersangkutan dan kedua yaitu menilai
dan membandingkannya dengan tingkat kepuasan pelanggan
keseluruhan terhadap produk atau jasa para pesaing.
2) Kepuasan pelanggan (experience satisfaction) yaitu mengidentifikasi
dimensi-dimensi kepuasan pelanggan, meminta pelanggan menilai
produk atau jasa perusahaan berdasarkan item-item spesifik, seperti
kecepatan layanan, fasilitas layanan atau keramahan staf layanan
pelanggan. Meminta pelanggan menilai produk atau jasa pesaing
berdasarkan item-item spesifik yang sama. Meminta para pelanggan
untuk menentukan dimensi-dimensi yang menurut mereka paling
penting dalam menilai kepuasan pelanggan keseluruhan.
3) Konfirmasi harapan (confirmation of expectation) berdasarkan
kesesuaian/ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja
aktual produk/jasa perusahaan pada sejumlah atribut atau dimensi
penting.
4) Minat beli ulang (repurchase intent) apakah pelanggan akan
menggunakan jasa perusahaan lagi.
5) Kesediaan untuk merekomendasi (willingness to recommend)
kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan produk kepada teman
atau keluarganya.
6) Ketidakpuasan Pelanggan (costumer dissastisfaction) meliputi
komplain, retur atau pengembalian produk, biaya garansi, product re-
call (penarikan kembali dari pasar), gethok tular negatif, dan
defections (konsumen yang beralih ke pesaing).
6. Loyalitas Nasabah
a. Pengertian Loyalitas Nasabah
Dalam industri perbankan, mempertahankan loyalitas nasabah
dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah dengan
meningkatkan kualitas pelayanan serta mutu kinerja sumber daya
manusia, yang dalam hal ini para pegawai bank dapat menumbuhkan
tingkat kepercayaan nasabah akan kemampuan bank yang pada akhirnya
dapat terciptanya loyalitas nasabah. Tjiptono (2014) mendefinisikan
loyalitas pelanggan sebagai respon yang terkait erat dengan ikrar atau
janji untuk memegang teguh komitmen yang mendasari kontinuitas relasi,
dan biasanya tercermin dalam pembelian berkelanjutan dari penyedia jasa
yang sama atas dasar dedikasi maupun kendala pragmatis. Sedangkan
menurut Zainal dkk (2015) loyalitas merupakan komitmen yang dipegang
secara mendalam untuk membeli atau mendukung kembali produk atau
jasa yang disukai dimasa depan, meski pengaruh situasi dan usaha
pemasaran berpotensi menyebabkan pelanggan beralih. Dalam bidang
pemasaran, menciptakan hubungan kuat dan erat dengan nasabah
merupakan dambaan semua pemasar. Hal ini sering menjadi keberhasilan
pemasaran jangka panjang. Perlu beberapa pertimbangan bagi perusahaan
untuk dapat membentuk ikatan pelanggan yang kuat.
Tjiptono (2014) ada empat macam kemungkinan hubungan antara
kepuasan dan loyalitas pelanggan: failures, forced loyalty, defectors, dan
successes.
Loyalitas Pelanggan
Rendah Tinggi
Failures Forced loyalty
Tidak puas dan Tidak puas, namun terikat pada
Rendah
Kepuasan Pelanggan
tidak loyal program promosi loyalitas
perusahaan
Defectors Successes
Puas tapi tidak Puas, loyal dan paling mungkin
Tinggi
loyal memberikan gethok tular positif
(word of mouth)
Gambar 5. Hubungan antara Kepuasan dan Loyalitas Pelanggan
Sumber: Tjiptono (2014)
Relationship quality, loyalitas pelanggan berkembang dari relasi
pertemanan biasa (casual acquaintanceships) hingga menjadi kemitraan
berkomitmen (committed partnership) dengan merek atau penyedia jasa
spesifik. Bentuk relasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi enam
kategori (Tjiptono, 2014):
1) Personal identity, merek mencerminkan siapa konsumen yang
memakainya.
2) Interdependence, merek menggambarkan kehidupan konsumen sehari
hari.
3) Nostalgia, keterkaitan (attachment) dengan merek dikarenakan
koneksi dengan masa lalu, misalnya memori saat kecil atau sewaktu
remaja.
4) Commitment, dedikasi untuk mempertahankan relasi dengan merek
spesifik sekalipun terjadi kondisi yang tidak diharapkan.
5) Love/passion, merek yang mampu menumbuhkan kecintaan atau
kekaguman mendalam dikalangan para pemakainya.
6) Intimacy: merek yang dipandang sebagai mitra oleh pelanggan.
Perspektif sikap dan behavioral ke dalam suatu model
komprehensif. Dengan mengkombinasikan komponen sikap dan perilaku
pembelian ulang, maka didapatkan empat situasi kemungkinan loyalitas:
no loyalty, spurious loyalty, latent loyalty dan loyalty. Situasi
kemungkinan loyalitas dapat digambarkan sebagai berikut:
Perilaku Pembelian Ulang
Kuat Lemah
Sikap
Kuat
Loyalty Latent
Loyalty
Spurious No
Lemah
Loyalty Loyalty
Gambar 6. Loyalitas Pelanggan Berdasarkan Sikap dan Perilaku
Pembelian Ulang
Sumber: Tjiptono (2014)
1) No Loyalty
Bila sikap dan perilaku pembelian ulang pelanggan sama-sama
lemah, maka loyalitas tidak terbentuk, karena ada dua kemungkinan.
Pertama sikap yang lemah (mendekati netral) bila terjadi suatu
produk/jasa baru diperkenalkan dan pemasaranya tidak mampu
mengkomunikasikan keunggulan unik produknya. Tantangan bagi
pemasar tersebut adalah meningkatkan kesadaran (awereness) dan
preferensi konsumen melalui melalaui strategi bauran promosi, seperti
menyediakan kesempatan kepada konsumen untuk mencoba produk
(bila memunginkan), program diskon, kampanye promosi dan iklan
yang menekankan pada manfaat produk/jasa yang jelas. Iklan
menggunakan public figure, dan sebagainya. Kedua berkaitan dengan
dinamika pasar, dimana merek-merek yang berkompetensi
dipersepsikan serupa/sama. Konsekuensinya, pemasar mungkin sangat
sukar membentuk sikap yang positif/kuat terhadap produk/jasa
perusahaannya, namun ia bisa mencoba menciptakan spurious loyalty
melalui pemilihan lokal yang strategis, promosi yang agresif,
meningkatkan shelf space untuk mereknya, dan lain-lalin.
2) Spurious Loyalty
Bila sikap yang relatif lemah dibarengi dengan pola pembelian
ulang yang kuat, maka yang terjadi adalah spurious loyalty atau
captive loyalty. Situasi semacam ini ditandai dengan pengaruh faktor
non-sikap terhadap perilaku, misalnya norma subyektif dan faktor
situasional. Dimana konsumen sulit membedakan berbagai merek
dalam kategori produk.
3) Latent Loyalty
Situasi ini tercermin bila sikap yang kuat dibarengi dengan pola
pembelian ulang yang lemah. Situasi yang menjadi perhatian besar
para pemasar ini disebabkan pengaruh faktor-faktor non-sikap yang
sama kuat atau bahkan cenderung lebih kuat ketimbang faktor sikap
dalam menentukan pembelian ulang.
4) Loyalty
Situasi ini merupakan situasi ideal yang diharapkan para
pemasar, dimana konsumen bersikap positif terhadap jasa atau
penyedia jasa bersangkutan dan disertai pola pembelian ulang yang
konsisten.
b. Cara Membangun Loyalitas Nasabah
Cara yang bisa dilakukan perusahaan untuk membangun loyalitas
pelanggan antara lain (Tjiptono, 2016):
1) Memperkuat merek, kegiatan ini mencerminkan karakter nasabah
membentuk ikatan emosional antara nasabah dengan merek tersebut.
2) Memperbaiki pelayanan, pelayanan kepada nasabah menciptakan
pengalaman yang unik kepada nasabah sehingga ia merasa dihargai.
3) Meningkatkan kualitas produk, dengan kualitas yang baik maka akan
mengurangi risiko nasabah mengalami kegagalan produk.
Kotler dan Keller (2016) menciptakan hubungan yang kuat dan erat
dengan pelanggan (nasabah) adalah mimpi semua pemasar dan hal ini
sering menjadi kunci keberhasilan pemasaran jangka panjang,
perusahaan yang ingin membentuk ikatan pelanggan yang kuat harus
memperhatikan sejumlah pertimbangan yang beragam. Empat jenis
kegiatan pemasaran penting yang digunakan perusahaan untuk
meningkatkan loyalitas:
1) Berinteraksi dengan pelanggan, mendengarkan pelanggan merupakan
hal penting dalam menejemen hubungan pelanggan. Beberapa
perusahaan menciptakan mekanisme berkelanjutan yang membuat
menejer senior dapat terus terhubung dengan umpan balik pelanggan
lini depan.
2) Mengembangkan program loyalitas, dua program loyalitas pelanggan
yang dapat ditawarkan perusahaan adalah program frekuensi dan
program pemasaran klub. Program frekuensi (FP-frequency program)
dirancang untuk memberikan penghargaan kepada pelanggan yang
sering membeli dan dalam jumlah besar. Program keuangan klub
(Club membership program), bisa terbuka bagi semua orang yang
membeli produk/jasa, atau hanya terbatas bagi kelompok yang
berminat atau mereka yang bersedia membayar sejumlah kecil iuran.
3) Mempersonalisasikan pemasaran, personel perusahaan dapat
menciptakan ikatan yang kuat dengan pelanggan melalui
pengindividuan dan personalisasi hubungan.
4) Menciptakan ikatan institusional, perusahaan dapat memasok
pelanggan dengan peralatan khusus atau hubungan komputer yang
membantu pelanggan mengelola pesanan, penggajian dan persediaan.
Pelanggan tidak terlalu terbujuk untuk beralih ke pemasok lain jika
peralihan itu melibatkan biaya modal tinggi, biaya riset tinggi atau
hilangnya diskon pelanggan setia.
c. Tingkatan Loyalitas Nasabah/Pelanggan
Munandar (2016) menggambarkan tingkatan loyalitas
pelanggan/nasabah sebagai berikut:
Partners
Advocates
Supporters
Gambar 7. Tingkatan Loyalitas Pelanggan/Nasabah
Sumber: Munandar (2016)
Tingkatan loyalitas pelanggan/nasabah seperti gambar 7 tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1) Suspects, yaitu orang-orang yang akan membeli produk.
2) Prospects, yaitu orang-orang yang memiliki minat lebih kuat terhadap
produk ataupun jasa serta memiliki daya beli.
3) Disqualified prospects, yaitu orang yang tidak bisa diharapkan untuk
membeli.
4) First Time Customers, yaitu orang yang diharapkan mau membeli
produk atau jasa pada pertama kali.
5) Repeat Customers, yaitu orang yang sudah pernah membeli walau
hanya sekali, diharapkan mau kembali membeli.
6) Client, yaitu orang yang sudah beberapa kali membeli sehingga
mengenal dengan baik produk yang ditawarkan.
7) Supporter / Member, yaitu orang yang turut mendapatkan keuntungan
dari perusahaan.
8) Advocate, yaitu sekelompok orang yang mempengaruhi orang lain
untuk menggunakan produk yang dijual perusahaan.
9) Partner, yaitu konsumen yang sudah loyal terhadap perusahaan dan
bersedia untuk bersama-sama mengembangkan perusahaan.
d. Indikator Loyalitas Nasabah
Indikator loyalitas nasabah dibentuk melalui lima indikator yang
dirujuk dari Yap et al (2012) yang meliputi :
1) Nasabah lebih suka bank ini daripada yang lain
2) Niat untuk terus menggunakan bank ini.
3) Merekomendasikan kepada orang lain.
4) Pengakuan kesetiaan terhadap bank
5) Keinginan untuk menutup akun pada bank
7. Penelitian Terdahulu
Matriks penelitian terdahulu dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 1. Matrik Penelitian Terdahulu
No Nama Peneliti, Tujuan Metode Penelitian Alat Analisis Kesimpulan Hasil
Judul Penelitian Penelitian Penelitian
dan Tahun
1. Mohammad Tujuan Penelitian Analisis Nilai nasabah,
Sof’an dan penelitian ini menggunakan regresi linear kualitas produk,
Supriyadi (2016) untuk menguji pendekatan berganda kualitas jasa
“Pengaruh Nilai pengaruh nilai kuantitatif dengan syariah, dan
Nasabah, Kualitas nasabah, kualitas metode angket kepuasan nasabah
Produk, Kualitas produk, kualitas kepada nasabah berpengaruh
Jasa Syariah Dan jasa syariah, Bank Syariah terhadap loyalitas
Kepuasan kepuasan Mandiri Cabang nasabah secara
Terhadap nasabah terhadap Kudus sebanyak parsial dan
Loyalitas Nasabah loyalitas nasabah 100 responden. simultan.
Di Bank Syariah Sampel diambil
Mandiri Kudus” menggunakan
accidental sampling
2. Noor Rosyadi dan Penelitian Penelitian Analisis uji Relationship
Delaga Nurwisda bertujuan untuk menggunakan statistik Marketing
(2018) “Pengaruh mengetahui sampel deskriptif, berpengaruh
Relationship pengaruh 100 responden PD regresi linier signifikan terhadap
Marketing pemasaran BPR BKK Taman berganda, Loyalitas
terhadap Loyalitashubungan Cabang Moga analisis jalur Nasabah baik
Nasabah dengan terhadap diambil secara dan uji secara langsung
Kepuasaan loyalitas purposive sampling. hipotesis maupun melalui
Nasabah sebagai pelanggan pada uji t dan Kepuasaan
variabel dengan kepuasan uji F serta Nasabah
Intervening pada sebagai variabel koefisien
BPR BKK Taman intervening determinasi
Cabang Moga” secara
bersamaan atau
secara parsial
3. Hariyanto Ridwan, Tujuan Objek dalam Teknik Kepercayaan dan
Pusporini, dan penelitian untuk penelitian ini ialah analisis yang nilai nasabah
Samin (2018) mengetahui nasabahBank BNI digunakan berpengaruh secara
“Pengaruh pengaruh di Jakarta. adalah langsung terhadap
Kepercayaan, kepercayaan, metode loyalitas
Kualitas kualitas analisis jalur pelanggan, kualitas
Pelayanan, Dan pelayanan, dan (Path pelayanan tidak
Nilai Nasabah nilai nasabah Analysis) berpengaruh
Terhadap terhadap terhadap loyalitas
Loyalitas loyalitas pelanggan.
Pelanggan Melalui pelanggan Kepuasan nasabah
Kepuasan Sebagai melalui tidak dapat
Variabel kepuasan menjadi variabel
Intervening Pada sebagai variabel intervening
Bank BNI” intervening pengaruh antara
kepercayaan,
kualitas pelayanan,
dan nilai nasabah
terhadap loyalitas
nasabah.
No Nama Peneliti, Tujuan Metode Penelitian Alat Analisis Kesimpulan Hasil
Judul Penelitian Penelitian Penelitian
dan Tahun
4. Vithya Populasi penelitian Confirmatory Temuan ini
Leninkumar semua nasabah factor mengungkapkan
(2017) “The individu Bank analysis korelasi positif
Relationship Umum terpilih di (KMO signifikan antara
between Customer Provinsi Utara Sri Bartlet) dan kepercayaan dan
Satisfaction and Lanka. Nasabah SEM kepuasan
Customer Trust on dari empat bank pelanggan
Customer terkemuka, metode terhadap loyalitas
Loyalty” convenience pelanggan.
sampling diperoleh
sampel sebanyak
210 nasabah
5. Abdolaziz Abtin Bertujuan untuk Penelitian dilakukan Analisis Temuan
dan Mostafa menyelidiki melalui metode koefisien menunjukkan ada
Pouramiri (2016) dampak survei dengan korelasi hubungan positif
“The impact of relationship menggunakan Pearson signifikan
relationship marketing kuesioner sebagai antar dimensi
marketing on dengan instrumen utama. relationsip
customer loyalty peningkatan marketing yaitu
enhancement loyalitas kepercayaan,
(Case study: pelanggan di kepuasan,
Kerman Iran perusahaan manajemen,
insurance asuransi Kerman komunikasi dan
company)” Iran kompetensi dengan
loyalitas
pelanggan.
8. Kerangka Pemikiran
Berdasarkan landasan teori diatas maka dapat dibuat kerangka
pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Relationship
marketing (X1)
Nilai Nasabah (X2) Loyalitas
Nasabah (Y)
Gambar 8. Kerangka Pemikiran Penelitian
Kepuasan Nasabah
(X3)
Keterangan :
: pengaruh parsial
9. Pengembangan Hipotesis
a. Pengaruh Relationship Marketing terhadap Loyalitas Nasabah
Menurut Amir (2018) ada tujuh tahapan yang perlu diperhatikan
oleh para pemasar dalam menerapkan konsep relationship marketing
yaitu mengenali pelanggan dan membangun database pelanggan, memilih
pelanggan yang menjadi prioritas dengan membuat segmentasi
pelanggan, memberikan kemudahan bagi pelanggan untuk berinteraksi,
memudahkan penanganan interaksi melalui teknologi internet,
memberikan pengalaman yang menarik, memberikan pelayanan personal
dan mempertahankan loyalitas pelanggan.
Relationship marketing memaparkan bahwa loyalitas nasabah harus
dibangun dengan usaha keras dalam bentuk personalisasi dimana nasabah
menjadi inti dari aktivitas pemasaran. Nasabah yang memiliki maksud
untuk menggunakan kembali dan merekomendasikan produk dan jasa
kepada orang lain kemungkinan besar sebagai pelanggan yang loyal.
Dengan meningkatkan kelangsungan hubungan dengan nasabah lama dan
terus mengakuisisi dengan nasabah baru dengan konsep loyalitas
pelanggan, maka akan mempunyai pengaruh yang lebih besar dari bagian
pasar, karena strategi bisnis difokuskan pada kelanggengan dan pemuasan
dari setiap nasabah dengan penggunaan strategi relationship marketing.
Sehingga dengan adanya strategi relationship marketing berupaya untuk
memperpanjang umur waktu hidup pelanggan sebagai individu yang
bertransaksi dan dapat menjaga loyalitas nasabah (Waqi’ah, 2019).
Loyalitas pelanggan digambarkan sebagai orang yang membeli,
khususnya yang membeli secara teratur dan berulang-ulang. Berdasarkan
hal tersebut dapat disimpulkan bahwa relationship marketing
berhubungan dengan loyalitas pelanggan, karena menurut Tjiptono
(2015), relationship marketing merupakan pembentukan loyalitas
pelanggan. Sedangkan loyalitas itu sendiri adalah perilaku pembelian
rutin yang didasarkan kepada unit pengambilan keputusan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Husnain dan Akhtar
(2015), Abtin dan Pouramiri (2016), Rosyadi dan Nurwisda (2018), maka
dapat diajukan hipotesis berikut:
Ho1: Tidak terdapat pengaruh antara relationship marketing terhadap
loyalitas nasabah.
Ha1: Terdapat pengaruh signifikan antara relationship marketing terhadap
loyalitas nasabah.
b. Pengaruh Nilai Nasabah terhadap Loyalitas Nasabah
Persepsi konsumen terhadap nilai atas kualitas yang ditawarkan
relative lebih tinggi dari pesaing akan mempengaruhi tingkat loyalitas
konsumen, semakin tinggi persepsi nilai yang dirasakan oleh pelanggan,
maka semakin besar kemungkinan terjadinya hubungan (transaksi).
Hubungan yang diinginkan adalah hubungan yang bersifat jangka
panjang, sebab usaha dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan
diyakini akan jauh lebih besar apabila harus menarik pelanggan baru atau
pelanggan yang sudah meninggalkan perusahaan dari pada
mempertahankannya (Amir, 2018).
Nilai pelanggan/nasabah berhubungan erat dengan kepuasan
pelanggan, dengan semakin tinggi dimensi nilai yang diperoleh nasabah,
maka semakin tinggi kepuasan pelanggan. Nilai pelanggan nasabah yang
diterima nasabah secara terus menerus akan dapat memberikan kepuasan
dan ikatan hubungan yang berperan penting dalam membangun loyalitas
dengan nasabah (Sof’an dan Supriyadi, 2016).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Sof’an dan Supriyadi
(2016) dan Ridwan dkk (2018) maka dapat diajukan hipotesis berikut:
Ho2: Tidak terdapat pengaruh nilai nasabah terhadap loyalitas nasabah.
Ha2: Terdapat pengaruh signifikan nilai nasabah terhadap loyalitas
nasabah.
c. Pengaruh Kepuasan Nasabah terhadap Loyalitas Nasabah
Penelitian kepuasan nasabah terhadap loyalitas nasabah yang
dilakukan oleh Yap et al (2012), Sof’an dan Supriyadi (2016),
Leninkumar (2017), menyimpulkan bahwa kepuasan nasabah
berpengaruh signifikan terhadap loyalitas nasabah. Nasabah bank yang
puas akan pelayanan yang diberikan akan dapat mempertahankan
loyalitas nasabah terhadap bank dan akan menjadi bank pilihan utama
para nasabah. Bahkan nasabah akan merekomendasikan kepada teman
ataupun keluarganya untuk memilih bank tersebut sebagai tempat
bertransaksi, menabung dan berinvestasi.
Kepuasan Nasabah merupakan perasaan senang atau kecewa
seseorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) yang
diharapkan. Perusahaan harus berusaha membuat kepuasan nasabah
tersebut berkembang menjadi nasabah yang loyal terhadap produk
maupun layanan yang diberikn oleh perusahaan (Tjiptono, 2014).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yap et al (2012),
Sof’an dan Supriyadi (2016), Leninkumar (2017) maka dapat diajukan
hipotesis berikut:
Ho3: Tidak terdapat pengaruh kepuasan nasabah terhadap loyalitas
nasabah.
Ha3: Terdapat pengaruh signifikan kepuasan nasabah terhadap loyalitas
nasabah.
F. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Berdasarkan jenis data yang digunakan maka penelitian ini termasuk
penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif
adaah metode penelitian dengan menggambarkan isi penelitain terkait
variabel yang diteliti. Pendekatan kuantitatif adalah penelitian yang
analisisnya lebih fokus pada data-data numerial (angka) yang diolah dengan
menggunakan metode statistika (Sugiyono, 2017). Dalam penelitian ini
peneliti akan menggambarkan dan menganalisis pengaruh relationship
marketing, nilai nasabah, dan kepuasan nasabah terhadap loyalitas nasabah
BCA KCP Purwosari.
2. Variabel Penelitian dan pengukurannya
a. Variabel Bebas atau Independent Variable (X)
Variabel bebas atau variabel independen sering disebut sebagai
variabel stimulasi, predictor, antecendent. Variabel bebas atau variabel
independen ini merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)
(Sugiyono, 2017). Variabel independen dalam penelitian ini adalah
relationship marketing (X1), nilai nasabah (X2), dan kepuasan nasabah
(X3).
b. Variabel Terikat atau Dependent variable (Y)
Variabel terikat atau variabel dependen disebut sebagai variabel
output, kriteria, konsekuen, tergantung, terpengaruh, dan variabel efek.
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang
menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2017). Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah loyalitas nasabah.
3. Sumber Data
Suimber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer data yang diperoleh langsung dari hasil pengumpulan
data dimana dalam penelitain ini berasal dari kuesioner yang diisi secara
langsung oleh responden penelitian yaitu nasabah BCA KCP Purwosari. Data
sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada. Dalam
penelitian ini data sekunder diperoleh dari BCA.
4. Populasi dan Sampel Penelitian
a. Populasi Penelitian
Menurut Sugiono (2017) untuk generalisasi atau hasil penelitian
perlu ditetapkan besarnya sampel yang digunakan tergantung banyak
faktor antara lain biaya, tenaga dan waktu, pendekatan secara metode
ilmiah besar sampel tergantung kepada apakah populasi terbatas atau
tidak terbatas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh nasabah pada
BCA KCP Purwosari dengan jumlah nasabah sebanyak 2455 (BCA KCP
Purwosari, 2019).
b. Sampel Penelitian
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi (Sugiyono, 2017). Teknik pengambilan sampel yang digunakan
adalah nonprobability sampling, adalah teknik pengambilan sampel yang
tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Adapun teknik penentuan sampel
menggunakan purposive sampling artinya adalah teknik penentuan
sampel dengan pertimbangan tertentu yaitu orang yang sudah menjadi
nasabah minimal selama satu tahun menggunakan jasa BCA KCP
Purwosari. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus dari Taro
Yamane yang dikutip Akdon dan Riduwan (2013) sebagai berikut :
N
n
N . d2 1
Dimana :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d2 = Presisi yang ditetapkan tingkat presisi yang ditetapkan 10%.
2875
n 96,7 97
2875 x (0,1) 2 1
Berdasarkan perhitungan rumus diatas, maka diperoleh sampel
sebanyak 96 nasabah.
5. Teknik Pengumpulan Data
a. Kuesioner
Sugiyono (2017) mengemukakan kuesioner merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat
pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan tertutup atau terbuka,
dapat diberikan kepada responden secara langsung. Datanya berupa daftar
pertanyaan yang terperinci dan lengkap dalam satuan daftar pernyataan
agar responden mengisi atau menjawab sendiri pernyataan itu.
Dalam penelitian ini kuesioner dibagikan kepada responden berupa
kuesioner tertutup, karena dalam penelitian ini setiap pernyataan telah
diberikan alternatif jawaban terkait pernyataan relationship marketing,
nilai nasabah, kepuasan nasabah dan loyalitas nasabah.
b. Dokumentasi
Menurut Arikunto (2016), dokumentasi merupakan metode mencari
data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku,
surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, agenda, dan sebagainya.
Dalam penelitian ini melalui metode dokumentasi diperoleh dari profil
BCA secara umum meliputi sejarah singkat, visi, misi, tujuan, dan
struktur organisasi.
6. Definisi Operasional Variabel
a. Relationship Marketing
Relationship Marketing sebagai pengenalan setiap nasabah secara
lebih dekat dan memuaskan dengan menciptakan komunikasi dua arah
dengan mengelola suatu hubungan yang saling menguntungkan antara
nasabah dan perusahaan. Indikatornya meliputi: kepercayaan, komitmen,
komunikasi dan penanganan masalah.
b. Nilai Nasabah
Nilai nasabah adalah selisih antara penilaian pelanggan prospektif
atas semua manfaat dan biaya dari suatu penawaran terhadap
alternatifnya. Indikatornya meliputi nilai emosi (emotional value), nilai
sosial (social value), kualitas atau nilai performa (quality/performance
value), dan nilai harga (value worthy of price)
c. Kepuasan Nasabah
Kepuasan pelanggan sebagai sikap keseluruhan terhadap suatu
barang atau jasa setelah perolehan (acquisition) dan pemakaiannya.
Dengan kata lain kepuasan pelanggan merupakan penilaian evaluatif
purnabeli yang dihasilkan dari seleksi pembelian spesifik. Indikatornya
meliputi: kepuasan pelanggan secara keseluruhan (overall customer
satisfaction), kepuasan pelanggan (experience satisfaction), konfirmasi
harapan (confirmation of expectation), minat beli ulang (repurchase
intent), kesediaan untuk merekomendasi (willingness to recommend), dan
ketidakpuasan pelanggan (costumer dissastisfaction)
d. Loyalitas Nasabah
Nasabah yang loyal biasanya akan melakukan beberapa hal berikut
ini: menarik pelanggan baru yang potensial melalui mulut ke mulut, tidak
mungkin tertarik oleh produk pesaing dan selalu membeli produk dari
waktu ke waktu. Indikatornya meliputi: nasabah lebih suka bank ini
daripada yang lain, niat untuk terus menggunakan bank ini,
merekomendasikan kepada orang lain, pengakuan kesetiaan terhadap
bank, keinginan untuk menutup akun pada bank.
Pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
kuesioner tertutup terkait penilaian relationship marketing, nilai nasabah,
kepuasan nasabah dan loyalitas nasabah. Dalam hal ini menggunakan skala
Likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Penelitian
fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang
selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian (Sugiyono, 2017). Variabel
yang akan diukur menjadi indikator, kemudian indikator tersebut dijadikan
sebagai titik tolak untuk item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan.
Jawaban setiap indikator instrumen yang menggunakan skala likert dengan
skor sebagai berikut :
1) SS Sangat Setuju 5
2) S Setuju 4
3) N Netral 3
4) TS Tidak Setuju 2
5) STS Sangat Tidak Setuju 1
7. Pengujian Instrumen Penelitian
Untuk mengetahui ketepatan dan keakuratan metode pengumpulan data
yang digunakan, maka digunakan uji instrumen validitas dan reliabilitas.
Validitas didefinisikan sebagai ukuran seberapa cermat suatu test melakukan
fungsi ukurannya terhadap suatu gejala. Sedangkan reliabilitas adalah indeks
yang menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran beberapa kali terhadap
gejala yang sama, dengan alat ukur yang sama. Adapun rumus yang
digunakan untuk menguji tingkat validitas dan reliabilitas adalah :
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau tidaknya suatu
kuesioner. Suatu kuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan pada
kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur untuk
kuesioner tersebut. Metode yang akan digunakan untuk melakukan uji
validitas adalah dengan melakukan korelasi antar butir pertanyaan dengan
total skor konstruk atau variabel (Ghozali, 2013). Rumus product moment
correlation adalah sebagai berikut :
rXY =
Keterangan:
rxy = koefisiensi korelasi
∑x = jumlah skor item
∑y = jumlah skor total (item)
N = jumlah responden
Analisis validitas dengan pearson product moment dibantu dengan
menggunakan program SPSS 20.0. Jika nilai r hitung > r tabel atau nilai
signifikansi (p value) < 0,05 maka dinyatakan item pernyataan dinyatakan
valid dan sebaliknya jika nilai r hitung < r tabel atau nilai signifikansi (p
value) > 0,05 maka dinyatakan item pernyataan dinyatakan tidak valid.
b. Uji Reliabilitas
Uji ini merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kuesioner
yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner
dikatakan reliabel atau handal jika jawaban respondenterhadap pernyataan
adalah konsisten dari waktu ke waktu. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini yakni uji statistik Cronbach Alpha, yakni suatu konstruk atau
variabel yang dinyatakan reliabel jika nilai cronbach alpha >0,7 (Ghozali,
2013). Rumusnya sebagai berikut :
k b
2
rxy 1
k 1 12
Keterangan :
rxy : reliabilitas instrument
K : banyaknya butir pertanyaan
∑σb2 : jumlah varians butir
σ1 2 : varians total
8. Teknik Analisis Data
Data diolah dibantu dengan menggunakan SPSS 20. Metode analisis
data meliputi dengan menggunakanan uji asumsi klasik dan uji hipotesis
(regresi berganda).
a. Uji Asumsi Klasik
Sebelum dilakukan pengujian analisis regresi linier berganda
terhadap hipotesis penelitian, maka terlebih dahulu perlu dilakukan suatu
pengujian asumsi klasik atas data yang akan diolah sebagai berikut:
1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi, variabel penganggu atau resindual memiliki distibusi
normal. Kalau asumsi ini dilangar maka uji statistik menjadi tidak
valid untuk jumlah sampel kecil. Ada dua cara untuk mendeteksi
apakah resindual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan
analisis grafik dan uji [Link] menguji apakah data
berdistribusi normal atau tidak dilakukan uji statistic Kolmogorov-
Smirnov Test. Residual berdistribusi normal jika memiliki nilai
signifikan > 0,05 (Ghozali, 2013). Cara pengambilan keputusan
dalam pengujian ini adalah:
a) Jika nilai signifikasi > 0,05 maka data berdistribusi normal
b) Jika nilai signifikasi < 0,05 maka data tidak terdistribusi normal
2) Uji Multikolinearitas
Menurut Ghozali (2013) uji multikolinieritas bertujuan untuk
menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar
variabel bebas (independen). Untuk menguji multikolinieritas
dengan cara melihat nilai VIF masing-masing variabel independen,
jika nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan data bebas dari gejala
multikolinieritas.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedasitas bertujuan menguji apakah dalam satu
pengamatan ke pengamatan yang lain. Ada berapa cara yang dapat
dilakukan untuk uji heteroskedasitas, yaitu uji grafik plot, uji park,
uji glejser, dan uji white. Pengujian pada penelitian ini menggunakan
metode glejser jika nilai signifikansi (p value) > 0,05 maka
dikatakan bebas heteroskedasitas dan jika nilai signifikansi (p value)
< 0,05 maka terjadi gejala heteroskedastisitas (Ghozali, 2013).
b. Uji Kelayakan Model (Uji F)
Dilakukan untuk mengukur ketepatan fungsi regresi sampel dalam
menaksir niai aktual secara statistik, setidaknya hal ini dapat diukur dari
nilai koefisien determinasi, nilai statistik F (Ghozali, 2013). Uji statistik
F pada dasarnya digunakan untuk mengetahui apakah model regresi
dapat digunakan untuk memprediksi variabel dependen atau tidak.
Kriteria pengujiannya adalah jika F hitung < F tabel, maka Ho diterima
dan jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak.
c. Uji R Square (Koefisien Determinasi)
Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa
besar varian dari variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel
independen. Nilai koefisien determinasi berada diantara nol dan satu ≤
R2 ≤ 1. Apabila R2 mendekati 1, ini menunjukkan bahwa variasi variabel
secara bersama-sama dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen.
Sebaliknya jika nilai R 2 mendekati 0, maka variasi dari variabel
dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel independen. Biasanya
koefisien determinasi untuk mengetahui seberapa besar sumbangan dari
seluruh variabel independent (X1, X2, dan X3) yang terdapat dalam
model regresi terhadap dalam model regresi variabel dependent (Y)
dinyatakan dalam bentuk persentase (%) (Ghozali, 2013).
d. Uji Hipotesis
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh
satu variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel
dependen. Cara pengambilan keputusan dalam pengujian ini adalah:
1) Jika nilai t hitung > t tabel atau nilai –t hitung < -t tabel dengan
signifikansi < 0,05 maka variabel independen berpengaruh secara
parsial terhadap varaibel dependen.
2) Jika nilai t hitung < t tabel atau nilai –t hitung >-t tabel dengan
signifikansi > 0,05 maka variabel independen tidak berpengaruh
secara parsial terhadap varaibel dependen (Ghozali, 2013).
G. Sistematika Penulisan
Dalam penelitian ini, sistematika penulisan dibagi ke dalam lima bab
sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Isi dalam bab pendahuluan adalah latar belakang masalah penelitian, perumusan
masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Isi dalam bab tinjauan pustaka meliputi landasan teori, penelitian terdahulu,
kerangka pemikiran dan pengembangan hipotesis penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Isi dalam bab metode penelitian adalah desain penelitian, lokasi dan obyek
penelitian, variabel dan definisi operasional variabel, populasi dan sampel, jenis
data dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Isi dalam bab IV ini meliputi gambaran obyek penelitian, hasil penelitian dan
pembahasan.
BAB V : PENUTUP
Isi dalam bab penutup adalah kesimpulan, keterbatasan penelitian, dan saran-
saran.
H. Daftar Pustaka
Abtin, Abdolaziz dan Mostafa Pouramiri. 2016. The impact of relationship
marketing on customer loyalty enhancement (Case study: Kerman Iran
insurance company). Marketing and Branding Research 3(2016) 41-49.
Akdon dan Riduwan. 2013. Rumus dan Data Dalam Analisis Statistika.
Bandung: Alfabeta.
Alrubaiee, Laith dan Nahla Al-Nazer. 2010. Investigate the Impact of
Relationship Marketing Orientation on Customer Loyality: The
Customer’s Perspective. International Journal of Marketing Studies Vol.
2, No. 1; May 2010: 155-174.
Amir, Muhammad Nur Fauzi. 2018. Pengaruh Nilai Pelanggan, Kepuasan
Nasabah, Kualitas Pelayanan dan Relationship Marketing Terhadap
Loyalitas Nasabah (Studi kasus pada Nasabah Bank Jabar Banten Syariah
Kcp. Ciputat). Skripsi. Jakarta: Program Studi Perbankan Syariah Fakultas
Ekonomi Dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Arikunto, S. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Djatmiko, Budi. 2013. Pengaruh Customer Relationship Marketing Terhadap
Loyalitas Nasabah (Studi Pada Nasabah BRI Unit Sudirman - Bandung).
Smart – Study & Management Reseach | Vol X, No.3 – 2013: 31-42.
Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS,
21 Update PLS Regresi Edisi 7. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Hastriana, Rani. 2014. Pengaruh Relationship Marketing Terhadap Kepuasan
Nasabah Pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., Cabang
Pangkep. Skripsi. Makasar: Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Uin
Alauddin.
Hurriyati, Ratih. 2015. Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen. Bandung:
Alfabetha.
Husnain, Mudassir dan M Waheed Akhtar. 2015. Relationship Marketing and
Customer Loyalty: Evidence from Banking Sector in Pakistan. Global
Journal of Management and Business Research: E-Marketing Volume 15
Issue 10 Version 1.0 2015.
Kasmir. 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia (Teori dan Praktik). Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Kotler, Philip and Gary Amstrong. 2016. Prinsip-prinsip Pemasaran. Edisi13.
Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Kotler, Philip and Kevin Lane Keller. 2016. Marketing Management, 15th
Edition New Jersey: Pearson Pretice Hall, Inc.
Kotler, Philip. 2010. Manajemen Pemasaran. Edisi tiga belas Bahasa
[Link] 1 dan 2. Jakarta : Erlangga.
Kurniawan, Iskawanto dan Muchsin S. Shihab. 2015. Pengaruh Nilai Nasabah,
Kualitas Pelayanan, Dan Kualitas Hubungan Terhadap Kepuasan Nasabah
Serta Implikasinya Terhadap Loyalitas Nasabah Bank Syariah Mandiri.
Jurnal Manajemen dan Bisnis Sriwijaya Vol.13 No.2 Juni 2015: 199-216.
Leninkumar, Vithya. 2017. The Relationship between Customer Satisfaction and
Customer Trust on Customer Loyalty. International Journal of Academic
Research in Business and Social Sciences 2017, Vol. 7, No. 4: 450-465.
Lovelock, Christopher., Jochen Wirtz., & Mussry. 2011. Pemasaran Jasa:
Manusia, Teknologi, Strategi (Jilid: 2-7/E). Jakarta: Erlangga.
Lupiyoadi, Rambat. 2014. Manajemen Pemasaran Jasa. Edisi 3. Jakarta:
Salemba Empat.
Munandar, Dadang. 2016. Relationship Marketing; Strategi Menciptakan
Keunggulan Bersaing. Yogyakarta: Ekuilibria.
Muntaha, M. Roif. 2017. Pengaruh Relationship Marketing Dan Customer
Satisfaction Terhadap Loyalitas Nasabah BPRS Barokah Dana Sejahtera
Yogyakarta. Naskah Publikasi. Yogyakarta: Program Studi Perbankan
Syariah Fakultas Agama Islam Universitas Alma Ata.
Olson, Jerry C. dan Peter J. Paul. 2014. Perilaku Konsumen dan Strategi
Pemasaran. Edisi Sembilan. Buku 2. Jakarta: Salemba Empat.
Otoritas Jasa Keuangan. 2017. Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia
(SNLKI). Jakarta: OJK.
Riadi,Rizal Syahrial, Diah Yulisetiarini, dan Gusti Ayu Wulandari. 2017.
Pengaruh Customer Relationship Marketing Terhadap Customer Loyalty
Melalui Customer Value Pada Bank Jatim Di Jember. e-Journal Ekonomi
Bisnis dan Akuntansi, 2017, Volume IV (2) : 178 – 181.
Ridwan, Hariyanto, Pusporini, dan Samin. 2018. Pengaruh Kepercayaan,
Kualitas Pelayanan, Dan Nilai Nasabah Terhadap Loyalitas Pelanggan
Melalui Kepuasan Sebagai Variabel Intervening Pada Bank BNI.
Prosiding Seminar Nasional dan Call For Paper 2018 Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Lampung, 15 November 2018: 140-146.
Rosyadi, Noor dan Delaga Nurwisda. 2018. Pengaruh Relationship Marketing
terhadap Loyalitas Nasabah dengan Kepuasaan Nasabah sebagai variabel
Intervening pada BPR BKK Taman Cabang Moga. Syntax Literate :
Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3, No. 9 September 2018: 90-106.
Septira, Ika Apia. 2017. Strategi Relationship Marketing Dalam Upaya
Menumbuhkan Loyalitas Pelanggan Pada Perusahaan Dagang Mulya Deli
Dumai. Tesis. Medan: Magister Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Dan
Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Sof’an, Mohammad dan Supriyadi. 2016. Pengaruh Nilai Nasabah, Kualitas
Produk, Kualitas Jasa Syariah Dan Kepuasan Terhadap Loyalitas Nasabah
Di Bank Syariah Mandiri Kudus. Equilibrium: Jurnal Ekonomi Syariah
Volume 4, Nomor 2, 2016, 254 – 268.
Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Tjiptono, Fandy. 2014. Pemasaran Jasa. Jatim: Banyumedia Publishing.
Tjiptono, Fandy. 2016. Service Quality dan Satisfaction. Yogyakarta: Andi.
Tjiptono, Fandy. 2015. Strategi Pemasaran, Edisi 4. Yogyakarta: Andi.
Waqi’ah, Nurul. 2019. Pengaruh Relationship Marketing, Syariah Marketing Dan
Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Nasabah (Studi Kasus Nasabah
Bank Syariah Bukopin Cabang Surabaya). Skripsi. Surabaya: Universitas
Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya: Fakultas Ekonomi Dan Bisnis
Islam Program Studi Ekonomi Syariah.
Woran, Nita, Altje Tumbel, dan Paulina Van Rate. 2016. Pengaruh Costumer
Relationship Marketing, Nilai, Keunggulan Produk dan Kepuasan
Terhadap Loyalitas Nasabah (Studi pada Bank Mega Jl. Piere Tendean
Mega Mall Manado). Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Volume 16 No. 01
Tahun 2016: 771-782.
[Link]/profil_bca diakses 17 September 2019.
Yap, Bee Wah, T. Ramayah dan Wan Nushazelin Wan Shahidan. 2012.
Satisfaction and trust on customer loyalty:a PLS approach. Business
Strategy Series Vol. 13 No. 4 2012, pp. 154-167.
Zainal, Veithzal Rivai; Mansyur Ramly; Thoby Mutis dan Willy Arafah. 2016.
Manajemen Sumber Daya Manusia Untuk perusahaan Dari teori Ke
Praktik Edisi Ke-7. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Zaini, Hisyam, Yusron Rozzaid dan Nurul Qomariah. 2017. Dampak
Relationship Marketing, Kepercayaan Dan Nilai Pelanggan Terhadap
Kepuasan Nasabah. JSMBI (Jurnal Sains Manajemen Dan Bisnis
Indonesia ) Vol. 7 No. 1 Juni 2017: 77-95.
I. Lampiran
Lampiran 1.
PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth
Bapak/Ibu/Sdr/Sdri
Nasabah BCA KCP Purwosari
Di Tempat
Dengan hormat,
Dengan ini, saya Dyana Bella Sriastari mahasiswa Program Studi Manajemen
Strata 1 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Atma Bhakti Surakarta, saat ini saya sedang
melakukan penelitian guna menyusun skripsi dengan judul “Pengaruh Relationship
Marketing, Nilai Nasabah, dan Kepuasan Nasabah Terhadap Loyalitas Nasabah
(Studi Kasus Nasabah PT. Bank Cental Asia Tbk KCP Purwosari )”. Untuk itu Kami
mohon kesediaan Bapak/Ibu/Sdr/Sdri untuk meluangkan sedikit waktu guna
memberikan pendapat dengan mengisi kuesioner terlampir.
Pendapat Bapak/Ibu/Sdr/Sdri tidak digunakan untuk kepentingan lain. Hal ini
semata-mata ditunjukkan untuk kepentingan penelitian ilmiah. Peran
Bapak/Ibu/Sdr/Sdri akan sangat bermanfaat bagi keberhasilan penelitian yang saya
lakukan.
Demikian atas bantuan dan kerjasama yang baik dari Bapak/Ibu/ Sdr/Sdri
saya ucapkan terima kasih. Apabila ada kekurangan atau kesalahan pada
penulisan/perkataan saya mohon maaf.
Hormat saya,
Dyana Bella Sriastari
M.2315.0301
Lampiran 2.
KUESIONER PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dalam rangka penulisan Skripsi yang berjudul
“Pengaruh Relationship Marketing, Nilai Nasabah, dan Kepuasan Nasabah Terhadap
Loyalitas Nasabah (Studi Kasus Nasabah PT. Bank Cental Asia Tbk KCP
Purwosari)”. Dalam pengisian kuisioner ini, dimohon kepada Bapak/Ibu/Sdr/i dapat
memilih salah satu dari kategori jawaban yang telah disediakan dengan memberikan
tanda cek list (√) pada jawaban yang dianggap tepat. Jawaban Bapak/Ibu/Sdr/i akan
dirahasiakan. Atas kesediaan dan bantuan dari Bapak/Ibu/Sdr/i untuk menjawab
kuesioner ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
A. Karakteristik Responden
Jenis Kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan
Usia : a. < 20 th b. 20-30 th c. 30-40 th
d. 40-50 th e. 50-60th f. >60 th
Pendidikan : a. SD b. SMP c. SMA
d. Diploma e. S1 f. S2
g. S3
Pekerjaan saat ini : a. Pelajar/Mahasiswa
b. PNS
c. Wiraswasta/Pengusaha
d. Ibu Rumah Tangga
e. Karyawan Swasta
f. TNI/POLRI
Apakah anda nasabah BCA KCP Purwosari dan memiliki rekening di Bank BCA
KCP Purwosari?
a. Ya b. Tidak
Lama menjadi nasabah: a. < 1 th b. 1-3 th c. 3-5 th
d. > 5th
Petunjuk Pengisian:
1. Jawablah pernyataan dibaawah ini dengan jujur dan benar.
2. Bacalah terlebih dahulu dengan cermat sebelum anda menjawabnya.
3. Pilihlah salah satu jawaban yang tersedia dan berikan tanda ceklis (√) atau tanda
(X) pada jawaban yang anda anggap paling benar.
Keterangan:
STS = Sangat Tidak Setuju (sangat tidak sesuai dengan kondisi yang dialami)
TS = Tidak Setuju (tidak setuju dengan kondisi yang dialami)
N = Netral
S = Setuju (setuju dengan kondisi yang dialami)
SS = Sangat Setuju (sangat setuju dengan kondisi yang dialami)
1. Pernyataan tentang Relationship Marketing
No Pernyataan SS S CS TS STS
Trust (Kepercayaan)
1. Adanya persetujuan (kesepakatan) bersama
yang diambil dari masing-masing pihak
dalam penentuan keputusan
2. BCA KCP Purwosari menyediakan
produk/jasa sesuai yang dijanjikan
3. Saya percaya bahwa BCA KCP Purwosari
memiliki nama baik di kalangan para
nasabah
4. Saya merasa aman pada saat melakukan
transaksi di BCA KCP Purwosari
5. Saya yakin karyawan BCA KCP Purwosari
memiliki moral yang baik saat nasabah
membutuhkannya
6. Saya yakin karyawan BCA KCP Purwosari
tulus dalam membantu nasabah
7. Pelayanan BCA KCP Purwosari terhadap
saya selalu konsisten tidak berubah-ubah
Commitment (Komitmen)
8. BCA KCP Purwosari berkomitmen untuk
selalu memahami setiap kebutuhan
nasabahnya
9. BCA KCP Purwosari bertindak profesional
untuk setiap nasabahnya
10. Saya merasa komitmen karyawan BCA KCP
Purwosari dalam memberikan pelayanan
sesuai dengan yang dijanjikan
11. Saya merasa karyawan BCA KCP Purwosari
memiliki komitmen dalam memberikan
pelayanan pada waktu yang tepat
12. Adanya hubungan harmonis dan saling
memahami antara BCA KCP Purwosari
dengan nasabahnya
13. Saya mendapatkan manfaat dari BCA KCP
Purwosari atas produk yang diberikan.
14. Karyawan BCA KCP Purwosari tidak
pernah memanfaatkan saya, dengan
meminta imbalan atau janji tertentu kepada
saya.
15. Saya bangga menjadi nasabah BCA KCP
Purwosari
Communication (Komunikasi)
16. Komunikasi antara pihak BCA KCP
Purwosari dengan nasabah selalu terjalin
dengan baik terutama dalam memberikan
pelayanan
17. Saya merasa kemampuan berkomunikasi
karyawan BCA KCP Purwosari selalu
terbuka memberikan informasi seputar
produk dengan sangat baik
18. Saya merasa kemampuan berkomunikasi
karyawan BCA KCP Purwosari sangat cepat
dalam merespon berbagai pertanyaan dari
nasabah
Conflict Handling (Penanganan Masalah)
19. Ketika saya mendapat pengalaman yang
tidak menyenangkan atau situasi kritis,
BCA KCP Purwosari mampu menanganinya
dengan cara yang memuaskan
20. BCA KCP Purwosari selalu menanggapi
keluhan nasabah dengan cepat dan
memberikan solusi serta pelayanan terbaik
2. Pernyataan tentang Nilai Nasabah
No Pernyataan SS S CS TS STS
Emotional Value (Nilai Emosional)
1. Selama saya menjadi nasabah BCA KCP
Purwosari saya merasa banyak mendapatkan
keuntungan dari semua produk yang mereka
tawarkan
2. Saya merasa senang menggunakan produk
tabungan BCA KCP Purwosari
3. Saya merasa nyaman menggunakan layanan
BCA KCP Purwosari
Social Value (Nilai Sosial)
4. Orang-orang sekitar mengapresiasi saya
karena menggunakan BCA KCP Purwosari
5. Saya mendapat persepsi positif dari orang-
orang sekitar karena menggunakan BCA
KCP Purwosari
6. BCA KCP Purwosari memberikan kesan
yang eksklusif kepada nasabah
Quality/Performance Value (Kualitas atau Nilai Performa)
7. Biaya administrasi di BCA KCP Purwosari
terjangkau
8. Saya mendapatkan nilai yang sepadan
dengan biaya yang saya keluarkan untuk
BCA KCP Purwosari
Value Worthy of Price (Nilai Harga)
9. Karyawan BCA KCP Purwosari memiliki
kualitas layanan yang konsisten
10. Kordinasi pelayanan yang dilakukan semua
karyawan BCA KCP Purwosari di saat
nasabah datang hingga pergi sudah baik
dimata nasabah
11. Saya merasa produk yang saya pilih antara
kualitas dan kinerjanya sesuai dengan
kebutuhan nasabah
3. Pernyataan tentang Kepuasan Nasabah
No Pernyataan SS S CS TS STS
Overall Customer Satisfaction (Kepuasan Konsumen Keseluruhan)
1. Saya merasa puas secara keseluruhan
terhadap layanan yang ada pada BCA KCP
Purwosari
2. Pelayanan BCA KCP Purwosari sesuai
dengan yang saya harapkan
3. Saya puas terhadap kinerja karyawan BCA
KCP Purwosari dalam bertanggungjawab
terhadap uang yang saya titipkan
4. Saya puas akan keamanan dan kenyamanan
bertransaksi bersama BCA KCP Purwosari
Experience Satisfaction (Dimensi Kepuasan Nasabah)
5. Saya puas akan produk-produk yang
ditawarkan oleh BCA KCP Purwosari
6. Produk yang ditawarkan BCA KCP
Purwosari dapat memenuhi kebutuhan saya
7. Saya puas akan kecepatan dan ketepatan
layanan BCA KCP Purwosari
8. Saat sebelum bertransaksi di BCA KCP
Purwosari, saya selalu membandingkan dulu
kualitas pelayanan yang diberikan oleh
BCA KCP Purwosari dengan bank lain
Confirmation of Expectation (Konfirmasi Harapan )
9. Karyawan BCA KCP Purwosari sangat
ramah dalam melayani anggota sesuai
harapan saya
10. Saya puas karena BCA KCP Purwosari
mau mendengarkan keluhan nasabah
Repurchase Intent (Minat beli ulang)
11. Saya akan menggunakan lagi produk dari
BCA KCP Purwosari dilain waktu
12. Saya akan konsisten kembali melakukan
transaksi pembiayaan di BCA KCP
Purwosari
13. Saya bertransaksi pembiayaan di BCA KCP
Purwosari secara berulang karena saya
merasa puas
Willingness to Recommend (Kesediaan untuk merekomendasi)
14. Saya akan merekomendasikan produk-
produk BCA KCP Purwosari kepada teman,
kerabat dan juga keluarga saya
15. Saya akan memberi tahu tentang pelayanan
yang baik dari BCA KCP Purwosari kepada
teman,kerabat dan juga keluarga saya
16. Saya akan menyarankan kepada
teman/kerabat dan keluarga saya untuk
bertransaksi di BCA KCP Purwosari
Costumer Dissastisfaction (Ketidakpuasan Pelanggan)
17. Pelayanan BCA KCP Purwosari baik,
menyebabkan tidak adanya gethok tular
(word of mouth) negatif dikalangan nasabah
18. Saya tidak pernah melakukan complain
(keluhan) atas pelayanan BCA KCP
Purwosari
19. Pelayanan BCA KCP Purwosari baik,
menyebabkan nasabah tidak beralih ke bank
yang lain
4. Pernyataan tentang Loyalitas Nasabah
No Pernyataan SS S CS TS STS
Keloyalan Nasabah
1. Saya mempunyai komitmen menggunakan
produk atau jasa dari BCA KCP Purwosari
2. Saya bersedia menggunakan produk atau
jasa lain dari BCA KCP Purwosari
3. Jika ada tawaran produk atau jasa dari bank
lain saya akan menolaknya, karena saya
akan tetap menggunakan produk dan jasa
dari BCA KCP Purwosari
Niat untuk Terus Menggunakan
4. Saya akan tetap menggunakan BCA KCP
Purwosari meskipun bank lain lebih
memiliki daya tarik
5. Saya tidak pernah berniat serius untuk
pindah ke Bank lain
6. Saya akan mengatur seluruh aktivitas
perbankan saya di BCA KCP Purwosari
Merekomendasikan Kepada Orang Lain
7. Saya akan senang jika mempromosikan
BCA KCP Purwosari ke orang lain
8. Dengan senang hati saya akan
merekomendasikan BCA KCP Purwosari
kepada keluarga, teman dan rekan bisnis
Pengakuan Kesetiaan terhadap Bank
9. Jika BCA KCP Purwosari memiliki
kelemahan atau kekurangan produk dan jasa
saya akan segera memberitahukannya
10. Saya menyadari diri saya akan menjadi
nasabah BCA KCP Purwosari yang setia
Keinginan untuk Menutup Akun pada Bank
11. Saya tidak pernah mempunyai keinginan
untuk menutup akun di BCA KCP
Purwosari
12. Walaupun saya ditawari produk bank lain
yang lebih menarik, saya akan tetap
menggunakan produk dari BCA KCP
Purwosari