Laporan Kasus Deep Vein Thrombosis
Laporan Kasus Deep Vein Thrombosis
Oleh :
Bambang Jusi Susanto
G1A218074
Disusun Oleh :
Bambang Jusi Susanto
G1A218074
PEMBIMBING
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Clinical
Report Session yang berjudul “DEEP VEIN TROMBOSIS ” sebagai kelengkapan
persyaratan dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Radiologi di Rumah
Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Chairunisa, [Link] yang telah
bersedia meluangkan waktu dan pikirannya untuk membimbing penulis selama
menjalani Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Radiologi di Rumah Sakit Umum Daerah
Raden Mattaher Provinsi Jambi.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu
kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan guna
kesempurnaan laporan CRS ini, sehingga dapat bermanfaat bagi penulis dan para
pembaca.
PENDAHULUAN
Thrombosis vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT), pada DVT bisa
menyebabkan penyumbatan sirkulasi vena secara parsial maupun komplit, yang
menyebabkan gejala klinis pada pasien berupa nyeri, bengkak, kemerahan dan panas di
kulit yang terlibat dan merupakan penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi serius
dan fatal pada pasien yang dirawat maupun dilakukan tindakan operasi. Thrombosis
vena dalam merupakan kelainan kardiovaskuler nomor 3 tersering, setelah penyakit
arteri coroner dan stroke.
Meskipun DVT umumnya timbul karena adanya faktor resiko tertentu, DVT
juga dapat timbul tanpa etiologi yang jelas (idiopathic DVT).3 Untuk meminimalkan
resiko fatal terjadinya emboli paru diagnosis dan panatalaksanaan yang tepat sangat
diperlukan. Kematian dan kecacatan dapat terjadi sebagai akibat kesalahan diagnosa,
kesalahan terapi dan perdarahan karena penggunaan antikoagulan yang tidak tepat, oleh
karena itu penegakan diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan.
BAB II
LAPORAN KASUS
2.2 Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan kaki kiri bengkak kemerahan sejak ±4 hari
SMRS, bengkak yang dirasakan semakin bertambah, awalnya bengkak tidak
terlihat jelas namun saat malam harinya kaki pasien mulai bengkak, tidak lama
keesokan harinya kulit pasien mulai kemerahan dan semakin merah. Os
mengatakan memiliki riwayat stroke sejak 11 tahun yang lalu, stroke 1 tahun
2008 dan stroke yang ke 2 tahun 2014. Os mengatakan bahwa dirinya sulit untuk
berjalan karena kaki bengkak ini. Mual muntah (-), BAB,BAK normal
kelemahan anggota gerak (-).
2.3 Riwayat penyakit dahulu
- Tidak ada keluhan serupa
- Tahun 2008 terkena serangan stroke 1
- Tahun 2014 terkena serangan sroke ke 2
2.4 Riwayat penyakit
(-)
2.5 Pemeriksaan Fisik
(-)
2.6 Pemeriksaan Penunjang
(-)
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Secara anatomi, pada tungkai terdapat tiga macam sistem vena yang mempunyai
arti klinis, yaitu sistem vena superficial (sistem vena permukaan), sistem vena profunda
(sistem dalam), dan sistem vena komunikans (sistem vena penghubung). Seluruh sistem
vena dilengkapi dengan katup yang menghadap ke arah jantung. Sistem vena terletak di
dalam bungkusan otot4.
Sistem vaskuler terdiri atas dua system yang saling berhubungan : jantung kanan
memompa darah ke paru melalui sirkulasi paru, dan jantung kiri memompa darah ke
semua jaringan tubuh lainnya melalui sirkulasi sistemik. Pembuluh darah pada kedua
sistem merupakan saluran untuk pengangkutan darah dari jantung ke jaringan dan
kembali lagi ke jantung. Kontraksi ventrikel mensuplai tenaga dorong untuk
mengalirkan darah melalui sistem vaskuler. Arteri mendistribusikan darah teroksigenasi
dari sisi kiri jantung ke jaringan, sementara vena mengangkut darah yang
terdeoksigenasi dari jaringan ke sisi kanan jantung.
Secara struktural vena merupakan analogi system arteri dan vena cava sesuai
dengan aorta. Dinding vena berbeda dengan dinding arteri, lebih tipis dan lebih sedikit
ototnya. Hal ini memungkinkan dinding vena mengalami distensi lebih besar dibanding
arteri. Vena adalah pembuluh darah yang mengalirkan darah kembali ke jantung. Vena
terkecil dinamakan venula. Vena juga mempunyai katup untuk menghalang aliran balik
darah5.
3.2 Definisi Deep Vein Trombosis (DVT)
Tidak ada perbedaan insidensi antara pria dan wanita, walaupun penggunaan
kontrasepsi oral dan terapi sulih hormon post menopause merupakan faktor resiko
terjadinya DVT. Trombosis dapat terjadi pada bagian distal dan proksimal vena. Pada
pasien DVT simptomatis, lokasi thrombosis ditemukan 10% pada v. poplitea, 42% pada
v. poplitea dan v. femoralis superficial, 35% pada semua vena proksimal, dan 5% pada
v. femoralis superfisialis atau v. iliaka4.
Terdapat tiga faktor yang berperan dalam terjadinya trombosis vena dalam yang
dikenal dengan trias Virchow. Faktor pertama adalah terdapat kelainan dinding dan
lapisan pembuluh darah yang menyebabkan prokoagulan, kelainan tersebut dapat berupa
cidera pada pembuluh darah. Kerusakan pada endotel menyebabkan agregrasi platelet,
degranulasi, dan formasi thrombus seperti vasokonstriksi dan aktivasi koagulasi. Cidera
pada pembuluh darah yang mengakibatkan trombosis vena dalam ini dapat disebabkan
oleh karena fraktur pada tungkai, kaki yang memar, komplikasi dari tindakan invasif
pada vena9.
Faktor kedua yang dapat menyebabkan trombosis vena dalam. ialah adanya
kelainan aliran darah yang menyebabkan stasis, kelainan tersebut berupa melambatnya
aliran darah di dalam vena. Hal ini dapat disebabkan oleh tirah baring yang lama, duduk
terlalu lama (penerbangan yang lama), pembedahan, trauma pada tungkai bawah dengan
atau tanpa pembedahan kehamilan (termasuk 6-8 bulan post partum), dan obesitas9.
Faktor ketiga adalah peningkatan daya koagulasi darah (hiperkoagulan) yaitu
adanya gangguan pada keseimbangan antara prokoagulan dan antikoagulan yang
menyebabkan aktivasi faktor pembekuan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa kanker
(pancreas, prostate, mamae, dan ovarium), obat-obatan (estrogen, pil KB), cidera atau
pembedahan mayor, merokok, predisposisi genetik (defisiensi antitrombin 3, protein C
dan S, dan polisitemia vera.6 Keganasan berhubungan dengan meningkatnya fibrinogen
atau trombositosis9.
Thrombosis vena biasanya terdiri dari fibrin, sel darah merah, dan beberapa
komponen trombosit adan leukosit. Terdapat tiga hal yang berperan dalam proses
terjadinya thrombosis (Virchow’s Triad).
1. Statis vena
Aliran darah vena cenderung lambat, bahkan dapat stasis terutama di daerah
yang mengalami imobilisasi cukup lama. Stasis vena merupakan factor predisposisi
terjadinya thrombosis local, karena dapat menganggu mekanisme pembersihan aktivitas
factor pembekuan darah sehingga memudahkan terbentuknya thrombosis.
Selain itu, stasis vena juga dapat menyebabkan desaturasi hemoglobin dan
mengarah pada suatu keadaan hipoksia pada endotelium. Suplai nutrisi endotelium
berasal dari perfusi langsung sel-sel darah di dalam lumen. Keadaan hipoksia pada
endotelium dapat menyebabkan berbagai respon seluler, mulai dari tidak ada respon,
aktivasi sel, hingga kematian sel. Keadaan iskemia dapat memicu aktivasi sel endotelial
untuk mengekpresikan P-selectin, yang kemudian memungkinkan kompleks TF-
mikrovesikel untuk menginisiasi koagulasi dan trombosis4,6.
Manifestasi klinis DVT tidak selalu jelas dan sama pada setiap orang. Keluhan
utama pasien DVT adalah tungkai bengkak dan nyeri. Thrombosis dapat menjadi
berbahaya apabila meluas atau menyebar ke proksimal. DVT umumnya timbul karena
factor usia tertentu, tetapi dapat juga timbul tanpa etiologi yang jelas (idiopatik DVT).
Sekitar 50% penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Keluhan utama pasien
dengan trombosis vena dalam adalah tungkai yang bengkak dan nyeri. Selain itu dapat
pula ditemukan adanya kemerahan pada kulit (eritema) yang pada tahap lanjut kulit
tersebut dapat menjadi berwarna kecokelatan, bila diraba kulit akan terasa hangat. Nyeri
tumpul pada pasien berhubungan dengan adanya edema1,6.
1) Nyeri
Intensitas nyeri tidak tergantung besar dan luas thrombosis. Thrombosis
vena di daerah betis menimbulkan nyeri di daerah tersebut dan bisa
menjalar ke bagian medial dan anterior paha. Keluhan nyeri sangat
bervariasi dan tidak spesifik, bisa terasa nyeri atau kaku dan intensitasnya
mulai dari yang ringan sampai berat. Nyeri akan berulang jika penderita
berbaring, terutama jika posis tungkai di tinggikan.
2) Pembengkakan
Timbunya edema dapat disebabkan oleh sumbatan vena proksimal dan
peradangan jaringan perivaskuler. Apabila ditimbulkan oleh sumbatan,
maka lokasi bengkak adalah di bawah sumbatan dan tidak nyeri,
sedangkan apabila disebabkan oleh peradangan perivascular, bengkak
timbul di daerah thrombosis dan biasanya disertai nyeri. Pembengkakan
bertambah jika berjalan dan akan berkurang jika istirahat dengan posisi
kaki agak ditinggikan.
3) Perubahan Warna Kulit
Perubahan warna kulit tidak spesifik dan tidak banyak ditemukan pada
thrombosis vena dalam dibandingkan thrombosis arteri, ditemukan hanya
pada 17%-20% kasus. Kulit bisa berubah pucat dan kadang berwarna
ungu. Perubahan warna menjadi pucat dan dingin pada perabaan
merupakan tanda sumbatan vena besar bersamaan dengan spasme arteri,
disebut flegmasia alba dolens. Trombosis kedua adalah phlegmasia
cruela dolens, ini merupakan oklusi iliofemoral yang lebih serius. Pada
kasus ini, oklusi mendadak pada aliran vena anggota gerak menimbulkan
kelainan tekanan dalam ekstremitas sehingga aliran arteri terhenti, dan
dapat menyebabkan gangren pada ekstremitas1,6
1) Venografi
2) Ultrasonografi (USG)
Saat ini USG sering dipakai untuk mendiagnosis DVT karena non-
invasif. USG memiliki tingkat sensitivitasnya 97% dan spesifisitas 96% pada
pasien yang dicurigai menderita DVT simptomatis dan terletak didaerah
proksimal. Pemeriksaan USG ini dilakukan terutama pada kasus thrombosis
vena yang berulang, yang sulit dideteksi menggunakan cara objektif yang
lain. USG untuk DVT terfokus pada ekstremitas bawah dapat dilakukan
dengan menggunakan teknik kompresi tiga poin sederhana yang
berkonsentarasi pada evaluasi terhadap daerah dengan turbulensi tertinggi
dan paling berisiko untuk trjadinya trombus, yaitu:
Gambar 8. Perbedaan irama suara yang dikeluarkan pada pemeriksaan USG, dengan
penghantar suara yang berbeda-beda.
Gambar 9. Posisi pasien saat pemeriksaan USG11
Gambar 16. Pembuluh Vena yang dilakukan penekanan pada pemeriksaan USG Doppler
Gambar 17. Perbedaan gambar vena normal dan vena yang mengalami thrombus yang
dilakukan penekanan pada pemeriksaan dengan USG Doppler.
Gambar 18. (A) Diambil pada posisi lengan relaks, tampak vena brakialis pada potongan
longitudinal. (B) DVT pada vena brakialis
Gambar 19. Oklusi oleh karena DVT. Pada potongan longitudinal vena jugularis,
tampak clot heterogen tanpa disertai adanya aliran/flow di sekitarnya.
Gambar 20. (B) Ditemukannya hasil kompresi yang normal pada [Link]. (C) Non-
kompresibilitas (dijumpai thrombosis) di [Link] =PV
3.9 Penatalaksanaan Deep Vein Thrombosis
Pengobatan trombosis vena diberikan pada kasus-kasus yang diagnosisnya
sudah pasti dengan menggunakan pemeriksaan yang objektif, oleh karena obat-obatan
yang diberikan mempunyai efek samping yang kadang-kadang [Link]
DVT baik non-farmakologis dan farmakologis diarahkan untuk dapat mencapai tujuan-
tujuan sebagai berikut: 11,12
1. Mencegah meluasnya trombosis dan timbulnya emboli paru.
2. Mengurangi morbiditas pada serangan akut.
3. Mengurangi keluhan post flebitis
4. Mengobati hipertensi pulmonal yang terjadi karena proses tromboemboli.
1. Non Farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis terutama ditujukan untuk mengurangi
morbiditas pada serangan akut. Untuk mengurangi keluhan dan gejala trombosis vena
pasien diajurkan untuk: istirahat di tempat tidur (bedrest), meninggikan posisi kaki, dan
dilakukan pemasangan stoking dengan tekanan kira-kira 40mmHg.11,13
Meskipun stasis vena dapat disebabkan oleh imobilisasi lama seperti pada
pasien-pasien dengan bedrest, namun tujuan bedrest pada pasien-pasien dengan DVT
adalah untuk mencegah terjadinya emboli pulmonal. Prinsipnya sederhana, pergerakan
berlebihan dari tungkai yang mengalami DVT dapat membuat klot terlepas dan
“berjalan” ke paru. Dahulu, pasien dengan DVT aktif diharuskan bedrest selama 7-10
hari. Namun, pada penelitian Patrtsch dan Blattler dengan design kohort melaporkan
bahwa ambulasi dini dapat mengurangi nyeri dan pembengkakan segera. Ambulasi dini
dilakukan pada pasien DVT yang belum terdiagnosa PE dan tidak memiliki kelainan
kardiopulmoner. Ambulasi dini juga disarankan pada pasien dengan kondisi
hiperkoagulasi dan dilakukan sekitar 24jam setelah menerima terapi antikoagulan.
Nyeri dan pembengkakan biasanya akan berkurang sesudah 24 – 48 jam
serangan trombosis. Apabila nyeri sangat hebat atau timbul flagmasia alba dolens di
anjurkan tindakan embolektomi. Pada keadaan biasa, tindakan pembedahan
pengangkatan thrombus atau emboli, biasanya tidak di anjurkan.13
2. Farmakologis
Meluasnya proses trombosis dan timbulnya emboli paru dapat di cegah dengan
pemberian anti koagulan dan obat-obatan fibrinolitik. Pada pemberian obat-obatan ini di
usahakan biaya serendah mungkin dan efek samping seminimal mungkin. Pemberian
anti koagulan sangat efektif untuk mencegah terjadinya emboli paru, obat yang biasa di
pakai adalah heparin. Prinsip pemberian anti koagulan adalah save dan efektif. Save
artinya anti koagulan tidak menyebabkan perdarahan. Efektif artinya dapat
menghancurkan trombus dan mencegah timbulnya trombus baru dan emboli. Pada
pemberian heparin perlu di pantau waktu tromboplastin parsial atau di daerah yang
fasilitasnya terbatas, sekurang-kurangnya waktu pembekuan.
a. Pemberian Heparin
Diberikan heparin 5000 IU bolus (80 iu/KgBB), bolus dilanjutkan dengan drips
1000 – 1400 iu/jam (18 iu/KgBB), drip selanjutnya tergantung hasil APTT. 6 jam
kemudian di periksa APTT untuk menentukan dosis dengan target 1,5 – 2,5 kontrol.
- Bila APTT 1,5 – 2,5 x kontrol dosis tetap.
- Bila APTT < 1,5 x kontrol dosis dinaikkan 100 – 150 iu/jam.
- Bila APTT > 2,5 x kontrol dosis diturunkan 100 iu/jam.
Penyesuaian dosis untuk mencapai target dilakukan pada hari ke 1 tiap 6 jam, hari
ke 2 tiap 2 - 4 jam. Hal ini di lakukan karena biasanya pada 6 jam pertama hanya 38%
yang mencapai nilai target dan sesudah dari ke 1 baru 84%.
Heparin dapat diberikan 7–10 hari yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian
heparin dosis rendah yaitu 5000 iu/subkutan, 2 kali sehari atau pemberian anti koagulan
oral, selama minimal 3 bulan.
Pemberian anti koagulan oral harus diberikan 48 jam sebelum rencana penghentian
heparin karena anti koagulan orang efektif sesudah 48 jam13.
LMWH diberikan secara subkutan satu atau dua kali sehari, dan lebih dipilih
dibanding pemberian heparin kontinu secara intravena, terutama pada pasien-pasien
dengan trombosis vena tanpa komplikasi yang dapat rawat jalan.
Walaupun demikian, unfractionated heparin intravena tetap menjadi
antikoagulan inisial pada pasien dengan gagal ginjal. Beberapa regimen LMWH yang
telah terbukti efektif dalam menatalaksana trombosis vena dapat dilihat pada tabel di
atas.
Pemberian trombolitik selama 12-14 jam dan kemudian di ikuti dengan heparin,
akan memberikan hasil lebih baik bila dibandingkan dengan hanya pemberian heparin
tunggal. Peranan terapi trombolitik berkembang dengan pesat pada akhir abad ini,
terutama sesudah dipasarkannya streptiknase, urokinase dan tissue plasminogen
activator (TPA). TPA bekerja secara selektif pada tempat yang ada plasminon dan
fibrin, sehingga efek samping perdarahan relatif kurang. Brenner menganjurkn
pemberian TPA dengan dosis 4 ugr/kgBB/menit, secara intra vena selama 4 jam dan
Streptokinase diberikan 1,5 x 106 unit intra vena kontiniu selama 60 menit. Kedua jenis
trombolitik ini memberikan hasil yang cukup memuaskan. Efek samping utama
pemberian heparin dan obat-obatan trombolitik adalah perdarahan dan akan bersifat
fatal kalau terjadi perdarahan sereral. Untuk mencegah terjadinya efek samping
perdarahan, maka diperlukan monitor yang ketat terhadap waktu trombo plastin parsial
dan waktu protombin, jangan melebihi 2,5 kali nilai kontrol.
3. Tindakan Pembedahan
Tindakan bedah dilakukan apabila pada upaya preventif dan pengobatan
medikamentosa tidak berhasil serta adanya bahaya komplikasi. Ada beberapa pilihan
tindakan bedah yang bisa dipertimbangkan antara lain:
a. Ligasi vena, dilakukan untuk mencegah emboli paru. Vena Femoralis dapat diikat
tanpa menyebabkan kegagalan vena menahun, tetapi tidak meniadakan
kemungkinan emboli paru. Ligasi Vena Cava Inferior secara efektif dapat mencegah
terjadinya emboli paru, tapi gejala stasis hebat dan resiko operasi lebih besar
dibanding dengan pemberian antikoagulan dan trombolitik.
b. Trombektomi, vena yang mengalami thrombosis dilakukan trombektomi dapat
memberikan hasil yang baik jika dilakukan segera sebelum lewat 3 hari. Tujuan
tindakan ini adalah: mengurangi gejala pasca flebitik, mempertahankan fungsi katup
dan mencegah terjadinya komplikasi seperti ulkus stasis dan emboli paru.
c. Femorofemoral grafts disebut juga cross-over-method dari Palma, tindakan ini
dipilih untuk bypass vena iliaka serta cabangnya yang mengalami trombosis.
Tekniknya vena safena diletakkan subkutan suprapubik kemudian disambungkan
end-to-side dengan vena femoralis kontralateral.
d. Saphenopopliteal by pass, dilakukan bila rekanalisasi pada trombosis vena femoralis
tidak terjadi. Metoda ini dengan menyambungkan vena safena secara end-to-side
dengan vena poplitea11,13.
4. Rehabilitasi Medik :
a. Fisioterapi
- Bed rest merupakan hal terakhir yang dilakukan setelah dilakukan kompresi kaki
dan ambulasi pada pasien yang sudah menderita DVT. Perkembangan thrombus
jarang terjadi dan kurang berat pada kelompok ambulasi.
- Terapi fisik harus diberikan lebih dini untuk pasien DVT.
- Pada pasien post-operasi, dapat dilakukan latihan range of motion, latihan
berjalan, dan latihan isometrik, yang dapat dimulai pada hari pertama setelah
operasi.
b. Terapi manual
Terapi yang efektif pada pasien trauma (dengan antikoagulan) untuk mencegah
DVT yakni gerakan pasif yang berkelanjutan. Misalnya menggerakan sendi kaki
secara pasief sebanyak 30 kali dalam satu menit.
c. Protesa-Ortesa
Penggunaan stoking kompresi elastic (ECS) setelah menderita DVT untuk
mengurangi gejala dan tanda selama latihan tidak memberikan hasil yang konklusif.
2. Post-thrombotic Syndrome
Terjadi akibat inkompetensi katup vena terjadi pada saat rekanalisasi lumen vena
yang mengalami thrombosis, atau karena sisa thrombus dalam lumen vena. Sindrom ini
ditandai oleh bengkak dan nyeri berulang dan progresif, dapat terjadi dalam 1-2 tahun
setelah kejadian thrombosis vena dalam pada 50% pasien. Pada beberapa pasien dapat
terjadi ulserasi (venous ulcer), biasanya didaerah perimaleolar tugkai. Ulserasi dapat
diberi pelembap dan perawatan luka. Setelah ulkus sembuh pasien harus meggunakan
compressible stocking untuk mencegah berulangnya post-thrombotic syndrome.
Penggunaan compressible stocking dapat dilanjutkan selama pasien mendapatkan
manfaat tetapi harus diperiksa secara berkala dan terus di pantau hingga menggalami
perbaikan6,7,12,13.
BAB IV
KESIMPULAN
1. Sudoyo A W, Setyohadi B, Alwi I dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II
Edisi V. Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam 2016
2. Irma Komala. Karya Ilmiah Akhir: Kesesuaian Gambar Ultrasonografi
Trombosis Vena Dalam Pada Vena Femoralis Komunis Dengan Penilaian Padua
Prediction Score. Departemen Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta 2017.
3. Bailey A, Scantlebury D, Smyth S. Thrombosis and antithrombotic in
women. Arterioscler Thromb Vasc Biol, 2009.
4. Reksodiputro AH, Tambunan KL, Widjanarko A. Dalam R Sjamsuhidajat, De
Jong. Buku Ajar Ilmu Penyakit Bedah Sjamsuhidajat – De Jong. Edisi 3.
Jakarta : EGC. 2007
5. Hirsch AT, Haskal ZJ, Hertzer NR, et al. American College of Cardiology
(ACC)/American Heart Association (AHA) guidelines for the management of
patients with peripheral arterial disease (lower extremity, renal, mesenteric, and
abdominal aortic). J Am Col Card 2006
6. Andi Putra Jayanegara. Continuing Medical Education,Diagnosis dan Tatalaksan
deep vein thrombosis. RSUD [Link] Sylvanus, Palang Karaya, Kalimantan
Tengah, Vol.43 No.9, 2016
7. JCS Guidelines (2011). Guidelines for the diagnosis, treatment and prevention of
pulmonary thromboembolism and deep vein thrombosis (JCS 2009). Circ J
8. Kesieme E et al. Deep Vein Thrombosis : a clinical review. Journal of Blood
Medicine. 2011
9. Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox K. Sabiston textbook of
surgery: the biological basic of modern surgical practice. Philadelphia: WB
Saunders Company; 2001
10. Scarvelis D, Wells P (2006). Diagnosis and treatment of deep vein
[Link],
11. American Academy of Orthopaedics Surgeons. Deep Vein Thrombosis.
[Link]
12. Fauci, AS, DL Kasper, DL Longo, E Braunwald, SL Hauser, JL Jameson, J
Loscalzo. Venous Thrombosis. Dalam: Harrison’s Principles of Internal
Medicine 17th Edition. Chapter 111. USA: McGraw-Hill Companies, Inc. 2008
13. Hirsh, J dan J Hoak. Management of Deep Vein Thrombosis and Pulmonary
Embolism. Circulation. [Link] 1996