SITOLOGI II
Oleh :
Nama : Fatma Kurniati Rohma
NIM : B1A017152
Rombongan : C2
Kelompok :1
Asisten : Dian Ageng Nagri
LAPORAN PRAKTIKUM
STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN
Sel merupakan unit terkecil atau unit dasar makhluk hidup baik secara
struktural maupun fungsional. Ukuran sel pada umumnya sangat kecil dan hanya
dapat dilihat dengan mikroskop. Bentuk dan ukuran sel bervariasi, bentuk sel
biasanya sesuai dengan fungsinnya. Tumbuhan tingkat tinggi tersusun oleh sejumlah
sel, baik sel hidup maupun sel mati. Sel-sel hidup memiliki persamaan dan
perbedaan dalam struktur dan fungsinya. Persamaannya adalah sel mempunyai
dinding sel, terisi plasma yang terbungkus oleh membran plasma. Sedangkan
perbedaannya diakibatkan oleh lingkungan dan faktor genetik, yaitu akibat proses
diferensiasi yang mengikuti proses pembelahan sel (Saktiono, 1989).
Komponen utama penyusun sel tumbuhan dibedakan menjadi dinding sel,
komponen hidup (protoplasmik), dan komponen tak hidup (non-protoplasmik).
Komponen non-protoplasmik atau substansi ergastik dapat bersifat cair maupun
padat dan merupakan benda-benda mati didalam sel, yang bersifat cairan berupa
flavonoid, minyak atsiri, lemak, maupun asam organik lain, sedangkan padatan
contohnya amilum, aleuron, dan kristal oksalat. (Sumardi,1993). Kebalikan dari
protoplasma, komponen non protoplasma merupakan benda-benda tidak hidup yang
berada dalam sel. Benda-benda tersebut dapat berada dalam dalam vakuola, dalam
plasma sel dan plastida. Komponen non protoplasmik ini bisa berupa zat cair maupun
zat padat (Kartasapoetra, 1991).
II. TUJUAN
Tujuan praktikum acara sitologi II adalah mengamati bagian-bagian sel yang
mati, antara lain kristal Ca-Oksalat dan amilum.
III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Sitologi II diantaranya
kaca benda, kaca penutup, silet, pipet tetes, jarum preparat, baki preparat,
mikroskop dan laporan sementara.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum acara Sitologi II
diantaranya irisan melintang tulang daun (Carica papaya), irisan melintang
tangkai daun (Colocasia esculenta), amilum kentang (Solanum tuberosum), dan
amilum jagung (Zea mays).
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum acara sitologi antara lain :
1. Dibuat irisan membujur tulang daun Carica papaya dan tangkai daun
Colocasia esculenta setipis mungkin dengan menggunakn silet. Irisan
diletakkan di atas kaca benda, ditetesi air dan ditutup dengan kaca penutup.
2. Solanum tuberosum dan Zea mays ditusuk dengan jarum preparat, lalu
cairan yang keluar diletakkan di atas object glass, ditetesi air, lalu ditutup
dengan cover glass.
3. Semua preparat yang telah dibuat diamati di bawah mikroskop dan bagian-
bagian yang teramati digambar.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Keterangan :
1. Kristal Ca-Oksalat
(Drusen)
Gambar 1. Irisan Melintang Tulang Daun (Carica papaya) Perbesaran 400X
Keterangan :
1. Kristal Ca-Oksalat
(Rafida)
Gambar 2. Irisan Melintang Tulang Daun (Colocasia esculenta) Perbesaran
400X
Keterangan :
1. Hilus
2. Lamela
1
Tipe amilum : Eksentris
2
Gambar 3. Amilum Solanum tuberosum Perbesaran 400X
Keterangan :
1. Hilus
2. Lamela
2 Tipe amilum : Konsentris
Gambar 4. Amilum Zea mays Perbesaran 400X
B. Pembahasan
Substansi ergastik adalah benda-benda mati (bersifat mati) yang terdapat di
dalam sel tumbuhan. Gastik bersifat sebagai cairan sel (cell sap) dan dapat puka
bersifat padat. Di dalam sel tumbuhan,benda-benda ergastik sebenarnya adalah
senyawa-senyawa yang dapat dibedakan dari protoplasma sel hidup yang biasa
disebut bioplasma. Saat ini, banyak ahli lebih suka menyebut benda-benda
ergastik sebagai senyawa organik dab anorganik,karena sejatinya memang
demikia. Senyawa-senyawa tersebut muncul sebagai produk metabolisme sel-sel
tumbuhan yang bersangkutan (Horak J,1993).
Di dalam sel-sel makhluk hidup khususnya sel tumbuhan selain banyak
dijumpai bahan protoplasmik (hidup) juga terdapat bahan nonprotoplasmik (tidak
hidup) atau disebut benda ergastik. Benda-benda ini terdiri dari substansi yang
bersifat cair maupun padat. Substansi ergastik merupakan hasil dari metabolisme
sel. Adapun subsatnsi ergastik yang bersifat padat contohnya amilum, aleuron,
kristal Ca-oksalat, kristal kersik, sistolit dan lain-lain. Sedangkan substansi
ergastik yang bersifat cair atau lendir dari hasil tambahan metabolisme yang
bersifat organik atau anorganik terdapat di dalam cairan sel berupa zat-zat yang
larut di dalamnya, antara lain asam organik, karbohidrat, protein, lemak, gum,
lateks tanin, antosian alkaloid, minyak eteris atau minyak atsiri dan hars, yang
ditemukan dalam sitoplasma atau dalam vakuola. Zat yang terlarut di dalam
cairan sel berbeda-beda untuk setiap sel, bahkan dalam sebuah sel komposisi zat
yang terlarut di masing-masing vakuola mungkin berbeda satu sama lain
(Rompas et al., 2011).
Amilum merupakan campuran dua macam struktur polisakarida yang
berbeda, yaitu amilosa (17-20%) dan amilopektin (83-80%) (Gunawan &
Mulyani, 2006). Menurut Soebagio et al. (2009), amilum dapat didefinisikan
sebagai karbohidrat yang berasal dari tumbuhan sebagai hasil dari fotosintesis
yang disimpan pada bagian tertentu sebagai cadangan makanan. Tidak hanya
dalam daun, amilum juga tersimpan pada biji, kulit batang, akar tanaman, dan
umbi
Gambar 1.1.
Macam bentuk
amilum
A, B
(konsentris)
C, D (eksentris)
E, F (majemuk)
Hidayat, (1995)
Berdasarkan letak hilusnya, amilum dibedakan menjadi dua, yaitu tipe
konsentris dan tipe eksentris. Tipe konsentris, jika hilus terletak di tengah atau
pusat contohnya pada singkong (Manihot esculenta). Tipe eksentris, jika hilus
terletak di bagian tepi contohnya pada kentang (Solanum tuberosum)
(Hidayat,1995).
Berdasarkan jumlah hilusnya amilum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Monoadelph atau amilum tunggal, pada sebutir amilum hanya terdapat satu
hilus. Contohnya amilum pada ketela rambat dan gandum.
2. Diadelph atau setengah majemuk, hilus berjumlah dua yang masing-masing
dikelilingi oleh lamella. Contohnya pada Solanum tuberosum.
3. Poliadelph atau amilum majemuk, hilus berjumlah banyak dan tiap hilus
dikelilingi oleh lamela Bila jumlahnya sampai berdesakan dalam sel, maka
sisi-sisinya membentuk sudut. Contohnya pada beberapa tumbuhan seperti
jagung dan padi.
Kristal merupakan hasil tambahan yang terjadi pada berbagai proses
metabolisme. Kristal yang paling sering ditemukan adalah kristal garam kalsium,
terutama Ca-oksalat (kalsium oksalat). Kristal Ca-oksalat merupakan hasil akhir
atau hasil sekresi dari suatu pertukaran zat yang terjadi di dalam sitoplasma. Ada
yang menduga bahwa asam oksalat bebas merupakan racun bagi tumbuhan
karenanya diendapkan berupa garam Ca-oksalat. Kristal ini terdapat di dalam
plasma atau vakuola sel dan larut dalam asam kuat (Kartasapoetra, 1991).
Menurut Kartasapoetra (1991), bentuk dari kristal Ca-oksalat antara lain:
1. Kristal pasir, bentuk segitiga kecil, terdapat pada tangkai daun Amaranthus
sp., tangkai daun Nicotiana dan Begonia sp.
2. Kristal piramida dan bipiramida, terdapat pada tangkai daun Begonia sp.
3. Kristal jarum atau rafida, terdapat pada daun Mirabilis jalapa, daun Ananas
commosus dan tangkai daun Colacasia sp.
4. Kristal drussen atau bentuk bintang terdapat pada tulang daun Carica papaya.
Menurut Purnobasuki (2011), bentuk dari kristal Ca-oksalat bermacam-
macam, ada yang berupa kristal panjang, jika padat serta ditemukan sendiri-
sendiri disebut stiloid yang berupa kristal tunggal besar dan ada juga yang
berbentuk prisma kecil seperti pasir, jarum atau rafida, bintang atau roset, kristal
majemuk dan terhimpun dalam kelompok bulat disebut drus dan sebagainya.
Pada praktikum kali ini sediaan mikroskopis untuk pengamatan sitologi
berupa sayatan membujur (paradermal) dan sayatan melintang (transversal).
Lapisan epidermis bawah daun diperoleh dengan bantuan silet (Fitri et al,2015).
Pada preparat irisan membujur tangkai daun Carica papaya bagian sel yang
teramati dengan perbesaran 400X adalah dinding sel, sitoplasma, dan krista Ca-
oksalat. Bentuk krital Ca-oksalat pada Carica papaya adalah kristal betuk bintang
atau drussen. Papaya termasuk kedalam familiaCaricaceae. Sedangkan pada
preparat irisan melintang tangkai daun Colocasia esculenta bagian sel yang
teramati dengan perbesaran 100X adalah kristal Ca-oksalat bentuk jarum atau
rafida. Bentuknya seperti jarum mengakibatkan rasa gatal pada lidah dan
tenggorokan apabila memakan buah tersebut. Talas termasuk kedalam familia
Araceae (Setiowati, 2007).
Pada Solanum tuberosum atau kentang bagian sel yang teramati dengan
perbesaran 400X adalah hilus, lamela dan amilum. Kentang termasuk kedalam
familia Solanaceae. Terlihat adanya butir pati yang bersifat tunggal dengan
beberapa lapis lamela yang membentuk satu hilum dipinggiran selnya. Hal ini
sesuai dengan Hidayat (1995), yang menyatakan bahwa pada beberapa tempat,
kloroplas dapat membentuk butir pati yang besar sebagai cadangan makanan yang
banyak ditemukan pada leukoplast umbi akar, umbi batang, rizoma dan biji.
Amilum dapat diamati dengan mudah karena memiliki warna biru kehitaman bila
diberi pewarna iodium. Tipe amilum pada kentang yaitu amilum eksentris dimana
letak hilum di bagian tepi. Sedangkan pada Zea mays bagian yang teramati
dengan perbesaran 400X adalah hilus,lamella dan amilum. Tipe amilum pada Zea
mays adalah konsentris, dimana hilus terletak dibagian tengah. Zea mays termasuk
kedalam familia Poaceae.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini antara lain :
1. Sel tumbuhan yang bersifat mati (substansi ergastik), yaitu amilum,
aleuron, kristal Ca-oksalat.
2. Substansi ergastik terbagi menjadi dua yaitu bersifat protoplasmik dan
non protoplasmik
3. Bentuk krista Co-oksalat pada Carica papaya adalah bentuk bintang
(drussen) sedangkan pada Colocasia esculenta adalah kristal bentuk
jarum.
4. Tipe amilum pada Solanum tuberosum adalah tipe eksentris dan tipe
amilum pada Zea mays adalah tipe konsentris.
B. Saran
Saran untuk praktikumn kali ini adalah praktikan diharapkan untuk
terampil dalam menyayat preparat seperti tangkai daun Colocasia esculenta
agar bagian sel yang akan diamati dapat terlihat dengan jelas.
DAFTAR PUSTAKA
Damayanti, Fitri. 2015. Kajian Morfologi, Sitologi dan Struktur Anatomi Daun
Nepenthes spp. Asal Kalimantan Barat. 2(8), 5-11.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Penerbit ITB, Bandung.
Horak, J. 2008. Ploidy Chimeras In Plants Regenerated From the Zea mays of
Brassicaoleraceal. Journal biologia plantarum. 14(6), 423-426.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang Sel
dan Jaringan). PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Purnobasuki, Hery. 2011. Inklusi Sel. Unair: Unair Press.
Rompas, Y., Rampe, H. L., Rumondor, M. J. 2011. Struktur Sel Epidermis dan
Stomata Daun Beberapa Tumbuhan Suku Orchidaceae. Jurnal Biologos. 1(1).
pp. 13-19.
Saktiono. 1989. Biologi Umum. Gramedia, Jakarta.
Setiowati, Sri, 2007. Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dengan Pendekatan
Keperawatan Transkultural, Jakarta EGC.
Soebagio. P., 2009. Manajemen Operasi, BPFE, Yogyakarta.
Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta : UGM
Press