0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan51 halaman

Perencanaan Tiang Pancang Jembatan Cimadur

Laporan ini membahas perencanaan pondasi dalam berupa tiang pancang pada abutment jembatan sungai Cimadur Banten. Meliputi identifikasi jenis tanah lapangan melalui sondir dan SPT, pemilihan jenis pondasi tiang pancang, perhitungan daya dukung tiang tunggal dan kelompok, serta dimensi dan jumlah tiang yang dibutuhkan.

Diunggah oleh

freyafernanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan51 halaman

Perencanaan Tiang Pancang Jembatan Cimadur

Laporan ini membahas perencanaan pondasi dalam berupa tiang pancang pada abutment jembatan sungai Cimadur Banten. Meliputi identifikasi jenis tanah lapangan melalui sondir dan SPT, pemilihan jenis pondasi tiang pancang, perhitungan daya dukung tiang tunggal dan kelompok, serta dimensi dan jumlah tiang yang dibutuhkan.

Diunggah oleh

freyafernanda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERENCANAAN PONDASI DALAM DENGAN JENIS TIANG

PANCANG PADA ABUTMENT JEMBATAN SUNGAI


CIMADUR BANTEN

OLEH :
KELOMPOK 1
Feisal Achdiansyah Budiman 171121041
Freya Fernanda 171121042
Lingga Muhamad Fantri 171121047
Mohamad Syah Febi Pragiska 171121049
Thalia Agustina Napitupulu 171121062

JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan dengan judul
“PERENCANAAN PONDASI DALAM DENGAN JENIS BORED PILE PADA
ABUTMENT JEMBATAN”. Penulisan laporan ini dapat diselesaikan tidak lepas
dari bimbingan, arahan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
terkait dalam penulisan laporan ini, yaitu kepada:
1. Agus Suyono, Ir., MT selaku Dosen Rekayasa Pondasi 2 yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
2. Seluruh teman kelas 3B-Ksi yang telah turut membantu penulisan
laporan ini.
3. Pihak-pihak lain yang telah banyak membantu, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, atas segala kebaikan dan bantuannya selama ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca. Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dalam penulisan laporan
ke depan dapat lebih baik. Atas perhatian pembaca, penulis mengucapkan terima
kasih.

Bandung, Desember 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i


DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................ 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................ 2
1.4 Metode Penelitian.............................................................................................. 2
1.5 Sistematika Penulisan ....................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 3
2.1 Pengertian Pondasi ........................................................................................... 3
2.2 Macam-macam Pondasi ................................................................................... 4
2.2.1 Pondasi Dangkal ........................................................................................ 4
2.2.2 Pondasi Dalam ........................................................................................... 5
2.3 Perencanaan Pondasi ........................................................................................ 8
2.3.1 Survey Lokasi ............................................................................................ 9
2.3.2 Penyelidikan Tanah .................................................................................. 9
2.3.3 Pemilihan Jenis Pondasi ......................................................................... 10
2.3.4 Perhitungan ............................................................................................. 10
BAB III PERENCANAAN PONDASI .......................................................................... 21
3.1 Lokasi Jembatan ............................................................................................. 21
3.2 Data dan Analisis ............................................................................................ 21
3.2.1 Analisis Sondir ........................................................................................ 21
3.2.2 Analisis Standard Penetration Test (SPT) ............................................ 25
3.2.3 Analisis data hasil laboratorium ............................................................ 28
3.3 Pemilihan jenis pondasi .................................................................................. 29
3.4 Perhitungan ..................................................................................................... 29
3.4.1 Perhitungan Daya Dukung Menggunakan Data Sondir ..................... 29
3.4.2 Perhitungan Daya Dukung Menggunakan Data SPT .......................... 32
3.4.3 Perhitungan Penurunan Tanah (Settlement) ........................................ 35
3.4.4 Perhitungan Distribusi Tiang Kelompok .............................................. 35

ii
3.4.5 Perhitungan Pergeseran Tumpuan Tiang (Displacement) .................. 36
BAB IV PENUTUP ......................................................................................................... 42
4.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 42
4.2 Saran ................................................................................................................ 42
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 43
LAMPIRAN..................................................................................................................... 44

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konstruksi jembatan pada umumnya terdiri dari struktur atas (upper
structure) dan struktur bawah (lower structure). Struktur atas merupakan
struktur bangunan yang berada diatas permukaan tanah, sedangkan struktur
bawah merupakan struktur bangunan yang berada dibawah permukaan
tanah atau pondasi.
Pondasi terletak pada bagian bawah bangunan yang berhubungan
langsung dengan tanah dan mempunyai fungsi memikul beban bagian
konstruksi di atasnya, sehingga pondasi harus diperhitungkan untuk dapat
menjamin kestabilan bangunan terhadap beratnya sendiri, beban-beban
bangunan, gaya-gaya luar seperti tekanan angin, gempa bumi, dan lain-lain.
Jenis pondasi yang biasa digunakan untuk jembatan adalah jenis pondasi
dalam, contohnya bored pile dan tiang pancang.
Agar kegagalan fungsi pondasi dapat dihindari, maka diperlukan
perencanaan pondasi yang tepat agar dapat mendukung konstruksi di
atasnya tanpa menimbulkan penurunan yang berlebihan. Perencanaan
pondasi tersebut mengenai pemilihan jenis pondasi sesuai dengan keadaan
tanah di lapangan, perhitungan pembebanan, dimensi serta jumlah pondasi
yang dibutuhkan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan pada latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana jenis dan daya dukung tanah di lapangan ?
2. Apa jenis pondasi yang digunakan?
3. Berapa dimensi dan jumlah tiang pondasi yang dibutuhkan ?
4. Berapa kedalaman tiang pondasi yang dibutuhkan ?

1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini, yaitu :
1. Mengidentifikasi jenis tanah di lapangan
2. Menentukan jenis pondasi yang digunakan
3. Menghitung daya dukung satu tiang pondasi
4. Menentukan dimensi dan jumlah tiang dalam satu titik
5. Meghitung daya dukung kelompok tiang

1.4 Metode Penelitian


Penyusunan laporan tugas besar ini menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut :
1. membaca data-data proyek berupa hasil data lapangan test sondir dan
SPT.
2. Melakukan studi literatur yaitu dengan mencari data yang berkaitan
melalui buku, modul yang diberikan dosen mata kuliah Rekayasa
Pondai 2 dan media internet.
1.5 Sistematika Penulisan
Penyusunan dan pembahasan masalah pada tugas besar ini disusun
secara sistematis yang terbagi menjadi empat bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Membahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,
metode penelitian dan sistematika penulisan tugas besar ini.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Membahas tentang teori mengenai macam-macam pondasi dan teori
pendukung untuk perencanaan pondasi.
BAB III : PERHITUNGAN
Membahas tentang perhitungan mengenai daya dukung tanah, kebutuhan
pondasi, dan dukung pondasi.
BAB IV : PENUTUP
Membahas tentang kesimpulan mengenai perencanaan ini dan saran yang
berhubungan dengan kesimpulan tersebut.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pondasi


Pondasi adalah suatu konstruksi pada bagian dasar struktur
bangunan yang berfungsi meneruskan beban dari bagian atas struktur
bangunan ke lapisan tanah yang berada di bagian bawahnya tanpa
mengakibatkan keruntuhan geser tanah, dan penurunan (settlement) tanah/
pondasi yang berlebihan. Karena kekuatan konstruksi bagian dasar ini
tergantung pada karakteristik tanah dan beban dari struktur atas, maka
struktur pondasi dan lapisan tanah harus diperhitungkan sebagai satu
kesatuan.
Pondasi harus diperhitungkan untuk dapat menjamin kestabilan
bangunan terhadap berat sendiri, beban-beban bangunan, gaya-gaya luar
seperti tekanan angin, gempa bumi, dan lain-lain. Agar kegagalan fungsi
pondasi dapat dihindari, maka pondasi bangunan harus diletakkan pada
lapisan tanah yang cukup keras, padat, dan kuat mendukung beban
bangunan tanpa menimbulkan penurunan yang berlebihan.

Adapun beberapa pengertian pondasi dalam konstruksi, antara lain :


1. Suatu bagian konstruksi bangunan yang memiliki fungsi untuk
memindahkan beban/bobot/gaya yang ditimbulkan oleh bangunan yang
ada di atasnya kedalam tanah.
2. Bagian bangunan yang menghubungkan bangunan tersebut dengan
tanah, dimana tanah harus menerima beban dari bangunan tersebut
(beban mati dan beban hidup) dan tugas pondasi untuk membagi beban
itu sehingga tekanan tanah yang diizinkan (daya dukung) tidak
terlewati.
3. Konstruksi yang diperhitungkan sedemikian rupa sehingga dapat
menjamin kestabilan bangunan terhadap berat sendiri dan menghindari
penurunan bangunan yang tidak merata.

3
Pondasi bangunan biasanya dibedakan atas dua jenis yaitu pondasi
dangkal (shallow foundation) dan pondasi dalam (deep foundation),
tergantung dari letak tanah kerasnya dan perbandingan kedalaman dengan
lebar pondasi. Pondasi dangkal kedalamannya kurang atau sama dengan
lebar pondasi (D ≤ B) dan dapat digunakan jika lapisan tanah kerasnya
terletak dekat dengan permukaan tanah. Sedangkan pondasi dalam
digunakan jika lapisan tanah keras berada jauh dari permukaan tanah.
Perbedaan lainnya dari kedua jenis pondasi tersebut yaitu pada sistem
pemanfaatan daya dukung tanahnya. Pondasi dalam memanfaatkan tahanan
gesek pada dinding pondasi dan tahanan vertikal tanah dibawah tanah
dibawah dasar pondasi, sedangkan pondasi dangkal hanya memanfaatkan
tahanan vertikal tanah dibawah pondasi sebagai daya dukungnya.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pondasi yaitu
keadaan tanah pondasi, batasan-batasan akibat konstruksi di atasnya (upper
structure), keadaan daerah sekitar lokasi, waktu dan biaya pekerjaan.
Kemudian ada kriteria yang harus dipenuhi dalam perencanaan suatu
pondasi, diantaranya:
1. Pondasi harus ditempatkan dengan tepat, sehingga tidak longsor akibat
pengaruh luar.
2. Pondasi harus aman dari kelongsoran daya dukung.
3. Daya dukung pondasi harus lebih besar daripada beban yang bekerja
pada pondasi baik beban statik maupun beban dinamikanya.
4. Pondasi harus aman yaitu penurunan yang terjadi akibat pembebanan
tidak melebihi dari penurunan yang diijinkan.

2.2 Macam-macam Pondasi


2.2.1 Pondasi Dangkal
Pondasi dangkal biasanya dibuat dekat dengan permukaan tanah,
umumnya kedalaman pondasi didirikan kurang 1/3 dari lebar pondasi
sampai dengan kedalaman kurang dari 3 m. Kedalaman pondasi dangkal
ini bukan aturan yang baku, tetapi merupakan sebagai pedoman. Pada
dasarnya, permukaan pembebanan atau kondisi permukaan lainnya akan

4
mempengaruhi kapasitas daya dukung pondasi dangkal. Pondasi dangkal
biasanya digunakan ketika tanah permukaan yang cukup kuat dan kaku
untuk mendukung beban yang dikenakan dimana jenis struktur yang
didukungnya tidak terlalu berat dan juga tidak terlalu tinggi, pondasi
dangkal umumnya tidak cocok dalam tanah kompresif yang lemah atau
sangat buruk, seperti tanah urug dengan kepadatan yang buruk, pondasi
dangkal juga tidak cocok untuk jenis tanah gambut, lapisan tanah muda dan
jenis tanah deposito aluvial, dan lain lain. Dibawah ini merupakan jenis-
jenis pondasi dangkal :
1) Pondasi Tapak (Pad Foundation)
2) Pondasi Jalur atau Pondasi Memanjang (Strip Foundation)
3) Pondasi Tikar
4) Pondasi Rakit (Raft Foundation)
5) Pondasi Sumuran
6) Pondasi Umpak
7) Pondasi Plat Beton Lajur

2.2.2 Pondasi Dalam


Pondasi dalam adalah pondasi yang didirikan permukaan tanah
dengan kedalam tertentu dimana daya dukung dasar pondasi dipengaruhi
oleh beban struktural dan kondisi permukaan tanah, pondasi dalam
biasanya dipasang pada kedalaman lebih dari 3 m di bawah elevasi
permukaan tanah. Pondasi dalam dapat dijumpai dalam bentuk pondasi
tiang pancang, dinding pancang dan caissons atau pondasi kompensasi.
Pondasi dalam dapat digunakan untuk mentransfer beban ke lapisan yang
lebih dalam untuk mencapai kedalam yang tertentu sampai didapat jenis
tanah yang mendukung daya beban strutur bangunan sehingga jenis tanah
yang tidak cocok di dekat permukaan tanah dapat dihindari. Jenis-jenis
pondasi dalam adalah sebagai berikut :
1) Pondasi Tiang Pancang (Pile Foundation)
Pondasi tiang pancang menggunakan beton pracetak yang langsung
ditancapkan langsung ketanah dengan menggunakan mesin pemancang.

5
Karena ujung tiang pancang lancip menyerupai paku, maka tiang
pancang tidak memerlukan proses pengeboran. Pondasi tiang pancang
dipergunakan pada tanah-tanah lembek, tanah berawa, dengan kondisi
daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah tinggi dan tanah
keras pada posisi sangat dalam. Bahan untuk pondasi tiang pancang
adalah : bambu, kayu besi/kayu ulin, baja, dan beton bertulang.
Pondasi Tiang Pancang dibagi menjadi dua yaitu :
1. Tiang Pancang (Driven Pile)
Tiang pancang pracetak adalah tiang pancang yang dicetak
dan dicor didalam acuan beton (bekisting), kemudian setelah cukup
kuat lalu diangkat dan dipancangkan.
Keuntungan menggunakan tiang pancang:
 Bahan tiang dapat diperiksa sebelum pemancangan;
 Prosedur peaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah;
 Tiang dapat dipancang sampai kedalaman yang cukup dalam;
 Pemancangan tiang dapt menambah kepadatan tanah granular.
Kerugian menggunakan tiang pancang:
 Pengemangan permkaan tanah dan gangguan tanah akibat
pemancangan dapat menimbulkan masalah;
 Tiang terkadang rusak akibat pemancangan;
 Pemancangan sulit bila diameter tiang terlalu besar;
 Pemancangan menimbulkan gangguan suara, getaran dan
deformasi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan
disekitarnya;
 Penulangan dipengaruhi oleh tegangan yang terjadi pada waktu
pengangkutan dan pemancangan tiang.
2. Tiang Pancang Cor di tempat (DrivenCast-in-Situ Pile)
Bisa dengan cara memancangkan pipa besi kedalam tanah
kemudian pipa baja tersebut dicor dengan beton maupun dengan cara
menggali tanah dulu secara manual atau masinal kemudian dicor.

6
2) Pondasi Bored Pile
Pondasi bored pile adalah bentuk pondasi dalam yang dibangun di dalam
permukaan tanah, pondasi di tempatkan sampai ke dalaman yang
dibutuhkan dengan cara membuat lubang dengan sistem pengeboran atau
pengerukan tanah. Setelah mencapai kedalaman yang direncanakan,
kemudian dimasukan casing yang terbuat dari plat besi, lalu ttulangan
yang telah dirakit dan kemudian dilakukan pengecoran terhadap lubang
yang sudah di bor. Sistem pengeboran dapat dilakukan secara manual
maupun sistem hidrolik. Besar diameter dan kedalaman galian juga
sistem penulangan beton bertulang didesain berdasarkan daya dukung
tanah dan beban yang akan dipikul. Fungsi pondasi ini ditujukan
untuk menahan beban struktur melawan gaya angkat dan juga
membantu struktur dalam melawan kekuatan gaya lateral dan gaya
guling.

Gambar 2.1 Metode Kerja Pemasangan Bored Pile


Keuntungan menggunakan tiang bor:
 Tidak ada resiko kenaikan muka tanah, kedalaman tiang dapat
divariasikan;
 Tanah dapat diperiksa dan sicocokan dengan data laboratorium;
 Tiang dapat dipasang sampai kedalaman yang dalam, dengan
diameter besar, dan dapat dilakukan pembesaran ujung bawahnya
jika tanah dasar berupa lempung atau batu lunak;

7
 Penulangan tidak dipengaruhi oleh tegangan karena tidak ada
pengangkutan dan pemancangan.
Kerugian menggunakan tiang pancang:
 Pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan, bila tanah
berupa pasir atau tanahyang berkerikil;
 Pengecoran beton sulit bial dipengaruhi air tanah,karena mutu beton
tidak dapat dikontrol dengan baik;
 Air yang mengalir ke dalam lubang bor dapat mengakibatkan
gangguan tanah, sehingga mengurangi kapasitas dkung tanah
terhadap tiang;
 Pembesaran ujung bawah tiang tidak dapat dilakukan bila tanah
berupa pasir.

(a) (b)
Gambar 2.2 Pondasi Tiang Pancang (a) dan Pondasi Bored Pile (b)

2.3 Perencanaan Pondasi


Kriteria Perencanaan pondasi yaitu :
a. Daya dukung sistem pondasi harus lebih besar dari beban yang bekerja
pada pondasi (Qu > Qa)
b. Penurunan yang terjadi akibat pembebanan tidak melebihi penurunan
yang diijinkan (Stotal yang terjadi < Stotal yang diijinkan)

Dalam merencanakan suatu pondasi, perlu memperhatikan beberapa


aspek yang mempengaruhi pondasi itu sendiri antara lain :

8
2.3.1 Survey Lokasi
Survey lokasi bertujuan untuk mengetahui situasi lokasi lapangan
dimana nantinya terdapat pondasi yang direncanakan. Survey lokasi ini
dapat berupa pengukuran elevasi, penggambaran tampak memanjang dan
tampak melintang lokasi dan juga penentuan titik penyelidikan tanah.
2.3.2 Penyelidikan Tanah
Penyelidikan karakteristik tanah di lapangan dan pengujian di
laboratorium. Penyelidikan tanah di lapangan diantaranya Sondir, Uji
Boring, Standard Penetrasi Test (SPT) dan lain-lain. Dari sampel tanah
yang diambil di lapangan untuk mengetahui sifat-sifat dan karakteristik
tanah maka dilakukan beberapa pengujian tanah, yaitu :
1. Pengujian Tanah di Lapangan
a) Uji Sondir
Pengujian Tanah untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus
(qc), perlawanan geser setempat (Lf), dan perlawanan geser total
(JHF). Sehingga dapat menentukan letak kedalaman tanah keras,
komposisi tanah per lapisan, serta daya dukung tanah.
b) Uji Boring
Pekerjaan ini mengambil contoh tanah untuk mengetahui lapisan
tanah dan untuk mengambil contoh tanah yang akan diuji di
laboratorim. Pekerjaan SPT sekaligus dikerjakan dengan alat ini.
c) Standard Penetrasi Test (SPT)
Penguian hand boring dan SPT didasarkan atas ASTM D-1586, hasil
dari pengujian ini adalah deskripsi susunan lapisan-lapisan tanah
serta nilai SPT yang dinyatakan dalam N pukulan. Nilai SPT
diperoleh yaitu pada tabung SPT ditekan atau dipukul sedalam 150
mm pada tanah tak terganggu sambil mencatat banyaknya pukulan
yang diperlukan. Pengujian ini dilakukan bersamaan dengan
pengambilan contoh tanah dan biasa dilakukan 1,5 – 2 meter
kedalaman atau tiap pergantian jenis tanah.

9
2. Pengujian Tanah di Laboratorium
Pengujian ini menggunakan sampel tanah yang diambil pada
contoh tanah yang tidak terganggu. Uji Laboratorium dilakukan untuk
mengetahui sifat dan karakteristik tanah, hasil dari uji laboratorium
akan dikorelasikan dengan hasil uji lapangan sehingga dapat di desain
dimensi pondasi yang aman dan efisien.

2.3.3 Pemilihan Jenis Pondasi


Pemilihan jenis pondasi tiang tergantung beberapa faktor berikut yaitu :
1. Kondisi Tanah
Apabila kondisi tanah yang ada adalah tanah lunak dan mudah runtuh
sebaiknya digunakan pondasi jenis pancang karena bored pile pada
pelaksanaannya akan sulit mempertahankan kondisi lubang bor hingga
saat pengecoran dilaksanakan.
2. Bahan yang tersedia
Untuk daerah yang sulit untuk mendapatkan bahan kerikil, namun
terdapat kayu dengan kualitas yang baik maka dapat digunakan jenis
pondasi tiang kayu.
3. Kondisi lingkungan di sekitar pekerjaan
Pemilihan pondasi pada daerah yang padat penduduk atau banyak
terdapat bangunan disekitarnya sebaiknya tidak digunakan tiang
pancang. Hal ini dikarenakan pada pelaksanaan pemancangan dapat
menyebabkan kerusakan pada bangunan sekitar lokasi pemancangan.
4. Waktu dan biaya pengerjaan pondasi

2.3.4 Perhitungan
Perhitungan pada perencanaan pondasi dapat dilakukan pada
beberapa aspek yaitu daya dukung tanah, penurunan (settlement), dan
pergeseran (displacement), sebagai berikut :
1. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal
Daya dukung tiang merupakan kemampuan tiang pondasi untuk
mendukung beban baik berupa beban pondasi sendiri dan beban yang

10
lain , yaitu berupa beban tetap, beban bergerak, dan beban gempa. Daya
dukung sebuah tiang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen skin
friction dan point bearing.
Rumus umum daya dukung tiang tunggal
𝑄𝑢
𝑄𝑢 = 𝑄𝑒 + 𝑄𝑠 𝑄𝑎 =
𝐹𝐾
Dimana :
Qu = Daya dukung ultimate
Qe = Daya dukung ujung tiang
Qs = Daya dukung friksi
FK = Faktor keamanan

(a) (b)
Gambar 2.3 Daya dukung ujung tiang (a) dan Daya dukung friksi (b)
a. Data tanah hasil pengujian di laboratorium
 Daya dukung ujung
1
𝑄𝑒 = 𝐴𝑏 (𝑐. 𝑁𝑐 + 𝑞̅ . 𝑁𝑞 + . 𝛾. 𝐵. 𝑁𝛾 )
2
Dimana :
Ab = Luas dasar pondasi (penampang tiang)
c = Kohesi tanah
𝑞̅ = Tekanan tanah efektif = ∑ 𝛾𝑖 . ℎ𝑖
B = Diameter tiang
Nc, Nq, Nᵞ = Faktor Bearing capacity tergantung ϕ

 Daya dukung friksi


𝑄𝑠 = 𝐴𝑠 (𝛼1 . 𝑐 + 𝐾. 𝛾 ′ . 𝑧. 𝑡𝑎𝑛𝛿)

11
Dimana :
As = Luas bidang kontak antara tanah dengan tiang = 𝜋. 𝐷. 𝐿
α1 = Faktor adhesi yang besarnya antara 0.35 – 0.40
= untuk tiang bor direduksi lagi sebesar 20 – 30%
c = Kohesi tanah
K = Koefisien tekanan tanah lateral = 1 – sin ϕ’
ϕ = Sudut geser dalam tanah
 Tiang Bor, Sudut geser harus dikoreksi sebesar –3
(ϕ’= ϕ –3)
 Tiang Pancang, Sudut geser harus dikoreksi sebesar
(ϕ’=ϕ+40)/2

𝛾 . 𝑧 = tegangan efektif tanah pada kedalaman yang ditinjau
𝛾 ′ = 𝛾𝑠𝑎𝑡 − 𝛾𝑤
z = Kedalaman titik tinjau
δ = Sudut gesekan efektif antara tiang dengan tanah

b. Data tanah hasil pengujian di lapangan


1. Berdasarkan data lapangan sondir
Pada perhitungan daya dukung berdasarkan data lapangan sondir
terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan yaitu sebagai
berikut :
Rumus Umum
𝑄𝑠 𝑄𝑒 𝐽𝐻𝑃𝑥𝑂 𝑞𝑐 𝑥𝐴𝑏
Qa = + Qa = +
𝐹𝐾1 𝐹𝐾2 5 3
Dimana :
Qe = Daya dukung ujung
Qs = Daya dukung friksi
JHP = Jumlah Hambatan Pelekat (Total friction) penjumlahan
skin resistance atau sleeve friction dari konus sondir sampai
kedalaman tertentu (kg/cm)
O = Keliling Tiang (cm)
qc = tahanan konus pada dasar pondasi (kg/cm2)
Ab = Luas penampang alas / ujung tiang (cm2)
FK1 = 5-6
FK2 = 3-4

 Daya Dukung Ujung


Meyerhof : Qe = 𝐴𝑏 . 𝑞𝑐
Tomlinson : Qe = 10. 𝐶𝑘𝑑 . 𝐴𝑏

12
 Daya Dukung Friksi
Meyerhof : Qs = 𝐴𝑠 . fs
𝑝
Tomlinson : Qs = . ∑𝑛𝑖=1 𝑞𝑐𝑖 . 𝐼𝑖
20

Keterangan :
Qe = Daya dukung ujung (ton)
Ab = Luas dasar pondasi (penampang tiang) (cm2)
qc = tahanan konus pada dasar pondasi (kg/cm2)
Ckd = qc rata-rata dari 1d dibawah dan 3d diatas elevasi
ujung tiang (kg/cm2)
Qs = Daya dukung friksi
As = Luas bidang kontak tanah dengan tiang (cm2)
fs = Tahanan gesek persatuan luas (untuk tiang beton
pada tanah pasir adalah fs=(qc/200)
p = keliling tiang (m)
qci = Nilai tahanan konus rerata setiap lapisan (kg/cm2)
li = panjang tiang perlapisan (m)

2. Berdasarkan data lapangan hasil SPT


 Daya dukung ujung
Qe = 𝐴𝑏 . 𝑝𝑏
Dimana :
Qe = Daya dukung ujung
Ab = Luas dasar pondasi (penampang tiang)
pb = nilai pb tergantung jenis tanah
 Daya dukung friksi
Qs = 𝐴𝑠 . 0,20𝑁
Dimana :
Qs = Daya dukung friksi
As = Luas bidang kontak antara tanah dengan tiang
N = Nilai SPT

2. Perhitungan Daya Dukung Tiang Grup


Pada sebuah abutment untuk meneruskan beban kelapisan tanah
dibawahnya digunakan pondasi tiang dalam bentuk kelompok (grup).
Masing-masing tiang dalam grupnya selanjutnya diikat bagian atasnya
dengan kepala tiang (pilecap). Sebelum menghitung daya dukung tiang
grup diperlukan data sebagai berikut :

13
a. Jumlah Tiang
n =P/Qa
Dengan :
P = Beban yang berkerja
Qa = Kapasitas dukung ijin tiang tunggal

b. Jarak Tiang (S)


Jarak tiang biasanya dipakai bila:
1. Ujung tiang tidak mencapai tanah keras maka jarak tiang
minimum ≥ 2 kali diameter tiang atau 2 kali diagonal tampang
tiang.
2. ujung tiang mencapai tanah keras, maka jarak tiang minimum ≥
diameter tiang ditambah 30 cm atau panjang diagonal tiang
ditambah 30 cm.
c. Susunan Tiang
Gambar dibawah ini adalah contoh susunan tiang (Hary Christady
Harditatmo, 2003)

Gambar 2.4 Contoh susunan tiang

14
Daya dukung grup tiang secara keseluruhan sangat tergantung
dari jarak antar tiang (s). Secara praktis jarak antar tiang dalam grup
minimum adalah 2.5d (d=diameter tiang), tetapi secara umum jarak ini
dibuat antara 3-3.5 kali diameter tiang. Dengan demikian daya dukung
total grup tiang bisa dituliskan:

Qug = Qut × n × Eg
Dimana:
Qug = daya dukung grup tiang
Qut = daya dukung tiang tunggal
n = jumlah tiang dalam grup
Eg = efisiensi grup tiang (≤1)
Ada beberapa formula untuk menghitung efisiensi grup tiang,
menggunakan persamaan Labarre :

n(m−1)+m(n−1)
Eg = 1-Q
90mn
Dimana:
Q = arc tan (d/s) dalam derajat
D = diameter tiang
s = jarak antar as tiang
n = jumlah tiang dalam baris
m= jumlah baris

d. Perhitungan Displacemet
Pada pondasi tiang biasanya bekerja gaya vertikal, gaya
horizontal, dan momen putar. Gaya-gaya ini menyebabkan perpindahan
pada tumpuan baik arah horizontal, vertikal, maupun berputar.
𝐴𝑥𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑥𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑥𝛼 . 𝛼 = 𝐻𝑜
𝐴𝑦𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑦𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑦𝛼 . 𝛼 = 𝑉𝑜
𝐴𝛼𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝛼𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝛼𝛼 . 𝛼 = 𝑀𝑜

Gambar 2.5 Koordinat perhitungan displacement

15
𝐴𝑥𝑥 = ∑(𝐾1 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾𝑣 . 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 )

𝐴𝑥𝑦 = 𝐴𝑦𝑥 = ∑{(𝐾𝑣 − 𝐾1 )𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 . 𝑐𝑜𝑠 𝜃𝑖 }

𝐴𝑥𝛼 = 𝐴𝛼𝑥 = ∑{(𝐾𝑣 − 𝐾1 )𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 . 𝑐𝑜𝑠 𝜃𝑖 − 𝐾2 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖

𝐴𝑦𝑦 = ∑(𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 )

𝐴𝑦𝛼 = 𝐴𝛼𝑦 = ∑{(𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1. 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 ). 𝑥𝑖 + 𝐾2 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖

𝐴𝛼𝛼 = ∑{(𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1. 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 ). 𝑥𝑖 2 + (𝐾2 + 𝐾3 ). 𝑥𝑖 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 + 𝐾4

Keterangan :
Ho = Beban lateral (ton)
Vo = Beban vertikal (ton)
Mo = Momen (ton.m)
δx = Perpindahan mendatar
δy = Perpindahan vertikal
α = Sudut rotasi tumpuan (radial)
θi = Sudut yang dibuat oleh tiang ke - i dengan sumbu vertikal,
dengan pemakaian tanda (+ / -)
hi = Tinggi kepala tiang dari tanah

Dimana :
β = nilai karakteristik tiang
4 𝑘. 𝐷
𝛽= √ (𝑚−1 )
4𝐸𝐼
λ = h + 1/β (m)
k = koefisien daya tangkap reaksi permukaan (ton/m3)
D = diameter tiang (m)
EI = kekakuan lentur tiang (ton.m2)
𝐸 = 4700 √𝑓′𝑐

16
1
I = Inersia Untuk tiang lingkaran : 𝐼 = . 𝜋. 𝐷4
64
h = panjang axial bagian atas dari perencanaan tanah

nilai k dapat diperkirakan berdasarkan persamaan berikut :


𝑘 = 𝑘𝑜 . 𝑦 −1/2
𝑘𝑜 = 0,2. 𝐸𝑜 . 𝐷−3/4
Dimana :
ko = Harga k bila pergeseran pada permukaan dibuat 1 cm (kg/cm3)
y = Besarnya pergeseran yang dicari (cm)
Eo = Modulus deformasi tanah pondasi, biasanya diperkirakan dengan
Eo = 28 N, dimana nilai N adalah nilai percobaan SPT
D = diameter tiang (cm)

Perkiraan konstanta pegas Kv secara praktis adalah sebagai berikut :


𝐾𝑣 = 𝑎. 𝐴𝑝 . 𝐸𝑝 /𝐿
Dimana :
a = 0,027 (L/D) +0,2 → untuk tiang yang terbuat dari pipa baja
a = 0,04 (L/D) - 0,27 → untuk tiang beton prategang
a = 0,022 (L/D) - 0,05 → untuk tiang yang di cor ditempat
Ap = Luas penampang netto dari tiang (cm2)
Eo = Modulus elastisitas tiang (kg/cm2)
L = Panjang tiang (cm)
D = diameter tiang (cm)

Rumus Kv diatas dapat digunakan apabila L/D ≥ 10

Gaya reaksi dapat diperhitungkan sebagai berikut :


𝑃𝑁𝑖 = 𝐾𝑣 . 𝛿𝑦𝑖
𝑃𝐻𝑖 = 𝐾1 . 𝛿𝑥𝑖 − 𝐾2 . 𝛼
𝑀𝑡𝑖 = −𝐾3 . 𝛿𝑥𝑖 + 𝐾4 . 𝛼
𝑉𝑖 = 𝑃𝑁𝑖 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖 − 𝑃𝐻𝑖 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖
𝐻𝑖 = 𝑃𝑁𝑖 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 + 𝑃𝐻𝑖 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖

Dimana :
𝛿𝑦𝑖 = 𝛿𝑥 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 + (𝛿𝑦 + 𝛼. 𝑥𝑖 )𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖
𝛿𝑥𝑖 = 𝛿𝑥 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖 − (𝛿𝑦 + 𝛼. 𝑥𝑖 )𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖

17
Untuk mengontrol kebenaran hitungan tersebut digunakan acuan
berikut :

∑ 𝐻𝑖 = 𝐻𝑜

∑ 𝑉𝑖 = 𝑉𝑜

∑(𝑀𝑡𝑖 + 𝑉𝑖 . 𝑥𝑖 ) = 𝑀𝑜

Perhitungan perpindahan yang terjadi di kepala tiang adalah


𝛿 = (𝛼. 𝐻) + 𝛿𝑥
Dimana :
δ = Perpindahan di kepala tiang (cm)
α = Perpindahan rotasi yang terjadi pada tumpuan (rad)
H = Tinggi kepala tiang (cm)
δx = Perpindahan arah horizontal pada tumpuan.

Jika perpindahan < 1 inchi (2,54 cm) maka pondasi tiang dikatakan
kaku sehingga konstruksi aman.
e. Perhitungan Penurunan tanah
a. Penurunan Tiang Tunggal
Hubungan antara penurunan dan distribusi beban di sepanjang tiang
dapat dihitung dengan menggunakan metode transfer beban.
b. Penurunan Kelompok Tiang
Pada perhitungan pondasi tiang, kapasitas ijin ting sering lebih
didasarkan pada persyaratan penurunan. Penurunan tang
terutamabergantung pada nilai banding tahanan ujung dengan beban
tiang. Jika beban yang didukung per tiang lebih kecil atau sama
dengan tahanan tiang maka penurunan akan kecil.
Qe ≥ Q → settlement kecil
Qe < Q → settlement besar

Penurunan konsolidasi kelompok tiang pada lapisan lempung dapat


diperhitungkan dengan metode sebaran tegangan 2 vertikal
berbanding 1 horisontal (2:1) akibat beban total yang bekerja (Qg).

18
Prosedur perhitungan menggunakan langkah-langkah berikut:
1) Misalkan panjang tiang yang tertanam adalah L. Kelompok tiang
menderita beban total Qg . Jika kepala tiang berada di bawah
permukaan tanah asli, Qg adalah sama dengan beban total dari
bangunan atas yang diterima tiang dikurangi dengan berat efektif
tanah di atas tiang kelompok yang dibuang oleh penggalian.
2) Asumsikanlah bahwa beban Qg akan disalurkan ke tanah mulai dari
kedalaman (2/3 L) dari puncak tiang, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 2.14. Puncak tiang adalah pada kedalaman z = 0. Beban Qg
tersebar sepanjang garis 2 vertikal : 1 horizontal dari kedalaman ini.
Garis aa′ dan bb′ adalah garis 2:1.

Gambar 2.6 Penyaluran Beban ke Tanah


3) Hitunglah peningkatan tegangan yang timbul di tengah-tengah setiap
lapisan tanah dengan beban Qg :

Qg
∆Pi =
(Bw+z𝑖)(Lw+z𝑖)
Dimana:
∆Pi = peningkatan tegangan di tengah lapisan i
Bw = lebar tiang kelompok
Lw = panjang tiang kelompok
z = jarak dari z = 0 ke tengah lapisan i

4) Menghitung penurunan untuk masing-masing lapisan akibat adanya


peningkatan tegangan pada lapisan itu. Besarnya penurunan dapat

19
dihitung dengan menggunakan persamaan penurunan konsolidasi
satu dimensi untuk lempung terkonsolidasi normal dan
terkonsolidasi lebih.
Untuk lempung terkonsolidasi normal:

Cci P𝑜𝑖+ ∆𝑃𝑖


∆Sci = x Hi x log ( )
(1+ ℯ𝑜𝑖 ) P𝑜𝑖

Untuk lempung terkonsolidasi lebih (Poi+ ∆Pi < Pci) dengan:

Csi P𝑜𝑖+ ∆𝑃𝑖


∆Sci = x Hi x log ( )
(1+ ℯ𝑜𝑖 ) P𝑜𝑖

Dimana:
∆Sci = penurunan konsolidasi pada lapisan i
Poi = tegangan efektif rata-rata pada lapisan i tanpa
pembebanan
Pci = tekanan prakonsolidasi (preconsolidated pressure)
ℯoi = angka pori awal pada lapisan i
Cci = indeks kompresi (compression index)
Csi = indeks pengembangan (swelling index)
Hi = ketebalan lapisan i (catatan: di dalam gambar 2.8, nilai Hi
untuk lapisan no. 2 adalah L1, untuk lapisan no.3, Hi=L2,
untuk lapisan no.4, Hi=L3 )

Untuk beberapa lapis tinjauan maka settlement total adalah


∆Sc = ∆Sc1 + ∆Sc2 +.......+∆Scn

20
BAB III
PERENCANAAN PONDASI

3.1 Lokasi Jembatan


Jembatan sungai cimadur ini terletak di kecamatan Bayah Kabupaten
Lebak Provinsi Banten. Jembatan ini merupakan jembatan yang berfungsi
untuk melintasi sungai dan memiliki dua buah abutment. Pada perencanaan
Pondasi Jembatan, dilakukan dua jenis penyelidikan tanah atau investigasi
tanah yaitu sondir dan bor SPT. Untuk lokasi penyelidikan tanah dapat dilihat
pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1 Lokasi titik bor mesin dan titik sondir

3.2 Data dan Analisis


3.2.1 Analisis Sondir
Pengujian sondir dapat digunakan untuk mengetahui profil tanah,
permeabilitas tanah atau koefisien konsolidasi, kuat geser selimut tiang, dan
kapasitas daya dukung tanah. Pentingnya pengujian sondir pada saat
merencanakan pondasi dimaksudkan agar pondasi tersebut memiliki safety
factor yang tinggi sehingga bangunan di atasnya tetap kuat dan tidak
mengalami penurunan berlebih. Secara umum jenis lapisan tanah, mengikuti

21
kondisi topografi dan geologi setempat, demikian pula nilai tahan qonusnya.
Daya dukung tanah, ditunjukan oleh nilai qonus dari 0 s/d 250 kg/cm2, yaitu
semakin besar nilai qonus, maka semakin tinggi daya dukungnya.
Definisi Lapisan tanah keras, menurut pendapat Terzaghi, yaitu apabila
nilai tekanan qonus, menunjukkan Q > 50 kg/cm², menunjukan bahwa
lapisan tanah cukup keras, jika Q ≥ 150 kg/cm² menunjukkan tanah keras,
dan Q ≈ 250 kg/cm² menunjukkan tanah keras & padat. Hasil penyondiran
ditabelkan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Hasil Penyondiran [Link] Bayah Banten

Posisi 3 titik sondir,yaitu 2 ditepi sungai, 1 ditengah sungai (delta),


sepanjang rencana jembatan. Hasil sondir di titik S1,S2 menginformasikan
karakteristik tanah yang mirip, yaitu lapisan tanah keras (150 kg/cm2< Qs ≤
250 kg/cm2) berjenis pasir padat berada pada kedalaman ± 8 m. Hambatan
Lekat Total < 500 kg/cm2. Hasil sondir di titik sondir S3, menginformasikan
lapisan tanah keras (150 kg/cm2 < Qs ≤ 250 kg/cm2) berjenis pasir berada
pada kedalaman ± 12 m. Sedangkan pada kedalaman antara 3 – 9 m,
merupakan lapisan tanah lunak. Dari perbedaan kedalaman lapisan tanah
keras dari titik sondir, mengindikasikan bahwa kemiringan lapisan tanah ke
arah Selatan.

22
Berikut lampiran data pengujian sondir di titik S3 pada tabel 3.2 :
Tabel 3.2 Data Pengujian sondir

Keda Lf x 20
laman Cw Tw Kw qc Lf cm JHP Fr
(m) (kg/cm2) (kg/cm2) (Tw-Cw) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm) (kg/cm) (%)
0.00 0 0 0 0 0.000 0.000 0 0.000
0.20 10 14 4 10 0.373 7.466 7.466 3.733
0.40 13 17 4 13 0.373 7.466 14.933 2.872
0.60 15 19 4 15 0.373 7.466 22.399 2.489
0.80 15 20 5 15 0.467 9.333 31.732 3.111
1.00 8 13 5 8 0.467 9.333 41.064 5.833
1.20 5 9 4 5 0.373 7.466 48.531 7.466
1.40 5 10 5 5 0.467 9.333 57.864 9.333
1.60 15 20 5 15 0.467 9.333 67.196 3.111
1.80 17 21 4 17 0.373 7.466 74.663 2.196
2.00 15 19 4 15 0.373 7.466 82.129 2.489
2.20 15 19 4 15 0.373 7.466 89.595 2.489
2.40 13 17 4 13 0.373 7.466 97.061 2.872
2.60 11 15 4 11 0.373 7.466 104.528 3.394
2.80 11 15 4 11 0.373 7.466 111.994 3.394
3.00 14 18 4 14 0.373 7.466 119.460 2.667
3.20 16 20 4 16 0.373 7.466 126.926 2.333
3.40 15 19 4 15 0.373 7.466 134.393 2.489
3.60 18 23 5 18 0.467 9.333 143.726 2.592
3.80 17 20 3 17 0.280 5.600 149.325 1.647
4.00 25 29 4 25 0.373 7.466 156.792 1.493
4.20 25 30 5 25 0.467 9.333 166.124 1.867
4.40 33 38 5 33 0.467 9.333 175.457 1.414
4.60 45 50 5 45 0.467 9.333 184.790 1.037
4.80 47 52 5 47 0.467 9.333 194.123 0.993
5.00 33 38 5 33 0.467 9.333 203.456 1.414
5.20 35 40 5 35 0.467 9.333 212.789 1.333
5.40 45 49 4 45 0.373 7.466 220.255 0.830
5.60 50 55 5 50 0.467 9.333 229.588 0.933
5.80 63 68 5 63 0.467 9.333 238.920 0.741
6.00 57 62 5 57 0.467 9.333 248.253 0.819
6.20 65 70 5 65 0.467 9.333 257.586 0.718
6.40 65 70 5 65 0.467 9.333 266.919 0.718
6.60 68 73 5 68 0.467 9.333 276.252 0.686
6.80 76 82 6 76 0.560 11.199 287.451 0.737
7.00 93 98 5 93 0.467 9.333 296.784 0.502
7.20 100 119 19 100 1.773 35.465 332.249 1.773
7.40 125 139 14 125 1.307 26.132 358.381 1.045
7.60 176 182 6 176 0.560 11.199 369.580 0.318
7.80 180 187 7 180 0.653 13.066 382.646 0.363
8.00 200 210 10 200 0.933 18.666 401.312 0.467

23
Perhitungan data analisis sondir
Contoh Perhitungan pada kedalaman 8,00 meter
Data alat sondir:
D plunger = 3,58 cm
D konus = 3,58 cm
D selimut = 3,61 cm
L Selimut = 10 cm
22
Asel = 𝜋 × 𝐷𝑠 × 𝐿𝑠 = × 3,61 × 10 = 113,4571 cm2
7
1 1 22
Ac = × 𝜋 × 𝐷𝑐 2 = × × 3,582 = 10,07003 cm2
4 4 7
1 1 22
Apl = × 𝜋 × 𝐷𝑝𝑙 2 = × × 3,582 = 10,07003 cm2
4 4 7
𝐴𝑝𝑙
𝑞𝑐 = . 𝐶𝑤 (kg/cm²)
𝐴𝑐

Dimana :
qc = Gaya konus (kg/cm²)
Apl = Luas penampang plunger (cm²)
1
= . 𝜋. 𝐷𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑝𝑙𝑢𝑛𝑔𝑒𝑟
4

Ac = Luas penampang konus


1
= . 𝜋. 𝐷𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑘𝑜𝑛𝑢𝑠
4

Cw = Gaya plunger (kg/cm²)

𝐶𝑤 = 200 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝑇𝑤 = 210 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝐾𝑤 = 𝑇𝑤 − 𝐶𝑤 = 210 − 200 = 10 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝐴𝑝𝑙 10,07003
𝑞𝑐 = . 𝐶𝑤 = × 200 = 200 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝐴𝑐 10,07003
(𝑇𝑤 −𝐶𝑤 )
𝐿𝑓 = . 𝐴𝑝𝑙 (kg/cm²)
𝐴𝑠𝑒𝑙

Dimana :
Tw = Pembacaan manometer dua ( kg/cm² )
Cw = Pembacaan manometer pertama ( kg/cm² )
Asel = Luas selimut konus
Apl = Luas penampang plunger

24
(𝑇𝑤 −𝐶𝑤 )
𝐿𝑓 = . 𝐴𝑝𝑙
𝐴𝑠𝑒𝑙
10
𝐿𝑓 = × 10,07003 = 0,933 𝑘𝑔/ 𝑐𝑚2
113,4571
𝑛

𝐽𝐻𝑃 = ∑(𝐿𝑓 𝑥 20)


𝑖=1

𝐽𝐻𝑃 = (𝐽𝐻𝑃 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎) + (𝐿𝑓 × 20 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚𝑎𝑛 20𝑐𝑚)


= 382,646 + ( 0,933 × 20)
= 401,312 𝑘𝑔/𝑐𝑚
𝐿𝑓
𝐹𝑟 = . 100%
𝑞𝑐
0,933
= × 100%
200
= 0,467 %
3.2.2 Analisis Standard Penetration Test (SPT)
Kegiatan pemboran di area proyek sejumlah 3 titik, kedalaman di
BH-1 : ± 30.00 m , BH-2 : ± 30.00 m dan BH-3 : ± 30.00 m. Hasil pemboran
disajikan dalam Formulir Bor Log, yang berisi antara lain Kedalaman
(terhadap MTS-Muka Tanah Setempat), NSPT, Deskripsi (Konsistensi,
Jenis Tanah/Batuan, warna, Jenis tanah ). Bor Log terlampir, secara umum
jenis tanah di BH-1, BH2 dan BH-3 seperti tabel berikut :
Tabel 3.3 Jenis tanah berdasarkan hasil pemboran

25
Posisi titik bor berada di sepanjang rencana jembatan (± 100 m ),
BH 1 dan BH 3 berada di tepi sungai, sebagai abutment jembatan,masing-
masing kedalaman 30 m. BH2 berada ditengah lebar sungai, sejauh ± 50 m
dari tepi sungai, dengan kedalaman pemboran 30 m. Hasil Pemboran
menunjukan lapisan tanahnya mendekati homogen berupa pasir, kecuali di
BH3 terdapat lapisan Lempung lunak setebal ± 2 m, pada kedalaman 10 s/d
12 m.
Adapun deskripsi lapisan tersebut secara umum sebagai berikut :
1. Lapisan Lempung Lunak di BH3, pada kedalaman ± 10 -12 m. Maka
diasumsikan secara teknis bahwa di area proyek Lapisan Tanah Lunak
s/d Sedang ( Pasir ) dengan 5<Nspt<30 berada kedalaman ± 0 m s/d ±
12 m.
2. Lapisan Tanah keras (Pasir) s/d padat dengan 30 < NSPT < 50 berada
mulai kedalaman ±12 m s/d ± 21 m.
3. Lapisan Tanah Keras dan Padat dengan NSPT > 50,dari kedalaman ±
21 m s/d 30 m.

Pada prinsipnya setiap lapisan tanah memiliki daya dukung (bearing


capasity),namun besar atau kekuatannya bergantung pada karakteristik
tanahnya. Untuk mengoptimal daya dukung tanah sebagai dasar pondasi,
maka perlu diketahui rencana peruntukan dan beban bangunan strukturnya.
Dasar pondasi diupayakan tidak pada tanah jenis kohesif (lanau dan
lempung). Lempung, bersifat susut dan kembang yang tinggi, bergantung
pada kandungan airnya. Sifat lempung ini melunak jika bercampur air dan
sebaliknya mengeras jika air menghilang. Sifat tanah ini buruk, jika
digunakan sebagai dasar pondasi, karena berdampak terjadinya penurunan
lapisan tanah Lapisan tanah yang akan digunakan sebagai dasar pondasi
adalah lapisan berdaya dukung tinggi dengan NSPT berkisar 30< NSPT <
60 , dengan konsistensi agak keras, keras hingga keras-padat. Lapisan
berpasir tersebut, berada pada kedalaman > 12 m.

26
Berikut lampiran data pengujian SPT di titik BH1 pada tabel 3.4 :
Tabel 3.4 Hasil pengujian SPT
Depth Soil/Rock Depth Soil/Rock
SPT-N SPT-N
(meter) Description (meter) Description
0.5 17 50
1 17.5
1.5 18
2 1 18.5 50
2.5 Lepas/Lunak, Pasir 19
3 UDS-1 Lanauan,abu-abu 19.5
3.5 2 kecoklatan 20 50
4 20.5
4.5 21
5 3 21.5 50
5.5 22
6 22.5
6.5 16 23 50 Padat dan keras,
bentuk bongkah,
7 Sedang, Pasir 23.5
pasiran sedikit
7.5 kerikilan,abu-abu 24 lempung
8 16 24.5 50
8.5 25
9 25.5
9.5 45 26 50
10 26.5
10.5 27
11 50 27.5 50
11.5 28
12 28.5
Padat, Pasir
12.5 50 29 50
kerikilan,
13 kehitaman 29.5
13.5 30
14 50
14.5
15
15.5 50
16
16.5

27
3.2.3 Analisis data hasil laboratorium
Hasil pengujian ini, terdiri dari : Pengujian index dan engineering
properties terhadap 3 sampel, dari pemboran. Dari 3 sampel tanah, terdiri
dari 3 UDS (Undisturb Sample), diperoleh klasifikasi tanah menurut
“Unified Standard Classification System (USCS)”, adalah seperti tabel
berikut :
Tabel 3.5 Klasifikasi Jenis Tanah [Link] berdasar Uji Laboratorium

Tabel 3.6 Data hasil laboratorium mekanika tanah

3.2.4 Data Pembebanan


Dalam perhitungan perencanaan pondasi penulis merencanakan
pembebanan yang akan terjadi adalah sebagai berikut :
Tabel 3.7 Pembebanan Pondasi
No Jenis Gaya Beban pada Pondasi Satuan
1 Gaya Vertikal 950 Ton
2 Gaya Horizontal 300 Ton
3 Momen 450 Ton meter

28
3.3 Pemilihan jenis pondasi
Pondasi harus memiliki daya dukung vertikal maupun horizontal.
Gaya Vertikal merupakan beban jembatan dan beban penggunanya,
sehingga diharapkan tidak terjadi penurunan struktur akibat penurunan
lapisan tanah. Gaya Horizontal berupa beban samping akibat angin atau
gempa, yang dapat menyebabkan kegagalan struktur jembatan.

Pondasi yang layak adalah menggunakan Pondasi Dalam, dengan


dasar pondasi berada pada lapisan tanah keras dengan NSPT > 30 dan Nilai
Qonus pada Sondir berkisar 150 kg/cm2 < Qs ≤ 250 kg/cm2. Dengan
pertimbangan kontruksi berada di Lapisan berpasir, maka disarankan
mengguna kan Pondasi Tiang Pancang. Ujung Tiang berada pada lapisan
pendukung (end bearing) di kedalaman 12, 15, 20 m, dan 25 m . Tiang
berdiameter 30 dan 40 cm.

3.4 Perhitungan
Dalam perhitungan perencanaan pondasi tiang ini penulis
merencanakan pembebanan yang akan terjadi sebagai berikut :
3.4.1 Perhitungan Daya Dukung Menggunakan Data Sondir
1. Menghitung Daya Dukung Tiang Tunggal
Menghitung Daya Dukung Tanah berdasarkan data analisis sondir,
yaitu nilai qc dan JHP. Diasumsikan menggunakan diameter 30 cm dan 40
cm dengan kedalaman 8 m. Dan nilai Qdesign sebesar 166 Ton. Contoh
perhitungan untuk diameter 30 cm :

JHP = 401.312 kg/cm


qc = 200 kg/cm2
1 1
𝐴𝑏 = × 𝜋 × 𝐷2 = × 𝜋 × 302 = 706,86 𝑐𝑚2
4 4
22
𝑂 = 𝜋×𝐷= × 50 = 94,25 𝑐𝑚
7
𝐽𝐻𝑃 × 𝑂 𝑞𝑐 × 𝐴𝑏
𝑄𝑎 = +
3 3
401,312 × 94,25 200 × 706,86
𝑄𝑎 = + = 98293,42 = 98,29 𝑡𝑜𝑛
3 3

29
Maka, hasil Qa untuk 1 tiang adalah :
Tabel 3.8 Nilai Qa untuk 1 tiang
d Ab O Qe Qs Qa
2
cm cm Cm Kg kg kg
30 706.86 94.25 80685.83 17607.6 98293.42
40 1256.64 125.66 147663.71 19810.1 167473.82
Berdasarkan tabel tersebut maka diameter yang diameter 40 cm,
karena Qdesign < Q ijin.
2. Menghitung Daya Dukung Tiang Grup
a. Perhitungan Jumlah Tiang
Untuk menghitung jumlah kebutuhan tiang dengan cara membagi
gaya vertikal dengan daya dukung 1 tiang.
𝑉 950
𝑛= = = 5,7 ≈ 8
𝑄𝑎 167,473
Digunakan tiang diameter 40 cm, dengan total jumlah 8 buah
tiang.
b. Jarak tiang dalam satu grup
Perencanaan memakai bentuk pile cap segi panjang. Dengan
menggunakan jarak antar as tiang (s) sebesar 3D dan diameter tiang
yang digunakan 40 cm.

Tabel 3.9 Jumlah Baris dan tiang


Diameter Jumlah Tiang Jarak Antar Jumlah Baris Jumlah Tiang
(cm) (N) Tiang (s) (cm) (m) dalam Baris (n)
40,00 8 120 1 8
40,00 8 120 2 4
40,00 8 120 4 2
40,00 8 120 8 1

Digunakan diameter 40 cm, dengan jumlah baris 2 dan jumlah


tiang dalam tiap baris sebesar 4 buah. Total tiang 8 buah.

30
c. Efisiensi tiang dalam satu grup
Agar meminimalisir risiko tidak meratanya pembagian daya
dukung grup tiang dengan daya dukung tiang tunggal yang
seharusnya, maka dibutuhkan efisiensi grup tiang.
Efisiensi grup tiang menurut Labarre, menggunakan rumus :
(n−1) ,m+(m−1) ,n
Eg =1−𝑄
90 ,m ,n
(4−1) ,2+(2−1) ,4
Eg = 1 − 18,345
90 ,2 ,4

Eg = 0,744 < 1 OK !

d. Perhitungan Daya Dukung Tiang Grup


Perhitungan daya dukung tiang grup diperlukan, agar bisa
menerima beban yang lebih besar dibandingkan dengan satu tiang. Qa
grup tiang harus sama atau lebih bsar dari gaya vertical (V) yang akan
diterima pondasi. Pada perencanaan ini V= 950 ton, maka Qa Grup ≥
950 Ton. Qa grup tiang dihitung menggunakan rumus berikut :

= Qa tunggal x N (Jumlah Tiang) x Eg


= 167,473 x 8 x 0,744
= 996 ton ≥ 950 ton → OK

e. Konfigurasi grup tiang


Konfigurasi tiang yang digunakan memiliki jarak sebesar 180
cm antar tiangnya dan terdiri dari 2 baris. Setiap barisnya terdiri dari
4 tiang. Total tiang grup sebanyak 8 buah.

31
Gambar 3.2 Konfigurasi Grup Tiang

3.4.2 Perhitungan Daya Dukung Menggunakan Data SPT


Diasumsikan memakai diameter 30 cm, 40 cm dengan kedalaman
8000 cm berdasarkan data sondir. Untuk menghitung kapasitas gaya dukung
masing-masing tiang dibutuhkan dan pengeboran tanah pada lokasi
pekerjaan.
Diketahui :
Panjang Tiang : 20 m
Diameter Tiang : 40 cm
N : 49
Gaya vertical (V) : 950 T
Gaya Horizontal (H) : 300 T
Momen (M) : 450 Tm

Konfigurasi tiang grup sebagai berikut :


Jumlah Tiang :8
N-SPT1 :2 L= 5 m
N-SPT2 : 16 L= 3 m
N-SPT3 : 49 L= 9 m

32
1. Menghitung Daya Dukung Tiang Tunggal
Daya dukung ujung tiang (Qe)
Qe = [Link]
Dimana :
Qe = daya dukung ujung
Ab = Luas Penampang
Pb = diihat dari nilai table jenis tanah
Qe = [Link]
= (1/4 x µ x 0,402) (600 + 20*(49-15)
= 160,768 ton

Daya Dukung Friksi (Qs)


Qs1 = AS x 0,20 x N-SPT1

Dimana:
Qs = Daya dukung friksi
As = Luas Selimut (m2)
N = Nilai Spt Ujung

Tabel 3.10 analisis daya dukung dengan data N-Spt


Dia. L Qs1 Qs2 Qs3 Qs Tot Pb Qe Qu
Ab As SF Qa
m (m) (ton) (ton) (ton) (ton) (T/m2) (ton) (ton)
0,3 20 0,0707 18,84 7,536 60,288 184,63 252,46 1280 90,432 342,89 3 114,3
0,4 20 0,1256 25,12 10,048 80,384 246,18 336,61 1280 160,77 497,38 3 165,79

Contoh perhitungan
Lapisan 1 → Qs1 = As x 0,20 x Nspt1
= (µ x D x L)(0,20) NSpt1
= (µ x 0,40 x 20) (0,20) (2)
= 10,048 ton

Lapisan 2 → Qs2 = As x 0,20 x Nspt2


= (µ x D x L)(0,20) NSpt1
= (µ x 0,40 x 20) (0,20) (16)
= 80,384 ton

33
Lapisan 3 → Qs3 = As x 0,20 x Nspt3
= (µ x D x L)(0,20) NSpt1
= (µ x 0,40 x 20) (0,20) (49)
= 246,176 ton
Qs Total = Qs1 + Qs2 + Qs3
= 10,048 + 80,384 + 246,176
= 336,608 ton
Qu = Qe + QsTot = 160,768 + 336,608 = 497,376 ton
Qa = Qu/3 = 497,376/3 = 165,792 ton

2. Menghitung Daya Dukung Tiang Grup


a. Jumlah kebutuhan Tiang di diameter 40 cm
Untuk menghitung jumlah kenutuhan tiang dengan cara membagi
gaya vertical dengan daya dukung 1 tiang

N = V /Qa = 950/165,792 = 5,7 ≈ 8 buah

b. Jarak Tiang dalam Satu Grup


Perencanaan memakai bentuk pile cap segi panjang. Dengan
menggunakan jarak antar as tiang (s) sebesar 3D dan diameter tiang
yang digunakan 40 cm.
Tabel 3.11 Jumlah Tiang, s, n dan Jumlah Baris
Diameter Jumlah Tiang Jarak Antar Jumlah Baris Jumlah Tiang
(cm) (N) Tiang (s) (cm) (m) dalam Baris (n)
40,00 8 120 1 8
40,00 8 120 2 4
40,00 8 120 4 2
40,00 8 120 8 1

Digunakan diameter 40 cm, dengan jumlah baris 2 dan jumlah tiang


dalam tiap baris sebesar 4 buah. Total tiang 8 buah.
c. Efesiensi Grup Tiang
(𝑛−1 ) .𝑚+(𝑚−1).𝑛 𝐷
Eg = 1 − 𝑄 × … . 𝑄 = 𝑎𝑟𝑐 𝑡𝑔
90.𝑚.𝑛 𝑆

34
Dimana :
𝐷
Q = arc tg , dalam derajat
𝑆

M = Jumlah baris
n = Jumlah tiang dalam baris
s = jarak antar as tiang

0,40 (4−1 ) ×2+(2−1)× 4


Eg = 1 − 𝑎𝑟𝑐 𝑡𝑔 ×
1,2 90×4×2
= 0,744 (OK)

d. Daya Dukung Tiang Kelompok (Qa Grup)


Qa grup tiang harus sama atau lebih bsar dari gaya vertical (V) yang
akan diterima pondasi. Pada perencanaan ini V= 950 ton, maka Qa
Grup ≥ 950ton. Qa grup tiang dihitung menggunakan rumus berikut :
Qg = Qa tunggal x N (Jumlah Tiang) x Eg
= 165,792 x 8 x 0,744
= 986,740 ton ≥ 950 ton → OK

3.4.3 Perhitungan Penurunan Tanah (Settlement)


Settlement dapat terjadi jika pondasi tiang tidak mencapai tanah
keras. Pondasi yang direncanakan dalam laporan ini dipancang sampai
tanah keras, maka settlement tidak dihitung.

3.4.4 Perhitungan Distribusi Tiang Kelompok


Diketahui:
 Gaya Vertikal (V) = 950 T
 Diameter Tiang (D) = 0,4 m = 40 cm
 Jumlah Tiang (n) =8
 Gaya Momen (M) = 450 Tm

35
Perhitungan Distribusi Beban:
Tabel 3.12 Distibusi Beban Tiang Grup
No. Tiang X (m) Y (m) X2 Y2 V (T) Mx (T.m) My (T.m) Qu
1 -2,4 1,2 5,76 1,44 165,625
2 -1,2 1,2 1,44 1,44 165,625
3 1,2 1,2 1,44 1,44 165,625
4 2,4 1,2 5,76 1,44 165,625
950 450 0
5 -2,4 -1,2 5,76 1,44 71,875
6 -1,2 -1,2 1,44 1,44 71,875
7 1,2 -1,2 1,44 1,44 71,875
8 2,4 -1,2 5,76 1,44 71,875
Total 28,8 11,52 950
Contoh perhitungan pada Tiang No.1:
𝑉 𝑀𝑥 . 𝑌
𝑄𝑢 = +
𝑛 ∑ 𝑌2
950 450 . 1,2
𝑄𝑢 = +
8 11,52
= 165,625 𝑇
Kontrol:
Qu < QDesign
165,625 T < 166 T → OK!

3.4.5 Perhitungan Pergeseran Tumpuan Tiang (Displacement)


Diketahui:
 Diameter Tiang Pancang (D) = 0,40 m
 Panjang Tiang Pancang (L) = 20 m
 Modulus Elastisitas (E) = 2400000 T/m2
 Gaya Vertikal (V) = 950 T
 Gaya Horizontal (H) = 300 T
 Gaya Momen (M) = 450 T.m
 Jumlah Kolom (n) = 4 Buah
 Jumlah Baris (m) = 2 Buah

Tabel 3.13 Nilai SPT


N - SPT1 2 Kedalaman 0–5m
N - SPT2 16 Kedalaman 5–8m
N - SPT3 49 Kedalaman 8 – 17 m

36
Perhitungan:
1
𝐼= 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷4
64
1
𝐼= 𝑥 𝜋 𝑥 0,44 = 0,001256637 𝑚4
64
Menghitung Koefisien Daya Tangkap Reaksi Tumpuan
3
𝐾0 = 0,2 . 𝐸0 . 𝐷−4
Dengan nilai 𝐸0 = 28 𝑥 𝑁
𝐸0 = 28 𝑥 49
𝐸0 = 1372
3
𝐾0 = 0,2 . 1372 . 40−4
𝐾𝑔⁄
𝐾0 = 17,252 𝑐𝑚3
1
𝐾 = 𝐾0 . 𝑦 −2
1
𝐾 = 17,252 . 1−2
𝐾𝑔⁄
𝐾 = 17,252 𝑐𝑚3
𝐾 = 17251,987 𝑇𝑜𝑛⁄𝑚3

Menghitung Pegas Tiang Dalam Arah Orthogonal

4 𝐾 .𝐷 4 17251,987 . 0,4
𝛽=√ =√ = 0,870 𝑚−1
4𝐸𝐼 4 . 2400000 . 0,001256637

𝐾1 → 𝐾𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑝𝑎𝑙𝑎 𝑇𝑖𝑎𝑛𝑔 (ℎ = 0)


𝐾1 = 4. 𝐸. 𝐼. 𝛽3
𝐾1 = 4 . 2400000 . 0,001256637 . 0,8703 = 7933,952 𝑇𝑜𝑛⁄𝑚
𝐾2 = 𝐾3 = 2. 𝐸. 𝐼. 𝛽2
= 2 . 2400000 . 0,001256637 . 0,8702
= 4560,894 𝑇𝑜𝑛⁄𝑟𝑎𝑑
𝐾4 = 2. 𝐸. 𝐼. 𝛽
= 2 . 2400000 . 0,001256637 . 0,870
= 5243,731 𝑇. 𝑚⁄𝑟𝑎𝑑

37
𝐸𝑝
𝐾𝑣 = 𝑎. 𝐴𝑝 .
𝐿

Menghitung Konstanta Pegas Kv Arah Vertikal


𝐿
𝛼 = 0,04. ( − 0,27) → Untuk Tiang Pancang Beton Prategang
𝐷

2000
𝛼 = 0,04. ( − 0,27) = 1,989
40
1
𝐴𝑝 = . 𝜋. 𝐷2
4
1
𝐴𝑝 = . 𝜋. 0,42 = 0,126 𝑚2
4
2400000
𝐾𝑣 = 1,989 . 0,126 . = 29981,222 𝑇𝑜𝑛⁄𝑚
20
Tabel 3.14 Menghitung Titik Pusat Persamaan Tiga Dimensi
No. Tiang Pancang Xi (m) Axx Axy Axα Ayy Ayα Aαα
1 -2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -71954,9338 177935,6
2 -1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -35977,4669 48416,69
3 1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 35977,46688 48416,69
4 2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 71954,93376 177935,6
5 -2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -71954,9338 177935,6
6 -1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -35977,4669 48416,69
7 1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 35977,46688 48416,69
8 2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 71954,93376 177935,6
Total 63471,61 0 -36487,2 239849,8 0 905409,1

Contoh perhitungan pada tiang No. 1 yaitu:


Semua tiang tidak ada yang miring, maka 𝜃 = 0
sin 𝜃 sin 0 = 0
cos 𝜃 cos 0 = 1

𝐴𝑥𝑥 = (𝐾1 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾𝑣 . 𝑆𝑖𝑛2 𝜃𝑖 )


= (105766,238 . 𝑐𝑜𝑠 2 1 + 30073,68 . 𝑠𝑖𝑛2 1)
= 105766,238
𝐴𝑥𝑦 = 𝐴𝑦𝑥 = (𝐾𝑣 − 𝐾1 ). sin 𝜃𝑖 . cos 𝜃𝑖
= (30073,68 − 105766,238) . 0 . 1
=0

38
𝐴𝑥𝛼 = 𝐴𝛼𝑥 = (𝐾𝑣 − 𝐾1 ). sin 𝜃𝑖 . cos 𝜃𝑖 − (𝐾2 . cos 𝜃𝑖 )
= (30073,68 − 105766,238) . 0 . 1 − (25645,518 . 1)
= −25645,518
𝐴𝑦𝑦 = (𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑆𝑖𝑛2 𝜃𝑖 )
= (30073,68 . 𝑐𝑜𝑠 2 1 + 105766,238 . 𝑠𝑖𝑛2 1)
= 30073,68
𝐴𝑦𝛼 = 𝐴𝛼𝑦 = (𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 ) . 𝑋𝑖 + (𝐾2 . sin 𝜃𝑖 )
= (30073,68 . 12 + 105766,238 . 02 ) . (−2,4)
− (25645,518 . 0)
= −71954,9
𝐴𝛼𝛼 = (𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑆𝑖𝑛2 𝜃𝑖 ) . 𝑋𝑖 2 + (𝐾2 + 𝐾3 ) . 𝑋𝑖 . sin 𝜃𝑖 + 𝐾4
= (30073,68 . 𝑐𝑜𝑠 2 1 + 105766,238 . 𝑠𝑖𝑛2 1) . (−2,42 )
+ (4560,894 + 4560,894) . (−2,4) . 𝑠𝑖𝑛2 1
+ 5243,731
= 177935,6
Setelah itu menghitung perpindahan titik O arah mendatar δx, arah
vertical δy searah sumbu koordinat, dan rotasi α.
𝐴𝑥𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑥𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑥𝛼 . 𝛼 = 𝐻𝑜
𝐴𝑦𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑦𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑦𝛼 . 𝛼 = 𝑉𝑜
𝐴𝛼𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝛼𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝛼𝛼 . 𝛼 = 𝑀𝑜
Subtitusi hasil perhitungan dari tabel kedalam persamaan diatas.
63471,6128 . 𝛿𝑥 + 0. 𝛿𝑦 + (−36487,153). 𝛼 = 300
0. 𝛿𝑥 + 239849,8 . 𝛿𝑦 + 0. 𝛼 = 950
(−36487,153). 𝛿𝑥 + 0. 𝛿𝑦 + 905409,056 . 𝛼 = 450
Penyelesaian tiga persamaan diselesaikan dengan matriks :
63471,6128 0 −36487,153 𝛿𝑥 300
[ 0 239849,8 0 ] 𝑥 [𝛿𝑦 ] = [950]
−36487,153 0 905409,056 𝛼 450
𝛿𝑥 0,00513
[𝛿𝑦 ] = [0,00396]
𝛼 0,00070

39
Didapat perpindahan titik pusat sebesar :
𝛿𝑥 = 0,00513 𝑚
𝛿𝑦 = 0,00396 𝑚
𝛼 = 0,00070 𝑟𝑎𝑑
Tabel 3.15 Menghitung Pergeseran Tiap Kepala Tiang
No. Tiang Pancang δyi' Pni δxi' Phi Mti Vi Hi Mi
1 0,0023 68,109 0,0051 37,500 -19,712 68,109 37,500 -183,173
2 0,0031 93,429 0,0051 37,500 -19,712 93,429 37,500 -131,827
3 0,0048 144,071 0,0051 37,500 -19,712 144,071 37,500 153,173
4 0,0056 169,391 0,0051 37,500 -19,712 169,391 37,500 386,827
5 0,0023 68,109 0,0051 37,500 -19,712 68,109 37,500 -183,173
6 0,0031 93,429 0,0051 37,500 -19,712 93,429 37,500 -131,827
7 0,0048 144,071 0,0051 37,500 -19,712 144,071 37,500 153,173
8 0,0056 169,391 0,0051 37,500 -19,712 169,391 37,500 386,827
Total 950,000 300,000 450,000

Contoh perhitungan pada Tiang No.1:


𝛿𝑦𝑖 ′ = 𝛿𝑥 . sin 𝜃𝑖 + (𝛿𝑦 + 𝛼. 𝑋𝑖 ). cos 𝜃𝑖
= 0,00513 . sin 0 + (0,00396 + 0,00070 . (−2,4)). cos 0
= 0,0023

𝛿𝑥𝑖 = 𝛿𝑥 . cos 𝜃𝑖 − (𝛿𝑦 + 𝛼. 𝑋𝑖 ). sin 𝜃𝑖
= 0,00513 . cos 0 − (0,00396 + 0,00070 . (−2,4)). sin 0
= 0,0051
𝑃𝑁𝑖 = 𝐾𝑣 . 𝛿𝑦𝑖 ′
= 29981,222 . 0,0023
= 68,109
𝑃𝐻𝑖 = 𝐾1 . 𝛿𝑥𝑖 ′ − 𝐾2 . 𝛼
= 7933,952 . 0,0051 − 4560,894 . 0,00070
= 37,5
𝑀𝑡𝑖 = −𝐾3 . 𝛿𝑥𝑖 ′ + 𝐾4 . 𝛼
= −4560,894 . 0,0051 + 5243,731 . 0,00070
= −19,712
𝑉𝑖 = 𝑃𝑁𝑖 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖 − 𝑃𝐻𝑖 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖
= 68,109 . 1 − 37,5 . 0
= 68,109

40
𝐻𝑖 = 𝑃𝑁𝑖 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 + 𝑃𝐻𝑖 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖
= 68,109 . 0 + 37,5 . 1
= 37,5
𝑀𝑡𝑖 + 𝑉𝑖 . 𝑥𝑖 = −19,712 + 68,109 . ( −2,4) = −183,174

Untuk mengontrol kebenaran hitungan tersebut digunakan acuan berikut :

∑ 𝐻𝑖 = 𝐻𝑜

300 𝑇 = 300 𝑇 → 𝑂𝐾

∑ 𝑉𝑖 = 𝑉𝑜

950 𝑇 = 950 𝑇 → 𝑂𝐾

∑(𝑀𝑡𝑖 + 𝑉𝑖 . 𝑥𝑖 ) = 𝑀𝑜

450 𝑇. 𝑚 = 450 𝑇. 𝑚 → 𝑂𝐾

Perhitungan perpindahan yang terjadi di kepala tiang


𝛿 = (𝛼. 𝐻) + 𝛿𝑥
= (0,00070 . 0) + 0,00513
= 0,00513 𝑚 < 2,554 𝑐𝑚 (1 𝑖𝑛𝑐ℎ𝑖)
0,513 𝑐𝑚 < 2,554 𝑐𝑚 (1 𝑖𝑛𝑐ℎ) → 𝑝𝑜𝑛𝑑𝑎𝑠𝑖 𝑘𝑎𝑘𝑢, 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑎𝑚𝑎𝑛

41
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Jenis pondasi yang digunakan dalam mendesain abutment ini yaitu
pondasi dalam, dan menggunakan tiang pancang.
2. Data yang diperlukan dalam mendesain abutment pada jembatan adalah
menggunakan hasil data di lapangan berupa sondir dan N-SPT (bor
mesin). Pondasi diletakan di kedalaman 8 meter dimana jenis tanah
pada kedalaman tersebut adalah tanah keras.
3. Pondasi yang digunakan adalah diameter 0,4 dengan jumlah tiang 8
buah. Dari hasil data lapangan yang di dapatkan sebagai berikut :
a. Dari data sondir :
Daya dukung tiang tunggal (Qa tunggal) : 167,473 T
Daya dukung tiang kelompok (Qa grup) : 996 T
b. Dari data SPT :
Daya dukung tiang tunggal (Qa tunggal) : 165,792 T
Daya dukung tiang kelompok (Qa grup) : 986,740 T
c. Penurunan tanah sama dengan 0 cm karena dipancang di tanah
keras
d. Distribusi gaya tiang pondasi : 165,625 T
e. Pergeseran tumpuan tiang : 0,513 cm

4.2 Saran
Perhitungan perencanaan suatu pondasi harus dilakukan dengan
sangat hati-hati dan teliti seperti Seharusnya titik penyelidikan tanah
dipertimbangkan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan agar hasil berupa
pondasi yang didapat relevan dengan keadaan yang ada di lapangan. Jika
perhitungan dilakukan dengan hati-hati dan teliti maka pondasi dapat
menahan beban dengan kondisi yang baik.

42
DAFTAR PUSTAKA

Bowles, J.E. 1981. Analisa dan Desain Pondasi, jilid I. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Bowles, J.E. 1992. Engineering Properties of Soils and their Measurements,
McGrawHill Pub, USA.
Braja M. Das. 1993. Mekanika Tanah (Prinsip - Prinsip Rekayasa Geoteknis).
Erlangga, Jakarta.
Edi Barnas, Maryanto, Supriyanto. 2013. Penyelidikan Geoteknik Di Jembatan S.
Cimadur Bayah Banten. Universitas Borobudur, Jakarta.
Sanglerat. G., The Penetrometer and Soil Exploration, Elsevier Publishing
Company, Amterdam London New York, 1972.
Suyono Sosrodarsono dan Kazoto Nakazawa. 1984. Mekanika Tanah dan Teknik
Pondasi. Pradnya Paramita, Jakarta. Terzaghi, K., and Peck, R. B., 1967. Soil
Mechanics in Engineering Practice. A Wiley International Edition, 729 p.
Wesley, LD. 1977. Mekanika Tanah cetakan VI. Departemen Pekerjaan Umum,
Jakarta.

43
LAMPIRAN

Data Sondir

44
45
Data SPT (Bor Mesin)

46
47

Anda mungkin juga menyukai