Perencanaan Tiang Pancang Jembatan Cimadur
Perencanaan Tiang Pancang Jembatan Cimadur
OLEH :
KELOMPOK 1
Feisal Achdiansyah Budiman 171121041
Freya Fernanda 171121042
Lingga Muhamad Fantri 171121047
Mohamad Syah Febi Pragiska 171121049
Thalia Agustina Napitupulu 171121062
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan dengan judul
“PERENCANAAN PONDASI DALAM DENGAN JENIS BORED PILE PADA
ABUTMENT JEMBATAN”. Penulisan laporan ini dapat diselesaikan tidak lepas
dari bimbingan, arahan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang
terkait dalam penulisan laporan ini, yaitu kepada:
1. Agus Suyono, Ir., MT selaku Dosen Rekayasa Pondasi 2 yang telah
membimbing penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
2. Seluruh teman kelas 3B-Ksi yang telah turut membantu penulisan
laporan ini.
3. Pihak-pihak lain yang telah banyak membantu, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu persatu, atas segala kebaikan dan bantuannya selama ini.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca. Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dalam penulisan laporan
ke depan dapat lebih baik. Atas perhatian pembaca, penulis mengucapkan terima
kasih.
Penulis
i
DAFTAR ISI
ii
3.4.5 Perhitungan Pergeseran Tumpuan Tiang (Displacement) .................. 36
BAB IV PENUTUP ......................................................................................................... 42
4.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 42
4.2 Saran ................................................................................................................ 42
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 43
LAMPIRAN..................................................................................................................... 44
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini, yaitu :
1. Mengidentifikasi jenis tanah di lapangan
2. Menentukan jenis pondasi yang digunakan
3. Menghitung daya dukung satu tiang pondasi
4. Menentukan dimensi dan jumlah tiang dalam satu titik
5. Meghitung daya dukung kelompok tiang
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
Pondasi bangunan biasanya dibedakan atas dua jenis yaitu pondasi
dangkal (shallow foundation) dan pondasi dalam (deep foundation),
tergantung dari letak tanah kerasnya dan perbandingan kedalaman dengan
lebar pondasi. Pondasi dangkal kedalamannya kurang atau sama dengan
lebar pondasi (D ≤ B) dan dapat digunakan jika lapisan tanah kerasnya
terletak dekat dengan permukaan tanah. Sedangkan pondasi dalam
digunakan jika lapisan tanah keras berada jauh dari permukaan tanah.
Perbedaan lainnya dari kedua jenis pondasi tersebut yaitu pada sistem
pemanfaatan daya dukung tanahnya. Pondasi dalam memanfaatkan tahanan
gesek pada dinding pondasi dan tahanan vertikal tanah dibawah tanah
dibawah dasar pondasi, sedangkan pondasi dangkal hanya memanfaatkan
tahanan vertikal tanah dibawah pondasi sebagai daya dukungnya.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan pondasi yaitu
keadaan tanah pondasi, batasan-batasan akibat konstruksi di atasnya (upper
structure), keadaan daerah sekitar lokasi, waktu dan biaya pekerjaan.
Kemudian ada kriteria yang harus dipenuhi dalam perencanaan suatu
pondasi, diantaranya:
1. Pondasi harus ditempatkan dengan tepat, sehingga tidak longsor akibat
pengaruh luar.
2. Pondasi harus aman dari kelongsoran daya dukung.
3. Daya dukung pondasi harus lebih besar daripada beban yang bekerja
pada pondasi baik beban statik maupun beban dinamikanya.
4. Pondasi harus aman yaitu penurunan yang terjadi akibat pembebanan
tidak melebihi dari penurunan yang diijinkan.
4
mempengaruhi kapasitas daya dukung pondasi dangkal. Pondasi dangkal
biasanya digunakan ketika tanah permukaan yang cukup kuat dan kaku
untuk mendukung beban yang dikenakan dimana jenis struktur yang
didukungnya tidak terlalu berat dan juga tidak terlalu tinggi, pondasi
dangkal umumnya tidak cocok dalam tanah kompresif yang lemah atau
sangat buruk, seperti tanah urug dengan kepadatan yang buruk, pondasi
dangkal juga tidak cocok untuk jenis tanah gambut, lapisan tanah muda dan
jenis tanah deposito aluvial, dan lain lain. Dibawah ini merupakan jenis-
jenis pondasi dangkal :
1) Pondasi Tapak (Pad Foundation)
2) Pondasi Jalur atau Pondasi Memanjang (Strip Foundation)
3) Pondasi Tikar
4) Pondasi Rakit (Raft Foundation)
5) Pondasi Sumuran
6) Pondasi Umpak
7) Pondasi Plat Beton Lajur
5
Karena ujung tiang pancang lancip menyerupai paku, maka tiang
pancang tidak memerlukan proses pengeboran. Pondasi tiang pancang
dipergunakan pada tanah-tanah lembek, tanah berawa, dengan kondisi
daya dukung tanah (sigma tanah) kecil, kondisi air tanah tinggi dan tanah
keras pada posisi sangat dalam. Bahan untuk pondasi tiang pancang
adalah : bambu, kayu besi/kayu ulin, baja, dan beton bertulang.
Pondasi Tiang Pancang dibagi menjadi dua yaitu :
1. Tiang Pancang (Driven Pile)
Tiang pancang pracetak adalah tiang pancang yang dicetak
dan dicor didalam acuan beton (bekisting), kemudian setelah cukup
kuat lalu diangkat dan dipancangkan.
Keuntungan menggunakan tiang pancang:
Bahan tiang dapat diperiksa sebelum pemancangan;
Prosedur peaksanaan tidak dipengaruhi oleh air tanah;
Tiang dapat dipancang sampai kedalaman yang cukup dalam;
Pemancangan tiang dapt menambah kepadatan tanah granular.
Kerugian menggunakan tiang pancang:
Pengemangan permkaan tanah dan gangguan tanah akibat
pemancangan dapat menimbulkan masalah;
Tiang terkadang rusak akibat pemancangan;
Pemancangan sulit bila diameter tiang terlalu besar;
Pemancangan menimbulkan gangguan suara, getaran dan
deformasi tanah yang dapat menimbulkan kerusakan bangunan
disekitarnya;
Penulangan dipengaruhi oleh tegangan yang terjadi pada waktu
pengangkutan dan pemancangan tiang.
2. Tiang Pancang Cor di tempat (DrivenCast-in-Situ Pile)
Bisa dengan cara memancangkan pipa besi kedalam tanah
kemudian pipa baja tersebut dicor dengan beton maupun dengan cara
menggali tanah dulu secara manual atau masinal kemudian dicor.
6
2) Pondasi Bored Pile
Pondasi bored pile adalah bentuk pondasi dalam yang dibangun di dalam
permukaan tanah, pondasi di tempatkan sampai ke dalaman yang
dibutuhkan dengan cara membuat lubang dengan sistem pengeboran atau
pengerukan tanah. Setelah mencapai kedalaman yang direncanakan,
kemudian dimasukan casing yang terbuat dari plat besi, lalu ttulangan
yang telah dirakit dan kemudian dilakukan pengecoran terhadap lubang
yang sudah di bor. Sistem pengeboran dapat dilakukan secara manual
maupun sistem hidrolik. Besar diameter dan kedalaman galian juga
sistem penulangan beton bertulang didesain berdasarkan daya dukung
tanah dan beban yang akan dipikul. Fungsi pondasi ini ditujukan
untuk menahan beban struktur melawan gaya angkat dan juga
membantu struktur dalam melawan kekuatan gaya lateral dan gaya
guling.
7
Penulangan tidak dipengaruhi oleh tegangan karena tidak ada
pengangkutan dan pemancangan.
Kerugian menggunakan tiang pancang:
Pengeboran dapat mengakibatkan gangguan kepadatan, bila tanah
berupa pasir atau tanahyang berkerikil;
Pengecoran beton sulit bial dipengaruhi air tanah,karena mutu beton
tidak dapat dikontrol dengan baik;
Air yang mengalir ke dalam lubang bor dapat mengakibatkan
gangguan tanah, sehingga mengurangi kapasitas dkung tanah
terhadap tiang;
Pembesaran ujung bawah tiang tidak dapat dilakukan bila tanah
berupa pasir.
(a) (b)
Gambar 2.2 Pondasi Tiang Pancang (a) dan Pondasi Bored Pile (b)
8
2.3.1 Survey Lokasi
Survey lokasi bertujuan untuk mengetahui situasi lokasi lapangan
dimana nantinya terdapat pondasi yang direncanakan. Survey lokasi ini
dapat berupa pengukuran elevasi, penggambaran tampak memanjang dan
tampak melintang lokasi dan juga penentuan titik penyelidikan tanah.
2.3.2 Penyelidikan Tanah
Penyelidikan karakteristik tanah di lapangan dan pengujian di
laboratorium. Penyelidikan tanah di lapangan diantaranya Sondir, Uji
Boring, Standard Penetrasi Test (SPT) dan lain-lain. Dari sampel tanah
yang diambil di lapangan untuk mengetahui sifat-sifat dan karakteristik
tanah maka dilakukan beberapa pengujian tanah, yaitu :
1. Pengujian Tanah di Lapangan
a) Uji Sondir
Pengujian Tanah untuk mengetahui perlawanan penetrasi konus
(qc), perlawanan geser setempat (Lf), dan perlawanan geser total
(JHF). Sehingga dapat menentukan letak kedalaman tanah keras,
komposisi tanah per lapisan, serta daya dukung tanah.
b) Uji Boring
Pekerjaan ini mengambil contoh tanah untuk mengetahui lapisan
tanah dan untuk mengambil contoh tanah yang akan diuji di
laboratorim. Pekerjaan SPT sekaligus dikerjakan dengan alat ini.
c) Standard Penetrasi Test (SPT)
Penguian hand boring dan SPT didasarkan atas ASTM D-1586, hasil
dari pengujian ini adalah deskripsi susunan lapisan-lapisan tanah
serta nilai SPT yang dinyatakan dalam N pukulan. Nilai SPT
diperoleh yaitu pada tabung SPT ditekan atau dipukul sedalam 150
mm pada tanah tak terganggu sambil mencatat banyaknya pukulan
yang diperlukan. Pengujian ini dilakukan bersamaan dengan
pengambilan contoh tanah dan biasa dilakukan 1,5 – 2 meter
kedalaman atau tiap pergantian jenis tanah.
9
2. Pengujian Tanah di Laboratorium
Pengujian ini menggunakan sampel tanah yang diambil pada
contoh tanah yang tidak terganggu. Uji Laboratorium dilakukan untuk
mengetahui sifat dan karakteristik tanah, hasil dari uji laboratorium
akan dikorelasikan dengan hasil uji lapangan sehingga dapat di desain
dimensi pondasi yang aman dan efisien.
2.3.4 Perhitungan
Perhitungan pada perencanaan pondasi dapat dilakukan pada
beberapa aspek yaitu daya dukung tanah, penurunan (settlement), dan
pergeseran (displacement), sebagai berikut :
1. Perhitungan Daya Dukung Tiang Tunggal
Daya dukung tiang merupakan kemampuan tiang pondasi untuk
mendukung beban baik berupa beban pondasi sendiri dan beban yang
10
lain , yaitu berupa beban tetap, beban bergerak, dan beban gempa. Daya
dukung sebuah tiang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen skin
friction dan point bearing.
Rumus umum daya dukung tiang tunggal
𝑄𝑢
𝑄𝑢 = 𝑄𝑒 + 𝑄𝑠 𝑄𝑎 =
𝐹𝐾
Dimana :
Qu = Daya dukung ultimate
Qe = Daya dukung ujung tiang
Qs = Daya dukung friksi
FK = Faktor keamanan
(a) (b)
Gambar 2.3 Daya dukung ujung tiang (a) dan Daya dukung friksi (b)
a. Data tanah hasil pengujian di laboratorium
Daya dukung ujung
1
𝑄𝑒 = 𝐴𝑏 (𝑐. 𝑁𝑐 + 𝑞̅ . 𝑁𝑞 + . 𝛾. 𝐵. 𝑁𝛾 )
2
Dimana :
Ab = Luas dasar pondasi (penampang tiang)
c = Kohesi tanah
𝑞̅ = Tekanan tanah efektif = ∑ 𝛾𝑖 . ℎ𝑖
B = Diameter tiang
Nc, Nq, Nᵞ = Faktor Bearing capacity tergantung ϕ
11
Dimana :
As = Luas bidang kontak antara tanah dengan tiang = 𝜋. 𝐷. 𝐿
α1 = Faktor adhesi yang besarnya antara 0.35 – 0.40
= untuk tiang bor direduksi lagi sebesar 20 – 30%
c = Kohesi tanah
K = Koefisien tekanan tanah lateral = 1 – sin ϕ’
ϕ = Sudut geser dalam tanah
Tiang Bor, Sudut geser harus dikoreksi sebesar –3
(ϕ’= ϕ –3)
Tiang Pancang, Sudut geser harus dikoreksi sebesar
(ϕ’=ϕ+40)/2
′
𝛾 . 𝑧 = tegangan efektif tanah pada kedalaman yang ditinjau
𝛾 ′ = 𝛾𝑠𝑎𝑡 − 𝛾𝑤
z = Kedalaman titik tinjau
δ = Sudut gesekan efektif antara tiang dengan tanah
12
Daya Dukung Friksi
Meyerhof : Qs = 𝐴𝑠 . fs
𝑝
Tomlinson : Qs = . ∑𝑛𝑖=1 𝑞𝑐𝑖 . 𝐼𝑖
20
Keterangan :
Qe = Daya dukung ujung (ton)
Ab = Luas dasar pondasi (penampang tiang) (cm2)
qc = tahanan konus pada dasar pondasi (kg/cm2)
Ckd = qc rata-rata dari 1d dibawah dan 3d diatas elevasi
ujung tiang (kg/cm2)
Qs = Daya dukung friksi
As = Luas bidang kontak tanah dengan tiang (cm2)
fs = Tahanan gesek persatuan luas (untuk tiang beton
pada tanah pasir adalah fs=(qc/200)
p = keliling tiang (m)
qci = Nilai tahanan konus rerata setiap lapisan (kg/cm2)
li = panjang tiang perlapisan (m)
13
a. Jumlah Tiang
n =P/Qa
Dengan :
P = Beban yang berkerja
Qa = Kapasitas dukung ijin tiang tunggal
14
Daya dukung grup tiang secara keseluruhan sangat tergantung
dari jarak antar tiang (s). Secara praktis jarak antar tiang dalam grup
minimum adalah 2.5d (d=diameter tiang), tetapi secara umum jarak ini
dibuat antara 3-3.5 kali diameter tiang. Dengan demikian daya dukung
total grup tiang bisa dituliskan:
Qug = Qut × n × Eg
Dimana:
Qug = daya dukung grup tiang
Qut = daya dukung tiang tunggal
n = jumlah tiang dalam grup
Eg = efisiensi grup tiang (≤1)
Ada beberapa formula untuk menghitung efisiensi grup tiang,
menggunakan persamaan Labarre :
n(m−1)+m(n−1)
Eg = 1-Q
90mn
Dimana:
Q = arc tan (d/s) dalam derajat
D = diameter tiang
s = jarak antar as tiang
n = jumlah tiang dalam baris
m= jumlah baris
d. Perhitungan Displacemet
Pada pondasi tiang biasanya bekerja gaya vertikal, gaya
horizontal, dan momen putar. Gaya-gaya ini menyebabkan perpindahan
pada tumpuan baik arah horizontal, vertikal, maupun berputar.
𝐴𝑥𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑥𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑥𝛼 . 𝛼 = 𝐻𝑜
𝐴𝑦𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑦𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑦𝛼 . 𝛼 = 𝑉𝑜
𝐴𝛼𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝛼𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝛼𝛼 . 𝛼 = 𝑀𝑜
15
𝐴𝑥𝑥 = ∑(𝐾1 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾𝑣 . 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 )
Keterangan :
Ho = Beban lateral (ton)
Vo = Beban vertikal (ton)
Mo = Momen (ton.m)
δx = Perpindahan mendatar
δy = Perpindahan vertikal
α = Sudut rotasi tumpuan (radial)
θi = Sudut yang dibuat oleh tiang ke - i dengan sumbu vertikal,
dengan pemakaian tanda (+ / -)
hi = Tinggi kepala tiang dari tanah
Dimana :
β = nilai karakteristik tiang
4 𝑘. 𝐷
𝛽= √ (𝑚−1 )
4𝐸𝐼
λ = h + 1/β (m)
k = koefisien daya tangkap reaksi permukaan (ton/m3)
D = diameter tiang (m)
EI = kekakuan lentur tiang (ton.m2)
𝐸 = 4700 √𝑓′𝑐
16
1
I = Inersia Untuk tiang lingkaran : 𝐼 = . 𝜋. 𝐷4
64
h = panjang axial bagian atas dari perencanaan tanah
Dimana :
𝛿𝑦𝑖 = 𝛿𝑥 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 + (𝛿𝑦 + 𝛼. 𝑥𝑖 )𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖
𝛿𝑥𝑖 = 𝛿𝑥 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖 − (𝛿𝑦 + 𝛼. 𝑥𝑖 )𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖
17
Untuk mengontrol kebenaran hitungan tersebut digunakan acuan
berikut :
∑ 𝐻𝑖 = 𝐻𝑜
∑ 𝑉𝑖 = 𝑉𝑜
∑(𝑀𝑡𝑖 + 𝑉𝑖 . 𝑥𝑖 ) = 𝑀𝑜
Jika perpindahan < 1 inchi (2,54 cm) maka pondasi tiang dikatakan
kaku sehingga konstruksi aman.
e. Perhitungan Penurunan tanah
a. Penurunan Tiang Tunggal
Hubungan antara penurunan dan distribusi beban di sepanjang tiang
dapat dihitung dengan menggunakan metode transfer beban.
b. Penurunan Kelompok Tiang
Pada perhitungan pondasi tiang, kapasitas ijin ting sering lebih
didasarkan pada persyaratan penurunan. Penurunan tang
terutamabergantung pada nilai banding tahanan ujung dengan beban
tiang. Jika beban yang didukung per tiang lebih kecil atau sama
dengan tahanan tiang maka penurunan akan kecil.
Qe ≥ Q → settlement kecil
Qe < Q → settlement besar
18
Prosedur perhitungan menggunakan langkah-langkah berikut:
1) Misalkan panjang tiang yang tertanam adalah L. Kelompok tiang
menderita beban total Qg . Jika kepala tiang berada di bawah
permukaan tanah asli, Qg adalah sama dengan beban total dari
bangunan atas yang diterima tiang dikurangi dengan berat efektif
tanah di atas tiang kelompok yang dibuang oleh penggalian.
2) Asumsikanlah bahwa beban Qg akan disalurkan ke tanah mulai dari
kedalaman (2/3 L) dari puncak tiang, seperti ditunjukkan dalam
Gambar 2.14. Puncak tiang adalah pada kedalaman z = 0. Beban Qg
tersebar sepanjang garis 2 vertikal : 1 horizontal dari kedalaman ini.
Garis aa′ dan bb′ adalah garis 2:1.
Qg
∆Pi =
(Bw+z𝑖)(Lw+z𝑖)
Dimana:
∆Pi = peningkatan tegangan di tengah lapisan i
Bw = lebar tiang kelompok
Lw = panjang tiang kelompok
z = jarak dari z = 0 ke tengah lapisan i
19
dihitung dengan menggunakan persamaan penurunan konsolidasi
satu dimensi untuk lempung terkonsolidasi normal dan
terkonsolidasi lebih.
Untuk lempung terkonsolidasi normal:
Dimana:
∆Sci = penurunan konsolidasi pada lapisan i
Poi = tegangan efektif rata-rata pada lapisan i tanpa
pembebanan
Pci = tekanan prakonsolidasi (preconsolidated pressure)
ℯoi = angka pori awal pada lapisan i
Cci = indeks kompresi (compression index)
Csi = indeks pengembangan (swelling index)
Hi = ketebalan lapisan i (catatan: di dalam gambar 2.8, nilai Hi
untuk lapisan no. 2 adalah L1, untuk lapisan no.3, Hi=L2,
untuk lapisan no.4, Hi=L3 )
20
BAB III
PERENCANAAN PONDASI
21
kondisi topografi dan geologi setempat, demikian pula nilai tahan qonusnya.
Daya dukung tanah, ditunjukan oleh nilai qonus dari 0 s/d 250 kg/cm2, yaitu
semakin besar nilai qonus, maka semakin tinggi daya dukungnya.
Definisi Lapisan tanah keras, menurut pendapat Terzaghi, yaitu apabila
nilai tekanan qonus, menunjukkan Q > 50 kg/cm², menunjukan bahwa
lapisan tanah cukup keras, jika Q ≥ 150 kg/cm² menunjukkan tanah keras,
dan Q ≈ 250 kg/cm² menunjukkan tanah keras & padat. Hasil penyondiran
ditabelkan sebagai berikut :
Tabel 3.1 Hasil Penyondiran [Link] Bayah Banten
22
Berikut lampiran data pengujian sondir di titik S3 pada tabel 3.2 :
Tabel 3.2 Data Pengujian sondir
Keda Lf x 20
laman Cw Tw Kw qc Lf cm JHP Fr
(m) (kg/cm2) (kg/cm2) (Tw-Cw) (kg/cm2) (kg/cm2) (kg/cm) (kg/cm) (%)
0.00 0 0 0 0 0.000 0.000 0 0.000
0.20 10 14 4 10 0.373 7.466 7.466 3.733
0.40 13 17 4 13 0.373 7.466 14.933 2.872
0.60 15 19 4 15 0.373 7.466 22.399 2.489
0.80 15 20 5 15 0.467 9.333 31.732 3.111
1.00 8 13 5 8 0.467 9.333 41.064 5.833
1.20 5 9 4 5 0.373 7.466 48.531 7.466
1.40 5 10 5 5 0.467 9.333 57.864 9.333
1.60 15 20 5 15 0.467 9.333 67.196 3.111
1.80 17 21 4 17 0.373 7.466 74.663 2.196
2.00 15 19 4 15 0.373 7.466 82.129 2.489
2.20 15 19 4 15 0.373 7.466 89.595 2.489
2.40 13 17 4 13 0.373 7.466 97.061 2.872
2.60 11 15 4 11 0.373 7.466 104.528 3.394
2.80 11 15 4 11 0.373 7.466 111.994 3.394
3.00 14 18 4 14 0.373 7.466 119.460 2.667
3.20 16 20 4 16 0.373 7.466 126.926 2.333
3.40 15 19 4 15 0.373 7.466 134.393 2.489
3.60 18 23 5 18 0.467 9.333 143.726 2.592
3.80 17 20 3 17 0.280 5.600 149.325 1.647
4.00 25 29 4 25 0.373 7.466 156.792 1.493
4.20 25 30 5 25 0.467 9.333 166.124 1.867
4.40 33 38 5 33 0.467 9.333 175.457 1.414
4.60 45 50 5 45 0.467 9.333 184.790 1.037
4.80 47 52 5 47 0.467 9.333 194.123 0.993
5.00 33 38 5 33 0.467 9.333 203.456 1.414
5.20 35 40 5 35 0.467 9.333 212.789 1.333
5.40 45 49 4 45 0.373 7.466 220.255 0.830
5.60 50 55 5 50 0.467 9.333 229.588 0.933
5.80 63 68 5 63 0.467 9.333 238.920 0.741
6.00 57 62 5 57 0.467 9.333 248.253 0.819
6.20 65 70 5 65 0.467 9.333 257.586 0.718
6.40 65 70 5 65 0.467 9.333 266.919 0.718
6.60 68 73 5 68 0.467 9.333 276.252 0.686
6.80 76 82 6 76 0.560 11.199 287.451 0.737
7.00 93 98 5 93 0.467 9.333 296.784 0.502
7.20 100 119 19 100 1.773 35.465 332.249 1.773
7.40 125 139 14 125 1.307 26.132 358.381 1.045
7.60 176 182 6 176 0.560 11.199 369.580 0.318
7.80 180 187 7 180 0.653 13.066 382.646 0.363
8.00 200 210 10 200 0.933 18.666 401.312 0.467
23
Perhitungan data analisis sondir
Contoh Perhitungan pada kedalaman 8,00 meter
Data alat sondir:
D plunger = 3,58 cm
D konus = 3,58 cm
D selimut = 3,61 cm
L Selimut = 10 cm
22
Asel = 𝜋 × 𝐷𝑠 × 𝐿𝑠 = × 3,61 × 10 = 113,4571 cm2
7
1 1 22
Ac = × 𝜋 × 𝐷𝑐 2 = × × 3,582 = 10,07003 cm2
4 4 7
1 1 22
Apl = × 𝜋 × 𝐷𝑝𝑙 2 = × × 3,582 = 10,07003 cm2
4 4 7
𝐴𝑝𝑙
𝑞𝑐 = . 𝐶𝑤 (kg/cm²)
𝐴𝑐
Dimana :
qc = Gaya konus (kg/cm²)
Apl = Luas penampang plunger (cm²)
1
= . 𝜋. 𝐷𝑖𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑝𝑙𝑢𝑛𝑔𝑒𝑟
4
𝐶𝑤 = 200 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝑇𝑤 = 210 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝐾𝑤 = 𝑇𝑤 − 𝐶𝑤 = 210 − 200 = 10 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝐴𝑝𝑙 10,07003
𝑞𝑐 = . 𝐶𝑤 = × 200 = 200 𝑘𝑔/𝑐𝑚2
𝐴𝑐 10,07003
(𝑇𝑤 −𝐶𝑤 )
𝐿𝑓 = . 𝐴𝑝𝑙 (kg/cm²)
𝐴𝑠𝑒𝑙
Dimana :
Tw = Pembacaan manometer dua ( kg/cm² )
Cw = Pembacaan manometer pertama ( kg/cm² )
Asel = Luas selimut konus
Apl = Luas penampang plunger
24
(𝑇𝑤 −𝐶𝑤 )
𝐿𝑓 = . 𝐴𝑝𝑙
𝐴𝑠𝑒𝑙
10
𝐿𝑓 = × 10,07003 = 0,933 𝑘𝑔/ 𝑐𝑚2
113,4571
𝑛
25
Posisi titik bor berada di sepanjang rencana jembatan (± 100 m ),
BH 1 dan BH 3 berada di tepi sungai, sebagai abutment jembatan,masing-
masing kedalaman 30 m. BH2 berada ditengah lebar sungai, sejauh ± 50 m
dari tepi sungai, dengan kedalaman pemboran 30 m. Hasil Pemboran
menunjukan lapisan tanahnya mendekati homogen berupa pasir, kecuali di
BH3 terdapat lapisan Lempung lunak setebal ± 2 m, pada kedalaman 10 s/d
12 m.
Adapun deskripsi lapisan tersebut secara umum sebagai berikut :
1. Lapisan Lempung Lunak di BH3, pada kedalaman ± 10 -12 m. Maka
diasumsikan secara teknis bahwa di area proyek Lapisan Tanah Lunak
s/d Sedang ( Pasir ) dengan 5<Nspt<30 berada kedalaman ± 0 m s/d ±
12 m.
2. Lapisan Tanah keras (Pasir) s/d padat dengan 30 < NSPT < 50 berada
mulai kedalaman ±12 m s/d ± 21 m.
3. Lapisan Tanah Keras dan Padat dengan NSPT > 50,dari kedalaman ±
21 m s/d 30 m.
26
Berikut lampiran data pengujian SPT di titik BH1 pada tabel 3.4 :
Tabel 3.4 Hasil pengujian SPT
Depth Soil/Rock Depth Soil/Rock
SPT-N SPT-N
(meter) Description (meter) Description
0.5 17 50
1 17.5
1.5 18
2 1 18.5 50
2.5 Lepas/Lunak, Pasir 19
3 UDS-1 Lanauan,abu-abu 19.5
3.5 2 kecoklatan 20 50
4 20.5
4.5 21
5 3 21.5 50
5.5 22
6 22.5
6.5 16 23 50 Padat dan keras,
bentuk bongkah,
7 Sedang, Pasir 23.5
pasiran sedikit
7.5 kerikilan,abu-abu 24 lempung
8 16 24.5 50
8.5 25
9 25.5
9.5 45 26 50
10 26.5
10.5 27
11 50 27.5 50
11.5 28
12 28.5
Padat, Pasir
12.5 50 29 50
kerikilan,
13 kehitaman 29.5
13.5 30
14 50
14.5
15
15.5 50
16
16.5
27
3.2.3 Analisis data hasil laboratorium
Hasil pengujian ini, terdiri dari : Pengujian index dan engineering
properties terhadap 3 sampel, dari pemboran. Dari 3 sampel tanah, terdiri
dari 3 UDS (Undisturb Sample), diperoleh klasifikasi tanah menurut
“Unified Standard Classification System (USCS)”, adalah seperti tabel
berikut :
Tabel 3.5 Klasifikasi Jenis Tanah [Link] berdasar Uji Laboratorium
28
3.3 Pemilihan jenis pondasi
Pondasi harus memiliki daya dukung vertikal maupun horizontal.
Gaya Vertikal merupakan beban jembatan dan beban penggunanya,
sehingga diharapkan tidak terjadi penurunan struktur akibat penurunan
lapisan tanah. Gaya Horizontal berupa beban samping akibat angin atau
gempa, yang dapat menyebabkan kegagalan struktur jembatan.
3.4 Perhitungan
Dalam perhitungan perencanaan pondasi tiang ini penulis
merencanakan pembebanan yang akan terjadi sebagai berikut :
3.4.1 Perhitungan Daya Dukung Menggunakan Data Sondir
1. Menghitung Daya Dukung Tiang Tunggal
Menghitung Daya Dukung Tanah berdasarkan data analisis sondir,
yaitu nilai qc dan JHP. Diasumsikan menggunakan diameter 30 cm dan 40
cm dengan kedalaman 8 m. Dan nilai Qdesign sebesar 166 Ton. Contoh
perhitungan untuk diameter 30 cm :
29
Maka, hasil Qa untuk 1 tiang adalah :
Tabel 3.8 Nilai Qa untuk 1 tiang
d Ab O Qe Qs Qa
2
cm cm Cm Kg kg kg
30 706.86 94.25 80685.83 17607.6 98293.42
40 1256.64 125.66 147663.71 19810.1 167473.82
Berdasarkan tabel tersebut maka diameter yang diameter 40 cm,
karena Qdesign < Q ijin.
2. Menghitung Daya Dukung Tiang Grup
a. Perhitungan Jumlah Tiang
Untuk menghitung jumlah kebutuhan tiang dengan cara membagi
gaya vertikal dengan daya dukung 1 tiang.
𝑉 950
𝑛= = = 5,7 ≈ 8
𝑄𝑎 167,473
Digunakan tiang diameter 40 cm, dengan total jumlah 8 buah
tiang.
b. Jarak tiang dalam satu grup
Perencanaan memakai bentuk pile cap segi panjang. Dengan
menggunakan jarak antar as tiang (s) sebesar 3D dan diameter tiang
yang digunakan 40 cm.
30
c. Efisiensi tiang dalam satu grup
Agar meminimalisir risiko tidak meratanya pembagian daya
dukung grup tiang dengan daya dukung tiang tunggal yang
seharusnya, maka dibutuhkan efisiensi grup tiang.
Efisiensi grup tiang menurut Labarre, menggunakan rumus :
(n−1) ,m+(m−1) ,n
Eg =1−𝑄
90 ,m ,n
(4−1) ,2+(2−1) ,4
Eg = 1 − 18,345
90 ,2 ,4
Eg = 0,744 < 1 OK !
31
Gambar 3.2 Konfigurasi Grup Tiang
32
1. Menghitung Daya Dukung Tiang Tunggal
Daya dukung ujung tiang (Qe)
Qe = [Link]
Dimana :
Qe = daya dukung ujung
Ab = Luas Penampang
Pb = diihat dari nilai table jenis tanah
Qe = [Link]
= (1/4 x µ x 0,402) (600 + 20*(49-15)
= 160,768 ton
Dimana:
Qs = Daya dukung friksi
As = Luas Selimut (m2)
N = Nilai Spt Ujung
Contoh perhitungan
Lapisan 1 → Qs1 = As x 0,20 x Nspt1
= (µ x D x L)(0,20) NSpt1
= (µ x 0,40 x 20) (0,20) (2)
= 10,048 ton
33
Lapisan 3 → Qs3 = As x 0,20 x Nspt3
= (µ x D x L)(0,20) NSpt1
= (µ x 0,40 x 20) (0,20) (49)
= 246,176 ton
Qs Total = Qs1 + Qs2 + Qs3
= 10,048 + 80,384 + 246,176
= 336,608 ton
Qu = Qe + QsTot = 160,768 + 336,608 = 497,376 ton
Qa = Qu/3 = 497,376/3 = 165,792 ton
34
Dimana :
𝐷
Q = arc tg , dalam derajat
𝑆
M = Jumlah baris
n = Jumlah tiang dalam baris
s = jarak antar as tiang
35
Perhitungan Distribusi Beban:
Tabel 3.12 Distibusi Beban Tiang Grup
No. Tiang X (m) Y (m) X2 Y2 V (T) Mx (T.m) My (T.m) Qu
1 -2,4 1,2 5,76 1,44 165,625
2 -1,2 1,2 1,44 1,44 165,625
3 1,2 1,2 1,44 1,44 165,625
4 2,4 1,2 5,76 1,44 165,625
950 450 0
5 -2,4 -1,2 5,76 1,44 71,875
6 -1,2 -1,2 1,44 1,44 71,875
7 1,2 -1,2 1,44 1,44 71,875
8 2,4 -1,2 5,76 1,44 71,875
Total 28,8 11,52 950
Contoh perhitungan pada Tiang No.1:
𝑉 𝑀𝑥 . 𝑌
𝑄𝑢 = +
𝑛 ∑ 𝑌2
950 450 . 1,2
𝑄𝑢 = +
8 11,52
= 165,625 𝑇
Kontrol:
Qu < QDesign
165,625 T < 166 T → OK!
36
Perhitungan:
1
𝐼= 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷4
64
1
𝐼= 𝑥 𝜋 𝑥 0,44 = 0,001256637 𝑚4
64
Menghitung Koefisien Daya Tangkap Reaksi Tumpuan
3
𝐾0 = 0,2 . 𝐸0 . 𝐷−4
Dengan nilai 𝐸0 = 28 𝑥 𝑁
𝐸0 = 28 𝑥 49
𝐸0 = 1372
3
𝐾0 = 0,2 . 1372 . 40−4
𝐾𝑔⁄
𝐾0 = 17,252 𝑐𝑚3
1
𝐾 = 𝐾0 . 𝑦 −2
1
𝐾 = 17,252 . 1−2
𝐾𝑔⁄
𝐾 = 17,252 𝑐𝑚3
𝐾 = 17251,987 𝑇𝑜𝑛⁄𝑚3
4 𝐾 .𝐷 4 17251,987 . 0,4
𝛽=√ =√ = 0,870 𝑚−1
4𝐸𝐼 4 . 2400000 . 0,001256637
37
𝐸𝑝
𝐾𝑣 = 𝑎. 𝐴𝑝 .
𝐿
2000
𝛼 = 0,04. ( − 0,27) = 1,989
40
1
𝐴𝑝 = . 𝜋. 𝐷2
4
1
𝐴𝑝 = . 𝜋. 0,42 = 0,126 𝑚2
4
2400000
𝐾𝑣 = 1,989 . 0,126 . = 29981,222 𝑇𝑜𝑛⁄𝑚
20
Tabel 3.14 Menghitung Titik Pusat Persamaan Tiga Dimensi
No. Tiang Pancang Xi (m) Axx Axy Axα Ayy Ayα Aαα
1 -2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -71954,9338 177935,6
2 -1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -35977,4669 48416,69
3 1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 35977,46688 48416,69
4 2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 71954,93376 177935,6
5 -2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -71954,9338 177935,6
6 -1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 -35977,4669 48416,69
7 1,2 7933,952 0 -4560,89 29981,22 35977,46688 48416,69
8 2,4 7933,952 0 -4560,89 29981,22 71954,93376 177935,6
Total 63471,61 0 -36487,2 239849,8 0 905409,1
38
𝐴𝑥𝛼 = 𝐴𝛼𝑥 = (𝐾𝑣 − 𝐾1 ). sin 𝜃𝑖 . cos 𝜃𝑖 − (𝐾2 . cos 𝜃𝑖 )
= (30073,68 − 105766,238) . 0 . 1 − (25645,518 . 1)
= −25645,518
𝐴𝑦𝑦 = (𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑆𝑖𝑛2 𝜃𝑖 )
= (30073,68 . 𝑐𝑜𝑠 2 1 + 105766,238 . 𝑠𝑖𝑛2 1)
= 30073,68
𝐴𝑦𝛼 = 𝐴𝛼𝑦 = (𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑠𝑖𝑛2 𝜃𝑖 ) . 𝑋𝑖 + (𝐾2 . sin 𝜃𝑖 )
= (30073,68 . 12 + 105766,238 . 02 ) . (−2,4)
− (25645,518 . 0)
= −71954,9
𝐴𝛼𝛼 = (𝐾𝑣 . 𝑐𝑜𝑠 2 𝜃𝑖 + 𝐾1 . 𝑆𝑖𝑛2 𝜃𝑖 ) . 𝑋𝑖 2 + (𝐾2 + 𝐾3 ) . 𝑋𝑖 . sin 𝜃𝑖 + 𝐾4
= (30073,68 . 𝑐𝑜𝑠 2 1 + 105766,238 . 𝑠𝑖𝑛2 1) . (−2,42 )
+ (4560,894 + 4560,894) . (−2,4) . 𝑠𝑖𝑛2 1
+ 5243,731
= 177935,6
Setelah itu menghitung perpindahan titik O arah mendatar δx, arah
vertical δy searah sumbu koordinat, dan rotasi α.
𝐴𝑥𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑥𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑥𝛼 . 𝛼 = 𝐻𝑜
𝐴𝑦𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝑦𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝑦𝛼 . 𝛼 = 𝑉𝑜
𝐴𝛼𝑥 . 𝛿𝑥 + 𝐴𝛼𝑦 . 𝛿𝑦 + 𝐴𝛼𝛼 . 𝛼 = 𝑀𝑜
Subtitusi hasil perhitungan dari tabel kedalam persamaan diatas.
63471,6128 . 𝛿𝑥 + 0. 𝛿𝑦 + (−36487,153). 𝛼 = 300
0. 𝛿𝑥 + 239849,8 . 𝛿𝑦 + 0. 𝛼 = 950
(−36487,153). 𝛿𝑥 + 0. 𝛿𝑦 + 905409,056 . 𝛼 = 450
Penyelesaian tiga persamaan diselesaikan dengan matriks :
63471,6128 0 −36487,153 𝛿𝑥 300
[ 0 239849,8 0 ] 𝑥 [𝛿𝑦 ] = [950]
−36487,153 0 905409,056 𝛼 450
𝛿𝑥 0,00513
[𝛿𝑦 ] = [0,00396]
𝛼 0,00070
39
Didapat perpindahan titik pusat sebesar :
𝛿𝑥 = 0,00513 𝑚
𝛿𝑦 = 0,00396 𝑚
𝛼 = 0,00070 𝑟𝑎𝑑
Tabel 3.15 Menghitung Pergeseran Tiap Kepala Tiang
No. Tiang Pancang δyi' Pni δxi' Phi Mti Vi Hi Mi
1 0,0023 68,109 0,0051 37,500 -19,712 68,109 37,500 -183,173
2 0,0031 93,429 0,0051 37,500 -19,712 93,429 37,500 -131,827
3 0,0048 144,071 0,0051 37,500 -19,712 144,071 37,500 153,173
4 0,0056 169,391 0,0051 37,500 -19,712 169,391 37,500 386,827
5 0,0023 68,109 0,0051 37,500 -19,712 68,109 37,500 -183,173
6 0,0031 93,429 0,0051 37,500 -19,712 93,429 37,500 -131,827
7 0,0048 144,071 0,0051 37,500 -19,712 144,071 37,500 153,173
8 0,0056 169,391 0,0051 37,500 -19,712 169,391 37,500 386,827
Total 950,000 300,000 450,000
40
𝐻𝑖 = 𝑃𝑁𝑖 . 𝑠𝑖𝑛𝜃𝑖 + 𝑃𝐻𝑖 . 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑖
= 68,109 . 0 + 37,5 . 1
= 37,5
𝑀𝑡𝑖 + 𝑉𝑖 . 𝑥𝑖 = −19,712 + 68,109 . ( −2,4) = −183,174
∑ 𝐻𝑖 = 𝐻𝑜
300 𝑇 = 300 𝑇 → 𝑂𝐾
∑ 𝑉𝑖 = 𝑉𝑜
950 𝑇 = 950 𝑇 → 𝑂𝐾
∑(𝑀𝑡𝑖 + 𝑉𝑖 . 𝑥𝑖 ) = 𝑀𝑜
450 𝑇. 𝑚 = 450 𝑇. 𝑚 → 𝑂𝐾
41
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Jenis pondasi yang digunakan dalam mendesain abutment ini yaitu
pondasi dalam, dan menggunakan tiang pancang.
2. Data yang diperlukan dalam mendesain abutment pada jembatan adalah
menggunakan hasil data di lapangan berupa sondir dan N-SPT (bor
mesin). Pondasi diletakan di kedalaman 8 meter dimana jenis tanah
pada kedalaman tersebut adalah tanah keras.
3. Pondasi yang digunakan adalah diameter 0,4 dengan jumlah tiang 8
buah. Dari hasil data lapangan yang di dapatkan sebagai berikut :
a. Dari data sondir :
Daya dukung tiang tunggal (Qa tunggal) : 167,473 T
Daya dukung tiang kelompok (Qa grup) : 996 T
b. Dari data SPT :
Daya dukung tiang tunggal (Qa tunggal) : 165,792 T
Daya dukung tiang kelompok (Qa grup) : 986,740 T
c. Penurunan tanah sama dengan 0 cm karena dipancang di tanah
keras
d. Distribusi gaya tiang pondasi : 165,625 T
e. Pergeseran tumpuan tiang : 0,513 cm
4.2 Saran
Perhitungan perencanaan suatu pondasi harus dilakukan dengan
sangat hati-hati dan teliti seperti Seharusnya titik penyelidikan tanah
dipertimbangkan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan agar hasil berupa
pondasi yang didapat relevan dengan keadaan yang ada di lapangan. Jika
perhitungan dilakukan dengan hati-hati dan teliti maka pondasi dapat
menahan beban dengan kondisi yang baik.
42
DAFTAR PUSTAKA
Bowles, J.E. 1981. Analisa dan Desain Pondasi, jilid I. Penerbit Erlangga, Jakarta.
Bowles, J.E. 1992. Engineering Properties of Soils and their Measurements,
McGrawHill Pub, USA.
Braja M. Das. 1993. Mekanika Tanah (Prinsip - Prinsip Rekayasa Geoteknis).
Erlangga, Jakarta.
Edi Barnas, Maryanto, Supriyanto. 2013. Penyelidikan Geoteknik Di Jembatan S.
Cimadur Bayah Banten. Universitas Borobudur, Jakarta.
Sanglerat. G., The Penetrometer and Soil Exploration, Elsevier Publishing
Company, Amterdam London New York, 1972.
Suyono Sosrodarsono dan Kazoto Nakazawa. 1984. Mekanika Tanah dan Teknik
Pondasi. Pradnya Paramita, Jakarta. Terzaghi, K., and Peck, R. B., 1967. Soil
Mechanics in Engineering Practice. A Wiley International Edition, 729 p.
Wesley, LD. 1977. Mekanika Tanah cetakan VI. Departemen Pekerjaan Umum,
Jakarta.
43
LAMPIRAN
Data Sondir
44
45
Data SPT (Bor Mesin)
46
47