PEMBUATAN SILASE
A. PENDAHULUAN
Kondisi hijauan pakan ternak di Indonesia tidak kontinyu sepanjang tahun,
sehingga pada musim penghujan jumlah hijauan yang tersedia berlebih dan
mengalami kesulitan pada musim kemarau. Agar dapat menyediakan pakan sepanjang
tahun maka perlu melakukan pengawetan hijauan pada saat supply berlebih dengan
cara mengawetkan hijauan menjadi silase dan hay. Selain pengawetan hijauan
penyediakan pakan ternak dapat pula dengan cara memanfaatkan limbah pertanian
dengan cara fermentasi atau amoniasi.
B. TUJUAN
Memanfaatkan kelebihan hijauan dengan membuat silase.
C. BAHAN DAN ALAT
Bahan yang digunakan :
1) Rumput gajah yang masih segar 5 kg
2) 5 % tepung halus
Alat yang digunakan :
1) parang
2) plastic
3) timbangan
4) tempat penyimpan silase
5) penyedot udara
D. CARA MEMBUAT
1) Silase:
hijauan dipotong-potong sepamjang ± 5cm kemudian dicampur dengan tepung
halus kemudian dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan dan ditekan – tekan
hingga tidak ada ruang /kantong –kantong udara . Bahan silase diperam selama 1
minggu . Hari ke 4 dikontrol apakah silase yang dibuat sudah memenuhi kriteria
silase yang baik atau tidak. Jika setelah 1 minggu memberi hasil yang optimal,
silase dikeluarkan dan diangin anginkan . Kriteria silase yang baik mengacu pada
hasil-hasil penelitian (dalam diktat manajemen pakan) Jumlah bahan pengawet
yang ditambah sesuai dengan penelitian Eduard (1987)
Ciri-ciri silase yang baik:
Beberapa parameter yang menentukan kualitas silase yang baik, diantaranya:
1. Rasa dan bau asam
2. Warna masih hijau bukan coklat
3. Tekstur hijauan masih jelas seperti aslinya
4. Tak berjamur , tak berlendir, dan pula tak bergumpal.
5. Secara laboratorium banyak mengandung asam laktat,kadar N
(ammonia) rendah kurang dari 10 % tidak mengandung asam
butirat.
6. Ph rendah , 3,5-4
Sedangkan menurut Brimen dan Ulvesili yang dikutip oleh Mc. Ilroy (1977)
memberikan nilai-nilai sebagai berikut, untuk silase rumput berkualitas baik :
Ph 4,2
asam laktat 1,5 – 2,5 %
asam asetat 0,5 – 0,8 %
asam butirat < 0,1 %
N ammonia < 5- 8 % N total
Kriteria kualitas silase secara lebih terinci disajikan dalam table berikut :
Tabel 1. Kriteria kualitas Silase
Kriteria kualitas Ciri-ciri pH Kandungan N
silase amonia
Baik sekali warna hijau tua, bersih 3,3- 4,2 10% total N
rasa,bau asam
tidak ada jamur dan lender
tidak ada asam butirat
Baik Hijau, kecoklatan, bersih 4,2- 4,5 10% dari total N
rasa, bau asam
ada sedikit jamur dan lendir
ada sedikit asam butirat
Sedang Hijau kecoklatan 4,5- 4,8 15- 20 %
rasa dan bau kurang asam dari total N
jamur dan berlendir lebih
banyak
agak banyak asam butirat
Buruk tidak ada warna hijau,kotor >4,8 >20 %
bau busuk dari total N
jamur dan lender banyak
asam butirat banyak
E. PENGAMATAN HASIL PRAKTIKUM
Pengamatan dilakukan 2 kali : pada hari ke 4 dan ke 7. Hasl pengamatan
ditabulasikan sebagai berikut :
HASIL WARNA BAU TEKSTUR DAUN
Pengawetan Hijau agak bau asam dan agak ada sedikit jamur
rumput gajah kehitaman tengik dan lender
dengan pengawet
tepung halus
F. PEMBAHASAN
Setelah satu minggu penyimpanan dilakukan pengamatan kembali untuk mengetahui
hasil proses fermentasi. Hasil pengamatannya adalah warna menjadi hijau
kekuningan,aroma menjadi asam, tekstur ada sedikit jamur dan lender. Kriteria silase
yang baik adalah Rasa dan bau asam ,Warna masih hijau bukan coklat ,Tekstur
hijauan masih jelas seperti aslinya ,Tak berjamur , tak berlendir, dan pula tak
[Link] laboratorium banyak mengandung asam laktat,kadar N (ammonia)
rendah kurang dari 10 % tidak mengandung asam butirat. Ph rendah , 3,5-4 . Maka
dapat diketahui bahwa pembuatan silase dengan menggunakan bahan aditif tepung
gaplek tidak berhasil.
G. KESIMPULAN
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa silase dari bahan rumput gajah dan
pengawet tepung halus
member hasil: warna hijau agak kehitaman ,tekstur daun ada sedikit jamur dan lender
,sehingga dapat disimpulkan bahwa silase tersebut kurang baik