100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan3 halaman

Dampak Risiko Pasar pada Perbankan Indonesia

Rupiah terus melemah mendekati Rp15.000 per dolar AS yang berpotensi memberikan dampak risiko pada sektor keuangan khususnya perbankan. BI dan pemerintah bergerak cepat dengan meningkatkan suku bunga acuan, intervensi di pasar valuta asing, serta menstabilkan nilai tukar melalui kebijakan fiskal dan moneter.

Diunggah oleh

Yoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan3 halaman

Dampak Risiko Pasar pada Perbankan Indonesia

Rupiah terus melemah mendekati Rp15.000 per dolar AS yang berpotensi memberikan dampak risiko pada sektor keuangan khususnya perbankan. BI dan pemerintah bergerak cepat dengan meningkatkan suku bunga acuan, intervensi di pasar valuta asing, serta menstabilkan nilai tukar melalui kebijakan fiskal dan moneter.

Diunggah oleh

Yoga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CONTOH KASUS RISIKO PASAR

Saat Dolar Rp15.000, Apakah Perbankan akan Terpukul?

Penulis: Dea Chadiza Syafina

04 September 2018

[Link] - Ramalan Xavier Jean, Senior Director Corporate Ratings S&P Global Ratings yang
memperkirakan dolar bisa menembus level psikologis Rp15.000, berpeluang bisa menjadi
kenyataan. Laju pelemahan rupiah seakan tidak terbendung, di Jakarta Interbank Spot Dollar
Rate atau JISDOR, rupiah berada di Rp14.767 per dolar AS pada Senin (3/9), terdepresiasi 0,38
persen dibanding posisi akhir pekan Jumat (31/8) yaitu Rp14.711 per dolar AS. Bahkan pada
Selasa (4/9) dolar sudah menyentuh Rp14.840.

Harga jual dolar AS di beberapa bank nasional pun sudah lebih tinggi dan menyentuh
Rp14.900 per dolar AS. Misalnya saja kurs jual yang dipasang Bank Rakyat Indonesia (BRI)
pada Senin (3/9) yang menyentuh Rp14.950 per dolar AS dan Rp14.750 per dolar AS untuk kurs
beli.

Dolar yang mendekati Rp15.000 membuat Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi
sebagai langkah menjaga stabilisasi nilai tukar, antara lain memborong Surat Berharga Negara
(SBN) dari pasar sekunder senilai Rp3 triliun. “Kami tingkatkan volume intervensi di pasar
valas, lalu melakukan pembelian SBN di pasar sekunder serta membuka lelang swap," ucap
Perry Warjiyo, Gubernur BI beberapa waktu lalu.

Sumber: [Link]
perbankan-akan-terpukul-
PEMBAHASAN

Penyebab:
1. Pelemahan rupiah, menurut sejumlah ekonom dan pemerintah didorong dari sejumlah
faktor baik eksternal dan internal. Pertama, ada kekhawatiran krisis keuangan yang terjadi
di Argentina dan Turki menular ke negara berkembang yang alami defisit transaksi berjalan
yang melebar. Salah satunya Indonesia.
2. Kedua, sentimen kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat atau the
Federal Reserve (the Fed). Ketiga, risiko perang dagang antara Amerika Serikat dan China
serta negara lainnya.
3. Sedangkan dari internal, Indonesia hadapi masalah defisit perdagangan dan defisit
transaksi berjalan atau current account defisit (CAD). Tercatat defisit transaksi berjalan
sudah mencapai tiga persen dari produk domestik bruto (PDB).
4. Menko Bidang Perekonomian mengatakan, "Kelemahan kita transaksi berjalan, ekspor kita
memang tidak tumbuh secepat impor kita, impor kita meningkat lebih cepat dari ekspor, 90
persen bahan baku dan modal. 10 persen barang konsumsi."
5. Dan ekonomi Indonesia juga alami kelemahan lain yaitu devisa hasil ekspor yang tidak
kembali ke Indonesia.
Dampak:
1. Kondisi rupiah yang terus melemah punya potensi risiko langsung maupun tak langsung
terutama di sektor keuangan khususnya perbankan. Efek secara langsung, bisa datang dari
kewajiban utang denominasi valuta asing yang dimiliki oleh bank.
2. Sementara secara tidak langsung, efeknya datang dari debitur atau nasabah bank yang
memiliki usaha berorientasi impor.
3. Saat kurs melemah, arus kas debitur atau nasabah dengan usaha orientasi impor akan
memiliki beban usaha yang lebih besar. Ambil contoh sebuah perusahaan memiliki utang
senilai $1 juta. Jika kurs rupiah Rp13.800 per dolar AS, maka utang perusahaan tersebut
setara Rp13,8 miliar. Nah, sedangkan jika nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp14.800
per dolar AS, maka utang perusahaan tersebut membengkak menjadi Rp14,8 miliar.
4. “Selisih besaran itulah yang menyebabkan kewajiban utang perusahaan menjadi lebih
besar dan berpotensi menjadi kredit macet atau non-performing loan (NPL) di industri
perbankan," jelas Piter Abdullah, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE)
kepada Tirto.
5. Risiko nasabah dan risiko bank yang terekspos pelemahan nilai tukar dapat mengakibatkan
kualitas aset bank menjadi buruk. Makanya, perbankan memilih untuk berhati-hati dalam
penyaluran kredit utamanya denominasi mata uang asing di tengah kondisi fluktuasi nilai
tukar saat ini.
BI dan pemerintah bergerak cepat menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS:
1. Dari BI mengeluarkan sejumlah kebijakan. Salah satunya menyesuaikan suku bunga acuan
atau BI 7-day reverse repo rate.
2. BI meningkatkan volume intervensi di pasar valuta asing (valas), membeli surat berharga
negara di pasar sekunder, membuka lelang FX swap, dan membuka windows swap
hedging. BI juga senantiasa meningkatkan koordinasi dengan pemerintah termasuk
Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
3. OJK mengintensifkan pengawasan di sektor jasa keuangan sebagai bagian monitoring
secara reguler baik secara on site maupun off site supervisory terhadap seluruh kegiatan
industri jasa keuangan, termasuk terkait transaksi valas. Terutama pengawasan yang ketat
dan intensif untuk memastikan transaksi valas dilakukan berdasarkan kebutuhan.
Langkah Pemerintah:
1. Langkah yang diambil pemerintah dari sektor energi dengan memperluas penerapan
biodiesel 20 persen (B20) mulai 1 September 2018. Jadi, penerapan pencampuran 20
persen biodiesel dengan solar (B20) berlaku untuk solar subsidi dan nonsubsidi.
2. Hal itu diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66 Tahun 2018 yang atur
pemberian insentif pada minyak kelapa sawit yang dicampur seluruh jenis solar.
Pemerintah berharap perluasan penerapan B20 dapat menekan impor. Diharapkan
penerapan B20 itu dapat hemat USD 5,5 miliar.
3. Pemerintah juga memberikan kemudahan perizinan untuk menarik investasi ke Indonesia.
Salah satunya dengan meluncurkan sistem perizinan online terpadu (OSS). Pemerintaj juga
memberikan kemudahan dalam hal perpajakan.
4. Pemerintah juga mengkaji ulang proyek-proyek infrastruktur yang memiliki bahan impor
yang tinggi.

Anda mungkin juga menyukai