PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA BARAT
DINAS KESEHATAN
RUMAH SAKIT JIWA
Jl. Kolonel Masturi - Cisarua Telp. ( 022 ) 2700260 Fax. (022) 2700304 Kab. Bandung Barat
Kode Pos 40551, Email : rsjprovjabar@[Link], Website : [Link]
LAPORAN
SURVEILANS HAIs TRIWULAN 2 (PERIODE BULAN MARET – JUNI)
TAHUN 2018
DI RS JIWA PROVINSI JAWA BARAT
A. PENDAHULUAN
Infeksi Rumah Sakit (IRS) atau dalam arti yang lebih luas disebut
sebagai Hospital Associated Infection (HAIs), merupakan jenis infeksi yang
berhubungan erat dengan proses perawatan pasien. Jadi target yang diselidiki
dalam hal ini terutama adalah pasien-pasien yang sedang mengalami
perawatan. Dengan demikian semakin lama perawatan, risiko terjadinya IRS
juga akan semakin meningkat. Begitu juga semakin banyak tindakan perawatan
yang bersifat invasif akan meningkatkan terjadinya IRS.
Surveilans merupakan salah satu program dari PPI di Rumah Sakit
Jiwa Provinsi Jawa barat. Pengertian Surveilans HAIs adalah suatu proses
pengumpulan data kesehatan yang penting secara terus menerus sistematis,
analisis dan interpretasi dan didesiminasikan kepada pihak – pihak yang
berkepentingan secara berkala untuk digunakan dalam perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi suatu tindakan pelayanan kesehatan
Oleh karenanya Surveilans merupakan aktifitas yang sangat penting
dan luas yang harus dilakukan fasilitas pelayanan kesehatan, tanpa kecuali
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat. Surveilans dilakukan oleh IPCN yang
dibantu oleh IPCLN yang berada di masing – masing ruangan secara aktif dan
terus menerus. Hasil dari Surveilans dapat digunakan sebagai indikator
keberhasilan program PPI.
Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, lingkup surveilans HAIs
adalah di ruang perawatan Jiwa Intensif dan Ruang Rawat Tenang. Dengan
sasaran kejadian Flebitis pada pasien yang terpasang Infus, ISK pada pasien
yang terpasang Cateter Urine, Eksoriasi pada pasien yang terpasang Fiksasi,
Diare dan Scabies.
B. TUJUAN
Tujuan dari Surveilans adalah memperoleh data dasar Kewaspadaan
dini KLB, Menilai standar mutu pelayanan, sebagai sarana mengidentifikasi
malpraktek, menilai keberhasilan program PPI Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 1
Barat dan meyakinkan para klinisi serta sebagai suatu tolok ukur akreditasi
Rumah Sakit.
C. PELAKSANA SURVEILANS
Sebagai pelaksana dalam pelaksanaan Surveilans di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Jawa Barat adalah IPCN dan dibantu oleh IPCLN dari tiap – tiap
ruangan.
D. WAKTU
1. Pengumpulan Data
Dilakukan setiap hari dengan mendatangi/mengobservasi secara langsung
pasien yang sedang di rawat dan dilakukan tindakan/pemasangan Infus,
Kateter, Fixasi, yang mengalami Diare dan atau mengalami Scabies.
2. Pelaporan
a. Laporan bulanan : Rekap dari tiap ruangan dan dilaporkan ke Komite
Mutu dalam bentuk Sasaran Mutu
b. Laporan tri wulan : Rekapan laporan selama 3 bulan dan dilakukan
analisa.
c. Laporan Semesteran/6 bulan : Laporan lengkap hasil Surveilans selama
6 bulan, dan sebagai bahan Diseminasi PPI
E. PROSES PELAKSANAAN SURVEILANS
1. Pengumpulan Data
a. Monitoring pelaksanaan Bundle pada pemasangan Infus, Kateter
dan Fixasi
b. Mengobservasi setiap hari adanya tanda – tanda terjadinya infeksi
Flebitis, ISK dan Eksoriasi
c. Monitoring pencegahan penularan Scabies.
d. Monitoring pencegahan terjadinya Diare
2. Pencatatan
a. Jika terdapat pasien yang dilakukan pemasangan Infus, Kateter,
Fixasi dan atau mengalami Diare atau Scabies, maka dicatat pada
Form Surveilans HAIs yang ada di status/RM pasien tersebut
b. IPCLN mencatat di Form Laporan Surveilans HAIs RS
3. Pelaporan
a. Jika ada kejadian infeksi yang perlu segera ditindaklanjuti maka
IPCLN segera melaporkan kejadian kepada IPCN sesuai alur
pelaporan
b. Sebagai laporan bulanan IPCLN memberikan Rekap laporan
Surveilans HAIs beserta Form Surveilans HAIs kepada IPCN
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 2
c. Setiap bulan IPCN merekap semua laporan dari IPCLN dan
membuat laporan ke RS Jiwa Provinsi Jawa Barat melalui Komite
mutu dengan menggunakan lembar Sasaran Mutu (Sarmut) PPI RS
Jiwa Provinsi Jawa barat
F. HASIL SURVEILANS HAIs
Angka kejadian Infeksi/HAIs periode bulan Maret – Juni 2018 adalah:
ANGKA KEJADIAN HAIs
PERIODE BULAN MARET - JUNI TAHUN 2018
DI RSJ PROV JABAR
5
4.5
4
PER 1000 KEJADIAN
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
APRIL MEI JUNI
EKSORIASI 2.6 1.3 0.9
DIARE 4.1 4.49 0.56
SCABIES 0.95 0.56 0
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa:
1. Flebitis dan Infeksi Saluran Kemih dari bulan Maret sampai dengan Juni
2018 tidak terjadi.
2. Eksoriasi terjadi pada bulan setiap bulan dan kejadian paling tinggi adalah
di bulan April yaitu 2,6 0/00 Dan terjadi penurunan pada bulan berikutnya,
1,3 0/00 sampai dengan bulan Juni 2018 menjadi 0,9 0/00
3. Diare: terjadi pada setiap bulan, dan terjadi pengingkatan pada bulan Mei,
dengan angka 4,49 0/00 . Dan menurun lagi pada bulan Juni dengan angka
kejadian 0,59 0/00
4. Scabies : terjadi pada bulan April dan Mei dengan angka tertinggi 0,95 0/00
pada bulan April 2018.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa angka kejadian HAIs di
RS Jiwa Provinsi Jawa Barat masih terjadi pada setiap bulannya. Jika dilihat
dari angka kejadian maka Eksoriasi dan Diare tidak mencapai target. Hal ini
dikarenakan dalam target angka HAIs kurang dari 10/00, sedangkan angka
kejadian Eksoriasi dan Diare lebih dari 1 0/00.
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 3
G. ANALISA DATA
1. Eksoriasi
Berdasarkan data di atas angka kejadian Eksoriasi terjadi pada
bulan setiap bulan. Eksoriasi sebagian besar terjadi di RJI, hal ini
kemungkinan dikarenakan:
o Emosi pasien yang masih labil, gelisah, pasien sedang mengalami
halusinasi fase 3 atau 4, sehingga selalu berusaha untuk melepas tali
fixasi dengan menarik dan memutar tangan sehingga pasien
berkeringat, tangan basah dan tergesek – gesek tali fixasi
o Pasien mengalami gaduh gelisah dan dilakukan fixasi sering dan
dalam waktu yang lama.
o Pasien dengan gangguan jiwa masih kurang peduli terhadap
kebersihan diri (ADL) sehingga jika terdapat luka akan mudah
terinfeksi.
2. Diare:
Diare terjadi pada setiap bulan dan hampir pada semua ruangan
dengan jumlah pasien yang bervariasi. Dilihat dari data di atas angka
kejadian Diare trus terjadi pengingkatan hampir di setiap bulan, kejadian
tertinggi pada bulan Mei dengan angka 4,49 0/00 .
Diare dapat terjadi pada pasien dengan Gangguan Jiwa yang
sedang di rawat di RSJ Provinsi Jawa Barat, hal ini kemungkinan dapat
disebabkan karena:
a. Personal Hygiene yang mungkin kurang akibat adanya gangguan
proses pikir pasien.
b. Udara yang lembab dan dingin membuat pasien malas melakukan
kebersihan diri (ADL)
c. Pengelolaan alat makan dan minum yang digunakan belum sesuai
standar.
d. Adanya bakteri pada hasil pemeriksaan Baku Mutu Air yang di ambil
di beberapa titik di RSJ Provinsi Jawa Barat (hasil pemeriksaan
terlampir)
3. Scabies
Kejadian Scabies terjadi hampir pada setiap bulan, namun dilihat
dari angka kejadian masih mencapai target yaitu ≤ 1 0/00 . Kejadian
Scabies sebenarnya bukan muncul saat pasien dirawat namun semua
pasien yang mengalami scabies tersebut adalah bawaan saat pasien
masuk RSJ sudah sedang mengalami Scabies.
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 4
STUDY :
EKSORIASI
PENDEKATAN
SISTEM ANALISIS REKOMENDASI
1.
Struktur 1. Seluruih pasien yang dilakukan
fiksasi tidak mengalami
eksoriasi 1. Audit dan
2. SPO Fiksasi sudah ada monitoring
3. Form monitoring pasien yang ditingkatkan
terpasang fiksasi sudah ada 2. Kolaborasi untuk
4. Tempat tidur khusus untuk pemberian terapi
pasien yang difiksasi sudah ada 3. Kaji indikasi
5. Terapi medic untuk pasien fiksasi fisik
gaduh gelisah sudah ada ditingkatkan
PROSES o Emosi pasien yang masih labil, 1. Kolaborasi dengan
gelisah, pasien sedang DPJP untuk
mengalami halusinasi fase 3 atau pemberian terapi
4, sehingga selalu berusaha atau fiksasi
untuk melepas tali fixasi dengan farmakologi
menarik dan memutar tangan 2. Tingkatkan
sehingga pasien berkeringat, disposisi pasien
tangan basah dan tergesek – setiap 3 jam
gesek tali fixasi 3. Kaji nindikasi fiksasi
o Pasien mengalami gaduh gelisah setiap 2 jam
dan dilakukan fixasi sering dan
dalam waktu yang lama.
o Pasien dengan gangguan jiwa
masih kurang peduli terhadap
kebersihan diri (ADL) sehingga
jika terdapat luka akan mudah
terinfeksi
o Disposisi tiap 3 jam belum bisa
dilakukan secara rutin karena
kondisi pasien yang gaduh
gelisah
OUTCOME 1. Eksoriasi terjadi pada bulan 1. Audit dan
setiap bulan dan kejadian monitoring
paling tinggi adalah di bulan ditingkatkan
April yaitu 2,6 0/00 Dan terjadi 2. Kolaborasi untuk
penurunan pada bulan pemberian terapi
berikutnya, 1,3 0/00 sampai 3. Kaji indikasi fiksasi
dengan bulan Juni 2018 fisik ditingkatkan
menjadi 0,9 0/00
4. Tingkatkan
disposisi pasien
setiap 3 jam
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 5
DIARE
PENDEKATAN
SISTEM ANALISIS REKOMENDASI
2.
Struktur 1. Seluruh pasien yang dirawat tidak
mengalami diare
2. SPO perawatan pasien dengan 1. Audit kepatuhan
diare belum ada PPI dan monitoring
3. Form monitoring pasien yang ditingkatkan
diare sudah ada 2. Kolaborasi untuk
4. Pemeriksaan baku mutu air pemberian terapi
sudah dilakukan 3. Tingkatkan audit
5. Pedoman pengelolaan makanan dan monitoring
sudah ada pengelolaan
6. Terapi untuk pasien Diare sudah makanan
ada
PROSES a. Personal Hygiene yang mungkin 1. Lakukan
kurang akibat adanya gangguan pemeriksaan baku
proses pikir pasien. mutu air secar rutin
b. Udara yang lembab dan dingin 2. Lakukan tindak
membuat pasien malas lanjut sesuai hasil
melakukan kebersihan diri (ADL) lab
c. Pengelolaan alat makan dan
minum yang digunakan belum
sesuai standar.
d. Adanya bakteri pada hasil
pemeriksaan Baku Mutu Air yang
di ambil di beberapa titik di RSJ
Provinsi Jawa Barat (hasil
pemeriksaan terlampir)
OUTCOME Diare terjadi pada setiap bulan, dan 1. Lakukan
terjadi pengingkatan pada bulan pemeriksaan baku
Mei, dengan angka 4,49 0/00 . Dan mutu air secar rutin
menurun lagi pada bulan Juni 2. Lakukan tindak
dengan angka kejadian 0,59 0/00 lanjut sesuai hasil
lab
3. Audit kepatuhan
PPI dan monitoring
ditingkatkan
4. Kolaborasi untuk
pemberian terapi
5. Tingkatkan audit
dan monitoring
pengelolaan
makanan
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 6
SCABIES
PENDEKATAN
SISTEM ANALISIS REKOMENDASI
Struktur 1. Seluruh pasien yang dirawat 1. Susun SPO
tidak mengalami Scabies perawatan pasien
2. SPO perawatan pasien dengan Scabies
dengan Scabies belum ada 2. Usulkan
3. Form monitoring pasien pemeriksaan kultur
Scabies sudah ada 3. Usulkan ruang
4. Pemeriksaan kultur belum perawatan untuk
ada pasien dengan
5. Ruang perawatan untuk penyakit menular
pasien menular belum ada
6. Terapi untuk kasus Scabies
sudah ada
PROSES 1. Kejadian Scabies sebenarnya 1. Usulkan ada ruang
bukan muncul saat pasien perawatan pasien
dirawat namun semua pasien dengan penyakit
yang mengalami scabies menular
tersebut adalah bawaan saat
pasien masuk RSJ sudah
sedang mengalami Scabies.
2. Pasien Scabies dirawat di ruang
isolasi jiwa
3. Pasien gangguan jiwa
mengalami gangguan proses
piker, sehingga pasien sulit
untuk diberi pengertian tidak
menggunakan alat mandi secara
bergantian dan tidak tidur di
tempat tidur pasien lain
OUTCOME Scabies : terjadi pada bulan April 1. Susun SPO
dan Mei dengan angka tertinggi perawatan pasien
0,95 0/00 pada bulan April 2018. dengan Scabies
2. Usulkan
pemeriksaan kultur
3. Usulkan ruang
perawatan untuk
pasien dengan
penyakit menular
H. KESIMPULAN
Sesuai dengan hasil Surveilans dapat disimpulkan bahwa angka
kejadian infeksi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa barat pada periode bulan
Maret – Juni 2018 masih terjadi. Hal ini terlihat adanya data kejadian HAIs
tidak mencapai target. Sesuai dengan analisa di atas maka hal yang perlu
ditindaklanjuti adalah menurunkan angka kejadian Eksoriasi dan Diare.
Kasus Scabies yang terjadi adalah bukan muncul saat pasien dirawat,
namun bawaan saat pasien masuk RSJ. Namun demikian PPI tetap wajib
dilakukan untuk mencegah penularan terhadap pasien lain maupun petugas
dan pengunjung.
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 7
I. REKOMENDASI/SARAN
Sebagai tindak lanjut untuk menurunkan angka kejadian infeksi/HAIs di
RSJ Provinsi Jawa barat, maka kami mengajukan rekomendasi sebagai
berikut:
1. Untuk Anggota Komite PPI
a. Melakukan Refres tentang PPI
b. Menyusun SPO perawatan pasien dengan Diare dan Scabies
c. Melakukan monitoring pelaksanaan Program PPI
d. Melakukan Audit kepatuhan Kebersihan Tangan dan Penggunaan
APD serta pengelolaan Limbah.
e. Monitoring pelaksanaan Bundles ISK, Flebitis, Eksoriasi, Diare dan
penularan Scabies
f. Mengajukan anggaran sesuai kebutuhan PPI
g. Melakukan koordinasi dengan K3 RS, PMKP, MDGs dan Instalasi
terkait lainnya
h. Meningkatkan monitoring di Instalasi Gizi dan Ruang Perawatan.
2. Untuk Petugas RSJ:
a. Selalu melakukan 5 moment kebersihan tangan
b. Menggunakan APD sesuai tindakan
c. Melakukan Bundles sesuai tindakan
d. Melakukan manajemen limbah dengan benar
e. Melakukan penkes ppi ke pasien, keluarga dan pengunjung
f. Melakukan pengelolaan limbah dan linen sesuai prinsip PPI
g. Melakukan pengelolaan sanitasi Gizi sesuai prinsip PPI
3. Untuk Managemen RSJ:
a. Pemenuhan kebutuhan sapras Cuci Tangan dan APD di setiap
unit/ruangan
b. Menetapkan IPCN Purnawaktu sebanyak 2 orang
c. Melibatkan Komite PPI/IPCN dalam Renovasi dan pembangunan
untuk pelaksanaan ICRA
d. Memberikan anggaran yang cukup untuk pelatihan PPI Dasar dan
Lanjutan, IPCN Lanjutan, IPCD dan TOT untuk memenuhi
persyaratan Akreditasi SNARS
e. Memberikan sarana dan anggaran untuk sosialisasi PPI ke semua
petugas setiap tahun
f. Melakukan pemeriksaan kesehatan karyawan /MCU bagi petugas
berisiko rutin setiap tahun
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 8
g. Melibatkan PPI dalam program orientasi pegawai baru dan
mahasiswa, untuk memenuhi persyaratan akreditasi
h. Memenuhi sapras untuk pelaksanaan audit PPI
i. Mengadakan ruang isolasi pasien dengan penyakit menular
J. PENUTUP
Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi merupakan
tanggung jawab semua petugas di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat,
sehingga PPI harus dilakukan oleh semua petugas Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Jawa Barat.
Demikian laporan ini disampaikan untuk menjadi dasar perencanaan
dan pelaksanaan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi Jawa Barat dan untuk mengukur serta meningkatkan mutu pelayanan
Rumah Sakit.
Atas kerjasama dan dukungan dari semua pihak, kami ucapkan
terimakasih, karena tanpa kerjasama dan kepedulian semua petugas di Rumah
Sakit Jiwa Provinsi Jawa barat makan Penceagahan dan Pengendalian Infeksi
tidak akan berjalan dengan baik.
Cisarua, 10 Juli 2018
Ketua
IPCN
KOMITE PPI RSJ RS Jiwa Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Barat
dr Raharti Aditiasrini Joenoes Eny Budiasih, [Link].,Ners
NIP: 197904062015032001 NIP: 19641101 199803 2 001
Komite PPI RSJ Provinsi Jawa Barat 9