PENGGUNAAN ALAT SINGLE USE – RE USE
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 1
UPTD RSD
KABUPATEN SUBANG
Ditetapkan Oleh,
Tanggal : Direktur UPTD Rumah Sakit Daerah
STANDAR PROSEDUR KABUPATEN SUBANG
OPERASIONAL 15 Nopember 2019
(SPO)
drg. H. AGUS SOPYAN SpBM
NIP. 19700704 200003 1 006
Alat Single Use adalah peralatan medis yang digunakan sekali
pakai.
Alat Re Use adalah alat medis yang dapat digunakan kembali
Penggunaan alat single use – re use adalah alat medis single use
PENGERTIAN
yang akan digunakan kembali karena pertimbangan pengadaan alat
sulit di dapat atau harga peralatan yang mahal melalui proses
pengelolaan perlatan sesuai kebijakan dengan kriteria alat dalam
kondisi baik, tidak rusak, dan dapat digunakan kembali.
Mengatur penggunaan alat single use yang akan digunakan kembali
TUJUAN
dengan tetap memperhatikan keamanan pasien
Pelaksanaan penggunaan alat single use re use di UPTD RSD
kabupaten subang dilaksanakan berdasarkan surat keputusan
KEBIJAKAN tentang
1. Daftar Alat Medis Single Use – Re Use :
No Nama Alat Ruang Penggunaan
1 2 3 4
1 Dilator ICU 4 (Empat) Kali Re-use
Percutaneous
Dilatation
Tracheostomy (
PROSEDUR PDT) Set Tracoe
2. Daftar Alat Medis Single Use yang tidak direkomendasikan
untuk re Use adalah : Blood line, AV Fistula, Needle, Set
Infus, IV Line, Aspiration Biopsy Bronchoscopy, CVP Set dan
Catheter Double Lumen (CDL) Akses HD, Scalpel, Spinal
needle, dengan pertimbangan bahwa alat tersebut mudah
didapatkan, harga masih terjangkau, dan alat tersebut akan
Berubah fungsi atau rusak jika digunakan ulang
3. Prosedur sterilisasi alat single use – re use :
a. Alat single use yang akan digunakan kembali harus dinilai
PROSEDUR
oleh user (operator), apakah masih memenuhi syarat, tidak
berubah bentuk, tidak berubah warna, tidak cacat, dan dapat
digunakan kembali.
1. Dilator Percutaneous Dilatation Tracheostomy (PDT)
set Tracoe Dilakukan proses pre cleaning dan sterilisasi
suhu rendah di TSSU.
b. Setiap alat single use – re use yang akan digunakan
dipastikan terlebih dahulu bahwa alat tersebut aman untuk
pasien dengan kriteria sebagai berikut :
1. Dilator Percutaneous Dilatation Tracheostomy (PDT)
Bentuk masih utuh, dan tidak tumpul
c. Lakukan penandaan alat single use – re use yang akan
digunakan ulang sebagai berikut :
1. Bagi personil yang akan memakai alat single use – re
use, label, kemasan sebelumnya jangan dibuang untuk
bukti seterusnya
2. Informasikan ke petugas TSSU/CSSD, bahwa alat yang
telah dipakai sudah re use 1 (satu) kali atau 2 (dua) kali
dan seterusnya.
3. Siapkan alat dalam keadaan sudah bersih (sudah pre-
cleaning)
4. Alat di cek ke efektifannya (yakin bisa dipakai kembali
atau tidak ada yang rusak)
5. Packing alat tersebut dengan pouches
d. Petugas TSSU/CSSD melakukan penandaan alat re use
menggunakan dua stiker dengan tulisan warna merah, satu
ditempelkan pada ujung kertas pouches (bukan pada
plastiknya) dan satunya lagi ditempelkan pada time out
pasien di rekam medik, yang berisikan nama alat, nama
pasien, nam petugas yang mensortir alat (user), tanggal
sterilisasi, tanggal kadaluarsa, penggunaan re use 1 (satu)
kali, 2 (dua) kali atau 3 (tiga) kali, nama dan tanda tangan
petugas yang mensterilkan
e. Setelah selesai penandaan kemudian alat tersebut disterilkan
di TSSU/CSSD
f. Alat single use – re use harus disimpan dalam tempat
tersendiri
g. Alat re use langsung dibuang ke tempat sampah infeksius
setelah dipakai oleh user apabila dalm stiker tertera check
list waktu terakhir pemakaian (1 kali, 2 kali, 3 kali) yang
sudah mencapai batas maksimal tidak boleh digunakan
kembali dan dilakukan pencatatan dan pelaporan kepada
petugas TSSU/CSSD (Formulir terlampir)
h. Ruang TSSU, melaporkan ke komite PPI tentang
penggunaan alat single use – re use dengan menggunakan
formulir pelaporan (Formulir terlampir)
i. Komite PPI akan memonitor tanda-tanda infeksi (peingkatan
suhu tubuh lebih dari 38 c) sampai 2 x 24 jam.
IGD
IBS
UNIT TERKAIT
RAWAT INAP
FARMASI
PERAWATAN TRAKEOSTOMI DAN KANUL
TRAKEOSTOMI DENGAN TEKNIK PERCUNTANEOUS
DILATIONAL TRACHEOSTOMY (PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 2
UPTD RSD
KABUPATEN SUBANG
Ditetapkan Oleh,
Tanggal : Direktur UPTD Rumah Sakit Daerah
STANDAR PROSEDUR KABUPATEN SUBANG
OPERASIONAL 15 Nopember 2019
(SPO)
drg. H. AGUS SOPYAN SpBM
NIP. 19700704 200003 1 006
Tindakan merawat trakeostomi dan kanul trakeostomi yang
PENGERTIAN
dilakukan dengan teknik dilatational perkutan
TUJUAN Menurunkan angka mortalitas dan morbiditas
Pasien sakit kritis yang dirawat di ICU dengan indikasi dilakukan
trakeostomi dilakukan dengan teknik
percutaneousdilatationaltracheopstomy (PDT), paska tindakan
KEBIJAKAN
dilakukan perwatan trcheostomi dan kanul trakeostomi sesuai
prosedur dan kebijakan direktur UPTD RSD subang
1. Set luka sederhana : klem tumpil bengkok, gunting, pinset
tumpul, duk bolong steril
2. Nierbeken ( bengkok )
3. Bethadine cair 10 %
PERALATAN 4. Sarung tangan steril
5. Kassa steril
6. Nacl 0,9%
7. Alat penghisap lendir (suction)
8. Kanul trakeostomi cadangan sesuai nomor
Persiapan alat
1. Lakukan identifikasi lisan untuk menentukan pasien baru
dengan menanyakan nama dan no. Rekam medis,
identifikasi visual dengan melihat gelang pasien untuk
pasien rawat inap
2. Pasien dan keluarga diberikan penjelasan mengenai tujuan
PROSEDUR
tindakan yang akan dilakukan
3. Edukasi berkelanjutan sampai rencana home care dan tujuan
umum pemasangan kanul trakeostomi serta hubungannya
dengan pencegahaninfeksi nosokomial
4. Memeriksa ulang kapan tindakan PDT dilakukan dan sudah
dilakukan perawatan kanul berapa kali.
PERAWATAN PERCUNTANEOUS DILATIONAL
TRACHEOSTOMY (PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 3
UPTD RSD KABUPATEN
SUBANG
1. Perawatan di ICU
a. Perawatan kanul umum pasien denga ventilasi mekanis paska tindakan
PDT
1. Setelah dilakukan bronkial toilet dan oral hygiene sebersih mungkin,
pasien diposisikan datar selama 6 jam paska tindakan PDT, setelahnya
head up 30-45º sesuai klinis pasien
2. Humidifikasi dengan nebulizer nacl 0.9 % + combivent per 4 jam
atau sesuai intruksi atau dilembabkan dengan alat khusus.
3. Cuci kanul dalam setiap 8 jam, di cuci per 6 jam atau 4 jam atau 2
jam jika disetiap waktu pencuciannya sangat kotor san produksi
slemnya banyak. Jika per 2 jam dicuci masih sangat kotor dibantu
dengan suctioning
4. Suctioning seefektif mungkin sampai bersih, kanul suction masuk
kurang lebih 8-10 cm saja. Suctioning dilakukan hanya seperlunya
saja, jika pembersihan kanul dalam kurang efektif untuk mengurangi
produksi slem. Jika sangat kental slemnya diberikan nacl 0.9% 10 ml
( sebelumnya pasien didatarkan) biarkan nafas dengan ventilator 3
kali kemudian segera disuction sesuai prosedur
5. Balon kanul dikembangkan selama menggunakan ventilator dengan
menggunakan tekanan positif. Balon kanul dikempiskan sekali tiap
PROSEDUR pagi untuk memberikan aerasi/oksigensasi dan membersihkan jalan
nafas diarah atas balon kanul, selama tindakan pasien didatarkan.
Diberi tekanan PEEP lebih tinggi (misal 10 sd 12) dan disuction
didaerah mulut. Tekan balon dijaga tidak melebihi 20 cmh2o :
diperiksa tekanannya setiap pagi setelah tindakan pengempisan balon
6. Luka trakeostomi dirawat bersih dan kering sekali sehari atau jika
basah atau kotor semalin sering. Kasa steril dipasang saat awal 24
jam pertama untuk menekan dan mengatasi perdarahan di sekitar luka.
Jika tidak ada perdarahan tidk perlu dipasang kasa. Jika perdarahan
banyak bisa dilakukan penjahitan di sekitar luka trakeostomi
7. Tali pengikat kanul diganti setiap 7 hari atau jika basah dan kotor
jahitan kanul dicopot setelah 7 hari.
8. Oral hygiene dilakukan setiap ari sekali sebersih mungkin
9. Edukasi keluarga dan pasien (jika sadar penuh) menganai
perawatan kanul serta perawatan umumnya. Libatkan keluarga atau
personil yang direncanakan mengelola pasien dirumah sesuai klinis
pasein sampai rencana home care jika ada kemungkinan akan
menggunkan kanul trkeostomi da;am jangaka lama. Rencana kontrol
dan evaluasi kanul untuk rekanulasi atau dekanulasi sesuai klinis
pasien dan indikasi pemasangan kanul trakeostomi sebulan sekali
bersamaan dengan waktu kontrol untuk penyakit utamanya.
PERAWATAN PERCUNTANEOUS DILATIONAL TRACHEOSTOMY
(PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 4
UPTD RSD KABUPATEN
SUBANG
b. Teknis perawatan khusus (selain perawatan umum kanul trakeostomy) pasien
dengan ventilasi mekanik > PS 6 atau SIMV PS
1. Pasien dengan support ventilasi mekanis > PS 6 tau dengan tekanan PEEP
> 5, atau mode ventilasi mekanis assisted/ pressure/ volume controlled
2. Ngt disambung. Fiksasi kanul dilepaskan
3. Setting ventilator dinaikkan :misal PS naik dari 10 menjadi 15 , tidal
volume dari 400 jadi 500, PEEP dari 5 menjadi 10 atau 12, laju nafas dari
12 jadi 15 -20, fio2 naik jadi 100%, dengan tujuan untuk mengatasi
kebocoran saat kempes balon, penggantian, pelepasan kanul dalam dan
mencegah turunnya cairan aspirat dari atas balon kanul trakeostomi
4. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik di daerah yang akan dilakukan
tindakan. Operator menggunakan sarung tangan steril
5. Luka dibersihkan dengan kasa steril dan bethadin
6. Kanul dalam dilepas dan dibersihkan seusai desinfektan atau nacl steril
7. Balon kanul trkeostomi dikempeskan, suctioning seefektif mungkin dari
mulut sampia bersih. (dilanjutkan kemudian dengan oral hygiene),
kemudain suction dari kanul dalam sperlunya tidak terlalu dalam sekitar
8-10 cm saja. Jika sudah bersih kanul dalam dimasukkan atau dipasag
kembali sampai terkunci, balon dikembangkan (tridak kencang, hanya
sampai suara nafas hilang ± 3-4 cc) dan kurang lebih tekannya maksimal
PROSEDUR
20 cmh2o
8. Kanul difiksasi dengan tali fiksasi
9. Setting ventilasi mekanis dititrasi turun perlahan sesuai klinis sampai
mode ventilator awal, atau cocok untuk kinis pasien
[Link] tanpa ventilasi mekanik :
Dilakukan perawatan kanul trakeostomi dan lukanya secara umum
Dilakukan test patensi jalan nafas atau latihan nafas dan batuk
Pasien bernafas mengambil nafas ( saat inspirasi), lubang kanul ditutup
saat akhir inspirasi, psien mengeluarkan nafas ekspirasi masih dengan
lubang kanul ditutup dengan jari tangan sarung tangan, sehingga aliran
nafas keluar melalui mulut / hidung. Diulang beberapa kali. Sampai
dinilai kekuatan nafas, kekuatan reflek batuk, dan kemampuan reflek
menelennya. Latihan nafas juga bisa difasilitasi menggunakan speaking
valve : saat inspirasi katup turun sehingga udara bisa masuk, dan saat
ekspirasi udara menekan katup ke atas dan menutup sehingga udara naik
ke arah orofaring melalui pita suara. Dilakukan selama 30 menit sekali
sehari dan bisa diulang beberapa kali sesuai kemampuan dan klinis
pasien.
PERAWATAN PERCUNTANEOUS DILATIONAL TRACHEOSTOMY
(PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 5
UPTD RSD KABUPATEN
SUBANG
2. Perawatan di ruang biasa
a. Perawatan kanul umum pasien denga ventilasi mekanis paska tindakan PDT
1. Humidifikasi dengan nebulizer nacl 0.9 % + combivent per 4 jam atau
sesuai intruksi atau dilembabkan dengan alat khusus.
2. Cuci kanul dalam setiap 8 jam, di cuci per 6 jam atau 4 jam atau 2 jam
jika disetiap waktu pencuciannya sangat kotor san produksi slemnya
banyak. Jika per 2 jam dicuci masih sangat kotor dibantu dengan
suctioning
3. Suctioning seefektif mungkin sampai bersih, kanul suction masuk kurang
lebih 8-10 cm saja. Suctioning dilakukan hanya seperlunya saja, jika
pembersihan kanul dalam kurang efektif untuk mengurangi produksi slem.
Jika sangat kental slemnya diberikan nacl 0.9% 10 ml ( sebelumnya pasien
didatarkan) kemudian segera disuction
4. Balon kanul dikempiskan terus menerus
5. Luka trakeostomi dirawat bersih dan kering sekali sehari atau jika basah
atau kotor semakin sering menggunakan tissue basah steril. Tidak perlu
dipasang kasa, jika perdarahan banyak dan aktif hubungi dan
konsultasikan ke dokter ICU jika perlu segera dikirimkan bersama pasien.
6. Tali pengikat kanul diganti setiap 7 hari atau jika basah dan kotor
PROSEDUR 7. Oral hygiene dilakukan setiap ari sekali sebersih mungkin. Dilakukan test
patensi jalan nafas atau latihan nafas dan batuk
Pasien bernafas mengambil nafas ( saat inspirasi), lubang kanul ditutup
saat akhir inspirasi, psien mengeluarkan nafas ekspirasi masih dengan
lubang kanul ditutup dengan jari tangan sarung tangan, sehingga aliran
nafas keluar melalui mulut / hidung. Diulang beberapa kali. Sampai dinilai
kekuatan nafas, kekuatan reflek batuk, dan kemampuan reflek
menelennya. Latihan nafas juga bisa difasilitasi menggunakan speaking
valve : saat inspirasi katup turun sehingga udara bisa masuk, dan saat
ekspirasi udara menekan katup ke atas dan menutup sehingga udara naik
ke arah orofaring melalui pita suara. Dilakukan selama 30 menit sekali
sehari dan bisa diulang beberapa kali sesuai kemampuan dan klinis
pasien.
8. Edukasi keluarga dan pasien (jika sadar penuh) mengenai perawatan
kanul serta perawatan umumnya. Libatkan keluarga atau personil yang
direncanakan mengelola pasien dirumah sesuai klinis pasein sampai
rencana home care jika ada kemungkinan akan menggunkan kanul
trkeostomi dalam jangka lama. Mint akeluarga membuat buku catatan
khusus untuk mengetahui masalah dan jika perlu kembali konsultasu ke
dokter tim yang memasang PDT.
PERAWATAN PERCUNTANEOUSDILATIONALTRACHEOSTOMY (PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 6
UPTD RSD
KABUPATEN
SUBANG
9. Rencana kontrol dan evaluasi kanul untuk rekanulasi atau dekanulasi
sesuai klinis pasien dan indikasi pemasangan kanul trakeostomi sebulan
sekali bersamaan dengan waktu kontrol untuk penyakit utamanya.
Diperhatikan dan diingatkan keluarga untuk mencatat waktu kontrol dan
evaluasi kanul trakeostomi.
3. Perawatan di rumah
Perawatan kanul umum kanul trakeostomi
1. Cuci kanul dalam setiap 8 jam, di cuci per 6 jam atau 4 jam atau 2 jam jika
disetiap waktu pencuciannya sangat kotor san produksi slemnya banyak. Jika
per 2 jam dicuci masih sangat kotor dibantu dengan suctioning
2. Suctioning dilakukan hanya seperlunya saja, jika pembersihan kanul dalam
kurang efektif untuk mengurangi produksi slem. Masuk hanya sekitar 8-10
cm saja.
3. Balon kanul dikempiskan terus menerus
4. Luka trakeostomi dirawat bersih dan kering sekali sehari atau jika basah
atau kotor semakin sering menggunakan tissue basah steril. Tidak perlu
dipasang kasa, jika perdarahan banyak dan aktif hubungi dan konsultasikan
ke rumah sakit.
5. Tali pengikat kanul diganti setiap 7 hari atau jika basah dan kotor
6. Oral hygiene dilakukan setiap hari sekali sebersih mungkin. Dilakukan test
PROSEDUR patensi jalan nafas atau latihan nafas dan batuk
Pasien bernafas mengambil nafas ( saat inspirasi), lubang kanul ditutup saat
akhir inspirasi, psien mengeluarkan nafas ekspirasi masih dengan lubang
kanul ditutup dengan jari tangan sarung tangan, sehingga aliran nafas keluar
melalui mulut / hidung. Diulang beberapa kali. Sampai dinilai kekuatan nafas,
kekuatan reflek batuk, dan kemampuan reflek menelennya. Latihan nafas juga
bisa difasilitasi menggunakan speaking valve : saat inspirasi katup turun
sehingga udara bisa masuk, dan saat ekspirasi udara menekan katup ke atas
dan menutup sehingga udara naik ke arah orofaring melalui pita suara.
Dilakukan selama 30 menit sekali sehari dan bisa diulang beberapa kali sesuai
kemampuan dan klinis pasien.
7. Membua catatan kegiatan pasien oleh keluarga mengenai perawatan kanul
serta perawatan umumnya. Jika ada kemungkinan akan menggunakan kanul
trakeostomi dalm jangka lama. Keluarga membuat buku catatan khusus untuk
mengetahui masalah dan jika perlu kembali konsultasi ke RS dan dokter tim
yan memasang PDT.
8. Rencana kontrol dan evaluasi kanul unutk rekanulasi atau dekanulasi sesuai
klinis pasien dan indikasi pemasangan kanul trakeostomi sebulan sekali
bersamaan dengan waktu kontrol untuk penyakit utamanya (dicatat
tanggalnya
PERAWATAN PERCUNTANEOUSDILATIONALTRACHEOSTOMY (PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 7
UPTD RSD
KABUPATEN
SUBANG
Dekanulasi/ pencabutan kanul trakeostomi dan rekanulasi
a. Evaluasi keadaan klinis paseien sesuai indikasi pemasangan trakeostomi
(misal bronchial toilet untuk suctioning atau prolong ventilasi pada pasien
dengan gangguan fungsi pasru perbaikan)
b. Jika parameter untuk dilepas kanul trakeostomi tercapai dan reflek proteksi
jalan nafas (reflek batuk dan menelan) baik dan indikasi pemasangan
trakeostomi lain sudah tidak ada, dipertimbangkan untuk dilakukan
dekanulasi trakeostomi
c. Dilakukan test patensi jalan nafas atas (untuk menilai reflek batuk dan
menelan dan kemampuan bernafas melalui jalan nafas atas) diatas balon
kanul trakeostomi. Bisa terasa nafas atau menggunakan speaking valve.
d. Jika parameter untuk dilepas kanul trakeostomi belum atau tidak tercapai dan
reflek proteksi jalan nafas reflek batuk dan menelan) tidak atau kurang baik :
dipertimbangkan untuk dilakukan rekanulasi traekostomi saat sebulan
kontrol.
e. Teknis dekanulasi :
PROSEDUR - NGT tersambung dan suction selalu siap selama test patensi jalan nafas
atas dilakukan, alat resusitasi dan pengelolaan jalan nafas siap. Dilakukan
di RS atau ICU RS
- Diberikan kortikosteroid dan nebulizer serta dilakukan suctioning
sebelumnya jika diperlukan
- Dekanulasi dilakukan dengan suctioning menyala di dalam kanul
trakeostomi untuk mencegah aspirasi cairan dari bagian atas kanul
trakeostomi. Luka bekas trakeostomi dirawat diseka dengan kasa steril
atau tisu basah dan diganti setiap ghari atau jika tanda-tanda infeksi atau
perdarahan. Luka bekas trakeostomi ditutup dengan kasa steril, di plester
satu bagian atas luka saja, (dengan tujuan saat inspirasi udara masuk
melalui hidung /mulut; saat ekspirasi / batuk jika luka belum menutup,
kotoran bisa keluar dari lubang bekas trakeostomi). Jika ada kotoran dari
luka bekas trakeostomi, diseka dengan tisu basah steril, dan luka dijaga
tetap bersih dan kering.
- Kontrol dilakukan sebulan kemudian kecuali jika ada tanda kegawatan
ancaman gagal nafas atau perdarahan yang banyak.
PERAWATAN PERCUNTANEOUSDILATIONALTRACHEOSTOMY
(PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
Halaman 8
UPTD RSD KABUPATEN
SUBANG
f. Teknik rekanulasi : saat kontrol sebulan setelah pemasangan PDT
- NGT tersambung dan suction selalu siap selama test patensi jalan
nafas atas dilakukan, alat resusitasi dan pengelolaan jalan nafas siap.
Dilakukan di RS atau ICU RS
- Diberikan kortikosteroid dan nebulizer serta dilakukan suctioning
sebelumnya jika diperlukan
- Dilakukan test patensi jalan nafas dan dinilai kemungkinan lepas dari
kanul trakesotomi
- Jika dunilai masih kurang baik reflek menelan dan batuknya atau
indikasi pemasangan kanul trakeostomi belum tercapai, direncanakan
dilakukan rekanulasi trakeostomi.
- Dekanulasi dilakukan dengan suctioning menyala di dalam kanul
trakeostomi untuk mencegah aspirasi cairan dari bagian atas kanul
trakeostomi.
- Dilakukan rekanulasi. Sebelumnya pasien diposisikan terlentang
dilakukan perawatan kanul trakeostomi umum dan penilaian kualitas
PROSEDUR
perawatan kanul dan keluarga pasein di edukasi ulang.
- Kanul trakeostomi dimasukkan melalui jalur luka yang sudah
terbentuk, diberikan jeli /pelumas secukupnya pada kanul trakeostomi
pengganti. Nomor kanul satu nomor di bawah nomor kanul
sebelumnya.
- Setealh rekanulasi dinilai efektifitas kanul dan klinis pasien untuk
mencegah kegawatan gagal nafas atau perdarahan. Jika perlu diberikan
obat untuk menghentikan perdarahan seprti asam traneksamat.
- Dilakukan suctionong dan perawatan kanul umum kembali, dan pasien
serta keluarga atau pendampingnya di edukasi ulang mengenai
perawatan kanul umum dirumah : tanda dan bahaya yang perlu
diperhatikan untuk kembali ke RS jika ada tanda tersebut.
- Pasein dijadwalkan ulang kontrol ke tim pemasang PDT di ICU atau
RS satu bulan kemudian atau jika ada hal yang perlu di konsultasikan
termasuk tanda kegawatan,saat kontrol penyakit dasarnya di poli
terkait.
PERAWATAN PERCUNTANEOUSDILATIONALTRACHEOSTOMY
(PDT)
No. Dokumen No Revisi : Halaman
UPTD RSD KABUPATEN
SUBANG
KONTRIBUTOR
UNIT TERKAIT