Fungsi dan Perkembangan Galeri Seni
Fungsi dan Perkembangan Galeri Seni
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Judul
Seni lukis, menurut Nugraha (1984) seni lukis merupakan cabang seni murni
yang paling popular. Lukisan atau gambar pada hakekatnya adalah suatu
ungkapan atas penghayatan, pengalaman dan gagasan yang disajikan dalam
bidang 2 dimensi. Seorang pelukis dapat memilih cara menentukan titik pandang
terhadap objek yang akan dilukis. Objek lukis dapat berupa pemandangan alam,
manusia, hewan dan tumbuhan maupun pengalaman atau gagasan pribadi.
(sumber: Nugraha, 1984)
Galeri seni lukis Adalah ruang atau gedung yang digunakan sebagai tempat
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni lukis berlokasi di kota kendari
yang bersifat edukatif non- formal dan rekreatif. Dalam hal ini bersifat komersil.
6
galeri tidak hanya untuk Seni Lukis saja, tetapi juga seni- seni yang lainnya
seperti seni patug, batik, tari, kain,dan bentuk seni lainnya.
2. Perkembangan Galeri
Fungsi awal galeri sebagai tempat memamerkan hasil-hasil karya seni agar
dikenal masyarakat luas, yaitu sebagai tempat :
Sedangkan fungsi baru yang ingin diwujudkan dalam bangunan galeri seni
lukis ini adalah galeri yang tidak hanya sebagai wadah mengumpulkan,
memamerkan, memelihara, karya seni tetapi juga yang berfungsi sebagai tempat :
a) Sarana untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap
kebudayaan daerah
b) Sarana pendidikan masyarakat
c) Sarana rekreasi
7
barang di dalam galeri bisa diperjual-belikan (an institution or business exhibition
or dealing in work of art). Lain halnya dengan museum, dimana koleksinya tidak
untuk diperjual-belikan. Museum penuh dengan pesan-pesan luhur dalam
tugasnya sebagai sarana yang memamerkan hasil kebudayaan, karenanya museum
terbebani fungsi untuk mengkoleksi, mendokumentasi dan memelihara, serta
merawat barang-barang koleksinya.
duty", relatif tidak mudah rusak, tahan cuaca, mudah dalam perawatan dan
menarik dalam penampilan.
Dari keterangan di atas, beberapa fungsi galeri dapat disimpulkan antara lain :
a) Sebagai tempat mengumpulkan, memamerkan, dan memelihara karya seni
b) Wadah untuk mendorong apresiasi masyarakat terhadap karya seni
c) Tempat untuk jual beli karya seni, untuk menunjang kelangsungan
hidup seni dan galeri.
d) Tempat pendidikan masyarakat.
e) Sebagai bentuk rekreasi budaya.
4. Macam-Macam Galeri
8
b) Public Art Gallery, galeri milik pemerintah dan terbuka untuk umum
c) Kombinasi dari kedua galeri diatas.
Berdasarkan isinya :
a) Art Gallery of Primitive art, galeri yang menyelenggarakan aktivitas di
bidang seni primitive
b) Art gallery of Classical art, galeri yang menyelenggarakan aktifitas di bidang
seni klasik.
c) Art gallery of Modern art, galeri yang menyelenggarakan aktifitas seni
modern.
Berdasrkan jenis pameran yang diadakan :
9
menjadi :
a) Galeri Lokal : merupakan galeri yang mempunyai koleksi dengan objekobjek
yang diambil dari lingkungan setempat.
Menurut ektimologinya kata gallery atau galeri , berasal dari bahasa latin:
Galleria dapat diartikan sebagai ruang beratap dengan satu sisi terbuka. Di
Indonesia, galeri sering diartikan sebagai ruang atau bangunan tersendiri yang
digunakan untuk memamerkan karya seni.
10
Gambar II.1. Kemampuan Gerak Anatomi Manusia
(Sumber : Tga-409 Syarifah Andayani, USU)
11
GambarII .4. Pencahayaan Alami
(Sumber : Ernst and Peter Neufert, Architects’ Data, Third Edition)
Sinar dan cahaya yang diterima apabila tidak menggunakan shading dan filter
hampir 97% mengakibatkan ruang tidak nyaman. Pada gambar di tengah, cahaya
yang diterima apabila menggunakan shading adalah 80% mengakibatkan ruang
nyaman. Pada gambar di kanan, cahaya yang diterima adalah 72% sehingga ruang
lebih nyaman.
1) climate control
12
control terhadap temperature dan kelembaban ruang, kualitas udara dan
vibrasi ruang. Implementasi climate control ini meminimalkan resiko
kerusakan terjadap karya- karya seni yang ada dan meningkatkan
kenyamanan pengunjung dan pengguna bangunan.
4) Light
13
Tingkat intensitas cahaya di atas adalah berdasarkan survey galer-galeri
seni professional di Australia. Untuk cahaya alami, penyinaran tidak boleh
langsung jatuh pada karya-karya seni yang ada. Caranya adalah penggunaan
cahaya alami dari atas dan samping. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk
memelihara dan merawat koleksi karya seni adalah sebagai berikut:
5) Penyimpanan
Koleksi karya-karya seni disimpan di dalam sebuah ruang penyimpanan
yang disesuaikan dengan persyaratan karya seni tersebut seperti: AC, panel
geser dan panel kayu, dan untuk pengamanan dibantu dengan sistem alarm.
6) Pendokumentasian
Selain dicatat dan difoto, koleksi karya-karya seni tersebut juga
didokumentasikan dalam bentuk katalog.
7) Konservasi dan restorasi
14
9) Galeri temporer
Kegiatan di dalamnya hanya terjadwal dalam waktu-waktu tertentu dan
berubah- ubah koleksi lukisan yang dipamerkan. Semua pameran yang
dilakukan baik di galeri tetap maupun temporer harus terlebih dahulu
disetujui oleh kurator. dimana seorang kurator bertanggung jawab untuk
mengadakan eksibisi. Adapun tugas kuratorial adalah memelihara, menjaga
semua koleksi benda seni dari institusi yang bersangkutan, mengumpulkan
objek, membuat proses atau pengawasan untuk mendapatkan perawatan atas
benda seni secara lebih efektif, konservasi, dokumentasi, research,
menampilkan koleksi.
Seni adalah segala kegiatan dan hasil karya manusia yang mengutarakan
pengalaman batinnya yang karena disajikan secara unik dan menarik
memungkinkan timbulnya pengalaman, kegiatan batin pula pada diri orang lain
yang menghayatinya. Hasil karya ini lahir bukan karena dorongan oleh hasrat
memenuhi kebutuhan hidup manusia yang paling pokok, melainkan oleh
kebutuhan spiritualnya untuk melengkapi dan menyempurnakan derajat
kemanusiaannya.
Seni Lukis adalah salah satu induk dari Seni Rupa. Dengan dasar pengertian
yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari
[Link] seni memiliki variasi baik dalam bentuk maupun dalam
gaya dan aliran seni. Gaya dan aliran seni sering ditafsirkan secara kurang benar
kadangkadang kebalikannya,artinya gaya ditafsirkan sebagai aliran dan sebaliknya
aliran ditafsirkan sebagai gaya. Menurut Sudarso SP gaya, corak, atau langgam
ataupun style adalah sebenarnya berurusan dengan bentuk luar sesuatu karya seni,
sedangkan aliran, faham atau isme lebih menyangkut pandangan atau prnsip yang
lebih dalam sifatnya.
Aliran-aliran besar yang hadir dalam kesenirupaan yaitu: Naturalisme,
Realisme, Impresionisme, Romantisme, Expressionisme, dan Surealisme.
Aliranaliran lain seperti Fauvisme, Kubisme, Futurisme, Dadaisme,
15
Abstractionism, Optical Art, Populair Art, Suprematisme, Constructivism, Neo
Platisism, dan Purisme.
2. Sejarah Seni Lukis Di Indonesia
Kebudayaan melukis di Indonesia telah dimulai sejak Belanda masuk ke
wilayah tanah air untuk melakukan imperialisme. Ketika itu, di Eropa tengah
bergejolak aliran lukisan romantisme dan dikembangkan oleh Belanda di
Indonesia sehingga banyak warga pribumi yang juga memperlebar aliran tersebut.
Raden Saleh Syarif Bustaman merupakan segelintir nama ketika itu yang
beruntung karena bisa merasakan pendidikan seni lukis di Eropa, ketika ia
menjadi asisten pelukis asal Belanda. Setelah belajar melukis di Belanda, ia
kembali ke Indonesia dan makin mengembangkan karier melukisnya sehingga ia
pun sangat tersohor sebagai pelukis ternama. Raden Saleh pun sempat menjadi
pelukis yang cukup disegani di istana beberapa negara Eropa yang telah
menggunakan jasanya. Kegiatan melukis sampai kapanpun, selama di bumi ini
masih ada manusia maka selama itu pula melukis akan tetap bertahan
eksistensinya. (Sumber: [Link])
Perupa di Kendari sudah banyak melalui pasang surut, tetapi sekarang sudah
lebih baik dan juga mulai berkembang, ini juga dikarenakan terbentuknya
16
beberapa studio dan galeri. Namun, seni rupa di Kendari itu belum mempunyai
banyak tempat di Kendari, kecuali sastra dan tari itu sudah mencapai
keeksistensiannya. Galeri seni lukis juga menyediakan kelas khusus untuk latihan
menggambar yang kebanyakan dari jurusan Arsitektur. Jadi berkat adanya seni
lukis ini, baik mahasiswa ataupun anak Sekolah Dasar dapat berlatih terus.
Namun, galeri seni lukis ini memiliki kendala dari bahan. (sumber: Husein. 2019.
Wawancara Perkembangan Seni Lukis Di Kota Kendari. Sulawesi Tenggara)
4. Pelaku Aktivitas
Pelaku aktifitas dalam Galeri Seni Lukis ini antara lain adalah ;
a. Pengguna
pengguna utama galeri seni lukis adalah pengujung yang diklasifikasikan
berdasarkan dengan tujuannya yaitu;
1) Pengunjung msyarakat umum yaitu pengunjung yang datang hanya untuk
mencari hiburan dan berekreasi dengan menikmati hasil karya seni dan
memanfaatkan fasilitas-fsilitas yang disediakan.
2) Pengunjung kelompok minat yaitu pengunjung dari pecinta seni yang
memiliki pengetahuan tentang seni yang cukup tinggi dan datang dengan
tujuan untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang seni rupa dengan tidak
hanya menikmati pameran tetapi juga mengikuti workshop.
b. Pengelola
pengelola pada fasilitas galeri lukis ini di bagi menurut aktifitasnya yaitu;
1) Pengelola umum sebagai pengendali operasional galeri termasuk didalamnya
pelayanan dan servis.
2) Kepala Bagian Tata Usaha yang menangani masalah administrasi seluruh
kegiatan.
3) Kepala Bagian Teknis Koleksi yang menangani segala masalah yang
berhubungan dengan koleksi pameran.
4) Kepala Bagian Pembinaan Minat yang menangani masalah yang berhubungan
dengan fungsi edukasi/apresiasi.
c. Aktivitas/Kegiatan
aktifitas dalam galeri seni lukis dikelompokan 4 bagian yaitu;
17
1) Kegiatan Promosi/Apresiasi
Merupakan kegiatan utama yang sesuai dengan fungsi bangunan Seni Lukis
yaitu pameran.
2) Kegiatan Edukasi
Merupakan Kegiatan pendukung fungsi utama yang kegiatannya adalah
melukis
3) Kegiatan Preserfasi Dan Konserfasi
Merupakan kegiatan kegiatan penunjang galeri seni lukis yaitu;
a) Perbaikan koleksi
b) Perawatan dan pengawetan koleksi
4) Kegiatan Pengelolah
Merupakan kegiatan oprasional yang meliputi;
c) Rapat koordinasi
d) Perawatan koleksi
5. Fasilitas
a. Fasilitas Promosi/apresiasi
Mewadahi kegiatan pameran sebagai sarana pelestarian karya seni lukis dan
peningkatan minat masyarakat. Fasilitas yang dibutuhkan adalah area pamer
dalam ruangan (indoor), bersifat permanen.
b. Fasilitas Edukasi
Mewadahi kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan, dalam hal ini
adalah pendidikan non formal berupa workshop seni lukis yang dibuka untuk
umum sebagai kursus/praktek bagi pengunjung yang berminat untuk membuat
karya seni lukis. Fasilitas yang diperlukan adalah workshop lukis.
18
Merupakan sarana yang disediakan sebagai penunjang kegiatan promosi yaitu
sebagai upaya perbaikan, perawatan dan pengawetan benda-benda seni yang
dipamerkan agar tidak rusak.
d. fasilitas pengelolaan
Merupakan sarana yang berfungsi sebagai pengendali operasional kegiatan
yang ada didalam bangunan. Fungsi pengelolaan juga ditunjang oleh fasilitas
pelayan servis dengan kebutuhan antara lain ;
1) Gedung pengelola
2) Musholah
4) Area parkir
6. Teknik Penyajian
Umumnya dipakai pada ruang pmer menjabarkan bahwa penyajian dalam
ruang pamer meliputi 7 aspek (Sumadio, 1996) yaitu ;
a) Ukuran Vitrin
Ukuran vitrin tidak boleh terlalu rendah ataupun terlalu tinggi. Tinggi
rendahnya perletakan vitrin dan panil didasarkan pada tinggi rata-rata
manusia. Di Indonesia dengan tinggi rata-rata manusianya 160cm- 180cmdan
kemampian anatomi leher 300.
b) Tata Cahaya
Pengaturan cahaya tidak boleh mengganggu koleksi atau menyilaukan
pengunjung. Diusahakan agar lampu terlindung dan sumber cahaya tidak
langsung terlihat oleh pengunjung.
c) Tata Warna
warna selain mempengaruhi perasaan akan situasi ruangan dan kejiwaan juga
19
dapat menunjang kehadiran benda koleksi.
d) Tata Letak
Penyusunan objek pamer pada suatu pameran hendaknya menurut
ide/gagasan piñata pameran sehingga dapat memberikan informasi yang jelas
dan artistik. Pengaturan cahaya dan warna sangat mencapai tujuan tersebut.
e) Tata pengamanan
Pengamanan terhadap benda-benda koleksi yang dipamerkan hendaknya
menggunakan kaca vitrin dengan ketebalan 5 mm agar tahan terhadap
benturan.
f) Labeling
Merupakan sarana komunikasi memberikan informasi kepada pengunjung.
g) Foto-foto pengunjung
Foto pengunjung diperlukan untuk menjadikan koleksi lebih informative dan
diletakan didekat koleksi.
7. Sirkulasi
Sirkulasi sirkulasi dalam pameran memerlukan pengaturan yang baik
sehingga arus pengunjung berjalan secara terarah dan tidak saling bersimpang
siur. Para pengunjung diupayakan untuk dapat dinikmati karya secara teratur dan
terurut tanpa ada yang terlewat. Sumadio (1996) menjelaskan bahwa sirkulasi
ruang pamer dibedakan menjadi 2 yaitu :
a) Sirkulasi Berliku
Pola sirkulasi ini paling banyak digunakan dalam museum maupun ruang
pamer. Pola sirkulasi yang terjadi bisa bermacam-macam bentuknya, organisasi
ruang pamer dapat dilakukan secara linear horizontal maupun vertical.
b) Sirkulasi Spiral
Pola ini diterapkan oleh sebagian bangunan museum moderen, biasanya
bangunan yang lebih dari satu lantai.
20
D. Tinjaun Terhadap Arsitektur Ekpresionis
1. Arsitektur Ekspresionis
Arsitektur Ekpresionis mengacu pada gaya arsitektur yang berkembang di
dalam eropa pada permulaan abad ke 20 dan dengan luas mengacu pada desain
arsitektur dan bentuk. Arsitektur Ekspresionis pertama terjadi di Jerman sebagai
bagian dari pergerakan ekpresionisme dan juga di Belanda khususnya sekolah
Amsterdam antara .1910 dan 1925. Gaya ini di karakterisi oleh oleh awal
modernisme di adopsi dari novel-novel dan roman-roman, terkadang terlihat
sangat tidak lazim dengan menggunakan bahan dari batu bata, baja dan terutama
kaca. Pendekatan ini dikembangkan secara pararel oleh pergerakan ekspresoinis
tapi dengan kondisi ekonimi yang terbatas maka hanya ada beberpaa saja
bangunan gaya ekspresionis yang secara resmi tertulis seperti bangunan Alpine
Arsitektur yang dibangun oleh Taut’s dan Hermann Finsterlin’S yang membangun
Formspiels. Gaya bangunan ini hanya berlangsung sebentar tetapi sangat pentiing
untuk di kenang dalam periode ini.
21
Schmidt, Emile Nolde, JJ. Kandinsky dan Paul Klee. Di Indonesia penganut ini
adalah : Affandi, Zaini dan Popo Iskandar. Contoh Lukisan bercorak Naturalisme,
Contoh Lukisan bercorak Impresionisme, karya Basoeki Abdullah karya George
Sevoat.
Seorang tokoh lain dari aliran ini adalah Leo Tolstoy. Ia berpendapat:
“Memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah
mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan
22
pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata
23
tekanan berkepanjangan. Secara estetis, karya ekpresionis tidaklah bagus namun
aliran ini memiliki kemampuan menggugah emosi penonton melalui drama serta
ketakutan melalui gambar yang ditampilkan.
24
Ekspresionisme juga didefinisikan sebagai kebebasan distorsi bentuk dan
warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya
dihubungkan dengan kekerasan atau tragedy. Ekspresionisme menjajagi jiwa dan
menemukan “Sturm und Drang” dan pancarannya keluar merupakan media yang
baik untuk melukiskan emosinya kepada orang lain. Tokoh pelukis
Ekspresionisme di Indonesia adalah Affandi (Soegeng Toekio, 1987:40).
Pengungkapan berwujud berbagai gambaran angan-angan misalnya images warna,
garis, dan kata. Mengungkapkan bagi seseorang berarti menciptakan seni dalam
dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Seorang tokoh lain dari
aliran ini adalah Leo Tolstoy. Ia berpendapat: “Memunculkan dalam diri sendiri
suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu
kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk
yang diungkapkan dalam kata-kata, memindahkan perasaan itu sehingga orang-
orang lain mengalami perasaan yang sama, ini adalah kegiatan seni. (Sumber:
Soegeng Toekio, 1987:40).
E. Studi Banding
25
kesenian. Galeri Nasional Indonesia memiliki tugas pokok dan fungsi
melaksanakan, pengumpulan, pendokumentasian, registrasi, analisis,
pemeliharaan, perawatan, pengamanan, penyajian, penyebarluasan informasi dan
bimbingan edukatif terhadap karya seni rupa.
Berdiri pada tanggal 8 Mei 1999. Luas tanah dan bangunan Galeri Nasional
Indonesia adalah 17.600M² terdiri dari berbagai gedung dan fasilitas penunjuang
lainnya, seperti: kantor, pameran temporer, pameran permanen (menetap),
perpustakaan, auditorium, storage, laboratorium, wisma seniman, galeri shop.
Lokasi Galeri Nasional Indonesia ini cukup strategis, yaitu berada di pusat ibukota
Indonesia (Jakarta). Galeri Nasional Indonesia bertugas melaksanakan
pengumpilan, pendokumentasian, pendaftaran, penelitian, pemeliharaan,
perawatan, pengamanan, penyajian, penyebara informasi dan bimbingan edukatif
tentang karya seni rupa. Saat ini Galeri Nasional Indonesia memiliki sekitar 1770
koleksi karya seniman Indonesia dan mancanegara.
Galeri Nasional Indonesia ini memiiliki fasilitas yang dapat memadai unutk
mendukung kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai lembaga yang
mengkoleksi karya seni rupa, pameran, dan seminar maupun pelatihan seni rupa
dalam kapasitasnya sebagai institusi resmi pemerintahan Indonesia terhadap
pelestarian nilai-nilai budaya, khususnya seni rupa.
1. Ruang pameran
b) gedung (2.800M²)
c) gedung C (750M²)
d) gedung D (600 M²).
Hingga saat ini luas tanah Galeri Nasional Indonesia mencapai 28.620 m.
26
Gambar II.10: R. pamer Galeri Nasional Indonesia
(Sumber : [Link], 21 desember 2015)
Dalam Galeri Nasional Indonesia ini dilakukan beberpa jenis pameran seperti:
a) Pameran tetap (permanent exhibition)
menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia secara periodik
yang ditata berdasarkan konsep kuratorial dan diselenggarakan oleh Galeri
Nasional Indonesia dan waktu penyelenggaraan Pameran Tetap berlangsung
minimal 1 kali dalam satu tahun
b) Pameran temporer (temporary exhibition)
Pameran tunggal atau pameran bersama yang menyajikan karya-karya seni
rupa dalam jangka waktu tertentu yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional
Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain, [ameran ini berlangsung minimal
selama 10-30 hari.
c) Pameran keliling (ttaveling exhibition)
2. Ruang seminar
Galeri Nasional Indonesia ini memiliki fasilitas ruang seminar (serba guna)
untuk mendukung kegiatan seminar, diskusi pembahasan karya seni rupa. Ruang
seminar ini dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), agar suasana seminar atau
27
diskusi terasa nyaman.
3. Ruang restorasi
Pekerjaan konservasi-restorasi dilakukan pada laboratorium konservasi
dengan fasilitas penerangan lamu polikhromatis dan ultra-violet. Bersikulasi
udara, ber-AC, dan dialiri air distilasi. Laboratorium ini juga dilengkapi tabung-
tabung gelas yang berfungsi sebagai wadah atau alat ukur/ analisa, alat-alat ukur
elektronik dan computer pendukung untuk analisa dan simulasi pekerjaan teknis.
Alat mikrokopis, alat control klimotologi, ruang fumigasi serta alat pendingin
untuk membasmi jamur atau serangga juga melengkapi laboratorium ini.
28
a. Sejarah Mu seum Fatahillah
Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai M useum Sejarah Jakarta atau
Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah
No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini
dahulu adalah sebuah Bal ai Kota Batavia (bahasa Belaanda: Stadhuis van
Batavia) yang dibangun p ada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral
Johan van Hoor n. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri
atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangun an
sanding yang digunakan s ebagai kantor, ruang pengadilan, dan rua ng-ruang
bawah tanah yang d ipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Ma ret 1974, gedung
ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. Arsitektur bangunannya
bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik de ngan tiga lantai dengan cat k uning
tanah, kusen pintu dan jendela dari ka yu jati berwarna hijau tua. Bagian atap
utama memiliki penunjuk arah mata angin. Museum ini memiliki luas lebih dari
1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam
dihiasi beber apa pohon tua.
Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah
Jakarta, replika peninggalan masa Ta rumanegara dan Pajajaran, h asil penggalian
arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang
merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan
Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini
terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang
Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan
Ruang Batavia. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi,
numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes
(menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan
bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si
Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum
Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan
pada zaman penjajahan Belanda.
29