0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan24 halaman

Fungsi dan Perkembangan Galeri Seni

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai pengertian galeri seni lukis dan fungsinya. Secara ringkas, galeri seni lukis adalah tempat untuk mempromosikan dan menyelenggarakan kegiatan seni lukis, sejarahnya berawal dari abad ke-18. Fungsi galeri antara lain sebagai tempat memamerkan, memelihara, dan menjual karya seni serta sarana edukasi masyarakat.

Diunggah oleh

retno jurisno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
54 tayangan24 halaman

Fungsi dan Perkembangan Galeri Seni

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai pengertian galeri seni lukis dan fungsinya. Secara ringkas, galeri seni lukis adalah tempat untuk mempromosikan dan menyelenggarakan kegiatan seni lukis, sejarahnya berawal dari abad ke-18. Fungsi galeri antara lain sebagai tempat memamerkan, memelihara, dan menjual karya seni serta sarana edukasi masyarakat.

Diunggah oleh

retno jurisno
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Judul

Galeri, merupakan wadah untuk promosi dan menyelenggarakan kegiatan


apresiasi dan kritik yang mempertemukan seniman dan masyarakat untuk
berinteraksi membicarakan seni (sumber: Putut Wahyu, 2002).

Seni lukis, menurut Nugraha (1984) seni lukis merupakan cabang seni murni
yang paling popular. Lukisan atau gambar pada hakekatnya adalah suatu
ungkapan atas penghayatan, pengalaman dan gagasan yang disajikan dalam
bidang 2 dimensi. Seorang pelukis dapat memilih cara menentukan titik pandang
terhadap objek yang akan dilukis. Objek lukis dapat berupa pemandangan alam,
manusia, hewan dan tumbuhan maupun pengalaman atau gagasan pribadi.
(sumber: Nugraha, 1984)

1. Batasan Pengertian Judul Galeri Seni Lukis

Galeri seni lukis Adalah ruang atau gedung yang digunakan sebagai tempat
kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan seni lukis berlokasi di kota kendari
yang bersifat edukatif non- formal dan rekreatif. Dalam hal ini bersifat komersil.

B. Tinjauan Umum Terhadap Galeri

1. Sejarah Perkembangan Galeri


Diawali sekitar abad 18 di Athena, Galeri sebagai tempat memamerkan
berbagai hasil karya seni terutama peninggalan-peninggalan historis dari pelukis
pelukis ternama pada masa itu. Awal mula kelahiran galeri-galeri di Indonesia
mulai tampak sekitar pertengahan tahun 1980-an pada masa itu, tepatnya pada
tahun 1987, terjadi ledakan penjulan lukisan-lukisan yang mencerminkan
pertumbuhan ekonomi sejak tahun 1984 banyaknya permintaan terhadap lukisan
memicu berdirinya galeri-galeri. Keberadaan sebuah Galeri merupakan suatu
sarana untuk memamerkan berbagai hasil karya seni. Pada awalnya galeri
digunakan hanya untuk memamerkan seni lukis tetapi dalam perkembangannya

6
galeri tidak hanya untuk Seni Lukis saja, tetapi juga seni- seni yang lainnya
seperti seni patug, batik, tari, kain,dan bentuk seni lainnya.

2. Perkembangan Galeri

Saat ini, galeri mengalami perubahan dalam penyusunan ruang, ruangnya


maupun pengaturan objek dan dipergunakan untuk kepentingan public dari segi
fungsi galeri juga mengalami perkembangan.

Fungsi awal galeri sebagai tempat memamerkan hasil-hasil karya seni agar
dikenal masyarakat luas, yaitu sebagai tempat :

a) Megumpulkan hasil-hasil karya seni

b) Memamerkan hasil karya seni

c) Memelihara karya seni.

Sedangkan fungsi baru yang ingin diwujudkan dalam bangunan galeri seni
lukis ini adalah galeri yang tidak hanya sebagai wadah mengumpulkan,
memamerkan, memelihara, karya seni tetapi juga yang berfungsi sebagai tempat :
a) Sarana untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap
kebudayaan daerah
b) Sarana pendidikan masyarakat

c) Sarana rekreasi

d) Dan pusat pelelangan lukisan


Dimana ke empat fungsi tambahan tersebut belum terdapat di Kota Kendari,
oleh karena itu maka perlu suatu galeri sebagai dunia baru di Kota Kendari yang
sekaligus dapat menampung berbagai fungsi tersebut.
3. Fungsi Galeri

Fungsi galeri pada umumnya adalah preservasi, konservasi objek dan


memamerkan objek pada khalayak umum. Objek dan even-even yang ada terdapat
di galeri adalah aspirasi, teknologi, keindahan, perdagangan dan ekonomi,
lingkungan, pembangunan, sejarah.

Banyak orang yang salah mempersepsikan museum dan galeri. Barang-

7
barang di dalam galeri bisa diperjual-belikan (an institution or business exhibition
or dealing in work of art). Lain halnya dengan museum, dimana koleksinya tidak
untuk diperjual-belikan. Museum penuh dengan pesan-pesan luhur dalam
tugasnya sebagai sarana yang memamerkan hasil kebudayaan, karenanya museum
terbebani fungsi untuk mengkoleksi, mendokumentasi dan memelihara, serta
merawat barang-barang koleksinya.

Biasanya sebuah galeri memamerkan dan menjual karya-karya para seniman


atau perancang yang memenuhi persyaratan. Galeri memamerkan dan menjual
karyakarya terpilih yang sifatnya tidak tetap, bisa berganti-ganti sesuai kebutuhan,
oleh karena itu alat peraga di sebuah galeri tidak sama dengan di dalam museum.

Alat peraga di sini lebih bersifat netral, multifungsi, mudah dalam


pemasangan dan pembongkaran. Material yang dipergunakan harus "heavy

duty", relatif tidak mudah rusak, tahan cuaca, mudah dalam perawatan dan
menarik dalam penampilan.

Dari keterangan di atas, beberapa fungsi galeri dapat disimpulkan antara lain :
a) Sebagai tempat mengumpulkan, memamerkan, dan memelihara karya seni
b) Wadah untuk mendorong apresiasi masyarakat terhadap karya seni
c) Tempat untuk jual beli karya seni, untuk menunjang kelangsungan
hidup seni dan galeri.
d) Tempat pendidikan masyarakat.
e) Sebagai bentuk rekreasi budaya.

4. Macam-Macam Galeri

Berdasarkan tempat penyelenggaraan pameran (Neufert, Ernest, 1993, Data


Arsitek, Jilid 1 dan 2. Penerbit : Erlangga, Jakarta). :
a) Tradisional Art Gallery, galeri yang aktifitasnya diselenggarakan di selasar.
b) Modern Art Gallery, galeri dengan perencanaan ruang secara modern.
Berdasarkan sifat kepimilikan :
a) Private Art Gallery, galeri yang dimiliki oleh perorangan atau pribadi atau
kelompok

8
b) Public Art Gallery, galeri milik pemerintah dan terbuka untuk umum
c) Kombinasi dari kedua galeri diatas.
Berdasarkan isinya :
a) Art Gallery of Primitive art, galeri yang menyelenggarakan aktivitas di
bidang seni primitive
b) Art gallery of Classical art, galeri yang menyelenggarakan aktifitas di bidang
seni klasik.
c) Art gallery of Modern art, galeri yang menyelenggarakan aktifitas seni
modern.
Berdasrkan jenis pameran yang diadakan :

a) Pameran tetap (permanent exhibition), pameran yang diadakan terusmenerus


tanpa ada batasan waktu, barang-barang yang di pamerkan tetap atau bias
juga bertambah.
b) Pameran temporer (temporary exhibition), pameran yang diadakan sementara
dengan batasan waktu tertentu.
c) Pameran keliling (tarvelling exhibition), pameran yang berpindah-pindah dari
satu tempat ke tempat yang lain.
Galeri Seni dapat digolongkan lagi berdasarkan pada macam koleksi dan
tingkat dan luas koleksi (luas jangkauan)
1. Galeri berdasarkan macam lokasi dibedakan menjadi :

a) Galeri Pribadi : merupakan galeri yang berfungsi sebagai tempat pameran


karya pribadi seniman itu sendiri, tidak memamerkan karya orang lain atau
sebagai galeri yang hanya berfungsi sebagai tempat pamer dimana koleksi
yang dipamerkan tidak diperjual belikan.
b) Galeri umum : merupakan galeri yang memamerkan karya-karya seni dan
beberapa seniman dan koleksi yang dipamerkan diperjual belikan.
c) Galeri Kombinasi : merupakan galeri kombinasi pribadi dan umum dimana
karya-karya seni yang dipamerkan ada yang diperjual belikan dan ada yang
koleksi khusus yang tidak di jual, koleksi yang di pamerkanpun bukan dari
satu orang seniman melainkan dari beberapa seniman.
2. Galeri berdasarkan Tingkat dan luas koleksi ( luas jangkauan ) di bedakan

9
menjadi :
a) Galeri Lokal : merupakan galeri yang mempunyai koleksi dengan objekobjek
yang diambil dari lingkungan setempat.

b) Galeri ragional : merupakan galeri yang mempunyai koleksi dengan objek-


objek yang diambil dari tingkat daerah/provensi/ragional.

c) Galeri Internasional : merupakan galeri yang mempunyai koleksi dengan


objek-objek yang diambil dari suatu Negara atau dunia.
5. Galeri
Secara umum galeri adalah tempat memajangkan atau memamerkan suatu
karya seni agar para kolektor-kolektor seni maupun masyarakat awam dapat
menikmati karya seni.

Menurut ektimologinya kata gallery atau galeri , berasal dari bahasa latin:
Galleria dapat diartikan sebagai ruang beratap dengan satu sisi terbuka. Di
Indonesia, galeri sering diartikan sebagai ruang atau bangunan tersendiri yang
digunakan untuk memamerkan karya seni.

Galeri merupakan suatu fasilitas yang berisi ruang pamer yang


mengkomunkasikan karya-karya visual art atau seni visual. Adapun faktor-faktor
yang perlu diperhatikan dalam mengkomunikasikan karya-kaya seni secara visual
yaitu sebagai berikut:
a. Standar jarak pengamat terhadap objek lukisan
1) Tinggi rata-rata manusia indonesia sehingga pandangan mata dapat
mencakup obyek yang dilihat dalam posisi nyaman.
Tabel II.1 :Tinggi rata-rata manusia
Tinggi rata-rata Pandangan mata
Pria 165 cm 160 cm
Wanita 155 cm 150 cm
Anak-anak 115 cm 110 cm
Sumber : Tga-409 Syarifah Andayani, USU

10
Gambar II.1. Kemampuan Gerak Anatomi Manusia
(Sumber : Tga-409 Syarifah Andayani, USU)

2) Daerah visual pandangan mata

Gambar II.2. Sudut pandangan mata


(Sumber: Dimensi Manusia Dan Ruang Interior, Julius Panero, 2003)

Pandangan yang nyaman ke arah objek lukisan adalah pandangan di dalam


daerah visual 30° ke arah atas, 30° ke arah bawah, 30° ke arah kiri. Hal
tersebut dikarenakan pada daerah tersebut merupakan daerah dimana mata
kita dapat mengenali warna atau membedakan daerah dimana kita dapat
mengenali warna.

3) Jarak pengamat dan jarak lukisan


Jarak pengamat dan jarak lukisan Jarak pengamat= ½ X (tinggi lukisan/tan
30°) Jarak antar lukisan=(jarak pengamat) X tan 45° X (tinggi lukisan)

b. Pencahayaan alami (daylight)

Pencahayaan alami harus diperhitungkan agar pengguna ruangan yang berada


di dalamnya merasa nyaman dan lukisan terhindar dari sinar matahari. Berikut
adalah cara yang digunakan untuk menyaring sinar matahari.

11
GambarII .4. Pencahayaan Alami
(Sumber : Ernst and Peter Neufert, Architects’ Data, Third Edition)

Sinar dan cahaya yang diterima apabila tidak menggunakan shading dan filter
hampir 97% mengakibatkan ruang tidak nyaman. Pada gambar di tengah, cahaya
yang diterima apabila menggunakan shading adalah 80% mengakibatkan ruang
nyaman. Pada gambar di kanan, cahaya yang diterima adalah 72% sehingga ruang
lebih nyaman.

c. Pencahayaan buatan (dengan mengunakan spotlight)

Pencahayaan buatan yang digunakan sebagai penerangan untuk lukisan


adalah spotlight dengan pure white light karena sinar yang berwarna putih tidak
akan mengubah warna sebuah lukisan.

Gambar II.5. Sistem Pencahayaan Buatan


(Sumber : Ernst and Peter Neufert, Architects’ Data, Third Edition)
faktor-faktor dalam mengkomunikasikan karya-karya visual art yang
berhubungan dengan karya itu sendiri harus memperhatikan enviromental control(
pengontrolan lingkungan) yaitu dengan:

1) climate control

Merupakan pemeliharaan atmosfir lingkungan yang stabil, yaitu dengan

12
control terhadap temperature dan kelembaban ruang, kualitas udara dan
vibrasi ruang. Implementasi climate control ini meminimalkan resiko
kerusakan terjadap karya- karya seni yang ada dan meningkatkan
kenyamanan pengunjung dan pengguna bangunan.

2) Temperature and Relative Humidity

Fluktuasi dalam temperature dan kelembaban dapat merusak karya-karya


seni yang ada, dengan faktor yang paling kritis adalah kelembaban.
Perubahan kelembaban ruang/ lingkungan dapat mengakibatkan pengerutan
dan penyusutan dimana kondisi lingkungan sangat kering, sedangkan dalam
kondisi sebaliknya dapat mengakibatkan karya-karya seni yang ada
mengembung dan berjamur.
Temperature dan kelembaban standard pada daerah tropis seperti daerah
kita ini adalah Temperature ± 21° C, Kelembaban 55%

3) Air Filtration (penyaringan udara)


Udara yang tidak tersaring mengandung polusi gas dan partikel dimana
dapat merusak karya-karya seni dan yang paling penting adaah kenyamanan
pengunjung dan pengguna bangunan. Penyaringan udara ini dapat dikontrol
melalui suatu sistem ducting dengan efisiensi penyaringan standard 80-98%.

4) Light

Pencahayaan merupakan faktor penting dalam sebuah galeri sebab sangat


mempengaruhi pengalaman pengunjung dalam mengapresiasikan karya-karya
seni yang ada dan penciptaan suatu suasana/atmosfir ruang. Dengan kata lain
melalui pencahayaan dapat mengakibatkan emosi pengunjung. Pencahayaan
buatan maupun alami dapat mengakibatkan kerusakan jika tidak diperhatikan
intensitasnya. Untuk cahaya buatan, intensitas cahaya tergantung dari
bahan/material dari karya-karya seni tersebut, contoh:

a) Karya dengan bahan kertas: 50 lux

b) Karya lukisan kanvas, kayu dan kain: 150-200 lux

c) Metal, keramik, glass dan batu: 300 lux

13
Tingkat intensitas cahaya di atas adalah berdasarkan survey galer-galeri
seni professional di Australia. Untuk cahaya alami, penyinaran tidak boleh
langsung jatuh pada karya-karya seni yang ada. Caranya adalah penggunaan
cahaya alami dari atas dan samping. Adapun kegiatan yang dilakukan untuk
memelihara dan merawat koleksi karya seni adalah sebagai berikut:
5) Penyimpanan
Koleksi karya-karya seni disimpan di dalam sebuah ruang penyimpanan
yang disesuaikan dengan persyaratan karya seni tersebut seperti: AC, panel
geser dan panel kayu, dan untuk pengamanan dibantu dengan sistem alarm.
6) Pendokumentasian
Selain dicatat dan difoto, koleksi karya-karya seni tersebut juga
didokumentasikan dalam bentuk katalog.
7) Konservasi dan restorasi

Perawatan/konservasi yang dilakukan pada kasus ini bersifat cepat dan


ringan yaitu pembersihan karya seni dari debu atau kotoran dengan peralatan
sederhana sedangkan perbaikan/ restorasi yang dilakukan berupa perbaikan
ringan yaitu perbaikan karya seni berupa penggantian pigura lukisan. Kalau
koleksi tersebut sudah tergolong tua maka diperlukan konservasi yang lebih
lanjut (professional) oleh tenaga ahli konservator.
Secara umum, selain sebagai tempat yang mewadahi kegiatan transferisasi
perasaan dari seniman kepada pengunjung, berfungsi juga sebagai:
a) Tempat memamerkan karya seni (exhibition room)
b) Tempat membuat karya seni lukis (workshop)
c) Tempat mengumpulkan karya seni lukis (stock room)
d) Tempat melihat karya seni (restoration room)
e) Tempat berkumpulnya para seniman
f) Tempat pendidikan masyarakat yang bersifat non-formal(sanggar).
Di timjau dari kegiatan dan barang koleksinya, galeri di bagi atas:
8) Galeri tetap
Kegiatan yang ada di dalamnya bersifat terjadwal dengan baik secara
regular dan koleksi lukisan di dalamnya bersifat tetap (tidak akan keluar dari
galeri itu sendiri)

14
9) Galeri temporer
Kegiatan di dalamnya hanya terjadwal dalam waktu-waktu tertentu dan
berubah- ubah koleksi lukisan yang dipamerkan. Semua pameran yang
dilakukan baik di galeri tetap maupun temporer harus terlebih dahulu
disetujui oleh kurator. dimana seorang kurator bertanggung jawab untuk
mengadakan eksibisi. Adapun tugas kuratorial adalah memelihara, menjaga
semua koleksi benda seni dari institusi yang bersangkutan, mengumpulkan
objek, membuat proses atau pengawasan untuk mendapatkan perawatan atas
benda seni secara lebih efektif, konservasi, dokumentasi, research,
menampilkan koleksi.

C. Tinjauan Khusus Galeri Seni Lukis

1. Pengertian Seni Lukis

Seni adalah segala kegiatan dan hasil karya manusia yang mengutarakan
pengalaman batinnya yang karena disajikan secara unik dan menarik
memungkinkan timbulnya pengalaman, kegiatan batin pula pada diri orang lain
yang menghayatinya. Hasil karya ini lahir bukan karena dorongan oleh hasrat
memenuhi kebutuhan hidup manusia yang paling pokok, melainkan oleh
kebutuhan spiritualnya untuk melengkapi dan menyempurnakan derajat
kemanusiaannya.
Seni Lukis adalah salah satu induk dari Seni Rupa. Dengan dasar pengertian
yang sama, seni lukis adalah sebuah pengembangan yang lebih utuh dari
[Link] seni memiliki variasi baik dalam bentuk maupun dalam
gaya dan aliran seni. Gaya dan aliran seni sering ditafsirkan secara kurang benar
kadangkadang kebalikannya,artinya gaya ditafsirkan sebagai aliran dan sebaliknya
aliran ditafsirkan sebagai gaya. Menurut Sudarso SP gaya, corak, atau langgam
ataupun style adalah sebenarnya berurusan dengan bentuk luar sesuatu karya seni,
sedangkan aliran, faham atau isme lebih menyangkut pandangan atau prnsip yang
lebih dalam sifatnya.
Aliran-aliran besar yang hadir dalam kesenirupaan yaitu: Naturalisme,
Realisme, Impresionisme, Romantisme, Expressionisme, dan Surealisme.
Aliranaliran lain seperti Fauvisme, Kubisme, Futurisme, Dadaisme,

15
Abstractionism, Optical Art, Populair Art, Suprematisme, Constructivism, Neo
Platisism, dan Purisme.
2. Sejarah Seni Lukis Di Indonesia
Kebudayaan melukis di Indonesia telah dimulai sejak Belanda masuk ke
wilayah tanah air untuk melakukan imperialisme. Ketika itu, di Eropa tengah
bergejolak aliran lukisan romantisme dan dikembangkan oleh Belanda di
Indonesia sehingga banyak warga pribumi yang juga memperlebar aliran tersebut.

Raden Saleh Syarif Bustaman merupakan segelintir nama ketika itu yang
beruntung karena bisa merasakan pendidikan seni lukis di Eropa, ketika ia
menjadi asisten pelukis asal Belanda. Setelah belajar melukis di Belanda, ia
kembali ke Indonesia dan makin mengembangkan karier melukisnya sehingga ia
pun sangat tersohor sebagai pelukis ternama. Raden Saleh pun sempat menjadi
pelukis yang cukup disegani di istana beberapa negara Eropa yang telah
menggunakan jasanya. Kegiatan melukis sampai kapanpun, selama di bumi ini
masih ada manusia maka selama itu pula melukis akan tetap bertahan
eksistensinya. (Sumber: [Link])

3. Perkembangan Seni Lukis Di Kota Kendari


Perkembangan galeri seni lukis di kota Kendari saat ini memang masih taraf
pengenalan, dipastikankedepannya akan lebih maju lagi jika pemerintah
memberikan dukungan penuh. Perkembangan galeri seni lukis di Kota
Kendarijika ditinjauhingga saat ini, dapat dikatakan baik ataupun mulai
berkembang. Saat ini pun, terdapat les seni lukis untuk tingkat Sekolah Dasar,
yang dilaksanakan setiap dua kali seminggu.

Perkembangan seni rupa di Sulawesi Tenggara terbilang cukup lambat,


dikarenakan yang pertama seni rupanya itu masih taraf memperkenalkan. Kedua,
tidak terdapat jurusan seni rupa di Universitas Halu Oleo atau universitas lainnya
yang terdapat di Kendari, ini salah satu kendala perkembangan seni rupa di
Kendari.

Perupa di Kendari sudah banyak melalui pasang surut, tetapi sekarang sudah
lebih baik dan juga mulai berkembang, ini juga dikarenakan terbentuknya

16
beberapa studio dan galeri. Namun, seni rupa di Kendari itu belum mempunyai
banyak tempat di Kendari, kecuali sastra dan tari itu sudah mencapai
keeksistensiannya. Galeri seni lukis juga menyediakan kelas khusus untuk latihan
menggambar yang kebanyakan dari jurusan Arsitektur. Jadi berkat adanya seni
lukis ini, baik mahasiswa ataupun anak Sekolah Dasar dapat berlatih terus.
Namun, galeri seni lukis ini memiliki kendala dari bahan. (sumber: Husein. 2019.
Wawancara Perkembangan Seni Lukis Di Kota Kendari. Sulawesi Tenggara)

4. Pelaku Aktivitas
Pelaku aktifitas dalam Galeri Seni Lukis ini antara lain adalah ;
a. Pengguna
pengguna utama galeri seni lukis adalah pengujung yang diklasifikasikan
berdasarkan dengan tujuannya yaitu;
1) Pengunjung msyarakat umum yaitu pengunjung yang datang hanya untuk
mencari hiburan dan berekreasi dengan menikmati hasil karya seni dan
memanfaatkan fasilitas-fsilitas yang disediakan.
2) Pengunjung kelompok minat yaitu pengunjung dari pecinta seni yang
memiliki pengetahuan tentang seni yang cukup tinggi dan datang dengan
tujuan untuk lebih memperdalam pengetahuan tentang seni rupa dengan tidak
hanya menikmati pameran tetapi juga mengikuti workshop.

b. Pengelola

pengelola pada fasilitas galeri lukis ini di bagi menurut aktifitasnya yaitu;
1) Pengelola umum sebagai pengendali operasional galeri termasuk didalamnya
pelayanan dan servis.
2) Kepala Bagian Tata Usaha yang menangani masalah administrasi seluruh
kegiatan.
3) Kepala Bagian Teknis Koleksi yang menangani segala masalah yang
berhubungan dengan koleksi pameran.
4) Kepala Bagian Pembinaan Minat yang menangani masalah yang berhubungan
dengan fungsi edukasi/apresiasi.
c. Aktivitas/Kegiatan
aktifitas dalam galeri seni lukis dikelompokan 4 bagian yaitu;

17
1) Kegiatan Promosi/Apresiasi

Merupakan kegiatan utama yang sesuai dengan fungsi bangunan Seni Lukis
yaitu pameran.
2) Kegiatan Edukasi
Merupakan Kegiatan pendukung fungsi utama yang kegiatannya adalah
melukis
3) Kegiatan Preserfasi Dan Konserfasi
Merupakan kegiatan kegiatan penunjang galeri seni lukis yaitu;
a) Perbaikan koleksi
b) Perawatan dan pengawetan koleksi
4) Kegiatan Pengelolah
Merupakan kegiatan oprasional yang meliputi;

a) Control seluruh kegiatan dalam galeri

b) Administrasi, pembukuan dan manajemen keuangan

c) Rapat koordinasi

d) Perawatan koleksi

e) Melaksanakan urusan pelayanan dan servis

f) Informasi dan keamanan pengunjung

5. Fasilitas
a. Fasilitas Promosi/apresiasi
Mewadahi kegiatan pameran sebagai sarana pelestarian karya seni lukis dan
peningkatan minat masyarakat. Fasilitas yang dibutuhkan adalah area pamer
dalam ruangan (indoor), bersifat permanen.
b. Fasilitas Edukasi
Mewadahi kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan, dalam hal ini
adalah pendidikan non formal berupa workshop seni lukis yang dibuka untuk
umum sebagai kursus/praktek bagi pengunjung yang berminat untuk membuat
karya seni lukis. Fasilitas yang diperlukan adalah workshop lukis.

c. Fasilitas Preserfasi dan Konserfasi

18
Merupakan sarana yang disediakan sebagai penunjang kegiatan promosi yaitu
sebagai upaya perbaikan, perawatan dan pengawetan benda-benda seni yang
dipamerkan agar tidak rusak.

Fasilitas yang diperlukan adalah;


1) Fasilitas preserfasi (perawatan dan perbaikan koleksi)

2) Fasilitas konserfasi (pengawetan koleksi)

d. fasilitas pengelolaan
Merupakan sarana yang berfungsi sebagai pengendali operasional kegiatan
yang ada didalam bangunan. Fungsi pengelolaan juga ditunjang oleh fasilitas
pelayan servis dengan kebutuhan antara lain ;

1) Gedung pengelola

2) Musholah

3) Pos informasi dan keamanan

4) Area parkir

6. Teknik Penyajian
Umumnya dipakai pada ruang pmer menjabarkan bahwa penyajian dalam
ruang pamer meliputi 7 aspek (Sumadio, 1996) yaitu ;

a) Ukuran Vitrin
Ukuran vitrin tidak boleh terlalu rendah ataupun terlalu tinggi. Tinggi
rendahnya perletakan vitrin dan panil didasarkan pada tinggi rata-rata
manusia. Di Indonesia dengan tinggi rata-rata manusianya 160cm- 180cmdan
kemampian anatomi leher 300.

b) Tata Cahaya
Pengaturan cahaya tidak boleh mengganggu koleksi atau menyilaukan
pengunjung. Diusahakan agar lampu terlindung dan sumber cahaya tidak
langsung terlihat oleh pengunjung.

c) Tata Warna
warna selain mempengaruhi perasaan akan situasi ruangan dan kejiwaan juga

19
dapat menunjang kehadiran benda koleksi.

d) Tata Letak
Penyusunan objek pamer pada suatu pameran hendaknya menurut
ide/gagasan piñata pameran sehingga dapat memberikan informasi yang jelas
dan artistik. Pengaturan cahaya dan warna sangat mencapai tujuan tersebut.

e) Tata pengamanan
Pengamanan terhadap benda-benda koleksi yang dipamerkan hendaknya
menggunakan kaca vitrin dengan ketebalan 5 mm agar tahan terhadap
benturan.

f) Labeling
Merupakan sarana komunikasi memberikan informasi kepada pengunjung.

g) Foto-foto pengunjung
Foto pengunjung diperlukan untuk menjadikan koleksi lebih informative dan
diletakan didekat koleksi.

7. Sirkulasi
Sirkulasi sirkulasi dalam pameran memerlukan pengaturan yang baik
sehingga arus pengunjung berjalan secara terarah dan tidak saling bersimpang
siur. Para pengunjung diupayakan untuk dapat dinikmati karya secara teratur dan
terurut tanpa ada yang terlewat. Sumadio (1996) menjelaskan bahwa sirkulasi
ruang pamer dibedakan menjadi 2 yaitu :

a) Sirkulasi Berliku
Pola sirkulasi ini paling banyak digunakan dalam museum maupun ruang
pamer. Pola sirkulasi yang terjadi bisa bermacam-macam bentuknya, organisasi
ruang pamer dapat dilakukan secara linear horizontal maupun vertical.

b) Sirkulasi Spiral
Pola ini diterapkan oleh sebagian bangunan museum moderen, biasanya
bangunan yang lebih dari satu lantai.

20
D. Tinjaun Terhadap Arsitektur Ekpresionis

1. Arsitektur Ekspresionis
Arsitektur Ekpresionis mengacu pada gaya arsitektur yang berkembang di
dalam eropa pada permulaan abad ke 20 dan dengan luas mengacu pada desain
arsitektur dan bentuk. Arsitektur Ekspresionis pertama terjadi di Jerman sebagai
bagian dari pergerakan ekpresionisme dan juga di Belanda khususnya sekolah
Amsterdam antara .1910 dan 1925. Gaya ini di karakterisi oleh oleh awal
modernisme di adopsi dari novel-novel dan roman-roman, terkadang terlihat
sangat tidak lazim dengan menggunakan bahan dari batu bata, baja dan terutama
kaca. Pendekatan ini dikembangkan secara pararel oleh pergerakan ekspresoinis
tapi dengan kondisi ekonimi yang terbatas maka hanya ada beberpaa saja
bangunan gaya ekspresionis yang secara resmi tertulis seperti bangunan Alpine
Arsitektur yang dibangun oleh Taut’s dan Hermann Finsterlin’S yang membangun
Formspiels. Gaya bangunan ini hanya berlangsung sebentar tetapi sangat pentiing
untuk di kenang dalam periode ini.

Peristiwa penting di expressionis arsitektur adalah adanya Pameran


Werkbund pada tahun 1914 di Cologne, pada waktu terjadi perebutan kekuasan
antara jerman dan Nazi. Lalu pada tahun 1933 setelah Nazi merampas kekuasaan
di jerman gaya ekspresionis diangap tidak syah dan merosot. Walaupun begitu
terdapat juga beberapa arsitektur yang masih mempertahankan gaya
ekspresionisnya seperti arsitektur Hans Scharoun. Arsitektur Ekspresionis adalah
gaya arsitektur yang berkembang di Eropa pada permulaan abad ke 20. Pertama
kali terjadi di Jerman sebagai pergerakan ekspresionisme dan di Belanda
khususnya disekolah Amsterdam antara tahun 1910-1925.

Ekspresionisme adalah aliran yang mengutamakan curahan batin secara bebas.


Bebas dalam menggali obyek yang timbul dari dunia batin, imajinasi dan
perasaan. Obyek-obyek yang dilukiskan antara lain kengerian, kekerasan,
kemiskinan, kesedihan dan keinginan lain dibalik tingkah laku manusia. Pelopor
ekspresionisme : Vincent Van Gogh, Paul Gaugiuin, Ernast Ludwig, Karl

21
Schmidt, Emile Nolde, JJ. Kandinsky dan Paul Klee. Di Indonesia penganut ini
adalah : Affandi, Zaini dan Popo Iskandar. Contoh Lukisan bercorak Naturalisme,
Contoh Lukisan bercorak Impresionisme, karya Basoeki Abdullah karya George
Sevoat.

Ekspressionisme adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi


kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam
karya lukisan, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih
menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.
Pelukis Matthias Grünewald dan El Greco ias disebut ekspresionis.

Penganut paham ekspresionisme memiliki dalil bahwa “Art is an expression


of human feeling” atau seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia.
Aliran ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seseorang seniman
ketika menciptakan suatu karya seni. Perintis aliran ini Benedetto Croce (1866-
1952) menyatakan bahwa seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan (art is
expression of impresion). Menurut Croce ekspresi sama dengan intuisi. Intuisi
adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui pengkhayalan tentang hal-hal
individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). (sumber:The
Liang Gie, 1976:75).

Ekspresionisme juga didefinisikan sebagai kebebasan distorsi bentuk dan


warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya
dihubungkan dengan kekerasan atau tragedi. Ekspresionisme menjajagi jiwa dan
menemukan ‘ Sturm und Drang' dan pancarannya keluar merupakan media yang
baik untuk melukiskan emosinya kepada orang lain. Tokoh pelukis
Ekspresionisme di Indonesia adalah Affandi. Pengungkapan berwujud berbagai
gambaran angan-angan misalnya images warna, garis, dan kata. Mengungkapkan
bagi seseorang berarti menciptakan seni dalam dirinya tanpa perlu adanya
kegiatan jasmaniah keluar. (sumber: Soegeng Toekio, 1987:40)

Seorang tokoh lain dari aliran ini adalah Leo Tolstoy. Ia berpendapat:
“Memunculkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang seseorang telah
mengalaminya dan setelah memunculkan itu kemudian dengan perantaraan

22
pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk yang diungkapkan dalam kata-kata

memindahkan perasaan itu sehingga orang-orang lain mengalami perasaan yang


sama, ini adalah kegiatan seni.
Ciri-ciri bangunan arsitektur ekspresionis :
a) Distorsi bentuk untuk efek emosional.
b) Ekspresi simbolik atau gaya dari pengalaman batin.
c) Upaya yang dilakukan adalah untuk tercapainya arsitektur yang baru, asli,
dan visioner.
d) Menggunakan potensi kreatif
e) Konsepsi arsitektur sebagai karya seni.
f) Garis terfragmentasi
g) Bentuk organik atau biomorphic
h) Ekstensif menggunakan beton dan bata
i) Kurangnya simetri
j) Banyak karya fantastis diberikan di atas kertas tetapi tidak pernah
dibangun.

2. Sejarah Lahirnya Arsitektur Ekspresionis

Asal Mula Istilah Ekpresionisme tidak merujuk pada suatu pergerakan


tertentu. Istilah tersebut digunakan oleh Herwald Walden dalam majalahnya Der
Stum tahun 1912. Istilah ini biasa dihubungkan dengan karya lukisan dan grafis
Jerman pada perpindahan abad dan pertentangan terhadap tradisi akademik
khususnya oleh kelompok Der Bleau Reiter. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf,
memegang peran penting dalam menciptakan ekpresioisme modern dengan
mengklarifikasi dan menghidupkan aliran seni kuno yang dulu diacuhkan.
Ekpresionisme lebih umum dikenal sebagai seni yang mengekpresikan emosi
mendalam. Meskipun sebagian orang mengatakan tak semua seniman ekpresif,
umumnya proses pembuatan karya seni didasarkan pada penekanan mendalam
pada komunikasi emosional. Jenis seni macam ini kerap muncul saat terjadi
konflik sosial. Melalui tradisi seni grafis tradisional, kita dapat melihat catatan
peristiwa abad 15 di Eropa saat terjadi Reformasi Gereja, Perang petani,
pendudukan Spanyol atas Belanda, perampokan serta periode kekacauan dan

23
tekanan berkepanjangan. Secara estetis, karya ekpresionis tidaklah bagus namun
aliran ini memiliki kemampuan menggugah emosi penonton melalui drama serta
ketakutan melalui gambar yang ditampilkan.

Ekspresionis dan Arsitektur Dalam memandang arsitektur para ahli teori


seringkali membuat analogi analogi dengan menganggap arsitektur sebagai
sesuatu yang „organis‟, arsitektur sebagai „bahasa‟, atau arsitektur sebagai
„mesin‟. Secara singkat analogi-analogi yang seringkali digunakan untuk
menjelaskan arsitektur Pengertian Analogi Ekspresionis terhadap arsitektur
Analogi ekspresionis merupakan bagian dari analogi linguistik. Dalam hal ini
bangunan dianggap sebagai suatu wahana yanng digunakan arsitek untuk
mengungkapakan sikapnya terhadap proyek bangunan tersebut.

Dalam hal ini arsitek menggunakan “bahasa”nya pribadi (parole). Bahasa


tersebut mungkin dimengerti orang lain dan mungkin juga tidak. Aliran ini
merupakan salah satu aliran modern yang telah mengalami perkembangan, bukan
saja dengan menambahkan elemen-elemen dari arsitektur aliran lain. Pada aliran
modern ekspresionis ini para arsiteknya lebih bebas berekspresi, dengan
menciptakan suatu bangunan berdasarkan hasil pemikiran pribadi arsiteknya,
namun masih tetap berpegang pada prinsip modern, sehingga meskipun bangunan
tersebut memiliki identitas pribadi dari arsiteknya, bangunan tersebut masih tetap
terlihat sederhana. Bentuk geometri yang sederhana menjadi ciri khas arsitektur
modern, sedangkan ornamen-ornamennya merupakan sentuhan pribadi arsiteknya.
Penganut paham ekspresionisme memiliki dalil bahwa “Art is an expression of
human feeling” atau seni adalah suatu pengungkapan dari perasaan manusia.
Aliran ini terutama bertalian dengan apa yang dialami oleh seseorang seniman
ketika menciptakan suatu karya seni. Perintis aliran ini Benedetto Croce (1866-
1952) menyatakan bahwa seni adalah pengungkapan dari kesan-kesan (art is
expression of impresion ). Menurut Croce ekspresi sama dengan intuisi. Intuisi
adalah pengetahuan intuitif yang diperoleh melalui pengkhayalan tentang hal-hal
individual yang menghasilkan gambaran angan-angan (images). (sumber: The
Liang Gie, 1976:75).

24
Ekspresionisme juga didefinisikan sebagai kebebasan distorsi bentuk dan
warna untuk melahirkan emosi ataupun sensasi dari dalam yang biasanya
dihubungkan dengan kekerasan atau tragedy. Ekspresionisme menjajagi jiwa dan
menemukan “Sturm und Drang” dan pancarannya keluar merupakan media yang
baik untuk melukiskan emosinya kepada orang lain. Tokoh pelukis
Ekspresionisme di Indonesia adalah Affandi (Soegeng Toekio, 1987:40).
Pengungkapan berwujud berbagai gambaran angan-angan misalnya images warna,
garis, dan kata. Mengungkapkan bagi seseorang berarti menciptakan seni dalam
dirinya tanpa perlu adanya kegiatan jasmaniah keluar. Seorang tokoh lain dari
aliran ini adalah Leo Tolstoy. Ia berpendapat: “Memunculkan dalam diri sendiri
suatu perasaan yang seseorang telah mengalaminya dan setelah memunculkan itu
kemudian dengan perantaraan pelbagai gerak, garis, warna, suara atau bentuk
yang diungkapkan dalam kata-kata, memindahkan perasaan itu sehingga orang-
orang lain mengalami perasaan yang sama, ini adalah kegiatan seni. (Sumber:
Soegeng Toekio, 1987:40).

E. Studi Banding

1. Galeri nasional indonesia

Gambar II.9. Galeri Nasional Indonesia


(Sumber : [Link], 21 desember 2015)

Galeri Nasional Indonesia merupakan salah satu lembaga kebudayaan yang


berfungsi untuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan asset seni-
budaya atau karya seni rupa sebagai sarana edukasi-kultural dan rekreasi serta
pengembangan kreativitas dan apresiasi seni. Galeri Nasional Indonesia
merupakan unit pelaksana teknis (UPT) di lingkungan kementrian budaya dan
pariwisata, kedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal
Nilai Budaya, Seni dan Film, yang sehari-hari dilaksanakan oleh Direktur

25
kesenian. Galeri Nasional Indonesia memiliki tugas pokok dan fungsi
melaksanakan, pengumpulan, pendokumentasian, registrasi, analisis,
pemeliharaan, perawatan, pengamanan, penyajian, penyebarluasan informasi dan
bimbingan edukatif terhadap karya seni rupa.

Berdiri pada tanggal 8 Mei 1999. Luas tanah dan bangunan Galeri Nasional
Indonesia adalah 17.600M² terdiri dari berbagai gedung dan fasilitas penunjuang
lainnya, seperti: kantor, pameran temporer, pameran permanen (menetap),
perpustakaan, auditorium, storage, laboratorium, wisma seniman, galeri shop.
Lokasi Galeri Nasional Indonesia ini cukup strategis, yaitu berada di pusat ibukota
Indonesia (Jakarta). Galeri Nasional Indonesia bertugas melaksanakan
pengumpilan, pendokumentasian, pendaftaran, penelitian, pemeliharaan,
perawatan, pengamanan, penyajian, penyebara informasi dan bimbingan edukatif
tentang karya seni rupa. Saat ini Galeri Nasional Indonesia memiliki sekitar 1770
koleksi karya seniman Indonesia dan mancanegara.

Galeri Nasional Indonesia ini memiiliki fasilitas yang dapat memadai unutk
mendukung kegiatan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai lembaga yang
mengkoleksi karya seni rupa, pameran, dan seminar maupun pelatihan seni rupa
dalam kapasitasnya sebagai institusi resmi pemerintahan Indonesia terhadap
pelestarian nilai-nilai budaya, khususnya seni rupa.
1. Ruang pameran

Galeri Nasional Indonesia memiliki empat ruang pameran, yaitu:


a) gedung A (1.350M²)

b) gedung (2.800M²)

c) gedung C (750M²)
d) gedung D (600 M²).

Hingga saat ini luas tanah Galeri Nasional Indonesia mencapai 28.620 m.

26
Gambar II.10: R. pamer Galeri Nasional Indonesia
(Sumber : [Link], 21 desember 2015)

Masing-masing gedung/ ruang dikhususkan untuk memajang karya seni rupa


modern dan temporer, seperti: lukisan, patung, kria, grafis, fotografi, instalasi,
seni media baru, dan lain-lain.

Dalam Galeri Nasional Indonesia ini dilakukan beberpa jenis pameran seperti:
a) Pameran tetap (permanent exhibition)
menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia secara periodik
yang ditata berdasarkan konsep kuratorial dan diselenggarakan oleh Galeri
Nasional Indonesia dan waktu penyelenggaraan Pameran Tetap berlangsung
minimal 1 kali dalam satu tahun
b) Pameran temporer (temporary exhibition)
Pameran tunggal atau pameran bersama yang menyajikan karya-karya seni
rupa dalam jangka waktu tertentu yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional
Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain, [ameran ini berlangsung minimal
selama 10-30 hari.
c) Pameran keliling (ttaveling exhibition)

Pameran yang menyajikan karya-karya koleksi Galeri Nasional Indonesia


maupun karya di luar koleksi Galeri Nasional Indonesia ke berbagai daerah di
Indonesia dan atau di luar negeri yang diselenggarakan oleh Galeri Nasional
Indonesia atau kerjasama dengan pihak lain. Waktu penyelenggaraan
Pameran Keliling minimal berlangsung selama 10 hari.

2. Ruang seminar
Galeri Nasional Indonesia ini memiliki fasilitas ruang seminar (serba guna)
untuk mendukung kegiatan seminar, diskusi pembahasan karya seni rupa. Ruang
seminar ini dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC), agar suasana seminar atau

27
diskusi terasa nyaman.

3. Ruang restorasi
Pekerjaan konservasi-restorasi dilakukan pada laboratorium konservasi
dengan fasilitas penerangan lamu polikhromatis dan ultra-violet. Bersikulasi
udara, ber-AC, dan dialiri air distilasi. Laboratorium ini juga dilengkapi tabung-
tabung gelas yang berfungsi sebagai wadah atau alat ukur/ analisa, alat-alat ukur
elektronik dan computer pendukung untuk analisa dan simulasi pekerjaan teknis.
Alat mikrokopis, alat control klimotologi, ruang fumigasi serta alat pendingin
untuk membasmi jamur atau serangga juga melengkapi laboratorium ini.

Karya-karya seni rupa koleksi Galeri Nasional Indonesia sebagian besar


ditempatkan di ruang penyimpanan (storage) yang sudah dilengkapi dengan
fasilitas mesin penyejuk kayu, serta dilengkapi juga dengan alarm system sebagai
sarana pengamanannya.

4. Ruang penyimpanan karya


Karya-karya seni rupa koleksi Galeri Nasional Indonesia ini sebagian besar
ditempatkan di ruang penyimpanan (storage) yang sudah memenuhi persyaratan
penyimpanan tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas mesin penyejuk ruangan,
alat pengatur suhu udara, lemari kayu, panel geser, panel kawat dan panel kayu,
serta dilengkapi juga dengan alarm system sebagai sarana pengamannya.
2. Museum Fa Tahalila

Gambar II.11. Museum Fatahillah


( Sum ber : [Link]. com , 21 desember 2015 )

28
a. Sejarah Mu seum Fatahillah

Museum Fatahillah yang juga dikenal sebagai M useum Sejarah Jakarta atau
Museum Batavia adalah sebuah museum yang terletak di Jalan Taman Fatahillah
No. 1, Jakarta Barat dengan luas lebih dari 1.300 meter persegi. Gedung ini
dahulu adalah sebuah Bal ai Kota Batavia (bahasa Belaanda: Stadhuis van
Batavia) yang dibangun p ada tahun 1707-1710 atas perintah Gubernur Jendral
Johan van Hoor n. Bangunan itu menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri
atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangun an
sanding yang digunakan s ebagai kantor, ruang pengadilan, dan rua ng-ruang
bawah tanah yang d ipakai sebagai penjara. Pada tanggal 30 Ma ret 1974, gedung
ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah. Arsitektur bangunannya
bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik de ngan tiga lantai dengan cat k uning
tanah, kusen pintu dan jendela dari ka yu jati berwarna hijau tua. Bagian atap
utama memiliki penunjuk arah mata angin. Museum ini memiliki luas lebih dari
1.300 meter persegi. Pekarangan dengan susunan konblok, dan sebuah kolam
dihiasi beber apa pohon tua.

Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah
Jakarta, replika peninggalan masa Ta rumanegara dan Pajajaran, h asil penggalian
arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang
merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan
Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini
terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang
Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan
Ruang Batavia. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi,
numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes
(menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan
bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si
Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum
Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan
pada zaman penjajahan Belanda.

29

Anda mungkin juga menyukai