0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan23 halaman

Manfaat dan Cara Pemberian ASI Eksklusif

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai ASI eksklusif, termasuk pengertian, cara menyusui yang benar, lama dan frekuensi menyusui, jenis-jenis ASI, kandungan nutrisi ASI, tanda cukup ASI, aspek-aspek pemberian ASI eksklusif, dan manfaat pemberian ASI.

Diunggah oleh

Arisa Ca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan23 halaman

Manfaat dan Cara Pemberian ASI Eksklusif

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai ASI eksklusif, termasuk pengertian, cara menyusui yang benar, lama dan frekuensi menyusui, jenis-jenis ASI, kandungan nutrisi ASI, tanda cukup ASI, aspek-aspek pemberian ASI eksklusif, dan manfaat pemberian ASI.

Diunggah oleh

Arisa Ca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ASI Eksklusif
1. Pengertian ASI Eksklusif
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa tambahan
cairan lain baik susu formula, air putih, air jeruk atau makanan
tambahan lain sebelum mencapai usia enam bulan (Astutik, 2014).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah
persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain,
walaupun air putih sampai bayi berumur 6 bulan (Rukiyah dkk,
2011). Sedangkan menurut Maryunani (2015) ASI eksklusif yaitu
pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada umur 0-6
bulan.

2. Cara Menyusui yang Baik dan Benar


Adapun cara menyusui yang benar dan benar adalah
sebagai berikut (Maryunani, 2015):
a. Posisi ibu santai (duduk/berbaring)
b. Badan bayi menempel pada perut ibu
c. Dagu bayi menempel pada payudara
d. Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis.
e. Pegang bagian bawah payudara dengan 4 jari, ibu jari
diletakkan dibagian atas payudara.
f. Putting susu dan sebagian besar areola masuk ke mulut bayi.
g. Perhatikan kebersihan tangan dan putting susu.

3. Lama dan Frekuensi Menyusui


Lama dan frekuensi ibu menyusui adalah sebagai berikut
(Maryunani, 2015):

5
a. Sebaiknya bayi disusui setiap ia meminta (on demand), karena
bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya.
b. Ibu sebaiknya menyusui anaknya setelah merasa sudah perlu
menyusui anaknya.
c. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 15
menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2
jam.
d. Pada awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tidak
teratur dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu
kemudian.
e. Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena
isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi
selanjutnya.
f. Khusus untuk ibu yang bekerja di luar rumah, dianjurkan agar
lebih sering menyusui pada malam hari karena akan lebih
memacu produksi ASI.
g. Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara, maka
sebaiknya dilakukan pada kedua payudara secara bergantian.
h. Usahakan menyusui hingga merasa payudara terasa kosong
agar produksi ASI lebih baik.
i. Setiap kali menyusui dimulai dengan payudara yang terakhir
disusukan.

4. Jenis-Jenis ASI
Jika dilihat dari waktu produksinya, ASI dapat dibedakan
menjadi 3 jenis, yaitu (Maryunani, 2015):
a. Kolostrum
Merupakan cairan picous kental dengan warna kekuning-
kuningan dan lebih kuning dibandingkan susu yang matur.
Kolostrum juga dikenal dengan cairan emas yang encer
berwarna kuning (dapat pula jernih) dan lebih menyerupai darah

6
daripada susu karena mengandung sel hidup menyerupai sel
darah putih yang dapat membunuh kuman penyakit.
b. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi)
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum
sampai sebelum menjadi ASI yang matang/matur.
c. ASI Mature
ASI mature merupakan ASI yang dihasilkan mulai hari
kesepuluh sampai seterusnya. ASI mature merupakan nutrisi
bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan
bayi sampai usia 6 bulan.

5. Kandungan Nutrisi ASI


ASI memiliki kandungan nutrisi yang lengkap untuk bayi.
Adapun kandungan nutrisi ASI terdiri dari :
a. Lemak
Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak, yaitu sekitar 50%
kalori ASI berasal dari lemak. Kadar lemak dalam ASI antara
3,5-4,5%. Kadar lemak ASI matur dapat berbeda menurut lama
menyusui.
b. Karbohidrat
Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa yang kadarny
apaling tinggi dibandingkan susu mamalia lain (7 g%). Laktosa
mudah diurai menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan
enzim laktase yang sudah ada dalam saluran pencernaan sejak
lahir.
c. Protein
Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI
sebesar 0,99% dan sebesar 60% diantaranya adalah whey
yang lebih mudah dicerna dibandingkan kasien (protein utama
susu sapi).

7
d. Garam dan mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap. Kadarnya relatif
rendah, tetapi cukup untuk bayi sampai usia enam bulan. Total
mineral selama laktasi adalah konstan tetapi beberapa mineral
yang spesifik kadarnya bergantung pada diet dan stadium
laktasi.
e. Vitamin
ASI cukup mengandung vitamin yang diperlukan bayi,
diantaranya vitmain D, E dan K. vitamin E terdapat pada
kolostrum, vitamin K diperlukan sebagai katalisator dalam
proses pembekuan darah dan terdapat dalam ASI dalam jumlah
yang cukup, serta mudah diserap.

6. Tanda Cukup ASI


Berbagai tanda untuk mengevaluasi kecukupan pemberian
ASI, yaitu (Walyani, 2015):
a. Bayi menunjukkan keinginan dan gairah yang kuat untuk
bangun secara teratur untuk menyusu.
b. Irama hisapan yang ritmis dan teratur, bagian depan telinga bayi
akan terlihat sedikit bergerak dan ibu bisa mendengar bayinya
menghisap dan menelan ASI yang diberikan.
c. Berikan ASI selama rata-rata 15-20 menit pada masing-masing
payudara setiap menyusui.
d. Berikan ASI setidaknya 1-3 jam selama 2 bulan pertama.
e. Bayi ngompol hingga 6-8 kali menandakan masukan cairan yang
cukup.
f. Bayi tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan yang normal,
mengalami peningkatan berat badan, tinggi badan dan ukuran
lingkar kepala.
g. Memiliki tonus otot yang baik, kulit yang sehat dan warna kulit
yang sehat pula.

8
7. Aspek-Aspek Pemberian ASI Eksklusif
a. Aspek Pemahaman dan Pola Pikir
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
merekomendasikan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan,
terbukti bahwa ASI Eksklusif memang lebih unggul
dibandingkan susu formula.
b. Aspek Gizi
ASI pertama yang pertama diberikan pada bayi, yang
sering disebut kolostrum, banyak mengandung zat kekebalan,
terutama Ig A yang berfungsi melindungi bayi dari berbagai
penyakit infeksi, seperti diare. Bila kolostrum terlambat
diberikan kepada bayi, maka boleh jadi system kekebalan bayi
sedikit rapuh dan mudah terserang penyakit.
c. Aspek Imunologik
Para ahli berpendapat bahwa ASI mengandung anti-
infeksi yang bersih dan bebas kontaminasi. Kadar Ig A dalam
kolostrum cukup tinggi. Meskipun sekretori Ig A tidak diserap
oleh tubuh bayi, tetapi zat ini berfungsi melumpuhkan bakteri
patogen [Link] dan berbagai virus pada saluaran pencernaan.
Laktoferin yaitu sejenis protein yang merupakan
komponen zat kekebalan yang mengikat zat besi di saluran
pencernaan. Lysosim, enzim yang melindungi bayi terhadap
bakteri ([Link] dan Salmonela) dan virus. Jumlah lysosim dalam
ASI 300 kali lebih banyak dari pada susu sapi.
d. Aspek Psikologis
Secara psikologis, menyusui bayi mengandung tiga hal :
1) Menyusui dapat membangkitkan rasa percaya diri pada ibu
bahwa ibu mampu menyusui dengan produksi ASI yang
mencukupi kebutuhan bayi.
2) Interaksi antara ibu dan bayi.

9
3) Kontak langsung ibu dan bayi melalui sentuhan kulit mampu
memberikan rasa aman dan puas.
e. Aspek Kecerdasan
Proses pemberian ASI yang lancar memungkinkan
asupan gizi menjadi maksimal. Dengan asupan yang optimal,
ASI dapat membantu perkembangan system saraf otak yang
berperan meningkatkan kecerdasan bayi. Penelitian
menunjukkan bahwa IQ pada bayi yang diberi ASI memiliki IQ
4,3 point lebih tinggi pada usia 18 bulan, 4-6 point lebih tinggi
pada usia 3 tahun, dan 8,3 point lebih tinggi pada usia 8,5
tahun, dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI
f. Aspek Neurologis
Dengan meminum ASI, koordinasi saraf pada bayi yang
terkait aktivitas menelan, mengisap dan bernapas semakin
sempurna.
g. Aspek Biaya
Ditinjau dari sudut biaya, maka dapat disimpulkan bahwa
menyusui secara Eksklusif dapat mengurangi biaya tambahan,
yang diperlukan untuk membeli susu formula berserta
peralatannya.
h. Aspek Penundaan Kehamilan
Menyusui secara Eksklusif dapat menunda datang bulan
dan kehamilan, sehingga dapat digunakan sebagai alat
kontrasepsi alamiah yang dikenal sebagai metode amenore
laktasi (MAL) (Prasetyono, 2012).

8. Manfaat Pemberian ASI


Macam-macam manfaat pemberian ASI adalah menurut
Astutik (2014):
a. Bagi Bayi
1) Mempunyai komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bayi
yang dilahirkan.

10
2) Jumlah kalori yang terdapat dalam ASI dapat memenuhi
kebutuhan bayi sampai usia enam bulan.
3) ASI mengandung azt penlindung/antibodi yang melindungi
terhadap penyakit.
4) Dengan diberikannya ASI saja minimal sampai enam bulan,
maka dapat menyebabkan perkembangan psikomotorik bayi
lebih cepat.
5) ASI dapat menunjang perkembangan penglihatan
6) Dengan diberikannya ASI, maka akan memperkuat ikatan
batin ibu dan bayi
7) Mengurangi karies dentis dikarenakan kadar laktosa yang
sesuai dengan kebutuhan bayi
8) Mengurangi kejadian maloklusi akibat penggunaan dot yang
lama.
b. Bagi Ibu
1) Mencegah perdarahan pasca persalinan
2) Mempercepat involusi uterus
3) Mengurangi resiko anemia
4) Mengurangi resiko kanker ovarium dan payudara
5) Memberikan rasa dibutuhkan selain memperkuat ikatan batin
seorang ibu dengan bayi yang dilahirkan
6) Mempercepat kembali ke berat badan semula
7) Sebagai salah satu metode KB sementara
c. Bagi Keluarga
1) Mudah pemberiannya
2) Menghemat biaya
3) Bayi sehat dan jarang sakit
d. Bagi Negara
1) Menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi.
2) Mengurangi subsidi untuk rumah sakit

11
3) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula
4) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

B. Status Gizi
1. Definisi Gizi
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi dipengaruhi oleh
dua faktor yaitu konsumsi makanan dan kesehatan. Konsumsi
makanan dipengaruhi zat gizi dalam makanan, program pemberian
makanan dalam keluarga, kebiasaan makan, pemeliharaan
kesehatan, daya beli keluarga, lingkungan fisik dan sosial
(Supariasa, dkk dalam Wati, 2015).
Status gizi merupakan keadaan keseimbangan antara
asupan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan tubuh untuk tumbuh
kembang terutama untuk anak balita, aktifitas, pemeliharan
kesehatan, penyembuhan bagi mereka yang menderita sakit dan
proses biologis lainnya di dalam tubuh. Kebutuhan bahan makanan
pada setiap individu berbeda karena adanya variasi genetik yang
akan mengakibatkan perbedaan dalam proses metabolisme.
Sasaran yang dituju yaitu pertumbuhan yang optimal tanpa disertai
oleh keadaan defisiensi gizi. Status gizi yang baik akan turut
berperan dalam pencegahan terjadinya berbagai penyakit,
khususnya penyakit infeksi dan dalam tercapainya tumbuh
kembang anak yang optimal (Depkes RI, 2009).
Masa bayi dimulai dari usia 0-12 bulan yang ditandai dengan
pertumbuhan dan perubahan fisik yang cepat disertai dengan
perubahan dalam kebutuhan zat gizi (Notoatmodjo, 2012). Tahapan
pertumbuhan pada masa bayi dibagi menjadi masa neonatus
dengan usia 0-28 hari dan masa paska neonatus dengan usia 29
hari-12 bulan. Masa neonatus merupakan bulan pertama
kehidupan kritis karena bayi akan mengalami adaptasi terhadap

12
lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya
organ-organ tubuh, dan pada paska neonatus bayi akan mengalami
pertumbuhan yang sangat cepat (Perry & Potter, 2010).

2. Fungsi Gizi
Menurut Sediaoetama (2010), fungsi gizi bagi kesehatan
tubuh adalah:
a. Sebagai pemberi tenaga (sumber energi)
Makanan sebagai pemberi tenaga yaitu untuk
menyediakan energy yang diperlukan untuk segala aktifitas
yang dilakukan oleh tubuh, diantaranya untuk mempertahankan
proses yang dilakukan oleh organ dalam, melaksanakan
aktifitas luar, mengubah makanan yang dimakan menjadi zat
makanan yang beguna bagi tubuh, tumbuh, dan untu menjaga
agar tubuh tetap hangat.
Energi yang diperlukan diperoleh dari proses oksidasi
makanan. Diantara za makanan yang dapat berfungsi sebagai
sumber energy atau pemberian tenega yaitu karbohidrat atau
hidrat arang, lemak, dan protein atau putih telur. Dari ketiga
macam zat makanan yang dapat yang dapat memberikan
tenaga atau energy tersebut, karbohidrat merupakan sumber
utama. Dikala karbohidrat sangat kurang, yang berfungsi
sebagai sumber kedua yaitu lemak. Protein baru melakukan
fungsi sebagai sumber energy apabila karbohidrat dan lemak
tidak ada.
b. Sebagai pembangun
Makanan juga berfungsi sebagai pembangun tubuh bayi
dapat tumbuh dari berat 3 kg menjadi 5 kg karena makanan
yang dimakannya. Bagi orang dewasa, makanan yang dimakan
tiap hari membantu mempertahankan struktur tubuh, dan
mengganti sel-sel tubuh yang usang. Walaupun protein juga

13
dimasukkan ke dalam pengasil tenaga, fungsinya yang utama
adalah sebagai pembangun. Selain protein, mineral dan air juga
berperan sebagai pembangun jaringan tubuh
c. Sebagai pengatur
Fungsi makanan yang ketiga sebagai pengatur, yaitu
untuk mengetur aktifitas tubuh seperti:
1) Beredenyutnya jantung
2) Mempertahankan suhu tubuh
3) Kontrasi otot
4) Mengatur kreseimbangan air
5) Membekunya darah
6) Membuang sampah dari tubuh
Fungsi pengatur dipenuhi oleh protein, dan vitamin. Zat
makanan yang termasuk dalam golngan ini jelas membantu
terjadinya proses-proses di dalam tubuh kita. Di dalam tugasnya
sebagai zat pengatur, vitamin dan protein memerlukan air.
Penggolngan makanan berdasarkan tiga fungsi fisiologis tadi
dikenal dengan istilah Triguna Makanan.
Fungsi Macam-Macam Zat Gizi
1. Karbohidrat.
a. Fungsi karbohidrat bagi tubuh
1) Menghasilkan energi
2) Cadangan tenaga bagi tubuh
3) Memberikan rasa kenyang
4) Pemberi rasa manis pada makanan
5) Menghemat protein
6) Pengatur metabolism lemak
7) Membantu pengeluaran feses
b. Kebutuhan Karbohidrat bagi tubuh
Tinggi rendahnya aktifitas seseorang, maka akan berbeda
kebutuhan karbohidratnya. Bagi orang dewasa yang

14
bekerja tidak terlalu berat, kebutuhantubuh rata-rata akan
karbohidrat antara 8 sampai 10 gram untuk tipa kilogram
berat badan setiap hari.
2. Protein
a. Fungsi Protein Bagi Tubuh
1) Untuk membangun sel-sel jaringan tubuh manusia
2) Untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak atau aus
3) Menjaga keseimbangan asam basa pada cairan tubuh
4) Sebagai penghasil energy
5) Pembentukan ikatan-ikatan esensial tubuh
6) Mengatur keseimbangan air
7) Pembentukan antibody
8) Mengangkut zat gizi
b. Akibat Kekurangan Protein
Kekurangan konsumsi protein pada anak-anak dapat
menyebabkan terganggunya pertumbuhan badan si anak.
Pada orang dewasa kekurangan protein mempunyai gejala
yang kurang spesifik, kecuali pada keadaan yang telah
sangat parah seperti busung lapar. Busung lapar yang
banyak di derita oleh kelompok rawan gizi terutama bayi
dan balita sungguh memprihatinkan. Pemerintah dengan
beberapa program gizi telah berupaya untuk mengatasi
masalah gizi tersebut. Akibat dari kekurangan protein dapat
menyebabkan kwashiorkor. Kwashiorkor merupakan salah
satu penyakit yang timbul akibat kekurangan protein,
kwashiorkor banyak diderita oleh bayi dan anak pada usia
enam bulan sampai usia tiga tahun (Balita). Ciri Penderita
Kwashiorkor:
1) Pembengkakan pada kaki dan tangan
2) Wajah sembab, otot kendur
3) Rambut kemerahan dan mudah putus
4) Muka seperti bulan

15
Selain Kwashiorkor, Kekurangan kalori protein (KKP) dapat
terjadi baik pada bayi, anak-anak, maupun orang dewasa.
Anak-anak balita (bawah tiga tahun) serta ibu-ibu
mengandungdan ibu yang sedang menusui merupakan
golongan yang sangat rawan terhadap kekurangan protein.
Kekurangan protein sangat berdampak buruk pada
kesehatan, terutama pada masa pertumbuhan. Oleh karena
itu komposisi makanan yang mengandung protein perlu
mendapat perhatian dalam menyusun menu di dalam
keluarga.
Marasmus adalah istilah yang digunakan bagi gejala yang
timbul bila anak menderita kekurangan energi (kalori) dan
kekurangan protein. Perlu diingat bahwa penderita
kwashiorkor tidak kelihatan kurus, namun pada penderita
marasmus penderita akan terlihat sangat kurus dan
kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.
3. Lemak
a. Fungsi Lemak Bagi Tubuh
1) Penghasil energy
a) Penghasil asam lemak esensial
b) Sebagai pelarut vitamin
c) Memberi rasa kenyang
d) Menghemat protein
e) Pelumas
f) Memelihara suhu tubuh
g) Pelindung organ tubuh
b. Kebutuhan Lemak dalam Tubuh
Minyak dan lemak berperan sangat penting dalam gizi kita
terutama karena merupakan sumber energi, cita rasa, serta
sumber vitamin A, D, E, dan K. Susunan menu manusia
sangat bervariasi terutama terhadap proporsi relatif protein,

16
karbohidrat, dan lemak/minyaknya, lokasi, kebiasaan, dan
tradisi. Konsumsi lemak/minyak meskipun dapat fleksible
jumlahnya dalam diet, tetapi perlu diperhatikan akibat dari
konsumsi lemak dan minyak yang tinggi terhadap
metabolisme dan kesehatan manusia. Beberapa bahan
pangan yang tidak terserap seperti seratserat bahan pangan
yang dikenal sebagai dietary fiber dapat ikut menurunkan
kadar lemak dalam darah. Sayuran dan buahbuahan segar
mengandung serat yang tinggi. Sehingga dengan banyak
mengkonsumsi sayuran dan buah dapat membantu
menurunkan kadar lemak dalam darah. Selain itu serealia
juga dapat berfungsi menurunkan kandungan lemak dalam
darah.
Fungsi vitamin A bagi tubuh.
1) Sebagai bahan untuk membuat rodopsin yang
diperlukan dalam prosse penglihatan.
2) Untuk pemeliharaan jaringan pelapis.
3) Untuk membantu proses pertumbuhan tubuh.

3. Penilaian Status Gizi


Pada usia awal kehidupan, terjadi pertumbuhan panjang
badan yang pesat, terutama pada tahun pertama setelah lahir.
Pertambahan panjang badan paling cepat terjadi pada empat bulan
pertama kehidupan dan semakin menurun seiring bertambah usia.
Selama tahun pertama bayi akan mengalami kenaikan panjang
badan sebesar 50% dari panjang badan lahir. Pada usia 2 tahun
kenaikan panjang badan anak mencapai 75% dari panjang
badannya saat lahir, dan pada usia 48 bulan atau kenaikan panjang
badan anak mencapai 100% atau dua kali panjang badannya saat
lahir (Fikawati, 2017).

17
Pengukuran ini dilakukan secara teratur untuk memantau
pertumbuhan dan keadaan gizi balita. Balita ditimbang setiap bulan
dan dicatat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) balita sehingga dapat
dilihat grafik pertumbuhannya dan dilakukan intervensi jika terjadi
penyimpangan. Pada bayi, pengukuran berat badan dengan
menggunakan baby scale. Namun jika tidak ada, berat badan bayi
dapat diketahui dengan cara menimbang bayi bersama ibunya,
kemudian hasilnya dikurangi dengan berat badan ibunya (Rivanica,
2016).
Menurut Soekirman (2010), beberapa cara pengukuran
status gizi adalah sebagai berikut :
a. Pengukuran anthropometri
Pengukuran tubuh manusia dengan anthropometric
dipelopori oleh antropolog Amerika Serikat bernama Ales
Hrdlicka (1869-1943). Dalam anthropometric dapat dilakukan
beberapa macam pengukuran, yaitu pengukuran terhadap berat
badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan sebagainya. Dari
beberapa pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan dan
lingkar lengan sesuai dengan usia adalah yang paling sering
dilakukan dalam survei gizi. Untuk keperluan perorangan di
keluarga, pengukuran berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)
adalah yang paling dikenal. Untuk mengetahui tingkat status gizi
seorang baik tinggi, normal atau rendah, harus dibandingkan
dengan standar internasional yang ditetapkan oleh WHO.
Indikator yang sering digunakan untuk mengetahui status
gizi ada 3 macam, yaitu berat badan menurut umur yang
disimbulkan dengan BB/U, tinggi badan menurut umur
disimbulkan dengan TB/U dan kombinasi BB dan TB yang
disimbulkan dengan BB/TB. Indikator BB/U menunjukkan
secara sensitif status gizi saat ini (saat diukur) karena mudah
berubah, tetapi indikator BB/U tidak spesifik karena berat badan

18
selain dipengaruhi oleh umur juga dipengaruhi oleh tinggi
badan. Indikator TB/U menggambarkan status gizi masa lalu,
sedangkan indikator BB/TB menggambarkan secara sensitif dan
spesifik status gizi saat ini.
b. Indikator BB/U
Status gizi dapat diketahui dengan melihat berat badan
menurut umur, kemudian dibandingkan dengan standar WHO.
Kemungkinan yang terjadi adalah lebih rendah, lebih tinggi atau
normal. BB/U normal, digolongkan pada status gizi baik, BB/U
lebih rendah berarti status gizi kurang atau buruk, BB/U tinggi
berarti status gizi lebih. Status gizi kurang yang diukur dengan
indikator BB/U dikelompokkan menjadi berat badan rendah
(BBR). Menurut tingkat keparahannya, BBR dibedakan menjadi
ringan (mild), sedang (moderate) dan berat (severe). BBR
tingkat berat atau sangat berat sering disebut dengan status gizi
buruk. Di masyarakat gizi buruk pada orang dewasa disebut HO
sedangkan pada anak-anak disebut marasmus dan
kwashiorkor. Kelebihan indikator BB/U dalam penentuan status
gizi di adalah mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat
umum, sensitif untuk melihat perubahan status gizi dalam
jangka waktu pendek dan dapat mendeteksi kegemukan.
c. Indikator TB/U
Indikator TB/U dipakai untuk mengukur status gizi anak
balita umur 0-24 bulan yang pengukurannya dilakukan dengan
terlentang (tidak berdiri). Hasil pengukuran dapat digolongkan
menjadi TBnya normal, kurang dan tinggi setelah dibandingkan
dengan standar WHO. TB/U kurang disebut pendek tak sesuai
umurnya (PTSU). Hasil pengukuran TB/U menggambarkan
status gizi masa lalu, seorang yang tergolong PTSU
kemungkinan keadaan gizi masa lalu tidak baik. Indikator TB/U
dapat digunakan untuk menggambarkan riwayat keadaan gizi

19
masa lalu dan dapat dijadikan indikator keadaan sosial ekonomi
penduduk.
d. Indikator BB/TB
BB/TB merupakan indikator pengukuran antropometric
yang paling baik, karena dapat meggambarkan status gizi saat
ini dengan lebih sensitif dan spesifik. Berat badan berkorelasi
linier dengan tinggi badan, artinya perkembangan berat badan
akan diikuti oleh pertambahan tinggi badan. Oleh karena itu,
berat badan yang normal akan proporsional dengan tinggi
badannya.
Indikator BB/U dipakai di dalam kartu menuju sehat
(KMS) untuk memantau pertumbuhan anak secara perorangan.
Indikator ini digunakan karena relatif lebih mudah dalam
menentukan status gizi balita. Kartu Menuju Sehat yang
digunakan di posyandu pada dasarnya adalah penerapan
Pengukuran status gizi anak balita. Kartu menuju sehat adalah
alat yang sederhana dan murah yang digunakan untuk
memantau pertumbuhan anak dan harus selalu dibawa setiap
mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan
termasuk bidan dan dokter (Depkes, 2001).
Menurut Soekirman (2010), status gizi kelompok orang
dalam suatu survei gizi dilakukan melalui perhitungan statistik, nilai
berat badan hasil penimbangan dibandingkan dengan median dan
standar deviasi (SD) acuan WHO. Dengan rumus statistik dapat
dihitung nilai Z skor dari suatu BB/U. Nilai Z skor berkisar antara
±(1 s/d 4) SD. BB/U normal jika nilainya terletak antara -2 SD
sampai +2 SD, status gizi kurang jika nilainya <-2 SD sampai < -3
SD. Status gizi buruk jika nilainya kurang dari -3 SD. Sebaliknya
jika nilai Z skor di atas 2 SD disebut gizi lebih (gemuk) dan jika nilai
Z skor >3 SD dikatakan gemuk sekali.

20
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 920
tahun 2002 tentang klasifikasi status gizi anak balita, penentuan
gizi buruk tidak lagi menggunakan persen terhadap median,
melainkan nilai Z-score pada baku WHO-NCHS (Depkes, 2010).
Secara umum klasifikasi status gizi balita yang digunakan secara
resmi adalah seperti Tabel 1 di bawah ini:
Tabel 2.1 Klasifikasi Status Gizi Anak Balita
INDEKS STATUS GIZI AMBANG BATAS
Berat badan menurutGizi lebih > +2 SD
umur (B B/U) Gizi baik -2 SD sampai +2 SD
Gizi kurang < -2 SD sampai -3 SD
Gizi buruk < -3 SD
Tinggi badan menurutNormal -2 SD
umur (TB/U) Pendek (stunted) < -2 SD
Berat badan menurutGemuk > +2 SD
tinggi badan (BB/TB) Normal -2 SD sampai +2 SD
Kurus (wasted) < -2 SD sampai -3 SD
Kurus sekali < -3 SD
Sumber : Depkes, 2010

Pemeriksaan klinik: Penentuan status gizi secara klinik


dilakukan melalui pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk
riwayat kesehatan. Bagian tubuh yang diperiksa meliputi rambut,
kulit, gigi, bibir, lidah, mata dan alat kelamin (khusus lelaki).
Rambut, kulit dan mulut sangat rentan sebab usia sel epitel dan
mukosa tidak lama. Banyak tanda malnutrisi yang mewakili
kekurangan zat gizi tertentu, misal binti bitot yang timbul bukan
hanya karena kekurangan vitamin A, tetapi juga bisa karena iritasi
debu, asap atau infeksi mata menahun. Oleh karena itu
pemeriksaan klinis harus pula ditopang dengan uji biokimiawi serta
pemeriksaan anthropometric yang tepat. Kurang kalori protein pada
orang dewasa dan anak usia sekolah memberikan tanda-tanda
seperti penyusutan jaringan lemak bawah kulit serta pengecilan
otot. Sementara, kurang kalori protein pada anak kecil

21
menunjukkan tanda-tanda klinis seperti edema, gangguan
pigmentasi rambut dan kulit (Depkes, 2010)
Pemeriksaan laboratorik: Penentuan status gizi dengan cara
biokimiawi (laboratorik) dilakukan dengan mengukur beberapa zat
gizi yang bisa menjadi indikator untuk menentukan gangguan
akibat kurang gizi. Zat-zat tersebut antara lain: protein
viseral, albumin, transferrin serum, Thyroxine-binding prealbumin,
mengukur fungsi kekebalan, sensitivitas kulit, pengukuran protein
somatik, penilaian hematologik dan pemeriksaan hidrasi (Depkes,
2010)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi


Faktor yang secara langsung mempengaruhi status gizi
adalah asupan makan dan penyakit infeksi. Berbagai faktor yang
melatarbelakangi kedua faktor tersebut misalnya faktor ekonomi,
keluarga, produktivitas, dan kondisi perumahan (Suhardjo, 2012).
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi:
a. Faktor Langsung
1) Konsumsi Pangan
Penilaian konsumsi pangan rumah tangga atau
secara perorangan merupakan cara pengamatan langsung
dapat menggambarkan pola konsumsi penduduk menurut
daerah, golongan sosial ekonomi dan sosial budaya.
Konsumsi pangan lebih sering digunakan sebagai salah satu
teknik unuk memajukan tingkat keadaan gizi
2) Infeksi
Antara status gizi kurang dan infeksi terdapat interaksi
bolak-balik. Infeksi dapat menimbulkan gizi kurang melalui
mekanismenya. Yang paling penting adalah efek langsung
dari infeksi. Sistematik pada katabolisme jaringan

22
menyebabkan kehilangan nitrogen. Meskipun hanya terjadi
infeksi ringan sudah menimbulkan kehilangan nitrogen
b. Faktor Tidak Langsung
1) Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan sangat menentukan pola
makan yang dibeli. Dengan uang tambahan, sebagian
besar pendapatan tambahan itu untuk pembelanjaan
makanan. Pendapatan merupakan faktor yang paling
penting untuk menentukan kualitas dan kuantitas
makanan, maka erat hubungannya dengan gizi. Arti
pendapatan dan manfaatnya bagi keluarga: a)
Peningkatan pendapatan berarti memperbesar dan
meningkatkan pendapatan golongan miskin untuk
memperbaiki gizinya. Pendapatan orang-orang miskin
meningkat otomatis membawa peningkatan dalam jumlah
pembelanjaan makanan untuk keluarga
2) Pengetahuan Gizi
Pengetahuan tentang gizi adalah kepandaian
memilih makanan yang merupakan sumber zat-zat gizi
dan kepandaian dalam mengolah bahan makanan yang
akan diberikan. Pengetahuan tentang ilmu gizi secara
umum dapat bermanfaat dalam sikap dan perlakuan
dalam memilih bahan makanan. Dengan tingkat
pengetahuan gizi yang rendah akan sulit dalam
penerimaan informasi dalam bidang gizi, bila
dibandingkan dengan tingkat pengetahuan gizi yang baik.
Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman diri
sendiri maupun orang lain. Status gizi yang baik adalah
penting bagi kesehatan setiap orang, termasuk ibu hamil,
ibu menyusui dan anaknya. Setiap orang akan
mempunyai gizi yang cukup jika makanan yang kita

23
makan mampu menyediakan zat gizi yang cukup
diperlukan tubuh. Pengetahuan gizi memegang peranan
yang sangat penting di dalam penggunaan dan pemilihan
bahan makanan dengan baik, sehingga dapat mencapai
keadaan gizi seimbang
3) Pendidikan
Suatu proses penyampaian bahan atau materi
pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan
(anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku
(tujuan). Pendidikan itu adalah suatu proses, maka
dengan sendirinya mempunyai masukan dan keluaran.
Masukan proses pendidikan adalah sasaran pendidikan
atau anak didik yang mempunyai karakteristik,
sedangkan keluaran proses pendidikan adalah tenaga
atau lulusan yang mempunyai kualifikasi tertentu sesuai
dengan tujuan institusi yang bersangkutan.
Menurut penelitian Locitasari (2015) tentang
Perbedaan Pertumbuhan Bayi Usia 0-6 Bulan yang diberi
ASI Eksklusif dengan yang diberi Susu Formula di
Kecamatan Ngawi. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian
didapatkan bayi dengan pertumbuhan baik yang diberi ASI
eksklusif berjumlah 18 (85,7%) bayi dan yang diberi susu
formula berjumlah 11 (52,4%) bayi, sedangkan bayi dengan
pertumbuhan tidak baik yang diberi ASI eksklusif berjumlah 3
(14,3%) bayi dan yang diberi susu formula berjumlah 10
(47,6%) bayi. Didapatkan nilai Chi Square hitung sebesar
5.459 dan nilai p = 0,019 yang berarti bahwa p < 0,05.
Sementara nilai OR didapatkan 5.45. Kesimpulan: Terdapat
perbedaan pertumbuhan bayi usia 0-6 bulan yang diberi ASI
eksklusif dengan yang diberi susu formula di Kecamatan
Ngawi. Bayi yang mendapat susu formula memiliki resiko 5 x

24
lebih besar mengalami pertumbuhan yang tidak baik pada
bayi usia 0-6 bulan dibandingkan dengan bayi yang
mendapat ASI.
Hasil penelitian Wati (2015) tentang perbedaan status
gizi bayi yang diberi ASI eksklusif dengan tidak ASI eksklusif.
Desain penelitian menggunakan komparatif dan teknik quota
sampling dengan jumlah 40 responden. Pengumpulan data
dengan wawancara dan observasi. Hasil uji statistik
menemukan hampir seluruh 37 responden (92,5%) memiliki
status gizi normal. Hasil analisa dengan menggunakan uji t
tes didapatkan t hitung = 0,028 sedangkan pada t hitung
dengan db 38 terletak pada α 5% = 2,042. Jadi nilai t hitung
< t table, sehingga dapat disimpulkan Ho diterima, artinya
tidak ada perbedaan antara status gizi bayi yang diberi ASI
eksklusif dengan ASI tidak eksklusif di Puskesmas Tarokan
Kabupaten Kediri. Hal ini dapat terjadi karena status gizi
tidak hanya dipengaruhi oleh pemberian ASI saja, melainkan
ada faktor lain seperti kecukupan mengkonsumsi makanan,
keadaan kesehatan bayi, pendidikan orang tua, faktor
ekonomi orang tua.
Penelitian Karuniawati (2016) tentang perbedaan
status gizi bayi berumur 4–6 bulan yang diberikan ASI
eksklusif dengan yang tidak diberikan ASI eksklusif.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional
analitik dengan pendekatan cross sectional. Sejumlah 80
bayi berusia 4-6 bulan diambil dengan teknik purposive
sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square.
Hasil penelitian didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05) yang
artinya terdapat perbedaan signifikan antara status gizi bayi
berumur 4–6 bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan
yang tidak diberikan ASI eksklusif. Diperoleh dari 40 bayi

25
yang diberikan ASI eksklusif mempunyai status gizi lebih
baik dibandingkan dengan tidak berikan ASI eksklusif. Status
gizi buruk lebih banyak ditemukan pada kelompok bayi yang
tidak diberikan ASI eksklusif. Terdapat perbedaan status gizi
bayi berumur 4–6 bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan
yang tidak diberikan ASI eksklusif.

C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian ini adalah suatu uraian dan

visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep

yang lainnya,atau antara variabel yang satu dengan variabel yang lain

dari masalah yang ingin ditelitii (Notoatmodjo, 2012). Kerangka

konsep pada penelitian ini terdiri dari status gizi balita 1-5 tahun yang

diberi ASI eksklusif dan status gizi bayi yang tidak diberi ASI eksklusif.

Bagan 1
Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen

ASI Eksklusif

Status Gizi
Tidak ASI
Eksklusif

1. Asupan zat gizi:


- Energi
- Protein
- Lemak
- Karbohidrat
2. Berat badan lahir
3. Pekerjaan
4. Status ekonomi

26
Definisi Operasional
No Variabel Definisi Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala
ukur
1 ASI Pemberian ASI saja Wawancara Kuesioner 1. Ya: bila bayi Nominal
tanpa makanan atau diberi ASI saja
Eksklusif
minuman lain sampai 2. Tidak: jika bayi
bayi usia 6 bulan diberi makanan/
minuman lain selain
ASI
2 Status Hasil dari Observasi Tabel z- 1. Baik: -2 SD s.d 2 Nominal
keseimbangan antara score SD (gizi baik)
gizi
asupan gizi dengan 2. Kurang baik: bila
kebutuhan gizi yang
< -2SD atau >
dibutuhkan oleh balita
selama masa 2SD
pertumbuhannya.
3 Asupan Banyaknya makanan Wawancara Kuesioner 1. Baik: > 100% Nominal
dan minuman yang AKG
zat gizi
dikonsumsi untuk 2. Kurang: < 100%
memenuhi kebutuhan AKG
zat gizi dalam satu
hari
4 Berat Berat badan bayi Wawancara Kuesioner 1. Normal: bila Ordinal
badan pada saat dilahirkan berat badan >
lahir 2.500 gr
2. BBLR: bila berat
badan < 2.500 gr
5 Pekerjaan Sesuatu yang Wawancara Kuesioner 1. Ya: bila ibu Nominal
dikerjakan ibu untuk bekerja
mendapat upah/uang 2. Tidak: bila ibu
sebagai IRT
6 Status Pendapatan keluarga Wawancara Kuesioner 1. Tinggi: bila Ordinal
ekonomi untuk memenuhi penghasilan
kebutuhan dalam keluarga > UMR
jangka waktu tertentu (Rp. 2.840.453).
2. Rendah: bila
penghasilan
keluarga < UMR
(Rp. 2.840.453).

27

Anda mungkin juga menyukai