BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Atropine Sulfat adalah garam sulfat dari atropin, alkaloid yang
terbentuk secara alami yang diisolasi dari tanaman Atropa belladonna.
Atropin berfungsi sebagai antagonis kompetitif dan simpatik dari reseptor
kolinergik muskarinik, dengan demikian menghilangkan efek stimulasi
parasimpatis. Agen ini dapat menyebabkan takikardia, menghambat
sekresi, dan mengendurkan otot polos.
Atropin merupakan agen preanestesi yang digolongkan sebagai
antikolinergik atau parasimpatolitik. Atropin sebagai prototip
antimuskarinik mempunyai kerja menghambat efek asetilkolin pada syaraf
postganglionik kolinergik dan otot polos. Hambatan ini bersifat reversible
dan dapat diatasi dengan pemberian asetilkolin dalam jumlah berlebihan
atau pemberian antikolinesterase. (Achmad, 1986)
Atropin dapat menimbulkan beberapa efek, misalnya pada susunan
syaraf pusat, merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak,
menghilangkan tremor, perangsang respirasi akibat dilatasi bronkus, pada
dosis yang besar menyebabkan depresi nafas, eksitasi, halusinasi dan lebih
lanjut dapat menimbulkan depresi dan paralisa medulla oblongata. Efek
atropin pada mata menyebabkan midriasis dan siklopegia. Pada saluran
nafas, atropin dapat mengurangi sekresi hidung, mulut dan bronkus. Efek
atropin pada sistem kardiovaskuler (jantung) bersifat bifasik yaitu atropin
tidak mempengaruhi pembuluh darah maupun tekanan darah secara
langsung dan menghambat vasodilatasi oleh asetilkolin. Pada saluran
pencernaan, atropin sebagai antispasmodik yaitu menghambat peristaltik
usus dan lambung, sedangkan pada otot polos atropin mendilatasi pada
saluran perkencingan sehingga menyebabkan retensi urin (Hidayat, 2005)
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan senyawa atropine?
2. Apa saja reaksi dari sintesis senyawa atropine?
3. Apa manfat dari senyawa atropine?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan senyawa atropine.
2. Untuk mengetahui apa saja reaksi dari sintesis senyawa atropine.
3. Untuk mengetahui apa saja manfaat dari senyawa atropine.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Atropin.
Atropin adalah senyawa berbentuk kristal putih, rasa sangat pahit, titik
lebur 115° dan terdiri dari amine antimuscarinic tersier. Atropin
merupakan antagonis reseptor kolinergik yang diisolasi dari Atropa
belladona L, Datura stramonium L dan tanaman lain dari family
Solanaceae. (mursidi,1989)
Senyawa atropine juga memiliki beberapa nama lain yaitu
ATROPINE, dl-Hyoscyamine, Tropine tropate, Atropen memiliki berat
molekul yaitu 289.4 g/mol dan memiliki nama IUPAC [(1S,5R)-8-methyl-
8-azabicyclo[3.2.1]octan-3-yl] 3-hydroxy-2-phenylpropanoate.
Atropin juga adalah rasemat yang terdiri dari konsentrasi equimolar
(S) - dan (R) -atropin. Ini diperoleh dari tumbuhan malam yang mematikan
(Atropa belladonna) dan tanaman lain dari keluarga Solanaceae. Ini
memiliki peran sebagai antagonis muskarinik, adjuvan anestesi, obat anti-
aritmia, agen mikrodatik, parasimpatolitik, agen bronkodilator, metabolit
tanaman, dan penangkal keracunan sarin. Ini berisi (S) -atropine dan (R) -
atropine.
Senyawa atropin ini dihasilkan dari tanaman kecubung (datura
metel,linn.) yang mempunyai taksonomi tanaman sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Solanales
Familia : Solanaceae
Genus : Datura
Spesies : Datura metel
Sinonim : Datura fastuosa, Linn. D. alba, Ness. D. fastuosa,
Linn. Var alba [Link]. Daturae folium, Hindu
datura, Datura sauveolens, Datura stramonium,
Hyoscyamus niger,Black Henbane, Devil's
Trumpet, Metel, Downy Thorn-Apple.
Nama Lokal : Kecubung (Jawa, Sunda), Kacobhung (Madura),
Bemebe (Madura), Bulutube (Gorontalo),
Taruapalo (Seram), Tampong-tampong (Bugis),
Kecubu (Halmahera, Ternate), Padura (Tidore),
Karontungan, Tahuntungan (Minahasa).
Nama Melayu : Kechubung, Terung pengar, Terung pungak.
(steenis, 1982)
Salah satu genus dari famili solanaceae yaitu datura yang juga dikenal
dengan kecubung merupakan salah satu genus yang tersebar luas di
Indonesia, terutama di daerah yang beriklim kering, biasanya sebagai
tumbuhan liar di tempat terbuka pada tanah berpasir yang tidak begitu
lembab, dari dataran rendah sampai 800 m di atas permukaan laut (Steenis,
1985). Tumbuhan ini sangat berpotensi untuk dikembangkan, karena
tumbuhan ini menghasilkan berbagai jenis senyawa kimia yang memiliki
aktivitas biologi di antaranya adalah Mengandung 0,3-0,43% alkaloid, ±
85% saopolamine, dan 15% hyosciamine dan atropin, tergantung dari
varietas, lokasi dan musim. Isolasi dari alkaloidnya terdapat senyawa metil
kristalin yang mempunyai efek relaksan pada otot lurik (otot gerak).
Perbanyakan tanaman ini dengan melalui biji dan stek. (Anonim, 1985)
Kecubung (Datura metel L.) sangat terkenal sebagai obat untuk
berbagai penyakit. Selain hampir semua bagian tanaman kecubung dapat
diracik untuk obat , tapi yang banyak digunakan adalah daunnya (widayati,
1992). Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa daun kecubung
mengandung alkaloida atropina yang dapat di gunakan dalam pengobatan
dengan memanfaatkan senyawa-senyawa atropin yang dilaporkan
memiliki berbagai aktifitas biologis yang menarik, seperti di antaranya
dapat di gunakan sebagai antiasmatik (gibbs, 2000), antireumatik (anonim,
2006), antispasmodik, mydriasis dan cyclopedia pada mata (jones,
1987),analgetik (anonim, 2004), antitusif dan antidote untuk keracunan
organophosphor.
Selain digunakan sebagai tanaman obat, kecubung ( datura
metel.,linn) juga dapat di gunakan untuk mengobati ketombe dengan cara
mencampur 7 helai daun Kecubung (kering) dan 5 sendok makan minyak
kelapa, di masukkan dalam botol dan di tutup, kemudian di panaskan di
bawah sinar matahari selama 7 hari.
Atropin dan kebanyakan obat-obat antimuskarinik tersier diabsorbsi
dengan baik dari usus dan dapat menembus membrane konjuktiva.
Reabsobsinya diusus cepat dan lengkap, seperti alkaloida alamiah lainnya,
begitu pula dari mukosa. Reabsorbsinya melalui kulit utuh dan mata tidak
mudah. (Jay dan Kirana, 2002)
Atropin dan senyawa tersier lainnya didistribusikan meluas kedalam
tubuh setelah penyerapan kadar tertentu dalam susunan saraf pusat (SSP)
dicapai dalam 30 menit sampai 1 jam, dan mungkin membatasi toleransi
dosis bila obat digunakan untuk memperoleh efek perifernya.
Didistribusikan keseluruh tubuh dengan baik.
Atropin cepat menghilang dari darah setelah diberikan dengan massa
paruh sekitar 2 jam kira-kira 60% dari dosis diekskresikan kedalam urine
dalam bentuk utuh. Sisanya dalam urine kebanyakan sebagian metabolit
hidrolisa dan konjugasi. Efeknya pada fungsi parasimpatis pada semua
organ cepat menghilang kecuali pada mata. Efek pada iris dan otot siliaris
dapat bertahan sampai 72 jam atau lebih. Spesies tertentu, terutama kelinci
memiliki enzim khusus satropin esterase yang membuat proteksi lengkap
terhadap efek toksik atropine dengan mempercepat metabolisme obat.
Ekskresinya melalui ginjal, yang separuhnya dalam keadaan utuh. Plasma
t1/2 nya 2-4 jam. (Betram, 2004)
B. Reaksi Sintesis Atropin
Atropin dapat disintesis oleh reaksi tropin dengan asam tropic dengan
adanya asam klorida.
Biosintesis mulai dari I-fenilalanin pertama-tama mengalami
transaminasi membentuk asam fenilpiruvat yang kemudian direduksi
menjadi asam fenil-laktat. Koenzim A kemudian memasangkan asam
fenil-laktat dengan tropin pembentuk littorine, yang kemudian mengalami
penataan ulang radikal yang dimulai dengan enzim P450 yang membentuk
enzim hyoscyamine aldehyde. Dehidrogenase kemudian mereduksi
aldehida menjadi pembuatan alcohol primer (-)-hyoscyamine, yang setelah
rasemisasi membentuk atropine.
C. Manfaat Atropin
Atropin, alkaloid belladonna yang terjadi secara alami, adalah
campuran rasemat dari bagian yang sama dari d dan l-hyoscyamine, yang
aktivitasnya hampir seluruhnya disebabkan oleh isomer levo obat. Atropin
umumnya diklasifikasikan sebagai obat antikolinergik atau
antiparasimpatetik (parasimpatolitik). Namun, lebih tepatnya, ini disebut
agen antimuskarinin karena ia memusuhi aksi seperti asetilkolin dan ester
kolin seperti muskarinik. Dosis atropin yang memadai menghapuskan
berbagai jenis refleks jantung vagal yang melambat atau asistol. Obat ini
juga mencegah atau menghapuskan bradikardia atau asistol yang
dihasilkan dengan injeksi ester kolin, agen antikolinesterase atau obat
parasimpatomimetik lainnya, dan henti jantung yang dihasilkan oleh
stimulasi vagus. Atropin juga dapat mengurangi tingkat blok jantung
parsial ketika aktivitas vagal merupakan faktor etiologis. Atropin dalam
dosis klinis melawan dilatasi perifer dan penurunan tekanan darah secara
tiba-tiba yang dihasilkan oleh ester kolin. Namun, ketika diberikan dengan
sendirinya, atropin tidak memberikan efek yang mencolok atau seragam
pada pembuluh darah atau tekanan darah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Atropin adalah senyawa berbentuk kristal putih, rasa sangat pahit, titik
lebur 115° dan terdiri dari amine antimuscarinic tersier. Atropin
merupakan antagonis reseptor kolinergik yang diisolasi dari Atropa
belladona L, Datura stramonium L dan tanaman lain dari family
Solanaceae.
Nama lain yaitu ATROPINE, dl-Hyoscyamine, Tropine tropate,
Atropen memiliki berat molekul yaitu 289.4 g/mol dan memiliki nama
IUPAC [(1S,5R)-8-methyl-8-azabicyclo[3.2.1]octan-3-yl] 3-hydroxy-2-
phenylpropanoate.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad.S. A. 1989. Analisis Metabolit Sekunder. UGM press. yogyakarta.
Amrun Hidayat. M. 2005. Alkaloid Turunan Triptofan. (di akses tanggal 8 juni
2009). http//[Link]/[Link]
Anonim. 1985. Tanaman obat Indonesia jilid II. Depkes RI. Jakarta.
Anonim. 2004. Kecubung pereda sakit haid. http//[Link] [Link]/cyber
news/sehat/obat alami/obat-alami 15. Html.
Anonim. 2006. Pharmaceutical care untuk pasien penyakit arthritis rematik.
Depkes RI. Jakarta.
Betram. G. katzung. 2004. Farmakologi dasar dan klinik. EGC. Jakarta.
[Link]. 2000. State of the art;therapeutic
controversies in severe acute asthma. Acad emerg,med.
Jay,than hoon dan kirana,raharja. 2002. Obat-obat penting. Gramedia Jakarta.
Jones DB. 1987. Fungal keratitis,in clinical ophthalmology, vol 4. Harper & row.
Philadelphia.
Mursyidi, achmad. 1989. Analisis metabolit sekunder. UGM. Yogyakarta.
National Center for Biotechnology Information. PubChem Database. Atropine,
CID=174174, [Link]
Hyoscyamine (accessed on Dec. 15, 2019)
Sri widayati. 1992. Skrining fitokimia dan penetapan kadar alkaloid total daun
kecubung (datura metel linn) dengan pengeringan lazim pada saat
berbunga. Skripsi. FF UGM. Yogyakarta.
Wikipedia., Atropin., [Link] (Diakses pada
tanggal 15 desemmber 2019)
ATROPIN
DISUSUN OLEH:
NAMA : FAHRIANI
KELAS : KONVERSI D
NIM : 516 19 011 173
JURUSAN FARMASI
UNIVERSITAS PANCASAKTI MAKASSAR
2019/2020