3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengujian Metalografi
Menurut Van Der Voort (1988), metalografi adalah salah satu ilmu tentang
logam yang mempelajari dan menyajikan struktur mikro maupun topografi logam,
fasa-fasa, ukuran butir dan distribusinya, serta sifat-sifat logam serta paduannya
dengan menggunakan peralatan mikroskop. Metalografi merupakan pengujian dan
pengamatan terhadap strukutur butir suatu logam. Dalam pengamatan secara
metalografi dapat diperoleh gambaran struktur butiran suatu logam. Pengujian
metalografi harus menggunakan bantuan dari mikroskop optik.
Sedangkan menurut Avner (1964), Metalografi adalah suatu ilmu yang
mempelajari tentang struktur makro dan mikro dari suatu logam, bisa juga diartikan
sebagai ilmu yang mempelajari tentang sifat mekanik dan sifat fisik dari suatu
material atau logam. Secara umum, metalografi merupakan disiplin ilmu yang
mempelajari karakteristik mikrostruktur suatu logam dan paduan logam.
Metalografi menjadi sebuah studi struktur fisik dan komponen logam yang
menggunakan mikroskop untuk mengetahui perkiraan sifat-sifat fisik dengan
mengenali ciri khusus mikronya[2]. Metalografi merupakan gambaran mikro pada
permukaan logam yang sudah dipreparasi.
Uji Metalografi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk memperoleh
gambar yang menunjukan struktur mikro sebuah logam atau paduan. Melalui Proses
4
ini kita dapat mengetahui struktur dari suatu logam atau paduan dengan
memperjelas batas-batas butir logam sehingga dapat langsung dilihat dengan
menggunakan mikroskop dan diambil gambarnya. Pengujian metalografi
dimaksudkan untuk melihat perubahan struktur pada sebuah logam atau paduan
setelah dilakukan pengelasan dari logam murni[3]. Ada beberapa metode yang
dipakai yaitu: mikroskop (optik maupun elektron), difraksi ( sinar-X, elektron dan
neutron), analasis (X-ray fluoresence, elektron mikroprobe) dan juga stereometric
metalografi[4]. Analisis metalografi secara kuantitatif merupakan pengujian yang
cukup penting dalam proses fabrikasi suatu logam karena dapat digunakan untuk
menentukan fasa yang terbentuk, kekompakan struktur, ukuran butir, dan berbagai
karakteristik fisis lainnya[5]. Pengamatan metalografi dengan mikroskop umumnya
dibagi menjadi dua, yaitu[5]:
1. Metalografi makro, yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran 10 –
100 kali.
2. Metalografi mikro, yaitu pengamatan struktur dengan perbesaran di atas
100 kali.
2.2 Struktur Mikro
Struktur mikro adalah gambaran dari kumpulan fasa-fasa yang dapat
diamati melalui teknik metalografi. Struktur mikro suatu logam dapat dilihat
dengan menggunakan mikroskrop. Pengujian struktur mikro yang menggunakan
Micro Hardenes Tester dengan pembesaran foto diperoleh dari perkalian lensa
obyektif dan okuler. Lensa obyektif yang dipakai 10x, lensa okuler 10x sehingga
5
perbesaran bisa mencapai 100x. Pada jarak 10 setrip pada foto untuk perbesaran
100x adalah 100 µm.
2.3 Struktur Logam
Dalam keadaan padat logam mempunyai bentuk kristal, dan atom-atom
tersusun mengikuti pola geometri tertentu sewaktu membeku. Sedangkan pada saat
kristal yang satu bertemu dengan kristal lainnya yang sedang tumbuh, pertumbuhan
kedua kristal tersebut terhenti dan permukaan singgungnya disebut batas butir.
Butir logam dapat dilihat dengan bantuan mikroskop setelah permukaan logam
tersebut dihaluskan, dipoles dan dietsa dengan asam tertentu yang dapat
menampilkan batas-batas butir. Kekerasan maupun ukuran butir tergantung pada
jenis dan paduan logam itu sendiri.
Dalam suatu logam terdapat gambaran dari kumpulan fasa-fasa yang dapat
diamati yang disebut dengan struktur mikro logam. Untuk melihat struktur mikro
tersebut ada sebuah pengujian yang sering digunakan yaitu metalografi.
Metalografi ini bisa digunakan untuk melihat struktur mikro serta fasa-fasa yang
terbentuk didalamnya. Fasa yang akan terbentuk dipengaruhi oleh temperatur
pemanasan dan kandungan karbon pada logam tersebut tersebut. Adapun fasa yang
akan terbentuk adalah sebagai berikut:
a. Ferit (α – iron)
Merupakan struktur besi pada temperatur ruang, ferit lunak dan mudah
dibentuk, biasanya dikomersialkan dalam bentuk murni. Memiliki kekuatan
tarik hingga 45000 psi dan pada temperature dibawah 767 ℃ bersifat
6
ferromagnetic. Ferit memiliki kelarutan yang rendah terhadap karbon. Ferit
memiliki sel satuan atom BCC (Body Center Cubic).
b. Austenit (γ – iron)
Merupakan fasa stabil besi pada temperatur antara 910 – 1400 ℃.
Austenit juga lunak dan mudah dibentuk sehingga sangat cocok untuk
proses fabrikasi seperti fogging dan rolling. Memiliki kelarutan yang cukup
baik pada karbon yaitu 2 % dan bersifat paramagnetic.
c. δ – iron
Merupakan fasa stabil besi pada suhu diatas 1400℃ dan memiliki
struktur kristal BCC (Body Center Cubic). Sifatnya hampir sama dengan
ferite dan sangat sedikit larut dalam karbon namun msih lebih baik
dibandingkan dengan ferit.
d. Sementit ( Fe3C )
Strukturnya ortorombik dan mengandung 6,67% karbon. Jika
dibandingkan dengan astenite dan ferit, sementit sangat keras dan tetapi
getas karena adanya Fe3C dan ferit.
e. Fe – C Eutectoid
Jika Fe – C eutectoid diturunkan temperaturnya maka akan terbentuk
ferrit dan Fe3C yang berasal dari austenit pada komposisi eutectoid.
Mikrostruktur yang terbentuk berupa lamellar dan biasa disebut Pearlite,
merupakan kondisi yang paling diinginkan pada pembuatan baja.
2.4 Macam-Macam Mikroskop dan Penggunaannya
Mikroskop alat yang sering digunakan peneliti untuk melihat benda yang
7
berukuran kecil atau struktur dari material. Model mikroskop yang bermacam-
macam menjadikan cara penggunaan yang berbeda sehingga perlu adanya ulasan
tentang alat ini. Tulisan ini menyajikan cara kerja mikroskop optik, Scanning
Electron Microscopy (SEM), dan Transmition Electron Microskopy (TEM) serta
cara membuat spesimen yang digunakan untuk TEM[5]. Berikut penjelasan dari
masing-masing mikroskop.
2.4.1 Mikroskop Optik
Mikroskop optik mempunyai bagian-bagian seperti Gambar 2.1
dibawah ini:
Eye or Camera
Eyepiece
Virtual Image Formed by Eyepiece
Objective Lens
Object Plane Specimen
Condensor Lens
Lamp Filament
Gambar 2.1 Skematik Mikroskop Optik[6]
Cara kerja dari mikroskop optik adalah dari cahaya lampu yang
dibiaskan oleh lensa kondensor, setelah melewati lensa kondensor sinar
mengenai spesimen dan diteruskan oleh lensa objektif. Lensa objektif
ini merupakan bagian yang paling penting dari mikroskop karena dari
8
lensa ini dapat diketahui perbesaran yang dilakukan mikroskop. Sinar
yang diteruskan oleh lensa objektif ditangkap oleh lensa okuler dan
diteruskan pada mata atau kamera. Pada mikroskop ini mempunyai
batasan perbesaran yaitu dari 400 X sampai 1400 X.
2.4.2 Mikroskop Scanner Electron
Scanning electron microscope atau mikroskop pemindai elektron
adalah sebuah mikroskop elektron yang digunakan untuk menyelidiki
permukaan dari objek solid secara langsung[6]. Pada mikroskop ini dapat
dilakukan perbesaran 10-300000x. Adapun cara kerja dari mikroskop
scanning electron adalah sinar dari lampu dipancarkan pada lensa
kondensor, sebelum masuk pada lensa kondensor ada pengatur dari
pancaran sinar elektron yang ditembakkan. Sinar yang melewati lensa
kondensor diteruskan lensa objektif yang dapat diatur maju mundurnya.
Sinar yang melewati lensa objektif diteruskan pada spesimen yang
diatur miring pada pencekamnya, spesimen ini disinari oleh deteksi x-
ray yang menghasikan sebuah gambar yang diteruskan pada layar
monitor. Adapun hasil pengamatan yang dihasilkan dapat dilihat pada
Gambar 2.2 berikut.
Gambar 2.2 Hasil Pengamatan dengan SEM[6]
9
2.4.3 Mikroskop Transmission Electron
Cara kerja dari mikroskop ini adalah diterangkan elektron
ditembakkan dari electron gun yang kemudian melewati oleh dua lensa
kondensor yang berguna menguatkan dari elektron yang ditembakkan.
Setelah melewati dua lensa kondensor elektron diterima oleh spesimen
yang tipis dan berinteraksi, karena spesimen tipis maka elektron yang
berinteraksi dengan spesimen diteruskan pada tiga lensa yaitu lensa
objektif, lensa intermediate dan lensa proyektor. Lensa objektif
merupakan lensa utama dari TEM karena batas penyimpangannya
membatasi dari redolusi mikroskop, lensa intermediate sebagai penguat
dari lensa objektif dan untuk lensa proyektor gunanya untuk
menggambarkan pada layar flourescent yang ditangkap film fotografi
atau kamera CCD. Pada mikroskop transmission electron,skematik dari
mikroskop ini dapat dilihat pada Gambar 2.3.
Accelator
Electron gun
1st Condensor Lens
Spesimen 2nd Condensor Lens
Objective Lens
Intermediate Lens
Projector Lens
Flourescent
Screen
Photographic Film
CCD Camera
Gambar 2.3 Skematik TEM[6]
10
2.5 Tahapan Kerja Preparasi
Sebelum dilakukan pengamatan mikrostruktur dengan mikroskop maka
diperlukan preparasi sampel terlebih dahulu. Semakin sempurna preparasi sampel
maka semakin jelas gambar struktur mikro yang diperoleh. Adapun tahap preparasi
metalografi secara umum antara lain:[7]
2.5.1 Penentuan Wilayah Sampel ( Sampling)
Tahapan kerja preparasi benda uji yang pertama adalah penentuan
wilayah sampel dari benda yang diuji,sampel ini harus bersifat representatif.
Dalam pemotongan dan pengambilan sampel, perlu diperhatikan wilayah
daerah kerja sampel yang akan diamati yang biasanya disebut sebagai
bidang orientasi dasar, yaitu:[7]
a. Bidang transversal adalah bidang yang tegak lurus terhadap arah
sumbu deformasi panas.
b. Bidang planar adalah bidang yang sejajar dengan sumbu
pengerjaan dan memiliki luas permukaan yang paling besar dan
yang paling sering bersinggungan dengan rol.
c. Bidang longitudinal adalah bidang yang tegak lurus terhadap
bidang planar dan sejajar dengan arah pengerjaan.
Pemilihan sampel yang tepat dari suatu benda uji studi mikroskop
optik merupakan hal yang sangat penting. Pemilihan sampel tersebut
didasarkan pada tujuan pengamatan yang hendak dilakukan. Pengambilan
sampel harus direncanakan sedemikian sehingga menghasilkan sampel
yang sesuai dengan kondisi rata-rata bahan atau kondisi di tempa-tempat
tertentu (kritis) dengan memperhatikan kemudahan pemotongan pula.
11
2.5.2 Pemotongan (Cutting)
Pemilihan sampel yang tepat dari suatu benda uji studi mikroskop
optik merupakan hal yang sangat penting. Pemilihan sampel tersebut
didasarkan pada tujuan pengamatan yang hendak dilakukan. Pada umumnya
bahan komersial tidak homogen sehingga satu sampel yang diambil dari
suatu volume besar tidak dapat dianggap representatif. Pengambilan sampel
harus direncanakan sedemikian sehingga menghasilkan sampel yang sesuai
dengan kondisi rata-rata bahan atau kondisi ditempat-tempat tertentu (kritis)
dengan memperhatikan kemudahan pemotongan pula. Secara garis besar,
pengambilan sampel dilakukan pada daerah yang akan diamati
mikrostruktur maupun makrostrukturnya. Sebagai contoh untuk
pengamatan mikrostruktur material yang mengalami kegagalan, maka
sampel diambil sedekat mungkin pada daerah kegagalan (pada daerah kritis
dengan kondisi terparah), untuk kemudian dibandingkan dengan sampel
yang diambil dari daerah yang jauh dari daerah gagal. Perlu diperhatikan
juga bahwa dalam proses memotong, harus dicegah kemungkinan deformasi
dan panas yang berlebihan. Oleh karena itu, setiap proses pemotongan harus
diberi pendinginan yang memadai.
Teknik pemotongan sampel dapat dilakukan dengan :
(a) Pematahan : untuk bahan getas dan keras.
(b) Pengguntingan : untuk baja karbon rendah yang tipis dan lunak.
(c) Penggergajian : untuk bahan yang lebih lunak dari 350 HB.
(d) Pemotongan abrasi.
12
(e) Electric discharge machining : untuk bahan dengan
konduktivitas baik di mana sampel direndam dalam fluida
dielektrik lebih dahulu sebelum dipotong dengan memasang
catu listrik antara elektroda dan sampel.
2.5.3 Mounting
Spesimen yang berukuran kecil atau memiliki bentuk yang tidak
beraturan akan sulit untuk ditangani, khususnya ketika dilakukan
pengamplasan dan pemolesan akhir. Sebagai contoh adalah spesimen yang
berupa kawat, spesimen lembaran metal tipis, dan potongan tipis. untuk
memudahkan penanganannya, maka spesimen-spesimen tersebut harus
ditempatkan pada suatu media, yaitu media mounting. Media mounting yang
dipilih haruslah sesuai dengan material dan jenis reagent etsa yang akan
digunakan. Pada umumnya mounting menggunakan material plastik
sintetik. Materialnya dapat berupa resin (castable resin) yang dicampur
dengan hardener atau bekelit.
2.5.4 Pengamplasan (Grinding)
Sampel yang telah dipotong atau sampel yang telah terkorosi
memiliki permukaan yang kasar. Permukaan yang kasar ini harus diratakan
agar pengamatan struktur mudah untuk dilakukan. Pengamplasan dilakukan
dengan menggunakan kertas amplas silicon carbit (SiC) dengan berbagai
tingkat kekasaran yang ukuran butir abrasinyadinyatakan dengan mesh,
13
yaitu kombinasi dari 220, 330, 500, 600, 800, dan 1000. Ukuran grit
pertama yang dipakai tergantung pada kekerasan permukaan dan kedalaman
kerusakan yang ditimbulkan oleh pemotongan.
Hal yang harus diperhatikan pada saat pengamplasan adalah
pemberian air. Air berfungsi sebagai pemindah geram, memperkecil
kerusakan akibat panas yang timbul yang dapat merubah struktur mikro
sampel dan memperpanjang masa pemakaian kertas amplas. Hal lain yang
harus diperhatikan saat pengamplasan adalah ketika melakukan perubahan
arah pengamplasan. Arah yang baru adalah 45℃ atau 90℃ terhadap
sebelumnya.
2.5.5 Pemolesan (Polishing)
Setelah diamplas sampai halus, sampel harus dilakukan pemolesan.
Pemolesan bertujuan untuk memperoleh permukaaan sampel yang halus
bebas goresan dan mengkilap seperti cermin dan menghilangkan
ketidakteraturan sampel hingga orde 0,01 μm. Permukaan sampel yang akan
diamati dibawah mikroskop harus benar-benar rata. Apabila permukaan
sampel kasar atau bergelombang, maka pengamatan struktur mikro tersebut
akan sulit untuk dilakukan karena cahaya yang datang dari mikroskop
dipantulkan secara acak oleh permukaan sampel.
Tahap pemolesan dimulai dengan pemolesan kasar terlebih dahulu
kemudian dilanjutkan dengan pemolesan halus. Hal tersebut bertujuan
untuk agar kotoran yang masih menempel dapat terangkat sekaligus.
14
Kemudian, tahapan pemolesan dilanjutkan dengan pemolesan halus untuk
menghilangkan sisa-sisa kotoran yang masih menepel. Ada tiga metode
pemolesan antara lain sebagai berikut:[7]
1. Pemolesan Elektrolit Kimia
Hubungan rapat arus dan tegangan bervariasi untuk larutan
elektrolit dan material yang berbeda dimana tegangan terbentuk
lapisan tipis pada permukaan dan hamper tidak ada arus yang lewat.
Maka, terjadi proses etsa. Sedangkan, pada tegangan tinggi terjadi
proses pemolesan.
2. Pemolesan Kimia Mekanis
Merupakan kombinasi anatra etsa kimia dan pemolesan
mekanisyang dilakukan serentak diatas piringan halus. Partikel
pemoles abrasive dicampur dengan larutan pengetsa yang umum
digunakan.
3. Pemolesan Elektro Mekanis (Metode Reinacher)
Merupakan kombinasi antara pemolesan elektrolit dan mekanis
pada piring pemoles.
2.5.6 Etsa (Etching)
Etsa merupakan proses penyerangan atau pengikisan batas butir
secara selektif dan terkendali dengan pencelupan kedalam larutan pengetsa
baik menggunakan listrik maupun tidak ke permukaan sampel sehingga
detil struktur yang akan diamati akan terlihat jelas dan tajam. Untuk
15
beberapa material, mikrostruktur baru muncul jika diberikan zat etsa.
Sehingga perlu pengetahuan yang tepat untuk memilih zat etsa yang tepat.
Etsa dibagi menjadi dua proses, yaitu:
1. Etsa Kimia
Merupakan proses pengetsaan dengan menggunakan larutan
kimia diamana zat etsa yang digunakan ini memiliki karakteristik
tersendiri sehingga pemilihannya disesuaikan dengan sampel yang
akan diamati.
2. Etsa Elektron
Merupakan proses etsa dengan menggunakan reaksi elektroetsa.
Cara ini dilakukan dengan pengaturan tegangan dan kuat arus listrik
serta waktu pengetsaan. Etsa jenis ini biasanya khusus untuk
stainlesss steel karena dengan etsa kimia susah untuk menentukan
strukturnya.