TUGAS ANORGANIK III
“LOGAM RADIUM (Ra)”
Oleh :
Edlyn Ainnayah Nabila 16030234003
Savira Ayu Ningtias 17030234015
Riza Rifiya Nurul M. 17030234029
Alfiatus Solichah 17030234044
Magdalena Butar Butar 17030234060
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019
Unsur Radium
1. Pengertian Radium
Radium merupakan unsur kimia yang memiliki nomor atom 88 dan termasuk
dalam golongan 2 atau alkali tanah. Radium ditemukan pertama kali oleh Marie
Skłodowska-Curie (Marie Curie) beserta suaminya Pierre pada tanggal 21 desember
1898. Radium ditemukan dalam bentuk senyawa radium klorida (RaCl2) pada sampel
pitchblende atau uraninite (uranium dioksida) yang ditemukan di Joachimsthal,
Bohemia, Republik Ceko.
Radium merupakan unsur radioaktif yang terjadi secara alami dalam
konsentrasi yang sangat rendah (sekitar satu bagian per triliun) dalam kerak bumi.
Radium dalam bentuknya yang murni adalah logam berwarna putih keperakan berat
yang mengoksidasi segera setelah terpapar udara. Dari 25 isotop radium yang dikenal,
hanya dua radium-226 dan radium-228 memiliki paruh yang lebih besar dari satu
tahun dan menjadi perhatian IAEA (Suhardi, 2012). Nama ‘radium’ diambil dari
bahasa latin ‘radius’ yang berarti ‘sinar’ dikarenakan kekuatannya dalam
mengemisikan energi dalam bentuk [Link] tahun 1910, radium dipisahkan
sebagai logam murni oleh Marie Curie dan Andre Louis Debierne melalui proses
elektolisis radium klorida murni dengan katoda raksa dan anoda platina-iridium.
Amalgam yang dihasilkan terurai dalam gas hidrogen menghasilkan logam radium
murni. Radium pertama kali diproduksi secara industri oleh perusahaan milik UMHK
(Union Minière du Haut Katanga) di Belgia pada awal abad ke-20.
2. Sifat Fisika dan Sifat Kimia Unsur Radium
Sifat Fisika Unsur Radium
Radium (88Ra) merupakan unsur logam radioaktif dan berwujud padat pada
suhu kamar. Radium murni berwarna putih keperakan namun mudah teroksidasi di
udara menjadi hitam. Radium mempunyai tingkat radioaktivitas yang tinggi dan dapat
memancarkan cahaya (self-luminous). Radiasi yang dipancarkan radium juga dapat
menyebabkan bahan-bahan tertentu seperti fosfor untuk mengeluarkan cahaya.
Radium memiliki keradioaktifan sekitar satu juta kali lipat dari keradioaktifan
uranium dengan massa yang sama. Karena sangat radioaktif, radium menjadi logam
yang sangat [Link] dari radium lah yang menyebabkan Marie Curie
meninggal dunia. Peluruhan dari radium (226Ra) menghasilkan radon (222Rn) dan
mengemisikan partikel alfa serta sebagian kecil sinar gamma.
Gambar 1. Kenampakan fisik radium)
Gambar 2. Radium yang menyala dalam gelap
Sifat-sifat fisika radium yang lain adalah:
- Konfigurasi elektron : 2, 8, 18, 32, 18, 8, 2
- Bilangan oksidasi :2
- Massa jenis : 5,5 g/cm3
- Titik lebur : 973 K (700oC)
- Titik didih : 2010 K (1737oC)
- Kalor peleburan : 8,5 kJ/mol
- Kalor penguapan : 113 kJ/mol
- Jari-jari atom : 215 pm
- Energi ionisasi : pertama 509,3 kJ/mol ; kedua 979,0 kJ/mol
- Elektronegativitas : 0,9 skala pauling
- Potensial oksidasi : +2,90 volt
- Struktur kristal : cubic centered body
- Sifat magnetik : non-magnetik
Sifat Kimia Unsur Radium
Radium merupakan unsur alkali tanah yang paling berat. Sifat-sifat kimianya
hampir sama dengan unsur barium (Ba) sehingga sulit untuk memisahkan radium
dengan barium. Senyawa-senyawa dari radium memberikan warna nyala api dari
merah sampai keunguan. Radium bereaksi dengan udara, reaksinya antara lain:
2 Ra (s) + O2 (g) 2 RaO (s)
Ra (s) + O2 (g) RaO2 (g)
3 Ra (s) + N2 (g) Ra3N2 (s)
Ra3N2 membuat warna radium menjadi kehitaman setelah bereaksi dengan
udara. Selain itu radium juga bereaksi hebat dengan air dan minyak membentuk
radium hidroksida yang larut serta gas hidrogen:
Ra (s) + 2H2O (g) Ra(OH)2 (aq) + H2 (g)
Radium hidroksida lebih volatil (mudah menguap) jika dibandingkan dengan
barium hidroksida. Ion radium dalam air tidak berwarna, membuat garamnya
berwarna putih saat awal terbentuk, kemudian warnanya menjadi kuning dan akhirnya
berwarna gelap akibat terdekomposisi dan memancarkan partikel alfa.
Isotop
Radium memiliki 25 isotop yang telah diketahui. Di antaranya hanya 4 isotop
223 224 226 228
yang sering ditemukan di alam yaitu Ra, Ra, Ra, dan Ra. Isotop-isotop
226
tersebut dihasilkan dari peluruhan unsur Uranium (92U) dan Thorium (90Th). Ra
merupakan isotop yang paling melimpah dan memiliki waktu paruh paling lama
(1602 tahun) dihasilkan dari peluruhan 238U. Selanjutnya 228Ra memiliki waktu paruh
232
5,8 tahun dihasilkan dari peluruhan Th. Dua isotop lainnya memiliki waktu paruh
223 224
yang sangat pendek sekali sehingga jarang ditemukan, Ra 11,4 hari dan Ra 3,7
hari.228Ra sering disebut sebagai mesothorium I, 223Ra sering disebut sebagai actinium
X, dan 224Ra sering disebut sebagai thorium X.
Selain isotop yang terdapat di alam, radium juga memiliki isotop yang
merupakan hasil sintesis. Hingga sekarang terdapat 33 isotop radium yang berhasil
disintesis yang memiliki nomor massa 202-234. Isotop hasil sintesis merupakan
isotop yang sangat tidak stabil dan memiliki peluruhan yang sangat cepat.
Radium kehilangan 1% dari aktivitasnya dalam 25 tahun, membuatnya
mengalami peluruhan menjadi unsur-unsur yang lebih ringan dengan produk akhir
sebagai timbal (Pb). Satuan internasional dari radioaktifitas adalah becquerel (Bq)
senilai dengan 1 dps (disintegration per second). Selain itu juga terdapat satuan curie
(bukan satuan standar) yang mendefinisikan radioaktifitas setara dengan laju
disintegrasi 1 gram Ra-226 (3,7 x 1010 disintegration per second atau 37 GBq).
Gambar 3. Tahap peluruhan radium-228 dan radium-224
3. Kegunaan Unsur Radium
- Radium digunakan dalam produksi cat bercahaya, tetapi ini sekarang dianggap
terlalu berbahaya.
- Radium klorida digunakan secara medis untuk menghasilkan gas radon untuk
pengobatan kanker.
(Faqihuddin, 2011 )
Di Indonesia sendiri banyak menggunakan Radium-226 sebagai sumber radiasi
yang dipakai dalam brachyteraphy. Brachyteraphy adalah suatu radioterapi dengan zat
radioaktif sebagai sumber radiasinya. Brachyteraphy dilakukan dengan cara
penyinaran pada jarak sangat dekat, bahkan pada kondisi tertentu sumber radiasi
dimasukkan kedalam tubuh pasien. Biasanya digunakan untuk terapi kanker leher
rahim.
4. Fenomena dan Reaksi Kimia Unsur Radium
Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Achmad Sorot Soediro, tahun 2000
tentang “Pemantauan Radioaktivitas Lingkungan di Sekitar Rirang dan Eko Remaja
Kalan Kalimantan Barat Periode 1997/1998”
Tujuan penelitian
Untuk menentukan tingkat radioaktivitas lingkungan di sekitar Rirang dan Eko
Remaja Kalan Kalimantan - Barat yang diperkirakan akan mengakibatkan dampak
terhadap radioaktivitas pada lingkungan di sekitar Rirang dan Eko Remaja Kalan.
Metode
Metode yang digunakan dengan pengukuran di lapangan disertaipengambilan air dan
endapan sungai serta tanah. Analisisdengan menggunakan Spektrofotometer dan
Sintilasi Alpha Counter SAC-R5 Eberline.
Batasan Pembahasan
Kami akan mengkaji mengenai keberadaan, fenomenadan reaksi unsur radium.
Penentuan Radium:
Air sebanyak 50 ml yang dimasukkanke dalam erlenmeyer dikisatkan sampai
terbentuk endapan. Selanjutnya dikungkung selama 1 bulan. Gas radon yang berada
dalam erlenmeyer dipindahkan ke dalam tabung sintilasi (vol = 500 ml ) yang telah
divakumkan. Setelah didiamkan selama 3-3,5 jam, dicacah dengan alat sintilasi alpha
counter SAC-R5 Eberline. Hasil pengukuran yang diperoleh adalah gas Radon. Dalam
reaksi rimia dapat diperoleh sebagai berikut:
226 222
88𝑅𝑎 → 86𝑅𝑛 + 42𝛼
(Soediro, Achmad S, 2000)
Ketika sebuah inti memancarkan sinar alfa, inti tersebut kehilangan empat
nukleon dua diantaranya adalah proton. Radon dihasilkan dari peluruhan radioaktif
radium, sedangkan radium dihasilkan dari peluruhan radioaktif uranium. Uranium
adalah unsur pertama dalam serangkaian panjang peluruhan yang menghasilkan
radium dan radon. Uranium disebut sebagai parent element (induk), sedangkan
radium dan radon disebut daughter (turunan).
Setiap atom radium, meluruh dengan cara mendepak keluar dari nukleusnya
dan menghasilkan partikel alfa yang terdiri dari dua neutron dan dua proton. Sesaat
partikel alpha dilepaskan, atom radon yang baru terbentuk mencelat (recoil) ke arah
yang berlawanan (seperti senapan berkekuatan tinggi, mencelat ketika peluru
ditembakkan). Alpha recoil adalah faktor yang paling penting yang mempengaruhi
pelepasan radon dari butiran mineral.
Pembahasan:
a. Di Rirang
Hasil pengukuran tingkat radioaktivitas radium tahun 1997 dalam air sungai
berkisar (0,357-2,310) pCi/I. Sehingga patut diduga radioaktivitas di lokasi As-7
cukup tinggi.
b. Di Eko Remaja
Hasil pengukuran tingkat radioaktivitas radium dalam air sungai tahun 1997
berkisar antara 0,081 - 1,620 pCi/I.
(Soediro, Achmad S,2000)
Kesimpulan:
Radon dihasilkan dari peluruhan radioaktif radium dengan reaksi kimia
sebagai berikut:
226 222
88𝑅𝑎 → 86𝑅𝑛 + 42𝛼
Ketika sebuah inti memancarkan sinar alfa, inti tersebut kehilangan empat
nukleon dua diantaranya adalah proton, sedangkan radium dihasilkan dari peluruhan
radioaktif uranium. Air sungai yang mengandung unsur radium berpotensi menjadi
polutan radioaktif yang berbahaya.
Fenomena Unsur Radium:
Secara alamiah batu bara mengandung unsure radioaktif. Pada saat proses
pembakaran langsung terjadi perengkahan termal (cracking) yang menyebabkan
unsure radioaktif alam tersebut akan ikut keluar bersama-sama dengan gas hasil
pembakaran lainnya atau pun terikut dengan abu hasil [Link] (Ra)
merupakan salah satu unsu rradioaktif alam yang terkandung dalam batu bara. Jenis-
jenis polutan radioaktif yang dihasilkan dari pembakaran batu bara beserta waktu
paruhnya ditunjukkan padaTabel 1.
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa polutan radioaktif seperti Radium-226
termasuk golongan logam berat dan bila masuk ke dalam tubuh manusia akan
berdampak buruk terhadap kesehatan. Radiasi α yang dihasilkan dari Po-210 sampai
dengan U-238 merupakan bahaya radiasi [Link] radiasi internal artinya
unsur radioaktif tersebut tidak berbahaya kalau hanya berada di luar tubuh karena
daya tembusnya relatif sangat pendek, akan tetapi menjadi berbahaya bila masuk
kedalam tubuh manusia karena daya ionisasinya yang besar.
Polutan zat radioaktif alam yang dihasilkan dari PLTU batubara adalah
berbentuk partikulat, yang terdiri dari partikulat yang ikut terbawa keluar melalui
cerobong asap berupa abu terbang (fly ash) dan partikulat yang mengendap bersama
abu (bottom ash atau slag).Polutan radioaktif terjadi karena batubara mengandung
unsur radioaktif alam yang terjebak dalam batubara, dimana pada saat batubara
dibakar terjadi penguraian yang menyebabkan unsur radioaktif alam tersebut ikut
keluar bersama-sama dengan gas emisi lainnya ataupun terikut dalam abu hasil
pembakaran. Namun, abu hasil pembakaran batu bara yang mengandung polutan
radioaktif dapat digunakan sebagai aditif pada bahan bangunan beton dan
radioaktivitas yang dikandungnya tidak berbeda jauh dengan bahan aditif beton
konvensional atau bahan bangunan yang lain seperti granit dan bata merah.
(Finahari, dkk, 2007)
DAFTAR PUSTAKA
Finahari.I.N., Djati HS., Susiati.,H. 2007. Gas CO2 dan Polutan Radioaktif dari PLTU
Batubara. Jurnal Pengembangan Energi Nuklir.
Kirby, H. W. 1964. Nuclear Science Series: The Radiochemistry of Radium. USA: U.S.
Atomic Energy Commission
Soediro, Achmad Sorot.2000. Pemantauan Radioaktivitas Lingkungan di Sekitar Rirang dan
Eko Remaja Kalan Kalimantan Barat Periode1997/[Link] Seminar Pranata
NukIir dan Teknisi Litkayasa. Jakarta: Bidang Keselamatan Kerja dan Lingkungan,
P2BGN – BATAN.
Suhardi, Mulyono, Rosidi, Sukadi, Bambang Irianto. 2012. Analisis Radionuklida Ra-226
dan Gamma Total dalam Pasir Zirkon dengan Metoda Spektrometri Gamma.
Prosiding Seminar Penelitian dan Pengelolaan Perangkat Nuklir.
Sutarman, dkk. 1994. Konsentrasi radionuklida alam di dalam bahan bangunan yang akan
digunakan di Jakarta dan sekitarnya. Prosiding Presentasi Ilmiah Keselamatan
RadiasiLingkungan, PSPKR-BATAN. Jakarta.
[Link]. 2011. Logam Radium. Malang: Universitas Negeri Malang
[Link] (diakses 29September 2019).