SATUAN ACARA PENYULUHAN
INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ( ISPA )
Dosen Pengampu : Ns. Afridawati , [Link]
Oleh
Nama : Uli Hartati BR Hutapea
Nim : 1710069401024
Tingkat : III
Semester : V
AKADEMI KEPERAWATAN JAMBI
YAYASAN TELANAI BHAKTI
TAHUN AJARAN 2019
Kata Pengantar
Syukur Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan SAP ini yang berjudul
“ Satuan Acara Penyuluhan Infeksi Saluran Pernapasan ( ISPA ) ”
Penulisan SAP ini disusun guna untuk menambah pengetahuan kepada penulis dan para
pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini tidaklah mungkin selesai tanpa adanya bantuan
dan bimbingan secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Penulis berdo’a
semoga Allah membalas semua kebaikan, bantuan, dan keikhlasan yang telah diberikan kepada
penulis.
Akhir kata, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa SAP ini jauh dari
kesempurnaan, mengingat keterbatasan informasi, ilmu, dan pengetahuan penulis. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang sifatnya membangun akan sangat penulis harapkan. Penulis berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )
INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS
Pokok Bahasan : ISPA ( Infeksi Saluran Pernapasan Atas )
Sub Pokok Bahasan : 1. Pengertian ISPA
2. Tanda dan Gejala ISPA
3. Tata Cara Perawatan ISPA
Sasaran : Keluarga Ny. F
Hari / Tanggal : Jum’at , 13 Desember 2019
Waktu :
Tempat : Kediaman Keluarga Ny.F
A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Atas merupakan keadaan infeksi anak paling lazim,
tetapi kemakananya tergantung frekuensi relatif dari komplikasi yang terjadi pada anak.
Sindrom ini lebih luas dari pada orang dewasa. Biasanya anak dengan ISPA mengalami
penurunan nafsu makan tetapi tindakan memaksa dia untuk makan hidangan tidak ada
gunanya
Sebagian besar penyakit pada anak-anak adalah infeksi, sebagian besar infeksi ini
terjadi pada saluran nafas, sebagian besar adalah ISPA, kebanyakan adalah virus. Ispa
dapat mencetus kejang demam, dan serangan asma (lectur, 2002)
Dinding dan seluruh sistem pernapasan dilapisi oleh mukosa yang saling
berhubungan sehinga infeksi yang terjadi disuatu tempat dengan mudah bisa
mempengaruhi bagian saluran pernapasan atas lainnya. ISPA juga menjadi alasan utama
mengapa pasien lebih memilih perawatan ambulatory atau rawat jalan. Oleh karena itu
menjadi penting bahwa perawat perlu dipersiapkan untuk memberikan perawatan terbaik,
memberikan penyuluhan dan informasi mengenai obat- obatan kepada pasien. Meskipun
teknologi kedokteran telah berkembang sedemikian pesatnya, namun pertanyaan-
pertanyaan klinis yang umum untuk penyakit ISPA selalu mementingkan pada strategi
yang efektif untuk pencegahan, diagnosa dan perawatan.
Anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang rentan untuk terserang
berbagai penyakit khususnya penyakit infeksi. Menurut temuan organisasi kesehatan
dunia (WHO) diperkirakan 10 juta anak meninggal tiap tahun. Yang disebabkan karena
diare, HIV/AIDS, Malaria dan ISPA (Depkes RI, 2007).
Penyakit ISPA merupakan suatu masalah kesehatan utama di indonesia karena
masih tingginya angka kejadian ISPA terutama pada Anak-Anak dan balita. ISPA
mengakibatkan sekitar 20% – 30% kematian anak balita. ISPA merupakan salah satu
penyebab kunjungan pasien pada sarana kesehatan. Sebanyak 40% – 60% kunjungan
berobat di puskesmas dan 15% – 30% kunjungan berobat dirawat jalan dan rawat inap.
B. Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit, sasaran mampu memahami tentang
masalah ISPA.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit, diharapkan sasaran dapat
a. Menjelaskan kembali pengertian dari ISPA.
b. Menyebutkan kembali tanda dan gejala dari ISPA.
c. Menyebutkan kembali macam-macam dari ISPA.
d. Menjelaskan kembali cara perawatan ISPA dirumah.
e. Menjelaskan cara pencegahan ISPA.
f. Menjelaskan penatalaksanaan ISPA.
C. Materi Penyuluhan
1. Pengertian ISPA
2. Penyebab ISPA
3. Tanda dan Gejala ISPA
4. Macam-macam ISPA
5. Cara Penularan ISPA
6. Pencegahan ISPA
7. Penatalaksanan ISPA Pada keluarga.
D. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
E. Media atau Alat Penyuluhan
1. SAP ( Satuan Acara Penyuluhan )
2. Leaflet
F. Kegiatan Penyuluhan
No Tahap Waktu Kegiatan Penkes Kegiatan audiens
1 Pembukaan 5 menit1. 1. Mengucapkan salam 1. 1. Menjawab salam
2. 2. Memperkenalkan diri 2. 2. Mendengarkan
3. 3. Menjelaskan pokok 3. 3. Memperhatikan
bahasan dan tujuan
penyuluhan
2 Pelaksanaan Ceramah dengan
30 memberikan materi yaitu : 1.
Menit 1. Menjelaskan C 1. Memperhatikan
pengertian ISPA
2. Menjelaskan tanda 2 2. Memperhatikan
dan gejala ISPA
3. Menjelaskan
Penyebab ISPA 3. 3. Memperhatikan
4. Menjelaskan
penatalaksanaan 4. 4. Memperhatikan
ISPA
5. Menjelaskan cara
perawatan ISPA 5. 5. Memperhatikan
3 Evaluasi 5 menit1. Menanyakan pada 1. Menjawab pertanyaan
keluarga tentang materi yang telah diberikan
yang telah disampaikan pemateri
4 Terminasi 1. 1. Mengucapkan terima 1. Mendengarkan
kasih atas perhatian dan
kerja sama peserta
2. 2. Mengucapkan salam
2. Menjawab
salam
SUMBER PUSTAKA
C long Barbara, 1996. Perawatan Medikal Bedah 2 (Suatu Proses Pendekatan Keperawatan).
Bandung.
DEPKES RI Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular, 1993. Buku Pedoman
Pemberantasan Penyakit ISPA Untuk Kader
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC
Ronald. 2006. Obat-obatan Ramuan Tradisional. Bandung : Yrama Widya [diakses 26 Juni 2011]
LAMPIRAN MATERI
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut)
A. Defenisi
Infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) adalah infeksi saluran pernafasan akut
yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang berlangsung kurang lebih
14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini
mengenai bagian saluran atas dan bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin,
2008).
Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) adalah penurunan kemampuan
pertahanan alami jalan nafas dalam menghadapi organisme asing yang terjadi secara
tiba-tiba, menyerang hidung, tenggorokan, telinga bagian tengah serta saluran napas
bagian dalam sampai ke paru-paru. Biasanya menyerang anak usia 2 bulan-5 tahun.
B. Etiologi
1. Bakteri dan virus yang paling sering menjadi penyebab ISPA diantaranya bakteri
stafilokokus dan streptokokus serta virus influenza yang diudara bebas akan masuk
dan menempel pada saluran pernafasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung
2. Biasanya bakteri dan virus tsb menyerang anak-anak usia dibawah 2 tahun yang
kekebalan tubuhnya masih lemah atau belum sempurna
3. Peralihan musim kemarau ke musin hujan juga menimbulkan resiko serangan ISPA
4. Beberapa factor lain yang diperkirakan berkonstribusi terhadap kejadian ISPA pada
anak adalah rendahnya asupan antioksidan , status gizi kurang , dan buruknya
sanitasi lingkungan
5. ISPA dapat ditularkan melalui air ludah , darah , bersin , udara pernapasan yang
mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya
C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala yang muncul ialah:
1. Demam, pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika
anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam
muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,50
C-40,5 0 C.
2. Anoreksia, biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi
susah minum dan bhkan tidak mau minum.
3. Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi
tersebut mengalami sakit.
4. Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran
pernafasan akibat infeksi virus.
5. Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya
lymphadenitis mesenteric.
6. Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih
mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
7. Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin
tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.
8. Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara
pernafasan
D. Klasifikasi
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada kedalam
(chest indrawing).
2. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa
tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis
tergolong bukan pneumonia.
E. Faktor-faktor yang Menyebabkan Kejadian ISPA
1. Usia / Umur
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) banyak menyerang balita batasan 0-5
tahun, sebagian besar kematian Balita di Indonesia karena ISPA. Balita merupakan
faktor resiko yang meningkatkan morbidibitas da mortalitas infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA). Khususnya pnemonia karena pada usia balita daya tahan
tubuh mereka belum terlalu kuat
2. Jenis kelamin
3. Status Gizi
4. Status Imunisasi
5. Status Pemberian ASI Eksklusif
6. Faktor Lingkungan
7. Kelembaban ruangan
F. Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
1. Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
2. Immunisasi.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
4. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
G. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
1. Medis
a. Suportif : meningkatkan daya tahan tubuh berupa Nutrisi yang adekuat,
pemberian multivitamin dll.
b. Antibiotik : Idealnya berdasarkan jenis kuman penyebab utama ditujukan pada S.
pneumonia, H. influensa dan S. aureus.
c. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral, oksigen
dan sebagainya.
d. Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita tidak
mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian kontrmoksasol
keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik pengganti yaitu
ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
e. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan di
rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat batuk lain
yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan,
antihistamin. Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol.
Penderita dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat
adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher,
dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi
antibiotik (penisilin) selama 10 hari. Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan
tanda bahaya harus diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya
2. Keperawatan
a. Meningkatkan istirahat minimal 8 jam perhari.
b. Meningkatkan makanan bergizi.
c. Bila demam beri kompres dan banyak minum.
d. Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu
tangan yang bersih.
e. Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu
ketat.
[Link] terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih
menetek.
3. Pengobatan
a. Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan
kompres,
Bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol
diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi
sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan
kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air
es).
b. Mengatasi batuk
Tarik napas dalam dan batuk efektif.
Cara napas dalam dan batuk efektif :
Ambil napas dalam (melalui hidung)
Tahan sejenak ± 5-10 detik, lalu hembuskan pelan-pelan melalui mulut
Ulangi cara (1) dan (2) sebanyak 3 X
Setelah itu, batukkan dengan keras
Jika ada cairan/lendir/sekret yang keluar, langsung buang ke tempat yang
sudah disediakan (Sputum Pot atau jika tidak ada boleh menggunakan botol
/kaleng /wadah berisi pasir).
Berkumur-kumur.
Lakukan dengan teratur (minimal 3 x sehari)
Cara Mengobati Ispa Secara Tradisional :
Jeruk nipis diperas dan diambil airnya sebanyak satu sendok
Ambil kecap manis sebanyak satu sendok juga
Canpurkan kedua bahan dan aduk rata
Diminumkan kepada penderita yang sakit