0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan14 halaman

Etnomatematika dalam Kesenian Rebana

Teks tersebut membahas tentang etnomatematika kesenian tradisional rebana dan penerapannya dalam pembelajaran geometri di SMP. Teks menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian tentang eksplorasi konsep-konsep geometri dan matematika yang terkandung dalam alat musik tradisional rebana serta implementasinya dalam pembelajaran.

Diunggah oleh

winnami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
114 tayangan14 halaman

Etnomatematika dalam Kesenian Rebana

Teks tersebut membahas tentang etnomatematika kesenian tradisional rebana dan penerapannya dalam pembelajaran geometri di SMP. Teks menjelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian tentang eksplorasi konsep-konsep geometri dan matematika yang terkandung dalam alat musik tradisional rebana serta implementasinya dalam pembelajaran.

Diunggah oleh

winnami
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI ETNOMATEMATIKA: EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA KESENIAN

TRADISIONAL REBANA DALAM PENERAPAN GEOMETRI PADA JENJANG


MTS

1. Latar Belakang Masalah


Budaya merupakan suatu cara hidup atau kebiasaan yang diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Budaya dapat berubah sesuai dengan perkembangan
pola pikir masyarakat setempat. Perkembangan budaya bergantung pada tingkat
intelektualitas dengan daya nalar masyarakat, sehingga budaya lebih bersifat dinamis
mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Bentuk dari budaya khususnya di Indonesia sangatlah beraneka ragam seperti adat
istiadat, pekakas, pakaian, dan karya seni lainnya. Menurut Tjejep Rohendi Rohidi
(2000:101) Kesenian merupakan salah satu isi dari kebudayaan. Kesenian atau seni
diciptakan oleh manusia yang lahir dari proses kemanusiaan artinya bahwa eksistensi
seni merupakan cerminan dari nilai estetis dari olah cipta dan rasa manusia dalam
ruang dan waktu.
Ragam jenis masyarakat yang ada di Indonesia menjadi pendukung dan pelestari
dari kesenian tradisional. Kesenian tradisional di Indonesia sangatlah beragam seperti
rebana, calung, kendang, dogdog, kacapi dan lainnya. Setiap kesenian tradisional
mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakan dari kesenian satu dengan yang
lainnya, salah satunya adalah rebana.
Pertunjukan kesenian tradisional rebana dilakukan secara berkelompok dengan
pola tabuhan yang bersahutan sehingga menjadikan pertunjukan rabana terkesan
penuh semangat dan meriah. Hal tersebutlah yang membuat kesenian rebana banyak
disukai oleh masyarakat. Kesenian tradisional rebana mulai berkembang dan
mempunyai pendukung dalam pelestariannya yang mayoritas masyarakat beragama
islam.
Namun, tidak hanya budaya saja yang dapat berkembang, pendidikan juga dapat
berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pendidikan merupakan pembelajaran

1
2

pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari


satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Dalam hal ini pendidikan dan budaya memiliki persamaan yaitu dapat berubah
dan berkembang sesuai dengan perkembangan pola pikir manusia. Pendidikan dan
budaya merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari,
karena pendidikan merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap individu dalam
masyarakat, dan budaya merupakan kesatuan utuh dan menyeluruh yang berlaku
dalam masyarakat.
Daoed Joesoef dalam makalah Astri Wahyuni, dkk (2013:114) menyatakan
bahwa kebudayaan diartikan sebagai semua hal yang terkait dengan budaya. Dalam
konteks ini tinjauan budaya dilihat dari tiga aspek, yaitu pertama, budaya yang
universal yaitu berkaitan nilai-nilai universal yang berlaku di mana saja yang
berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan ilmu
pengetahuan atau teknologi. Kedua, budaya nasional, yaitu nilai-nilai yang berlaku
dalam masyarakat Indonesia secara nasional. Ketiga, budaya lokal yang eksis dalam
kehidupan masyarakat setempat.
Sardjiyo dan Pannen dalam jurnal Linda Indiyarti Putri (2017: 21-22) mengatakan
bahwa pembelajaran berbasis budaya merupakan suatu model pendekatan
pembelajaran yang lebih mengutamakan aktivitas siswa dengan berbagai ragam latar
belakang budaya yang dimiliki, diintegrasikan dalam proses pembelajaran bidang
studi tertentu dan dalam penilaian hasil belajar dapat menggunakan beragam
perwujudan penilaian. Pembelajaran berbasis budaya dapat dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu belajar tentang budaya, belajar dengan budaya dan belajar melalui
budaya. Pembelajaran berbasis budaya dilandasakan pada pengakuan terhadap budaya
sebagai bagian yang mendasar dan penting bagi pendidikan sebagai ekspresi dan
komunikasi suatu gagasan dan perkembangan pengetahuan.
Matematika merupakan ilmu pasti yang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan
manusia. Secara sadar maupun tidak sadar manusia selalu menggunakan matematika
dalam kehidapan sehari-hari seperti interaksi antara penjual dan pembeli, ataupun hal
3

lainnya. Untuk menjelaskan hubungan antara budaya yang terdapat pada masyarakat
dan matematika saat mengajar adalah etnomatematika.
Etnomatematika merupakan matematika yang dipraktikan di antara kelompok
budaya diidentifikasi seperti masyarakat nasional suku, kelompok buruh, anak-anak
dari kelompok usia tertentu dan kelas professional (D’Ambrosio, 1985). Kajian
etnomatematika ini hampir mencakup seluruh bidang seperti arsitektur, tekstil,
pertanian, hubungan kekerabatan, praktik keagamaan, pengukuran, dan lainnya
seiring dengan budaya yang terjadi dalam masyarakat.
Keberadaan etnomatematika ini seringkali tidak disadari oleh masyarakat
dikarenakan etnomatematika terlihat lebih sederhana daripada materi matematika
yang terdapat dalam institusi formal. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,
kesenian tradisional rebana merupakan salah satu alat musik tradisional yang
memiliki nilai budaya dan ciri khasnya tersendiri. Dan uniknya pada alat musik rebana
ini terdapat ilmu matematika yang digunakan para pengrajin dalam membuat alat
rebana. Ilmu matematika yang digunakan dalam bentuk alat musik rebana yaitu berupa
konsep geometri bangun ruang sisi datar dan sisi lengkung. Atas permasalahan
tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti tentang “Eksplorasi Etnomatematika
Kesenian Tradisional Rebana Dalam Penerapan Geometri Pada Jenjang MTs”

2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari proposal penelitian ini yaitu:
1. Apa saja konsep geometri yang terdapat dalam alat musik rebana?
2. Apakah terdapat konsep matematika yang lain selain geometri pada alat musik
rebana?
3. Bagaimana implementasi etnomatematika kesenian tradisional rebana dalam
penerapan geometri pada MTs?
4

3. Definisi Operasional
1) Etnomatematika
Etnomatematika merupakan sebuah pendekatan yang dapat digunakan untuk
menjelaskan realitas hubungan antara budaya lingkungan dan matematika sebagai
rumpun ilmu pengetahuan.
2) Kesenian tradisional rebana
Waditra (alat-alat bunyi yang lazim dipergunakan sebagai alat musik
tradisional) jenis alat tepuk berkulit, dimainkan dengan cara ditepuk
mempergunakan telapak tangan.
3) Konsep geometri
Suatu ide-ide atau gagasan mengenai matematika yang berkaitan dengan
bentuk, ukuran dan kelogisan cara berpikir.
4) Konsep matematika
Suatu ide abstrak yang disusun dari fakta-fakta dan konsep-konsep terdahulu.
5) Implementasi
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi atau penerapan
mempunyai arti pemasangan, pengenaan, prihal mempraktekkan. Sedangkan,
menurut Anton. M. Moeliono mengartikan bahwa penerapan adalah proses
pemakaian pada suatu rancangan tertentu guna mendapatkan hasil yang diterapkan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
implementasi adalah penerapan suatu rancangan untuk mendapatkan hasil yang
diharapkan.

4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dari proposal penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui konsep geometri yang terdapat dalam alat musik tradisional
rebana.
2. Untuk mengetahui konsep-konsep matematika selain geometri yang terkandung
dalam alat musik tradisional rebana.
5

3. Untuk mengetahui bagaimana implementasi etnomatematika kesenian tradisional


rebana dalam penerapan geometri.

5. Manfaat Penelitian
Dari segi teori, dapat dijadikan sebagai literatur dalam mengungkap suatu konsep
geometri dan konsep-konsep matematis lainnya. Selain itu juga hasil dari penelitian
ini dapat menjadi sebuah nilai tambah dalam pengetahuan dalam bidang pendidikan
dan kebudayaan di Indonesia khususnya dalam pembelajaran matematika.
Dari segi praktis, bagi masyarakat, hasil penelitian diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan tentang budaya khususnya mengenai konsep-konsep
matematis yang terkandung dalam kesenian tradisional rebana. Bagi peneliti, hasil
penelitian diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan akan budaya di Indonesia
khususnya mengenai alat musik tradisional rebana dan keterkaitannya dengan konsep
matematika. Bagi pendidik, dapat dijadikan masukan sebagai alternatif lain pada
proses pembelajaran yang digunakan selama ini, sehingga dapat meningkatkan hasil
belajar dan minat peserta didik. Dan bagi peserta didik diharapkan sadar akan
penerapan matematika pada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan.

6. Landasan Teoritis
6.1. Kajian Teori
6.1.1. Etnomatematika
Etnomatematika berasal dari kata ethnomathematics yang diperkenalkan
oleh D’Ambrisio yang merupakan seorang matematikawan asal Brazil pada
tahun 1977. Definisi etnomatematika menurut D’Ambrosio adalah: “The prefix
ethno is today accepted as a very broad term that refers to the socialcultural
context and therefore includes language, jargon, and codes of behaviour, myths,
and symbols. The derivation of mathema is difficult, but tends to mean to
explain, to know, to understand, and to do activities such as ciphering,
measuring, classifying, inferring, and modelling. The suffix tics is derived from
techne, and has the same root as technique”.
6

Sesuai dengan definisi menurut D’Ambrosio di atas, Etnomatematika


terbentuk dari tiga kata yaitu ethno, mathema dan tics. Awalan ethno mengacu
pada konteks sosial yang dapat dikenali, seperti perkumpulan suatu suku di suatu
negara dan kelas-kelas profesi di masyarakat, termaksuk pula bahasa dan
kebiasaan sehari-hari. Kemudian mathema berarti menjelaskan, mengetahui,
memahami, dan melakukan aktivitas seperti pengkodean, mengukur,
mengklasifikasikan, menyimpulkan, dan membuat model. Dan untuk akhiran
tics berasal dari kata techne yang mengandung arti seni dalam teknik.
Dengan kata lain, etnomatematika dapat diartikan sebagai studi matematika
yang dalam pembelajarannya melibatkan unsur budaya. Lebih luas lagi, jika
ditinjau dari sudut pandang riset, maka etnomatematika didefinisikan sebagai
antropologi budaya (cultural antrophology of mathematics) dari matematika dan
pendidikan matematika. Tujuan dari etnomatematika adalah untuk mengetahui
dan mengakui bahwa adanya cara-cara berbeda dalam melakukan dan
menerapkan konsep-konsep matematika dengan mempertimbangkan
pengetahuan matematika yang masyarakat ketahui. Konsep-konsep matematika
yang dimaksud yaitu dapat berupa aktivitas mengelompokkan, berhitung,
mengukur, merancang bangunan atau alat dengan menggunakan geometri,
membentuk pola, dan sebagainya.

6.1.2. Kesenian Tradisional Rebana


Kesenian tradisional merupakan suatu bentuk seni yang bersumber dan
berakar yang telah lama ada di masyarakat pada suatu daerah. Kehidupan dan
pengolahan seni tradisional meliputi pandangan hidup, nilai kehidupan tradisi
dan ungkapan budaya lingkungan masyarakat yang kemudian diwariskan
kepada generasi berikutnya.
Kesenian tradisional yang ada di Indonesia sangat beragam dan salah
satunya adalah rebana. Rebana merupakan alat musik perkusisi membranophone
atau alat musik yang sumber bunyinya berasal dari getaran membran. Rebana
sering disangkutpautkan dengan musik islami dikarenakan kesenian rebana
7

sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Nama asal rebana itu sendiri
yaitu terbang atau daff, tetapi dibandingkan dengan nama asalnya istilah rebana
lebih sering dipakai oleh masyarakat sekitar. Dalam bahasa arab, musik rebana
atau musik sholawatan berasal dari kata asholawat yang merupakan bentuk
jamak dari asholat yang berarti do’a atau sembahyang (Yunus, 1973:221).
Menurut Mashudi (2007:1-4) untuk membuat alat musik tradisional rebana
itu membutuhkan beberapa persiapan, yaitu menyiapkan bahan dan alat. Bahan
pokok yang digunakan dalam pembuatan alat musik tradisional rebana
dikelompokan menjadi dua, yaitu bahan pokok dan bahan tambahan. Yang
termaksuk dalam bahan pokok pembuatan alat musik tradisional rebana yaitu
kulit hewan berupa kambing, sapi dan kerbau, kulit tersebut digunakan untuk
membuat gendang rebanannya. Dan bahan pokok lainnya yang digunakan dalam
pembuatan alat musik rebana yaitu kayu, kayu yang digunakan untuk membuat
rebana adalah kayu nangka, mangga dan mindik. Bahan tambahan dalam
pembuatan rebana ini antara lain, kapur bagunan/garam, hiasan aksesoris, besi,
logam kuningan atau perunggu, cat atau plistur dan paku. Dan untuk alat-alat
yang dipergunakan dalam pembuatan alat musik rebana antara lain, gergaji,
tatah, mesin bubut, meteran, pasah, amplas, kuas atau kompresor, gunting,
dongkrak, tatakan kayu, triplek papan, tungku, baskom dan ember.

6.1.3. Konsep Geometri


Konsep merupakan kumpulan ide yang abstrak. Kata konsep berasal dari
bahasa latin “conceptum”, yang berarti sesuatu yang dipahami. Menurut
Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “The classical theory of concepts”
menyatakan bahwa konsep merupakan penyusun utama dalam pembentukan
pengetahuan ilmiah dan filsafat pemikiran manusia.
Dalam membentuk suatu konsep memerlukan sebuah pengalaman karena
konsep dapat terbentuk dari sejumlah pengalaman-pengalaman yang mempunyai
kesamaan. Maka dari itu, semakin banyak pengalaman semakin banyak pula
konsep yang dimilikinya.
8

Dalam matematika terdapat banyak konsep-konsep salah satunya adalah


konsep geometri. Geometri merupakan salah satu cabang matematika yang
bersangkutan dengan bentuk, ukuran, posisi relatif gambar dan sifat ruang.
Menurut Tia Purniawati (2008:352) menyatakan bahwa geometri merupakan
salah satu pelajaran matematika yang penting untuk dipelajari karena geometri
mencakup latihan berpikir logis, kerja yang sistematis menghidupkan kreativitas,
serta dapat mengembangkan kemampuan berinovasi.
Menurut Suydan, tujuan dari pengajaran geometri antara lain:
1. Mengembangkan kemampuan berpikir logis,
2. Mengembangkan intuisi keruanngan mengenai dunia nyata,
3. Mananamkan pengetahuan yang diperlukan untuk belajar matematika lebih
banyak, dan
4. Mengajar membaca dan menginterprestasikan argumen-argumen
matematika.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep
geometri adalah suatu ide-ide atau gagasan mengenai matematika yang
berkaitan dengan titik, garis, bentuk, ukuran dan kelogisan cara berpikir.
Alat musik tradisional rebana dapat dijadikan objek untuk memperkenalkan
konsep geometri kepada peserta didik. Konsep geometri yang dimaksudkan
yaitu berupa bentuk-bentuk dari alat musik rebana, tidak hanya berupa bangun
ruang sisi datar melainkan juga terdapat bangun ruang sisi lengkung.

6.1.4. Konsep Matematika


Konsep merupakan penanda suatu pengetahuan. Menurut Zayyadi konsep
adalah ide abstrak yang dapat diasimilasikan dan diakomodasikan dengan
dengan pengetahuan sehingga dapat mengelompokkan dan memberikan nama
sekumpulan objek. Konsep-konsep dalam matematika pada umumnya disusun
dari fakta-fakta dan konsep-konsep terdahulu. Suatu konsep dalam matematika
pada umumnya digunakan secara berkesinambungan untuk menjelaskan
konsep-konsep lain.
9

Dalam konsep matematika, terdapat dua konsep yaitu konsep verbal dan
konsep tak verbal. Konsep verbal adalah konsep yang dipelajari melalui
perpaduan konsep dan konsep tak verbal adalah konsep yang diperoleh dengan
memperoleh intisari konsep matematika, menghilangkan kebergantungannya
pada objek-objek dunia nyata, dan memperumumnya. Dengan kata lain, konsep
tak verbal dipelajari melalui pembentukan konsep.
Dalam alat musik rebana tidak hanya bentuknya saja yang dapat kita
pelajari, namun juga teknik memainkan alat musik rebana mengandung unsur
matematika yaitu pola hitungan. Dalam memainkan alat musik rebana terdapat
teknik tersendiri dalam memainkannya. Alat musik rebana dimainkan dengan
cara dipukul menggunakan telapak tangan sebelah kanan, sedangkan tangan
sebelah kiri memegang alat musik yang akan dimainkannya.
Teknik memainkan alat musik rebana dilakukan secara bersahut-sahutan
namun bersamaan antara jenis alat musik yang satu dengan yang lainnya
sehingga menghasilkan harmoni bunyi yang indah.

6.2. Hasil Penelitian yang Relevan


1. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Linda Indiyarti Putri yang
berjudul “Eksplorasi Etnomatematika Kesenian Rebana Sebagai Sumber
Belajar Matematika Pada Jenjang MI”, diperoleh hasil bahwa sumber
belajar tidak hanya bersumber pada buku-buku pelajaran saja, namun dapat
didukung dari lingkungan maupun budaya setempat. Tidak hanya itu,
penelitian tersebut juga memperoleh hasil bahwa dalam kesenian rebana
terdapat konsep matematika berupa bentuk fisik dari alat-alat yang
dipakainya.
2. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Theresia Laurens yang berjudul
“Analisis Etnomatematika Dan Penerapannya Dalam Meningkatkan
Kualitas Pembelajaran”, diperoleh hasil bahwa beberapa konsep
matematika dapat diajarkan melalui budaya Maluku dapat digunakan untuk
memahami konsep bilangan, pecahan dan geometri. Selain itu analisis
10

beberapa produk budaya Maluku juga menunjukan adanya peningkatan


hasil belajar setelah menggunakan pembelajaran berbasis etnomatematika.
3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Wiwin Sumiyati, Netriwati dan
Rosid Rakhmawati yang berjudul “Penggunaan Media Pembelajaran
Geometri Berbasis Etnomatematika”, diperoleh hasil bahwa terdapat
pengaruh dalam penggunaan media pembelajaran geometri berbasis
etnomatematika terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa.

6.3. Kerangka Teoretis

Gambar 1. Kerangka Teoretis


Etnomatematika adalah penerapan ilmu matematika yang terdapat dalam
suatu budaya masyarakat. Dalam penelitian ini, masyarakat yang dimaksud
adalah peserta didik MTs Riyadus Sholihin yang berada di kelurahan Klampok,
kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara. Penelitian tersebut
didapat dari alat musik tradisional rebana yang kemudian dideskripsikan dalam
pembelajaran matematika. Secara sadar maupun tidak, ilmu matematika
sesungguhnya telah menyatu dengan kehidupan masyarakat itu sendiri. Untuk
mengetahui konsep-konsep yang terkandung dalam alat musik taradisional
rebana maka diperlukan data dari orang-orang yang ahli dalam bidang tersebut.
Data yang diperoleh didapat dari wawancara, pengamatan dan penerapan secara
langsung. Setelah menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam alat musik
tradisional rebana, maka akan didapat konsep matematika yang sesuai.
11

6.4. Fokus Penelitian


Penelitian ini difokuskan terhadap eksplorasi alat musik tradisional rebana
untuk mengungkap konsep geometri dan konsep-konsep matematika lainnya
yang terkandung di dalamnya, serta penerapannya atau implementasi pada
pembelajaran.

7. Prosedur Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian maka rancangan penelitian
yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan
etnografi dimulai dengan melihat interaksi antar individu dalam alamnya kemudian
mengakhirinya dengan menjelaskan bentuk-bentuk perilaku yang khas atau dengan
penjelasan perilaku berdasarkan tema kebudayaan yang hidup dalam masyarakat
tersebut. etnografer bekerja sama dengan informan untuk menghasilkan suatu
deskripsi kebudayaan. Hasil dari pembuatan etnografi adalah suatu deskripsi verbal
mengenai situasi budaya yang dipelajari.
Penelitian kualitatif bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang
dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, tidakan dan yang lainnya.
Pada penelitian kualitatif melihat realitas dalam keseluruhannya yang kompleks. Jika
proses pembelajaran yang hendak diteliti, maka proses itu tidak dipecah atau dibagi
menjadi variabel guru, murid, kurikulum, dan prasarana dengan segala variannya.
Namun dilihat dalam keseluruhannya. Dalam arti dalam proses pembelajaran itu
berlangsung dengan sekaligus melibatkan murid, guru, kurikulum yang diurai menjadi
rencana pembelajaran, dan sarana. Dalam keseluruhan yang kompleks itulah proses
pembelajaran berlangsung.

8. Metode Penelitian
8.1. Sumber Data Penelitian
Sumber data pada penelitian ini yaitu terdiri dari:
1. Tempat (Place)
12

Sumber data penelitian ini yaitu bertempat di desa Klampok,


kecamatan Purwareja Klampok, kabupaten Banjarnegara.
2. Pelaku (Actor)
Pelaku dari penelitian ini yaitu peneliti itu sendiri dan sumber datanya
yaitu grup rebana TPQ Desa Klampok dan peserta didik kelas IX MTs
Riyadus Sholihin.
3. Aktivitas (Activity)
Aktivitas yang dilakukan peneliti terhadap sumber data adalah
wawancara dan observasi. Wawancara yang digunakan yaitu wawancara
tidak terstruktur, dimana penelliti tidak menggunakan pedoman
wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk
pengumpulan datanya, sedangkan untuk observasi yang digunakan yaitu
observasi non-partisipan dan observasi langsung.
Dalam meneliti alat musik tradisional rebana peneliti menggunakan
observasi non-partisipan yang berarti peneliti tidak terlibat sebagai
partisipan atau kelompok yang diteliti dan hanya sebagai pengamat saja.
Sedangkan pada penerapan alat musik tradisional rebana peneliti
menggunakan observasi langsung yang berarti peneliti terlibat dalam
melakukan pengamatan terhadap objek secara langsung di lapangan atau
lokasi penelitian. Observasi langsung dalam observasi ini adalah observasi
langsung mengenai proses pembelajaran yang melibatkan alat musik
tradisional trebana atau dapat dikatakan juga dengan pembelajaran
berbasis etnomatematika.

8.2. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi partisipasi
aktif dimana peneliti terlibat langsung ke dalam lapangan dan dokumentasi
berupa foto dan rekaman suara.
13

8.3. Instrumen Penelitian


Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument utama adalah
peneliti itu sendiri. Namun setelah permasalahannya dan fokus jelas, peneliti
akan menggunakan instrument wawancara, observasi dan dokumentasi.

8.4. Teknik Analisis Data


Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan peneliti,
tahap selanjutnya yang harus dikerjakan peneliti adalah mengolah dan
menganalisa data yang didapat. Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analsiis data kualitatif mengikuti konsep yang dikemukakan
oleh Miles dan Huberman. Miles and Huberman (1984) mengemukakan bahwa
aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung
secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas
dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan conclusion
drawing/verification. Adapun penjelasannya (Sugiyono:2008:337-345) adalah
sebagai berikut:
1) Data Reduksi
Data reduksi adalah data penyaringan dimana peneliti hanya memilih
data atau informasi yang dianggap penting dan relevan sehingga
mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian selanjutnya.
2) Data Display
Data display merupakan data yang disajikan dalam bentuk uraian
singkat, tabel, gambar dan sejenisnya sehingga memudahkan peneliti
merencanakan penelitian.
3) Data Konklusi
Data konklusi merupakan kesimpulan dalam studi kualitatif deskriptif
yang dapat digunakan untuk menjawab masalah yang dirumuskan sejak awal
maupun tidak, namun juga bisa merupakan temuan baru yang belum pernah
ada.
14

8.5. Waktu dan Tempat Penelitian


1) Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Maret 2019 sampai dengan
bulan April 2019. Jadwal penelitiannya adalah sebagai berikut:
Bulan
Kegiatan
No. Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei
Penelitian
2018 2018 2018 2019 2019 2019 2019 2019
Mendapatkan SK
1. bimbingan
proposal
2. Pengajuan judul
Pembuatan
3.
proposal penelitian
4. Seminar proposal
Pelaksanaan
5.
penelitian
Pengolahan data
6.
dan analisis data
Penyusunan
7.
skripsi

2) Tempat Penelitian
Penelitian ini aka dilaksanakan dibeberapa tempat, antara lain di TPQ
Desa Klampok dan MTs Riyadus Sholihin yang beralamat di desa
Klampok, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Jawa
Tengah.

Anda mungkin juga menyukai