Interactive control system merupakan sistem informasi formal yang digunakan manajer untuk
secara individual melibatkan diri dalam kegiatan pengambilan keputusan bawahan. Dengan sistem
ini akan memungkinkan manajer tingkat atas untuk fokus pada strategic uncertainties
(ketidakpastian strategis). Ketidakpastian strategis adalah cara untuk merespons suatu ancaman
dan peluang yang dapat mempengaruhi strategi bisnis yang sedang dijalankan perusahaan.
Pada kasus nokia “the inside story of the rise and fall of a technology giant”, perusahaan gagal
menerapkan sistem kontrol interaktif. Kegagalan penerapan sistem ini membawa perusahaan
tergerus oleh disrupsi teknologi yang terjadi dalam industri smartphone. Kegagalan ini disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Top management yang tidak memiliki background engineering
Dalam perusahaan Nokia, top management difokuskan kepada tren eksternal di industri
komunikasi mobile. Mereka diharapkan mampu memprediksi arah pasar, menjaga keamanan
kondisi keuangan perusahaan, dan mengembangkan strategi untuk memperoleh respon pasar.
Untuk keputusan terkait pengembangan teknologi OS yang dimiliki Nokia, top management
menyerahkannya kepada middle management karena ia yang menguasai bidang pengembangan
teknologi. Top management tidak mengikutsertakan dirinya untuk mengambil keputusan yang
tepat dalam pengembangan teknologi Nokia agar memenuhi permintaan konsumen. Ia hanya
memberikan perintah kepada middle management untuk tetap terus dilakukan pengembangan
terhadap Symbian, walaupun middle management sadar bahwa Symbian tidak relevan lagi untuk
dikembangkan apabila dibandingkan dengan iOS yang perangkatnya lebih user friendly. Middle
management tidak memberitahukan pendapatnya mengenai hal tersebut karena top management
tidak akan mengerti kondisi yang terjadi terkait keusangan teknologi mereka serta sifat top
management yang ”extremely temperamental” sehingga tidak mau mendengarkan pendapat dari
orang lain.
2. Budaya dalam perusahaan yang tidak mau memberikan kritik
Nokia memiliki target yang tinggi dan selalu berusaha untuk memenuhi deadline produksi mereka,
sehingga banyak karyawan yang merasa demot dan tertekan dengan sikap patuh yang harus
diberikan karyawan. Namun tidak ada dari mereka yang berinisiatif memberikan tanggapan untuk
hal tersebut kepada atasan. Karena apabila mereka menceritakan suatu kenyataan yang buruk
terkait organisasi pada bagian atas, maka akan ada risiko yang diperolehnya.